Seperti sedang menenun di sela waktu. Kami berada di sebuah kereta yang melaju. Bersama pemandangan yang mengalir mundur. Duduk berempat berhadapan dengan hati yang begitu gembira dan dengan obrolan tidak penting. Menuju ke tempat dimana kami semua akan kembali bersama.
Cahaya matahari di sore hari diwarnai oranye. Beberapa detik lagi sampai dihancurkan oleh langit berwarna nila. Hingga waktu malam di kereta itu tiba. Perlahan kami kehilangan tenaga untuk berbicara. Aku menatap mereka bertiga yang mulai memejamkan mata dengan tersenyum kecil. Miku berada disampingku, dan tepat di depanku, dua laki-laki yang sangat aku dan Miku percaya.
Kelap-kelip cahaya terus menghiasi atmosfer dibalik jendela. Bersandar di kaca yang tebal itu, sementara terus melihat keluar. Disaat rasa kantuk mulai menembus ke kelopak mataku. Tiba-tiba pemandangan di balik jendela itu menjadi gelap. Aku menyadari bahwa itu pasti adalah laut di malam hari.
Hamparan air dan pasir pantai yang luas itu, dengan ombak yang terus menari. Tanpa kusadari, hal itu seolah menarik tanganku kesana. Aku terus mengingatnya. Saat itu kami masih begitu kecil. Bermain bersama di pantai dan hidup dengan serba berkecukupan di desa tepi laut itu.
Terkadang aku terhipnotis oleh birunya laut itu. Berjalan perlahan tanpa alas kaki ke arah laut ditemani pasir yang berdesir. Sedangkan mereka bertiga bermain dengan pasir di belakang. Hingga akhirnya air mulai menyentuh kakiku, lalu terpaku menatap laut itu yang entah dimana ujungnya. Suasananya begitu damai. Angin membuat rambut panjangku seperti terbang dengan bebas. Rasanya ingin tetap diam seperti ini dan meninggalkan tubuhku disini.
Saat memikirkan itu, tiba-tiba seseorang memanggilku.
"Hey Luna! Apa yang kau lakukan?"
Saat dia menanyakan itu, tiba-tiba aku kehilangan kata-kata, dan secara spontan aku menjawab
"Melihat laut."
Dia menghampiriku, lalu memperingatkanku untuk segera kembali ke pantai. Karena tanpa sadar aku diseret perlahan oleh air. Dari kami berempat, Uma adalah satu-satunya yang memakai kacamata dan seorang kutu buku. Tentu saja, dia juga yang paling berwawasan luas. Selalu menceritakan cerita baru setiap kali berkumpul.
Melihatku dan Uma sedang berbicara berdua, Miku berlari ketempatku. Seperti baru saja dikubur di pantai, butiran pasir berjatuhan dari baju putihnya ketika dia berlari. Melihat itu, aku nyaris tidak mampu menahan tawa, sehingga memunculkan senyum aneh. Kami berempat memang seumuran, namun entah bagaimana, dia memang yang mempunyai tingkah paling menggemaskan diantara kami.
"Kalian tak apa?" Ucap Miku dengan nafas yang terengah-engah
"Seperti biasa, Luna melamun dan tidak melihat tempat dia berdiri." Ucap Uma menatapku dengan sinis
Sementara menggaruk kepala, aku meminta maaf karena membuat mereka khawatir. Mungkin sudah ribuan kali aku melihat pemandangan itu, tapi setiap kali aku melihatnya, rasanya seperti pertama kali.
"Ngomong-ngomong kakakmu dimana? Dia cepat sekali menghilang." Tanya Uma ke Miku
"Entah, katanya dia ingin mengambil sesuatu yang baru saja dibelinya."
Beberapa detik setelah membicarakannya, orang itu datang dan memanggil kami dari kejauhan. Miku dan saudaranya adalah kembar tak seiras. Kepribadian mereka tidak jauh berbeda, malah menurutku saudaranya itu lebih "Gila".
"Ahh Saiku, darimana?" Tanya Uma
"Aku melupakan sesuatu."
Dibawah langit senja yang tak lama lagi menjadi gelap, perlahan kami berjalan menjauhi air. Masing-masing orang tua kami tidak terlalu peduli apabila kami pulang terlalu malam. Karena memang nyaris tidak ada bahaya apapun di tempat kami bermain ini, hanya laut. Perahu nelayan berada sekitar 100 meter dari sini. Jika terjadi sesuatu, kami tinggal berteriak minta tolong.
Di tempat yang dipenuhi pasir itu, ditengah obrolan tanpa ujung, tiba-tiba Saiku tampak seperti mengeluarkan sesuatu. Itu adalah satu kembang api yang berbentuk roket. Dia mengeluarkannya lalu mulai tertawa dan merobek segelnya. Uma dan Miku sangat bersemangat dan membantu Saiku untuk menyalakannya.
Aku yang tidak suka dengan suara ledakan kembang api langsung mencoba menghentikan mereka. Aku pun berteriak "hentikan!" Berkali-kali dengan air mata yang mulai mengalir. Hingga akhirnya, cahaya mulai menyala di ujung sumbunya. Tanpa memikirkanku, bersama mereka berteriak "menyala!" Dan melepaskan kembang api itu.
Dengan menutup kuat-kuat kedua telingaku dan dengan keadaan menangis, kembang api itu meluncur vertikal ke langit yang sudah malam itu. Sekilas kulihat kembang api itu, setelah suara ledakannya sudah menghilang, hanya menyisakan bentuk bunga penuh warna di atas langit itu. Miku mencoba menenangkanku, meskipun begitu air mataku terus mengalir tanpa henti.
"Saat itu, aku memang seorang penakut ya."
Suatu siang saat pulang sekolah. Mengambil sepedaku lalu mulai menaikinya. Di persimpangan, seperti biasa si kembar sudah berada di sana dan melambaikan tangannya kepadaku. Berhenti di persimpangan yang sepi itu dan membahas betapa membosankanya sekolah, sementara menunggu Uma datang kesini sini. Pulang bersama dengan masing-masing sepeda. Berjajar lurus dengan Saiku yang menjadi pemimpinnya.
Dari bibir pantai itu, terlihat sekelompok nelayan mendorong perahunya ke tengah laut. Kami berempat melambaikan tangan dan mengucapkan selamat jalan begitu melihatnya, karena salah satu dari mereka adalah orang tua Saiku dan Miku. Perahu itu semakin menjauh, terus menjauh seolah-olah semakin menciut. Lalu lenyap dari penglihatan seperti ditelan oleh laut.
Berdiri berjajar di pantai itu, seperti terpaku saat melihat perahu nelayan itu mulai menghilang. Beberapa menit yang hening itu seketika pecah ketika miku mulai aktif
"Kena! Kau jaga!" Teriak Miku sambil menepuk bahu kiriku lalu mulai berlari
"Eh?"
Ketika kepalaku dalam kondisi terkejut dan seperti kaget untuk beberapa detik, Uma dan Saiku merespon apa yang dilakukan miku dengan cepat, mereka juga ikut berlari. Ketika aku menyadari permainan sudah dimulai, mau tidak mau aku harus mulai mengejar mereka.
Berlari dengan bebas di pantai itu, tanpa memikirkan beban apapun. Satu permainan yang hanya berakhir ketika salah satu dari kami ada yang berhenti. Hingga akhirnya, semua berbaring bermandikan pasir yang lembut itu.
Lalu suatu hari di pantai itu, entah bagaimana pembicaraan menjadi serius. Perlahan uma berdiri, kupikir dia akan menceritakan sesuatu seperti biasanya, tapi ternyata hari ini berbeda.
"Suatu hari nanti, saat sudah dewasa, kalian mau kemana?" Ucap Uma dengan nada yang serius
"Maksudnya?" Tanyaku terkejut dengan yang dikatakan Uma
"Ya, suatu saat kita pasti akan meninggalkan tempat ini kan? Mungkin aku akan menjadi ilmuan yang hidup di tengah kota. Membayangkan bekerja di labku sendiri, rasanya tak sabar!" Jelas Uma
"Aku sama sekali tidak kepikiran." Balas Miku
"Mungkin aku ingin menjadi arsitek!" Sahut Saiku
Kami yang masih begitu kecil itu, untuk pertama kalinya, membicarakan masa depan bersama. Matahari menjelang sore itu seperti menyaksikan obrolan kami. Mereka bertiga mulai menceritakan keinginannya masing-masing dengan tanpa adanya tawa sedikitpun. Suasana terasa begitu serius, hingga rasanya air mataku ingin keluar. Tanpa sadar suara percakapan itu berhenti, lalu mereka bertiga mulai menatapku
"Luna? Ceritakan tentang keinginanmu di masa depan!" Ucap Uma
"Seperti ini saja sudah cukup!" Jawabku spontan
"Eh?"
"Asalkan kita tidak jauh, dimanapun tidak masalah!"
Seketika keadaan menjadi hening. Beberapa detik kami saling menatap. Hal yang kuutarakan itu terasa seperti orang dengan tanpa tujuan hidup. Merasa aneh dengan kata-kataku sendiri, aku menunduk lalu mengusap air mataku yang tanpa sadar keluar.
"Tenang saja." Ucap Miku dengan suara yang lembut sambil memegang tanganku
"Meskipun rambut yang panjang ini memutih, kita tidak jauh kok. Iya kan?" Sambungnya sementara menatap Uma dan Saiku.
Ingatan itu terus mengalir tanpa henti, seketika berakhir ketika pemandangan laut dibalik jendela itu kembali berubah menjadi kelap-kelip. Rasa kantuk semakin tidak bisa dibendung. Kereta ini akan membawa kami di tujuan esok pagi. Menuju kampus yang sama, di tengah kota jauh dari pantai tempat kami hidup.
Hari-hari menyenangkan kami berempat yang masih terlampau kecil itu terus berlanjut. Dan menyisakan ukiran kenangan yang akan terus kuingat hingga saat ini. Bahkan tak bisa dipercaya, sifat masing-masing dari kami tidak terlalu berubah.