Musim semi kembali tiba, lagi - lagi aku seperti orang bodoh yang terus menunggu dia datang.
Aku tidak tahu, apakah ia masih hidup? Kami tak pernah bertukar kabar sama sekali.
Oh Kasihku, apa engkau masih mengingatku?
"Sarah!" panggil seseorang.
"Liam?"
"Bukan, aku Bayu sahabatmu," ucap orang itu.
Aku kembali termenung, dada ini rasanya sesak sekali.
"Bayu, apa Liam sudah tidak mengingatku?"
"Tidak mungkin begitu, Liam adalah orang yang paling mencintaimu, dia pasti mengingatmu," ucap Bayu.
Aku yakin ia berbohong, Liam pasti melupakanku. Ia tidak mencintaiku, dan bodohnya aku berusaha menyangkal.
Ia meninggalkanku, sejak kecelakaan itu.
Kecelakaan 5 tahun lalu, di mana aku dan dia akan segera menikah, namun tiba - tiba rem mobil kami blong. Pernikahan itu gagal.
Pecahan kaca mobil itu masuk ke dalam mataku, hal fatal yang mengakibatkan aku buta.
Ia meninggalkanku saat itu, ia pergi begitu saja tanpa berpamitan, dan menitipkanku pada orang asing, orang asing yang kini menjadi sahabatku.
"Bayu, apa benar Liam bilang akan menemuiku saat musim semi tiba?" tanyaku lirih.
Aku dapat mendengar helaan nafas orang itu, ia menggenggam tanganku.
"Apa kau tidak percaya padaku?" tanyanya sendu.
Aku segera menggeleng, Bayu adalah orang baik, dia yang merawatku saat sang yatim piatu ini di campakan oleh ke kasihnya.
"Bukan begitu, hanya saja ...."
"Sebaiknya kita masuk, aku tidak ingin kau kelelahan," ucapnya mengalihkan pembicaraan.
Aku mengangguk dengan berat hati.
****
Malam ini, aku tidur dengan gelisah. Hawa malam ini terasa sangat panas.
"Bayu?" panggilku.
Tak ada sahutan, sepertinya Bayu sudah tidur di kamarnya.
Aku mulai melangkah secara perlahan meraba benda di sekitar.
Tanganku terhenti saat memegang sebuah benda yang tak asing. Ponsel?
Selama hidup dengan Bayu aku tak pernah di izinkan memiliki ponsel, jangankan memiliki, hanya memegangpun di larang. Aku tak tahu alasannya, tapi aku tak peduli.
Aku mulai meraba - raba ponsel yang aku duga merk n*kia itu, aku masih mengingat jelas letak - letak tombolnya, walau sudah 5 tahun aku tak menggunakannya.
Apa ponsel ini masih menyala? Apa ada pulsanya?
Aku teringat nomor Liam, apa Aku coba menghubungi lelaki yang kurindukan selama ini?
Dengan meraba pelan, aku menekan tombol demi tombol, dan akhirnya ponsel itu tersambung dengan sebuah panggilan.
Tanganku gemetar saat mendengar suara di sebrang sana.
"Ha-hallo, Liam?"
"Si-siapa kau? Sa-sarah, apa kau sarah?" tanyanya di sebrang sana.
"Iya, aku Sa—"
Brak!
"Siapa yang sedang kau hubungi Sarah?!" Suara dingin itu membuat tubuhku menegang.
Untuk pertama kalinya aku merasa takut pada pria itu.
"Ba-bayu?"
Bugh!
*****
Sayup - sayup kesadaranku mulai kembali, aku mendengar suara kendaraan di sekitarnya, ada di mana ia sekarang?
Aku yakin aku berada di dalam mobil Bayu, tapi kemana lelaki itu, mobil ini tak terasa bergerak, sepertinya sedang menepi?
"Bayu?" panggilku memastikan apa lelaki itu ada disini?
Tak ada jawaban, Aku yakin ia tak ada di sini. Apa yang terjadi semalam?
Perlahan aku mulai merana pintu mobil berusaha membukanya. Dan yah! Aku berhasil.
Aku berjalan dengan tergesa - gesa sembari asal meraba sekitar.
Untuk sementara aku harus menjauh dari Bayu, lelaki itu mencurigakan.
Brak!
"Ma-maaf," ucapku saat sadar menabrak seseorang.
"Sa-sarah?"
Deg!
Suara ini?
"Liam?"
Lelaki itu segera memapahku berdiri kemudian memelukku begitu erat, aku membalas pelukannya tak kalah erat, penantianku selama ini ....
"Kau pergi kemana saja sayang? Aku mencarimu selama ini, setelah bangun dari koma, dokter mengatakan bahwa kau menghilang, kau di culik!"