Sendal Mubarok
Betapa asri udara dan hijau pohon di desa Sempoyongan. Disana masih terbilang menyatu dengan alam karena sangat terpencil. Namun banyak menghasilkan orang-orang yang berbakat. Salah satunya adalah seorang anak lulusan pesantren Temboro bernama Aris Al Asqalani,dia merupakan pesilat yang berasal dari Palang Nusa. Semenjak lulus dari Temboro,dia mengabdi untuk desanya dengan menjadi guru mengaji di desa itu. Badannya kekar putih dan berambut keren seperti artis Korea membuat semua gadis di desa itu klepek-klepek melihatnya. Dia sudah banyak menjuarai ajang silat. Dia mempunyai murid tidak resmi bernama Raka Al Mandili Hasibuan. Beda dengan Aris,Raka itu ahli dalam bidang sastra dan karyanya selalu diterima dimana-mana.Mempunyai kepala yang pelontos dan perawakan yang tinggi. Namun,yang istimewa dari Raka ini adalah dia tidak takut dengan namanya “ancaman”. Gempa ,banjir,Tsunami,hingga hari Kiamat pun mungkin dia tidak terasa goyang oleh itu. Dia sekolah di SMA IT Ali Hasanuddin. Maka Aris sebagai saudara sekampungnya inisiatif untuk memberi tahunya agar dia tidak boleh santai untuk segala hal. Kini mereka sedang latihan di rumah Aris
“Tendang” ajar Aris pada Raka
Raka pun menendang dan berhasil ditepis oleh Aris
“Ayo coba lagi” ucapnya lagi “Kalau masalah ditangkis intinya cepat-cepatan tendangan”
Raka pun melepas cengkraman Aris dengan ligat kemudian coba menendang lagi. Tendangan itupun berhasil melayang dengan “kecepatan kematian” di bagian tulang pinggul Aris.
“Bagus,tendanganmu meningkat.Sering aja menendang cepat tanpa tawar menawar. Latih terus sampai jadi”
“Iya mas,pasti itu” jawab Raka
Ketika hendak meninggalkan Aris,Aris melihat kaki sebelah kiri Raka bersendal namun kaki kanannya tidak. Maka Aris mengambil sepasang sendal di bagian beranda. Sendal hitam bergaris merah itu begitu indah.
“Nah sendal mas,ambil aja untukmu,Ka.”
“Eh gak papa lah bg,kan lebih baik satu daripada tidak sama sekali”
“Hahahahahahaha” geli Aris dengan humor Raka itu “Kalau gitupun emang loe pernah haji?gk kan? Kan lebih baik sekali daripada sama sekali”
Bicara Aris pun terhenti karena tertawa dengan logika aneh dari muridnya itu. Aris pun berusaha menghentikan tertaw nya dengan mengambil beberapa nafas dan tenang.
“Gini ya dek” jelas Aris “Dalam hadist nabi dilang untuk memakai sendal sebelah saja. Jadi makanya itu terima aja. Menurut abang kerenan malah nyeker daripada sendal sebelah.”
“Jadi gimana abang nanti?” tanya Raka
“Yah kalo Namanya orang ganteng gak bersendal juga ganteng. Lah kamu dah botak kepala botak kaki bagaimana pula itu?”
“Di roasting deh” ucapnya “Makasih ya bang sendalnya
“Iya, sama-sama”
Aris dan Raka saling membalas senyuman dan lambaian. Waktu demi waktu pun berlalu. Raka senang sekali dengan sendal pemberian Aris karena cantik,keren,dan menawan. Di hari yang lain, Raka dan Aris pun kembali Latihan seperti biasa dan mulai adu jurus. Raka mulai melepaskan pukulan, namun Aris menghindari semua serangan itu dengan sempurna. Aris pun mulai membuat gerakan palsu dengan menendang,namun sebenarnya dia mau menggunting. Aris pun terjatuh dan Raka mengulur tangannya pada Aris. Ketika Aris menyambut hangat pertolongan Raka, Aris malah menyerang bagian perut Raka dengan tendangan. Raka pun menatap Aris dengan tatapan tidak menyenangkan.
“Mas,kok aku ditendang sih?” keluh Raka
“Pelajaran baru. Ka, bahaya itu gak bilang-bilang loh. Jadi kau dengan cepat harus menyadari itu. Bisa dipahami?” ucap Aris
“Ia,bisa mas”
“Besok datang ke pertandingan mas ya di gedung olahraga”
“Baik bang. Pasti aku datang”
Hari itupun tiba. Aris melalui banyak sekali lawan dan berhasil meraih banyak poin. Musuh demi musuh dia lawan dan sampailah di final. Di final nampak sekali bahwa yang menguasai pertandingan adalah Aris. Aris pun mulai menggunakan jurus penutup,ikan menmbelah angkasa sehingga mendapatkan 5 poin. Aris pun memenangkan pertandingan dan naik di tangga juara. Ayah,ibu,dan Raka di tempat duduk penonton senang sekali dengan raihan juara dari Aris. Walaupun biasa,namun itulah yang patut dibanggakan. Namun, kesenangan itu tidak lama. Aris tersungkur dan diselamatkan tim medis. Spontan Raka pun turun dan memeriksa denyut nadi Aris dan Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un. Aris sudah tidak bernyawa lagi. Raka pun air matanya tidak sadar keluar walaupun tidak sampai merengek. Orangtua Aris juga ikut menangisi kepergian anaknya.
“Harusnya dia tidak perlu memaksa dirinya” ucap ibu Aris
“Apa maksud ibu?” tanya Raka
“Sebenarnya Aris ada penyakit jantung setelah tamat dari pondok pesantren. Namun dia ngotot tetap mengikuti silat bahkan mengajarkan orang. Raka , jangan sia-siakan apa yang diajarkan Aris terus amalkan untuk kebaikan”
“Tanpa iman dan taqwa,kita jadi lemah dan dengan iman dan taqwa kita jadi kuat”
Setahun pun berlalu. Raka ingin membuka rekening lagi untuk cerpen nya yang laris. Namun di tengah jalan ada perampok yang banyak bawa uang dari bank. Anggota mereka sekitar 7 orang
“Hey apa yang kalian lakukan?” tanya Raka
Preman itu hanya meninggalkan Raka dengan berharap tidak dicakapi lagi oleh Raka
“Hey aku berbicara dengan kalian. Apa yang kalian bawa itu?”
“Tidak ada. Ini hanya karung biasa” jawab salah satu dari mereka
“Tapi kenapa harus memakai topeng seperti itu?”
“Kami perampok bank. Kalua memang bernyali lawan kami” jawab ketua perampok
“Tangan kosong kalau berani”
Mereka pun mendekati Raka dan melayangkan tinju mereka. Namun merah nyala dari sendal Raka pun menyinari kaki Raka kemudian menendang mereka satu persatu dengan “kecepatan mematikan” milik Raka.Satu persatu pun dia kalahkan tanpa ampun. Tak lama kemudian datanglah polisi. Raka pun mulai ketakutan.
Gawat,aku bakal ditangakap
Batin Raka dan bergegas ia pun berkata
“Mereka duluan. Jangan tangkap aku”
Polisi yang mendekati Raka pun tertawa
“Siapa yang mau menangkapmu? Kami mau memberi tunjangan hidup selama setahun karena berhasil menangkap pencuri yang tidak bisa ditangkap karena kekuatan mereka”
Raka pun mulai memahami situasi dan malu karena kebodohannya.
Di malam hari, Raka ingin membeli perangkat sekolah untuk persiapan masuk sekolah. Raka melihat ada beberapa orang mengepung nya karena di malam itu dia menggunakan pakaian yang terbilang trendy sehingga orang dapat memastikan dia banyak uang
“Hey, kau mau macam-macam denganku”
Yang mengepung itupun mulai panik dengan gertakan Raka itu.
“Maaf. Tapi mohon ampuni kami”
Tanpa berbicara sepatah katapun, Raka mulai meninggalkan mereka. Namun seseorang menyemprotkan gas air mata pada Raka. Raka pun tidak bisa melihat apapun dan seseorang memukul Raka dengan bat kasti dari besi.
Seketika Raka buka mata dan alam sudah terlihat lain. Dan tak lama kemudian muncul Aris dengan senyum manis.
“Akhirnya kau disini juga” ucap Aris
“Aku dimana?” heran Raka
“Kalau jumpa denganku harusnya tahu kamu kini dimana, kan?”
“Jangan bilang aku meninggal mas.”
“Noh,dah sadar. Aku dah lihat semua kok kenapa kamu bisa disini.”
“Belum lagi kulawan dah diserang,kan curang begitu?”
“Kan mas dah bilang,kalau bahaya itu biasanya gak bilang-bilang.Makanya perlu namanya intuisi”
“Oh,itu apaan ya?”
“Haduh” Aris menepuk jidatnya “Itu maksudnya kata hati dan respon yang baik dari perasaan terdalam. Sekarang kalau sudah begini jalan bersama lah kita”
“Baik,dimana tempat yang bagus sekitar sini?”
“Jawabannya sederhana sih. Gak ada yang bagus untukmu disini!!”
Aris pun menendang Raka ke bawah dan menembus awan yang mereka pijakkan
“Lawan dulu mereka” ucapnya “ baru boleh kesini. Buktikan dulu kau itu murid terbaik Aris al Asqalani”
Entah bagaimana, Raka bangkit lagi dan kembali melawan mereka sehingga babak belur. Asal ada serangan dari belakang, ia akakn merunduk dan menendang dari bawah. Mereka pun mengembalikan barang milik Raka. Bukan senang,Raka malah bingung dengan semua yang terjadi.