Permukaan Yang Rukun, Hidup Bagai Neraka
Author: Suci Maya
#Cerita 10+ Menit
Pada hari kematianku, pernikahan kakakku berlangsung seperti biasa.
Dia mengenakan gaun pengantin dan menikah dengan pacarku.
Ibuku menelepon beberapa kali tanpa jawaban dan memaki-makiku karena tidak tahu berterima kasih.
Adik priaku mengirim pesan untuk menegur, "Kenapa kamu begitu perhitungan, dendam kejadian dua tahun yang lalu sampai sekarang?"
Ayahku yang selalu pendiam, berkata dengan dingin, "Katakan padanya bahwa jika dia tidak pulang hari ini, kita akan menganggap tidak memiliki anak perempuan seperti dia."
Mereka tidak benar-benar ingin aku pulang, mereka hanya tidak ingin pernikahan kakakku menjadi kurang karena tidak ada restu dariku.
Tapi, aku sudah meninggal.
1
Aku tahu aku tidak disukai di keluarga ini sejak kecil.
Mama pergi melakukan perjalanan bisnis ke luar kota dan kembali dengan dua mainan baru. Dia memberikannya kepada Kenzo dan Dea.
Dia hampir saja pergi, tapi aku mengingatkannya dengan suara lembut, "Ma, bagaimana denganku?"
"Kamu mau juga?"
Mama mengerutkan kening, lalu berkata dengan tidak sabar, "Itu mahal. Aku tak punya banyak uang. Jadi jangan banyak tanya."
Aku masih berumur lima tahun saat itu. Namun, aku sudah mengerti tentang perasaan orang lain.
Apalagi dia ibu kandungku.
Kemudian.
Setelah mengobrol dengan beberapa saudara di pernikahan adikku, Mama berjalan ke sudut. Sembari membelakangi banyak orang, dia berkali-kali menekan nomor teleponku.
Namun, panggilan itu tak terjawab.
Bahkan di panggilan ketiga, sambungan itu langsung terputus.
Mama tercekat, karena rasanya seperti ada seseorang yang mencekik lehernya. Kemudian, dia menatap dengan tidak percaya: "Velline, aku Mamamu!"
Kenzo berjalan mendekat dan mengelus punggung wanita itu dengan penuh kasih sayang:
"Jangan marah, Ma. Tak sebanding rasanya. Dia Velline. Mama tak tahu kalau sifatnya memang begitu?"
Mendengar perkataan Kenzo, emosi kesedihan Mama akhirnya menguap, berganti dengan rasa cinta untuk putra bungsu yang sangat disayanginya itu.
"Ketahuilah, Nak. Mama sudah banyak berusaha untuk Velline. Dia dilahirkan sebagai satu dari sepasang anak kembar, bagai naga dan phoenix. Bahkan dokter juga bilang Velline selamat dengan mengambil nutrisi saudara kembarnya. Itu semua kesalahan Velline sehingga saudaramu yang lain meninggal...."
"Aku sudah mendengar kalimat ini. Berkali-kali sejak aku kecil."
Akhirnya, hukuman menjadi rutinitas dan teman baikku kala itu. Aku dikunci di dalam kamar, sembari menonton anggota keluargaku yang lain bebas mendapatkan udara segar.
"Tenang, Ma! Jangan khawatir. Meski harus mati hari ini, aku akan membawa dia kembali."
Kenzo menghibur Mamaku dan mengirimkan banyak pesan melalui WeChat kepadaku.
"Velline, sebaiknya kamu muncul dalam waktu satu jam."
"Kenapa kau sangat egois? Kau tahu bahwa jantung Mama lemah, tapi kau masih membuatnya terganggu."
"Pria itu layak untuk bermusuhan denganmu hingga kini. Lagipula, bukankah kakakku itu adalah adikmu?"
Setelah mengirim pesan ini, jemari Kenzo membeku di atas keyboard.
Beberapa detik kemudian, ia mengantungi gawainya dan membantu menyambut tamu.
Yah, dia mungkin tidak percaya.
Dea adalah kakak perempuannya, seorang putri yang baik bagi orangtuaku.
Namun, bagaimana mungkin dia menjadi adik perempuanku?
2
Aku melayang ke lantai atas dan melihat Dea duduk di ruang ganti.
Seorang perias sedang memperbaiki riasan matanya yang sedikit luntur.
Dea meraih tangan ayahnya dengan mata penuh dengan air mata.
"Pa, apakah benar Velline tidak datang? Dia kakakku. Di hari yang penting ini, aku berharap bisa menerima restunya."
Ayah yang selalu tegas dan acuh di depanku, membelai Dea dengan suara lembut dan memukul bahunya pelan:
"Jangan khawatir, Nak. Papa akan meminta Kenzo untuk menghubunginya agar kamu tidak sedih lagi."
Pria itu kemudian menghampiri Kenzo di lorong. Dengan wajah dingin, dia berkata: "Katakan pada Velline. Jika hari ini dia tidak datang, maka Papa tidak akan pernah akan pernah lagi mengakuinya sebagai bagian dari keluarga."
"Pa, dia tak membalas pesanku dan juga tak menjawab ketika Mama menelepon."
Kenzo menggeretakkan giginya lalu berkata, "Aku tahu. Orang seperti dia memang tak mempunyai hati yang baik. Ia sengaja setuju untuk membantu kita, tetapi ternyata tujuannya adalah menghancurkan hari penikahan kakakku."
Hari ini adalah hari yang sangat penting bagi Dea.
Sebab, dia akan memakai gaun pengantin dan menikahi pria yang sudah lama ia cintai, Yoki.
Ketika aku membawa Yoki ke rumah dua tahun lalu, Dea langsung jatuh cinta kepadanya dalam pandangan pertama.
Aku masih ingat betul betapa terang sinar matanya kala melihat Yoki. Malam itu, ia membuat alasan dan mengajakku untuk berjalan kaki.
Dia membelikanku segelas milk tea dan menggandeng lenganku, menggoyang-goyangkannya dengan bebas.
"Kak, aku suka tipe cowok seperti Yoki. Kecantikanmu pasti bisa membuat pria lain jatuh hati kepadamu. Oleh karena itu, boleh kan kalau kamu memberikan Yoki padaku?"
Aku menolak.
Namun, tak lama setelah kami kembali masuk sekolah, Yoki memutuskanku.
Aku berulang kali menanyai alasannya, sehingga membuatnya jengkel dan berbalik melepaskan genggaman tangannku dengan kasar.
Aku jatuh terduduk di tanah. Permukaan yang kasar menggores telapak tanganku, sehingga menyebabkan perih yang sulit untuk kutahan.
Namun, ia tetap cuek dan hanya melihatku dengan ekspresi jijik.
"Kamu masih mau menyembunyikannya dariku? Bahkan keluargamu sendiri tidak tahan dengan sikap itu sehingga mereka memberitahuku."
Ternyata, pagi itu kala Mama menyuruhku untuk membeli beberapa keperluan,
Adikku, Kenzo, menarik Yoki ke samping dan memberitahunya beberapa "kebenaran" tentang aku.
Mereka berkata bahwa aku memiliki kebiasaan buruk, seperti mencuri uang dan merundung teman sekelas.
Bahkan mereka juga berkata bahwa aku adalah seorang maniak seks bebas dan berakhir melakukan aborsi saat kuliah.
Setelah perkataan itu ditelan oleh Yoki, dengan penuh kepalsuan Kenzo berakting seperti adik yang menyayangi saudaranya. Dia menghela nafas berat sebelum berkata:
"Velline adalah kakakku. Aku ingin mendukung kisah cintanya, tapi rasanya aku tak bisa tinggal diam kala dia menyeretmu ke dalam masalah".
Dengan tangan yang masih sakit dan berdarah, aku duduk di tanah dan menatap Yoki. Menyimak kata demi kata yang ia paparkan.
Setelah dia elesai, aku tak bisa menahan diri lagi untuk tidak tertawa.
Yoki mengerutkan kening dan bertanya, "Kamu masih ingin membela diri?"
Aku menggelengkan kepala dan dengan senyum berkata, "Semua yang mereka katakan itu benar."
Yoki sebenarnya tak mencintaiku dengan dalam, apalagi mempercayaiku yang notabene adalah kekasihnya. Jadi, dia segera percaya ketika keluargaku mengatakan hal buruk tentangku.
Ah, keluguan dan kasih sayang keluarga ya.
Saat aku masih hidup, tak ada satu pun yang perduli padaku.
Dan, tentu saja. Bisa ditebak tak ada satu pun yang tahu kalau aku sudah mati.
3
Saat mereka tengah bicara, Yoki datang.
Dia terlihat tampan kala mengenakan jas dan rambut yang ditata rapi
Yoki mencium pipi Dea dan bertanya dengan lembut, "Velline belum datang?"
Dea mengangguk dengan air mata di matanya.
"Tidak apa-apa, jangan kita khawatirkan dia," wajah Yoki mendingin. "Orang seperti dia hanya akan merusak hari pernikahan kita, Dea. Hari ini adalah hari bahagia kita. Jadi, jangan menangis untuk seseorang yang tidak pantas kau tangisi."
Dea memeluk leher Yoki sebelum menatap pria itu dengan sedih. "Bagaimanapun juga, Velline tetap kakakku."
Ekspresinya selalu terlihat tulus dan ikhlas.
Sama seperti tiga tahun yang lalu, ketika aku lulus dengan sangat baik. Sekolah meminta kedua orang tuaku untuk hadir dalam upacara kelulusan dan berpidato di atas panggung sebelum difoto untuk menjadi publikasi sekolah.
Aku dengan hati-hati menyusun kalimatku kala menelepon mereka. Ternyata, dengan tak disangka,
Mama setuju.
Namun, keesokan harinya, Mama meneleponku dan berkata bahwa ia dan Papa tidak dapat datang.
"Dea jatuh sakit. Kami khawatir kalau harus meninggalkannya sendirian di rumah."
Di video, Dea menatapku dengan wajah sedikit pucat dan meminta maaf.
"Maaf Velline, aku merasa tidak enak badan. Kamu sangat mandiri, bahkan ketika Mama dan Papa sedang tak ada di rumah. Jadi, aku yakin kamu bisa mengurusnya sendiri."
"Selamat wisuda, Velline!"
Selamat wisuda!
Bagaimana aku bisa bahagia?
Di hari upacara kelulusanku, aku meminta maaf kepada guru-guruku, kepada sekolah, dan juga staf di kantor tata usaha.
Kala tengah berfoto, aku tiba-tba mendengar seseorang mengeluh:
"Katanya sudah diuji coba, tapi kenapa kita masih harus melakukannya? Dasar sampah, mereka menyebut diri mereka lulusan terbaik."
Di akhir upacara, aku mengeluarkan ponselku dan melihat kalau Dea sudah posting sebuah momen.
"Padahal hanya flu biasa, tetapi orangtuaku merawatku dengan penuh perhatian~."
Foto yang dilampirkan adalah potret wajah dari ketiganya.
Latar belakangnya adalah kamar Dea.
Mereka bahkan tidak pergi ke rumah sakit.
Ternyata penyakit Dea tidak serius.
4
Di ruang pesta, alunan piano yang merdu terdengar.
Dea berjalan mendekati Yoki sembari memegang buket mawar putih dengan gaun pengantin berekor panjang.
Setelah kedua orang tua selesai berpidato, giliran Kenzo.
Dia berdiri di atas panggung dan kemudian dengan bercanda mengangkat tinjunya ke arah Dea.
"Dea adalah satu-satunya saudara perempuan yang menjadi harta karun bagi keluarga. Tidak ada yang berani menyakitinya".
Dea melihat ke wajah adiknya, dan suaranya langsung berganti menjadi penuh rasa sayang: "Aku tidak tega meninggalkanmu."
Tepuk tangan terdengar dari orang-orang yang datang.
Bahkan panggung menjadi penuh dengan kehangatan.
Jiwaku terdiam di atas rangkaian bunga di panggung, menatap mereka dengan kosong.
Aku pikir aku akan merasa sakit hati.
Namun, aku sudah muak merasa sakit dalam hidup sebelum meninggal.
Sehingga aku hanya menonton apa yang terjadi dengan tatapan dingin dan perasaan yang hampa. Seakan angin bertiup lewat.
Beberapa orang berbisik di sebuah meja, "Hei, seingatku keluarga mereka memiliki tiga anak. Namun, mengapa hanya dikatakan ia memiliki satu saudara perempuan?"
"Semua itu karena putri pertama mereka. Tsk, apa gunanya pandai belajar? Yang paling penting adalah karakter seseorang..."
Berkat perbuatan orangtuaku.
Aku memiliki reputasi yang buruk di antara kedua pihak keluarga.
Bahkan aku ingat, saat aku masih kecil, salah satu bibiku cukup cantik.
Selama Tahun Baru Imlek, ketika kerabat berkunjung, dia memberiku mainan boneka lumba-lumba kecil.
Hanya aku yang memiliki itu. Bukan Kenzo atau pun Dea yang memilikinya.
Namun, sayangnya Kenzo kerap bersikap semena-mena. Ketika aku menolak membiarkannya bermain denganku, dia memotong lumba-lumba itu menjadi potongan kecil dengan gunting.
Tidak lama setelah itu, saat bibi datang untuk mengambil kembali syal yang terlupa. Dia melihat sisa-sisa boneka di lantai.
Untuk melindungi reputasi anak laki-lakinya yang tercinta, Mama memberitahu bibi:
"Dia tidak suka mainan ini sehingga dia memotongnya menjadi potongan-potongan kecil. Katanya, dia tidak ingin melihatnya lagi."
Tiba-tiba ekspresi bibiku berubah. Sejak saat itu, setiap kali dia mengunjungi sanak saudara, dia tak lagi memberiku apa-apa. Bahkan dia tak lagi memberiku angpao.
Setelah kejadian itu, Mama yang mungkin merasa bersalah memperlakukanku dengan baik untuk sementara waktu.
Tentu saja tak bertahan lama.
Di keluarga ini, orang tuaku memperlihatkan dengan jelas perlakuan pilih kasih mereka.
Saat Dea lahir, bisnis Papa mengalami kemajuan yang signifikan.
Hal itu membuat Papa menganggap hal itu sebagai keberuntungan yang dibawa oleh Dea, sehingga dia paling memanjakan Dea.
Mama sendiri sangat memanjakan Kenzo, karena dia adalah putra yang dinanti-nanti setelah melahirkan sebanyak tiga kali.
Sedangkan aku, aku hanya bisa berkata bahwa…
Saudara kembarku yang gemuk dan sehat tidak bisa bertahan lebih dari 24 jam.
Semua orang percaya bahwa aku lah yang membunuh saudara kembarku.
Saat aku masih kecil, aku tak pernah paham.
Kenapa Kenzo dan Dea selalu mendapatkan makanan yang mereka inginkan?
Meskipun aku alergi terhadap seafood, Papa tetap mereservasi meja di restoran seafood pada hari ulang tahunku hanya karena Dea ingin makan kepiting.
Ketika aku berusia dua belas tahun, ada gempa bumi di kabupaten sebelah.
Saat itu, keluargaku sedang tidur siang di rumah dan tanpa ragu, orang tuaku masing-masing mengangkat Kenzo dan Dea di pelukan mereka.
Aku berlari turun tangga dengan cemas, memandangi langit-langit yang berguncang sembari menangis hingga suaraku serak.
Namun, tidak ada yang datang menyelamatkanku.
Itulah yang terjadi saat aku berumur dua belas tahun.
Itu juga yang terjadi kala sopir itu menyeretku ke hutan yang sepi di bawah gunung dan mencekik leherku.
5
Di sore harinya, pernikahan Dea telah sukses dilangsungkan.
Setelah para tamu pulang, Papa langsung mengerutkan kening dan meminta Mama untuk terus meneleponku.
Mata Dea memerah saat ia memegang tangan Papa dan berbicara dengan nada simpatik: "Lepaskanlah, Pa."
"Aku pikir Velline masih muda sehingga emosinya kurang stabil. Lagipula, aku adalah saudaranya sehingga seharusnya tidak masalah dengan hal-hal seperti ini,".
Memang, ekspresi sedih melintas di mata Papa.
Kenzo berkata dengan kesal, "Kak, kamu itu terlalu menyayanginya. Bahkan kau memperlakukannya layaknya saudara, tapi apakah dia pernah berperilaku serupa?"
Dea mengigit bibirnya dan hampir menangis.
Berdiri di sampingnya, aku merasa sangat ironi.
Dea selalu begini.
Meskipun keluarga ini sudah jelas-jelas lebih memihaknya, tapi masih saja ia merasa tidak puas.
Aku tahu itu karena ia membenciku.
Meskipun Mama awalnya juga tidak menyukaiku, tapi dia tidak berperilaku terlalu buruk kepadaku.
Bahkan ketika ulang tahunku, ia akan membawakan kue untuk merayakannya bersamaku.
Namun, ketika aku hendak membuat harapan dan meniup lilin, tiba-tiba Dea menangis.
Dia menyeka air matanya dan memaksakan senyum, pura-pura kuat.
"Tidak apa-apa. Aku tiba-tiba teringat kalau hari ini seharusnya menjadi ulang tahun dua orang."
Satu kalimat itu membuat wajah ibuku berubah.
Aku menyatukan kedua telapak tangan untuk membuat harapan. Namun, tiba-tiba Mama dengan kasar meniup lilin di atas kueku:
"Makan, makan, makan. Yang kamu tahu hanya makan! Velline, apa kamu tahu bahwa karena kamu saudaramu mati? Apa kamu tidak punya hati?"
Aku ketakutan dan menatap Mama dengan tatapan kosong.
Mama semakin marah dan langsung membuang kue ke dalam tempat sampah.
Setelah dia masuk ke dalam kamar, aku menatap Dea dengan mata yang penuh dengan air mata.
Tidak ada orang lain di sana kala itu. Akhirnya, dia mengutarakan emosinya yang sebenarnya.
Pada usia sepuluh tahun, Dea masih memiliki senyum lembut, tetapi kata-katanya sangat menyakitkan.
"Velline, mengapa kamu memilih untuk dilahirkan?"
Dea mengusapkan jarinya di wajahku dengan lembut, lalu tiba-tiba memutarinya dengan keras.
"Awalnya Mama Papa hanya mencintaiku, tetapi sekarang kamu telah membuat cinta mereka untukku terbagi. Kamu seharusnya mati bersama adik laki-lakimu itu!"
Aku tidak pernah mengerti mengapa dia sangat membenciku.
Namun, sayangnya dia sangat baik pada Kenzo setelah anak itu lahir.
Pada saat aku mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, Kenzo baru akan duduk di kelas 9.
Tahun itu merupakan tahun yang paling penting, tetapi pekerjaan Papa sangat sibuk sehingga tak bisa mengambil cuti. Mama juga tengah berada dalammasa yang kurang baik.
Oleh karena itu, Mama meminta aku untuk mendaftar ke universitas setempat sehingga membuatnya lebih mudah untuk menjaga Kenzo .
Tapi aku tidak berjanji.
Mama menatapku dingin kemudian berkata, "Velline, apa kamu tak sadar bahwa kondisi di rumah sedang tak baik-baik saja? Kenapa kamu begitu keras kepala??"
Setelah aku kuliah,
Di usia 22 tahun, Dea tiba-tiba memutuskan untuk belajar bermain piano.
Mama meminta seseorang untuk membuang tempat tidur dan lemari pakaianku, sedangkan pakaianku ia pindahkan ke gudang.
Kamarku telah diubah menjadi ruang piano Dea.
Dea memposting video tengah duduk di depan piano mahal yang baru dibelinya.
Sinar matahari bersinar terang.
Dan dia tersenyum dengan damai.
Aku segera menelepon ke rumah. Namun, karena Mama masih marah padaku akibat tidak mendengar sarannya. Ia menjawab dengan dingin:
"Karena kamu tak mau mendengarkan saran Mama, itu berarti kamu tak memiliki rencana untuk pulang ke rumah ini. Lantas, untuk apa kamu memiliki kamar?"
Setelah itu, terdengar suara Dea dari seberang telepon: "Velline, jangan bikin Mama kesal, ya? Nanti saat kamu ingin pulang, maka kamu bisa tidur bersamaku di kamar yang sama. Kamu sudah tidak ada tempat tinggal di sini."
Meskipun suaranya terdengar simpati, tapi ada sedikit tawa di suaranya yang berusaha ia sembunyikan.
Sudah sebulan aku pergi, dia masih begitu ingin mengusirku dari rumah ini.
Dan Mama memilih untuk menuruti kemauannya.
6
Di siang hari, Dea dan Yoki berangkat ke rumah baru mereka.
Sedangkan aku, mengikuti mereka di belakang orangtuaku dan Kenzo.
Kenzo yang mengemudi, dan orangtuaku duduk di bangku belakang.
Kursi depan yang kosong selalu dipersiapkan untuk Dea.
Aku duduk di sana kala mereka membicarakan kekurangan dan kesalahan-kesalahanku, satu persatu.
"Dia membenci aku seperti ini, membenci rumah ini, bahkan enggan untuk datang kembali ke pernikahan adiknya."
Mama yang lelah bersandar di bahu Papa sembari berkata, "Aku merasa gagal dalam mendidik anakku."
Papa mengelus lembut kepala istrinya dan berkata, "Orang yang tidak bersyukur tidak pantas mendapat usahamu."
Aku memalingkan kepala dan mengamati ekspresi mereka.
Mencoba mencari jejak perhatian mereka untukku dari atas.
Tapi tidak ada.
Kepindahanku yang tiba-tiba hanya membuat mereka merasa marah dan kecewa.
Bahkan tak ada satu pun orang yang merasa ragu, apalagi heran.
Apakah terjadi sesuatu pada diriku?
Aku yang saat ini memanglah hanya berbentuk jiwa, tapi aku masih bisa meneteskan air mata.
Sambil berlinang air mata dan senyum mengembang di bibir, aku bertanya, "Mama, pernahkah kamu mencintai aku?"
"Mengapa kau melahirkan aku jika kau begitu membenciku?"
Aku pernah bertanya pertanyaan yang sama waktu itu.
Aku sedang duduk di kelas 3 SMP, tahun di mana study-ku sangat sibuk.
Papa sedang pergi untuk urusan bisnis dan Kenzo masih kecil sedangkan Dea baru mulai sekolah.
Mama tengah mengidap batu ginjal, sehingga aku sering pergi bolak-balik antara sekolah dan rumah sakit untuk merawatnya. Hal itu bahkan membuatku kehilangan berat badan.
Mama sepertinya tersentuh dan memberikanku lebih banyak uang saku daripada Kenzo bulan itu.
Setiap kali bertemu dengan tetangga, dia memujiku karena perilaku dan sopanku yang baik.
Begitu pula ketika teman sekelas merundungku. Ia datang ke sekolah untuk membela aku.
Semua tampak berjalan ke arah yang positif.
Hingga di suatu sore, saat kami menyeberang jalan bersama-sama, Mama tiba-tiba memegang tanganku.
Kedekatan antara ibu dan anak perempuan seperti ini terlalu asing bagiku.
Sehingga tanpa sadar aku menepis tangan Mama dan membuatnya terhuyung mundur dua langkah.
Sudah senja.
Lampu hijau berubah menjadi merah.
Mobil melaju kencang di depan kami.
Tatapan Mama ke arahku seketika berubah.
Perasaan dingin yang sudah aku kenal sebelumnya kembali muncul.
Saat itu, Mama mengerutkan kening dan mengatakan dengan acuh tak acuh, "Kamu benar-benar orang yang tidak tahu berterima kasih."
Malam itu, hampir seluruh malam kuhabiskan untuk tenggelam dalam penyesalan, menusuk beberapa lubang di lengan ku dengan penggaris.
Bahkan rasa sakit pun tidak dapat mengurangi keputusasaan dan ketidaksabaran dalam hatiku.
Akhirnya, aku masuk ke kamar Mama dan bertanya, "Ma, jika Mama tidak mencintaiku, mengapa Mama melahirkan aku?"
Mama menutup mata dan tidak mengatakan sesuatu.
Aku tahu dia tidak tidur.
Dia bahkan tidak peduli untuk menjawab ketika aku masih hidup.
Apalagi sekarang kala aku sudah mati dan dia tak lagi bisa mendengar suaraku yang masih menanyakan hal yang sama.
7
Setelah makan malam, Kenzo meneleponku lagi.
Namun, kali ini dengan mengherankan panggilannya diterima.
Akhirnya dia berhasil menghubungi sosok yang membuat kemarahannya selama ini menyala.
"Velline!! Kamu gila ya? Saudaramu menikah, tapi kamu tidak pulang. Itu membuat kami sedih. Kamu pikir kamu hebat main-main seperti ini?"
Semua orang terdiam sejenak.
Hingga tiba-tiba sebuah suara pria serak terdengar dari telepon.
"Aku pacarnya".
"Kata Velline, 'Seluruh keluargan ini sangat menjijikkan, aku tidak akan kembali bertemu dengan kalian semua.'"
"Jangan menelepon lagi ya."
Panggilan telepon berakhir.
Kenzo tak percaya dengan apa yang ia dengar sehingga dia tiba-tiba menendang kursi dengan marah dan mengutuk makian.
Namun, tiba-tiba tubuhku kaku dan aku kehilangan seluruh kekuatanku.
Pada saat suara itu terdengar,
Aku ditarik paksa ke dalam sebuah ingatan.
Sebelum meninggal, aku ketinggalan terakhir karena lembur kerja.
Sehingga yang bisa kulakukan adalah naik taksi ke stasiun bus.
Supirnya sendiri adalah seorang pemuda pucat dengan tatapan yang muram.
Pemandangan di sekitar sangat familiar, karena itu aku tanpa sadar bersandar di jendela mobil untuk mengistirahatkan otakku yang begitu lelah. Sembari memegang barang bawaanku, aku segera beristirahat.
Pada awalnya, semuanya normal.
Dia mengobrol dengan aku seperti sopir lainnya.
Bahkan saat Dea tiba-tiba menelepon, Dia masih bisa melucu.
Sebagai calon pengantin, dia tidak lupa untuk menggodaku bahkan di malam sebelum pernikahan.
"Velline, aku akan menikahi Yoki besok. Aku sangat bersemangat sampai-sampai aku tidak bisa tidur."
Dia berkata dengan lembut, "Terima kasih telah membawanya pulang."
Aku mengkerutkan bibir dan berbicara dengan gigi yang terkatup:
"Dea, seberapa sering kamu bermain dengan kata-kata menjijikan dan jebakan kotor sebelum kamu merasa muak?"
Dia sepertinya sama sekali tidak sadar.
Nada suaranya bahkan lebih ceria dan manis.
"Baiklah, sudah diputuskan. Kamu harus datang ke pernikahan besok!"
Aku menutup telepon, tak bisa menahan amarah, dadaku naik-turun dengan cepat.
Supir itu tiba-tiba bertanya, "Apakah sedang ada pertikaian dengan keluargamu?"
Aku mengerutkan kening dan menatap ke atas, menyadari bahwa kami tiba-tiba mengemudi menuju dataran yang sepi.
Dadaku berdegup kencang, tapi aku memaksakan diri untuk tetap tenang dan bertanya padanya, "Berapa banyak yang kamu inginkan?"
Tapi, sayangnya dia tidak menginginkan uang.
Aku lelah karena lembur. Jadi, tanganku sedang dalam kondisi lemah, dan aku tidak bisa menahan kekuatan seorang pemuda.
Pemuda itu menutup mulutku dan menyeretku ke dalam semak belukar kecil.
Malam berjalan begitu sunyi dan cahaya bulan lembut menerangi sekitar.
Pemuda itu meremas leherku dengan erat sebelum memukul telingaku dengan keras.
Dia berkata, "Kamu wanita murahan. Menyesal kah kau sudah meninggalkanku tanpa memberitahuku?"
Mengapa orang kaya yang bersamamu berpikir dia lebih baik dariku?
Mintalah ampun padaku, dan aku akan membiarkan mu pergi.
Tapi aku bahkan tidak mengenalnya.
Siapa kamu?
Siapa kamu?
Dia tiba-tiba melepaskan tangan yang memegangi leherku.
Dia mengubah caranya menjadi membelai wajahku dengan lembut.
Lalu dia berkata, "Aku adalah priamu."
Aku selalu merasa bahwa dia familiar.
Tapi aku tidak bisa mengingat di mana aku pernah melihatnya sebelumnya.
Aku berjuang keras untuk meraih ponselku.
Sebab, tombol pintas akan langsung menelepon ke panggilan terbaru.
Beep beep.
Dua beep berlalu.
Dea dengan tegas memilih untuk menutup teleponnya.
Pria itu melihat apa yang terjadi sebelum tertawa dengan kejam. Ia memasukkan telepon ke dalam saku dan mematahkan jari telunjuk di tangan kananku.
Dia juga membawa pisau lipat di sakunya.
Dalam kondisi sadar sepenuhnya, aku merasakan belati tersebut memotong pergelangan tangan kiriku hingga putus.
Selesai dengan tangan, pisau lipat itu berpindah ke pipiku, merobek sepotong kulit hingga berlubang.
Dia berkata, "Mari kita lihat bagaimana kau akan menggunakan wajah itu untuk merayu orang lain sekarang."
8
Aku tak ingat apakah aku meninggal karena sakit atau kehilangan darah.
Yang kuingat hanyalah angin pada malam itu di tengah hutan belantara.
Aku meringis ketika angin bertiup menghantam pipiku yang berdarah dan terbuka.
Mungkin orang memikirkan hal-hal bahagia sebelum mereka meninggal.
Namun, karena aku terlalu sering terperangkap dalam pikiran sendiri, aku malah teringat akan kehidupanku sebelum berusia lima tahun.
Sebelum melahirkan Kenzo, Mama mengirimku ke pedesaan.
Di sana, hanya ada nenekku yang tinggal sendirian.
Bagiku, dia adalah orang terbaik di dunia.
Nenek memberiku semua kehangatan yang tak diberikan oleh keluargaku.
Dia memetik pucuk daun dari pohon, merebusnya dalam air panas, dan menggorengnya dengan telur untukku makan.
Ibuku menelepon dan berkata bahwa Dea ingin makan pucuk daun, tapi dia tidak bisa menemukannya di pasar.
Nenek berkata, "Oh, ampun, tahun ini hujannya terlalu sedikit, jadi daun rasa tidak tumbuh."
Setelah menutup telepon, si tua nakal tersenyum padaku.
Aku tidak akan pernah melupakan rasa yang melekat di lidahku malam itu. Aku senang.
Namun, ketika aku berusia lima tahun, nenekku meninggal dunia.
Mama memaksaku kembali ke rumah ketika Kenzo masih berusia satu setengah tahun.
Karena itu, dia tidak terlalu menyukai aku.
Dia berbisik kepada Papa, "Apakah anak ini sungguh bermasalah? Bagaimana mungkin bahkan neneknya meninggal karena dia?"
Aku menatapnya dengan bingung.
Seorang anak lima tahun belum mengerti tentang kehidupan dan kematian.
Yang kusadari hanyalah bahwa tak seorang pun akan memilihku dengan tulus.
Aku menjadi anak yang tidak pernah disukai.
Detik berikutnya setelah napasku berhenti, jiwaku ditarik oleh angin, melayang keluar dari tubuhku.
Aku melihat seseorang mengambil kapak dari bagasi mobil dan mematahkan tulang yang menghubungkan anggota tubuhku.
Selain itu, aku melihat mobil melaju dengan cepat melalui pedesaan yang tenang di bawah langit yang penuh bintang.
Aku juga melihat seorang gadis kecil tiba-tiba terbangun dari mimpi buruk di salah satu gedung tinggi, menangis dan berteriak, hanya untuk dihibur dan dipeluk oleh orang tuanya yang terburu-buru masuk ke dalam ruangan.
Di akhir cerita.
Aku melihat Dea menguap dan terbangun dari tempat tidurnya. Di bawah dorongan Mama, dia segera mencuci mukanya dan berganti pakaian untuk pergi keluar.
Aku kembali.
Bahkan setelah mati, aku masih kembali ke rumah ini.
Dan aku menghadiri pernikahan Dea.
9
Laki-laki itu memperkosaku, membunuhku, memutilasiku, dan mengambil teleponku.
Kenzo tidak menyadari hal ini.
Dia hanya dengan dingin mengatakan kepada Papa: "Velline bahkan tidak menjawab panggilanku. Dia hanya membiarkan pacarnya memberitahuku bahwa dia merasa keluarga ini menjijikkan."
Papa sangat marah.
Dan kulihat dia mengepal meja, menghardikku seperti binatang.
Pengusaha memang cukup banyak mempercayai takhayul.
Dia menyukai Dea karena setelah anak itu lahir, bisnisnya tumbuh dengan cepat dan asetnya berkali-kali lipat hanya dalam dua tahun.
Sebaliknya, pabriknya mengalami krisis setelah aku lahir dan hampir bangkrut.
Akibatnya, dia tidak menyukai aku dan menganggapku sebagai anak pembawa sial yang sulit untuk dimengerti.
Ayahku mengendalikan keuangan keluarga.
Sehingga Dea bisa kuliah di universitas terbaik yang biayanya mencapai 200 juta rupiah pertahun.
Begitu pula Kenzo yang difasilitasi dengan les berbayaran 1,5 juta rupiah per jam.
Sementara itu, aku kuliah di universitas kota tingkat satu dengan uang saku hanya 2,4 juta rupiah per bulan.
Selama beberapa hari ke depan, aku akan tinggal bersama keluarga ini.
Aku akan dingin menonton mereka menjalani kehidupan sehari-hari.
Aku melihat Mama menelepon Dea dan bertanya kepada Dea apa yang ingin dimakannya.
Dea manja mengatakan ia ingin makan makanan laut.
Ketika Mama pergi ke pasar pagi untuk membeli makanan, dia bertemu dengan tetangga masa kecil kami dan putrinya, Berliana.
Berliana dan aku telah menjadi teman sekelas sejak kecil dan kemudian kami bergabung menjadi anggota perusahaan yang sama.
Meski tidak terlalu dekat, setidaknya kami saling mengenal.
Mama dengan iri berkata, "Memiliki putri seperti Berliana yang membantu membeli dan membawa barang belanjaan segera setelah pulang pasti sangat meyenangkan. Tidak seperti Velline yang tidak rasional. Bahkan saat saudaranya menikah dia tidak pulang dan malah membuat pacarnya menegur kami.'"
"Hah?"
Berliana sedikit terkejut, "Tante, Velline tidak memiliki pacar".
Mama berhenti sejenak dan menatapnya.
"Dia bekerja di departemen pemasaran dan begitu sibuk sehingga tidak punya waktu untuk kencan".
Berliana kemudian melanjutkan perkataannya, "Dan Velline juga sangat peduli denganmu. Bulan lalu, ketika kami menerima bonus, kami pergi berbelanja, dan dia bahkan membeli gelang emas. Dia berkata akan memberikannya kepadamu ketika saudaranya menikah dan dia pulang ke rumah."
Sekilas raut kebingungan melintas di wajah Mama tetapi segera berubah menjadi ketidakakraban yang kukenal.
Mama berkata, "Velline hanya berpura-pura baik di depan orang asing. Kamu tidak tahu bagaimana dia memperlakukan kami di rumah."
Melihat ini, Berliana dan ibunya tidak dapat mengucapkan apa-apa lagi dan dengan sopan mengucapkan selamat tinggal.
Ibuku membeli banyak jenis makanan laut yang disukai oleh Dea, bahkan hingga dua kantong besar penuh.
Sesampainya di rumah, dia berdiri di ambang pintu dan mengeluarkan kunci untuk membuka pintu.
Namun, tiba-tiba teleponnya berdering.
Itu nomor teleponku.
"Ini Ibu Netti ya? Kami telah menangkap tersangka dalam kasus pembunuhan berantai yang kejam. Gawai ini ditemukan ada padanya. Berdasarkan kontaknya, Anda seharusnya adalah ibu dari pemilik gawai ini."
"Tersangka sudah mengakui lokasi kuburan korban. Bisakah kamu dan keluargamu datang ke Bandung?"
10
Selama masa remajaku yang paling pemberontak dan ekstrem, aku sering berpikir dengan sangat mendalam.
Jika...
Aku baru saja mati seperti ini.
Akankah mereka menyesal?
Akankah ibuku menitiskan air mata untukku?
Sekarang, akhirnya aku tahu juga.
Setelah polisi selesai mengucapkan kalimat tersebut.
Mama hanya merespons dengan "Oh".
Aku baru saja mati.
Dan seolah tidak ada yang terjadi, dia masuk ke dalam rumah dan mulai memasak udang dan kepiting yang ia beli.
Bahkan kala tidak sengaja sungut udang menusuk jarinya,
Ia mengangkat jari yang terluka itu dan pergi ke ruang tamu untuk mengambil kotak obat.
Kenzo mendorong pintu dan masuk sejenak.
Dia panik dan terlihat ada raut tidak percaya di tatapannya. Bibirnya gemetar saat ia berkata: "Ma, Velline..."
"Aku baru saja menerima panggilan penipuan yang mengklaim bahwa Velline telah meninggal."
Mama menundukkan kepalanya untuk mencari plester dan berkata,
"Apa sih? Itu bercanda. Velline hidup lebih baik dari siapa pun. Apakah para penipu ini tidak melakukan riset sebelum melakukan panggilan telepon?"
"Ma, ini bukan penipuan. Velline, dia sudah meninggal."
Kenzo berkata dengan kesakitan, "Polisi menelepon Papa dan aku, dan sekarang Papa sedang dalam perjalanan pulang."
Gerakan Mama tiba-tiba berhenti.
Dia menatap Kenzo.
Cahaya matahari dari luar masuk, melintasi garis halus di sudut matanya dan jatuh ke mata yang selalu melihat aku dengan dingin.
Ekspresi yang tidak jelas emosi ini bertahan hingga mereka masuk ke dalam mobil dan pergi ke kantor polisi.
Mama bukanlah orang yang jarang bicara, tetapi dia terdiam selama perjalanan.
Dea menggenggam tangannya dan menenangkannya dengan lembut, "Mama, yang sudah mati tidak bisa hidup kembali. Dea tidak ingin melihatmu seperti ini."
Mama mengabaikan kata-kata putrinya yang tercinta untuk pertama kalinya.
Mama bahkan mati-matian melepaskan tangannya.
Dengan kaku, matanya penuh dengan kesedihan dan ketidakpuasan.
Mereka masuk ke kantor polisi.
Dua petugas polisi menerima mereka.
Petugas yang lebih tua menenangkan Mama terlebih dahulu, lalu memberitahunya bahwa tubuhku telah ditemukan.
"Kami telah mencoba menjahit sisa-sisa tubuhnya sebisa mungkin, tetapi tersangka mengambil beberapa anggota tubuh yang hancur. Menurut pengakuannya, mungkin.. mungkin..."
Pada saat ini, perkatannya tiba-tiba berhenti dan sebuah ekspresi simpati melintas di matanya.
Mama menatapnya dan mengajukan pertanyaan pertama sejak mereka pergi, "Mungkin apa?"
"Mungkin bagian tubuh itu telah dimasak," jawabnya.
Mama mengangguk.
Ekspresinya yang terlalu tenang merupakan reaksi yang tidak terduga bagi polisi itu.
Saat kembali, si polisi muda menoleh ke belakang padanya dua kali.
Tubuhku sudah dijahit dan dibersihkan.
Namun, karena adanya penyiksaan sebelum kematian, maka hal itu membuat wajah dan bentuk telah tak te dikenali. Bahkan anggota tubuhku sudah membengkak.
Bau mayat itu sangat jauh dari menyenangkan.
Melihatku, Dea tak bisa menahan mulutnya, ia berbalik dan lari keluar, bersandar pada dinding untuk muntah.
"Tersangka Kendy telah mengembara di Bandung selama dua tahun terakhir dan melakukan tiga kasus pembunuhan dan pemutilasian yang kejam."
"Dia secara khusus menargetkan wanita muda yang tinggal sendirian di kota ini dan mengamatinya untuk beberapa waktu sebelum bergerak agar tidak ketahuan."
"Tapi kali ini, tubuh korban Velline tidak terkubur terlalu dalam. Hal itu membuat tubuh terbawa oleh hujan beberapa hari yang lalu di Bandung."
"Beberapa orang yang memasuki hutan menemukannya."
"Aku teringat."
"Mengapa aku merasa familiar saat melihat wajah pria itu?"
"Sekitar sebulan yang lalu, aku melihatnya dekat dengan gedung perusahaan."
"Sore itu, hujan gerimis turun di Bandung."
"Aku meninggalkan gedung perusahaan dan Mama meneleponku, ia mengatakan bahwa Dea akan menikah dalam satu bulan."
"Mama memerintahkan aku untuk pulang."
Aku nggak tahan untuk tertawa: "Sudah setengah tahun aku pergi, tapi nggak ada seorang pun dari keluargaku yang mengontak aku. Kenapa aku harus pulang sekarang?"
Mama merasa sangat marah: "Velline, kamu tidak punya rasa terima kasih sama sekali! Ini juga rumah kamu!”
Apakah ini juga rumahku?
Setiap kali aku kembali, aku hanya bisa tidur di ranjang kecil di samping piano Dea.
Aku sengaja mengambil sayap ayam terakhir dari piring, dan Papa memarahiku karena dianggap tidak sopan dengan memukul-mukul sumpitnya.
Saat noda darah menstruasi mengotori celanaku, Mama menatapku dengan tidak senang dan menyuruhku untuk mencuci celana sendiri setelah menstruasi berakhir.
Apakah ini ini yang disebut sebagai rumah?
"Ma, aku tidak punya rumah."
Aku menutup telepon dengan senyum di wajahku.
Di balik tirai, hujan hanya beberapa langkah saja. (
Seorang pria berdiri di sana mengenakan mantel hitam, wajahnya agak buram.
Saat pandangan mereka bertemu, dia dengan canggung memalingkan kepalanya.
Tapi saat itu, dadaku dipenuhi dengan emosi sedih dan aku terlalu sibuk untuk memperhatikan orang yang lewat yang tidak biasa.
Jadi.
Dia sudah memperhatikanku sejak lama.
Dan setelah mendengar tentang pertengkaran antara Mama dan aku, dia memutuskan bahwa aku adalah sasaran yang mudah untuk dimanfaatkan.
Rasa sakit dari malam itu sepertinya kembali lagi.
Kali ini, itu turun ke jiwaku yang ringan dan tak berbobot.
Aku meringkuk di udara seolah tubuhku penuh lubang yang bocor angin.
Sakit sekali.
Sakit bahkan lebih dari malam itu.
Tapi aku tidak bisa tidak mengangkat kepala dan menatap langsung ekspresi ibuku.
Pada saat ini, aku masih mencari.
Akankah dia menyesal?
Akankah kamu sedih?
Akan ada ungkapan "satu persen dari sakitku"?
Dibawah pengawasan polisi, Mama pergi menemui si pembunuh.
Motivasinya untuk melakukan kejahatan sangatlah sederhana, hanya karena mantannya meninggalkannya dan pergi ke pelukan seorang lelaki kaya.
Pihak lain juga memasang jebakan, sehingga membuatnya kehilangan semua uangnya.
Sejak itu, dia menjadi sangat gila.
Korban yang ditargetkannya, lebih atau kurang, semuanya memiliki beberapa kesamaan dengan mantannya.
Melalui kaca.
Ruang interogasi itu dingin dan khidmat.
Dia menatap Mama dan tiba-tiba tersenyum.
Sepertinya dia tahu bahwa tidak ada jalan keluar untuk dirinya sendiri.
Dia juga ingin orang lain menderita bersamanya.
Di depan Mama, ia mulai berbicara tentang detail kematianku.
"Aku tidak sengaja membiarkannya mengambil ponsel dan bahkan membuat panggilan. Untungnya, pihak lain menutup telepon."
"Kamu memanggil putriku?"
"Putrimu terlihat sangat cantik saat menangis, dan dia terlihat lebih seperti jalang itu... jadi aku mengupas wajahnya."
"Putrimu sangat kesakitan sehingga tidak bisa menangis tetapi masih memanggil ibunya."
Polisi memaksa menghentikan perkataannya, "Cukup! Jangan mempermainkan keluarga korban!"
Mama berdiri di depan kaca.
Punggungnya tetap tegak, menatap lurus ke arah pelaku.
Dia tidak berbicara, juga tidak menangis.
Aku melayang di depannya, menghadapinya.
Dia tidak bisa melihatku.
Tidak juga bisa mendengarkan aku.
Aku berkata, "Mama, aku membencimu."
Malam itu.
Malam ketika aku diperkosa dan anggota tubuhku dilepas satu per satu,
Aku merasakan rasa sakit yang paling ekstrim yang bisa dirasakan oleh manusia.
Darah memancar keluar, mewarnai visi ku dengan warna merah yang pekat.
Teriakan putus asa layaknya binatang buas keluar dari tenggorokan ku.
Suara angin, serangga.
Daun-daun yang jatuh.
Berbagai macam suara bercampur menjadi satu, menggetarkan telinga ku.
Aku terus memanggil.
Mama.
Mama.
"Mama, sangat sakit."
"Selamatkan aku, Mama, selamatkan aku..."
Ketika manusia sangat putus asa dan tanpa daya, mereka secara tidak sadar akan memanggil gelar ini.
Berharap bahwa mukjizat akan terjadi.
Akan tetapi tak ada.
Mama tengah bermimpi indah di tempat tidur hangat dan nyaman di rumah.
Mimpi bahwa putri Mama, Dea menikah dan hidup dengan bahagia.
Kenzo sedang memburu gadis dalam hubungan yang stabil dan kuliah di universitas berprestasi.
Jurusan yang diminati dan berpotensi membuatnya mendapatkan pekerjaan bagus setelah lulus.
Dalam mimpimu, aku tidak pernah ada.
Setelah keluar dari kantor polisi, mereka pergi ke apartemenku untuk mengambil barang-barangku. Sesuai dengan alamat yang ditemukan oleh polisi.
Aku tinggal di sini setelah lulus, bekerja dan tinggal selama dua tahun.
Mereka belum pernah ke sini sebelumnya.
Duduk di dalam mobil, tiba-tiba Mama berkata, "Dea."
Dea menatap ibunya dengan gugup, dengan rasa bersalah yang tak terbantahkan tersembunyi di matanya.
"Panggilan telepon Velline sebelum kematiannya, apakah itu untukmu?"
"......"
Dea membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar.
Dia biasanya cerdas, tapi kali ini dia tidak bisa mengemukakan alasan yang tepat.
Akhirnya, dia berkata, "Aku harus bangun jam empat pagi untuk dandan. Aku tidur lebih awal...mungkin aku secara tidak sengaja mematikan alarm dalam mimpiku."
Dia meneteskan beberapa air mata, membuat kesedihannya terlihat tulus.
Mama mengangguk, tidak lagi berbicara.
Sepertinya hanya pertanyaan biasa.
Aku duduk di dalam mobil untuk waktu yang lama sebelum perlahan-lahan kembali ke kesadaranku dari rasa sakit yang intens sebelumnya.
Dea berkilau dengan air mata di matanya.
Aku mengingat masa lalu tanpa arah.
Kurang dari 24 jam setelah lahir, saudara kembarku berhenti bernafas.
Dokter mengatakan janin tidak berkembang dengan baik di dalam rahim ibu, sehingga menyebabkan kegagalan organ.
Di sisi tempat tidurnya, seorang nenek memberikan pengalamannya: "Ini pasti karena anak yang satunya mengambil semua nutrisi. Saya pernah melihat ini saat tahun-tahun saya melahirkan bayi di pedesaan. Lihatlah anak perempuanmu, dan dia tumbuh begitu baik."
Mama bersandar di sebelah tempat tidur, memandangku dengan rasa sakit hati dan kebingungan.
Saat lahir, bahkan Mama bahkan tidak memberi saya nama. Adalah nenek yang maju dan memberikan nama untukku.
Mobil itu sunyi.
Kenzo memecahkan keheningan.
Dia berkata dengan tidak enak, "Aku tidak mengira Velline akan memiliki nasib yang buruk..."
Tiba-tiba Mama menoleh kepadanya dan bertanya, "Kamu panggil dia apa?"
Kenzo ragu.
Biasanya dia memanggil saya Velline, nama depan dan belakang bersama-sama.
Di keluarga kami, itu adalah kesepakatan yang diterima tanpa perdebatan.
"Velline adalah saudaramu, hanya Papa dan aku bisa memanggilnya begitu. Kamu tidak bisa memanggilnya menggunakan namanya saja. Itu tidak sopan."
Kenzo dimanjakan sejak kecil, dan kemarahan tiba-tiba Mama membuatnya kebingungan.
Akhirnya, dia hanya dapat dengan canggung menyentuh hidungnya dan bertanya, "Ma, apakah kita akan mengkremasi kakak dan membawanya kembali?"
Mama melihatnya dengan dingin, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Sewaku bisa lebih rapi.
Apartemen satu kamar seluas 30 meter persegi itu memiliki sofa dan meja kopi di samping tempat tidur.
Setengah buah jeruk bali yang tertinggal di meja kopi sudah layu.
Selimut tergantung di atas sofa, dan banyak buku terserak di lantai.
Kenzo mengidap OCD ringan.
Dia ingin mengatakan sesuatu, memandang Mama, tetapi pada akhirnya tidak bicara.
Mama mengambil buku secara acak, tentang psikologi.
Dia terkesiap sebentar, menggulung beberapa halaman, dan kemudian jarinya tiba-tiba terkepal.
Dua bab tentang kecenderungan merusak diri dan keluarga ditandai dengan banyak garis olehku dengan pena.
Halaman-halaman ini telah terlepas, dan dengan cepat saat dilipat, terlihat bahwa mereka telah dilihat berulang kali.
Dia membuka laci lemari kecil di sebelahnya.
Rekam medis dari rumah sakit dan catatan percakapan dengan psikolog.
Beberapa kotak obat kosong.
Tumpukan kecil tiket pesawat dan kereta api ditempatkan di dalamnya.
Kebanyakan orang pergi ke kota-kota wisata populer.
Empat orang mengerumuni kamar kecil itu, dan semuanya merasa sesak.
Situasinya semakin tegang, membungkus mereka dalam kesunyian yang membara.
Dea tak tahan lagi.
Dia menunjuk tiket di atas dan berkata, "Untungnya, Velline senang sebelum pergi."
"Dia sudah pergi ke tempat bermain lebih banyak daripada kita."
Ini adalah salah satu tipu daya yang pernah dia gunakan padaku.
Sekali aku menyebut bahwa aku selalu merasa bahagia tanpa kehadiran mereka di dekatku saat sedang berbicara dengan keluarga.
Aku bersikap baik pada orang asing, bedanya ketika aku di depan mereka dan menjadi histeris dan gugup.
Ini untuk membuktikan ketidakpedulian dan kekejamanku.
Namun, hari ini tipu daya ini tiba-tiba tak berfungsi.
Mama tiba-tiba berpaling, menatapnya dengan pandangan dingin yang mengerikan.
"Ma.."
Dea baru saja mengucapkan dua kata ketika sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya.
Dea terperanjat karena pukulan Mama.
Papa selalu memihak Dea sehingga dia buru-buru melindunginya, mengerutkan kening dan bertanya, "Kenapa memukul anak ini? Tidak bisakah kita berbicara dan menyelesaikan masalah ini?"
Mama memegang rekaman percakapan saya dengan psikolog.
"Kapan kamu mulai melakukan perilaku menyakiti diri sendiri?"
---Setelah memasuki sekolah menengah pertama.
---Apakah kamu merasa terasing dari keluargamu? Mengapa kamu merasa seperti kamu tidak dibutuhkan?
"Ketika aku berumur lima tahun, kakak perempuanku bilang aku seharusnya mati bersama dengan saudaraku. Tanpa diriku, dia akan menjadi anak tunggal dan menikmati semua kasih sayang dari Mama dan Papaku. Mamaku juga pernah bilang aku dilahirkan sebagai benih yang buruk, dan menyebabkan kematian saudaraku."
Apakah pikiran bunuh diri sering terjadi? Apakah kamu memiliki masalah di rumah...
Bibir Mama bergetar ketika rasa sakit yang tertunda perlahan-lahan menyelimutinya.
"Kamu bertingkah begitu patuh di depan kami, Dea"
Suara Mama penuh kebingungan, "Apa yang kamu bilang pada Velline di belakangku?"
Papa mengatakan dengan tidak setuju, 'Velline bukanlah sebuah nama yang membawa keberuntungan, Dea tidak mengatakan sesuatu yang salah'."
"Diamlah!"
Mama berseru dengan suara tajam, wajahnya memerah dengan aneh.
Kenzo khawatir dengan kesehatannya dan segera berlari untuk meredakan amarahnya: "Pa, kau tahu bahwa Mama memiliki jantung yang lemah!"
"Meskipun Velline sudah mati, kamu tidak boleh memukul Dea seperti ini!"
Papa menyipitkan matanya.
Nampaknya Dea terpaku karena tamparan itu.
Dia menatap Mama sejenak dan tiba-tiba memberikan senyuman manis, namun jahat.
"Mama, tidakkah kau ingat? Aku masih muda dan tidak tahu apa-apa. Kau yang memberitahuku bahwa Velline menyebabkan kematian adikku yang lebih muda."
Kenzo menjadi marah: "Dea! Bagaimana berani kau bicara seperti itu kepada Mama!"
Mereka berdiri berhadapan, dua kubu, dengan dua orang di masing-masingnya.
Di kamarku, mereka saling berselisih dan saling menuduh atas kematianku.
Aku hanya terduduk di sofa, menyaksikan semuanya dengan dingin.
Hingga bel pintu berbunyi.
Itu adalah Ibu pemilik apartemen.
Dia tinggal di lantai atas dan membuka pintu dengan mata terbebelalak: "Siapa kalian? Di mana Velline?".
Sepertinya peredaman suara di ruangan ini cukup buruk.
Sehingga suara argumentasi keempat orang ini bisa terdengar hingga ke lantai atas.
"Velline sangat pendiam. Jadi, selama saya tinggal di sini, tak pernah merasa kebisingan".
"Baru kali ini terasa begitu berisik".
Aku memperhatikan keempat manusia yang berada di hadapanku. Seperti ada yang mencekik leher mereka, semua orang di ruangan terdiam.
Hingga tak beberapa lama kemudian, Mama berbicara.
"Kami adalah keluarga Velline. Dia telah meninggal sehingga kami hendak mengemasi barang-barangnya".
Ibu pemilik apartemen itu terkejut dan tak bisa menerima fakta yang ada. Perlahan, dia meneteskan air matanya dengan sedih
Dia menangis dan segera berbalik untuk kembali ke lantai atas, "Velline merupakan gadis yang baik. Kenapa dia sangat tidak beruntung.."
Ya, aku tak beruntung.
Sejak lahir hingga sekarang, selalu seperti ini.
Setelah interupsi itu, mereka berhentu berargumen dan dengan cepat mengepak semua barang-barangku dalam keheningan.
Akhirnya, Mama duduk di sofa dan membolak-balik rekaman medisku sendirian.
Hari sudah kembali senja.
Cahaya merah bercampur orange dari matahari terbenam menerangi kamar melalui jendela.
Sedangkan klakson mobil terdengar di luar jendela.
Mama berhenti sejenak dan mulai terlihat bingung.
Apakah dia mengingat sesuatu?
Misalnya, di pinggir jalan pada malam itu.
Dia memelukku, tetapi aku sedikit mendorongnya pergi.
Dia tidak sabar untuk merebut kembali cintanya.
Bagi aku, dia selalu sangat pelit.
"Dapatkah kamu menyalahkan aku untuk ini?"
Mama menutup rekam medis itu dan berbicara serak, "Dia belum pernah berperilaku yang masuk akal sejak kecil. Dia tidak dekat denganku. Kami memiliki tiga anak dalam keluarga ini, dan aku pasti lebih suka anak yang lebih dekat denganku."
Tidak.
Mama, kamu salah.
Kamu kini memutarbalikkan fakta.
Saat pertama kali dibawa pulang, instingku merasa bahwa kamu bersikap acuh tak acuh, jadi aku selalu mencoba cara yang berbeda.
Dea berkata ingin membantu pekerjaan rumah tangga, kamu tertawa dan mengatakan, "Anak kecil sepertimu bisa melakukan apa? Pergilah dan istirahatlah."
Aku menawarkan untuk membantumu mencuci piring, dan kamu dengan senang hati menyetujuinya.
Dan karena aku memecahkan mangkuk, kamu menepuk dahi dan menegurku karena ceroboh.
"Ma"
Sekali lagi, aku berbisik serak kata-kata yang tak bisa mereka dengar.
Tangisan pecah dalam suara tak dapat lagi tertutup.
"Ma, engkau membawaku ke dunia ini dan aku tidak mengerti apa-apa."
"Aku mencintaimu sama seperti engkau cintai aku."
Cintaku adalah cermin yang memantulkan cintamu.
Semua hal.
Ketidakpedulian yang kudapatkan, letusan emosional histeris, semuanya diajarkan olehmu.
Dalam keluarga ini, arti kamu bagiku berbeda dari yang lain.
"Aku pernah berada di rahimmu, terhubung denganmu oleh darah selama sembilan bulan penuh."
Koneksi ini masih terjalin, bahkan setelah kelahiranku.
Meski aku telah berjalan ribuan mil jauhnya, tetap saja hal ini menarikku, walaupun samar tapi konsisten.
Bahkan setelah kematiannya, aku masih dipandu oleh kekuatan tak terlihat ini, dan jiwaku kembali ke sisinya.
Aku mencoba membujuk diri sendiri bahwa dunia ini luas, hidup ini begitu besar, dan aku tak perlu terjebak oleh belenggu asal keluargaku.
Aku akan melihat gunung.
Melihat laut.
Minum obat tepat waktu setiap hari.
Aku melewati sebuah kota dan melihat seorang gadis kecil berjalan di taman bermain dengan ibunya, erat memegang balon merah.
Aku masih terdiam di tempat tiba-tiba.
Melihat dia.
Sama seperti waktu di sekolah dasar dulu, teman mejaku dengan bangga berkata padaku.
Dia gagal ujian, dan ibunya memarahinya.
Dia sengaja lari keluar rumah, akhirnya ibunya menemukannya dan memeluknya sambil menangis.
Ibunya mengatakan bahwa dia sangat takut jika anaknya hilang, dan ibunya tidak akan lagi memarahinya.
Saat itu, aku belum tahu.
Hanya anak yang dicintai yang bisa melakukan ini.
Jadi, sekali lagi, Mama mengurung aku di ruang penyimpanan untuk introspeksi.
Tiba-tiba aku mendorong pintu dan lari keluar.
Aku kabur dari rumah.
Duduk di ayunan usang di kompleks, melihat bintang-bintang langka di langit malam, mengulang-ulang dalam hatiku.
Kalau Mama pasti akan datang mencariku karena khawatir.
Apa yang harus kukatakan?
Yah, dia adalah Mamaku. Aku tidak bisa membiarkannya merasa terlalu sedih.
Katakan padanya agar lebih baik padaku di masa depan.
Tapi aku menunggu sampai tengah malam.
Awan gelap menutupi bulan, dan hujan turun dengan suara gemercik, dan tidak ada bintang.
Aku pulang ke rumah, basah kuyup.
Seluruh rumah sunyi.
Semua orang tertidur.
Siapa yang datang mencariku?
Esok paginya, aku pergi dari rumah dengan ranselku. Mama duduk di meja sambil sarapan dan berkata dengan santai,
"Kamu benar-benar mau kembali? Aku pikir kamu akan tinggal di sana selamanya, supaya kami bisa mengurangi beban makan di rumah."
Hanya anak yang dicintai yang bisa bertingkah seperti anak manja dan berhak untuk marah.
Aku tidak pernah bisa melepaskan diri dari reputasi burukku sejak masa kecil.
Setelah aku berusia lima tahun, aku terus-terusan berlari di dunia tanpa arahan.
Aku sudah banyak kali bertanya pada Mama mengenai alasannya.
Aku memohon padanya untuk mencintaiku.
Aku tak perlu dicintainya paling banyak.
Aku hanya butuh sedikit cinta darinya.
Sama seperti cinta yang dia berikan pada Kenzo dan Dea.
Kamu mampu melakukannya untuk mereka, jadi kenapa kamu tak melakukannya untukku?
Kenapa?
Tak ada jawaban.
Malam tiba.
Dia membalik halaman lain.
Sebelum aku bisa mulai membaca, polisi menelepon lagi.
"Maaf, Nyonya Netti, kami baru menangkap tersangka beberapa hari yang lalu dan departemen ini cukup sibuk. Anak Anda meninggalkan beberapa barang di sini, silakan datang dan ambil barangnya saat Anda punya waktu."
Ibu dan Kenzo pergi dari rumah bersama-sama.
Cahaya terang di luar menandakan dimulainya suasana yang ramai dan sibuk.
Mama menundukkan kepala dan berjalan sejenak sebelum tiba-tiba bertanya pada Kenzo, "Kamu pikir Velline sangat membenciku?"
"Tidak, tidak mungkin."
Kenzo terlihat terkejut dan butuh beberapa detik untuk mengeluarkan kalimat yang canggung,
"Mama, setelah semua ini, kamu yang melahirkannya... Seperti yang dikatakan pembunuh itu, dia masih memanggil namamu sebelum dia mati, bagaimana mungkin dia menyalahkanmu."
Pada titik ini, Kenzo tiba-tiba terdiam.
Kenzo sudah berusia dua puluh satu tahun, bukan anak kecil yang tidak mengerti apa-apa.
Dia sebenarnya tidak pernah menyukai aku sejak dulu.
Hanya saja tidak terlihat sejahat Dea, dan dia tidak bertindak semenyata atau seagresif Dea.
Sebagian besar waktu, dia berdiri di belakang Dea yang selalu mendukungnya.
Namun perilaku anak-anak hanyalah meniru orang dewasa di rumah.
Jika mereka tidak mendapat izin dari orang tua, Kenzo dan Dea tidak akan berani seperti ini melawanku.
Aku mengikuti mereka dan sampai di kantor polisi untuk yang kedua kalinya.
Polisi memberikan Mama sebuah tas berisi barang-barang pribadi.
Isi tas sangat sederhana: satu set kunci, satu bungkus tisu, dan ponsel dengan layar retak yang mirip jaring laba-laba.
Dan sebuah gelang emas yang penuh dengan noda darah dan sangat terdistorsi.
Ada sebuah kartu yang kusut terjepit di dalamnya.
"Selamat ulang tahun, Ma."
Mama menatap kosong gelang emas itu.
Menatap kata-kata yang buram di kartu yang terkena noda darah.
Setelah waktu yang lama.
Dalam menghadapi tatapan matanya yang selalu dingin padaku, terdapat kabut air mata yang mulai timbul.
Pada hari ketujuh setelah kematiannku, di tahun ketika aku berusia dua puluh lima tahun.
Mama menangis untuk pertama kalinya dalam hidupnya karena diriku.
13
Mari menggeser kembali jarum jam sebulan ke belakang.
Setelah menyelesaikan panggilan itu, di hari berikutnya aku pergi ke kantor, dan rekan kerjaku di sebelah tempat kerjaku memberitahuku bahwa dia sedang hamil.
"Aku harap itu anak perempuan."
Dia meletakkan tangannya di perutnya yang masih rata, dengan senyum lembut di bibirnya, "Aku lebih suka bayi perempuan."
"Setelah hamil dengannya, aku selalu suka makan jeruk, jadi panggilannya adalah 'si jeruk'"
Dia adalah wanita paling berkuasa di departemen itu.
Tapi ketika berbicara tentang anaknya, ekspresinya begitu lembut seperti yang belum pernah kusaksikan sebelumnya.
Melihat aku memandanginya, dia menoleh padaku dan bertanya, "Velline, ada yang salah?"
"Tidak."
Aku menggelengkan kepala.
Malam itu aku bermimpi, tentang sebelum aku lahir.
Mama mengetahui bahwa dia sedang hamil dan dengan lembut menyentuh perutnya.
Dia berkata, "Velline, panggil saja dia Velline. Sebab, saat aku hamil kamu, aku sangat suka makan buah persik."
Itu hanya cinta dan mimpi yang aku buat sendiri.
Aku kembali ke dokter.
Dokter bilang, "Jika kamu merasa tidak bisa melepaskan, coba mundur sejenak dan lihatlah."
Beberapa hal bukanlah penyakit yang bisa disembuhkan dengan obat.
Itu menjadi iblis yang mengurung hatiku.
Aku membeli gelang emas itu.
Dalam dua bulan lagi, Mama akan berulang tahun.
Pembuat lemari bertanya kepadaku dengan senyum, "Apakah kamu ingin menulis kartu ucapan untuk ibumu?"
Aku setuju dan mengambil pena dari tangannya.
Aku berpikir, mari kita coba lagi.
Aku ingin mencoba lagi.
Sekarang, aku sudah bukan anak kecil yang tidak mengerti apa-apa, dan dia sudah menua.
Mari kita bicara.
Aku selalu memiliki harapan.
Aku selalu berharap bahwa dia bisa mencintai ku kembali.
Namun sudah tidak ada kesempatan lagi.
Pada hari hujan itu, aku menjawab panggilan telepon tersebut.
Oleh karena itu, takdirku telah ditentukan sebulan yang lalu.
Abuku dan jejakku dibawa pulang dan ditempatkan di pemakaman di pinggiran kota.
Saudara dari rekan negaraku juga dikuburkan di sana.
"Masukkan abunya ke dalam tabung kecil."
Pada hari pemakaman, langit kelabu, tetapi tidak satu tetes hujan pun turun.
Mama berdiri di depan batu nisan sepanjang hari.
Kesedihannya dan penyesalannya sudah mulai timbul.
Aku pikir aku akan bisa lega.
Namun saat melihat kesedihannya, hatiku dipenuhi dengan ketidakpedulian tanpa akhir.
Rasa sakit dan emosi selama beberapa dekade yang akan datang meledak dalam beberapa jam itu, menghabiskan segalanya.
Malam itu, Mama duduk dengan tenang di sofa setelah pulang ke rumah.
Dia sudah pensiun.
Kenzo kembali ke sekolah, Papa sibuk di pabrik, dan Dea kembali ke rumah kecilnya bersama Yoki.
Setelah peristiwa yang singkat ini, semua orang kembali ke kehidupan masing-masing.
Setelah beberapa saat, Mama tiba-tiba menarik sudut bibirnya dan menunjukkan senyuman kecil.
"Peach, sekarang hanya kita berdua yang sedang berada di sini."
Kesokan harinya, Mama bangun lebih pagi dan membeli kebutuhan di pasar.
Karena sering membeli seafood, pemilik toko dengan ramah mempromosikan produk mereka segera setelah melihat Mama melewati rak seafood. Mereka berkata bahwa udang hari ini sangat besar dan segar.
"Saya yakin anakmu akan menyukainya"
"Tapi, Mama berkata demikian: "Putriku alergi dengan seafood".
Pedagang itu melihatnya dengan heran, tetapi tidak berkata apa-apa dan pergi melayani pelanggan lain.
Mama membawa keranjang bambu dan berjalan bolak-balik di depan beberapa toko sayuran.
Dia mengambil wortel dan kemudian meletakkannya lagi.
Kemudian, dia mengambil paprika hijau, tapi segera meletakkannya lagi.
Sungguh aneh.
Melihat itu, pedagang dengan sopan bertanya, "Mau masak masakan apa? Saya bisa merekomendasikan beberapa pilihan bagi Anda."
Aku melihatnya berdiri di sana, berjuang untuk mengingat, matanya terlihat kebingungan.
Tiba-tiba aku mengerti.
Dia tidak tahu makanan kesukaanku.
Sejak kecil hingga sekarang, aku tidak pernah memiliki keistimewaan memesan makanan seperti Dea, juga tidak pernah secerewet Kenzo.
Aku tidak punya pilihan selain makan apa pun yang dipesan olehnya.
Akhirnya, penjual di warung itu mengambil sebuah keranjang bambu kecil dari rak bawah dan mendorongnya ke depan ibuku.
"Sayur liar dari Bandung yang baru tiba, sangat segar. Mau beli daging tumis buat di rumah?"
Bandung.
Kata itu seperti pisau tajam menusuk sarafnya. Mama membungkuk, memegang segelintir kecil sayur liar, dan air mata jatuh satu per satu.
"Velline."
"Velline."
Dia memanggilku dengan nama panggilan yang sayangnya hanya beberapa kali disebutkan di hadapanku.
Tapi sekarang aku sudah mati, bagaimana aku bisa mendengarnya?
Dia tidak membeli apa-apa dan pulang ke rumah dengan keranjang bambu kosong.
Setelah termenung, dia bangkit dan menelepon Dea.
Dengan nada dingin: "Engkau sudah tidak belajar piano selama enam bulan. Aku akan kirimkan piano itu ke rumahmu jika kau masih menginginkannya. Jika tidak, aku akan meminta pemulung untuk mengambilnya."
Tiba-tiba Dea menangis.
Dia menangis dan berkata, "Mama, apa yang kau lakukan? Hanya karena aku akan menikah, bukan berarti aku bukan lagi anak dari keluarga ini dan tidak pantas mendapatkan tempat tinggal di rumah, kan?"
"Kamarmu masih tersimpan untukmu."
Mama berkata tanpa ekspresi, "Aku akan membersihkan kamar Velline."
Dea berhenti berbicara.
Sebelum aku meninggal, aku meneleponnya, tetapi putus. Namun, aku tidak menyalahkannya atas kematianku.
Namun, posisinya dalam keluarga ini sangat sulit.
Mama bergerak dengan sangat cepat.
Keesokan harinya, ruang piano dikosongkan.
Dia berjalan-jalan di sekitar pasar mebel, awalnya mencoba mencari tempat sampah tempat dipindahkan tempat tidur dan lemari yang sama.
Tapi pada akhirnya, dia tidak bisa menemukan kasur dan lemari yang persis sama dengan milikku dulu.
Dia mengambil baju-bajuku yang ada di gudang, meratakannya satu per satu, dan menggantungnya di lemari.
Hanya ada beberapa helai totalnya.
Selain itu, semuanya dibeli ketika aku masih di sekolah; bahkan jika aku masih hidup, aku tak bisa lagi memakainya.
Lalu dia keluar, menemukan seorang pengrajin di toko perhiasan untuk memperbaiki gelang sebisa mungkin, dan mengenakannya di pergelangan tangannya.
Foto kenangan ku diletakkan di kamar, dan hal pertama yang dilakukan Mama setelah bangun tidur setiap paginya adalah membersihkannya.
Aku mencoba memahami apa yang ingin dia lakukan.
Mengganti apa?
Atau ingin merasa sedikit lebih baik.
Sebelum aku meninggal, aku sangat rindu akan cintanya.
Bahkan sedikit saja sudah cukup bagiku.
Tapi aku hanya menerimanya setelah kematian.
Aku melayang-layang di kamar, merasa sedikit gelisah, ingin menjungkirbalikkan segalanya di rak buku dan merobek selimut baru yang baru saja ia pasang.
Seperti tak terhitung kali sebelumnya, dia menunjukinya dan melontarkan kutukan dengan kata-kata yang menyakitkan yang melukai keduanya.
Berhenti berpura-pura, Ma.
Untuk meredakan rasa bersalahku, aku membuat gambaran palsu tentang seseorang yang mencintaiku.
Apakah kamu bahkan percaya dirimu sendiri?
Tapi aku tidak bisa mengatakannya dengan kata-kata.
Dia tidak akan bisa mendengarnya bahkan jika diucapkan dengan keras.
Ini pertama kali aku menyadari bahwa hidup sebagai jiwa itu kejam.
Kapan aku bisa menghilang dan bereinkarnasi?
Aku akan tetap terjebak di rumah ini yang bukan milikku, dalam posisi ini, selamanya.
Dengan dingin menyaksikan kehidupan bahagia mereka dari sisi ini.
Untungnya, jawaban datang dengan cepat.
15
Pada sore harinya, tiba-tiba Mama menerima panggilan dari sekolah Kenzo.
Mereka mengatakan bahwa Kenzo berkelahi dengan teman sekelasnya, dan gerakannya sangat keras.
Pihak lainnya terluka parah, dan Kenzo di-DO.
Bahkan, dia juga memiliki kemungkinan untuk menghadapi hukuman penjara.
"Bagaimanapun, saya harap wali dapat datang ke sekolah segera untuk menyelesaikan prosedur pengunduran diri."
Mama memegang teleponnya dan membeku, "Kenapa? Dia masih memiliki hampir setengah tahun lagi untuk lulus. Bagaimana mungkin dia bertengkar dengan teman sekelasnya tanpa alasan?"
Penjelasan sekolah itu eufemistik dan sopan, cukup baik.
"Ini karena beberapa perbedaan emosional."
Ini karena Kenzo telah mengejar seorang gadis untuk waktu yang lama, dan hampir siap untuk mengakui perasaannya kepada dia, tetapi seorang anak laki-laki lain merebutnya darinya.
Dia tidak bisa mempercayainya dan berlari mendekati untuk mempertanyakannya.
Bocah itu memegang tangan perempuan itu kemudian tersenyum meremehkan, "Kakakmu baru saja meninggal dengan begitu tragis, tapi kamu masih punya semangat untuk bicara tentang cinta. Parah sekali?"
Mulai saat itu Kenzo mengamuk.
Mereka berdua bergelut satu sama lain.
Dalam momen yang pas, Kenzo meraih gelas dan memukulkannya ke dahi tersebut, sehingga pecahan kaca itu menembus pelipisnya.
Karena dia yang memulai serangan dan pihak lain terluka lebih serius.
Maka drop out adalah pilihan paling fair sekarang.
Karena jika situasi berubah menjadi lebih buruk, maka orang tua dari anak laki-laki itu sudah melaporkannya ke polisi.
Kenzo yang selalu sombong di depanku, kini menangis ketika melihat Mama.
Sedangkan Mama masih duduk tenang dan menegosiasikan ganti rugi dengan orang tua pihak lain.
Awalnya, mereka sangat tegas dan mengatakan ingin mengajukan banding. Bahkan jika mereka tidak bisa membuat Kenzo di penjara terlalu lama, setidaknya harus meninggalkan catatan kriminal padanya.
Hingga Mama menyarankan penyelesaian masalah dengan seratus juta rupiah.
Akhirnya, meskipun Kenzo putus sekolah, dia tak sampai harus masuk ke penjara.
Di jalan pulang, ekspresinya sangat murung.
Dia tidak bisa menahan diri untuk berkata, "Velline sudah meninggal. Apa salah jika aku ingin memiliki pacar? Tidak bisakah aku menjalani kehidupan normal?"
Mama tiba-tiba menoleh untuk melihatnya.
Pandangannya, seolah-olah ia sedang melihat orang asing sehingga membuat Kenzo merinding.
"Apa yang terjadi, Ma?" tanyanya.
Mama menggelengkan kepalanya dan berkata dengan suara serak, "Ayo pulang."
Karena Kenzo hanya memiliki ijazah SMA, maka tidak ada perusahaan bagus yang akan mempekerjakannya.
Mama memintanya untuk mengikuti jejak Papa ke pabrik keluarga dan bersiap-siap untuk mengambil alih bisnis keluarga di masa depan.
Karena pekerjaannya sangat menantang, maka seharusnya Kenzo lebih mau untuk melakukannya.
Namun, dia juga menyadari bahwa memang sudah tidak ada jalan lain.
Dan di bulan ketiganya bekerja di pabrik setelah mulai bekerja.
Ada sesuatu yang terjadi.
Tangan kanan seorang pekerja terperangkap di dalam mesin dan hancur.
Dia dikirim ke rumah sakit dalam keadaan tertutup darah, hampir tidak bisa bertahan hidup.
Namun, saat istrinya baru saja melahirkan dan anaknya masih kecil, keluarga tersebut kehilangan dukungan utamanya mulai saat itu.
Sedangkan Papa, ia memanfaatkan celah dalam kontrak, dan bukannya memberi kompensasi pada pekerja, ia justru menuntut kompensasi untuk kerusakan yang disebabkan oleh kesalahan operasi mesin oleh pekerja tersebut.
Namun, tidak lama kemudian, hukuman datang.
Setelah pekerja keluar dari rumah sakit, ia masuk ke pabrik dengan membawa pisau dan bertemu dengan Papa. Ia menempelkan pisau pada leher Papa dan memaksa dia untuk memasukkan kedua tangannya ke dalam mesin.
Saat adegan itu terjadi, Kenzo berdiri di samping dan menyaksikannya dengan diam.
Padahl itu ayah kandungnya.
Tapi ia bahkan tidak berani maju dan merebut pisau tersebut.
Dia hanya berani membawa Papa ke rumah sakit setelah insiden itu dan menelepon Mama.
Aku mengikutinya, mengambang masuk ke dalam rumah sakit.
Melihat Mamaku datang, dia menampar Kenzo yang panik.
"Itu ayahmu! Kenapa kamu tak melakukan apa-apa untuk menghentikan orang itu dan menyelamatkannya?!"
Mata Kenzo memerah karena terkena pukulan, ia menangis sambil berkata, "Mama, orang itu membawa pisau."
Betapa konyolnya.
Dia berani terlibat dalam tawuran dengan teman sekelasnya karena seorang gadis.
Tapi dia tidak berani mengambil pisau dari pria yang mengancam ayahnya, yang selalu baik dan siap untuk membuatnya meneruskan bisnis keluarga."
Akibatnya, tangan kanan Papa tidak bisa diselamatkan.
Sedangkan tangan kirinya hanya tinggal dua jari saja. Bahkan telapak yang gundul terlihat mengerikan dan menyeramkan.
Dia bilang itu terasa sakit.
Mama menatap bekas darah di kassa, lalu tiba-tiba bertanya tanpa sadar.
"Menurutmu, apakah di malam itu, Velline merasakan rasa sakit yang lebih banyak dari ini?"
"Dia memanggilku, memanggilku... tapi aku tidak mendengarnya."
"Bagaimana aku bisa tidak mendengarnya?"
Tidak ada jawaban.
Mama, mengapa kau baru mengerti sekarang?
Beberapa pertanyaan tidak akan memiliki jawaban.
16
Setelah ayahku keluar dari rumah sakit, ia menjadi depresi.
Dan kemampuan Kenzo sendirian tidak dapat menopang seluruh pabrik.
Ketika kebingungan, Dea membawa Yoki pulang ke rumah.
Dia menyarankan agar mereka mengurus Kenzo bersama sebagai pasangan.
Ibuku menatap wajahnya dengan tajam.
Terdapat beberapa lebam ringan di wajah indahnya.
Sepertinya mereka sudah terluka sebelumnya dan sekarang sedang dalam pemulihan.
"Apa yang sedang terjadi?"
Ibuku menarik Dea masuk ke dalam kamar dan menanyainya dua kali, dan dia menangis.
"Setelah Velline meninggal, Yoki tidak pernah memperlakukan aku dengan baik. Ayahku sebelumnya juga sudah menyebutkan memberikan pabrik kepada Kenzo, yang menyebabkan pertengkaran besar antara Yoki dan aku. Dia mengatakan tak ada gunanya, ayahku sangat mencintaiku jika bisnis keluarga masih diberikan kepada putranya."
"Aku bertengkar dengannya. Dia bilang kalau Velline nggak separah itu, dan kalau saja kami nggak menyebarkan gosip di depannya, aku nggak akan merayunya di kamar tengah malam, dan dia nggak akan putus dengan Velline."
"Dia bahkan memukulku, mengatakan bahwa aku dengan sengaja tidak menjawab telepon dan menyebabkan kematian Velline."
"Ibu, bagaimana bisa dia memperlakukanku seperti ini..."
Dea tumbuh menjadi anak manja yang dimanja sepenuhnya.
Mereka bahkan tidak tega membiarkannya melakukan pekerjaan berat.
Dari mana kamu pernah merasakan rasa sakit seperti ini?
Dia menatap ibuku dengan mata berkaca-kaca, berpura-pura lemah dan membutuhkan pertolongan.
Aku harap dia bisa membuat keputusan sendiri.
Tapi ibuku hanya menatapnya tanpa ekspresi, "Apa dia mengatakan sesuatu yang salah?"
Dea kaku saat melihatnya, tidak bisa percaya pada apa yang dilihatnya.
"Seberapa besar kamu membenci Velline? Kamu harus tahu, Velline tidak pernah menghubungi kamu duluan. Jika dia meneleponmu, pasti ada masalah sangat penting atau bahkan berbahaya."
"Apa yang kamu pikirkan saat menutup telepon, kamu tahu jelas di dalam hatimu."
Dia melewati Dea dengan acuh tak acuh dan keluar begitu saja.
Aku bertumpu pada dinding dengan segenap kekuatanku seolah-olah hal itu akan memberikan kekuatan dukungan padaku.
Aku tidak pernah sadar bahwa ibuku bisa sangat cerdik juga.
Bisa juga ini adalah kepekaannya terhadap pikiran cemas Dea.
Kamu juga bisa mengungkap trik-trik kecilnya tanpa belas kasihan.
Bisakah kamu menantang kedengkiannya terhadapku?
Tapi mengapa aku tidak merasakan apa-apa saat aku masih hidup?
Kamu harus menunggu sampai kematian terjadi baru memberitahuku ini.
Selama makan malam, mereka mulai bertengkar lagi.
Hanya untuk kepemilikan pabrik itu.
Aku tidak pernah membayangkannya.
Namun Kenzo dan Dea dengan tegas menganggap itu milik mereka masing-masing.
Mereka mulai bertengkar, mengekspos kelemahan satu sama lain.
"Tapi entah bagaimana topik ini selalu berakhir pada diriku."
Kenzo mengatakan, "Saat kau merusak syal sutra ibu, kau menyalahkan Velline. Bagaimana kau bisa berani menuduhku?"
Dea mengatakan, "Mengapa Velline diintimidasi di SMA dulu? Bukankah itu karena kau yang membuka ikatan bra nya saat di jalan ke sekolah, lalu lari begitu saja dan ditangkap oleh beberapa pengganggu di kelasnya?"
"Setelah Velline pergi kuliah, kamu langsung membuat ibu yang masih marah, mengubah kamarnya menjadi ruang piano. Apa bakatmu itu? Kamu belajar piano tanpa alasan yang jelas, kamu kira orang lain tidak tahu apa yang kamu pikirkan!"
"Kamu berani berkata seperti itu padaku! Bukankah kamu yang meyakinkan ibu untuk membuat Velline kuliah di universitas lokal supaya bisa membantu pekerjaan rumah? Kamu bahkan tidak mau mencuci celana dalammu sendiri dan ingin melemparkannya ke Velline!"
Mereka bertengkar dan berselisih.
Tidak menyenangkan.
Wajah ibuku menjadi semakin pucat.
Tiba-tiba dia berdiri: "Cukuplah!"
"Velline sudah meninggal. Bisakah kamu melepaskannya saja?"
Ibuku bersandar di atas meja, dadanya naik turun dengan hebat: "Velline meninggal dengan begitu tragis sampai tetangga, bahkan si pemilik kontrakan pun menangis mendengar kabarnya, tapi kau bahkan tidak menumpahkan air mata untuknya."
"Sekarang kau masih ingin membicarakannya lagi——"
"Sudah cukup."
Papa tiba-tiba memotongnya, "Aku mengerti rasa sakitmu karena kehilangan seorang putri, tapi apa kau terlalu jauh, Netti? Aku merasa sakit sepanjang malam di rumah sakit dan tidak bisa tidur. Kau tidak datang menghiburku. Kau hanya terpikirkan Velline. Kau tidak membantuku membeli sarapan pagi dan hanya pergi kembali membersihkan fotonya."'
"Kalau kamu tanya aku, dia itu hanya kurang beruntung saja. Dia terlalu sial mati pada hari yang baik untuk saudara perempuannya. Keberuntungan keluarga kita buruk sekarang, dan mungkin itu semua karena dia."
Dia berhenti sejenak untuk merapikan pikirannya dan mengatakan dengan kesetiaan, "Aku telah berkonsultasi dengan master, dan dia menyarankan agar selama kita memindahkan abu Velline dari makamnya dan membuat sumur untuk menekannya, dia tidak akan lagi mempengaruhi keluarga kita."
"Kita akan terus berjalan dengan lancar ke depannya."
"Meski sudah mati, semuanya masih saja begitu sial."
Ibuku berhenti bicara.
Dia seperti bunga layu, kehilangan tenaga dalam sekejap waktu.
Setelah sekian lama, akhirnya dia mengangkat matanya dan menyapu orang-orang di depannya.
Ayahku yang tidak punya perasaan, Dea yang bermuka dua, dan Kenzo yang egois dan ceroboh.
Di balik keluarga yang harmonis ini, keluarga ini telah lama seperti kayu yang lapuk.
Ketika aku masih hidup, mereka hampir tidak pernah menjalin hubungan denganku dengan rasa jijik dan kebencian terhadapku.
Tapi sekarang, aku sudah mati
Sebagai pencetus kematian tragisku.
Suami dan anak-anak tercinta ibuku akhirnya memperlihatkan sifat aslinya kepadanya.
Aku menatap ketiga orang di depanku dengan ekspresi yang berbeda.
Oh tidak, ada empat orang.
Dan juga Yoki.
Dia tiba-tiba menjadi tenang.
Dengan nada bicaranya yang begitu lembut sehingga sulit dipercaya: "Kamu benar."
"Velline adalah satu-satunya orang sial dalam keluarga ini. Kita tidak seharusnya bertengkar karena dia."
"Duduklah, dan mari makan."
17
Aku menonton dan tidak merasa terkejut.
Memang selalu seperti ini selama bertahun-tahun.
Tapi kali ini, setelah mencuci piring.
Ibuku mengunci dirinya di kamar tidurku.
Dia memegang fotoku, ujung jarinya gemetar membelainya dengan lembut.
"Aku minta maaf."
"Maafkan aku, Velline."
"Sudah terlalu lama kamu menderita dan kami banyak berutang padamu."
"Ibu lah yang berutang padamu."
"Ibu akan meminta maaf kepadamu dengan semua orang bersama-sama."
Dia membuka laci dan mengambil sebotol pil.
Akhir-akhir ini, dia sering terbangun oleh mimpi buruk dan membeli pil tidur dari apotek.
Aku melihat dia menghancurkan seluruh botol pil menjadi bubuk dan mencampurkannya ke dalam air.
Keesokan harinya, dia memasak makanan yang banyak, menaburkan pil tidur secara berlebihan ke semua hidangan.
Mereka makan dan tertidur, masing-masing kembali ke kamarnya.
Dan Ibuku - - -
Dia membuka semua pintu di rumah, mengunci pintu depan, mengambil semua telepon, menghancurkannya, dan melemparkannya bersama kunci rumah keluar jendela.
Dan kemudian, menutup semua jendela dengan rapat.
Nyalakan sakelar gas alam, buat kompornya jadi maksimal, lalu gunakan air untuk memadamkan api.
Setelah selesai melakukan semuanya, dia memegang fotoku dan duduk diam di sofa, menunggu kematian mendatang.
Aku melayang di sebelahnya dan melihatnya.
Sama seperti saat itu di ruang interogasi, berhadapan dengan dia lewat kaca.
Aku melihat napasnya semakin cepat dan pupilnya perlahan-lahan membesar.
Aku berkata, "Mama, mengapa kamu harus melakukan ini?"
"Bisakah dosa-dosa kita ditebus dengan kematian?"
"Aku tidak tahu."
"Aku tidak tahu."
Aku akan membencimu selamanya.
Aku tidak akan pernah memaafkanmu.
Hidupnya perlahan-lahan memudar.
Aku juga melayang tak terkendali menuju pintu, dan ketika aku melayang ke pintu masuk, aku mendengar suara ibuku: "Velline!"
Dengan hati-hati dan penuh kebahagiaan,
"Velline, apakah itu kamu?"
"Jangan pergi dulu, Velline. Ibuku ingin bertemu kamu..."
Aku tidak menoleh.
Tak ingin melihat wajah terakhir sebelum kematian.
Jangan bertemu di akhirat juga.
Ibu.
Jiwaku perlahan menyatu dengan angin.
Sepertinya aku melihat Nenek.
Dia memakai baju berbunga lembut dan datang memegang tanganku.
Dia bilang sudah mencari Velline selama 20 tahun dan menemukan keluarga yang baik untuknya.
Di kehidupan selanjutnya, Velline pasti akan bahagia.
Nanti, Nenek masih menjadi nenekmu.
Tanam pohon surian dan pohon persik yang harum di depan rumah.
Malam larut sudah tiba.
Kesadaranku belum sepenuhnya hilang, jadi aku melihat pemandangan paling indah di dunia.
Terkadang,kita bisa melihat bintang jatuh diantara pegunungan dan laut pada malam hari.
Awalnya, malam ini ada beberapa bintang jatuh.
Konon kabarnya, sebuah permintaan saat melihat bintang jatuh akan terkabul.
Maka, di kehidupan berikutnya aku ingin dicintai oleh ibu dan ayahku.
Kamu harus lebih kaya.
Selama ada kue di ulang tahunmu.
Ketika kami pergi ke taman bermain, ada balon merah.
Itu baik seperti ini.
Itu bagus sekali.
Itu baik sekali.