-Secret Admirer-
Teruntuk kamu pria yang pernah melewati hatiku dan mencuri perhatianku meskipun tak terpegang dan tak tersentuh untuk dapat tersimpan di hati yang terilit sembilu.
Berseragam putih abu - abu, tinggi badan tentu dia melebihi ku, tatapan tajam dengan tawa lepas yang sering terlihat menampilkan garis halus khas di samping bibir tebal berwarna merah tua, tak berjambang namun sesekali terlihat kumis tipis yang bertengger malu.
Namanya adalah Mateo, pria XII IPA VI, mengendarai motor 2 tak dengan suara menyalak yang sudah jarang di temui. Sesekali mengendarai skuter matic, namun pernah juga memakai motor CBR 125 cc. Tak peduli apa yang dikendarainya, di mataku dia nampak mempesona.
Apakah dia mengenalku? tentu saja tidak. Berbincang pun kami tak pernah. Bertegur sapa apalagi. Bahkan mungkin melirikku saat memberanikan diri melewatinya yang sedang duduk di depan kantin, pastinya dia tak akan sadar ada seseorang yang selalu memperhatikan dengan jantung berdebaran tak karuan.
Hanya tinggal 8 bulan waktu untuk aku dapat mencuri pandang atau dengar tentang kabarnya, sebelum kami berpisah. Mungkin lebih tepatnya sebelum aku merasa kehilangan dia, seperti ikan hiu yang diikuti ikan remora kecil yang tak begitu berarti...pastinya ikan hiu tak akan rugi saat remora kecil tertinggal dan tak dapat mengejar dan mendampingi.
"Pradistya, silahkan keluar dan menghadap ke ruang BP," Seorang siswa yang melewati kelasku, kelas X.II, meminta ijin ke guru yang bertugas sebelum akhirnya memberikan pengumuman untuk nama yang dipanggil segera keluar.
Hatiku tak keruan, meskipun merasa tak ada kesalahan yang kulakukan tapi tetap saja terasa canggung dan kikuk melangkah menuju ke ruang BP. Berpamitan pada guru yang tengah mengajar di depan kelas dan berusaha tak memperhatikan mata teman-teman sekelas yang sebagian bertanya-tanya tapi beberapa juga tak peduli.
Aku, Pradistya, gadis pemalu, kikuk, dan tak memiliki rasa kepercayaan diri bahkan untuk menyebutkan nama. Beruntung pada seragam putih abu-abu yang digunakan sudah tertera nama masing - masing pemiliknya.
Memasuki ruang guru BP, pikirku tak dapat mendapat pencerahan penyebab aku dipanggil ke sini. Baru saja akan masuk, tubuhku sudah bertabrakan dengan seseorang yang sepertinya sangat riang keluar dari ruangan mengakibatkan tubuhku terjatuh ke belakang dan terduduk. Bukan sakit yang terasa tapi lebih lagi malu.
"Waduh...maaf..maaf.. aku buru-buru sampai g lihat, sini ku bantu berdiri."
Aku masih merapikan rok dengan dan mencoba berdiri sendiri tapi kemudian ada tangan yang membantuku dengan mengangkat siku tangan.
Mataku tak lantas menatap wajah si penolong yang menggunakan celana abu-abu. Melihat lebih atas aku membaca nama "Mateo" disebelah kiri dada kemeja putih.
"Beneran ga papa kan ya? Pradistya?"
Aku gelagapan mengangguk-angguk saat pertama kalinya dia yang aku puja memanggil namaku.
"Baiklah, hati - hati ya... bye," ternyata begini rasanya berdekatan dengan pria yang selama ini kulihat dari kejauhan. Merasakan keisengan dan sentuhan ringan di kepala ku saat dia mengacak rambutku perlahan sudah cukup melambungkan rasa dan melupakan tujuan dimana aku berada.
"Pradistyaaa" Seru suara Ibu guru dari dalam ruangan dan menyerahkan berkas yang aku pun tak paham itu berkas apa.
Perlahan ku buka berkas dan tak menyangka itu adalah surat dari mama, selama ini mama tidak pernah mengajak bertemu atau berkomunikasi secara langsung karena memang setelah perpisahan papa dan mama komunikasi sangat terbatas, tentunya aku sangat menjaga perasaan papa.
Ah, perpisahan orang tua memang terasa menyesakkan, ada rasa yang kurang saat berada di rumah. Ada sosok mama yang selalu kurindukan ingin berbagi cerita dan kehangatan. Meskipun papa sudah dapat mencukupi semua kebutuhan dan berusaha mencarikan pengganti mama tapi buatku setiap kenalan papa tidak ada yang sebaik dan setulus mama.
Tapi kenapa mereka berpisah? entahlah, aku tak ingin mencoba memahami agar aku tak menjadi benci salah satu dari mereka atau bahkan keduanya. Aku selalu membatasi saat salah satu diantaranya bercerita tentang mantan pasangannya.
"Ini dari mama Bu? kenapa mama tidak mau ketemu Distya langsung di sini Bu?"
Guru yang kutanya hanya dapat tersenyum, karena sekolah bukan ajang pertemuan keluarga, permasalahan keluarga seharusnya dapat diselesaikan diluar lingkup sekolah. Ya, harusnya hanyalah hal yang terkait pendidikan yang dapat didiskusikan di sekolah.
"Distya, Ibu harus bertanya pada papa mu sebagai wali murid atau mungkin lebih baik kau ijin ke papa dulu kalau mau ketemu mama. Sepertinya nanti mamamu akan datang ke sekolah menjemput anaknya."
Sekian lama aku tak mendengar kabar mama, ternyata mama sudah memiliki seorang anak? Ibu guru yang sudah hampir kuanggap sebagai pengganti mama, mengelus punggunggu lembut. Sentuhan yang terasa sangat menyenangkan, aku merasa seperti kucing yang malas bergerak dan tak ingin waktu situasi ini cepat berlalu.
Ku ambil telepon genggam dan ku ketikkan pesan singkat.
-Papa...ijinkan aku ketemu mama, hanya di sekolah, tak lama dan aku tetap menyayangi papa-
Selang beberapa saat telepon berdering, "Distya... mama ke sana?"
Tak sadar aku menggeleng dan kemudian menjawab, "Bukan pa.. eh iya kata Ibu Anissa, mama akan jemput anaknya. Tapi bukan Distya pa... boleh ya Pa.. Distya sudah lama pengen ketemu mama."
Lama tak terdengar suara akhirnya papa menjawab, "Baiklah Distya, dia tetap mamamu. Tapi ingat jangan pulang malam - malam ya nak, kita makan malam bersama di rumah seperti biasa."
"Siaap Bos...makasiih pa.. luv you"
Sisa jam pelajaran terasa lama dengan hati yang berbunga menunggu berjumpa dengan mama. Saat bel berdering tak sabar aku berlari keluar kelas dan menuruni tangga segera ke arah gerbang sekolah. Ku susuri bayang - bayang seorang wanita yang mungkin saja itu mama.
Seseorang berdiri disebelahku, menutupi teriknya matahari dan menaungiku dengan bayangannya. Ku tengokkan kepala dan sekali lagi dalam hari ini aku melihat dia. Pemuda manis dengan senyuman yang membentuk garis tipis di kisaran bibir berisinya.
"Hai...Pra..Pradistya... ketemu lagi", sapanya ramah yang hanya dapat ku jawab dengan anggukan dan senyuman kikuk. Sumpaah bukan maksud sombong, tapi jantung ini semakin kencang memompa darah dan meningkatkan adrenalinku.
Dari kejauhan ku lihat seorang wanita yang kurindukan, masih tampak gurat cantik dan keanggunan. Wanita itu melambaikan tangan dan tersenyum lebar.
Tak dapat kucegah tanganku turut melambai semangat begitu juga dengan pemuda disebelahku. Mateo turut melambai ke arah yang sama denganku.
"Pradistya, dia mamaku, setidaknya dia sudah menjadi mamaku selama 5tahun ini. Semoga kau tak kecewa memiliki abang sepertiku."
Masih terpaku menatap mama yang datang mendekat, telingaku mendapatkan kejutan pernyataan dari Mateo.
Fix sampai di sini harus kuredam rasaku.