Apa kau percaya tentang adanya makhluk lain di daratan selain manusia, hewan dan tumbuhan? Contohnya, hantu.
Awalnya aku tak percaya bahwa aku bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Setelah sadar dari masa kritis karena kecelakaan besar, aku bisa melihat mereka semua dengan bentuk yang sangat menyeramkan. Kecuali, satu hantu tampan yang bernama Alex.
Hantu tampan itu baru saja meninggal beberapa hari yang lalu karena kecelakaan di tempat kerja. Kemeja putihnya di penuhi banyak darah. Walau pun wajahnya terlihat seputih kapas, ketampanannya tetap terpancar. Sepertinya semasa hidup ia adalah pria kaya raya, terlihat dari sebuah jam tangan rolex yang melingkar dipergelangan tangannya.
Dia sangat senang saat tahu bahwa aku bisa melihatnya dan mulai saat itu juga ia mengikuti kemana pun aku pergi, termasuk ke toilet wanita! Dasar hantu mesum!
Terkadang orang-orang melihat ku aneh karena berbicara sendiri. Padahal aku punya teman selain manusia.
Seminggu berlalu Alex bersama ku, banyak sudah cerita tentang hidupnya yang ku ketahui, begitu juga sebaliknya. Semenjak bertemu Alex aku menyadari bahwa tak semua hantu itu jahat dan menyeramkan.
"Boleh aku bertanya?"
"Tentu saja boleh."
"Apakah kau tidak mempunyai pacar?"
Pertanyaan macam apa itu? Apa dia sengaja ingin meledek ku? Dengan wajah cemberut aku menggeleng.
"Aku masih tak menyangka, wanita secantik mu belum memiliki pasangan." Alex memuji sambil menatap ke arahku.
Aku berdiri dari tempat duduk dan melangkah meninggalkan Alex yang kembali sibuk memperhatikan seorang wanita yang berada di seberang sana. Cemburu? Entahlah, aku merasa sedikit kesal jika ia melihat perempuan lain dan memuji perempuan lain di hadapan ku.
"Hai Gi!" sapa seorang pria yang sangat ku kenal.
"Hai," balas ku.
"Sendirian saja?"
Aku mengangguk sambil tersenyum padanya.
"Jadi kau tidak menganggap ku?" ucap Alex yang kini sudah berada di samping ku.
Apa dia gila? Mana mungkin aku menjawab bahwa aku sedang berdua bersama hantu. Yang ada, aku akan di nilai gila oleh pria yang ada di hadapan ku saat ini.
Sebentar, mengapa Leo bisa berada di sini? Bukankah ia sudah menikah dan tinggal memilih tinggal di London dari pada di Indonesia?
"Sudah lama kita tidak bertemu. Gimana kabar mu Gi? Tanyanya lagi.
"Baik kok Le, kamu sendiri gimana?"
"Syukurlah kalau baik-baik saja, kalau kabar ku, kurang baik Gi."
Senyum yang sangat dipaksakan. Bisa ku lihat dari wajah Leo yang sepertinya tampak menyimpan banyak beban.
"Ayo pergi!" Ajak Alex.
"Bisa sabar tidak?"
"Kenapa Gi?"
"Oh, nggak kok. Aku duluan ya Le."
Gara-gara Alex aku harus terlihat seperti orang idiot. Dari pada aku semakin emosi karena suara Alex lebih baik aku pulang saja.
"Sebentar Gi, boleh aku meminta kontak mu? Siapa tahu next time kita bisa nyantai bareng."
Dengan senang hati aku mengetik nomorku diponsel Leo. Tidak ada salahnya bukan hanya bertukar kontak saja.
***
[30 hari bersama]
Seiring berjalannya waktu aku mulai merasa nyaman dengan sosok Alex yang hadir di kehidupan ku. Aku tahu itu tak wajar, tetapi aku tak bisa membohongi perasaan ku pada hantu itu.
"Giana! Aku menyukai mu!"
Wow! Alex yang tiba-tiba muncul bagaikan setan membuat ku hampir jantungan. Memang setan sih, tapi setidaknya ia bisa muncul dengan cara yang lebih baik. Aku tambah shock saat mendengar kalimat yang baru saja ia ucapkan. Apa hantu tampan itu bisa membaca pikiran ku?
"Kamu sakit?"
"Hei cantik, sejak kapan hantu bisa sakit?"
Alex menjitak kepala ku dengan keras agar aku sadar atas apa yang baru saja ku ucapkan.
Tapi, apa mungkin aku bisa mempunyai hubungan asmara bersama hantu layaknya seperti menjalin hubungan bersama manusia?
"Jujur gi, semenjak aku bertemu dengan mu, aku merasa nyaman dan nyambung. Kamu adalah sosok wanita yang sangat mengerti aku gi."
Ya iya lah, secara cuma aku yang bisa melihat mu Alex! Kalau pun aku tak bisa melihat mu, mana mungkin kau akan jatuh cinta pada ku. Tapi, jika hantu itu mau, dia bisa saja menjalin hubungan bersama hantu lain, namun ia tetap memilih ku karena ia merasa nyaman dengan ku.
Alex duduk di sebelah ku sambil menunggu jawaban yang akan ku berikan. Aku binggung apa aku bisa menjalin hubungan bersamanya?
"Menurut mu, apakah kita bisa menjalin hubungan asmara?"
"Kenapa tidak?"
Alex kembali bertanya tanpa memberi jawaban dari pertanyaan ku. Jujur saja, aku juga merasa sangat nyaman jika berada didekatnya. Ia selalu ada disaat apa pun.
"Boleh aku mencium mu?"
"Memangnya bisa?" tanya ku heran.
"Jika aku bisa menyentuh mu dan memeluk mu, harusnya aku juga bisa mencium mu."
Aku lupa bahwa hantu itu pernah memeluk ku beberapa kali saat sedang merasakan sedih. Tetapi, aku tak yakin jika ia bisa mencium ku.
Bibir Alex mulai mendekat, hingga hanya tersisa jarak satu senti diantara kami berdua.
Ku rasakan hangatnya bibir Alex saat menempel di bibir ku. Ia memegang wajah ku seolah-olah tak ingin melepaskan ciuman panas itu. Aku sama sekali tak bisa menolak.
"Giana?"
Suara mama menyadarkan ku dan sontak membuat ku terkejut luar biasa. Dengan segera aku mendorong Alex menjauh.
"Em, ma, aku bisa jelasin."
"Hah? Jelasin apa? Mama cuma mau bilang, kalau mama mau pergi dulu sama papa. Makanan sudah siap di atas meja. Mama duluan ya gi! Jaga rumah, jangan aneh-aneh!" Jelas mama sebelum meninggalkan kamar ku.
Astaga, aku hampir saja lupa bahwa Alex adalah hantu, jadi mana mungkin mama bisa melihatnya.
"Salah tingkah?"
Alex meledek ku sehingga membuat pipi ku merah karena tersipu malu. Bagaimana tidak? Ini pertama kalinya di dalam sejarah aku berciuman bersama hantu tampan!
***
Sejak ciuman pada malam itu, Alex sama sekali tak pernah menampakkan wujudnya lagi. Sudah hampir seminggu aku tak bertemu dengannya. Entah karena aku yang sudah tak bisa melihatnya atau karena dirinya yang memang entah hilang kemana.
Aku merasakan galau yang sangat luar biasa karena hantu itu. Bahkan sudah dua hari aku tak nafsu makan karena dirinya.
"Hai Giana! Akhirnya kita bertemu lagi!"
Aku mendongak saat mendengar suara Leo yang kini sudah berada di hadapan ku.
"Hai," Jawab ku tak bersemangat.
"Ternyata kamu masih sering datang ke tempat ini." lanjutnya.
Cafe ini adalah salah satu saksi cinta ku bersama Leo pada beberapa tahun yang lalu. Namun, aku berada disini bukan karena belum move on melainkan memang minuman di cafe ini sangat cocok dengan lidah ku.
"Gi, sejak awal ketemu kamu lagi, aku rasa itu adalah sebuah takdir. Jujur, aku senang karena bisa bertemu dengan mu."
Aku tak peduli dengan omongan Leo yang semakin menjadi-jadi itu. Aku tidak mempunyai perasaan apa pun lagi pada pria itu semenjak ia selingkuh dengan sahabat ku sendiri.
"Hai sayang!"
Suara itu membuat ku spontan menoleh ke arah kanan. Yang benar saja! Itu Alex! Tapi mengapa penampilannya berbeda hari ini?
"Halo, perkenalkan saya Alex pacarnya Giana."
Aku melotot tak percaya, Alex menyapa Leo dan Leo bisa melihatnya. Bagaimana ini bisa terjadi?
"Awww, tangan ku sakit." jerit Alex.
"Bagaimana bisa Leo melihat mu?"
"Hahahah, tentu saja bisa."
Alex memanggil seorang wanita yang baru saja lewat dan yang benar saja, wanita itu menoleh ke arahnya dan berbicara kepada hantu.
"Mengapa setelah hilang beberapa hari, kini kamu bisa menjadi manusia lagi?"
"Aku berhasil melewati masa terberat dalam hidup ku Giana. Aku terbaring dirumah sakit hampir dua bulan tak sadarkan diri dan berkat mu, aku bisa kembali ke tubuh ku!"
"OH MY GHOST!"
"Terima kasih bidadari ku! I love you!"
Alex mencium ku di tempat umum sehingga kejadian memalukan itu menyita banyak perhatian orang-orang di sekitar.