Suatu pagi yang cerah dihari minggu, Robi dan Lepai sedang berjalan tanpa tujuan di Kampung Karambia Masak.
"Be, enaknya ngapain ya? Ga ada kerjaan nih," tanya Lepai pada Robi, Be adalah panggilan akrab Robi.
"Ondeh, aku juga ga tau, Le," jawab Robi.
Merekapun terus berjalan menyusuri tiap jalanan di kampung itu, tanpa tujuan.
"Kok rasanya hari ini panas banget ya?" tanya Robi
"Iya, teriknya beda gitu," jawab Lepai,
"makan buah enak nih kayanya," sambungnya.
"Boleh juga tuh," sambut Robi.
Pucuk dicinta ulam tiba, Robi dan Lepai melihat sebuah pohon jambu dihalaman belakang Pak Rudi
"Be, be, lihat tuh!" seru Lepai sambil menunjuk ke arah pohon dengan buah-buahnya yang sudah ranum.
"Widih, kayaknya seger nih, ayo, panjat!" ajak Robi.
Lepai celingak-celinguk memastikan Pak Rudi tidak ada dirumah, dan tidak ada siapapun yang melihat mereka.
"Oke, aman, meluncur!" merekapun berlari mendekati halaman belakang Pak Rudi yang penuh dengan bunga, sayur-sayuran dan tentunya, sebatang pohon jambu. Pak Rudi memang seorang petani sukses, bukan hanya 3 hektar sawah yang dia miliki, dia juga mengelola dua buah kebun, dan menyediakan sebuah lahan sayur untuk kampung ini.
"Eh, kalau ketahuan gimana?" pikir Robi, yang seharusnya dia pikirkan dari tadi, Lepai hanya menjawab,
"ga apa-apalah, Pak Rudikan orangnya baik," dengan santai sambil tersenyum,
"benar juga, pintar kau, Le!"
Merekapun bersiap untuk memanjat, tapi tiba-tiba Lepai menghentikan gerakannya, sehingga Robi bingung.
"Ada apa, Le?" tanyanya,
"Aku jadi kepikiran, lebih baik kalau seorang manjat, seorang lagi nunggu dibawah, ngeliatin orang, juga nangkepin buahnya," jelas Lepai.
Robi hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Lepai,
"benar juga, sih," jawabnya.
"Nah, jadi siapa yang mau menuggu dibawah?" tanya Lepai,
"aku sih terserah saja, yang penting kita makan," jawab Robi polos.
Lepaipun terlihat berfikir sebentar, entah apa yang direncanakannya. Selang beberapa saat kemudian ia tersenyum dan berkata,
"aku saja yang memanjat, kalau kau yang memanjat, kelamaan, jadi tunggu di bawah, tangkap buahnya, dan jangan lupa cek sekitar!" Robi hanya mengangguk dan menyetujuinya. Lepaipun mulai memanjat, benar yang dikatakannya ia jauh lebih cepat dari yang di perkirakan Robi. Mereka berdua memang suka memanjat dari kecil, alasannya bermacam-macam, dari sekedar mencari angin, sampai melihat isi sarang burung, dan memang, Lepai selalu sampai keatas lebih dulu.
Sesampainya di atas pohon, Lepai mengambil beberapa buah jambu tersebut, dan melemparnya kebawah,
"Be, tangkap!" serunya.
Robi yang sudah menunggu daritadi dengan sigap menangkap 3 buah jambu yang dilempar Lepai dengan bajunya.
"Cobain dulu, kalau manis, baru kutambah metiknya," jelas Lepai,
"Siap, pak bos!" jawab Robi sambil mengacungkan jempol. Ia pun mencoba ketiga jambu itu, dan melahapnya sampai habis.
"Wah, Pak Rudi emang hebat, manis semua jambunya!" seru Robi ke Lepai yang berwajah masam.
"Kenapa, Le?" tanya Robi,
"aku kan nyuruh nyobain saja, malah dihabisin," gerutu Lepai,
"lah, kan diatas masih banyak tuh, gimana sih," jawab Robi heran sambil menggaruk kepalanya,
"oh, iya juga," balas Lepai sambil cengengesan.
Lepaipun mencoba sebuah jambu terdekat, dan benar saja, manisnya luarbiasa, membuatnya terkagum-kagum pada Pak Rudi. Tanpa sadar, ia sudah keasikan memakan beberapa buah jambu, melupakan Robi yang ada dibawah menunggu bagiannya. Sementara, Robi yang kesal karena Lepai yang melupakannya meluapkan emosinya dengan menggoyangkan pohon itu dengan kuat menggunakan kakinya. Lepai yang kagetpun menghentikan "pesta jambu" nya, dan melihat kebawah.
"Woi Be, kau kenapa sih!? Nanti kalau aku jatuh awas kau!" hardik Lepai,
"kau yang kenapa! Malah enak enak saja sendiri diatas, gapuak mambuang lamak, cadiak mambuang kawan, gimana sih!" balas Robi tak kalah keras,
"bukan begitu, tapi kan kok baragiah gadang ka awak, 'kan?" ujar nya berkilah,
"halah! jan mangapik daun kunyik juo lai!" bantah Robi.
Tanpa mereka sadari, pertengkaran mereka terdengar sampai ke teras rumah Pak Rudi, dimana ia sedang duduk dengan Pak Kades dan Pak Ustad. Pak Rudi yang heran pun mengecek bagian belakang rumahnya, dan alangkah terkejutnya ia, saat memergoki kedua bocah itu sedang bertengkar di belakang rumahnya. Ia terus memerhatikan dari jendela belakang rumahnya, lalu kembali ke depan untuk berbicara dengan tamu-tamunya.
"Ada apa kiranya di belakang, Di?" tanya Pak Kades,
"itu, Si bele mencuri jambu saya dan bertengkar di belakang," jawab Pak Rudi santai,
"Hush, tidak boleh begitu, Rudi, ingat kata leluhur kalam basigi, lakuang batinjau, pastikan dulu, nanti jatuhnya fitnah," nasihat Pak Ustad.
"Iya, Ustad, sudah saya cek kok, saya liat pake mata sendiri, mereka lagi bertengkar dibelakang," jelas Pak Rudi santai,
"Lha, terus kenapa kita masih disini, ayo kita tangkap, Di. Nanti mereka terbiasa, bisa bahaya," ajak Pak Kades yang langsung berdiri,
"tahan dulu pak, kalau kita tangkap sekarang mereka bisa kabur, begini saja ..." Pak Rudipun menjelaskan rencananya pada dua tamunya. Mendengarnya keduanya menangguk tanda paham.
"Ide mu bagus juga, Rudi, tunggu apa lagi? Mari," ajak Pak Ustad
Sementara itu, Robi dan Lepai masih rusuh di halaman belakang Pak Rudi, tanpa tau apa yang akan mendatangi mereka.
"Woi garundang! Agiah stek aa, jangan maruk gitu lah!" teriak Robi yang masih meminta bagiannya.
"Iya nanti ku kasih kok, sabar dulu lah!" balas Lepai emosi, sekilas dari atas pohon dia melihat Pak Kades datang dari arah kanan, tapi belum sempat dia memberi tahu Robi, Robi sudah panik duluan,
"Le, Le, Pak Ustad kesini le!" yang membuat Lepai semakin panik.
"Sebelah sana ada Pak Kades, gimana nih?!" tanya Lepai sambil perlahan turun. Belum sempat mereka berfikir, pintu belakang Pak Rudi berbunyi. Benar saja, Pak Rudi muncul dari sana dan tersenyum,
"Hayo mau kemana kalian berdua?" tanya nya
"Kanan Pak Kades, kiri Pak Ustad, depan Pak Rudi, habis sudah kita, Be" rengek Lepai,
"Sekarang kita benar-benar dikepung tungku tigo sajarangan ini" ujar Robi polos, Pak Rudipun terkekeh mendengarnya.
Karena sudah terkepung merekapun menyerah, dan di nasehati oleh tungku tigo sajarangan,
"Haduh, Bele ini sudah keberapa kalinya kalian buat
di kampung kita? ga ada kapok kapoknya ya," tanya Pak Rudi, "Bele" adalah gelar dua sekawan ini, berasal dari nama panggilan mereka, yang berarti "bodoh, konyol" mereka memang di kenal sebagai pembuat onar di Kampung Karamas, nama pendek Karambia Masak.
"Bagusnya mereka di apakan nih Pak Rudi?" tanya Pak Kades,
"Kalau saya sih, saya mau mereka mengembalikan semua jambu yang sudah mereka curi tadi," jawab Pak Rudi, mendengar itu, keduanya langsung terperangah,
"Haaaa? tapi kan kami sudah makan pak?? mana bisa kami kembalikan," ujar Robi bingung,
"mana saya tau? Pokonya harus kembali, apapun caranya," balas Pak Rudi dingin, tapi tak lama kemudian ia tersenyum,
"saya bercanda, lain kali kalau pengen, bilang saja, pasti saya kasih kok," jelasnya
"Wouh, untunglah kita tidak dihukum, Be," ujar Lepai sumringah,
"kata siapa? Kalian itu sudah bersalah, harus di hukum dong," tukas Pak Rudi,
"kalian berdua ikut saya sekarang, kita panen jambu di kebun saya," ujarnya yang disambut bahagia kedua anak itu,
"Eits, tapi kalian yang membagi nya kewarga, semuanya," sambungnya yang membuat kedua anak itu menjadi lesu
"Yah, masak nganterim juga sih Pak?," protes Lepai,
"Ya kalau kamu mau hukuman lain ya saya ga keberatan," jelas Pak Rudi,
"Enggak deh, Pak, ini aja deh" jawqb mereka berdua sambil cengengesan.
Memang sudah jadi kebiasaan Pak Rudi, jika ada panen besar besaran, maka dia akan membaginya kepada setiap warga di kampung ini.
Maka jadilah, Duo Bele menghabiskan hari libur mereka dengan berurusan dengan pohon, buah, dan warga, setidaknya, mereka menikmati nya