Pasti banyak orang yang ingin memperbaiki kesalahannya. Semua kesalahan itu terjadi pada masa lalu. Kita adalah manusia, dan semuanya pasti memiliki kesalahan. Kita bukanlah makhluk yang sempurna. Kemarahan, sedih, senang, kecewa silih berganti sepanjang waktu.
Semua emosi yang berkecamuk di dalam diri kita, yang membentuk jati diri kita seperti apa. Seperti halnya diriku, seorang anak sibuk bekerja hingga melupakan satu hal yang penting dalam kehidupan. Sesuatu hal yang yang membuat kita bahagia. Sesuatu itu yang tidak pernah menghianati kita dan meninggalkan kita. Semua itu adalah keluarga.
Mungkin sebagian dari kalian beruntung dengan keadaan keluarga kalian yang masih utuh. Mungkin sebagian dari kalian lagi hanya tinggal bersama ibu atau Ayah kalian. Dan mungkin lagi kalian hidup sebatang kara.
Sebut namaku Andi, pemuda yang hidup sebatangkara tanpa adanya keluarga yang membantuku semenjak kecil. Paman dan bibi hanya memberikan ku uang untuk sekolah dan kehidupanku sehari-hari. Aku tinggal terpisah dengan paman dan bibiku. Aku tinggal di rumah peninggalan kedua orang tuaku. Bisa dibilang rumah yang besar dengan 2 kamar tidur, 1 ruang tamu, dan 1 kamar mandi.
Aku masih beruntung bisa makan dan tinggal di tempat yang layak. Tapi bagiku tinggal di tempat yang luas ini sendirian dan sangat lah menyakitkan hati. Aku hanya bisa membayangkan bagaimana kehidupan kedua orang tuaku, dulu saat masih hidup.
Mereka pasti sering bercengkrama di ruang tamu. Tertawa di dalam rumah ini dan saling berbagi cerita bahagia. Aku hanya bisa membayangkan betapa bahagianya diriku, jika kedua orang tuaku memperhatikanku. Memberikanku kejutan di hari ulang tahunku. Ada ibu yang selalu memperhatikanku dan juga ibu yang selalu ada ketika saat ku memerlukan dekapan kasih sayang.
jika Ayahku masih ada, terdapat sosok yang melindungi. Membimbingku untuk menjadi seorang yang lebih berani dan tegar. Mengajarkanku untuk menjadi seorang lelaki yang baik dan bertanggung jawab.
Hatiku hanya terus diisi oleh Kehampaan dan rasa sakit hati. Setiap tahun saat menerima raport sekolah. Kulihat banyak orang tua murid yang hadir untuk mengambil raport anak-anak mereka. Ada yang menunjukkan wajah antusias, bahagia, sedih dan marah. Sedangkan diriku hanya terpaku di pojok ruang. Melihat kasih sayang orang tua kepada anak mereka.
Di pojok ruangan kelas, aku hanya bisa tersenyum kaku saat orang-orang memanggil namaku dan menghiburku. Ingin rasanya aku menikmati rasanya dimarahi, dibanggakan, dan dipuji saat orang tuaku melihat nilai raportku. Aku merasa mendapatkan nilai baik ataupun buruk tidak menunjukkan perbedaan apapun.
Aku mendapatkan nilai baik hanya untuk membalas hutang Budi kepada paman dan bibi. Aku tidak ingin menjadi beban untuk mereka. Meskipun mereka senang melihat nilai raport ku. Tapi aku tahu mereka lebih bahagia mengetahui nilai raport anak mereka, meskipun hanya peringkat 15 besar.
Tiap hari kulalui kehidupanku dengan kesendirian. Menghibur diriku sendiri dengan hal-hal yang Kuanggap menyenangkan. Meskipun aku berusaha untuk tetap tegar. Kadangkala aku juga merasakan kesedihan yang mendalam dan kerinduan kepada kedua orang tuaku.
Setiap ku berdoa selalu tetesan air mata yang berlinang dan terjatuh. Di setiap malam juga kurasakan Kerinduan. Ku ingin engkau datang dan hadir di hidupku serta bayangmu akan selalu ada dihatiku.
Aku tumbuh menjadi anak yang pendiam. Aku merasa tidak ada orang yang paham tentang keadaanku. Aku merasa tidak ada yang tahu kesedihan dalam hatiku. Perasaan ini selalu menyergapku di sepanjang waktu. Perasaan Rindu dan iri yang selalu berlomba untuk memenangkan kan diriku.
Aku tidak begitu senang dengan hari Idul Fitri. Dimana kulihat semua orang bercengkrama dengan keluarganya. Mendapatkan baju bagus dan makan bersama. Mereka mendapatkan uang dari saudara-saudara mereka. Berkumpul bersama dalam pekerjaan keceriaan.
Saling mau minta maaf satu sama lain dan berpelukan. Berjalan dari yang tertua hingga yang ke muda. Kalian tahu, Aku sangat ingin berada di posisi itu. Aku iri dengan kalian.
Bertahun-tahun di setiap Idul Fitri, kulalui dengan sendirian. Paman dan bibi selalu pergi ke luar kota bersama anak mereka, menuju ke rumah orang tua bibi. Ibuku anak tunggal dan bapak hanya mempunyai saudara laki-laki yakni pamanku. Semua kakek dan nenekku sudah tiada.
Aku melewati waktu itu sendirian di rumah. Memakai baju baru yang ku beli sendiri. Tidak ada yang spesial dari baju baruku. Yang aku bisa nikmati hanyalah makanan opor ketupat dari masjid saja.
Aku tumbuh menjadi seorang muda yang pemurung. Aku bekerja di sebuah perusahaan, sebagai karyawan biasa. Hari-hari kulalui cepat dan tak terasa umurku sudah semakin tua. Tetapi aku tidak tahu letak kebahagiaan.
Terkadang aku merasa lelah dan bosan dengan kehidupan ini. Aku juga malas untuk menjalin hubungan dengan orang wanita. Aku merasa mereka semua hanya memperburuk keadaanku. Mereka tidak akan paham apa yang kurasakan.
Sudah lama aku tidak menangis lagi di setiap malam di saat ku merindukan kedua orang tuaku. Aku berpikir mungkin karena aku sudah bosan menjalani kehidupan. Yang kurasakan hanya kehampaan. Lingkunganku juga tidak ada yang peduli denganku.
Aku hanyalah sebuah serpihan debu di alam semesta. Yang merengek meminta perhatian. Namun apa daya, debu hanyalah sebuah partikel kosong yang tak berharga. Yang nantinya hilang dikikis waktu.
Aku sudah merasa lelah. Aku juga bosan dengan sistem kehidupan yang seperti ini. Debu selamanya akan menjadi debu. Mau dibakar, dimurnikan, ataupun disepuh, debu tetap tidak akan berharga. Tetap menjadi partikel yang dipenuhi dengan butiran-butiran kehampaan dan omong kosong.
Sekeras apapun kalian memaksa debu. Debu malah akan hancur, karena debu sejak awal diciptakan dari partikel yang rapuh. Sekeras apapun, akan sia-sia saja. Karena dari awal dia hanyalah sebuah debu yang tak berharga.
Perasaan yang dari waktu kewaktu membentuk relung waktu dan menggumpal. Menjadikan ku semakin mengerti arti dari sebuah perasaan rindu.
---TAMAT--