“Bukan keyakinan yang membedakan kita, namun Cinta lah yang membuat kita jauh. Bukan cinta mu, tapi Cinta ku.” ucap ku pelan sambil menatap matanya.
Aku takut, jika aku mengungkapkan perasaan ini. Kamu akan pergi dan meninggalkan ku. Aku tidak ingin hal itu terjadi.
“Aku pulang dahulu ya, kamu aku antar?” tanya nya, aku menggeleng agar dirinya cepat pergi dari hadapan ku.
Hati ku nyeri kala dirinya mengelus, mengacak-acak rambitku. Rasanya aku ingin berteriak “Aku mencintai mu! Aku sudah lama mencintai mu.” namun hal itu akan sia-sia. Kemungkinan terbesar hanya ada ‘Menjauh dan menghilang dari hadapan nya.’ semoga hal itu bisa ku lakukan.
Aku Ifah, cewek yang selalu menyimpan rasa Cinta dan tidak berani mengungkapkannya. Aku hanya ingin Tuhan tahu, jika aku sangat mencinta nya. Hanya ingin waktu diputar kembali seperti sediakala. Tidak ingin merasakan Cinta sepihak.
Hari ini adalah hari dimana aku ingin sekali pergi dari Kota ku. Setelah cowok yang begitu aku Cintai telah pamit untuk pergi, aku lantas mengeluarkan air mata.
Sakit, itu yang aku rasakan saat ini. Menahan tangis dari tadi, hal yang paling aku benci darinya adalah “Sikap manisnya ke aku.”
“Hikss... aku hanya ingin dia tahu bagaimana aku yang selalu memendam rasa kepadanya.” lirih ku.
Aku berdiri, mengambil Ponsel yang tergeletak di meja Cafe. Penglihatan ku kabur, Pusing sekali kepala ku. Gelap, tubuh ku serasa berat sekali. Suara yang ku dengar hanyalah. ‘Ifah bangun!! Ifah bangun!!’ dan setelah itu aku pingsan.
Saat aku bangun, Kepala ku rasanya sakit. di hidungku terpasang alat untuk bernafas. Entah aku tidak tahu namanya. Tangan ku di genggam erat oleh seseorang cewek, yang ku yakini bahwa itu adalah sahabat ku Naila.
“N-Naila.” panggilku sambil mencoba menggerakkan tangan ku untuk membuka Alat bantu nafas ini.
“Emm.. Ifah! Alhamdulillah kamu sudah sadar, sungguh aku sangat mengkhawatirkan mu.” ucapnya sambil memelukku.
Aku merasa sangat bahagia, bahagia karena memiliki Sahabat sepertinya. Bukan-bukan karena dia ada maksut tertentu. Aku bahagia karena, dia selalu ada untuk ku. Selalu bersama ku dikala aku menangis, bahagia susah senang selalu kita lalui dengan bersama.
“Aku kenapa bisa ada disini??” tanya ku kepada Naila.
Naila menatap ku, “Kamu itu ya! sudah lah, jangan kamu terlalu mencintai dirinya! aku tahu kamu sudah lama mencintainya. Coba kamu lihat orang diluar sana. Banyak seperti mu yang mencintai seseorang lebih dari 1 tahun 2 tahun! Ayo lah, jangan terlalu memikirkan dirinya. Dirinya saja tidak tahu kamu sekarang kenapa.” ucapnya menasehatiku, bukannya menjawab dirinya berlagak seperti seorang Ibu yang memberi nasehat kepada anaknya.
Aku sangat suka jika di beri nasehat olehnya, sayangnya. Nasehatnya tidak pernah aku masukkan ke hati. Bukan karena nasehatnya tidak masuk akal, tapi memang aku tidak bisa berhenti untuk mencintai nya.
“Ayo lah, Kamu jangan seperti ini kepada ku. Aku baru saja siuman dan kamu memarahi ku. Awas marah-marah bisa bikin orang cepat tua.” ucap ku lalu mencoba melepas alat bantu ini.
Naila hanya memandangi ku. Aku baru sadar jika ponsel ku banyak sekali Notifikasi dari cowok yang aku cintai.
“Assalamualaikum, kenapa ya mas??” tanya ku kepada Mas Farid.
Aku tidak tahu raut wajahnya, aku hanya bisa membayangkan Raut wajah nya yang cemas.
‘Kamu kenapa enggak kabari aku??’ tanyanya, aku mengernyit.
“Kabar apa??” tanya ku mencoba apakah dugaan ku salah.
‘Aku tadi waktu sampai rumah mencoba menghubungi mu, tapi ponsel mu tidak hidup. Sungguh, aku khawatir sekali.’
Deg
Rasanya aku ingin sekali menangis, tapi aku tersadar disaat ucapan selanjutnya dari dia. ‘Aku khawatir karena kamu Sahabat ku.’
Begini ya rasanya dihempaskan setelah diterbangkan?? apa aku yang memang salah?? atau bagaiman?? tolong jelaskan kepada ku.
Naila yang dari tadi mendengarkan pembicaraan ku dengan Farid menatap tajam ke arah ku.
‘Ponsel ku tadi lowbet, Maaf lupa mengabari mu. Em, aku ada urusan dengan Sahabat ku. Aku mataiin ya?’ bukan niat ingin ada urusan. Aku tidak sanggup lagi berbicara dengan nya, mendengar suaranya. Otak ku sudah terpenuhi olehnya.
Tidak menunggu balasan, aku langsung saja mematikan sambungan telpon.
Naila menatapku dengan tatapan Nanar, Auh! hidungku kenapa harus keluar darah. Kepala ku pusing kembali. Naila buru-buru memanggilkan dokter.
Dokter datang lalu memeriksaku, Aku sangat terkejut dengan ucapan dokter itu. Apalagi Naila, aku bisa pastikan jika dirinya memendam Tangisannya. Buktinya dirinya menggigit bibir bawahnya.
“Penyakit Leukimia yang Sahabat anda idap sudah berada di Stadium akhir. Jika tidak ditangani lebih intensif, maka penyakit tersebut menyebabkan Kematian.” jelas dokter itu.
Aku menangis dalam diam, apakah Takdir ku harus seperti ini?? Aku memang menyembunyikan penyakit ini dari kedua orang tua ku. Terutama dari Naila, aku tidak mau jika aku di anggap lemah! aku itu kuat.
“Apakah tidak ada cara untuk menyelamatkan Sahabat saya dokter??” tanya Naila, Ini yang aku tidak suka.
Aku terbaring di brankar dengan keadaan lemah dan Sahabat ku mencoba untuk membuat ku sembuh. Aku hanya ingin penyakit sialan ini cepat membuat ku Mati.
Aku tidak ingin hidup! aku hanya ingin mati dan melupakan semuanya, aku tidak ingin hidup jika mencintai orang yang ternyata tidak mencintai ku.
Dokter dan Naila berbincang dengan tangan Naila yang menggenggam tangan ku erat-erat. Serasa tuli! aku tidak mendengar kan Dokter dan Naila berbicara. Aku memejamkan Mata hingga aku tertidur.
~~~
saat aku terbangun, di sebelah ku terdapat Mamah dan Papah. Orang tua Naila juga ada disini. Aku harap, mereka tidak mengetahui penyakit ku!
“Kamu harus istirahat! pekerjaan kamu biar Adek yang ngerjain. Kamu jangan terlalu berlebihan dengan pekerjaan. Kamu sampai sakit karena pekerjaan!” ucap Papah, untung lah jika Semuanya tidak tahu tentang penyakitku.
Aku mengangguk, ku lihat teman ku juga ada disini. Dengan seksama, mata ku bertubrukan dengan netra warna coklat menatap ku tajam.
Farid! kenapa kau ada disini?? Argk! aku sangat membenci ini! Dirinya mendekat ke brankar tempat ku tidur saat ini.
“Kenapa enggak bilang sih, kalau kamu itu sakit?? tadi bilangnya Ponselnya lowbet, Sudah mulai berbohong ya kamu.” ucapnya seperti tertimpa batu di hati ku.
Aku memang pembohong besar! aku membohongi perasaan ku sendiri, aku membohongi dirinya, Aku memang pembohong!
Aku hanya bisa memalingkan wajah ku, Jantung ku berdetak kencang, Ini kah cinta?? Cinta Meresahkan!
“Mah, kita pulang yuk” ajak ku.
Adik ku menatap ku horor, semuanya terkecuali Papah.
“Sekarang?? ok, Papah ke administrasi dulu.” Papah ku pergi menuju ruang Admin.
Tidak ada yang berani dengan Papah, karena papah orang nya sama seperti ku. Keras kepala! apa yang aku inginkan pasti disetujui! tidak ada yang tidak. Terkecuali Cinta ku ke Farid.
Beberap jam kemudian, aku sudah sampai rumah dengan Papah mamah pergi ke kamar, adek ku juga kembali ke kamar. Aku meraih Pena berbentuk Kuda poni di pucuknya. Aku membuka sebuah Buku yang terdapat Kunci. Menulis kan sesuatu di buku itu. Setelah menulis surat itu.
Aku mengambil Pesau yang memang sering aku gunakan untuk melukai Fisik ku sendiri.
“Hiks... aku harap.. hikss.. kamu bahagia, Aku sayang kalian, dan buat kamu Farid, aku Mencintaimu.”
Srettt...
Darah keluar dengan begitu deras dipergelangan tangan ku. Aku berjalan ke meja rias, melihat diriku dari pantulan cermin.
Wajah semakin Pucat, darah selalu keluar dari pergelangan tangan.
Jlebbb
Aku tusuk kan Pesau itu ke bagian perutku. Rasanya sakit, ini yang ingin ku lakukan dari lama. Aku menunggu hari ini.
Pusing menyerngku, Darah keluar dari Hidungku lagi. Gelap... gelapp... sunyi...
Dear Farid.
Assalamualaikum.
Apakabar?? kalau baik Alhamdulillah.
Jangan tanyakan tentang kabar ku, aku sudah sangat bahagia. Jangan menangis, aku tahu kamu menangis.
Soktau aku mah hahah:(
Aku mau cerita sedikit, Aku melakukan ini semua karena aku ingin cepat pergi buat melupakan mu. Jangan menganggap kepergian ku karena dirimu sendiri.
Pertama kali kita bertemu waktu itu sangat lah konyol, kita bertemu du sebuah acara pengajian. Kamu yang Dingin dan Datar kepada ku, sedangkan aku yang cerewet dan petakilan ini membuat kamu kesal.
Tahu enggak?? Aku sangat mencintaimu. Entah dengan dirimu, aku tidak tahu. Aku sudah lama mengidap penyakit Leukimia, jadi. jangan salahin diri kamu.
Aduh, aku nangis nulis ini. Heheh, tapi aku bisa nulis tawa. Aneh. Dunia ku aneh, sungguh aneh. Teralalu mencintai aku.
Jika memang Aku akan terlahir kembali, aku akan meminta kepada Tuhan semoga aku tidak memjadi cewek yang memyebalkan, dan lebih kuat lagi.
Pesan ku, jaga diri mu. Karena aku sudah tidak bisa lagi menjaga mu. Mengingatkan mu, Aku nulis ini sambil nangis, tapi kamu baca surat ini aku sudah bahagia dan tidak menangis.
Makasih segalanya, semoga suatu hari nanti kita akan dipertemukan kembali, terlahir kembali dan dipersatukan.
•The End•
Jangan lupa baca Novel ku yang berjudul “Gak jelas”
Makasih :)