Namaku Dian. Masih sekolah di bangku SMA, tepatnya kelas 12. Kalau di kelas, biasanya aku dijuluki si cewek pendek karena memiliki tinggi
badan 150 cm, paling pendek diantara teman cewekku yang lain. Menurutku tinggi badanku biasa-biasa aja tuh. Meski begitu, tetap ada aja teman sekelas yang iri denganku. katanya dia merasa tersaingi dengan wajah cantik dan imutku ini. Ya betul sih, kadang banyak cowok-cowok yang ingin kenalan dan ingin dekat denganku, bahkan ada yang sudah mengatakan cintanya kepadaku, namun aku tolak dengan alasan ingin fokus belajar.
Tak berhenti disitu, sekarang tetap saja banyak yang mengejar-ngejar cintaku. Aku jadi malah ilfiel dengan cowok-cowok di sekolahku ini.
****
Pada saat jam istirahat, aku berencana ingin pergi ke perpustakaan untuk mencari beberapa buku yang inginku baca. Pas di depan pintu perpus, aku segera masuk ke ruangan. Kebetulan di ruang perpus itu tak banyak pengunjung yang datang. Jadi aku lebih tenang melanjutkan bacaanku kemaren.
Lima menit kemudian****
"Huh,,, akhirnya selesai juga bacanya," ucapku diikuti dengan menutup sampul buku yang baru habisku baca.
"Cari buku lagi, ahh," ujarku dengan semangat.
Ketika hendak mengambil buku, tiba-tiba terasa ada yang menarik buku itu juga. Aku berusaha untuk menariknya dari rak buku. ehh ternyata aku terpeleset dan terjatuh ke lantai bersama dengan buku itu. Tiba-tiba aku melihat sepatu berwarna hitam di depanku. Aku menengok dari mula sepatu hingga ke wajah seseorang yang ada di depanku itu. Aku tercengang melihat pria berparas tampan menatapku. Aku tidak tahu siapa dia.Tapi yang jelas dia bagaikan pria yang selama ini diriku idam-idamkan.
"Hei,,, Kamu... baik-baik saja kan?" sahut pria itu. sambil mengerak-gerakan tangannya ke arah wajahku. Aku sangat terpesona dengan wajah tampannya hingga tak sadar kalau dia sedang berbicara denganku.
"Hello," sapanya lagi.
"Ehh,,, maaf. Sa... saya tidak apa-apa,"ucapku tak karuan.
"Syukurlah kalau begitu. Oh ya..., apa kamu tadi yang menarik buku itu?" ucapnya sambil menunjuk buku yang sedangku pegang.
Aku kembali memperhatikan buku itu.
"Iya. Kenapa, apa anda mau baca buku ini?" tanyaku mengambang.
"Iya,,, itu tadi. Tapi sekarang kau saja yang baca!" jawabnya tersenyum sambil memperlihatkanku. Aku menjadi tak karuan, salting lebih tepatnya. Pipiku memerah seketika.
Di tengah rasa penasaran, aku kembali membuka mulut dan kemudian berkata, "Anda siapa dan mengapa ada di sini?"
"Oh ya... kita belum kenalan. Kenalkan saya...," tiba-tiba suara hp berdering dari saku celana pria itu sehingga membuat ia berhenti berbicara. Dan izin pergi kepadaku untuk mengangkat telpon. Setelah pria itu pergi, aku kembali berdiri tegap setelah sekian menit terduduk di lantai. Setelah itu, aku kembali melanjutkan rutinitasku itu di kursi perpustakaan.
Suara bel berbunyi, menandakan jam istirahat telah usai****
Aku segera mengembalikan buku yang ku baca tadi di tempat semula. Tak lupa aku mencatat namaku di buku pengunjung perpustakaan. Setelah itu aku bergegas menuju kelasku yang letaknya agak jauh dari perpus.
Sesampainya di kelas, aku segera duduk di bangkuku yang paling depan, intinya agar lebih kelihatan tuh sebab aku pendek dari yang lain.
Di jam belajar ini, entah mengapa teman-teman sekelasku pada sibuk ngerumpi baik laki maupun perempuannya. Mereka sedang mengobrol tentang adanya guru baru di sekolah ini yang katanya masih muda. Suasana kelas semangkin bisik ketika para ciwi-ciwinya tahu kalau guru itu adalah pria muda yang memiliki paras tampan. Riuhnya bukan main. Sementara aku hanya duduk diam di bangkuku sambil mengingat kembali kejadian yang kualami tadi.
"Apa itu guru baru yang dimaksud oleh mereka ya?" gumamku.
Tiba-tiba datang seorang pria muda yang memakai kemeja putih, celana hitam dan sepatu hitam persis dengan pria yang ku jumpai tadi di perpustakaan, pria itu lalu memasuki ruangan kelasku. Dengan tegas pria itu menyapa kami di kelas. Dengan semangat sapaan itu di respon balik oleh kami namun suara yang paling nyaring adalah suara para ciwi-ciwi di kelasku namun tak termasuk diriku.
"Hmm, sebelumnya, apa kalian sudah pada tahu isu-isu tentang guru baru di sekolah ini?" sahut pria itu dengan pelan namun jelas.
"Sudah," jawab kami serempak.
pria itu pun menghadapkan pandangannya ke arah ku sambil tersenyum tipis nan manis saat dipandang. Setelah cukup lama memandanginya, akupun tersadar bahwa dirinya sedang memperhatikanku. Aku kemudian tertunduk menghadapkan wajahku ke bawah meja saking saltingnya.
Tak lama pria itu melanjutkan perkenalkannya di depan kelas.
"Jadi kalian pasti tahu siapa saya, bukan," ujarnya.
"Tidak," jawabku.
spontan pandangannya serta teman-teman yang lainnya tertuju ke arah ku.
"Yang lain?" tanya pria itu lagi.
"Bapak mungkin guru baru yang dimaksud itu tadi, bukan," jawab salah satu temanku.
"Benar sekali," jawab pria itu sambil mengangguk.
Sementara aku masih dalam keadaan tertunduk ke arah bawah meja.
"Baiklah, anak-anak, perkenalkan nama saya Muhammad alfikri. Panggil saja pak Fikri. Di sini, saya sebagai guru matematika. Cukup sekian perkenalannya, terimakasih," jelas pria muda itu yang tak lain adalah guru baru.
Para ciwi-ciwi di kelasku semangkin kagum dibuatnya. Ketika baru selesai menutup perkenalannya, tiba-tiba ada seorang cewek yang duduk disebelah ku, ia ingin melontarkan pertanyaan kepada guru baru itu.
"Maaf Pak, kalau pertanyaannya agak melenceng dari materi,"
"Iya, silahkan tanyakan!"
"Apakah Bapak belum menikah?" tanya cewek yang berada di sebelah ku.
Dengan santai Pak Fikri menjawabnya, lalu berkata,
"Belum, namun sudah ada colon dan kebetulan sekarang calon istri saya lagi menempuh pendidikannya," jelas Pak Fikri sambil memandangiku.
"Yaaa," ucap ciwi-ciwi di kelas namun tak termasuk diriku.
Tak lama kemudian perkenalkan diri kami kepada guru baru itu pun selesai dan jam pelajarannya telah habis. Guru muda yang bernama Pak Fikri itu kemudian meninggalkan kelas dan digantikan dengan pelajaran berikutnya.
Pada saat jam sekolah****
Aku menunggu ayah di gerbang sekolah untuk menjemputku pulang. Tampak suasana sekolah sudah terlihat sepi, hanya saja aku yang masih berdiri mematung di sana.
"Ayah mana sih. Kok lama sekali ke sininya," kerutuku. Berkali-kali aku memperhatikan jam di tangan kiriku.
"Sudah jam empat sore, ternyata," gumamku.
Karena kecapekan berdiri, aku pun memutuskan untuk duduk jongkok sambil menunggu ayah datang.
"Bruuum" suara motor.
Alangkah terkejutnya aku ketika suara motor itu adalah miliknya Pak Fikri. Aku berusaha bersembunyi, takut disapa olehnya. Namun ternyata Pak Fikri sudah tahu persembunyianku
"Keluarlah, Dian! Saya tahu kamu sedang bersembunyi di balik tembok itu, bukan," sahutnya.
Aku begitu kaget ketika Pak Fikri sudah mengetahui kalau aku sedang bersembunyi. Aku pun keluar dari balik tembok itu.
"Kenapa, kok kamu bersembunyi di situ ketika melihat saya menuju kemari?"
Aku terdiam dan tak menjawab apa-apa yang ditanyakan oleh Pak Fikri barusan.
"Baiklah, saya akan mengantarkan kamu pulang,"
Mendengar hal itu aku pun semangkin salting dibuatnya. Mau tak mau aku pun menerima ajakannya.
Selama diperjalanan, aku merasakan sesuatu yang tak aku rasakan sebelumnya. Namun yang paling mengherankan bagiku ialah dia bisa tahu arah jalan menuju rumahku. Tanpa ku kasih tahu sebelumnya. Sesampainya di rumah, aku pun berterima kasih kepada guru muda itu dan tak lupa aku mengajaknya untuk singgah sebentar, namun Pak Fikri itu tidak mau mungkin karena ngga enak.
sebulan berlalu****
Rasa cintaku terhadap Pak Fikri tak bisa dielakkan lagi. Nyatanya ketika melihat wajahnya dari kejauhan, aku malah salting. Apalagi ketika berpapasan langsung dengannya, jantung ini malah semangkin berdebar kencang.
"Apa ini yang di namakan cintaku ya?" ucapku dalam hati.
Di dalam kelas****
Ketika Pak Fikri sedang sibuk menjelaskan materi di depan kelas tanpa sengaja ia melihatku sedang asik tiduran di kelas, apalagi tempat dudukku paling depan jadi sangat terlihat jelas diriku saat itu.
Teman di sebelahku berusaha membangunkanku dan ketika itupun aku terbangun dari tidurku yang nyenyak.
Setelah itu, aku memperhatikan sekeliling dan melihat Pak Fikri. Namun pandangan Pak Fikri terhadapku tak seperti biasa. Kali ini ia tampak kesal, mungkin karena kelakuan ku tadi yang tiduran pada saat jam pelajarannya. Aku kemudian di suruh untuk menemuinya ketika jam istirahat pertama. Pada saat itu, hatiku semangkin tak menentu, bukan hanya karena salting ketika didekatnya tapi aku takut mendapat sanksi.
Jam istirahat pertama****
Aku memberanikan diri untuk memasuki ruangannya. Terlebih dahulu aku mengucapkan salam sambil mengetuk pintu. Pada saat duduk berhadapan dengannya, aku semangkin gugup dan sesekali menghadapkan wajah ku ke bawah meja.
"Kamu tahu kan apa kesalahan mu?"
"I...iya, Pak. Saya tahu. Saya janji tidak mengulanginya lagi," jawabku sedikit gugup.
"Baiklah, akan ku pegang janji mu itu,"
Aku kemudian tersenyum lega. Namun hal itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba Pak Fikri menyerangkan surat kepada ku.
"Bawalah surat ini dan bukalah ketika kamu sudah sampai rumah!" pinta Pak Fikri dengan ekspresi wajah yang sudah kembali ceria.
"Surat apa ini, Pak?" tanyaku penasaran.
"Kamu baca sendiri di rumah," jawabnya.
Aku kemudian mengambil surat itu dari tangan Pak Fikri. Aku sangat penasaran dengan isi surat ini. Tapi katanya surat ini dibuka pas di rumah.
Aku kemudian kembali ke kelas dengan membawa sebuah amplop yang berisikan surat darinya.
Ketika di rumah****
Diruang tamu, aku memutuskan untuk membuka amplop dan membaca surat itu. Dengan perlahan aku mengeluarkan selembar kertas dari dalam amplop. Ketika di baca ternyata isinya begitu mencengangkan. Aku sungguh tak percaya kalau Pak Fikri selama ini juga menaruh hati terhadapku. Nyatanya aku mau dilamar olehnya. Aku kemudian bergegas menemui ayah dan juga ibu di ruang dapur dan lalu menceritakannya. Ibu dan juga ayahku tampaknya tidak terkejut mendengarnya malah tertawa puas dengan apa yang ku ceritakan.
"Apa kamu mau menerimanya, Nak?" tanya ayahku.
"Kalau boleh jujur sih yah, Dian juga suka dengannya. Tapi gimana sekolah, Dian," jawabku malu-malu.
"Bukankah itu baru lamaran ya. Nikahnya biar pas kamu lulus SMA saja toh," jelas ayahku lagi.
"Baiklah kalau begitu,Yah. Aku mau," jawabku dengan mantap.
"Akhirnya kamu mau juga menerima perjodohan itu, Nak," sahut ayahku.
"Apa maksudnya, Yah?" tanyaku yang kurang jelas bagiku.
Ayah ku lalu menceritakannya kepada ku. Tanpa ku sadari laki-laki yang selama ini mau ayah jodohkan dengan ku adalah Pak Fikri, guru matematika yang mengajar di kelas ku.
Pada malam hari****
Seseorang datang ke rumahku yang tak lain adalah Pak Fikri bersama keluarganya. Keluargaku menyambut kedatangannya dengan sangat baik dan ramah. Sementara aku masih di dalam kamar. Rasa cemas dan gugup bercampur baur mengalahkan rasa bahagiaku. Tiba-tiba ibuku datang menemuiku di dalam kamar.
"Aku takut, Bu," ucapku.
"Tenang, Nak. Ibu yakin kamu pasti bisa," kata ibuku.
Aku pun memutuskan untuk memberanikan diri keluar kamar untuk menemui Pak Fikri berserta keluarganya.
"Kamu sangat cantik, Dian," ucap Pak Fikri yang terlihat mengagumi ku.
Aku hanya tersenyum dihadapannya.
Ketika pemakaian cincin lamaran, Pak Fikri tak puas-puasnya memandangiku. Aku begitu senang kalau seseorang yang selama ini ku kagumi bakalan jadi suamiku.
Pernikahanku dan Pak Fikri akan berlangsung ketika aku lulus SMA nanti. Semoga ini adalah takdir tuhan yang terbaik bagiku.