#Cerita Cinta
Gadis Pengganti Menemui Cinta
Waktu menunjukan pukul 15.30 WIB. Menemui seorang gadis yang tengah duduk di atas sebuah kursi panjang berlantaikan papan di pekarangan rumah belakangnya, mungkin tak kan ada seorangpun yang tau apa yang tengah di pikirkan nya karena terlihat seperti melamunkan sesuatu, sesaat kemudian air matanya menetes ke pipinya dan jatuh ke atas kain sarung yang dipakainya dengan memakai baju kurung busana ciri khas daerahnya sehari-hari. “Ya Allah… adakah wanita lain yang kau siksakan bathinnya seperti ini..” Jeritnya di dalam hati. Air mata itu berhenti sesaat ketika suara wanita setengah baya memanggil namanya. “Mah…,o mah.. dimano kau Mah…?”. Ternyata suara ibu nya yang memanggil. “Aku di belakang umah Mak..” sahutnya dengan suara agak serak. “Apo gawe kau di belakang tu..?” Sahut suara mak nya lagi dari kejauhan dengan bahasa ciri khas nya dari Rantau Panjang, tepatnya di daerah perkampungan Rumah Tuo, Kampung Baruh Muaro Semayo Negeri asal orang Bathin 19 Kecamatan Tabir, Merangin, Jambi.
Gadis yang di panggil bernama Siti Ramah tersebut tidak menyahut lagi. Karena heran suara anaknya tak terdengar lagi ibunya pun pergi melihat ke belakang rumah, setelah dibukakan pintu menuju halaman belakang ternyata Ramah sudah tidak ada disana. Sesaat setelah ibunya memanggil namanya Ramah ternyata lari ke atas rumah dan segera masuk ke kamarnya, entah apa yang membuat air matanya yang bening itu bercucuran membasahi kedua belah pipinya sambil terisak-isak meski ia telah berusaha untuk menahannya agar tidak terdengar olah ibunya. Karena heran tak melihat seorangpun di belakang rumah ibunya pun bertanya kepada anak sulungnya yang sedang nonton di depan televisi bersama sang adik yang paling bungsu. “San, mano adikmu si Ramah? tadi mak panggil ado suaro nyo nyawab, tapi mak clik ke belakang dado nyo..”. Tanya ibunya. “Mungkin adolah nyo dateh umah tu mak, mano brani nyo main-main klua umah”. Jawab Hasan. “Pgi kawan clik sbenta dateh umah wan, apo gawe nyo dateh umah nah…!”. Suruh ibunya kepada ridwan anak bungsunya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
Ridwan pun segera menuruti perintah ibunya, saat sampai di atas rumah Ridwan tidak mendapati kakaknya, tapi matanya segera melihat menuju ke arah kamar kakaknya yang ternyata pintunya tengah tertutup, ia pun memanggil kakaknya. “Mbok Ramah, mak ngimbau mbok nyuhuh ke bawah..” Teriak adiknya hingga beberapa kali dipanggil namanya Ramah tak juga terdengar suaranya menjawab. Ridwan pun bermaksud akan membukakan pintu kamar kakaknya dan mendorongnya dengan kuat hingga pintu itu terbuka lebar terlihatlah oleh Ridwan tubuh kakaknya sedang terbaring di atas kasur tapi anehnya Ridwan melihat tangan kiri kakaknya berlumuran darah, Ridwan pun segera mendekatinya dan mencoba untuk membangunkannya tapi Ramah tak menunjukan reaksi apa-apa, dia tetap diam dengan matanya yang terpejam seperti tengah tertidur lelap, Ridwan yang sudah berumur 8 tahun tersebut mulai menyadari bahwa telah terjadi sesuatu dengan kakaknya, karena dia juga menemukan ada sebuah pisau kecil yang tergeletak di sampingnya. Ridwan pun segera memanggil ibu dan kakaknya untuk segera naik ke atas rumah… “Mak… bang Hasan…! naik umah cpek, Mbok Ramah mak..!! Banyak dahah di tangannyo…!” Teriak Ridwan dengan keras.
Hasan dan ibunya yang mendengar teriakannya pun terkejut bukan main antara percaya dan tidak percaya mereka pun segera naik ke atas rumah, lalu terlihatlah oleh mata mereka bahwa Ramah memang sedang terbaring lemah dengan bersimbah darah di tangan kirinya. Didekatinya lah Ramah oleh ibunya, segera dipegangnya pergelangan tangan kiri Ramah yang berdarah, dirasakannya denyut nadi nya ternyata sudah tak berdenyut lagi, ibu nya pun menatap ke arah kedua anaknya yang terlihat sangat mencemaskan keadaan Ramah dan berharap tidak akan terjadi apa-apa dengannya. “Innalillahi wainnalillahi Roji’un… Hasan… pgi lah imbau bapak kawan di bawah, suhuh nyo naik..” Suruh ibunya kepada Hasan dengan suara terbata bata seperti hendak menangis. “Mbok Ramah diapo mak..?!” Ridwan pun bertanya. “Mbok Ramah kawan dado gi wan…nyo lah dulu ninggal awak…!?” setelah menjawab ibunya pun menangis keras dan tak bisa lagi membendung airmata dan perasaannya sebagai seorang ibu yang sangat menyayangi anak perempuan satu-satunya itu. ”Ya Allah apo yang tjadi dengan anakku ya Allah… knapo cpek nian Engkau ambil nyawo anak kami, Eee.. malang nian nasib kau nak, umua kau agi mudo… ngapolah kau pilh jalan macam ko nak… kini dado gi anak btino mak..” tangis ibunya pun semakin menjadi jadi meraung keras, hingga datanglah suaminya. ”Ado apo dengan Ramah Yah? diapo sampai kau maung nangih macam ko kah..?!!” tanya nya sambil mendekati Ramah,dan terlihatlah darah olehnya pada tangan Ramah. ”Astaghfirullah… diapo kau nak sampai munuh dihi macam ko?!.. cpek nian kau ninggal kami..” bapaknya ramah pun ikut menangis tak dapat menahan airmata mengenang nasib anaknya yang tak berumur panjang.
Dan akhirnya masyarakat yang mendengar berita kematian Ramah menjadi penasaran atas hal apa yang menimpanya hingga membuatnya bunuh diri, namun hingga beberapa lama kemudian setelah kematian Ramah tak juga diketahui penyebabnya hanya saja ada sebagian yang menduga kalau Ramah memiliki gangguan kejiwaan, karena termakan oleh perasaan ketidak percayaan diri hingga timbul rasa minder, dan dijadikan permasalahan yang dipendam dalam dirinya dan akhirnya putus asa dan mengambil jalan pintas dengan bunuh diri. Kepergian Ramah yang begitu cepat telah membuat seluruh keluarganya merasa sangat kehilangan apalagi ibunya yang merasakan ada sesal mendalam karena dulunya dia tidak begitu memperhatikan dan menghiraukan keadaan dan kondisi Ramah dalam masa pertumbuhannya, kurangnya perhatian, kasih sayang dan belaian seorang ibu ternyata telah menjadikan Ramah tumbuh sebagai seorang gadis yang lemah dan tak ada semangat hidup karena merasa tak berguna dan tak bisa membanggakan orangtuanya.
Ternyata rasa penyesalan yang dalam pada ibunya telah menganggu kejiwaannya hingga tak mau lagi bergaul dengan orang banyak, dia hanya berdiam diri saja di rumah dan tak mau melakukan apa-apa, anehnya lagi jika ada orang yang menjenguk atau berkunjung ke rumahnya dia marah dan lansung mengusir orang-orang tersebut, hingga banyak orang yang merasa kasihan dengan keadaannya, yang dulunya orangnya sangat ramah dan baik kepada setiap orang.. terlebih kasihan lagi melihat nasib suami dan kedua putranya yang terpaksa harus menggantikan ibunya untuk mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, kadang tak terurus lagi, mereka biarkan saja rumahnya berantakan, rumah yang dulunya sangat bersih dan rapi sewaktu Ramah masih hidup, hidangan yang sudah siap untuk makan siang atau makan malam kini tak lagi ada.. hingga di suatu malam, disaat tengah melaksanakan shalat isya usai mengucapkan salam ayahnya Ramah memanjatkan doa dengan hikmat dan sempat meneteskan airmata meminta perlindungan, kekuatan dan kesabaran atas segala cobaan dan ujian yang menimpa keluarganya, dan terutama sekali berdoa untuk kesembuhan dan kesehatan untuk ibunya Ramah dan berharap akan mukjizat tuhan untuk memulihkan kembali keadaan dan kondisinya agar normal kembali seperti dulunya supaya bisa berkumpul kembali meskipun tanpa kehadiran Ramah yang tak mungkin lagi kembali karena dia sudah tenang dan abadi di sisi tuhan.
Satu bulan kemudian, desa Kampung Baruh kedatangan para mahasiswa dari UNJA (Universitas Jambi) dalam rangka melaksanakan KUKERTA (Kuliah Kerja Nyata) selama lebih kurang 3 bulan, ada sekitar 15 orang mahasiswa, mereka akan menempati sebuah rumah panggung tua yang sudah ditinggal oleh penghuninya. Meskipun rumahnya sudah tua tapi masih tetap berdiri kokoh dan akan cukup nyaman untuk menampung sekitar 15 mahasiswa. Rumah itu pun berjarak sekitar dua rumah dari rumahnya Ramah. Saat masyarakat setempat melihat kedatangan mereka yang begitu menarik perhatian mereka sebagai orang awam yang jarang dapat melihat wajah-wajah orang-orang terpelajar yang berasal dari kota-kota dan berbagai pelosok daerah di wilayah Provinsi Jambi, pemuda-pemuda yang gagah dan para gadisnya yang cantik-cantik berkulit bersih dengan kerapian mereka yang seragam mengenakan baju almamater berwarna orange (merah muda).