Judul: Paman dan Harapan
Hari ini langit tampak begitu cerah. Seakan mengerti tentang perasaan hatiku sekarang. Benar sekali, hari ini Aku sangat bahagia. Kalian tahu kenapa? Tentu saja, karena hari ini Aku dan Ibu akan mengunjungi rumah Paman yang ada di kota Alifator. Kota Alifator terletak di Pulau Oscar yang berada di utara Pulau Leviatan, sebuah Pulau yang aku tinggali sekarang.
Oleh karena itu, Aku dan Ibu akan menaiki kapal Pesiar untuk pergi ke Pulau Oscar. Aku tidak sabar untuk itu.
Ah, Aku belum memperkenalkan diriku ya? Baik! Baik! Perkenalkan namaku Clarissa Amore, orang-orang biasa memanggilku dengan panggilan Rissa. Meskipun Aku ingin dipanggil Amore, karena menurutku itu keren. Namun, Ibuku bilang itu terlalu bagus untuk sebuah nama panggilan. Pada akhirnya Aku terbiasa dengan panggilan Rissa.
Kalian tahu berkunjung ke rumah Paman adalah hal yang sangat menyenangkan. Pamanku itu mendapat julukan sebagai 'penggila benda fantasi'. Di rumahnya Paman mempunyai sebuah perpustakaan besar yang sebagian besar buku yang mengisi rak-rak perpustakaan milik paman itu adalah novel bergenre fantasi dan novel-novel itu dibuat oleh Paman sendiri.
Inilah yang membuatku bersemangat untuk ke rumah Paman karena aku bisa membaca beranekaragam novel fantasi karangan Paman. Novel fantasi karangan milik Paman itu memiliki plot yang fantastis. Setiap membaca novel buatan Paman Aku selalu memasang wajah terkejut dengan plot twist yang disajikan.
"Rissa, ayo cepat bersiap kita akan segera ke Pelabuhan!" teriak Ibu dengan keras. Huh, suara Ibu memang keras sampai tembok rumahku ikut bergoyang.
"Iya, Ibu!" jawabku tak kalah keras dengan teriakan Ibu. Aku pun segera bersiap-siap dan langsung menuruni tangga menuju lantai satu untuk menemui Ibu yang sudah bersiap.
Kemudian, kami segera pergi ke pelabuhan Atalan. Pelabuhan Atalan merupakan Pelabuhan terbesar pulau Leviatan. Pelabuhan ini juga mendapat julukan sebagai 'pelabuhan tersibuk' di Pulau Leviatan. Sesampainya di Pelabuhan, Aku dan Ibu segera menuju ke kapal Pesiar yang siap untuk mengangkut penumpang dan berangkat menuju pulau Oscar.
Pelabuhan Sinister. Pelabuhan ini juga merupakan pelabuhan terbesar Pulau Oscar. Dan disinilah aku sedang berdiri dengan tatapan kagum melihat orang-orang berlalu lalang dan juga takjub dengan bangunan mewah yang ada di depanku. Bangunan mewah ini adalah rumah milik Paman.
Pamanku itu salah satu orang terkaya, bahkan untuk membeli satu dunia pun tidak akan habis. Apalagi, jika hanya diperintah untuk membeli lima buah Pulau, tentu saja tidak akan menghabiskan harta segunung miliknya. Aku bersyukur punya Paman yang kaya.
Aku melangkahkan kakiku ke dalam rumah Paman. Aku langsung disambut dengan patung burung Phoenix yang terlihat seperti mengepakkan sayapnya. Aku terpana melihatnya.
"Cantiknya," gumamku sembari menatap patung burung Phoenix di hadapanku. Kilauan binar-binar menghiasi mataku.
Saat Ibu memanggilku untuk segera ke lantai tiga dimana Paman berada. Aku langsung tersadar dan segera berlari memasuki rumah Paman lebih dalam lagi. Untuk menuju ruang tengah Aku harus melewati banyak ruang-ruang lain. Lagi-lagi aku terkagum-kagum dengan furnitur yang ada di rumah Paman. Yang membuatku terkejut senang adalah saat Aku melewati lantai dua milik Paman.
Di lantai dua ini Paman membuat sebuah museum untuk benda-benda fantasinya. Memang, Paman adalah penggila benda fantasi sejati.
Setelah memakan waktu beberapa menit aku sampai di lantai tiga, disana Paman masih belum terlihat barang hidungnya. Karena Paman masih belum terlihat, Aku pun berpamitan pada Ibu untuk pergi ke Perpustakaan dulu.
"Ibu, Aku pergi ke perpustakaan dulu Ya?" izinku pada Ibu. Ibu menatapku, kemudian dia mengangguk membalas ucapanku.
Aku pun segera berlari dengan antusias menuju perpustakaan milik Paman. Memakan waktu lima menit untuk sampai di Perpustakaan besar milik Paman. Tanpa basa-basi aku segera menelusuri setiap bagian rak buku dari yang paling depan sampai paling belakang. Saat Aku sedang fokus mencari buku menarik yang ingin Aku baca.
Aku merasakan hawa keberadaan orang lain di Perpustakaan ini, tapi Aku menghiraukan itu. Aku tersentak kaget saat ada sebuah tangan menepuk pundakku, dengan ketakutan Aku membalikkan badanku dan kemudian menghela napas lega.
Karena ternyata yang menepuk pundakku adalah orang yang selama ini Aku ceritakan pada kalian, Paman.
"Paman! Mengagetkanku, tahu!" kesalku pada Paman sembari memukul tangannya keras, tapi Paman malah tertawa.
"Lucunya ponakan Paman. Sedang cari apa Kamu?" tanya Paman sambil mencubit pipi gembulku pelan, kebiasaan Paman saat bertemu denganku. Dia pasti mencubit pipiku.
"Aku sedang mencari novel yang bagus, Paman," jawabku dengan nada sedikit kesal. Karena cubitan Paman meninggalkan sedikit bekas kemerahan. Paman tertawa kembali, kemudian dia meraih salah satu buku di rak buku barisan ke tiga.
"Paman rekomendasikan novel ini. Novel ini sangat bagus. Paman jamin itu," Aku pun melihat novel yang direkomendasikan oleh Paman, kemudian Aku membaca judul novel itu 'Alasan Lena terjebak di Negeri Dongeng' judul novel itu menarik. Tanpa ragu aku pun menerima novel itu.
"Beneran bagus kan, Paman?" tanyaku dengan ragu pada Paman. kemudian Paman menjawab dengan lantang jika novel ini memang novel yang sangat bagus untuk dibaca. Aku pun mengangguk. Aku melangkahkan kakiku menuju tempat untuk membaca yang ada di Perpustakaan. Begitu duduk di kursi, Aku langsung membuka novel ini dan membacanya.
Selama dua jam Aku membaca novel yang direkomendasikan oleh paman. Aku tidak ada hentinya membatin bila novel ini memang bagus dan menarik untuk dibaca.
Waktu pun berlalu dengan cepat, terdengar suara Ibu yang memanggilku untuk segera bersiap pulang. Aku sampai tidak sadar jika hari sudah mulai sore. Karena novel yang aku baca sangat bagus dan juga membuatku sedikit emosi, membuatku memusatkan fokusku pada novel ini. Aku pun berdiri dan melangkah keluar Perpustakaan untuk menemui Ibu dan segera bersiap pulang.
Sebelum itu, Aku berpamitan dengan paman.
"Paman, novelnya sangat bagus. Untukku boleh tidak?" Aku bertanya kepada paman dengan nada memohon. Paman hanya mengangguk dan tersenyum. Aku balas senyum Paman dengan memeluknya dan mengucapkan kalimat sayang padanya.
"Aku sayang Paman banyak-banyak. Sampai jumpa minggu depan, Paman."
Lagi-lagi Paman hanya tersenyum menanggapinya. Namun, mengapa senyum Paman kali ini terlihat janggal di mataku.
Seperti senyum yang diberikan seseorang untuk mengucapkan selamat tinggal. Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Aku pun membalas senyum Paman dan kemudian aku keluar dari rumah Paman mengikuti Ibu di belakangnya.
Sesampainya di Pelabuhan Sinister, entah mengapa tanpa sadar Aku meneteskan air mataku, merasa sedih karena meninggalkan Paman. Padahal, setiap minggu Aku rutin mengunjungi rumah Paman, tapi mengapa hari ini Aku merasa lebih emosional? Seperti ini adalah pertemuan terakhirku dengan Paman.
Sesaat setelah kapal pesiar melaju, ledakan keras terdengar dari arah rumah Paman.
Jantungku seolah berhenti berdetak, kedua mataku bergetar. Novel yang ada di pelukanku jatuh ke permukaan lantai kapal. Pikiran buruk terlintas di Otakku.
"I-Ibu itu tidak mungkin, kan?" tanyaku dengan cemas pada Ibu. Ibu hanya diam tanpa berkutik.
Setelah bunyi ledakan besar itu, terdengar berita dari TV yang ada di dalam Kapal Pesiar.
Menyatakan bahwa ledakan besar itu menghancurkan sebagian bangunan mewah di dekat Pelabuhan Sinister. Air mataku mengalir dengan deras saat melihat bangunan mewah itu adalah bangunan milik Paman.
Reporter itu bilang bahwa pemilik bangunan mewah itu dinyatakan hilang dan hanya menyisakan abu hitam yang diduga adalah abu jasad pemilik bangunan mewah itu.
"Ibu, Paman ... Paman sudah ... Hiks," Aku tidak dapat melanjutkan kata-kataku. Yang bisa Aku lakukan hanya menangis keras di pelukan Ibu. Aku berharap itu hanya halusinasi ku saja. Aku sangat mengharapkan itu, tapi realitanya itu adalah sebuah kenyataan. Bukan mimpi maupun halusinasi.
Kenyataan paling menyeramkan yang sampai saat ini sangat tidak ingin Aku alami. Padahal, Aku masih belum menghabiskan lebih banyak waktu bersama dengan Paman dan melihat senyum Paman lebih banyak lagi.
Tapi, kenapa Tuhan mengambil Paman secepat ini? Sejenak aku terdiam dan berpikir bahwa Tuhan tidak adil padaku, tapi Aku rasa Tuhan punya rencana lain dengan mengambil Paman.
Aku rasa Tuhan sangat menyayangi Paman. Oleh karena itu, Tuhan mengambil Paman dariku. Tuhan mungkin cemburu karena Paman lebih dekat denganku.
"Tapi, Aku masih berharap jika Paman masih hidup. Meskipun, berada di dimensi yang berbeda atau mungkin Paman terjebak di dalam Negeri Dongeng. Seperti kisah Lena dalam novel yang baru Aku baca."
-TAMAT-