MY BAD BOY
Jatuh cinta? Mungkin iya!
Itulah yang tengah melanda hatiku. Aku, seorang gadis bernama Cea Syalavish, murid terpintar di kelas 8A. Aku sedang dimabuk kepayang oleh seorang lelaki bernama Anka Syah Auletta, ia adalah murid kelas 9A sekaligus kating/kakelku.
Rasa yang ku miliki terhadapnya sangat berbeda dengan yang pernah ku berikan pada para excrushku. Mungkin karena ia memang berbeda dari yang lain.
Kak Anka ini orangnya nakal-nakal cuek, apalagi kalau sama cewe. Cueknya pakai "buangetttt", mungkin itu yang membuatku tidak bisa beralih hati dari dirinya.
Itu juga yang membuatku tak bisa memiliki kak Anka, karena ia cuek dengan para cewe. Jadi, aku hanya bisa berkhayal tentang menjadi pacarnya. Dan karena dia juga aku punya prinsip 'gak mau pacaran kalau bukan sama kak Anka' beruntungnya kak Anka gak mau pacaran, jadi mahkota jombloku pun aman, hehe.
Oh iya, hari Rabu ini ada jadwal bazar. Dan kali ini adalah giliran kelas 9A dan 9D. Sedikit malas mendengar kelas 9D, di sana ada seorang lelaki yang pernah dekat denganku tapi ia bukan lelaki baik-baik. Menyesal aku pernah kenal dan dekat dengannya, aku bertanya-tanya 'kenapa dulu aku bisa suka sama dia?' Namanya Den, playboy dengan muka pas-pasan.
Tapi sekarang, aku sudah beralih hati dari Den ke kak Anka. Cowo yang menurutku lebih baik daripada Den, membuatku susah untuk melupakannya.
Hari Senin ini, seluruh siswa penyelenggara bazar tengah sibuk melakukan promosi. Aku memang sedikit titisan buaya darat, jadi aku iseng nge-chat kak Anka yang nama kontaknya di hp ku adalah "bad boyyy". Padahal cuma sekedar mau nanya tentang poster kelompok bazarnya, itung-itung caper ke crush boleh lah ya.
"Kak, poster kelompoknya kak Anka mana?" tanyaku iseng.
"Belom jadi" replynya cool.
Agak malam dia ngechat aku, ternyata dia ngirim poster bazar milik kelompoknya.
"Jangan lupa mampir" tulisnya.
Aku jadi salting dan guling-guling, setelah itu baru balas chatnya.
"Syap kak" balasku.
"Yang buatannya kak Anka yang mana?" tanyaku bermaksud mau pesan makanan buatannya.
"Shrimp ama pisang ijo" jawabnya singkat, padat, dan jelas.
Setelah tau, aku buru-buru deh pesan makanan yang dia buat ke nomor telepon temannya yang tertera di poster.
*hari Rabu
Bazar dimulai dari jam istirahat, aku sama bestieku udah keliling lapangan sebelum jam istirahat, karena kebetulan kami jamkos. Sekalian lihat mas crush siap-siap jualan, kapan lagi bisa lihat dia jadi anak rajin.
So, pas bel istirahat bunyi aku langsung serbu bazar buat ambil pesanan. Memang aku lagi borong, perdana ini mah bazar kelasnya mas crush. Ditambah walas (wali kelas) mereka adalah guru yang paling dekat denganku. Jadi, borong aja makanannya, biar tambah seneng.
Pesanan terakhir di kiosnya mas crush. Aku ambil bareng bestieku, Hanesya. Hanesya itu orangnya pemalu banget, bahkan buat ambil pesanan dia malah nyuruh aku, untung aku ini berandalan yang rasa malunya cuma 0,001 persen.
Dengan rasa malu yang lebih tipis dari tisu, aku bisa dengan mudah ngambil pesanan di tempatnya mas crush meski dikode mulu sama temen-temennya. Ya, berita tentang aku ngecrushin kak Anka udah terbongkar dikit-dikit. Tapi aku mah bodoamat.
Ok, selesai dengan semua pesanan sekarang waktunya mukbang bareng teman. Gaskannn!!!
Pulang sekolah hari ini aku ada kerkom (kerja kelompok) dengan bestie ku yang lain, Tiara. Tugas membuat kerajinan berupa benda hias, akan kami kerjakan di rumahku. Disela-sela kesibukan kami dalam membuat kerajinan, aku masih sempat ngechat kak Anka cuma sekedar buat muji dia. Karena pisang ijo buatannya yang aku beli, rasanya enak.
"Kak" panggilku melalui chat.
"Iya" sahutnya.
Belum sempat ku buka, dia sudah ngechat lagi.
"Makasih sudah beli, maaf kalau ga enak" ucapnya yang membuatku dilanda kesaltingan.
"Masama. Enak kok kak pisang ijonya" sahutku untuk menyenangkannya.
chatingan kami pun berakhir. Aku dan Tiara juga sudah selesai membuat kerajinan tersebut, dan Tiara pun pulang.
*di sekolah
Seperti biasa, aku jalan-jalan ke ruang guru, sekedar menjalankan tugas sebagai ketua kelas. Lalu, aku sangkut di meja ibu Nalinka untuk sekedar bergosip tentang kak Anka alias kakak bad boy itu. Ya, ibu Nalinka tau kalau aku ngecrushin anak muridnya itu, makanya aku bisa mencari informasi sekaligus bergosip dengannya tentang kak Anka.
Aku cerita kalau kemarin aku beli pisang ijo di tempatnya kak Anka, dan di rumah aku chat kak Anka buat muji dia.
"Kemarin saya beli pisang ijo bu, terus di rumah saya chat dia. Dia bilang 'makasih udah beli, maaf kalau ga enak' saya kaget bu" kataku pada bu Linka.
"Dia bilang begitu?" tanya bu Linka dengan nada dan ekspresi kaget.
"Iya bu"
"Ohh, dia memang dari awal udah gak enak, nak. Soalnya pisang ijonya itu ketumpahan bumbu udang balado pas di jalan. Awalnya dia bilang ke ibu 'pisang ijonya buang aja bu, gak usah dijual' ibu bilang jangan, jual aja. Soalnya juga gak parah, kasian juga yang udah pesan"
"Ohh, pantas dia gak enak gitu. Kasiannya anak ibu" ucapku sambil tersenyum lucu dengan sikapnya kak Anka.
Ibu Nalinka tertawa kecil melihat sikapku. Perbincangan kami pun berlanjut, tapi kami tak lagi membahas tentang kak Anka, melainkan proyek ekskul yang aku ikuti, yaitu KIR (Karya Ilmiah Remaja). Setelah kehabisan topik, aku pun kembali ke ruang kelas untuk bermain dengan temanku yang lain.
Begitulah rutinitasku setiap hari. Berjalan mengelilingi sekolah, pergi ke ruang guru, bercerita dengan ibu Nalinka, lalu kembali ke ruang kelas untuk bermain dengan teman. Terkadang juga memerhatikan kak Anka yang kebetulan ruang kelasnya berada tepat di seberang ruang kelasku, hanya saja ruang kelasnya di bagian bawah dan ruang kelasku di bagian atas. Ruang kelas kami dibatasi oleh sebuah bukit tanah kecil.
*4 bulan kemudian
Ujian sekolah sudah berlalu, ulangan kenaikan kelas pun telah berakhir. Hari ini, 10 Juni 2023, digelar acara tahunan semua sekolah, yaitu upacara pelepasan siswa-siswi kelas 9. Aku berpartisipasi dalam acara ini sebagai MC berbahasa Inggris.
Niatku turut berpartisipasi adalah untuk membuat kesan pada kak Anka, walaupun sedih rasanya jika harus berpisah. Akankah aku bisa melihatnya lagi? Mungkinkah dia akan jalan-jalan ke sekolah ini lagi? Bagaimana pula caraku melupakannya, karena untuk bisa melihatnya lagi pun tak pasti. Beribu tanya, rasa sedih, bahagia, haru, dan lainnya bercampur dalam benakku. Ingin rasanya aku menangis, tapi aku tidak boleh menangis hanya karena seorang lelaki, bisa melayang capku sebagai cewe cool yang tak pernah menangisi lelaki.
Acara demi acara selesai, sesi fotopun tiba. Ingin rasanya jika bisa fotbar dengan kak Anka, tapi aku urungkan niat saat melihat ia fotbar bersama cewe yang pernah dekat dengannya. Bahkan seorang Anka pernah dekat dengan cewe, tapi tidak berpacaran. Sakit sekali melihat ini, baru ini pernah aku merasa arti cinta, dulu aku tak pernah peduli jika crushku dekat dengan cewe lain.
Alhasil kini aku memilih untuk menjauh dan fotbar dengan teman-temanku saja. Setelah itu, aku menghampiri ibu Nalinka. Mana ku tahu kalau bu Nalinka mengajak seluruh anggota KIR fotbar, jadi aku juga diajak oleh bu Nalinka.
Karena cowonya sedikit, jadi mereka mengambil posisi di samping bu Nalinka, sementara ciwi-ciwinya posisi duduk setengah matang di bagian depan. Aku kaget saat merasa kepalaku dipegang dengan beberapa jari, mungkin tiga jari, tapi aku tak berani menoleh. Hanya ku abaikan saja dan lanjut berpose.
Saat sudah pulang, aku minta hasil foto kepada bu Nalinka melalui chat WA.
"Ibu, minta foto-foto tadi dong bu" pintaku.
Tak lama, ada notifikasi di grup chat KIR. Buru-buru aku buka karena yang mengirim pesan adalah bu Nalinka.
"Ini foto-foto tadi ya" tulis bu Nalinka di bawah foto-foto yang ia kirimkan.
Sedikit tercengang saat aku melihat hasil foto, ternyata yang mengambil posisi di belakang ku adalah kak Anka, dan tangannya terekam saat memegang kepalaku. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengabari dua bestieku, Hanesya dan Tiara.
"Cieee, fotbar sama ayang" ledek Tiara padaku.
"Ekhm.. dipegang sama cowonya" Hanesya pun sama dengan Tiara.
Yah, memang terkadang kalau cerita kami buat seakan kak Anka adalah cowoku, supaya gak pada tau paling-paling mereka cuma kepo, siapa sih cowonya Cea, haha. Aku juga chat kak Anka sih, hehe.
"Kakaka tadi megang kepala saya?" tanyaku pura-pura tidak tahu.
"Iya, gak sengaja. Maaf ya" jawabnya santai.
Ya ampun, sengaja juga gak apa-apa, tapi itu kaya sengaja kak, ucapku dalam hati.
"Oh, ok kak" balasku yang hanya diread sama kak Anka.
By the way, ni kak Anka dah lulus aja ya. Sepi banget kalau pergi sekolah, mana para cogan di sekolah udah habis. "Kapan-kapan ke sini dong kak" doaku dalam hati hampir setiap hari saat aku sudah duduk di bangku kelas 9.
Seperti biasa, aku ke ruang guru dan sangkut di meja bu Nalinka. Kami bergosip tentang aku yang sudah gak bisa liat kak Anka di sekolah lagi. Dan gak lama ada alumni yang nyari bu Nalinka.
"Kak Anka?" ucapku dalam hati karena kaget bercampur senang. Ingin rasanya aku teriak saat melihat dia.
"Ehh, Anka, Alfi, sama Aksa" ucap bu Nalinka saat melihat tiga sekawan ini muncul di ruang guru yang sepi itu.
Sebelum tiga sekawan alumni 9A ini muncul, hanya ada aku dan ibu Nalinka di ruang guru. Sekarang kami jadi berlima di ruang guru, agak senang sih soalnya ada mas crush.
"Ngapain kalian kesini?" tanya bu Nalinka basa-basi.
"Jalan-jalan aja bu" sahut kak Anka.
"Anka mau ketemu cewe itu nah bu" ledek kak Alfi sambil menunjuk ke arahku.
"Kok aku dibawa-bawa?" ucapku kesal dalam hati.
"Mana ada, apa sih!" kak Anka kesal sama temannya.
Hanya aku sama kak Anka yang kesal, yang lain malah ketawa ngeledek kami berdua.
Setelah hari itu, kak Anka gak pernah datang ke sekolah lagi. Emm, pernah sih, cuma pas aku gak ada. Sampai aku lulus SMA aku gak pernah lagi liat kak Anka. Perlahan juga aku berhasil lupain kak Anka, tapi juga gak nyari cowo lain. Aku fokus dengan ambisiku yang mau kuliah di luar negeri.
Dan aku memang berhasil diterima kuliah di Universitas impian ku, Universitas Tsinghua, Beijing, China. Sedari lama aku berkhayal untuk masuk ke Universitas ini, akhirnya berhasik juga.
Oh ya, aku punya saudara sepupu tapi hubungan keluarganya jauh banget, aku lumayan dekat dengannya, namanya kak Rakha. Jadi, waktu aku berhasil masuk ke Universitas Tsinghua aku langsung cerita ke dia. Dia ikut senang atas pencapaianku, kak Rakha sendiri kuliah di Jawa ngikut jejak para kakaknya.
Nyaman banget tinggal di sini, di asrama kampus. Apalagi aku dapat teman-teman yang super baik dan ramah, kami berempat dalam satu kamar asrama. Mereka bertiga asli China, cuma aku yang Chindo di sini. Tapi aku senang, aku jadi bisa banyak belajar tentang China dari mereka bertiga. Aku mengambil jurusan IT (Institut Teknologi), sementara mereka ada yang mengambil jurusan bahasa asing, kedokteran, dan Ekonomi.
Empat tahun ku lalui di kampus ini bersama mereka yang sudah jadi sahabatku. Banyak kenangan ku buat, banyak juga cowo yang sudah ku tolak karena malas berpacaran. Gelar gadis tercantik jurusan IT pun tak lepas dari genggamanku.
Aku berhasil menjadi siswa yang pertama lulus. Wisuda duluan dan sebentar lagi akan pulang, lagi dan lagi, betapa bencinya aku dengan perpisahan. Tapi aku bisa apa, takdir hendak seperti ini. Aku hanya bisa berpamitan dan berdoa agar kapan-kapan aku bisa jalan ke sini lagi.
Senang rasanya bisa pulang ke rumah, aku sudah rindu masakan mama. Saat sampai aku langsung melepas rindu dengan keluarga, dan ikut mama masak. Puas rasanya bisa menikmati masakan mama lagi.
Baru kemarin pulang tapi aku tak ingin buang waktu, langsung aku pergi membawa surat lamaran kerja yang sudah aku siapkan sedari lama. Berhubung tempat aku tinggal sudah menjadi wilayah IKN, jauh lebih mudah untuk mencari perusahaan yang memerlukan pegawai baru.
Entah mengapa aku tertarik untuk melamar kerja di sebuah perusahaan bernama ASA. Aku masuk ke dalam gedung perusahaan tersebut, nuansa elegannya sangat terlihat, adem sekali rasanya. Selesai mengajukan lamaran dan wawancara aku dipersilahkan pulang dan diminta untuk menunggu kabar dari pihak perusahaan. Meski aku sudah punya bisnis sendiri, tapi aku tetap ingin bekerja untuk menambah modal masa tua nanti.
Dalam perjalanan pulang aku melihat seorang lelaki yang tidak asing, terlihat seperti...
"Kak Anka?" ucapku dalam hati.
"Mungkinkah itu kak Anka, mirip banget. Tapi... ahh, gak mungkin" aku berusaha meyakinkan diri.
Bertahun-tahun hidup tanpa kenangan bersama kak Anka, sudah berhasil melupakan, masa iya dia balik lagi.
"NO! Itu pasti bukan kak Anka" aku berusaha meyakinkan diriku sendiri.
Tiga hari aku santai di rumah, duduk di atas sofa sambil menikmati camilan, lalu ada E-mail yang masuk. Ternyata itu E-mail dari perusahaan ASA, buru-buru aku buka.
"Selamat nona Cea Syalavish, kini anda bagian dari ASA. Anda bisa mulai bekerja besok" isi E-mail dari perusahaan ASA yang selama ini ku nanti.
"Whoaaa... Aku diterima" girangky sembari memberi kabar pada orang tuaku.
Dengan semangat aku bersiap untuk pergi ke kantor, karena ini jari pertamaku bekerja. Aku mengendarai motorku sendiri.
Di kantor aku dipandu oleh seorang pegawai perempuan senior, dia memberitahuku apa yang harus aku lakukan dan kemana aku harus bertanya jika perlu bantuan. Aku bisa memahami semua penjelasannya dengan mudah, dan aku mulai menjalankan tugasku dengan senang hati. Satu tugasku selesai.
"Kak Mega.." panggilku pada salah satu pegawai senior di sini.
"Iya?" sahutnya ramah.
"Kemana aku harus minta tanda tangan ini?" tanyaku.
"Coba lihat" kak Mega langsung mengambil berkas di tanganku dan memeriksanya.
"Ohh, tanda tangan CEO. Kamu ke sana, terus naik lift itu ke lantai 5. Setelah itu kamu belok kiri, habis itu jalan lurus. Ruangan pak CEO ada di ujung, dan ada tulisannya juga" ucap kak Mega dengan sangat jelas.
"Oh, ok. Makasih kak" ucapku dengan ramah.
"Iya, sama-sama" sahut kak Mega dengan ramah pula.
Aku menyusuri kantor mencari ruangan pak CEO sekaligus direktur perusahaan ini.
"Ahh, ini dia.." ucapku saat melihat tulisan 'CEO' di depan pintu.
Tanpa pikir panjang aku ketuk saja pintu besar tersebut.
"Masuk!!!" terdengar suara lelaki dari dalam ruangan.
"Ceklek.." pintunya terbuka dan aku kaget bukan kepalang saat melihag lelaki yang duduk santai di dalam ruangan tersebut.
"Ya ampunn.. Lelaki yang hari itu, yang mirip kak Anka" batinku.
"Pak, saya ingin minta tanda tangan. Untuk surat ini" ucapku gugup.
Sang CEO hanya menatap dengan dingin, bahkan ia tak melirik ke arahku. Ia hanya mengulurkan tangannya, meminta berkas yang sedang aku pegang. Aku pun langsung memberikan berkas tersebut tanpa banyak tanya. Lalu, aku melihat ke papan nama di atas meja bertuliskan 'Mr. ANKA SYAH AULETTA, S.E, S.Kom'
"Kak Anka!!" ucapku nyaring karena kaget, membuatnya langsung menoleh ke arahku.
"Cea!" ucapnya lembut. "Lama tidak bertemu. Duduklah dulu, kita berbincang sebentar" perkataannya membuatku jadi semakin gugup.
"Gak kak, saya mau lanjut kerja aja. Ini hari pertama, saya takut dipecat" aku semakin gugup.
Kak Anka tertawa kecil "Aku direkturnya, kalau kau tidak mau duduk maka akan aku pecat" nada ucapannya sangat santai, seakan kami adalah teman dekat.
"Hupt.. Aku sampai lupa kalau dia pemilik perusahaan" batinku yang begitu gugup.
Tanpa basa-basi lagi aku langsung duduk, kapan lagi bida merasakan hal ini dari kak Anka.
"Kamu kuliah dimana? Proposal bagus banget, hasil wawancaramu juga ngalahin karyawan lain" puji kak Anka.
"Ya ampun, kapan lagi sih bisa dipuji sama kak Anka" batinku begitu menggelora.
"Saya kuliah di Universitas Tsinghua, di Beijing, China" jawabku masih agak gugup.
"Santai aja, gak usah gugup. Anggap aja ini reuni kakel adkel" kak Anka berusaha membuatku merasa lebih nyaman.
Aku berusaha menenangkan diri dan kembali ke diriku yang sebenarnya.
"Ok, sudah lebih santai" ucapku yang sudah tidak gugup, berusaha untuk tidak gugup sebenarnya.
"Begitu lebih baik" kata kak Anka.
"Sejak kapan dia jadi friendly begini?" bingungku yang lupa dengan sikap dinginnya tadi.
"Kamu kuliah di China pakai beasiswa?" tanyanya lagi.
"Iya kak" jawabku ramah, padahal dulu kalau ketemu kak Anka aku selalu sok cuek.
"Ok, sudah. Kamu boleh kembali bekerja" kak Anka memnerikan berkas tadi yang sudah ia tanda tangani.
"Terima kasih, kak" ucapku yang langsung pergi dari ruangan kak Anka.
Aku duduk di kursiku, berusaha menenangkan diri. Apakah mungkin cinta lama bersemi kembali?
"Ya ampun, kak Anka beda bangettt. Dulu dia kurus, hehe. Sekarang badannya keren banget, tambah ganteng" aku salting lagi.
Tapi saltingnya gak lama-lama, aku langsung balik kerja lagi. Setelah selesai aku langsung pulang, bersih-bersih, makan, terus ke kamar buat istirahat.
"Tring.. Tringg.." ada pesan masuk di ponselku.
"Bad boyyy?" aku kaget saat lihat dia ngechat.
"Save, Anka" tulisnya.
"Ok, kak" balasku.
chatingan kami berakhir, dan aku kembali bertemu dengan kak Anka di kantor. Kali ini kami datang berasamaan.
"Cea?!" sapa kak Anka.
"Kak" sahutku sembari mengangguk.
"Kita masuk barengan aja. Tidak ada penolakan" dia membuatku mati ucap.
Alhasil aku ikut masuk bersama dengannya. Senang, gugup, malu, dan takut. Kami jadi sorotan hari ini, semua rekan bertanya ada hubungan apa aku dan kak Anka. Ku jawab tidak ada, kami hanya sampai bersamaan dan masuk bersamaan.
Hari-hariku di kantor berlalu begitu cepat dan menyenangkan. Sampai tak terasa kalau aku sudah satu bulan bekerja di sini.
Siang ini kak Anka ada meeting dengan client, aku sedikit membantu proses persiapan meeting tersebut.
"Cea!" panggil kak Anka.
"Ada apa kak?" tanyaku.
"Mega kecelakaan, tanpa Mega meeting tak bisa terlaksana" ucapnya bingung harus berbuat apa.
"Kak Mega kecelakaan?!" tanyaku kaget, kak Anka mengangguk.
"Kak Mega bagian apa dalam meeting ini?" tanyaku ingin mencari solusi.
"Presentasi. Waktu kita hanya 30 menit, aku tidak tau harus apa"
"Aku bisa gantikan kak Mega, beri aku materinya, akan ku pelajari" ucapku memberi solusi.
Kami langsung bergegas, dan meeting pun berjalan dengan lancar. Selesai meeting kak Anka mengajakku pergi untuk menjenguk kak Mega. Tanpa basa-basi aku pun menerima ajakan kak Anka.
"Kak Mega kok bisa kecelakaan?" tanyaku khawatir pada kak Mega. "Dimana yang sakit kak?"
"Udah, aku gak apa-apa" kata kak Mega supaya aku tenang. "Terima kasih pak, sudah mau jengukin saya. Maaf, saya gak bisa hadir di meeting penting ini. Saya gak enak sama bapak" kata kak Mega ke kak Anka.
"Udah, gak apa-apa, yang penting kamu sehat dulu, kalau udah sehat baru kerja lagi dan ikut meeting lagi" kata kak Anka. "Lagi pula, soal meeting hari ini sudah diatasi sama Cea" sambungnya.
"Wah.. Makasih ya Cea, kapan-kapan aku traktir kamu makan deh, sebagai ucapan terima kasih" janji kak Mega.
"Haha, betul ya" candaku yang dibalas anggukan oleh kak Mega.
"Sudah sore, ayo kita pulang Ce" ajak kak Anka.
Aku mengangguk. "Kami pulang dulu ya, kak" aku pamit pada kak Mega.
*di mobil
"Kita makan dulu ya, kamu gak bawa motor jugakan tadi?" tanya kak Anka.
"Emh, gak kak" sahutku santai.
"Ok, kalau gitu kita makan dulu"
"Iya kak" aku gak nolak ajakan kak Anka karena kebetulan aku juga lagi lapar.
*di restoran
"Makasih ya udah mau gantiin Mega buat dampingin aku meeting tadi" kata kak Anka yang membuatku salting.
"Dengan senang hati kak" sahutku sambil nahan salting.
"Tapi, kenapa kamu mau ikut meeting tadi?" tanya kak Anka yang membuat membuatku bingung ada apa dengannya.
"Karena saya suka presentasi" jawabku enteng.
"Kirain karena suka aku" perkataan kak Anka membuatku hampir tersedak. Dan hanya ku balas dengan senyuman.
"Boleh aku nanya lagi?" aku hanya mengangguk untuk menanggapi kak Anka.
"Kan tadi kamu udah mau dampingin aku meeting, kalau dampingin aku di dunia nyata mau gak?" ucap kak Anka yang membuatku kaget dan diam seribu bahasa.
"Kakak jangan bercanda!" sahutku sambil tertawa kecil.
"Aku gak bercanda!" lalu, kak Anka menarik salah satu tanganku.
"Dengerin ya, ini aku jujur! Aku udah balas perasaan kamu dari lama. Waktu perpisahan sekolah aku sengaja megang kepalamu, seneng aja gitu bisa gangguin kamu. Jujur, waktu aku fotbar sama Shia aku risih, dan gak enak liat mukamu cemberut. Setelah perpisahan itu aku ngilang, aku pernah dengar dari temanmu kalau kamu udah gak berharap, kamu cuma mau lihat aku sukses aja lagi. Selama ini juga aku lupa sama kamu, aku fokus buat mencapai mimpiku, saat aku sudah sukses gini aku ketemu sama akun instagrammu. Aku lihat foto-fotomu, aku jadi ingat lagi sama kamu. Sekarang aku mau kita bersama ya" kak Anka bercerita dengan jelas.
Aku menghela nafas kasar, bingung harus apa.
"Kamu maukan jadi pacar aku, Ce?"
Seneng banget denger ini dari kak Anka. Aku sampai bingung harus jawab apa.
"Ce?" kak Anka masih menanti jawabanku.
"Maaf banget kak, tapi..." wajah kak Anka mulai sedih.
"Aku gak bisa" wajah kak Anka makin sedih. "Gak bisa nolak maksudnya, kak" jawaban lengkapku langsung bikin wajah kak Anka berseri-seri.
"Beneran?" tanya kak Anka tak percaya yang ku balas dengan anggukan kepala.
"Makasih yaa!!" kak Anka senang banget.
"Mana ada orang berterima kasih karena diterima cintanya" ledekku.
"Ada.. Aku!" kami tertawa bersama.
Dua bulan aku menjalani hubungan dengan kak Anka, sekarang aku udah gak manggil kak, gak dibolehin sama kak Anka, ehh Anka.
"Siang ini kamu kemana?" tanya Anka melalui chat di pagi hari.
"Gak kemana-mana" kataku.
"Aku jemput jam 11, kita jalan ya" ucap kak Anka yang gak bisa ditolak.
Jam 11 aku dijemput, kami jalan ke taman dan tempat yang disukai sama Anka. Aku mau es krim jadi kami membelinya lalu duduk santai sambil menikmati es krim tersebut.
"Jadi, ASA itu Anka Syah Auletta?" tanyaku tiba-tiba.
"Bukan, ASA itu Anka Syalavish Auletta" jawabannya membuatku kaget.
"Kok ada namaku? Kalau semisal kamu gak sama aku, gimana?"
"Anakku akan ku beri nama Syalavish supaya aku punya alasan untuk dunia"
"Kau ini, ada-ada saja"
"Ce, mulai besokkan kantor sudah libur. Kalau kamu gak sibuk kita ketemu sama keluargaku, gimana?.. Besoknya lagi kita ketemu sama keluargamu" ajak kak Anka.
"Kamu sudah mau serius?" tanyaku serius.
Kak Anka langsung menarik kedua tanganku.
"Cea Syalavish.. Aku serius bertanya kali ini, bersediakah kamu kalau aku ingin menjadikan mu sebagai Nyonya Anka Auletta?" tanya Anka dengan ekspresi serius.
Masih sama, aku menghela nafas untuk menenangkan diri. "Aku juga tidak bermain.. Anka Syah Auletta, aku bersedia menjadi pendamping hidupmu" jawabku dengan berani.
Hari ini kami akan pergi menemui keluarga Auletta. Anka punya seorang kakak laki-laki dan seorang adik perempuan. Kakaknya Anka sudah menikah, sekarang giliran Anka lagi.
"Ma.. Pa.. Kenalin ini Cea, pacarku" Anka mengenalkan aku pada kedua orang tuanya.
"Cea, ini mama papa aku. Dan ini adeku, Keyla Auletta" ucap Anka padaku.
"Hai kak!" sapa Keyla padaku.
"Hai juga!" balasku pada Keyla tanpa rasa canggung sedikitpun.
Kami semua duduk bersama di ruang keluarga, berbincang dikit-dikit. Dan aku berhasil mengambil hati keluarga Anka. Setengah jam kami berkumpul, kakaknya Anka dan istrinya datang dan bergabung dengan kami.
"Ce, kenalin ini kak Aiden dan istrinya, kak Audrey Kiran. Kalau ini keponakanku tercinta, namanya Aileen Kiran Auletta, panggilannya Aileen" Anka mengenalkan keluarga kakaknya.
"Ni hao Ai" sapaku dengan bahasa China. "Artinya, halo cinta. Ai itu artinya cinta" jelasku pada mereka semua.
"Ooohhhh.." sahut mereka semua serempak.
"Oiya, kak, ini Cea. Calon adik iparmu" Anka begitu bangga.
"Seleramu tinggi sekali" puji kak Aiden pada Anka.
"Kapan kalian akan melangsungkan resepsi pernikahan?" tanya kak Audrey.
"Baru juga kenalan, masa iya langsung pelaminan" Anka menanggapi kak Audrey dengan santai.
"Secepatnya.. Papa sama mama pengen gendong cucu lagi" desak sang papa.
"Siap paa!!" sahut Anka bersemangat, sementara aku hanya tersenyum malu.
Selesai meeting dengan keluarga Auletta, Anka mengantar aku pulang. Dan besok, giliran Anka yang berkenalan dengan keluargaku. Kebetulan kakak dan 2 adikku ada di rumah, bahkan omaku (nenek dari mama) juga ada. Ia sedang berlibur.
Anka terlihat santai saat akan bertemu dengan keluargaku, seperti tidak punya beban apapun. Aku sedikit deg-degan menghadapi situasi ini, tapi semuanya pasti bisa teratasi.
"Semuanya.. Kenalin, ini Anka. Anka, ini papa aku, mama, oma, kak Mira, Zoya, Syavia" aku mengenalkan mereka sekaligus.
Anka mengangguk ramah sembari tersenyum. Lalu, mereka bercerita santai. Hingga akhirnya, Anka mengatakan maksud kedatangannya.
"Saya kesini ingin meminta sesuatu yang berharga bagi keluarga ini. Saya ingin meminta Cea dari kalian, karena saya ingin menjadikan Cea sebagai ratu dalam rumah tangga saya" ucapnya.
"Kamu serius dengan ucapanmu?" tanya papa aku.
"Serius om!" sahut Anka tanpa ragu.
"Kalau kamu serius ambil aja dia, gak usah dikembalikan" papa aku memang terkadang begini.
Kami semua tertawa mendengar apa yang papa katakan.
"Tapi pesanku satu... Jangan sakiti dia!!!" ucap papa lagi.
"Baik om, saya akan jaga Cea" sahut Anka.
"Emh, btw.. Ni ada yang belom dikenalkan ya.." ucapku lalu tertawa.
"Kenalin ini kak Zayan, suaminya kak Mira. Kalau ini keponakanku yang paling imut, Mizaaa!!!" aku bersemangat sekali mengenalkan Miza.
"Kalau udah, kalian tentukan aja kapan tanggal pernikahannya" ucap papa yang gak mau repot.
Pertemuan dengan keluarga masing-masing sudah selesai, hantar jujuran sekaligus tunangan sudah terlaksana dengan lancar. Adik-adikku juga sudah sebar undangan, aku dan Anka juga ikut sebar undangan. Tapi, cuma ke tempat kami sekolah dulu, kami mau undang guru-guru kami secara langsung.
SMP negeri Sartika, tempat kami saling mengenal. Kami antar undangan sekaligus mengenang masa-masa indah penuh kesenangan.
"Ibuuu...!!!" panggilku girang dan langsung memeluk ibu Nalinka.
"Ceaaa!!!" ibu Nalinka membalas pelukanku dengan penuh kehangatan.
"Sudah besar aja, nak. Sudah lebih tinggi dari pada ibu ya" ucap bu Nalinka sembari tertawa.
"Ibu..!" sapa Anka yang langsung mencium tangan bu Nalinka.
"Ankaaa, sudah pada besar semua anak ibu. Dulu masih kecil waktu sekolah di sini" bu Nalinka mengenang masa-masa kami masih bersekolah dulu.
"Ehh, ibu baru sadar. Kalian berdua aja?" tanya bu Nalinka.
"Iya bu" sahut kami.
"Eee.. Eee.. Ada apa ini? Kok kalian berdua aja?" bu Nalinka belum tau kalau kami punya hubungan.
"Kami kesini mau ngantar ini bu" ucapku sembari memberikan selembar kertas indah bertuliskan namaku dan Anka.
"Undangan? Kalian mau nikah? Ehh.. Duduk dulu kita cerita" ajak bu Nalinka karena kebetulan kami sedang berada di kantin sekolah.
"Jadi, setelah acara perpisahan angkatan anak kelas ibu dulu saya sempat gamon, tapi habis itu saya lupa sama Anka. Dan ternyata, dia juga gitu bu" ucapku sambil tertawa, bahkan bu Nalinka juga ikut tertawa.
"Setelah itu saya lupa sama Anka, fia juga lupa sama saya. Kami fokus dengan masa depan masing-masing, dan setelah lulus kuliah kami ketemu lagi di kantor tempat saya kerja. ASA company ibu, ternyata dia yang punya. Saya kerja di situ, terus dekat lagi sama Anka sampai sekarang kami mau nikah" sambungku jelas.
Bu Nalinka mulai berkaca-kaca, terharu dengan pencapaian anak-anaknya. Bahagia seorang guru, seperti bahagia orang tua.
"Hebat kalian, bisa melupakan satu sama lain dan fokus dengan masa depan. Terus pas udah sukses baru punya hubungan. Dulu, ibu ingat Cea suka sama Anka, sering cerita sama ibu" ucap ibu Nalinka dengan mata dan pipi yang sudah basah.
"Ibu tau kalau Cea suka sama saya?" tanya Anka kaget.
"Lebih tau daripada teman-teman dan orang tuaku" sahutku menyombongkan ibu Nalinka.
"Ibu jangan lupa datang ke acara pernikahan kami ya bu" ucapku mengingatkan ibu Nalinka.
"Iya, nak. Kalau gak ada halangan ibu datang" sahut bu Nalinka. "Semoga samawa ya anak-anak ibu"
"Aamiin" sahutku bersamaan dengan Anka.
Selesai membagikan undangan kami pun pulang dan lanjut mempersiapkan diri untuk menghadapi prosesi perkawinan. Selama beberapa hari kami tidak boleh jalan-jalan, demi menghindari hal buruk menjelang pernikahan.
*prosesi pernikahan
Tanggal 28 Januari kami melangsungkan pernikahan, dan resepsinya digelar hanya sampai sore hari. Malam harinya aku pasang status WA dengan foto-foto pernikahanku, tak lama kemudian aku mendapat pesan chat.
"Kok aku gak diundang?" ucapnya dalam pesan chat.
"Kak Yoga?" ucapku dalam batin.
Aku malas ladenin dia, meski dia adalah kakak laki-lakiku tapi ada sedikit hal tentang dia yang membuatku malas, lagipula kami berbeda ibu. Jadi aku juga lupa untuk mengundangnya, selain itu, aku tak peduli dengannya. Ada beberapa hal yang membuatku malas untuk mengingatnya, jadi hubungan ku dengan dia tak sebaik dengan saudara yang lain.
Chatnya tak ingin ku buka, lebih baik aku menikmati suasana baru karena aku sudah menikah. First night? Skip!!!
"Good morning baby!" ucap Anka yang baru bangun tidur dengan begitu manja.
"Morning!" sahutku agak dingin karena aku sibuk mengurus bisnis di hpku.
Anka langsung merampas hpku dan membuangnya jauh dariku.
"Aku kan lagi ngurusin hal penting!" kesalku padanya.
"Aku juga penting" celetuk Anka dengan nada ngambek.
Aku langsung mengambil tindakan antisipasi, mengelus manja rambutnya. Lalu, dia letakkan kepalanya di pahaku.
"Aku kurang penting ya buat kamu?" tanyanya dengan ekspresi sedih.
"Iya!" tiba-tiba terlintas pikiranku untuk mengerjai Anka.
Anka pun langsung duduk, dan hendak pergi. Aku malah tertawa, bukannya membujuk dia.
"Kok malah ketawa?" kesal Anka.
"Kamu lucu, kaya anak-anak" sahutku masih sambil tertawa.
"Ceee!!" dia makin kesal.
"Ulululu, my baby, honey, bunny, sweety, lovely.. HAHAHA" aku masih saja tertawa.
Anka ingin pergi karena kesal. Tapi aku langsung mencegahnya.
"YANG!!" panggilku sembari berusaha menarik tangan kekarnya.
Dan Anka malah mendorongku, menempatkan di atas kasur dalam posisi terbaring dan dia menindihku. Terlihat begitu jelas ekspresi kesalnya.
"Aku lagi..." ucapan Anka terpotong.
Sebelum ia sempat menyelesaikan perkataannya aku terlebih dahulu menciumnya, dan dia memilih untuk membalas ciumanku.
"Aku hanya bercanda" ucapku saat ciuman tadi terlepas.
"Lagi!!!" pinta Anka.
"Apanya?" tanyaku berpura-pura polos. Tapi bukannya dijawab, Anka malah kembali menciumku.
Kami larut dengan buaian pagi yang indah. Lalu kami pergi mandi, dan Anka bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Sementara aku sudah resign dari kantornya Anka, aku memilih untuk menjalani bisnisku saja. Hidupku sudah ada yang biayai, jadi keuntungan dari bisnisku bisa ku jadikan modal lagi, hehe.
*di meja makan
"Nah.." Anka memberikan sebuah kartu.
"Apa ini?" tanyaku berpura-pura bodoh.
"Kartu kredit.. Istriku tidak boleh kehabisan uang" bisiknya, membuatku tersenyum.
"Kita mau honeymoon kemana?" tanya Anka.
"Switzerland!!!" sahutku begitu bersemangat.
"Akan ku urus" aku tercengang, tidak ada pembantahan, tanpa penolakan, langsung siap-siap.
"Ok" jawabku datar dan masih kaget.
Selesai makan Anka langsung berangkat ke kantor, tapi sebelum itu...
"Muachhh.." layaknya seorang suami yang sangat sayang pada istrinya, sebelum berangkat kerjapun ia mencium kening sang istri.
*1 minggu kemudian
Kami pergi honeymoon ke Switzerland, aku sangat menikmati negara ini. Tempat yang indah, yang aku dambakan sedari lama. Akhirnya aku bisa kesini juga, tips bisa jalan-jalan adalah miliki suami hang tajirnya gak kepikir. Thank you so much my hubby...
Terkadang aku dan Anka pergi berlibur ke China, kami mengunjungi teman-temanku di sana. Dan baiknya kami tak perlu sewa penginapan, karena aku diam-diam membeli sebuah apartemen mewah kelas dewa di China. Yang pasti dengan uangku sendiri.
*2 tahun 7 bulan
Sudah cukup lama menikah, akhirnya yang kami nanti tiba juga. Bayi kembar kami telah lahir, yang laki-laki diberi nama Aksan Syahlavish Auletta. Dan yang perempuan diberi nama Cyesa Syahlavish Auletta. Demikian keluarga kami telah lengkap.
***TAMAT***