Andai aku memiliki mesin waktu untuk memutar ulang waktu pasti aku ingin mengembalikan waktu disaat kita masih bersama
Jian Azalea salah satu mahasiswi populer di salah satu univ ternama di Indonesia selain populer dikalangan sesama mahasiswa/i tapi Jian juga terkenal dikalangan para dosen bahkan Jian sering mendapatkan tawaran untuk menjadi asdos namun selalu ditolaknya
Sifat nya ramah namun sedikit tertutup karena itulah Jian tidak banyak memiliki teman cukup dua saja yang menjadi teman disaat suka maupun duka
Mereka bertiga baru saling mengenal disaat mos walaupun ketiganya berbeda jurusan namun disaat ada waktu pasti mereka akan berkumpul seperti saat ini Jian, Sara, dan Mila sedang berada di kantin
"Akhirnya setelah tiga hari ngga ketemu kita ketemu juga"ucap Sara
"Bener tuh, gila sih semakin kesini tugas menggunung"timpal Mila
"Oh iya Ji nih aku mau bayar utang yang Minggu lalu sory baru bayar" Sara memberikan beberapa lembar uang kepada Jian
"Padahal kamu bisa transfer loh"
"Sakit hati aku kalau liat uang di rekening berkurang"ucap Sara mendramatis
Saat ketiganya asik mengobrol salah seorang senior cowok mendekat kearah meja yang ditempati Jian, Sara dan Mila
"Sory nih ganggu"suara sang senior membuat percakapan ketiganya berhenti
"Jian aku boleh pinjem catatan kelas Pak Yedi yang minggu lalu ngga? Waktu itu aku lagi ada seminar dibandung jadi ngga sempet masuk kelas--" senior itu menjeda ucapannya "kata Pak Yedi aku disuruh pinjam catatan kamu atau engga Aldo tapi dari pagi aku ngga ngeliat Aldo sama sekali"
"Ohh boleh kok kak, tapi aku lagi ngga bawa catatan nya. Mungkin ntar malam aku fotoin aja kali ya?"ucap Jian
"Boleh deh fotoin aja, kalau gitu aku minta no kamu ntar aku chat" akhirnya terjadilah tukar menukar no handphone
"Sip makasih ya Ji, ntar malam aku chat kalau gitu aku duluan ya ada kelas soalnya"
Sepeninggalan senior itu Mila langsung heboh
"Sumpah tu senior niat banget dapetin no kamu Jian sampe alasan minjen catetan segala"
"Siapa tau beneran dia ngga masuk" ujar Sara yang selalu positif thinking
"Udahlah biarin aja"ucap Jian
"Silahkan neng pesenannya"ujar salah seorang penjual makanan dikantin
"Berapa semuanya mang?"tanya Jian
"30ribu neng"
Jian membuka dompet dan memberikan selembar uang 50 ribuan "kembalian nya ambil aja ya mang"
"Waduh makasih banyak neng" setelah mengatakan itu sang penjual langsung pergi menuju tempat dagangannya
"Wah wah Jian foto siapa tu yang ada di dompet"goda Mila
Jian yang sadar langsung menutup dompet nya
"Mata kamu kalau liat cowok langsung jeli"ucap Jian
"Iyalah"ujar Mila bangga
"Eh liat dong fotonya Ji, aku ngga sempet liat tadi"ujar Sara
Jian menghela nafas lalu membuka kembali dompet dan mengambil sebuah foto dan memperlihatkan nya pada Sara dan Mila
"Wahh aura kamu kok beda banget sih Ji?"tanya Sara
"Masa sih?"
"Iya! Difoto ini kamu lebih ceria auranya jadi cerah gitu, sekarang aura kamu ngga secerah dulu dan kamu pendiam banget"jelas Sara
"Terus cowok ini siapa? Kayaknya kalian deket banget deh"tanya Mila
"Dia temanku yang paling berharga"ujar Jian dengan nada senang
5 tahun lalu
"Telat nih telat"ujar Jian sembari berlari menuju pintu pagar yang ingin ditutup
"Pak tunggu pak jangan ditutup dulu"teriak Jian
"Yaampun neng Jian tumben telat"ujar pak Ridwan selaku satpam sekolah
"Iya pak tadi nunggu angkot nya lama terus jalanan macet"
"Yaudah atuh neng cepetan kekelas biar dapet bangku emas"
Jian lupa kalau saat ini ia harus berburu kursi
"Gawat gawat" Jian berlari menuju kekelas nya saat berlari ponsel nya berdering
"Halo?"
"Jian kamu dimana??"
"Otw nih sisain bangku kosong dong"
"Sory ngga bisa Ji bisa di amuk masa aku"
"Sisa berapa bangku lagi?"
"Tiga cepetan lagian kamu tumben telat di hari pertama"
"Namanya juga manusia"
Saat tiba dikelasnya dengan nafas tersengal dan menatap sekeliling
Oh tidak batin Jian saat ia harus duduk disebelah seorang yang sangat dihindari oleh seluruh murid untuk duduk sebangku
Saat ingin berjalan kearah bangku yang tersisa Jian melewati bangku yang di duduki oleh Santi teman sekelas nya saat kelas 10 dulu dan orang yang menelpon tadi
"Sabar ya Ji, lagian segala telat dihari pertama sekolah"iba Santi
Jian hanya menghela nafas
Saat sudah duduk Jian merasa sangat canggung
Ini aku sapa ngga ya? Batin Jian bingung
Setelah bergelut dengan pikirannya akhirnya Jian memutuskan untuk menyapa
"Hai aku Jian, kelas kita sebelahan waktu kelas sepu-"
"Bisa diem ngga?"
Aura tidak bersahabat dipancarkan dari Saka teman sebangku Jian
"Emm oh oke" Jian memilih tidak melanjutkan sapaannya
"Huh sombong banget sih padahal aku cuman mau nyapa doang"
"Mentang mentang ganteng dia seenaknya"
"Lagian aku juga ngga tertarik sama muka gantengnya"
"Percuma ganteng kalau akhlaknya minus"
"Sabar Ji harus setahun duduk bareng"
Brak
"Kamu bisa diem ngga sih?!"ucap Saka sembari menggebrak meja
Karena suara gebrakan meja yang keras semua pasang mata dikelas langsung tertuju pada Saka dan Jian
"A-anu aku tadi ngomong sendiri"ucapan Jian membuat muka Saka memerah karena malu sudah sedangkan teman sekelas mereka tertawa karena jawaban polos Jian
"Dasar aneh" Saka memalingkan wajahnya kearah jendela
Haha dia malu ternyata batin Jian
Sudah seminggu Jian dan Saka duduk sebangku dan Jian merasa kalau Saka tidak seburuk gosip yang beredar
Buktinya saat ia kehabisan pulpen Saka memberinya pinjam dan saat pelajaran matematika yang sangat dibenci Jian Saja juga yang membantu nya
"Emm Ka aku mau tanya"
"Tanya aja"
Saat ini mereka sedang menunggu-- tidak lebih tepat nya Saka menemani Jian untuk menunggu jemputan dari sopir nya
"Kenapa gosip yang aku dengar ngga sesuai sama yang aku rasakan saat bareng kamu selama ini--" Jian menjeda ucapan nya lalu melanjutkan lagi "katanya kamu itu orangnya dingin ngga peduli sekitar dan aura kamu selalu suram, ah dan juga perkataan kamu tajam. Aku dengar kalau kamu menolak perempuan dengan kata kata yang sadis"
"Semua gosip yang kamu dengar semuanya benar"ungkap Saka
"Tapi kenapa sama aku kamu--"ucapan Jian terpotong karena ucapan Saka
"Karena aku nyaman sama kamu Jian" Saka meralat ucapannya "Tidak lebih tepatnya aku suka sama kamu Jian"
Jian yang mendapat pengakuan tiba tiba dari Saka merona ia bingung harus berkata apa
Saka yang menyadari kebingungan Jian berkata "Kamu ngga perlu jawab sekarang, tapi jangan lama lama ya"
Tin Tin
Untung saja jemputan Jian tiba tepat waktu jadi suasana canggung nya tidak berlangsung lama
Keesokan harinya Jian memutuskan untuk bersikap seperti biasa kepada Saka namun ia sedikit mejaga jarak dari obrolan yang lama
Jian takut jika Saka bertanya tentang pernyataan nya waktu itu tapi ternyata hari ini Saka tidak masuk sekolah dan kata wali kelas mereka Saka ijin
3 hari berlalu setelah pengakuan Saka 3 hari juga Saka tidak masuk sekolah dan selama 3 hari juga Jian tidak dapat kabar apapun tentang lelaki itu
Pesan yang Jian kirim tidak dibaca telfon juga tidak diangkat ada rasa khawatir di hati Jian
Saka kamu kemana sih batin Jian cemas
Sudah sebulan berlalu tanpa kehadiran Saka dikelas namun saat Jian bertanya mengenai Saka kepada wali kelasnya ia tidak mendapatkan jawaban apapun wali kelasnya selalu menjawab Saka sedang ada urusan penting
Malam hari saat Jian tengah mengerjakan tugas dering telpon mengalihkan perhatian Jian dari tugas ke handphone miliknya
Tertera nama Saka dilayar handphone tak membuang waktu Jian mengangkat telpon itu
"Kamu kemana aja?! Kenapa ngga pernah ngasih kabar?! Aku khawatir tau!!"ucap Jian marah dan suaranya sedikit terisak karena menangis
"Maaf maaf aku lagi sibuk"
Mendengar jawaban Saka Jian berdecih
"Kapan kamu sekolah lagi?"
"Aku mau secepatnya"
"Jawabannya ngga jelas gitu sih"
Saka tertawa padahal tidak ada yang lucu
"Maaf ya Jian aku akan berusaha untuk balik dan ketemu kamu"
"Saka mengenai pernyataan kamu sebelumnya, aku--"ucapan Jian terhenti karena Saka memotong ucapan nya
"Aku mau denger langsung saat kita tatap muka Jian kalau aku bisa" tiga kata terakhir Saka ucapkan dengan lirih sehingga Jian tidak mendengar begitu jelas
"Saka aku bakal tunggu kamu, jangan lama lama pergi nya"
"Iya"
Setelah telfon mati Jian langsung menuju ketempat tidurnya dan berniat langsung tidur tugas yang tadi ia kerjakan tertinggal begitu saja
Ngerjain tugasnya besok aja deh lagian besok Minggu ini
Keesokan paginya Jian menjadi sangat rajin membantu memasak untuk sarapan menyiram tanaman membersihkan kamar semua hal produktif ia lakukan di hari itu
Namun saat malam tiba hati nya merasa gelisah Jian tak tahu kenapa ia merasa begitu
Jian memaksakan untuk tidur tapi tidak bisa hingga akhirnya iya baru bisa tertidur saat pukul 2 pagi
Karena semalam Jian tidur terlalu larut paginya ia jadi kesiangan untuk sekolah
"Pak Ridwan tunggu pak"teriak Jian
"Si eneng telat lagi"
"Maap pak maap"
Jian berhenti sejenak setelah berhasil masuk gerbang nafasnya tersengal senggal
"Pak Jian numpang duduk bentaran ya"
"Haduh si eneng ada ada aja, yaudah 5 menit aja 15 menit lagi upacara"
Jian tak menjawab dengan ucapan melainkan dengan anggukan
Saat masih menetralkan nafasnya tiba tiba ada seseorang yang berdiri di depan Jian
"Kamu Jian kan?"tanya orang itu
Jian yang merasa terpanggil mendongak
"I-iya, maaf anda siapa ya?"
"Bisa kita bicara sebentar?"
"Emm tapi saya harus ikut upacara"
"Saya akan minta ijin kepada guru mu"
"Oke kalau gitu"
Jian berjalan mengikuti orang itu ketaman belakang sekolah
"Perkenalkan nama saya Audi saya adalah kakaknya Saka"
Mendengar nama Saka disebut Jian mematung
"Kamu Jian kan? Saka sering banget cerita tentang kamu loh"
Audi tersenyum
"Kata Saka kamu cerewet banget terus juga selalu ceria, kalau deket kamu siapapun bisa dapet energi dari aura kamu"
"Saka juga bilang kamu sudah seperti matahari didalam hidupnya"
Jian masih tetap diam entah mengapa perasaannya tak enak
"Jian"panggil Audi
Jian yang menunduk ketika dipanggil mendongak
"Terimakasih sudah menjadi penyemangat Saka selama ini"
Jian tersentak saat melihat Audi menangis tanpa terasa Jian pun ikut meneteskan air mata
"Jian sekali lagi terimakasih sudah menjadi teman dan penyemangat Saka"
Setelah sekian lama diam Jian pun bertanya dengan terisak "Saka dia dimana?"
"Dia baik baik aja kan?"
"Kenapa perasaan Jian ngga enak"
"Kak Audi jawab Jian Saka kemana selama ini?"
Audi tersenyum lalu memeluk Jian tak lama Audi melepas pelukannya lalu berdiri
"Ayo kamu ikut aku"ucap Audi mengajak Jian kesuatu tempat
Sudah tidak peduli dengan sekolah Jian ikut begitu saja dengan Audi
Saat sudah sampai tujuan dan turun dari mobil mata Jian membulat dada nya bergemuruh air matanya berlinang deras kakinya terasa lemas namun ia paksakan untuk berjalan mengikuti Audi
"Saka aku bawa apa yang kamu mau dek"Audi menghapus air matanya "Silahkan kamu ngobrol sama Saka Jian, aku akan tunggu dimobil"
Jian masih terpaku melihat gundukan tanah bertulisan Saka Angkasa Raya terlihat tanahnya masih basah dan baru
Tidak kuat lagi menahan kakinya akhirnya Jian jatuh dan menangis sekencang kencangnya
"Kenapa?!"
"Kenapa kamu ninggalin aku!!"
"Saka kamu bilang kamu mau ketemu aku!!!"
"Katanya kamu mau denger jawaban aku!!"
"Tapi kenapa?!"
"Kenapa kamu pergi Saka?!"
Tak bisa berkata apa apa lagi Jian hanya menangis
Cukup lama Jian berada di makam dan hanya menangis Audi menghampiri Jian karena langit sudah mendung
"Jian ayo kita pulang"
Badan Jian yang lemas hanya bisa mengikuti Audi
"Rumah kamu dimana? Biar aku anter"
Jian menyebutkan alamatnya
"Terimakasih Kak aku masuk dulu" Jian yang ingin keluar mobil dihentikan oleh Audi
"Tunggu" Audi mengambil sesuatu lalu memberikan nya kepada Jian
"Ini apa Kak?"tanya Jian bingung
"Ambil dan bukalah nanti"
Jian mengucapkan terimakasih sekali lagi lalu keluar dari mobil Audi
Didalam rumah nya mama Jian heran kenapa Jian sudah pulang jam segini
"Ji kamu kok udah pulang?"
"Jian ngga enak badan ma, mau istirahat sebentar"
Dikamar Jian membuka sebuah kotak yang tadi diberikan Audi ternyata ada sebuah surat dan sepak pulpen
Jian kembali menangis dan membuka Surat secara perlahan
Dear Jian
Maaf Ji kalau kamu baca surat ini berarti aku ngga bisa nepatin janji kita untuk ketemu. Jangan marah sama aku ya Ji aku juga ngga mau kayak gini, sebagai permintaan maaf aku aku bakal cerita kenapa aku menghilang selama ini kenapa sikap aku selalu dingin dan cuek. Alasannya karena aku punya penyakit kanker otak Ji, aku dingin kesemua orang karena ngga mau memiliki hubungan yang bisa membuat aku tersiksa karena harus meninggalkan hubungan itu. Aku mencoba hidup sendiri supaya jika aku pergi ngga ada yang merasa kehilangan aku pun pergi nya tenang, tapi saat ketemu sama kamu sangat sulit untuk tidak menjalin sebuah hubungan. Kamu seperti matahari yang dikelilingi planet planet aku salah satu dari planet itu. Jian makasih untuk semua kenangan waktu yang udah kita habiskan bersama, jangan pernah benci aku ya Ji aku sayang banget sama kamu dan aku harap kamu juga punya rasa yang sama. Jian walaupun aku pergi kamu harus bahagia ya? Kamu janji sama aku dan harus kamu tepati. Ji jujur aku udah bahagia disini aku udah ngga akan merasa sakit lagi aku harap kamu juga begitu jangan merasa sakit ketika kehilangan aku. Carilah kebahagiaan kamu sendiri Jian aku akan selalu berharap yang terbaik untuk mu. Ji aku harap kamu tetap menjadi Jian yang aku kenal aku senang banget bisa kenal kamu dan terimakasih udah mau temenan sama orang yang dingin dan cuek kayak aku. Udah ya Ji aku bingung mau nulis apalagi oh iya sebagai bonus untuk permintaan maaf aku kasih pulpen sepak biar kalau habjs kamu kamu ngga perlu bingung mau minjem kesiapa kalau engga ada aku nanti terakhir i love you more than you can imagine
Saka
"Love you too" ucap Jian setelah membaca surat dari Sama
.
.
.
"Jadi cowok yang difoto ini Saka"
"Hiks hiks maap Ji kita hiks ngga tau kalau hiks ceritanya hiks bakal sedih kayak gitu"ucap Mila dengan terisak
"Aku yakin Saka pasti bahagia ngeliat kamu sekarang udah bisa senyum, pasti sulit kan Ji?"tanya Sara
"Yah awalnya sulit tapi sekarang aku udah beneran ngga apa apa kok"
"Tenang aja Ji aku sama Sara pasti akan selalu menghibur kamu!!"ucap Mila semangat
"Makasih ya kalian berdua"
Saka kamu liat kan? Aku bahagia disini dan aku selalu berharap kamu jauh lebih bahagia dari pada aku disana dan Saka you are my amazing first love remember that
The end