Judul : Cinta Untuk Sahabat
Leon, Ian dan Kanglim adalah 3 sekawan sehidup semati. Kemana-mana mereka pasti bareng. Mereka kuliah di satu kampus yang sama, tempat makan favorit mereka pun sama. Akan tetapi tinggal di tempat dan nasib yang berbeda. Leon dan Ian tinggal di kos-kosan kecil namun besar artinya bagi mereka, disitulah mereka bisa menaungkan hidupnya, melindungi tubuh mereka yang dekil itu, dari serbuan air hujan dan terik matahari. Itu saja masih untung tante Yi Yun ngurangin iuran kos nya khusus buat mereka berdua. Soalnya tante Yi Yun maklum, Leon itu anak yatim, dan Ian itu keponakan jauhnya.
Sedangkan Kanglim, dia tinggal di rumah mewah, dia anak orang kaya, anak tunggal pula. Papa mamanya masih utuh.Sudah pasti dia mendapatkan perhatian sepenuhnya dari orangtuanya. Bisa dibilang hampir sempurnalah hidupnya. Tapi walaupun begitu, Kanglim tidak sombong. Buktinya dia masih mau bersahabat dengan makhluk aneh seperti Leon dan Ian.
Nasib, memang'nasib. Sudah melarat, cewek-cewek pun enggan melihat muka mereka yang jauh beda dengan member BTS ini. Beda dengan Kanglim,dengan wajah tampan bak Romeo, cewek-cewek pada ngejer. Tapi Kanglim setia banget orangnya, dia tetep jomblo, demi menyamakan status dengan mereka ini. Memang Kanglim itu the best friend ever lah..
****
Waktu itu, Leon dan Ian main ke rumah Kanglim. Kanglim itu orangnya baiikk banget. Dia memboleh kan mereka masuk ke kamarnya, yang besarnya dua kali lipat dari kamar kos-kosan Leon sama Ian. Sungguh Leon dan Ian ngerasa bahwa mereka gembel yang paling beruntung di *dunia bisa punya sahabat berhati berlian kayak Kanglim.
Rencananya sich'mau main game sambil makan snack tapi, makanan di kulkas super mahal punya keluarga Kanglim ternyata abis. Jadi, Kanglim ngajak Ian belanja dan Leon nunggu di kamar Kanglim.
Leon nemu TTS di kamar Kanglim, dan Leon pikir dari pada bete nunggu mereka belanja dia isi aja tu TTS. Leon berniat nyari pulpen di laci, tapi ternyata yang Leon temukan malah obat-obatan sama beberapa infus.
Leon bingung sejadi jadi nya. Beberapa menit kemudian Kanglim dan Ian dateng dan bawa makanan. Leon nggak mau nanyain masalah tadi dulu ke Kanglim, karena Leon pikir, mereka mau have fun dulu. Jadi, dia gak mau ngerusak mood mereka.
Waktu berjalan, malam pun datang, saatnya Leon dan Ian pulang. Mereka pamit ke Papa Mama nya Kanglim.
****
Hari demi hari berlalu, tapi Leon masih kepikiran soal apa yang dia temukan di kamar Kanglim. Karena gak tahan, Leon ceritain semuanya ke Ian, dengan santai nya Ian bilang,
"Alah,,, paling itu cuma cadangan aja, orang kaya kan bisa sakit juga. Jadi kalo sakit, bisa di rawat di rumah aja. Biar ngirit!"
"Gak lucu tau !"kesal Leon.
"Emang enggak"
Dari pada panas dengerin omongan gilanya Ian, mending Leon simpan di dalam hati aja masalah ini. Toh kalo ada apa-apa pasti Kanglim cerita ke mereka kok!.
****
Hari itu, tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, tiba-tiba Kanglim dateng ke kos-kosan sambil bawa makanan, peci, sarung dan sajadah. Dia bilang sich, tu makanan buat cemilan temen ngumpul aja. Tetep aja Leon bingung, kan biasa nya kalo ngumpul, di rumah dia. Karna, gak mungkin Leon ngajak Kanglim ke kos-kosan, buat dia sama Ian aja udah sumpek nya minta ampun, apalagi di tambah satu orang, lagian gak enak juga sama Kanglim, dia kan gak biasa kepanasan, sedangkan di kos-kosan cuma ada kertas buat ngipas.
Tapi dia bilang, "Gak papa kok'gue juga mau ngerasain hidup kayak kalian walaupun Cuma sebentar. Lagian gue juga mau bareng-bareng ama kalian. Kalian gak keberatan kan?", belum sempet Leon jawab, Ian sudah nyosor duluan,
"Mana mungkin lah kami keberatan, kan lo sahabat kita. Apalagi kalo lo bawa makanan gini, sering-sering aja lo kemari.' . Kanglim Cuma bisa senyum dengerin ocehan si mulut bajajnya Ian.
"Trus ni peci ama sajadah buat kita juga?' Tanya Leon.
"Iya,,, biar kalian rajin shalatnya. Tu sajadah sama peci di gunain baek-baek ya, buat amal kalian' jelas Kanglim.
' makasih ya !'
Sontak Leon kaget banget. Nggak biasanya Kanglim kayak gini. Karena udah sore Kanglim putusin buat pulang. Melihat rambut lembut nya berantakan, dia sisir rambutnya sebelum pulang. Dan Leon kaget waktu liat banyak banget rambut Kanglim yang rontok dan tersangkut di sisir. Leon, nggak terlalu heran, karena ia pikir Cuma rontok biasa.
"Gua pulang dulu ya guys, assalamualaikum"pamit Kanglim,
"wa'alaikum salam" Leon dan Ian serentak menjawab. Setelah Kanglim pulang, Leon coba buat ngomongin ini sama Ian.
"Ian.."
"Eemm.."
"Lo ngerasa ada yang beda gak sih sama Kanglim??"
"Beda apanya sih?? Jelas-jelas idung nya gak pindah kok !"
"BUKAN ITU MAKSUD GUA ONTAA !!!! sifat dia itu akhir-akhir ini. Beda dari biasanya. Tibaa-tiba jadi melancolis gitu,,,"
"Melancolis tu apa ya?"
"Gak tau juga sih! Tapi orang banyak yang bilang melancolis buat orang yang sifat nya dramatis, erotis, miris,,,,"
"Hepatitis"
"ya.. Hah?? Itu kan penyakit! Lo ngerti gak sih yang gua maksud??"
"huft…" Ian mengangguk-anggukan kepalanya, syukurlah kalo dia ngerti.
"Betulan ngerti kan lo?' Leon memastikan
"Engga"
jeeng,,jeeng…
PLAAK !!!
"Buseeett dah ! maksud gue, sifat Kanglim tu aneh banget sekarang, gak kayak dulu"
"Yaa biarin aja napa?? Yang penting dia masih jadi sahabat kita. Masih inget sama kita. Mungkin dia Cuma mau berusaha berubah."
"Iya juga ya! Walaupun otak lu miris, tapi kadang bisa berfikir kritis juga ya"
"Yaa elu nya aja yang baru tau"
"Terserah lu dech"
****
Di kampus pada hari itu, Kanglim tak tampak seperti biasanya. Biasanya dia tu selalu fresh, fit and fabulous. Tapi gak buat hari itu, dia keliatan pucat banget. Karna penasaran Leon nanya,
"Lo sehat Lim?",
"Sehat kok!" katanya,
untuk memastikan Leon tanya lagi,
"Lo yakin?"
"yakin! gue gak papa !".
Leon gak mau maksa Kanglim buat bilang, walaupun Leon tau ada sesuatu yang gak beres sama Kanglim.
Hari itu, jadwal kuliah sampe sore. Waktu nya makan siang, seperti biasa, mereka nongkrong di kantin. Mereka ngobrol, sambil ngegosipin kembang kampus.
Kanglim, tiba-tiba meremas-remas tas nya dan mengkerutkan jidat nya seperti orang sedang kesakitan dan sesekali dia pegang kepalanya, gak lama kemudian Kanglim mimisan dan pingsan. Langsung Leon sama Ian bopong dia ke UGD (unit gawat darurat) di kampus.
Waktu Kanglim sadar, langsung Leon anterin dia pulang.
****
3 hari Kanglim nggak kuliah, setelah kejadian hari itu. Leon coba hubungin ke hp nya, tapi nggak aktif.
Hp Leon tiba-tiba bunyi, dan waktu ia angkat, terdengar suara lembut berkata
"Maaf nak mengganggu, tante Cuma mau bilang kalau Kanglim selama ini sakit. Dia di rawat di rumah sakit. Maaf juga , kalau baru mengabarkan nya sekarang."
Leon kaget banget. Melihat raut muka Leon yang tak biasa, rupanya Ian heran juga.
"Kenapa lo?"
"Kanglim, Ian 'Kanglim"
"Kenapa sama dia?"
"Ternyata selama ini dia tu sakit. Sekarang dia dirawat di Rumkit,"
"Ya udah, tunggu apa lagi ''?! Ayo kita jenguk dia!!'
Langsung Leon ambil, kunci pespanya. leon tancapkan gas menuju rumkit yang di maksud.
Sesampainya di rumkit, dengan berbekalkan informasi di mana keberadaan kamar Kanglim dari suster, mereka mulai mencari. Akhirnya dapat juga. Pelan-pelan Leon buka pintu kamar ruang 'melati'.
"Asalamu alaikum "kata Leon
"Wa'alaikum salam!" sambut mama Kanglim.
Ian yang biasanya selalu cengengesan, terdiam melihat kondisi Kanglim yang lemah dan super pucat. Dengan nada sok lembut Leon bertanya kepada mama nya Kanglim,
"Sebetulnya, Kanglim sakit apa tante?
Mama Kanglim meneteskan air mata secara tiba-tiba, dan mengajak Leon untuk bicara di luar saja.
"Begini nak Leon, sebenarnya Kanglim terkena penyakit kanker otak stadium akhir, hidupnya di vonis hanya tinggal sebentar lagi' kata mamanya Kanglim.
"Apa?? Tapi kenapa Kanglim tak pernah menceritakanya kepada kami tante?"
"Tante sebenarnya juga pernah mengusulkan kepada Kanglim untuk memberitahukan kalian masalah ini. Dan tante juga minta dia untuk istirahat dirumah saja, agar keadaanya tak semakin memburuk Tapi Kanglim tidak mau, dia bilang, dia tak mau membuat kalian mencemaskan dia. Dia mau melihat kalian tetap terlihat bahagia di akhir hidupnya, dan dia tak mau membebankan kalian karena penyakitnya"
Leon terdiam. Air matanya terus bercucuran mendengar penjelasan mama Kanglim. Tak Leon sangka selama ini Kanglim menderita demi kebahagiaan mereka. Terungkap sudah semua kejanggalan-kejanggalan yang selama ini ia temukan. Obat-obatan dan infus-infus itu, ternyata untuk simpanan kalau-kalau Kanglim kumat. Leon tak tahu harus mengatakan apa lagi. Leon masuk kekamar itu, memandangi tubuh lemah sahabatnya, air mata tak tertahan, Leon memeluk tubuh sahabat terbaiknya itu. Dengan suara pelan Kanglim bertanya "Kenapa lo nangis Leon?"
"Kenapa Lim?, kenapa lo gak pernah bilang ke kita kalo lo sakit?"
Pandangan Kanglim tertuju ke mamanya,,,
"Maaf sayang, mama rasa sudah saat nya mereka tau semua ini" kata mama Kanglim
"Maafin gua Leon ! gue nggak bermaksud boongin lo ! gue Cuma nggak mau lo semua kawatir ama gue.' Jelas Kanglim
"Maafin gue juga Leon" tiba-tiba Ian nyaut.
"Maaf? Buat apa?" tanya Leon
"Karna sebenernya gua udah tau tentang masalah ini, .Kanglim yang cerita ke gue waktu kita belanja makanan hari itu. Dan masalah obat-obatan dan infus itu sengaja gue pura-pura gak tau, gue takut lo curiga. Tapi ini semua karna Kanglim yang minta"
"Jadi slama ini lo boong ama gue Ian?'
" lo jangan marah ama Ian, Leon,,, ini salah gue. Tapi sekarang yang penting lo udah tau. Gue kira urusan gue udah kelar sekarang, gak ada lagi yang gue sembunyiin dari kalian. Jadi, gue bisa pergi dengan tenang' kata Kanglim
"Lo nggak boleh ngomong gitu Lim. Lo harus tetep optimis, lo bisa sembuh"Leon mencoba untuk menyemangati.
"Nggak ada lagi yang bisa gue harepin Leon. Gue udah gak kuat lagi. Sakit banget rasa nya. Tolong jagain nyokap bokap gue ya. Gue sayang banget ama lo bedua"
"Kita juga sayang ama lo Lim" serentak Leon dan Ian mengatakanya.
Leon menggenggam tangan Kanglim yang mulai dingin, tangan yang selalu mengacak rambutnya kalau jailnya Kanglim muncul, kali ini hanya diam tanpa tenaga.
"Gue cinta sama lo, cinta untuk sahabat gue," bisik Leon walaupun sebenarnya Kanglim mendengarnya dan hanya bisa tersenyum.
Selang beberapa detik setelah itu, Kanglim menghembuskan napas terakhirnya.
Ironis, miris, rasanya melihat sahabat pergi. Leon menangis sejadi jadinya. Begitu juga dengan Ian. Mama Kanglim pingsan. Leon panggil suster untuk menangani nya.
Esok hari pemakaman dilaksanakan. Tak rela rasanya melihat tubuh orang tercinta di timbun oleh tanah. Namun, itu lah takdir.
****
Hari-hari terlewati tanpa Kanglim. Dia pergi meniggalkan kenangan-kenagan terindah. Dia memberi Leon pelajaran, tentang kehidupan, kesetiaan dan pengorbanan. Kini Leon tahu, harta bukan lah segalanya, tanpa ada orang tercinta di sekitar.
"Makasih Lim. Lo emang sahabat terbaek gue. Selamat tinggal. Semoga lo temuin kebahagiaan di sana. Kita nggak akan lupain lo Lim. Lo juga jangan lupa sama kita ya disana. Kita emang terpisah sekarang. Tapi gue yakin, kita akan temuin tempat di mana kita akan bersama selamanya" Leon berseru di hadapan makam Kanglim.
Tinggal lah Leon berdua sama Ian. Ian menasihati Leon, "udahlah Leon. Jangan sedih lagi. kanglim tau kok kita sayang banget ama dia. Lagian juga, dia dah bahagia dan tenang disana. Dan kita juga harus tetap bahagia buat dia."
Sempet kaget denger si Ian bisa ngomong selembut itu. Biasanya juga slalu cengengesan. Tapi, Leon pikir omongan Ian ada benar nya juga.
leon mempersembahkan bunga untuk sahabat tercintanya. Ia taruh di atas tanah tempat terbaringnya tubuh sahabat nya itu. Leon langkah kan kaki menjauh dari makam itu. Teringatlah semua kenangan dengan nya. Dimana Kanglim yang paling sabar menghadapi kejahilan dua orang sahabatnya, melerai jika Leon dan Ian berantem cuma gara-gara khayalan jadi orang kaya.
Sungguh tak pernah terfikirkan oleh Leon, akan kehilangan Kanglim...