Alvanya Anderson 20 tahun gadis mungil nan cantik yang terlahir dari keluarga terpandang dan terkemukaka. Namun sayangnya dia tidak bahagia sebagaimana mestinya karena orang tuannya hanya fokus pada pekerjaan masing-masing tanpa mereka sadari bahwa ada seseorang yang sangat membutuhkan mereka. Bahkan saat hari ulang tahunya pun orang tuannya tidak menyempatkan waktu untuk putri semata wayang mereka dan hal itu sangat membuat Alvanya sedih, tapi hal itu dia tutupi dengan sikapnya yang dingin dan datar hanya karena dia tidak mau di pandang lemah di mata orang lain terutama orangtuannya. Tapi di sikap yang dingin Nan datar plus cuek itu dia sebenarnya seoarang gadis lemah Nan polos serta sikap kekanak kanakannya.
*******
SIAL DAN PERTEMUAN PERTAMAN
Malam hari
Dijalan yang gelap hanya terdapat beberapa pancaran cahaya lampu pada jalan yang panjang. Seorang gadis mengayuh sepedanya sambil mengerutu kesal akibat kejadian pada siang hari tadi.
Kilasan balik kejadian siang hari.
Sebuah cafe.
Seorang gadis dan seorang pria sedang duduk berhadapan dalam acara pertemuan jodoh. Pria itu memegang segelas cangkir kopi dengan tangan yang gemetar dan keringat yang membasahi seluruh wajanhnya. Pria itu sama sekali tidak berani menatap gadis yang sedang duduk di hadapannya.
Kehadiran gadis itu tengah jadi perhatian semua pengunjung disana karena penampilannya yang sangat aneh.
Wajahnya yang dipoles dengan make up tebal dengan polesan mata yang sangat hitam akibat make up. Selain itu rambutnya yang panjang juga diacak menjadi kembang berantakan. Dengan baju yang serba hitam sambil menguyah perman karet dan membawa sebilah pisau keter dan diletakan di atas meja tepat dihadapan pria itu. Sehingga membuat pria itu gemetar di sekujur tubuhnya.
"Hei. Ada apa denganmu? Kenapa kamu diam saja dan kenapa kamu gemetar?" tanya gadis itu yang duduk santai sambil mengunyah permen karetnya.
"Ti-Tidak apa-apa, mungkin karena cuaca yang panas" jawab pria dengan alasan.
"Siapa namamu?"
"James,"jawab pria itu dengan menunduk.
"Namaku Alvanya," kata gadis itu.
"I-iya," jawab James dengan terbata.
"Jadi setelah pertemuan ini, apa kau masih ingin melanjutkaan perjodohon konyol ini," tanya gadis itu dengan kesal.
"Ak-aku..."
"Hushhh, gadis itu menghela napas lalu melanjutkan kalimatnya,, " Katakan pada bibiku bahwa kau ingin membatalkan perjodohan ini,, dengan alasan kau sudah memiliki seorang kekasih dan bahkan dia sudah mengandung anakmu!"ujar Vanya.
"Baiklah, Aku tahu!".
"Jangan takut denganku! Aku tidak memakan orang sampai-sampai kau harus menunduk terus seperti itu!".
Gadis itu sangat kesal karena bukan hanya satu kali menemui perjodohan tapi banyak kali akibat bibinya itu sampai-sampai dia harus pulang larut malam.
*******
Alvanya saat ini mengikuti sang bibi dari Ayah. Dia tinggal di kota dengan sang bibi walaupun bibinya sangat cerewet dan sering marah tapi hal itu justru membuat Alvanya senang setidaknya masing ada orang yang peduli padanya. Dan Alvanya tahu semarah apapun bibinya itu di sangat mencintai Alvanya.
*****
Setelah pertemuan jodoh itu Alvanya pulang dengan mengayuh sepedanya sepanjang jalan sampai-sampai dia menabrak orang saking kesalnya atas ulah sang bibi...
"Ahhh minggir Awassss Ahhhkkkk Brukkk!" Teriak Alvanya.
"Awww sakit" Alvanya dengan mata berkaca kaca.
"Kenapa sih sial banget deh Aku hari ini" Gerutunya sambil meniup lututnya yang tergores di Aspal jalan.
Tanpa dia sadari ternyata ada sepasang mata yang sangat tajam menatapnya dengan rahang yang tegas seakan menahan amarah.
"Siapa sih berdiri di tengah jalan mana udah malam lagi. Liat aja kalau udah ketemu bakalan ku geprek tu,, Aduhhh mana sakit lagi nih lutut!" Gerutunya celinguk kesana kemari mencari biang kerok yang membuatnya jatuh.
Karena minimnya cahaya di jalan makanya Alvanya tidak melihat orang tersebut. Jelas saja dia tidak melihat orang itu karena orang itu memakai pakai serba hitam dengan topi dan penutup mulut.
Setelah mencari kesana kemari,,, tanpa sadar mata Alvanya dan si pria saling tatapan seakan mereka sedang lomba,, heheeee...
"Itu dia tuh yang buat aku jatuh. Liat aja bukan Alvanya Anderson kalau aku ngak kasih kamu pelajaran!" Batin Alvanya dengan kesal.
Alvanya berdiri berlahan menuju dimana si pria itu berdiri.
"Hei,, Kamu Ngapain Berdiri di tengah jalan kaya hantu hahhh!" Teriak Alvanya padanya.
" Ini orang atau bukan sih di tanya ko malah diam aja,, benar benar bikin kesal aja dehh" Batin Alvanya.
" Haloo,, Aku nanya sama kamu. Ngapain di tengah jalan berdiri kaya hantu gitu. Lihat gara gara kamu aku jadi jatuh masih untung hanya lecet gimana kalau udah mati,, Hahhh!" Omel Alvanya padanya.
Sedangkan yang ditanya hanya diam tak bergerak seakan diam dan membisu.
Pria tampan Nan gagah itu hanya memperthatikan Gadis di depannya yang sedang marah marah tak jelas menurutnya.
"Nih orang benar benar dehh. Kan aku tanya kok malah diam aja sihh!" Kesal Alvanya dengan mengerucutkan bibirnya dan siapa saja yang melihatnya tentunya akan bikin gemas.
Tanpa Alvanya sadari akan sikapnya yang bikin gemas itu membuat si pria kaku plus dingin itu tersenyum di balik masker hitamnya.
"Imutt!" Batin si pria kaku.
Yang awalnya ingin marah karena ditabrak,, tapi entah kenapa setelah melihat dari dekat yang menabraknya ternyata perempuan dan terlebih lagi seorang gadis kecil yang hanya sebatas dadanya saja. Tiba tiba ada perasaan aneh mmenghampiri jantungnya.
Degg...
Degg...
"Sial ada apa dengan Jantung Gue,, Shiit!" Batin Ayden.
Disaat Alvanya masih sibuk dengan pikirannya akibat si pria kaku itu ditanya malah diam. Dia kaget lantaran pria tersebut mengeluarkan suara walaupun hanya deheman saja..
"Ehhhemmm!" Kata pertama kali yang keluar dari si pria kaku.
Sambil menelisik Alvanya dari bawah sampai atas akan tetapi pandagannya terhenti kala melihat lutut gadis itu berdarah. Tanpa ba bi bu,, tiba tiba pria kaku itu berjongkok di bawah lutut Alvanya. Entah kenapa melihat gadis di depannya yang terluka tiba tiba hati nuraninya muncul. Dan hal tersebut sontak membuat kaget Alvanya sekaligus asisten dan bodyguard si pria kaku yang tak jauh dari sana. Mengawasi si pria tak lain adalah Boss.
"Gila Apa dia masih Bosss yang kejam itu!" Gumam sang asisten sekaligus tangan kanan dari si pria kaku.
******
Ayden Alexander 26 tahun Tampan Nan menawan incaran bagi setiap wanita yang melihatnya. Si pria dingin dan kejam membuat dia ditakuti dan disegani oleh setiap orang. Di umur yang terbilang muda dia sudah menguasai dunia bawah tanah sekitar 5 tahun lalu dan sebagai CEO di perusahaan yang terkenal. Dia anak tunggal dari pasangan wiliam Alexander dan Elena. Karena penghianatan tentang cintanya 3 tahun lalu membuat dia enggan berurusan dengan wanita.
******
Alvanya yang melihat itu kaget lantaran pria yang ditanya dari tadi malah diam dan tiba tiba pria itu malah berjongkok di bawah kakinya.
" Nih orang apa apan sih,, tadi ditanya malah diam ehhh taunya malah tiba tiba jongkok!" Batin Alvanya. Saat dia sibuk kedua kalinya dengan otak kecilnya,, dia tiba tiba dikagetkan lagi oleh suara bariton tentunya milik si pria kaku..
"Apakah sakit"! Tanya Adyen lembut membuat Vanya kaget sampai sampai mulut udah menganga tuh,, hihii....
"Maaf!" Tanya Ayden lagi.
Alvanya yang masih sibuk dengan pikiranya entah berapa lama lagi dia diamm saking kagetnya atas perlakuan si pria tersebut padanya sangat lembut.
" Eh... Ti- Tidak sudah tidak sakit!" Alvanya dengan gugup.
Bukan hanya Alvanya yang kaget akan sikap Ayden si pria kaku itu. Asisten sekaligus tangan kakannya itu juga kaget lantaran sikap Boss mereka yang dikenal kejam terhadap siapa pun bahkan wanita pun selain ibunya tiba tiba bersikap lembut pada gadis kecil yang baru saja dia temui beberapa menit bahkan hampir di tabrak olah gadis tersebut.
" Wahhh... benar benar adegan langkah Nihh,, kapan lagi lihat bos dingin nan kejam itu bersikap lembut pada gadis kecil!" Gumam Jack Asisten dari Ayden.
******
Beberapa menit sebelum pertemuan Alvanya dan Ayden.
Adyen kala itu mengejar musuhnya yang sudah berkhianat dan juga membocorkan rencana besarnya pada musuh musuhnya.
" Mau kemana lagi kau si penghianat" Ujar Jack.
" Ha ha ha.. Gue heran sama kalian bisa bisanya tahan sama si iblis itu" Ujar si penghianat.
" Shiitt,, DIAM!" Bentak Jack sekaligus geram dengan bawahan tersebut.
" Asal kalian tahu orang yang kalian puji puji itu adalah Iblis. Dia IBLIS!" Tekan sipenghianat.
Tanpa ba bi bu... jack yang geram dengan si penghiatan tersebut langsung memberikan bogeman metah di rahangnya berkali kali.
Bughh...
Bughhh..
Bughh....
" Interogasi suruh dia mengaku siapa yang menyuruhnya!" Ujar jack pergi menemui Sang Bosss.
" Tuan,, Dia belum mau mengaku siapa orang di belakangnya!" Lapor Jack pada Ayden.
" Ehhmm!" Ayden.
Saat Adyen tahu kalau ada salah satu dari anggotanya berhianat tanpa kata dia langsung turun tangan untuk menagkap Si penghianat tersebut. Jelas karena Ayden sangat benci pada Kata "PENGHIANAT".
Setelah aksi kejar kejar disepanjang jalan Si penghianat pun tertangkap dengan tanga Ayden sendiri.
Kembali lagi ke Al dan Ayden....
******
" Nih orang kenapa sih!" Batin Alvanya..
Alvanya yang sangat risih akan sikap Ayden,, langsung tersadar dari lamunanya dan mundur beberapa langkah. Dan hal tersebut membuat Ayden sontak mendogak melihatnya.
" It..itu!" Alvanya yang gugup akan sikap pria yang ada di depannya.
"Hmmm!" Ayden.
"It..itu kamu ngak usah yah Sok peduli gitu,, tadi ajah berdiri di tengah jalan mana udah malam lagi" Omel Alvanya memungut barangnya yang terjatuh tadi. Sedangkan yang kena omel hanya diam saja,, setelah beberapa menit Ayden menguasai dirinya lagi dan tiba tiba saja dia mengeluarkan aura aura pembunuh.
Setelah Alvanya memungut barangnya dan mengambil sepeda dia berjalan lagi ke arah Ayden,, tentu saja saat sampai di depan Ayden tiba tiba saja Nyalinya menciut karena Alvanya merasakan Aura tersebut. Tapi dia tetap berusaha tenang,, lagian kan bukan dia yang salah malahan si pria yang tiba tiba muncul entah dari mana dan berdiri di tengah jalan.
" Ka..Kamu tanggung jawab!" Alvanya terbata bata dengan gugup.
" Ihh.. Kok Nih orang Auranya seram banget,, Kan takut jadinya!" Batin Alvanya
"Apa yang kamu katakan!" Tanya Ayden dengan suara baritonnya.
"Ak..aku bilang tanggung jawab" ujar Al dengan terbata bata karena takut tapi di berusaha untuk tetap tenang.
"Tanggung jawab!" Sarkas Ayden dingin.
"Ummm!" Jawab Al yang mulai takut.
'Tenang Al,, tenang jangan takut Ok. Tunjukin kalau kamu itu bukan gadis lemah. Sial kenapa aku malah jadi takut. Ayolah jangan takut atau kau akan dicap sebagai wanita lemah. Cukup Daddy dan Mommy saja yang lihat sisi lemah mu, tapi jangan orang lain!" Batin Al.
'Ckk.. Apa yang dia pikirkan di otak kecilnya itu' Batin Ayden menelisik melihat Al yang kelihatan gugup dan takut.
"Ok.. Aku bilang tanggung jawab!" Sarkas Al berusaha untuk menghilangkan rasa takutnya. " Gara gara kamu tiba tiba muncul entah dari mana dan berdiri di tengah jalan kaya hantu ajah" Ketus Al.
" Tanggung Jawab Ya!" Ujar Ayden sambil mendekat ke arah Al.
" Umm!" Jawab Al hanya dengan deheman.
" Menurutmu tanggung jawab bagaimana. Menjadikan mu sebagai seorang kekasih teman ranjang menikah atau mau uang!" Tanya Ayden dengan nada mengejek. Tentunya Ayden juga sering bertemu dengan wanita polos yang sering melakukan berbagai trik untuk dekatnya. Itu sebabnya Ayden bertanya karena banyak pengalaman yang dia alami dengan kejadian seperti ini pura pura tertabrak. Ckk sungguh trik bodoh.
"Jangan sok polos dihadapanku. Aku sering menemui hal semacam ini ditengah jalan. Dan Percaya atau tidak aku akan langsung membunuhmu di tempat!" Ujar Ayden
" Dasar badak hitam. Beraninya dia anggap Aku sebagai wanita murahan!" Batin Al dengan geram.
Al yang mendengar itu sangat murka dan kesal ingin sekali dia mencakar wajah dibalik masker itu dan menghajarnya habis habisan tapi dia tahan karena masih berusaha untuk tetap tenang..
"Paman Aku...Hanya seorang gadis kecil.. Aku tidak tahu apa yaang kamu katakan!"
Ujar Al dengan nada lemah lembut tentunya dia berakting untuk mengelabuhi musuh.
"Huhh Dasar badak hitam dia kira aku bisa ditindas dengan gampang apa. Liat aja Aku bakalan bikin tuh wajah yang hitam jadi merah. Kita lihat aja siapa yang menang!" Batin Al sambil senyum senyum sendiri dan tentunya hal itu di perhatikan oleh Ayden.
" Cantikk!" Batin Ayden.
"Hikkkss...Hiksssss!" Al menangis terisak dan hal itu sontak membuat Ayden terkejut.
" Hei... Kenapa kamu malah menagis. Aku kan tidak Apa apain kamu!" Ujar Ayden dengan cemas dia juga tidak tahu dengan perasaannya. Awalnya ingin membuat gadis itu takut, Ya walaupun sudah menagis tapi Ayden tidak tahu saja kalau Al hanya Berakting. Hehhehee..
"Sial,, Ada apa dengan perasaan Gue. Awalnya memang buat dia Takut,, taoi giliran menagis malah buat Gue Khawatir. Shiit!" Umpat Adyen membatin.
"Hikkss...Hikss. Pa..Paman wajah mu sangat menyeramkan. It- Itu sebabnya Al menagis!" Jawab Al dengan Sesedih mungkin. Padahal dalam hati bersorak menang karena melihat pria itu cemas, Ya walaupun wajahnya tidak terlihat tapi dari gerak geriknya seperti khawatir.
" Ok. Maaf!" Jawab Ayden singkat.
" Paman tidak ada marahi Al kan!" Tanya Al dengan Sesekali segukan.
" Iya. Jadi bisakah kamu diam!" Jawab Ayden.
" Jadi Apa Al sudah boleh pulang,, Hikkss Soalnya kasihan nenek Al sendirian di rumah!" Ujar Al.
"Hahaha,,, Rasain tuh Dasar Badak hitam!" Batin Al sambil menahan tawa.
" Tentu!" Jawab Ayden.
" Kalau begitu Al mau pulang sekarang. Apa boleh paman!" Tanya Al sambil memelas.
"Ummm!" Singkat Ayden.
Al yang mendengar jawaban itu langsung menghapus air mataNya dan menaiki sepedanya dan perfi dari sana sudah cukup menjaga jarak dari Ayden. Dia Menatap wajah Ayden dari jauh sambil berkata.
" Terimah kasih paman. Kalau begitu Al pergi dulu!" Jawab Al sambil menahan tawa. Dan Paman Kalau jadi orang itu jangan galak. Lihat walaupun pun aku tak tahu wajah mu,, Tapi aku yakin kalau paman pasti marah. Hahahahaa.... makanya jangan main main sama Al,, Alvanya dilawan.!" Teriak Al.
"Ckk,, Dasar gadis tengil. Lihat aja kita bakalan bertemu lagi!" Gumam Ayden yang memandang kepergian Alvanya sebelum beranjak dari sana.
*****
Setelah pertemuan jodoh itu Alvanya pulang dengan mengayuh sepedanya sepanjang jalan sampai-sampai dia menabrak orang saking kesalnya atas ulah sang bibi...
"Ahhh minggir Awassss Ahhhkkkk Brukkk!" Teriak Alvanya.
"Awww sakit" Alvanya dengan mata berkaca kaca.
"Kenapa sih sial banget deh Aku hari ini" Gerutunya sambil meniup lututnya yang tergores di Aspal jalan.
Tanpa dia sadari ternyata ada sepasang mata yang sangat tajam menatapnya dengan rahang yang tegas seakan menahan amarah.
"Siapa sih berdiri di tengah jalan mana udah malam lagi. Liat aja kalau udah ketemu bakalan ku geprek tu,, Aduhhh mana sakit lagi nih lutut!" Gerutunya celinguk kesana kemari mencari biang kerok yang membuatnya jatuh.
Karena minimnya cahaya di jalan makanya Alvanya tidak melihat orang tersebut. Jelas saja dia tidak melihat orang itu karena orang itu memakai pakai serba hitam dengan topi dan penutup mulut.
Setelah mencari kesana kemari,,, tanpa sadar mata Alvanya dan si pria saling tatapan seakan mereka sedang lomba,, heheeee...
"Itu dia tuh yang buat aku jatuh. Liat aja bukan Alvanya Anderson kalau aku ngak kasih kamu pelajaran!" Batin Alvanya dengan kesal.
Alvanya berdiri berlahan menuju dimana si pria itu berdiri.
"Hei,, Kamu Ngapain Berdiri di tengah jalan kaya hantu hahhh!" Teriak Alvanya padanya.
" Ini orang atau bukan sih di tanya ko malah diam aja,, benar benar bikin kesal aja dehh" Batin Alvanya.
" Haloo,, Aku nanya sama kamu. Ngapain di tengah jalan berdiri kaya hantu gitu. Lihat gara gara kamu aku jadi jatuh masih untung hanya lecet gimana kalau udah mati,, Hahhh!" Omel Alvanya padanya.
Sedangkan yang ditanya hanya diam tak bergerak seakan diam dan membisu.
Pria tampan Nan gagah itu hanya memperthatikan Gadis di depannya yang sedang marah marah tak jelas menurutnya.
"Nih orang benar benar dehh. Kan aku tanya kok malah diam aja sihh!" Kesal Alvanya dengan mengerucutkan bibirnya dan siapa saja yang melihatnya tentunya akan bikin gemas.
Tanpa Alvanya sadari akan sikapnya yang bikin gemas itu membuat si pria kaku plus dingin itu tersenyum di balik masker hitamnya.
"Imutt!" Batin si pria kaku.
Yang awalnya ingin marah karena ditabrak,, tapi entah kenapa setelah melihat dari dekat yang menabraknya ternyata perempuan dan terlebih lagi seorang gadis kecil yang hanya sebatas dadanya saja. Tiba tiba ada perasaan aneh mmenghampiri jantungnya.
Degg...
Degg...
"Sial ada apa dengan Jantung Gue,, Shiit!" Batin Ayden.
Disaat Alvanya masih sibuk dengan pikirannya akibat si pria kaku itu ditanya malah diam. Dia kaget lantaran pria tersebut mengeluarkan suara walaupun hanya deheman saja..
"Ehhhemmm!" Kata pertama kali yang keluar dari si pria kaku.
Sambil menelisik Alvanya dari bawah sampai atas akan tetapi pandagannya terhenti kala melihat lutut gadis itu berdarah. Tanpa ba bi bu,, tiba tiba pria kaku itu berjongkok di bawah lutut Alvanya. Entah kenapa melihat gadis di depannya yang terluka tiba tiba hati nuraninya muncul. Dan hal tersebut sontak membuat kaget Alvanya sekaligus asisten dan bodyguard si pria kaku yang tak jauh dari sana. Mengawasi si pria tak lain adalah Boss.
"Gila Apa dia masih Bosss yang kejam itu!" Gumam sang asisten sekaligus tangan kanan dari si pria kaku.
******
Ayden Alexander 26 tahun Tampan Nan menawan incaran bagi setiap wanita yang melihatnya. Si pria dingin dan kejam membuat dia ditakuti dan disegani oleh setiap orang. Di umur yang terbilang muda dia sudah menguasai dunia bawah tanah sekitar 5 tahun lalu dan sebagai CEO di perusahaan yang terkenal. Dia anak tunggal dari pasangan wiliam Alexander dan Elena. Karena penghianatan tentang cintanya 3 tahun lalu membuat dia enggan berurusan dengan wanita.
******
Alvanya yang melihat itu kaget lantaran pria yang ditanya dari tadi malah diam dan tiba tiba pria itu malah berjongkok di bawah kakinya.
" Nih orang apa apan sih,, tadi ditanya malah diam ehhh taunya malah tiba tiba jongkok!" Batin Alvanya. Saat dia sibuk kedua kalinya dengan otak kecilnya,, dia tiba tiba dikagetkan lagi oleh suara bariton tentunya milik si pria kaku..
"Apakah sakit"! Tanya Adyen lembut membuat Vanya kaget sampai sampai mulut udah menganga tuh,, hihii....
"Maaf!" Tanya Ayden lagi.
Alvanya yang masih sibuk dengan pikiranya entah berapa lama lagi dia diamm saking kagetnya atas perlakuan si pria tersebut padanya sangat lembut.
" Eh... Ti- Tidak sudah tidak sakit!" Alvanya dengan gugup.
Bukan hanya Alvanya yang kaget akan sikap Ayden si pria kaku itu. Asisten sekaligus tangan kakannya itu juga kaget lantaran sikap Boss mereka yang dikenal kejam terhadap siapa pun bahkan wanita pun selain ibunya tiba tiba bersikap lembut pada gadis kecil yang baru saja dia temui beberapa menit bahkan hampir di tabrak olah gadis tersebut.
" Wahhh... benar benar adegan langkah Nihh,, kapan lagi lihat bos dingin nan kejam itu bersikap lembut pada gadis kecil!" Gumam Jack Asisten dari Ayden.
******
Beberapa menit sebelum pertemuan Alvanya dan Ayden.
Adyen kala itu mengejar musuhnya yang sudah berkhianat dan juga membocorkan rencana besarnya pada musuh musuhnya.
" Mau kemana lagi kau si penghianat" Ujar Jack.
" Ha ha ha.. Gue heran sama kalian bisa bisanya tahan sama si iblis itu" Ujar si penghianat.
" Shiitt,, DIAM!" Bentak Jack sekaligus geram dengan bawahan tersebut.
" Asal kalian tahu orang yang kalian puji puji itu adalah Iblis. Dia IBLIS!" Tekan sipenghianat.
Tanpa ba bi bu... jack yang geram dengan si penghiatan tersebut langsung memberikan bogeman metah di rahangnya berkali kali.
Bughh...
Bughhh..
Bughh....
" Interogasi suruh dia mengaku siapa yang menyuruhnya!" Ujar jack pergi menemui Sang Bosss.
" Tuan,, Dia belum mau mengaku siapa orang di belakangnya!" Lapor Jack pada Ayden.
" Ehhmm!" Ayden.
Saat Adyen tahu kalau ada salah satu dari anggotanya berhianat tanpa kata dia langsung turun tangan untuk menagkap Si penghianat tersebut. Jelas karena Ayden sangat benci pada Kata "PENGHIANAT".
Setelah aksi kejar kejar disepanjang jalan Si penghianat pun tertangkap dengan tanga Ayden sendiri.
******
Kembali lagi ke Al dan Ayden....
" Nih orang kenapa sih!" Batin Alvanya..
Alvanya yang sangat risih akan sikap Ayden,, langsung tersadar dari lamunanya dan mundur beberapa langkah. Dan hal tersebut membuat Ayden sontak mendogak melihatnya.
" It..itu!" Alvanya yang gugup akan sikap pria yang ada di depannya.
"Hmmm!" Ayden.
"It..itu kamu ngak usah yah Sok peduli gitu,, tadi ajah berdiri di tengah jalan mana udah malam lagi" Omel Alvanya memungut barangnya yang terjatuh tadi. Sedangkan yang kena omel hanya diam saja,, setelah beberapa menit Ayden menguasai dirinya lagi dan tiba tiba saja dia mengeluarkan aura aura pembunuh.
Setelah Alvanya memungut barangnya dan mengambil sepeda dia berjalan lagi ke arah Ayden,, tentu saja saat sampai di depan Ayden tiba tiba saja Nyalinya menciut karena Alvanya merasakan Aura tersebut. Tapi dia tetap berusaha tenang,, lagian kan bukan dia yang salah malahan si pria yang tiba tiba muncul entah dari mana dan berdiri di tengah jalan.
" Ka..Kamu tanggung jawab!" Alvanya terbata bata dengan gugup.
" Ihh.. Kok Nih orang Auranya seram banget,, Kan takut jadinya!" Batin Alvanya
"Apa yang kamu katakan!" Tanya Ayden dengan suara baritonnya.
"Ak..aku bilang tanggung jawab" ujar Al dengan terbata bata karena takut tapi di berusaha untuk tetap tenang.
"Tanggung jawab!" Sarkas Ayden dingin.
"Ummm!" Jawab Al yang mulai takut.
'Tenang Al,, tenang jangan takut Ok. Tunjukin kalau kamu itu bukan gadis lemah. Sial kenapa aku malah jadi takut. Ayolah jangan takut atau kau akan dicap sebagai wanita lemah. Cukup Daddy dan Mommy saja yang lihat sisi lemah mu, tapi jangan orang lain!" Batin Al.
'Ckk.. Apa yang dia pikirkan di otak kecilnya itu' Batin Ayden menelisik melihat Al yang kelihatan gugup dan takut.
"Ok.. Aku bilang tanggung jawab!" Sarkas Al berusaha untuk menghilangkan rasa takutnya. " Gara gara kamu tiba tiba muncul entah dari mana dan berdiri di tengah jalan kaya hantu ajah" Ketus Al.
" Tanggung Jawab Ya!" Ujar Ayden sambil mendekat ke arah Al.
" Umm!" Jawab Al hanya dengan deheman.
" Menurutmu tanggung jawab bagaimana. Menjadikan mu sebagai seorang kekasih teman ranjang menikah atau mau uang!" Tanya Ayden dengan nada mengejek. Tentunya Ayden juga sering bertemu dengan wanita polos yang sering melakukan berbagai trik untuk dekatnya. Itu sebabnya Ayden bertanya karena banyak pengalaman yang dia alami dengan kejadian seperti ini pura pura tertabrak. Ckk sungguh trik bodoh.
"Jangan sok polos dihadapanku. Aku sering menemui hal semacam ini ditengah jalan. Dan Percaya atau tidak aku akan langsung membunuhmu di tempat!" Ujar Ayden
" Dasar badak hitam. Beraninya dia anggap Aku sebagai wanita murahan!" Batin Al dengan geram.
Al yang mendengar itu sangat murka dan kesal ingin sekali dia mencakar wajah dibalik masker itu dan menghajarnya habis habisan tapi dia tahan karena masih berusaha untuk tetap tenang..
"Paman Aku...Hanya seorang gadis kecil.. Aku tidak tahu apa yaang kamu katakan!"
Ujar Al dengan nada lemah lembut tentunya dia berakting untuk mengelabuhi musuh.
"Huhh Dasar badak hitam dia kira aku bisa ditindas dengan gampang apa. Liat aja Aku bakalan bikin tuh wajah yang hitam jadi merah. Kita lihat aja siapa yang menang!" Batin Al sambil senyum senyum sendiri dan tentunya hal itu di perhatikan oleh Ayden.
" Cantikk!" Batin Ayden.
"Hikkkss...Hiksssss!" Al menangis terisak dan hal itu sontak membuat Ayden terkejut.
" Hei... Kenapa kamu malah menagis. Aku kan tidak Apa apain kamu!" Ujar Ayden dengan cemas dia juga tidak tahu dengan perasaannya. Awalnya ingin membuat gadis itu takut, Ya walaupun sudah menagis tapi Ayden tidak tahu saja kalau Al hanya Berakting. Hehhehee..
"Sial,, Ada apa dengan perasaan Gue. Awalnya memang buat dia Takut,, taoi giliran menagis malah buat Gue Khawatir. Shiit!" Umpat Adyen membatin.
"Hikkss...Hikss. Pa..Paman wajah mu sangat menyeramkan. It- Itu sebabnya Al menagis!" Jawab Al dengan Sesedih mungkin. Padahal dalam hati bersorak menang karena melihat pria itu cemas, Ya walaupun wajahnya tidak terlihat tapi dari gerak geriknya seperti khawatir.
" Ok. Maaf!" Jawab Ayden singkat.
" Paman tidak ada marahi Al kan!" Tanya Al dengan Sesekali segukan.
" Iya. Jadi bisakah kamu diam!" Jawab Ayden.
" Jadi Apa Al sudah boleh pulang,, Hikkss Soalnya kasihan nenek Al sendirian di rumah!" Ujar Al.
"Hahaha,,, Rasain tuh Dasar Badak hitam!" Batin Al sambil menahan tawa.
" Tentu!" Jawab Ayden.
" Kalau begitu Al mau pulang sekarang. Apa boleh paman!" Tanya Al sambil memelas.
"Ummm!" Singkat Ayden.
Al yang mendengar jawaban itu langsung menghapus air mataNya dan menaiki sepedanya dan perfi dari sana sudah cukup menjaga jarak dari Ayden. Dia Menatap wajah Ayden dari jauh sambil berkata.
" Terimah kasih paman. Kalau begitu Al pergi dulu!" Jawab Al sambil menahan tawa. Dan Paman Kalau jadi orang itu jangan galak. Lihat walaupun pun aku tak tahu wajah mu,, Tapi aku yakin kalau paman pasti marah. Hahahahaa.... makanya jangan main main sama Al,, Alvanya dilawan.!" Teriak Al.
"Ckk,, Dasar gadis tengil. Lihat aja kita bakalan bertemu lagi!" Gumam Ayden yang memandang kepergian Alvanya sebelum beranjak dari sana.