Aku Zanetta Ababil, 19 tahun bekerja sebagai kasir, di sebuah minimarket.
Ayahku Pak Bimo adalah seorang terapis supranatural, sedangkan Ibuku Melisa, ibu rumah tangga biasa yang multitalenta.
Semua ini berawal dari ayahku yang yang seorang ahli supranatural, beliau banyak membantu orang dengan keahlian yang dimilikinya, terutama orang-orang yang kurang beruntung dalam hal ekonomi.
Orang-orang yang tak mampu berobat ke dokter maupun rumah sakit.
Tak hanya penyakit medis, beliau juga biasa menangani orang-orang dengan penyakit non medis, mulai dari Sawan, pelet, guna-guna, hingga santet.
Ibuku awalnya hanya seorang wanita biasa, beliau tak memiliki Indra ke-6 seperti ayahku.
Namun semenjak menikah dengan ayahku, beliau menjadi peka terhadap hal-hal yang tak kasat mata. Kata ayahku itu disebabkan karena adanya gesekan antara dua alam yang berbeda.
Itu pula yang terjadi padaku, mungkin lebih tepatnya aku mewarisi kelebihan ayahku.
Tak jarang terjadi kontak antara ibuku dengan makhluk tak kasat mata, akan tetapi beliau adalah wanita yang pemberani.
Seringkali beliau tak mengacuhkannya. Meskipun dengan jelas beliau berdekatan dengan makhluk dari dunia lain, ibuku memilih berpura-pura tak melihat.
Beliau tetap menjalani hidupnya seperti manusia normal pada umumnya.
Namun, lain ibuku lain pula denganku. Aku senang berpetualang, dengan kondisiku yang seperti saat ini membuat ku memiliki banyak pengalaman yang berbeda dari teman-teman ku.
Minimarket tempatku bekerja buka selama 24 jam. Ketika shift malam, tak jarang aku mendapati pembeli yang bukan dari duniaku.
Tak hanya itu dalam setiap perjalanan yang kulakukan, seringkali membawaku ke dunia yang tak seharusnya aku berada di sana.
Kejadian aneh dalam hidupku mulai kurasakan sejak aku masih duduk di Sekolah Menengah Pertama, tepatnya setelah aku mengalami yang namanya menstruasi.
Awalnya aku sangat takut, aku sering menghilang tiba-tiba. Dan baru kembali setelah beberapa hari. Namun tidak sulit bagi Ayahku untuk menemukanku.
Bahkan teman-temanku di sekolah banyak yang mulai menjauhiku. Mereka takut jika berdekatan denganku.
Pernah pada suatu hari ketika aku duduk di taman sekolah, seorang gadis kecil mendatangiku dan berbicara denganku. Ia menangis dan meminta tolong padaku, tanpa curiga aku mendengarkan gadis kecil tersebut.
Dia membawaku ke ruang perpustakaan. Dia memintaku untuk mengambilkan sesuatu. Dia terus menunjuk ke sebuah rak besar dan aku belum juga mengerti apa yang ia cari.
Dengan sangat kesal aku berbicara keras padanya, dan pada saat itu pula seorang guru, Pak Bambang namanya melihat heran kearah ku.
Pak Bambang yang dari tadi melihatku berbicara seorang diri mendatangiku dan bertanya padaku.
Aku mengatakan kepada Pak Bambang jika aku tidak sendirian.
Ada seorang gadis kecil yang memintaku mengambilkan sesuatu di atas rak besar itu. Pak Bambang menatap di sekitarku, ia tak menemukan siapapun ada di dekatku.
Pak Bambang tak berkata apapun, beliau menyuruhku pergi dari perpustakaan.
Karena tak lagi melihat gadis kecil yang tadi datang bersamaku, aku pun akhirnya pergi.
Keesokan harinya saat sedang di kantin sekolah, aku bercerita kepada Rina temanku.
Tiba-tiba saja ada rasa ingin tahu yang timbul di benakku.
Yang aku tahu Pak Herman, penjaga kantin sekaligus merangkap sebagai tukang kebun adalah orang lama di sekolahku.
Tanpa berpikir panjang aku bertanya pada Pak Herman.
Awalnya aku pikir gadis kecil yang kemarin mendatangiku adalah cucu Pak Herman.
Aku menceritakan pertemuanku dengan gadis kecil tersebut. Pak Herman yang mendengar ceritaku hanya tersenyum.
Pak Herman mengatakan jika gadis kecil itu adalah putrinya yang telah meninggal 15 tahun yang lalu.
Aku yang mendengarnya hampir tak percaya, kukira beliau sedang bercanda. Berbeda dengan Rina, ia nampak ketakutan dan langsung merangkulku.
Aku baru mempercayainya setelah Pak Herman menunjukkan sebuah foto. Benar saja anak di dalam foto tersebut sama persis dengan gadis kecil yang mendatangiku di taman waktu itu.
Dan terlihat pak Herman yang masih muda dalam foto tersebut.
Tidak hanya itu, masih banyak kejadian dan hal-hal aneh yang aku alami sepanjang hidupku hingga kini.
Semakin lama aku menjadi terbiasa. Bahkan tak jarang aku melihat sebuah tragedi di masa lalu. Dan setiap kali hal itu terjadi padaku, rasanya benar-benar nyata ada di hadapanku.
Pernah ada suatu kejadian yang tak akan pernah aku lupakan.
Peristiwa itu terjadi sekitar 2 tahun silam, waktu aku masih kelas 2 Sekolah Menengah Atas.
Aku adalah salah satu anggota pecinta alam di sekolahku. Aku dan teman-teman sesama anggota pecinta alam mengadakan pendakian di sebuah gunung Welirang di daerah Jawa Timur.
Gunung Welirang adalah sebuah gunung kembar (kembarannya yaitu si Gunung Arjuno) yang berketinggian 3.156 mdpl dan terletak di Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Welirang sendiri diambil dari kata “Belerang”, dikarenakan terdapat tambang batu belerang di daerah sekitar puncaknya, yang dijadikan sebagai mata pencaharian para petani belerang di desa-desa sekitar gunung.
Kami mulai mendaki jam 7 malam, mencapai pos pemberhentian pertama atau yang biasa disebut pet bocor 30 menit kemudian.
Awalnya aku tidak merasakan adanya keanehan semua berjalan baik-baik saja.
Pendakian kami lanjutkan hingga pos kedua atau yang biasa disebut "kop kopan "
Kami melepas lelah dengan beristirahat sejenak, untuk pendakian kali ini anggota yang ikut hanya dari kalangan senior, jadi tak membutuhkan waktu lama untuk kami beristirahat.
Di tempat ini keanehan mulai terjadi. Berawal dari temanku Lina yang tiba-tiba ingin buang air. Karena takut pergi sendiri, Lina mengajakku untuk menemaninya.
Kami mencari tempat yang pas untuk Lina buang air. Saat aku dan Lina bingung mencari tempat ada seorang wanita paruh baya, yang tiba-tiba ada di dekat ku.
Ia menunjuk pada satu tempat, saat pandanganku mengarah pada tempat yang ditunjuknya, aku melihat seperti ada sebuah gubuk kecil.
Pikirku adalah gubuk yang sama seperti yang lainnya. Segera aku mengajak Lina menuju gubuk tersebut, karena aku merasa tempat itu aman dari lalu lalang, aku menyuruh Lina untuk buang air di tempat itu.
Aku juga melihat wanita yang tadi berada di dekatku mengikut di belakang. Karena hari yang gelap aku tidak dapat melihat dengan jelas wajah wanita itu. Bahkan aku sempat berbincang dengannya.
Saat aku menanyakan tempat tinggalnya, beliau mengatakan jika ia dan keluarganya adalah penjaga gunung.
Sama sekali aku tidak merasa curiga. Bagiku siapa saja bisa disebut penjaga gunung, selama ia menjaga kelestarian alam.
Setelah selesai buang air, aku dan Lina kembali ke teman-teman. Tak lama setelah itu kami melanjutkan pendakian.
Aku ingat betul tempat di mana aku mengantar Lina buang air, namun saat pandanganku tertuju pada tempat tersebut, yang kulihat hanya bongkahan batu besar.
Aku membuang pandangan ke segala arah mencari gubuk tersebut.
Dan saat ku tanyakan hal itu kepada Lina, membuatku terkejut dibuatnya.
Yang benar saja Lina mengatakan padaku jika tadi ia buang air di balik bebatuan. Bahkan Lina juga tak melihat sesosok wanita yang berbicara denganku tadi.
Aku mulai menyadari jika kejadian aneh tengah menimpaku.
Berlanjut hingga pos ketiga yaitu "pondokan" Di sana kami mendirikan tenda untuk beristirahat. Banyak gubuk yang dijadikan tempat penyimpanan belerang.
Teman-teman ku banyak yang masih bercengkerama di luar tenda termasuk Lina. Karena aku sudah mengantuk, aku memilih tidur didalam tenda sendirian.
Tak terasa sudah jam 4 pagi, aku dan teman-temanku melanjutkan pendakian. Kali ini aku berada paling depan. Aku berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Singkat cerita, setelah berjalan cukup lama, aku merasa suasana semakin sepi. Saat aku menoleh ke belakang tak nampak siapa siapa, aku hanya seorang diri. Sejenak aku berhenti sambil menunggu teman-teman ku yang masih ada di bawah.
Aneh sih, padahal seharusnya banyak pendaki yang lalu lalang. Tapi tak satupun aku menjumpai mereka.
Setelah cukup lama menunggu, aku putuskan untuk melanjutkan pendakian ku seorang diri.
Hingga sampai lah aku pada sekumpulan pendaki yang entah dari mana asalnya. Aku putuskan untuk bergabung bersama mereka, karena hari yang mulai gelap, dan aku belum juga bertemu dengan teman-temanku.
Mereka menyambut ku dengan hangat. Aku bercengkrama dengan mereka, hingga tak terasa hari semakin gelap.
Seharusnya aku sudah berada di puncak dan bertemu dengan teman-temanku waktu itu.
Saat fajar menjelang, aku memutuskan untuk melanjutkan pendakian, kali ini aku tidak sendirian. Aku bersama para pendaki yang aku temui semalam.
Mereka dengan senang hati menerima kehadiran ku. Sepanjang jalur pendakian, aku merasa ada hal yang aneh, aku merasakan atmosfer yang berbeda. Aku sama sekali tidak menjumpai pendaki lain, selain teman-teman baruku.
Aku terus mendaki seakan tidak ada lelahnya. Dan sampailah pada sebuah pemukiman penduduk. Aku baru tahu jika ada sebuah desa di atas gunung.
Salah seorang pendaki memintaku untuk beristirahat. Aku melihat rutinitas kehidupan penduduk desa. Ada banyak anak kecil yang sedang asyik bermain, para pria dewasa dan wanita, mereka nampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Saat tengah asyik memandangi warga desa, pandangan ku tertuju pada sosok seorang wanita yang pernah aku temui sebelumnya. Tidak salah lagi, dia wanita yang aku temui saat mengantar Lina buang air.
Deg.... Tiba-tiba bulu kuduk ku berdiri, ada angin semriwing yang berhembus di sekitar ku. Aku sadar betul, aku sedang berada bukan di dunia ku.
Aku mencoba untuk tetap tenang.
Ku amati satu persatu wajah penduduk desa, dan benar dugaan ku. Mereka tidak memiliki garis Lekukan vertikal dibawah hidung yang dikenal sebagai filtrum, atau disebut juga oreng. Kalau tidak salah mereka adalah bangsa Jin.
Tanpa kusadari wanita yang ku lihat tadi sudah ada di dekatku, dia tersenyum padaku, nampaknya dia tahu jika aku telah menyadari semuanya. Dia menggandeng tanganku dan membawaku pergi menjauh dari penduduk desa.
Dia menyuruhku pergi dan mengatakan jika tempat itu bukanlah tempatku.
Aku melihatnya pergi menjauhiku dan masuk ke sebuah hutan lalu menghilang begitu saja.
Aku mulai merasakan takut, aku sendirian di tengah-tengah hutan di atas gunung. Aku terus berjalan mengikuti langkah kakiku. Waktu itu aku benar-benar tidak tahu kemana arah tujuan ku.
Sampai pada akhirnya aku bertemu seorang penambang belerang, Pak Danu namanya. Rupanya aku berjalan ke arah kawah gunung Welirang. Aroma belerang yang begitu menyengat mengganggu pernapasan ku.
Pak Danu melihat ku seorang diri, beliau seakan menebak apa yang sedang terjadi padaku. Tanpa basa basi beliau mengatakan jika beberapa bulan yang lalu ada tim SAR yang tengah mencari seorang pendaki perempuan.
Menurut informasi dari Pak Danu, ada seorang gadis yang menghilang sudah 5 bulan, ketika melakukan pendakian. Gadis tersebut terpisah dari anggota yang lain.
Ayahnya yang bernama Pak Bimo juga ikut mencari nya.
Mendengar nama yang sama dengan nama ayah ku, aku menanyakan nama gadis yang hilang tersebut.
Pak Danu mengatakan jika tidak salah gadis itu bernama Zanetta, siswi kelas 2 di sebuah SMA Negeri ternama di kota XX.
Aku hampir tak percaya dibuat nya, bagaimana mungkin aku telah menghilang selama 5 bulan, sedangkan aku sendiri masih 2 hari di gunung.
Dari awal pak Danu sudah menduga saat ia bertemu denganku. Aku adalah pendaki yang hilang tersebut. Pak Danu mengantarkan ku sampai pos pondokan, setelah itu beliau menitipkan ku pada rombongan yang selesai melakukan pendakian.
Tanpa banyak bercerita, karena aku sendiri juga masih bingung, aku ikuti saja mereka sampai tiba di pos pertama.
Singkat cerita aku melapor ke pos awal, jika aku pendaki yang hilang. Dan dengan berbaik hati, mereka mengantarkan ku pulang ke rumah.
Keluargaku sangat senang saat melihat ku telah kembali dalam keadaan baik-baik saja.
Namun ada satu hal yang membuatku bertanya-tanya.
Kenapa ayahku tidak membawaku hari itu juga, saat beliau tahu jika aku tersesat di dunia lain. Ayahku menjelaskan jika manusia tidak bisa sembarangan keluar masuk ke dunia yang bukan tempatnya.
Ayahku sudah bernegosiasi, dan mereka bersedia mengembalikan ku ke dunia nyata jika sudah waktunya.
Peristiwa aneh yang ku alami membuatku semakin penasaran. Aku bertekad akan menjadi penjelajah waktu. Aku terus belajar mengembangkan kemampuanku. Berharap suatu saat akan berguna bagi diriku dan orang lain.
TAMAT