"Selamat siang, bu! Aku pulang!", suaraku menggema di seluruh ruangan. Aku baru saja pulang sekolah dan kini sedang melepas ikatan sepatuku.
"Halo, sayang. Bagaimana sekolahmu hari ini?", ibu yang baru saja keluar dari dapur langsung menghampiriku. Bisa kucium aroma masakan enak yang sedang ibu masak di sana. Perutku berbunyi lapar.
"Haha, cepat ganti bajumu. Ibu akan menyiapkan makan siang sebentar lagi. Oh ya, jangan lupa cuci tangan ya.. ", beliau berbalik menuju dapur. Bisa kulihat betapa lelahnya ibu mengurus semua hal ini. Dan aku mengerti, ini semua ibu lakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami.
"Haah, bagaimana rasanya ya menjadi sibuk?"
Yah, benar. Aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya sibuk dan punya urusan pribadi. Yang selama ini kujalani di sekolah hanya kegiatan - kegiatan yang santai dan membosankan. Aku harap aku bisa punya petualangan sendiri. Bagaimanapun juga, aku sangat ingin punya kesibukan sendiri.
Setelah tiba di kamarku, aku merebahkan tubuhku lalu melempar tas ranselku ke pinggir tempat tidur.
"Uaahhh, apa aku mungkinkah bisa merasakan rasanya sibuk?", aku mulai bergelut dengan rasa kantukku. Mulutku terbuka lebar, menguap panjang.
"Hmm, mungkin saat dewasa aku akan menjadi orang kantoran yang sibuk seperti ayah. Atau menjadi ibu rumah tangga yang sibuk seperti ibu..", aku mengangguk dalam khayalanku. Bisa kubayangkan diriku memegang pena mengkilap, duduk di sebuah ruangan penuh berkas. Memandang keindahan di luar lewat jendela dan mengurus dokumen - dokumen penting. Sepertinya menyenangkan.
Aku menutup mataku, mencoba membayangkan lebih jauh. Hingga akhirnya aku tenggelam dan tidak menyadari bahwa kini aku tidak sadar.
Dalam mimpiku, aku melihat sebuah ruangan gelap. Saat kunyalakan lampunya, ruangan itu ternyata cukup sempit. Ada berbagai berkas aneh seperti bayanganku tentang perkantoran.
"Apa aku akan menjadi pekerja kantoran?", aku berujar di ruangan itu. Di ujung ruangan, ada sebuah pintu besi. Pintu itu membuatku penasaran, seberapa jauh aku bisa mengelilingi dunia khayalanku. Akhirnya, kuputuskan untuk menarik kenop pintu hingga terbuka dan menampilkan puluhan orang - orang yang berlaku - lalang.
Orang - orang itu menatapku yang kebingungan. Seorang pria tinggi dengan berseragam putih berjalan menujuku.
"Hei, Ernest. Bisakah kau membantuku mengurus pasien nomor 12375 di bangsal B? Dia memberontak lagi. Sial!", ucap pria itu sambil menggeleng - geleng kesal.
"Ba-baiklah..", aku yang tidak mengerti hiruk - pikuk tempat ini langsung menyetujuinya. Kami mulai berangkat ke tempat yang di sebut tadi.
Rupanya ini adalah gedung yang luar biasa luasnya, walau ternyata tiap dindingnya hanya dibangun dari batu tua.
Kelihatannya ini lebih seperti gua gelap dibandingkan gedung kantoran.
"Eh, boleh kutanya sesuatu? Ini di mana?"
Pria di sampingku mendadak berhenti, ia kemudian menatapku.
"Apa yang kau bicarakan? Sudah jelas ini adalah rumah sakit jiwa, tempat kita bekerja. Sudahlah, jangan membuang waktu. Pasien itu sudah memberontak sejak tadi!", pria itu menarikku berlari hingga kami sampai di sebuah deretan kamar.
Ada sebuah kamar yang terbuka, sepertinya kamar itulah tujuan kami.
Pria tadi membawaku masuk dan bisa kulihat sesuatu yang agak aneh.
Seorang pria kurus kering terbaring dengan borgol dan tali mengikatnya di tangan. Sungguh sadis, pikirku. Saat melihat kami masuk, ia berteriak kesetanan dan berusaha melepas borgol itu dengan menggoyang - goyangkan kasurnya.
"Cepat, suntikkan obat penenang padanya!", pria tinggi tadi berteriak padaku. Aku tidak mengerti apa yang harus kulakukan, tetapi tanganku dengan refleks mengambil sebuah suntikan besar dari kantongku.
Bzztt..
Dengan cepat, kutusukkan jarum besar itu ke kulit pucat sang pasien yang kemudian menggila tidak terkontrol. Saat kudorong cairan penenang ke dalam dagingnya, ia mulai terdiam dan pingsan.
Oh, astaga. Ini mengerikan!
Aku gemetar ketakutan melihat apa yang kulakukan. Seharusnya aku tidak memimpikan menjadi orang sibuk.
Kurasa, menjadi ibu rumah tangga akan lebih baik.
Aku membuka mata dan melirik ke kanan dan kiri. Aku tertidur di sebuah rumah asing. Di sampingku, ada seorang pria jangkung tampan. Ia tengah tertidur di sampingku, berbalut selimut yang sama denganku.
"Apa..apa yang telah kulakukan?? Kenapa ada pria di sampingku? Astaga!! ", teriakku dalam hati.
Dengan cepat, aku bangun dari tempat tidur. Namun, rupanya aku tidak pandai menyembunyikan suara. Saat beranjak dari tempat tidur, tanpa sengaja aku menarik selimutnya dan membuat pria itu ikut terbangun.
"Syva, apa yang kau lakukan? Ini masih malam. Tidurlah..", pria itu menarik lenganku hingga aku terjatuh ke kasur dan hampir menindihnya.
Dia memelukku yang kebingungan setengah mati karena situasi aneh ini.
"Bagaimana ini bisa terjadi??!! Apa ini karena permohonanku untuk menjadi ibu rumah tangga??", otakku berputar cepat. Tapi, rasa kantukku mengalahkan kebingunganku malam itu. Dan aku akhirnya tertidur dalam pelukan pria di sampingku.
Esok paginya, aku bangun dan sadar bahwa aku masih terperangkap dalam khayalanku. Aku berlari mencari toilet di rumah asing itu, lalu berdiri di depan cermin.
"Arrgghh, aku sungguh telah menjadi seorang ibu!! Wajahku terlihat dewasa. Namun harus kuakui, lumayan cantik", aku bergumam dalam hati.
Oh ya, sebagai seorang ibu rumah tangga, apa ya yang biasanya ibu lakukan di pagi hari? Aku coba mengingat.
Aha! Menyiapkan sarapan. Kasihan juga jika kekuarga ini kelaparan karena tidak sarapan. Aku bertanya - tanya dalam batin, apakah wanita ini punya anak? Soalnya aku sangat menyukai anak kecil sejak dulu. Aku sejak dulu selalu ingin ibuku memberiku seorang adik. Tapi tetap saja aku masih menjadi anak tunggal hingga sekarang.
Tanpa menunggu lama lagi, aku berjalan ke dapur. Dengan refleks, tanganku tiba - tiba mengambil sebungkus roti dan memasukan beberapanya ke alat pemanggang roti. Setelah itu, tanganku membuka sebuah lemari kaca dan mengambil 2 toples selai, meletakkannya di sebuah piring lebar dan mengambil roti yang telah dipanggang ke atas piring lebar tadi.
Aku meraih pisau selai di lemari peralatan yang bahkan baru kuketahui keberadaannya, lalu mengoles selai pada roti panggang tadi dengan cepat. Aku tak percaya aku lakukan ini. Tapi aku senang bisa merasakan sibuk yang sebenarnya. Ini menyenangkan, tapi mungkin tidak semuanya.
Selesai sarapan bersama suami wanita ini, aku menyadari bahwa di dalam keluarga ini ada 2 anak laki - laki. Girangnya saat tahu hal itu. Namun, semuanya tidak seperti yang kuharapkan.
Saat hendak membangunkan kedua anak laki - laki itu, mereka menolak dibangunkan dan menangis histeris. Aku panik. Tapi untunglah suami di kekuarga ini sudah pergi bekerja. Jadi, aku tak perlu takut bersikap tidak seperti biasanya.
"Anak - anak, kalian harus bangun! Sekolah akan dimulai pukul 08.00. Cepat bangun atau kalian akan terlambat", aku berseru nyaring di kamar mereka.
Namun, usahaku sia - sia. Mereka tetap tak mau beranjak dari kasur mereka yang nyaman. Aku tetap bersabar, hingga 20 menit kemudian barulah aku berhasil membuat mereka bangun dan mandi.
Setelah itu, aku mulai mengurus hal lainnya. Mukai dengan menyapu dan membersihkan barang - barang. Lalu mengantar kedua anak laki - laki ini ke halte bus dan lanjut mengerjakan pekerjaan rumah.
Aku melakukan setiap pekerjaan dengan cermat seperti mencuci pakaian, mengeringkannya lalu menjemur. Aku membersihkan debu - debu di sofa dan merapikan kamar kami semua lalu membersihkan halaman rumah dari dedaunan.
Saat hendak beristirahat, aku melirik jam dan teringat bahwa anak - anak akan segera pulang dari sekolah. Walau masih merasa lelah, aku putuskan untuk menyiapkan makan siang untuk mereka. Waktuku tidak banyak. Aku benar - benar dikejar waktu dan masih sangat lelah sekarang. Tapi apa dayaku, akulah yang meminta agar menjadi sibuk seperti ibu dan ayah.
Sekarang aku telah selesai memasak makan siang. Anak - anak itu pulang dengan gembira lalu segera menikmati makan siang bersamaku.
Aku terharu dan merasa bangga pada diriku yang sekarang ini. Ternyata beginilah perasaan ibu setiap hari. Aku seharusnya bisa menghargainya dan membantunya tiap waktu. Tapi, aku justru sering menganggap bahwa ibu bisa melakukan semuanya sendiri. Aku keras kepala.
"Rinaaa.. Rinaa! Bangun, nak!", suara itu muncul begitu saja. Dan mataku kemudian terbuka.
Di depanku, sosok ibu yang selama ini kurindukan muncul dan membelaiku.
"Kamu kok tidur, sayang? Ayo, ibu sudah siapkan makan siang... ", aku bangun dan memeluk ibu.
"Eh, kamu kenapa, sayang? ", ibu membelaiku dengan heran.
"Terima kasih untuk makan siangnya, bu"
Seorang ibu yang selama ini kusepelekan beban hidup dan tanggung jawabnya ternyata adalah sosok pahlawan keluarga yang tidak kita sadari.
Kita terkadang lupa, bagaimana ibu kita mengurus pertunbuhan kita sejak dalam kandungannya.
Ibu adalah sosok yang paling menanti kelahiran bayinya. Sejelek apapun tabiat anaknya di masa depan, tetap saja seorang ibu akan menyayangi anaknya. Mereka tidak suka memandang buruk anaknya, karena justru kita sebagai anaknyalah yang sering memandang buruk sosok ibu kita.
Hanya karena sebuah teguran ibu atas sikap nakal kita, kita pun mulai memandang buruk terhadap ibu kita sendiri. kita bukan lagi memandangnya sebagai ibu yang sayang pada diri kita. Tetapi kita memperhatikan ibu kita sebagai 'ibu yang galak'. Jika ada yang perlu disalahkan dalam hal itu, maka anak - anaklah pihak bersalahnya.
Seharusnya kita sadar. Bukan sikap seorang ibu yang mengubah dirinya menjadi galak.
Tetapi sikap anaknya yang mengubah seorang ibu menjadi galak.