Aku berhenti di depan warung mi langganan yang biasanya kukunjungi. Area parkir di depan warung tampak penuh hingga dengan terpaksa aku harus parkir di pinggir jalan agak jauh dari warung tersebut. Dengan berjalan kaki, aku melangkah menuju warung Mas Pidinim yang menyajikan aneka masakan olahan dari mi. Mulai dari mi kuah, mi goreng, mi tumis, mi bihun, mi kuning, mi kangkung dan mi entah apa lagi yang ada di daftar menunya.
"Eneng cantik mo pesan apa?"
Sapaan itu membuatku menoleh, seorang pemuda dengan seragam pelayan menanyaiku. Aku mengernyit. bertanya-tanya sejak kapan Mas Pidinim punya karyawan laki-laki.
"Masuk dulu, Neng. Biar dicatet pesanannya," ucap seorang pemuda yang lain.
"Mas Pidinimnya mana?" tanyaku.
"Paman lagi ada kerjaan. Sama Jukik aja ya," ucap pemuda pertama yang menegurku tadi.
"Sama Tete aja, dijamin Tete kasih bonus satu bungkus," ucap pemuda kedua sambil mengedipkan sebelah mata.
"Gak. Ara maunya sama Mas Pidinim. Cuma Mas Pidinim yang tahu racikan pas pesanan saya."
Seorang pemuda lagi keluar dan ikut nimbrung. "Kalo gak mau sama kita ya udah. Kamu pulang sana, gak usah beli," usirnya.
"Ya ... Mas Agus jangan kasar gitu." Aku mendengar Jukik memarahi pemuda tadi.
"Iya. Maen usir aja. Tar Tete lapor sama Paman."
Orang bernama Agus itu melirik ke arahku, melihat dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Aku baru saja akan mengatainya ketika empat orang lagi datang dari arah belakang si Agus dengan senyum lebar dan mata dikedip-kedipkan.
"Hai, Neng. Kenalin saya Juned," ucap pemuda dengan lesung pipi.
"Aku gak nanya," jawabku ketus. Masih jengkel karena si Agus.
"Saya World Wide Handsome. Panggil saya Kang Tarsok atau Kang Sokjin juga boleh," ucap pemuda yang lain.
"Aku Ahob. Pake B ya, gak pake K. Eneng mo pesan apa?" Nada yang ini sopan di dengar.
Aku menatap mereka bertujuh dengan mata menyipit. Hanya satu yang belum mengenalkan diri, menatapku seolah ingin aku duluan yang bertanya padanya.
"Mana Mas Pidinim?" ulangku.
"Aku, aku, tanya aku dong," ucap pemuda terakhir yang belum memperkenalkan diri.
"Tanya apa?" Aku bersedekap sambil terus menatap wajahnya yang tersenyum.
"Tanya namaku dong," ucapnya lagi.
"Gak mau."
"Kukasih bonus beli satu gratis satu deh."
Aku berpikir cepat. Lumayan ini, beli empat bungkus dapatnya delapan bungkus. Aku segera mengangguk-anggukkan kepala.
"Oke. Beneran ya. Nama kamu siapa?" tanyaku.
"Hiyaaa ... Eneng Ara cantik akhirnya nanya aku!" serunya gembira, "aku Sarjimin Neng. Panggil aja Moci biar manis manja gitu dengernya."
Dari arah belakang Mas Pidinim datang dan segera mendekatiku. "Neng Ara. Jangan dengerin ponakan saya. Semua pada jahil. Neng mo beli apa?"
"Yang biasa, Mas. Pedes ya. 4 bungkus. Kata si Moci dapat bonus 4 ya Mas," ucapku.
"Aduh, Neng Ara. Mas ganti aja deh. Beli mi 4 bonusnya silakan kantongin juga ni tujuh orang gesrek. Sekalian dibawa pulang. Mas ikhlas. Bikin rugi warung Mas aja. Mau ya Neng?" tanya Mas Pidinim polos.
TAMAT