JUDUL : LOVE RAIN.
NAMA PENA : INTANI W.
Dibalik selimut dengan perasaan sendunya, Alfi menggigil. Ia seakan mati dalam rasa takutnya sendiri. Terdengar suara rintik hujan dengan petir yang suaranya menggelegar, seakan ingin menyambar dirinya sendiri.
Saat ini Alfi sedang sendirian di rumah, karena Adiknya sedang bekerja sebagai kasir di supermarket. Suara ketukan hebat, tiba-tiba terdengar dari balik pintu.
"Kakak, buka pintunya!" Suara keras Dilla adik satu-satunya Alfi.
Secepat kilat, Alfi meloncat dari tempat tidurnya dengan tergesa-gesa membuka pintu. Dilihatnya, Dilla yang tersenyum memperlihatkan gigi kelinci ke kakaknya dengan memperlihatkan bungkusan makanan yang di bawanya.
"Ayo, kak Alfi. Kita makan bersama, pasti kakak lapar." Ajak Dilla kepada Alfi kakaknya.
Alfi tersenyum sambil mengacak puncak rambut Dilla, kemudian menerima bungkusan makanan yang dibawa Dilla.
Sebagai Kakak yang baik Alfi memindahkan makanan yang dibawa Dilla ke mangkuk, beserta menyiapkan minuman hangat untuk dinikmati bersama. Meskipun, sebenarnya Alfi masih khawatir dengan suara rintikan hujan dari luar ruangan yang belum berhenti. Tetapi, Ia pelan - pelan berusaha menghilangkan rasa takutnya karena tidak ingin melihat Dilla semakin cemas dengan kondisinya.
Sebenarnya, Alfi belum menceritakan semua penyebab traumanya. Ia hanya mengatakan takut dengan hujan dan petir tanpa alasan. Nyali Alfi juga ciut untuk bercerita semuanya kepada Dilla.
Dilla selesai mengganti pakaiannya di kamar. Kemudian, Ia menghampiri kakaknya yang tengah duduk merenung, "Kak, Ayo kita makan."
Tersadar dari lamunannya, kata Alfi, "Iya dek."
Perlahan mereka menyantap makanan bersama sampai selesai.
"Kak, Bagaimana pekerjaan kakak, lancar atau ada kendala?" tanya Dilla.
"Alhamdulilah, lancar semua, Dek."
"Bagaimana dengan kondisi kakak?Apakah sudah membaik?" tanya Dilla kedua kalinya.
Bibir Alfi terasa kaku, Ia seakan berlari, kemudian tersandung batu. Seakan kesedihan dan ketakutan yang selama ini dipendam membuat air matanya ingin terjatuh.
"Kenapa Kakak diam saja?" tanya Dilla yang ingin tahu keadaan Kakaknya.
"Ti-tidak, dek. Aku baik-baik saja."
"Benar ya, Kak? Jangan sampai berbohong kepadaku ya, Kak."
"Iya dek."
Rasa bersalah muncul kembali, Alfi merasa dirinya sangat munafik, menyimpan semua memori kelam sendiri. Tangannya sekarang basah, hatinya juga masih belum bisa menerima kenyataan yang sudah terjadi. Tidak lama, Dilla pamit beristirahat ke kamarnya. Alfi mengiyakan bersegera membersihkan mangkuk bekas makanan.
***
Hawa dingin terasa menusuk ke sum-sum tulang. Alfi terbangun dari tidurnya pukul sembilan pagi. Ia pun bergegas membersihkan diri dan tempat tidurnya.
Alfi yang sudah bersiap beraktivitas bekerja, menyempatkan membuat makanan pengganjal roti yang ia balut dengan selai coklat kacang. Tidak sengaja ia melihat kertas kecil yang tertempel di lemari es dekat meja makan dari Dilla.
Dilla menuliskan ucapan semangat untuk dirinya ditambah dengan gambar senyuman lebar yang Dilla tulis. Kebiasaan Dilla selalu tidak pernah luntur menyemangati Alfi disetiap waktu.
Ia pun bersemangat berusaha untuk melawan rasa takutnya. Kemudian, Alfi bergegas berangkat bekerja.
Sampai di Caffe tempat Alfi bekerja, Ia pun melihat kinerja karyawatinya yang bekerja di tempatnya. Satu persatu Ia cek, kebersihan ruangan, bahan-bahan yang telah habis, dan lain-lainnya.
Setelah dirasa sudah sesuai, Ia beristirahat sejenak, duduk serta melihat pemandangan dari dalam ruangan.
"Pak Alfi?! Silahkan menikmati kopi capuccinonya," kata salah satu Karyawati yang bekerja dengannya.
"Oh, iya. Terima kasih, Sintia," lirih Alfi.
"Sama-sama pak."Sintia kembali bekerja lagi.
Alfi menikmati minumannya, sesekali memandang kaca yang terlihat pemandangan dari luar ruangan. Jarum jam terus berjalan, pelanggan silih berganti, masuk keluar ruangan. Ia merenung, wajahnya muram, pikirannya kosong, bola matanya tak bergerak memandang kaca yang terlihat bayangannya sendiri.
Tanpa disadari seseorang duduk dihadapan Alfi.
"Rekaman masa lalu boleh saja diputar. Tapi, jangan terlalu sering," ucap gadis bermata sipit, dengan senyuman cerianya.
Alfi yang tengah termenung menoleh ke suara gadis yang tengah tersenyum melihatnya.
"Apa maksutmu tadi?" timpal Alfi meminta kejelasan.
"Lupakan saja. Kamu terlalu fokus dengan masa lalumu," jawab Gadis yang telah membuang wajahnya ke arah lain seraya menghabiskan minuman dinginnya.
Alfi terperanjat tidak mempedulikan ungkapan gadis yang duduk dihadapannya, Ia lebih memilih untuk kembali beraktivitas.
***
Hujan turun kembali, membuat kekhawatirannya muncul lagi. Alfi tengah melayani pembeli, dalam hatinya bergumam, "Bagaimana ini sekarang turun hujan? Aku lupa tidak membawa payung."
Ia tersenyum, setelah melayani pembeli. Sebenarnya hatinya masih gusar, pandangannya kembali ke dinding kaca caffe miliknya. Karena hari ini hujan semakin turun deras.
Tiba-tiba saja Alfi penasaran dengan keberadaan gadis yang tadi menghampirinya. Gadis itu masih berada ditempat duduk yang sama. Ia sedang fokus dengan buku ditangan kanannya.
"Pak Alfi, Saya pamit pulang, waktunya saya ganti shift," ucap Sintia salah satu karyawati di tempatnya bekerja.
"Iya, hati-hati di jalan."
Setelah Sintia pergi, Ia memberanikan diri kembali duduk dihadapan gadis itu.
"Bagaimana kamu bisa tahu apa yang aku pikirkan?" Alfi yang telah duduk melayangkan pertanyaan kepada Gadis itu.
Gadis itu tersenyum. Kemudian, menutup bukunya.
"Cobalah untuk mengikhlaskan apa yang sudah terjadi. Aku pergi duluan."
Gadis itu pamit kepada Alfi. Alfi merasa ada kepingan memori yang belum terjawab. Seakan, gadis itu sudah mengenal Alfi sejak lama.
"Siapa gadis itu?"gumam Alfi.
Alfi melihat Gadis itu sudah tidak terlihat lagi di Caffe. Penuh tanda tanya, seseorang yang baru saja bertemu, sudah mengetahui isi pikiran.
***
Hujan turun dengan derasnya, membuat Alfi menunggu hujan reda. Pikirannya gelisah, karna hujan belum berhenti juga.
Ia memutuskan untuk kembali ke rumah, tanpa payung, karena sudah terlalu larut. Meskipun Caffenya belum tutup.
"Nad, Saya pulang dulu, ya?" kata Alfi kepada Nadia yang tengah sibuk membersihkan meja.
"Iya pak, hati-hati. Bapak bawa pa--?" Perkataan Nadia terhenti karena Pak Alfi sudah pergi.
Alfi berlari melawan hujan, Ia tidak peduli dengan semua masa lalunya, akan tetapi, rongga dadanya terasa sesak, memori masa lalu berputar dengan sendirinya. Ia berhenti sejenak dan merunduk mengeluarkan air mata sepuasnya dibawah hujan.
Kejadian menyakitkan kehilangan Papa, sedangkan Mama yang kondisi hamil besar luka parah, disaat hujan turun. Kondisi mobil rusak, karena truk yang melebihi muatan menabrak mobil yang Alfi tumpangi. Alfi tidak sadarkan diri, kemudian Ia terbangun melihat Ayah dan Mamanya dalam kondisi terluka ditambah dengan hujan deras petir.
Tanpa salam, Seseorang datang menghampiri Alfi. Alfi yang sadar hanya terdiam memandangnya.
Gadis bermata sipit dengan ekspresinya yang datar melihat Alfi.
"Apa yang sedang kamu lakukan? Kamu berniat bunuh diri?! Jangan menangis seperti itu?! Kamu benar-benar pintar menyembunyikan tangisanmu dibawah hujan! Setiap permasalahan ada solusinya, dan yang bisa mengatasi semuanya, diri sendiri bukan orang lain."
"Kenapa?!Apa Masalahmu?!"ucap Alfi tidak terima.
"Jangan membentakku seperti itu ! Harusnya kamu makasih kepadaku! Ini terima payungku, jangan lupa dipakai!
Gadis itu langsung pergi, tanpa mengajak Alfi pulang bersama.
Alfi benar-benar seperti tersambar petir ketika mendengar ungkapan dari Gadis yang baru dikenalnya. Tanpa ragu, Ia pun bergegas ke rumah memakai payung pemberiannya.
Setelah sampai di rumah. Alfi langsung ke kamr untuk mandi, mengganti pakaiannya yang nyaman dan rapi.
Sedangkan, Dilla tengah fokus dengan bukunya di ruang tamu.
Alfi yang telah membersihkan diri, berniat untuk mengatakan semuanya kepada Dilla. Ia percaya bahwa semua akan baik-baik saja. Jika, Ia jujur kepada Adiknya.
"Dek… !"
Dilla menoleh ke arah kakaknya yang akan menghampirinya.
"Iya, ada apa, Kak?!"
"Kakak ingin bercerita kepadamu."
Dilla terkejut mendengar ucapan kakaknya yang selama tidak pernah mengajaknya berbincang bersama.
"HA?! I-iya kak. Boleh kak."
Pancaran antusias dari Dilla sangat terlihat, Bagaimana tidak selama ini Dilla khawatir terhadap kakaknya yang terlihat tidak menghiraukannya, akhirnya terbayar lunas.
"Dek, sebenarnya Kakak trauma dengan kejadian yang pernah kakak alami, termasuk kehilangan Papa dan Mama saat mengandung kamu."
Dilla diam tanpa kata apapun, mendengarkan penjelasan dari Kakaknya.
"Kakak selalu takut dan teringat kejadian kecelakaan itu disaat hujan deras. Maafkan, Kakak ya, Dek. Kakak baru cerita sekarang."
Tiba-tiba Dilla memeluk kakaknya. Ia menangis sejadi-jadinya. Mengungkapkan rasa sedih yang dipendamnya juga selama ini.
"Dek, Mama tidak selamat, bukan karena kamu, dek. Tapi, sudah takdir mama dek. Kamu jangan sedih ya, dek. Maaf ya, dek. baru berani menjelaskan sekarang." Alfi mengelus punggung adiknya pelan.
"Kak, Ini bukan salah kakak. Dilla paham, kak. Kakak masih belum bisa menjelaskan sebab trauma kakak. Makasih kak, Kakak sudah berusaha cerita ke aku. Aku lega kak, kakak bisa cerita semuanya ke aku."
"Kamu juga jangan sedih ya, dek. Tenang, ada kakak dek."
Dilla mengiyakan perkataan kakaknya. Alfi dan Dilla saling menguatkan,kemudian melepaskan pelukan.
***
Keesokkan hari, Alfi sudah sampai di tempat kerja. Ia sudah membersihkan Caffe sebelum karyawan bekerja. Hari ini sangat berbeda dari sebelumnya, Ia lebih semangat dan sangat senang, akhirnya Ia bisa bercerita kepada adiknya.
Tidak disangka Gadis itu datang memesan Coklat hangat kepadanya. Alfi pun memberikan pesanannya. Kemudian, Gadis itu pun duduk ditempat favoritnya.
Sedangkan, Alfi dari jauh memandang gadis itu. Sebenarnya, Ia ingin menghampiri gadis bermata sipit dengan senyuman hangat, meskipun detak jantungnya sekarang tidak beraturan.
Alfi pun memberanikan dirinya mendekati Gadis yang tengah sibuk dengan laptop dan buku-buku.
"Permisi, Apa aku boleh duduk disini?" ucap Alfi.
"Silahkan," ucapnya singkat.
Gadis itu tengah sibuk, dengan serius tanpa menoleh atau pun mengucapkan sepatah kata.
"Makasih untuk sarannya waktu itu," ucap Alfi.
Gadis itu menghentikan aktivitasnya. Kemudian menoleh kepada Alfi dan berkata, "Iya, sama-sama. Akhirnya, kamu menyadari semuanya."
"Ba-bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Alfi terbata-bata.
"Karena aku pernah mengalami hal yang sama denganmu. Sedih boleh saja. Tapi, tidak baik kalau terlalu lama."
Alfi mengangguk dan melempar senyum kepada gadis yang tengah mengobrol dengannya. Kemudian, Alfi mengulurkan tangan, "Aku Alfi. Namamu siapa?"
Gadis bermata sipit tengah tersenyum,dan menjawab,"Namaku Mawar."
***