"Kamu suka sama ustadz azam ya De?"
Sebenarnya aku sudah tau jawabnya apa, tapi aku hanya ingin memastikan dari bibir mungilnya saja, dan jawabnya sungguh mampu membuatku kepayahan menelan liur ku sendiri.
"Sepertinya iya deh tadzah,kalau aku minta dia buat jadi imamku, Kira-kira dia mau nggak ya dzah?"
"Emm, gimana ya De, aku belum seberani kamu dulu waktu masih single, boro-boro minta dilamar, bilang lope yu tu aja aku nggak berani"
aku berharap jawabanku ini bisa mengikis sedikit kesablengannya yang berniat melamar ustadz Azam, Ustadz yang kuminta untuk mengajarinya belajar ilmu Tajwid, Karena jujur ilmu ku masih cetek kalau soal dengung berdengung, Hilang menghilangkan, merubah bunyi, apalagi kalau sudah yang lima belas huruf disamarkan itu,uhh, aku nggak tau apa namanya, tapi aku tau cara membacanya.
"Ya, tadzah payah ih, jawaban nya nggak memuaskan, aku kan maunya tadzah jawabnya iya, sok atuh ,geurah"
Dapat kulihat ekspresi kecewa diwajahnya.
"Ya maaf De, kalau jawaban nya nggak memuaskan, tapi saran ku lebih baik kamu belajar yang bener dulu deh sama ustadz Azam, jangan dikit-dikit cinlok, nemplok, salfok, udah fokus aja sama niatan awalmu"
"Ih, Tadzah payah, Ustadz Azam itu udah paket komplit, Ganteng iya, pinter iya, Kaya juga iya, jadi istri siri nya juga aku ikhlas kok zah, ya, ya, aku mau tadzah comblangin aku sama ustadz Azam ya, pliss" Mohonnya dengan memeluk erat satu tangan ku.
"Nggak bisa De, permintaan mu aneh ih, Dalam islam nggak boleh pacaran"
"Siapa yang mau pacaran dzah, aku maunya langsung nikah sama ustadz Azam, Tadzah harus bantuin aku ya" pintanya lagi.
*
*
*
"Assalamu'alaikum sayang"
aku bergegas membuka mukenah krinkle ku saat mendengar suara salam dari suamiku.
"Wa alaikumusalam bang"
aku bergegas mencium tangannya, Ia pun mengusap kepalaku pelan setelahnya mencium lembut kening ku.
"Gimana hari ini bang, apa ada santriwati mu yang masih bersikap aneh atau diluar kendali mu?" tanya ku seraya menuangkan teh hangat untuk nya.
"Jawabannya masih sama dek, bahkan hari ini lebih parah" Jawabnya seraya menyeruput minuman dari gelas Kristalnya.
"Lebih parah gimana bang, siapa?" Aku mulai bisa menebak siapa santriwati yang dimaksud nya dengan kalimat lebih parah tadi.
"Iya, santriwati yang kamu bawa kemarin dek, Dia nggak ngerti apa memang sengaja ya, abang kewalahan mengaturnya" Keluh nya lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.
"Maksud abang Dhea?"
"Hmm"jawabnya singkat.
"Ya Robb, pemilik hati setiap hamba, hamba mohon tetapkanlah hati suami hamba dan juga hamba hanya kepadaMu" lirih ku dalam hati.
Ya dia adalah ustadz Azam Abiyyu Yusuf suamiku, Pria yang sangat di inginkan oleh Dhea, santriwati baru di TQA pimpinan suamiku,
"Abang suka sama Dhea?" tanya ku asal yang sebenarnya aku pun sudah tersulut emosi juga mendengar cerita keganjenan Dhea terhadap Bang Azam.
"Astaghfirullah, Abang masih waras dek, Banyak hal yang harus abang korbankan untuk tuduhan mu itu, Abang nggak segila itu sayang"
Bang Azam memeluk ku erat, lalu dapat ku cium aroma parfume yang menempel pada koko kurta putihnya.
"Parfume abang kok beda sekarang, Ganti aroma, Sekarang pakai yang mengandung alcohol?" Tanya ku yang mulai mengendusi setiap sisi tubuhnya.
dan dia pun ikut juga mengendusi tubuhnya sendiri seperti yang kulakukan sebelumnya tadi.
"Nggak, Parfume abang masih sama" Ucap nya dengan wajah bingung.
"Apa santriwati mu itu juga sudah berani sentuh-sentuh kamu bang,Sampai-sampai aroma parfume nya menempel di kemeja mu?"
Bang Azam hanya menggeleng kan kepalanya pelan, Aku pun mulai curiga dengan sikapnya ini.
"Abang mandi dulu ya, Setelah ini abang ada janji sama pengurus TQA unit sebelah"
"Aku ikut" pinta ku yang hanya dijawab dengan anggukan kepala saja oleh nya.
"Kita naik motor saja bang".pinta ku saat kini Bang Azam sudah ada di garasi mobilnya.
" Naik mobil aja dek,lebih aman"tolak nya dengan menggandeng satu tangan ku untuk dibawanya masuk kedalam mobil mewah nya.
"Lebih aman dari apa?,Pelakor!"
Bang Azam tersenyum mendengar ucapan kesalku.
"Aman dari hujan dan panas matahari yang sangat terik sayang, Abang nggak mau kamu sakit"
Tak berapa lama kami pun sampai pada tempat yang dimaksud oleh bang Azam.
"Aku ke kamar kecil dulu ya bang, Abang duluan aja, nanti aku menyusul"
Bang Azam kemudian masuk kedalam ruangan aula yang hanya tertutup tirai sebagai penyekat nya.
"Masya Allah, Panjang umur ustadz Azam,Kami baru saja membahas ustadz"
"Subhanallah, Apa kiranya yang pantas diperbincangkan mengenai diri saya ini wahai ustadz Musa?"
Ustadz Musa tersenyum, Lalu melirik kepada pria paruh baya yang mengenakan setelan jas dan kacamatanya.
"Saya ingin melamar ustadz Azam untuk putri semata wayang kami, Claudhea Angela"
Brughh,
bukan, itu bukan suara buku ataupun tas laptop yang terjatuh, Tapi itu adalah suara tubuhku yang meluruh lemas demi mendengar kalimat lamaran yang ditujukan untuk Bang Azam suamiku.
Aku mencoba untuk bangkit perlahan, membenahi gamis ku yang terinjak kakiku sendiri.
"Tadzah" Suara yang tak asing hari-hari belakangan ini ditelingaku, aku pun menoleh.
"Dhea, ngapain kamu ada disini, sama siapa?"
"Aku disini sama daddy ku tadzah, Itu beliau" Tunjuk nya pada seorang pria yang kulihat duduk berhadapan dengan Bang Azam, Kayak orang mau ijab dan Qobul saja.
"Daddy mu, Itu daddy mu,sedang apa?" Tanya ku bingung dan mulai merasa sesak di bagian dada yang mulai merambat hingga ke ulu hati.
"Daddy ingin melamar ustadz Azam untuk ku, Dzah, aku nggak sabar kalau mengikuti saran dari tadzah, nanti keburu dilamar sama santriwati yang lainnya, Rugi dong aku"
" Tapi ustadz Azam itu sudah punya istri Dhe"Ucapku menjelaskan.
"Nope tadzah, Jadi istri ke tujuh juga aku ikhlas kok, asalkan status ku sah dimata Agama sebagai istrinya"
"Ya Allah apakah sebegitu mempesona nya wajah dan sikap mu bang, Hingga gadis secantik Dhea pun rela menjadi istri yang kesekian untuk mu" sesak didadaku semakin menjadi saja kini, Dan aku mulai bisa melihat kunang-kunang berterbangan didepan sana, Gelap dan akhirnya.
Brugghhh.
"Tadzah"
" Sayang"
Aku tak dapat lagi mendengar apa saja yang mereka perdebatkan.
"Dia istri ku" itulah kalimat yang kini mulai dapat ku eja sedikit demi sedikit dari bibir Bang Azam dengan satu tangan nya yang menggemgam jari jemari ku.
"Abang" ucap ku dengan suara parau.
Bang Azam membantu ku untuk duduk, lalu memberikan segelas air putih untuk ku.
"Kenapa bisa pingsan?" Tanya nya dengan menempelkan telapak tangan nya di kening ku.
"Mana Dhea dan juga daddynya bang?"
"mereka sudah pulang,Kamu mendengar semua percakapan Abang sama daddynya Dhea?"
Aku pun menggeleng.
"Tapi kenapa kamu bisa tau?" Tanya Bang Azam semakin bingung.
"Karena sebelum Dhea membawa Daddynya kesini, dia sudah lebih dulu mengutarakan keinginannya itu kepadaku"
"Lalu, kamu mengiyakan nya?"
Aku mengangguk, Jawaban yang membuat Bang Azam langsung memeluk ku erat.
"Terimakasih sudah percaya sama abang, Abang bangga menjadi suami mu sayang"
Aku coba melerai pelukan erat Bang Azam.
"Maksud abang apa,abang menerima lamaran daddynya Dhea?" Tanya ku dengan dada naik turun dan mata yang mulai mengembun.
Bang Azam menunduk, Reflek aku mengguncang bahunya kencang.
"Abang jahat, aku nggak mau dimadu bang, nggak mau!"
Bang Azam tetap saja menunduk menerima pukulan didadanya yang bertubi-tubi aku layangkan.
"Cukup ustadzah!"
Aku menoleh demi melihat siapa orang yang memanggilku tadi.
"Dhea?"
" Maaf, aku sudah lancang mencintai Ustadz Azam, Suami ustadzah, Tapi ustadzah memang sangat beruntung bersuamikan pria sesempurna ustadz Azam"
Dhea melangkah keluar dengan cepat, aku kembali melihat kepada Bang Azam yang kini menatap ku dengan senyuman termanis yang dimilikinya.
"Abang hanya milikmu"
Ah, Abang,
rasanya ingin sekali aku mencium hidung mancung dan pipi mulus nya, Tapi ini tempat umum, malu ah.
written by me.
Azqana rie_rie.