#Cerita 10+ Menit
Guru matematika SMAku telah membesarkanku.
Karena ibuku adalah orang yang sangat menyayangi adik perempuannya, dia tanpa ragu memotong uang makanku untuk membiayai sekolah pilihan sepupuku.
Saat itu, orang yang membantuku adalah guru matematikaku.
Sekarang, dia adalah ibu mertuaku dan ibu kandung didalam hatiku.
1
Sepupu dari tanteku dua tahun lebih muda dariku.
Ketika sepupuku berusia dua belas tahun, ayahnya menyerang seseorang hingga terluka, dan sebab itu sepupuku mulai tinggal bersamaku.
Aku telah tinggal di sini selama lebih dari sepuluh tahun.
Keluargaku yang berisikan tiga anggota keluarga tinggal di sebuah apartemen dengan dua kamar tidur dan satu ruang tamu.
Satu untukku dan satu untuk orang tuaku.
Setelah sepupuku pindah ke rumah kami, ibuku merombak ruang tamu menjadi dua ruangan.
Ruangan ini adalah ruangan yang sempit yang berada di samping balkon.
Menurutku, kamar yang sempit seharusnya untuk sepupuku tinggal.
Tapi ibuku menatapku dengan mimik kecewa dan berkata, "Meili, bagaimana kamu bisa sangat egois? Sepupumu sudah sangat menderita, dan kamu sebentar lagi akan masuk SMA. Kamu hanya akan tinggal di rumah beberapa hari lagi saja."
Aku memandang ayahku, dan dia hanya menatapku tanpa bisa melakukan apa pun.
Sepupuku yang hanya menggunakan pakaian santai mulai mengalihkan perhatiannya ke televisi.
Pada akhirnya, aku tidak hanya harus melepas kamar itu, tetapi juga dijuluki sebagai orang yang egois.
Apartemen kami hanya memiliki satu balkon yang biasanya digunakan untuk menjemur pakaian.
Karena hal tersebut, ruangan ini tidak memiliki privasi.
Aku meminta selembar sprei pada Ibu.
Ibu berkata, "Apakah kamu pikir uang tumbuh dari pohon? Apakah kamu pikir uang dengan mudahnya bisa ditemukan di jalan? Apa kamu tidak memikirkan ibu?"
Mendengar ucapannya, aku tidak berani meminta lagi.
Tapi tak lama kemudian, aku melihat sepupuku mengganti gorden.
Saat aku di kelas dua SMA, nilai matematikaku hancur.
Saat sudah berada di penghujung SMA, banyak teman sekelas yang mengikuti les.
Aku juga ingin mengikuti les.
Setelah menimbang-nimbang, akhirnya aku memberanikan diri untuk bicara dengan ibuku.
Ibu terlihat bingung, lalu bertanya berapa banyak uang yang dibutuhkan.
Aku menjawab empat juta rupiah per semester, dan guru kelasku tidak mengadakan les privat di luar jam pelajaran.
Guru di kelas lain menawarkan les privat, biayanya empat setengah juta rupiah per semester dan diadakan dua kali dalam seminggu. Harga tersebut sudah sangat murah.
Kata-kata "sangat murah" sepertinya agak menyentil ibuku.
"Bagaimana kamu bisa berpikir empat juta rupiah itu murah? Apakah kamu sudah bisa menghasilkan uang sendiri? Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu?"
Akhirnya, Ibu tidak memberikan uang les itu, malahan aku kena marah.
Kemudian aku tahu jika sepupuku tidak lulus ujian tengah semester.
Ibuku mengeluarkan banyak uang untuk membayar sekolah sepupuku, dan pada saat yang sama, pekerjaan ayahku sedang tidak lancar.
Keuangan keluarga sedang menipis, jadi wajar saja jika harus mengurangi pengeluaran.
Ibu mulai mencatat semua pengeluaranku, termasuk uang jajanku.
Sarapan seharga 4.600 rupiah, makan siang 12.000 rupiah, dan makan malam 8.000 rupiah, totalnya kurang dari 30.000 rupiah sehari.
Aku sekolah 26 hari selama sebulan, dan hanya mendapatkan 780,000 rupiah untuk biaya makan selama sebulan. Dan beberapa uang tambahan untuk membuatnya menjadi 900,000 rupiah.
Dulu aku mendapatkan 1.2 juta per bulan tanpa berpikir untuk menabung. Aku merasa keluargaku kaya.
Intinya, uang jajanku turun dari 1.2 juta menjadi 900,000.
Sebenarnya, uang ini sudah cukup untuk makan, tapi aku tidak bisa membeli keperluan lain.
Mulai saat itu, aku mulai menyadari pentingnya uang.
Aku biasanya memilih untuk tidak makan malam, dan berbagi makan siang dengan teman sekamar yang sedang kesulitan uang.
Dengan cara ini, aku dapat menyimpan 6,000 rupiah dari makan siang dan 8,000 rupiah dari makan malam.
Aku dapat menghemat 14,000 rupiah dalam satu hari.
Barulah di tahun ketiga SMA, guru matematikaku, Bu Leni, mengetahui bahwa aku memiliki masalah keuangan.
Ia mulai membantuku dengan memberikan les tambahan setiap sore secara gratis.
Meskipun aku tidak memiliki uang saat itu, aku pikir aku bisa mencari uang sendiri nantinya.
Aku menulis surat perjanjian utang kepada Bu Leni yang berisi persetujuan untuk membayar les yang ia berikan dan les untuk ujian masuk kuliah setelah aku mendapatkan pekerjaan di musim panas.
Bu Leni tidak bisa menolak dan menerima surat perjanjian utang tersebut.
Setiap kali aku membayar utang, Bu Leni selalu membawa banyak makanan. Ia berbohong bahwa dia tidak bisa menghabiskannya sendiri dan memintaku untuk membantunya menghabiskan makanan tersebut.
Bahkan kadang ia memberikanku susu dan berbohong bahwa ia tidak bisa menghabiskan minumannya.
Aku tahu ia melindungi harga diriku yang rendah.
Sebagian besar susu di rumah kami dihabiskan oleh sepupuku. Ibuku selalu bilang dia masih muda dan mengapa aku harus marah.
Sepupuku sedang berada di masa pertumbuhan.
Sedangkan aku sudah sangat besar, sudah tidak dalam masa pertumbuhan.
Berkat kehadiran Ibu Leni, tahun terakhirku berjalan lancar.
Saat itu, aku bersumpah dalam hatiku bahwa aku akan balas budi di masa depan.
Sepanjang tahun itu, interaksi antara aku dengan ibuku hanya untuk membeli beberapa materi ulasan, meminta tambahan uang, dan saat pulang ke rumah selama liburan.
Ibu kandung sepupuku datang untuk tinggal selama dua hari dan dia cukup merepotkan.
Karenanya ia pun tidur di kamarku.
Aku bahkan sudah tak memiliki kamar. Aku bahkan bertengkar dengan ibuku mengenai masalah ini.
Ibuku hanya bisa memarahiku, "Tidak bisakah kamu bertahan beberapa hari? Apakah kamu pikir rumah ini hanya untukmu?"
Aku sangat marah sehingga aku ingin kabur dari rumah.
Namun sayangnya, aku menyadari bahwa aku bahkan tidak punya tujuan untuk pergi.
Kakek dan nenekku telah lama meninggal, dan orang-orang yang paling mencintaiku juga sudah tidak ada.
Pergi ke rumah nenekku hanya akan menekankan ketidakberdayaanku.
Aku hanya bisa diam dan membiarkan ibuku meluapkan kemarahannya kepadaku.
Di malam hari, sepupuku terbangun dan aku bergelung di atas sofa di ruang tamu untuk tidur.
Kami saling menatap tanpa berkata-kata.
Dia melirik ke arah kamarku yang kecil dengan sedikit rasa kesal, dan kemudian tiba-tiba berkata, "Aku sangat iri padamu!"
Aku menatap matanya dan berkata, "Aku sangat membenci kalian setiap hari!"
Mungkin karena usianya yang masih muda, dia pergi dari pandanganku.
Sebentar lagi ujian masuk perguruan tinggi akan selesai, dan keinginanku tercapai untuk diterima di universitas impianku.
Aku bekerja pada musim panas, membagikan selebaran saat siang hari dan menjadi pelayan di restoran hot pot saat malam hari.
Suatu malam saat sudah larut, ketika aku selesai bekerja dan kembali ke rumah.
Saat itu, sepupuku sudah kelas tiga SMP, dan aku tak sengaja membangunkannya.
Ibuku juga terbangun saat itu dan sepupuku.
Sepupuku berkata, "Tante, aku takut telat besok, Tante harus membangunkanku!"
Ibuku mengerutkan kening dan melipat tangan di dadanya. Biasanya, ketika dia melakukan gerakan ini, itu berarti dia akan mulai memarahiku.
"Aku langsung berkata, 'Restoran hotpot menawarkan tempat tinggal gratis. Aku bisa pindah dan tinggal di sana besok'."
Dia berhenti sejenak, lalu segera berkata, "Apa maksudmu? Kamu melakukan ini untuk siapa? Apa ada yang salah? Apakah aku menindasmu? Hal itukah yang membuatmu ingin pindah?"
Dia terus bertanya.
Hingga Ayah terbangun, yang masih mengenakan jaket dan dengan mata masih setengah terbuka. Ia berkata, "Meili, apa yang kamu lakukan tengah maam begini? Bisakah kamu tenang sedikit? Ini sudah larut malam."
Aku melihat mereka bertiga, betapa mereka terlihat seperti sebuah keluarga.
Aku tidak mengatakan apa pun, tapi aku juga tak bisa mengontrol air mataku.
Aku hanya bisa menunduk. Sepupuku melirikku dan menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah.
Ayahku menyadari bahwa aku menangis dan mendekat untuk menghiburku.
Dia dengan ragu meraih bahuku untuk ditepuk, tetapi aku dengan cepat menghindar.
Kemudian aku pergi ke kamar kecil itu.
Aku tidak tidur semalaman. Aku melangkah ke balkon dan melihat bulan di langit yang gelap.
Sama seperti hidupku yang gelap.
Air mata terus mengalir.
Aku bersumpah di dalam hatiku bahwa aku akan membeli sebuah rumah untuk diriku sendiri, dan aku harus meninggalkan tempat ini.
Aku ingin mereka semua menyesal.
Keesokan paginya, mataku sangat bengkak sehingga aku hampir tidak bisa membukanya.
Ketika aku membuka pintu, aku melihat ibuku tersenyum padaku, sambil memegang gaun merah muda di tangannya.
Sekilas, aku mengenali gaun itu adalah gaun yang Ibu beli untuk sepupunya beberapa hari yang lalu.
Ibu meraih tanganku, tapi aku langsung bereaksi dan menghindarinya.
Wajahnya langsung berubah dan berkata, "Haruskah kita bertengkar seperti ini? Sudah satu malam berlalu, apakah kamu masih memendam dendam pada ibu?"
Aku tidak mengatakan apa pun dan berbalik pergi menuju kamar kecilku.
Tapi Ibu menghentikanku dan berkata, "Tidak ada orang yang lebih menyebalkan darimu."
Aku mengabaikannya dan dia mengikutiku masuk ke kamar kecil itu sambil terus berkata, "Apa kamu tahu? Kalau bukan karena ibu, tantemu tidak akan hidup dalam keadaan yang menyedihkan seperti ini. Kalau dulu ibu tidak membantunya bersembunyi, dia tidak akan menikahi pria seperti itu."
"Rasa bersalah itu selalu ada dalam hati ibu. Walau orang lain tidak mengerti ibu, apakah kamu juga tidak mengerti ibu?"
Ibu mengeluarkan air mata saat dia bicara.
Tapi aku sudah mati rasa. Aku sudah mendengar mereka berbicara tentang masalah ini berkali-kali.
Setelah itu, setiap kali aku punya masalah dengan sepupuku.
Dia juga berulang kali menceritakan masalah itu.
Aku terenyak pada awalnya, tapi sekarang aku sudah benar-benar mati rasa.
"Apa hubungannya masalah ini denganku?" aku berkata dengan spontan, dan langsung menyesalinya.
Karena berdebat adalah hal yang tidak berguna.
"Meili, bagaimana bisa kau mengucapkan kata-kata seperti itu? Aku adalah ibumu, kita keluarga! Bagaimana kau bisa memperlakukanku seperti ini?"
Sepertinya kata-kataku telah membuatnya melepaskan emosinya, dan dia menjadi sangat gelisah.
Sedikit rasa bersalah karena perselisihan kecil kami semalam menghilang dengan cepat.
Dia mengulurkan tangan dan menamparku, dan aku telat mengelak.
Meskipun merasakan sakit terbakar di wajahku, aku tetap diam, dan masih merasa ironis.
Karena hubungan ibu dan anak, dia hanya berani merundungku, hanya berani marah padaku.
Setelah ibu menamparku, dia terdiam sejenak.
Lalu mata kami bertemu, dan tiba-tiba dia menunjukkan kemarahan yang sangat besar, ia mengatakan, "Kau membenciku, 'kan? Lihat cara kau melihatku."
Aku masih menatapnya, dan akhirnya dia berbalik dan meninggalkan kamar kecil itu.
Gaun itu tertinggal.
Aku menelepon pemilik restoran dan menjelaskan bahwa aku akan pindah ke mes karyawan.
Setelah mendapatkan persetujuannya, aku cepat-cepat mengemas barangnya.
Aku sengaja meletakkan gaun berwarna pink di kursi di ruang tamu.
Sepertinya itu adalah tekadku, bahwa aku akan perlahan-lahan menjauh dari Ibu.
Untuk menghemat biaya, satu kamar asrama berisi enam orang.
Ketika aku pindah, wanita sedikit lebih tua yang tidur di bawahku bertanya, "Apakah kamu dari luar kota?"
Aku tidak ingin membahas keluargaku, jadi aku tidak membenarkan atau menyangkalnya.
Lalu dia meminta maaf, "Sekarang anak-anak memang luar biasa. Mereka keluar untuk bekerja selama liburan musim panas. Tidak seperti dua anak saya di rumah yang berusia 17 dan 18 tahun tetapi masih manja."
Itu hanya percakapan biasa, tapi terdengar sedikit tegas bagiku.
Aku bekerja di restoran hot pot selama musim panas, dan aku merasa mulai tercium seperti bau hot pot.
Aku menerima gaji dan segera menelepon Ibu Leni setelah mandi dan berganti pakaian.
Kami bertemu di kedai teh susu di dekat sekolah, dia membawa tas laptop di tangannya.
Aku pikir Ibu Leni memang rajin. Ia mulai mempersiapkan pelajaran bahkan sebelum sekolah dimulai.
Tapi, dia menyerahkan laptop kepadaku dan berkata, "Aku membeli satu untuk putraku dan ayahnya juga membelikannya satu. Jadi kita punya dua laptop. Jika kamu belum punya, gunakan saja ini untuk sementara waktu."
Dia masih sama seperti dulu, hanya kebetulan saja.
Tapi, aku tahu itu bukan kebetulan.
"Mengapa kamu begitu baik padaku?"
Aku melihatnya, menahan tangis yang hampir keluar.
Dia mencubit pipiku dan berkata, "Anak kecil, jangan terlalu memikirkan masalahmu."
Hatiku terasa pahit, saat teringat sikap ibuku, dan hampir saja air mataku tak terbendung.
Pada akhirnya, dia menerima uangku, atas desakanku.
Setelah itu, aku menelepon ayahku dan pulang ke rumah.
Ironisnya, saat itu aku berjalan sendirian, membawa koperku.
Sekarang, giliran aku kembali, dan sepupuku selalu ditemani orang tuaku ketika ia pergi ke sekolah.
Ketika aku masuk ke dalam kamar, aku memperhatikan bahwa kursi goyang sudah tidak ada.
Ada sebuah meja dan kursi yang diletakkan tidak jauh.
Juga ada beberapa buku kelas 9 di atasnya.
Kehadiranku di rumah ini telah dihapus.
Ibuku masih menjelaskan kepada sepupuku tentang pulangnya aku, "Kakakmu akan segera kuliah, jadi bersabarlah untuk beberapa hari lagi."
Tiba-tiba tanganku dan kakiku menjadi dingin.
Berdiri atau duduk di sana bukanlah pilihan.
Ibuku masuk membawa selimut sambil mengomel, "Kamu tidak memberi tahuku sebelumnya dan membuatku sangat kewalahan."
Sambil bergurau, dalam hatiku berkata, "Kesalahanku bukan karena menyapa, tapi seharusnya aku tak kembali untuk mengganggu kalian bertiga."
Mulai saat itu, aku pergi kuliah dan menghabiskan seluruh masa kuliahku di sana.
Bahkan saat Tahun Baru Imlek, aku hanya pulang dua kali.
Ibu hanya memujiku dengan mengatakan, "Meili sudah tumbuh dewasa dan tahu bagaimana mengurangi beban keluarga kita."
Aku sudah kebal terhadap kata-kata itu.
Untungnya, anak Ibu Leni dan aku sama-sama kuliah di universitas yang sama, jadi kami mendaftar bersama dan dia selalu menjagaku.
Saat aku tiba di rumah setelah menerima laptop, aku menemukan bahwa Bu Leni diam-diam memasukkan uang ke dalam tas ranselku.
Ia tak meminta satu sen pun padaku.
Karena itu, aku memberikan hadiah pada hari libur dan ulang tahunnya.
Aku berhasil mengumpulkan uang tahun ini dan ingin membelikannya kursi pijat, tapi dia meminta Jason mengantarkan banyak makanan dan minuman padaku saja.
Belikan aku beberapa pakaian dong.
Aku tak pernah terpikirkan bahwa guru matematikaku bahkan lebih baik padaku ketimbang ibuku sendiri.
Ketika aku turun ke bawah, aku mengira Jason akan meninggalkan barang-barang itu di asrama. Tapi ternyata dia masih memegangnya dan menungguku.
Aku takut kalau orang lain salah paham tentang hubungan kita dan menimbulkan masalah baginya, jadi aku berbohong dan mengatakan dia adalah saudaraku.
Namun, aku tidak tahu bagaimana Jason mengetahui hal itu.
Dia menanyakanku, "Sejak kapan aku menjadi saudaramu?"
"Aku hanya tidak ingin orang lain salah paham tentang hubungan kita," aku menjelaskan padanya.
Dia tiba-tiba marah dan berkata, "Ada apa? Apakah kamu takut itu akan memengaruhi kehidupan asmaramu?"
"Apa kehidupan asmara? Mengapa kamu begitu marah?" Meskipun sedikit tidak jelas, aku pikir Jason selalu baik padaku dan tidak pernah membawa masalah, jadi aku mencoba berbicara dengannya secara tenang.
"Lalu mengapa kamu beralasan seperti itu?" Ketika ia mengatakannya, ia menatap mataku dengan tajam.
Aku merasa tidak nyaman dilihat seperti itu untuk pertama kalinya.
"Aku hanya takut itu akan memengaruhi dirimu!"
"Apakah kamu masih berharap aku akan jatuh cinta?" Dia bahkan lebih bingung, dan aku menatapnya dengan kebingungan di mataku.
Tapi ia menghela napas dengan perasaan benci dan berkata, "Meili, kau bodoh."
Sejak saat itu,
Dia mulai memperlakukanku dengan lebih baik. Ketika Ibu Leni tidak memintanya untuk membawa barang, dia masih mencariku setiap hari bahkan mencarikanku kursi dan membawa sarapan setiap hari.
Saat aku terkena flu dan demam, dia bahkan lebih khawatir daripada aku dan langsung membawaku ke rumah sakit.
Kadang-kadang, dia membawa bunga untukku. Ketika aku bertanya kepadanya dari mana dia mendapatkannya, dia bilang dia melihatnya saat berbelanja dan membelinya tanpa pikir panjang.
Aku mulai meragukan, tapi kemudian aku khawatir ini terjadi karena Ibu Leni memperlakukanku begitu baik.
Namun, dia tidak pernah berani berbicara.
Hingga di tahun awalku, suatu malam aku sedang bekerja paruh waktu dan pulang terlalu larut dan terjebak hujan deras.
Baterai telepon genggamku habis dan aku masih jauh dari asrama.
Melihat hujan tidak berhenti, aku memutuskan untuk pulang ke asrama sendirian.
Aku memeluk erat ranselku dan terus berlari.
Sudah malam dan tidak banyak orang di jalan.
Ada petir dan kilat di kejauhan, dan aku sangat ketakutan.
Aku terus berlari dan tiba-tiba tersandung dan jatuh ke dalam lubang.
Diriku berada dalam kubangan, dan ini sangat memalukan.
Namun kemudian aku mendengar seseorang memanggil namaku, "Meili! Meili!"
4
Aku mengangkat kepalaku dan melihat dia berlari ke arahku di tengah hujan, dan saat itu aku tak bisa menahan tangisku lagi.
Untung saja! Hujannya cukup deras sehingga dia tidak bisa melihat air mata ini.
Jason menghampiriku, membantuku berdiri, dan menundukkan payungnya sehingga aku tidak kehujanan.
Aku melihat pakaian dia basah semua, dan dia berlari sepanjang jalan kesini.
Aku bahkan bisa mendengar napasnya.
Dia memarahiku, "Apa yang akan kamu lakukan jika terjadi sesuatu? Meili, apa kamu sudah gila?"
"Bisakah kamu lebih berhati-hati? Apa kamu begitu putus asa dengan uang sehingga tidak peduli dengan nyawamu?"
"Walau kamu tetap bersikukuh untuk mendapatkan uang, tidak bisakah kamu memberitahuku kamu pergi ke mana? Apakah kamu tahu betapa khawatirnya aku?"
Jason biasanya pendiam, tapi malam ini dia banyak berbicara dan terus-terusan bicara.
Akhirnya, dia memelukku erat dalam dekapannya.
"Kamu harus lebih menghargai dirimu sendiri, bisa, 'kan?" ujarnya dengan sangat peduli.
Hatiku bergetar, tapi terasa hangat.
Pada saat ini, asrama sudah tutup, jadi kami hanya bisa menginap di hotel. Beruntungnya, Jason telah memesan dua kamar. Aku merasa lega, tapi juga merasa sedikit kecewa tanpa alasan yang jelas.
Setelah mandi, aku mengganti bajuku dengan jubah mandi. Dia mengetuk pintu dan meminta baju kotorku. Ketika aku membuka pintu, dia juga mengenakan jubah mandi. Nasib berkata lain, kami bertemu dengan pasangan yang juga satu kelas.
Lelaki itu melihat Jason dan berkata, "Kamu bisa melakukannya, Bro!"
Aku ingin menjelaskan, tapi mereka sudah masuk ke kamar.
"Aku pikir, 'ini sudah berakhir!'"
Jason menjawabku, "Meili, apakah kamu ingin aku menjelaskannya pada mereka? Aku akan mengirim pesan kepadanya sekarang."
Dia duduk di hadapanku dan berkata dengan tenang.
"Jason, kamu bisa temukan gadis yang lebih baik." Akhirnya aku mengeluarkan kalimat itu, dan terasa sangat pahit.
"Apa yang lebih baik?" Matanya sedikit merah, dan dia berkata dengan serius, "Aku pikir kamu adalah yang terbaik di dunia ini." Saat aku mendengar kalimat itu, hatiku terasa seperti terpukul keras.
Ini kali pertama aku dipilih dengan begitu tegas.
Aku memeluknya dan menangis, dia menundukkan kepalanya, seolah dirinya takut membuatku cemas, dan perlahan menciumiku.
Saat berciuman, dia tiba-tiba menangis dan berkata,
"Meili, aku melihatmu melalui masa-masa sulit, jadi aku hanya ingin memelukmu dan menjaga kamu dengan baik."
Dia berkata, "Meili, kamu bodoh."
Dia berkata, "Tidak akan ada yang lebih baik dari kamu. Baik atau tidak, itu bukan urusanku."
Dia memelukku, membagikan isi hatinya. Aku tenggelam dalam pelukannya, merasa seolah semua rasa sakit perlahan sembuh.
Akhirnya, Jason mencium dahiku, berbalik, dan menutup pintu kamar saat dia pergi.
Aku sangat bahagia, tapi aku mulai khawatir apakah aku cukup tulus. Aku khawatir jika Ibu Leni mengetahuinya, dia mungkin akan menyalahkan aku.
Bu Leni membantuku dengan sangat baik, tapi aku berhubungan dengan anaknya. Aku yang memiliki latar belakang keluarga seperti ini apakah layak?
Jika kita putus...
Aku telah memikirkan banyak hal dalam benakku.
Aku tidak tidur sepanjang malam, dan akhirnya tertidur di pagi hari.
Aku membuka mata dan menerima pesan dari Ibu Leni.
"Jason menyukaimu, aku telah tahu sejak lama."
Apakah kamu tahu bahwa Jason menyukaiku sejak lama?
"Aku harap kamu tidak merasa terbebani. Apakah kamu menyukainya atau tidak, itu urusan kamu. Tapi aku sangat senang bisa melihat kamu bersamanya. Aku harap kamu berdua bahagia bersama!"
Beberapa kalimat sederhana membuat semua kekhawatiranku mereda dan air mata tiba-tiba jatuh.
Saat aku check-out, Jason telah menunggu di mobilnya.
Aku duduk di dalam mobil, tidak tahu harus berkata apa.
Aku hanya sekadar minum air.
Tiba-tiba dia berkata, "Aku serius."
Matanya bersinar seperti bintang di langit.
Meski langit gelap dan ada bintang, jalan terasa tak seberat sebelumnya.
Aku bisa merasakan denyutan detak jantungku.
Mobil terus melaju dan Jason tetap diam setelah mengucapkan kalimat tersebut.
Tapi aku melihat dia memegang setir dengan erat dan ada butiran keringat di dahinya.
"Oke, mari kita coba," saat itu, tiba-tiba aku tidak ingin memikirkan apapun dan hanya ingin bersama orang ini.
Siapa sangka begitu Jason selesai berbicara, ia tiba-tiba memutar mobilnya, yang membuatku ketakutan.
"Apa yang terjadi? Apakah kita masih ada kelas?" aku bertanya dengan cepat.
"Aku tidak masuk hari ini!" Ini pertama kalinya aku bolos, dan aku bersama Jason di tepi danau di belakang kampus. Angin membuat ombak satu demi satu di permukaan danau, dan aku bisa mendengar suara detak jantungku sendiri.
Dia menatapku lurus, dan aku bisa merasakan bahwa matanya hanya tertuju padaku.
Aku tak bisa menggambarkan perasaan ini, hatiku tak bisa kukendalikan.
Dia mengangkatku dan berseru keras, "Kini kita bersama! Kita akan selalu bersama!"
Saat musim dingin, aku pulang ke rumah dengan Jason. Ketika Ibu Leni tahu bahwa kami berpacaran, dia menangis dan tertawa sambil berkata, "Aku sudah tahu, kalian sangat cocok."
Kita sungguh beruntung menjadi keluarga yang bersatu karena takdir.
Namun sayangnya, bahkan setelah bersama Jason, luka dari keluargaku belum sepenuhnya sembuh.
Aku selalu bertanya-tanya, apakah yang harus aku miliki agar cocok dengannya jika kita menikah?
Setelah mempertimbangkan dengan matang, aku melepaskan segala jenis pekerjaan paruh waktu.
Aku fokus menulis novel online dan mencari magang. Selama magang, aku bergabung dengan perusahaan teratas di industri tersebut.
Tapi bukan sebagai IT,
melainkan sebagai Sales.
Karena pekerjaan ini yang paling menguntungkan.
Layanan kami adalah pengujian penjualan, yang sulit dilakukan bagi kebanyakan orang tetapi aku sudah berpengalaman di bidang ini, sehingga terasa lebih efisien.
"Jadi para pemimpin juga menyambut pemindahan pekerjaanku."
Selama jam kerja, aku jarang mengambil istirahat.
Jason marah padaku karena selalu memaksakan diri mencari uang, saat sedang mempersiapkan makan malam yang lezat dan bergizi.
Akhirnya, dia tidak tahan lagi melihatku menderita dan memberiku kartu ATM, katanya, "Ini semua uang yang telah aku simpan sejak kecil. Seharusnya cukup bagimu untuk istirahat sejenak."
Ketika ia mengatakan itu, matanya memerah karena marah.
Biasanya, temperamennya stabil. Aku belum pernah melihat dia begitu marah.
Tapi aku ingin memperbaiki hubungan kami, jadi tentu saja aku tidak bisa mengambil uangnya.
Untungnya, ketika aku hampir merasa putus asa, novelku berhasil terjual dan mendapatkan kontrak hak cipta.
Aku membawa kontrak itu kepada Jason, dan dia hanya dengan lembut menepuk rambutku yang berantakan ke belakang telingaku, merasakan kesedihanku.
Lalu dia memelukku erat dan berkata, "Ini luar biasa, kamu bisa istirahat sekarang."
Pada saat itu, aku memutuskan bahwa dialah orang yang kupilih mulai sekarang.
Hanya Ibu Leni dan Jason yang tahu tentang penjualan hak cipta itu.
Aku memandang uangnya dengan terpesona, merasa kagum memiliki begitu banyak uang.
Namun, aku tidak berniat untuk memberitahukan kepada orang tua kandungku karena aku tidak lagi percaya pada mereka.
Aku menggunakan uang untuk membeli rumah di kota atas namaku dan Jason. Karena orang tuaku semakin tua, aku membawa mereka ke kota agar lebih mudah bagi mereka untuk pergi ke dokter dan membeli barang.
Saat memberikan kunci pada ibuku, aku hanya berkata bahwa ini adalah setengah dari tabungan hidupku, dan ini adalah semua yang bisa kuberikan padanya. Dia bisa menikmatinya.
Saat ibuku melihatku, matanya penuh dengan kekaguman.
Setelah berkeliling di rumah dengan saksama, dia memujiku, "Meili, hidupmu sungguh baik! Keluarga Jason juga memiliki beberapa rumah, bukan?"
Aku mengerutkan kening dan tidak menjawab.
Dia berbicara sendiri dalam waktu yang lama, terutama membanggakan kehidupanku yang makmur, dengan pendidikan yang baik dan banyak uang.
Sepupuku yang malang itu bahkan sudah bercerai dan tidak punya apa-apa.
Saat dia berbicara, tiba-tiba dia menangis dan memandangku dengan sedih.
Bagaimana kalau kamu memberikan rumah ini kepada sepupumu? Dia sedang mengalami masa sulit.
Aku merasa takut saat melihat ekspresi merayunya.
Ekspresinya sangat memancing simpati, tapi sudah tidak ada lagi air mata yang bisa kutumpahkan, "Jika Ibu masih mempunyai ide seperti itu, aku akan mengontrakkan rumah ini."
Aku menolaknya dan kemudian dia mulai mengatakan bahwa aku adalah anak durhaka.
Dia menuduhku jarang pulang sejak masuk perguruan tinggi.
Menyalahkanku karena berjalan sambil bergandengan tangan dengan ibu mertuaku, namun aku tidak mau memegang tangannya sedikit pun.
Aku melihatnya dengan acuh tak acuh. Dari atas sampai bawah, semua yang dia kenakan dibeli olehku. Mungkin itu untuk membayar masa kecilku, tapi selama bertahun-tahun, aku telah mencoba yang terbaik untuk membuktikan sesuatu dan memenuhi semua keinginan materinya.
Dan sekarang, aku hanya terlihat seperti sebuah lelucon besar.
"Jika aku masih mendengar kata-kata seperti ini dari mulutmu, baiklah kita tidak perlu bertemu lagi. Aku akan rutin mengirimimu uang."
Dia terdiam, seolah tidak mengharapkan aku tiba-tiba berkata seperti itu.
Aku juga terlalu malas untuk memikirkannya lagi, jadi aku berbalik dan pergi.
Maaf, tapi..."
Setelah menyelesaikan urusan rumah, Jason dan aku menikah.
Tujuh tahun yang lalu, ketika aku menangis karena uang jajan di sekolah, aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan menemukan kebahagiaan.
Menjadi keluarga dari Ibu Leni dan putranya.
Seakan-akan Tuhan takut aku tak sanggup lagi, jadi Dia memberiku permen.
Manisnya sampai ke inti hatiku.
Aku tidak pernah mengira setelah permen manis ini, akan ada cambuk yang kejam.
Tidak lama setelah menikah, sepupuku melahirkan anak.
Ibuku yang mengurusnya.
Aku menyaksikan hubungan ibu dan anak di diri mereka yang kuat dengan mata kepalaku sendiri.
Aku melirik ibuku dan menyadari bahwa dia juga mulai menua sekarang.
Aku mulai melunak, jadi aku tidak akan selalu bertindak seperti kembang api yang meledak-ledak.
Nada suaranya terdengar hati-hati, tetapi kata-katanya masih sangat kasar, "Jangan diambil hati, lihatlah, adikmu sangat menyedihkan, tetapi kamu masih mendapat bantuan ibu mertuamu, betapa beruntungnya kamu."
Aku tidak menjawabnya, aku hanya memandangnya dengan kesal.
Dia menjadi marah dan malu, "Jangan memandangiku seperti itu, aku tahu kamu selalu memendam dendam padaku. Kamu membenciku!"
Ketika dia mengucapkan kata "membenci", suaranya terdengar seperti teriris dari tenggorokannya.
Aku menundukkan pandanganku dan tidak ingin berbicara.
Dia melihat aku tidak bereaksi, berhenti sejenak, dan kemudian melanjutkan, "Meskipun aku membantumu, apa gunanya? Kamu tidak peduli juga."
"Hmm, cukup menghibur."
Aku berdiri dan pergi.
Aku tidak menoleh. Aku tidak tahu berapa lama aku berjalan, tapi kulihat wajahku basah. Aku tertawa pada diriku sendiri, seolah-olah kekuatanku telah habis. Perlahan-lahan membungkuk, berkali-kali memberi tahu diriku sendiri bahwa tidak ada masalah, karena aku sudah terbiasa.
Aku hidup baik-baik saja sekarang dan tidak butuh cinta dari Ibu.
Di malam hari, aku bertingkah seperti anak kecil, merapat ke dalam pelukan Jason dan berkali-kali menanyakan kepadanya, "Akankah kamu mencintaiku selamanya?"
Dia terus menciumku, menciumi wajahku, bibirku, dan air mataku.
Kemudian dia terus berbisik di telingaku, "Meili, aku mencintaimu, dan aku akan selalu ada untukmu."
Setelah itu, meskipun kami dekat, aku tidak pernah melihat orang tuaku lagi.
Hingga Hari Ayah tiba, ayahku meneleponku dengan sedikit ragu, ia kemudian memohon, "Usiaku 52 tahun ini, dan kamu tidak pernah pulang satu kali pun dalam setahun. Jika aku bisa hidup sampai 70 tahun."
"Bisakah aku bertemu denganmu lagi 18 kali? Kamu bahkan tidak bisa tinggal selama dua jam setiap datang, jadi jika kita menghitung takdir hubungan ayah dan anak, Totalnya kurang dari dua hari."
Sebenarnya, sebelum ini, dia telah menelpon berkali-kali, tapi aku hanya memberi jawaban setengah hati setiap kali ia menelpon.
Kali ini, saat melihat mata penasaran anakku, aku tetap membawa dia dan Jason kembali.
Aku tidak ingin dia mengalami rasa sakit yang aku alami.
Sore itu, aku, Ayah, dan Jason sedang ngobrol di balkon.
Ayahku menyeruput tehnya dan berkata, "Meili sangat patuh saat masih kecil, kecuali suka makan permen. Aku sangat khawatir giginya akan berlubang, tapi untungnya tidak terjadi."
Aku bisa merasakan kalau dia sedang berusaha keras mencari topik.
Tapi selain saat dia masih kecil, tidak ada banyak yang bisa dibicarakan.
Setelah itu, kita tidak berbicara apa-apa.
Terasa cukup menyedihkan.
Tiba-tiba, aku mendengar putriku menangis keras, jadi aku buru-buru keluar.
Aku melihat ibuku memarahi putriku sambil bergumam, "Kamu tidak bisa lebih memikirkan orang lain? Nia tidak punya ayah lagi. Kamu punya segalanya, tidak bisakah bersikap sedikit lebih baik kepadanya?"
Nia adalah putri sepupuku. Ketika anak itu berumur satu tahun, ibunya bercerai dengan ayahnya.
Pada saat itu, aku merasa sangat marah.
Aku sudah mendengar ini berkali-kali sebelumnya.
Saat masih kecil, dia bahkan tidak memiliki orang tua, dia sudah sangat malang.
Tidakkah bisakah kamu membiarkannya saja?
Dan sekarang dia sudah dewasa, dia sudah lulus kuliah, tidak bisakah kamu membiarkannya mandiri?
...
Karena itu, setiap tahun aku memperkenalkan banyak pelanggan ke toko rokok dan minuman keras sepupuku, tanpa meminta uang sedikit pun.
Bahkan ketika dia berkata di depan ibuku, "Meskipun klien sepupu tidak memberikan banyak keuntungan, aku masih ingin berterima kasih kepadanya."
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Karena jika aku mengucapkan sesuatu, ibuku akan segera berkata, "Meili, mengapa kamu masih mempermasalahkan ini ketika kamu sudah memiliki segalanya?"
Tapi sekarang, kata-kata yang sama diucapkan untuk menjatuhkan anakku?
Kenapa?
Apakah anakku melakukan sesuatu yang salah? Apakah saya melahirkan dia hanya untuk diperlakukan dengan tidak adil?
Aku tidak bisa mengendalikan diri dan berteriak, "Keluar! Keluar dari sini!"
Mereka semua terkejut saat memandangku, dan saya memeluk putriku sambil berteriak pada sepupuku, "Kamu juga keluar, ini rumah yang aku beli, kamu keluar!"
Awalnya, Ibu agak takut padaku. Setelah mereda, dia berkata, "Apa yang sedang kamu lakukan? Kita semua keluarga di sini."
Kalimat ini, dari novel yang telah dia baca sejak kecil, membuatku meledak seperti kembang api dengan hanya beberapa kata itu.
"Keluarga? Siapa keluargamu? Kalian yang keluarga, kapan aku menjadi bagian dari keluargamu?" Air mataku membuat pandanganku kabur.
"Bagaimana kamu bisa mengucapkan kata-kata seperti itu?" Ini adalah pertama kalinya mata ibuku memerah di depanku.
Jason mengulurkan tangannya untuk menopangku saat hampir saja aku terjatuh.
Aku menunjuk sepupuku dan melanjutkan, "Apakah aku yang melahirkannya? Apakah menjadi tanggunganku jika orangtuanya tidak mengurusnya? Apakah aku yang memintanya berhenti kuliah?"
"Apakah aku yang menyuruhnya bercerai? Bagaimana bisa kebahagiaannya menjadi masalahku? Kenapa kamu selalu memperlakukan aku dan putriku seperti ini? Kenapa kau menjadi ibuku?"
"Kenapa kamu melakukan ini padaku? Apa salah yang aku lakukan padamu? Kenapa kamu selalu menyiksaku? Kenapa kamu dan keluargamu tidak membiarkanku pergi?"
Aku menggempur tanpa berhenti, sepupuku melarikan diri dari rumah ini.
Hari Ayah ini menghancurkan acara reuni keluarga kami.
Aku tidak menghubungi mereka sejak saat itu.
Tapi dunia ini kecil. Saat Jason dan aku sedang berbelanja, aku melihat tanteku yang sudah tidak aku temui dalam beberapa tahun.
Dia dipeluk oleh seorang lelaki paruh baya.
Jason langsung mengenali bahwa pria itu merupakan pemimpin tim keamanan perusahaan mereka.
Dia segera menanyakan dan mengetahui bahwa mereka sedang jatuh cinta.
Meskipun sudah paruh baya, kapten keamanan itu masih memiliki daya tarik tertentu, yang membuat hati beberapa wanita paruh baya tertarik.
Jason mengetahui dari kapten tim keamanan bahwa tanteku sangat mencintai lelaki itu.
Mereka juga mengatakan bahwa mereka berada di satu kamar suite.
"Tetapi dia mengolok-olok, 'Pikiran perempuan itu tidak sehat. Bagaimana rumah saudara perempuannya bisa diberikan padanya? Dia juga mengatakan bahwa saudara perempuannya baik kepada putrinya dan akan memberikannya. Apakah ada yang lebih baik daripada putrinya sendiri? Bagaimana bisa ada hal seperti itu?'"
"Memang benar ada orang yang memperlakukan anak orang lain lebih baik dari anak kandungnya sendiri."
Jason memberikan sedikit uang kepada pemimpin tim keamanan dan menjelaskan situasi tersebut secara singkat, tetapi tetap menjaga privasi. Dia memintanya untuk memberi tahu jika ada situasi yang terjadi.
Akhirnya ia berhasil memperoleh beberapa informasi.
Ia menjual rekaman percakapan antara sepupunya dan putrinya kepada Jason.
Awalnya Jason tidak mengizinkan aku untuk mendengarkannya.
Namun, ia tidak bisa menghentikanku.
Ketika mendengar sepupuku membanggakan betapa baiknya ibuku kepadanya, aku merasa bergidik.
Dia bilang selama dia membentak, ibuku akan memenuhi tuntutannya.
Dia bilang meskipun rumah yang kubeli bukan atas namanya, dia tetap tinggal di dalamnya.
...
Dia menikmati perlakuan istimewa dari orangtuaku sejak kecil, dan saat dewasa pun, dia masih tinggal di dalam rumah yang kubeli.
Mengapa dia harus memanfaatkan kelemahanku seumur hidupnya?
Aku tak mau menerima ini.
Tidak lama setelah itu, ibuku menelponku dan meminta maaf sembari menangis. Aku pikir ini terlalu indah untuk menjadi kenyataan.
Tapi dia bilang, "Keluarga Jason memiliki beberapa rumah lain, dan mereka tidak merasa kehilangan rumah ini. Benarkah kita tak bisa memberikan ini pada adikmu?"
Dia masih seperti dulu.
Aku berteriak melalui telepon, "Ucapkan lagi, dan aku akan mengusir sepupuku dari sini!"
Aku tahu dia takkan menyerah, tapi aku tak berniat untuk memikirkan dia lagi.
Namun, aku ingin dia merasakan apa yang kurasakan dulu.
Tak lama kemudian, ulang tahunku tiba.
Sebenarnya, dulu aku hidup sendiri, tetapi sejak aku bersama Jason.
Semua orang menghabiskan waktu bersama keluarganya.
Pada tahun-tahun sebelumnya, aku dengan sengaja mengabaikan orang tuaku karena setiap kali mereka menelepon, cuma untuk sekadar memeriksa keadaanku.
Lalu, sepupuku merayakan ulang tahunnya, dan Instagram-nya dipenuhi dengan tangkapan layar makanan yang dibuat ibuku untuknya, amplop merah yang diterimanya, dan hadiah-hadiah yang dibelinya.
Ibu Leni adalah orang yang sangat menghargai perayaan. Bahkan pada ulang tahunnya, dia akan membuat pesta di rumah.
Dia menyiapkan sebuah kejutan untukku, begitu juga Jason, dan setelah merayakan bersama semua orang, dia bahkan membawaku pergi keluar.
Ayah Jason sangat lucu. Setiap kali dia memberiku tumpukan amplop merah dan kemudian meminta maaf dengan canggung, ia mengatakan, "Ini semua yang aku punya."
Tahun ini aku memposting semuanya di Instagram dengan kata-kata, "Dulu aku tidak punya ini, tapi sekarang aku memiliki semuanya. Keluarga setelah menikah adalah hadiah terbesar dari surga bagiku. Rasanya begitu menyenangkan ketika dihargai oleh orang lain."
Aku juga membuka semua postingan sebelumnya saat aku memblokir ibuku.
Setiap kali aku tidak ada kerjaan, aku menulis sebuah surat singkat untuk teman-temanku untuk mengungkapkan cintaku pada Ibu Leni.
"Ketika aku melihat mantel ini, aku berpikir ibu mertuaku pasti akan terlihat cantik memakainya. Dan memang begitu adanya."
Aku dulunya bukan orang yang pandai untuk bertingkah lucu, tapi setelah bertemu dengan Ibu, aku menjadi sangat manja.
Ekspresi cinta seperti ini semakin memperkuat hubunganku dengan Ibu Leni.
Seringkali dia bilang dengan tersenyum, "Dulu aku berharap banget punya anak perempuan, dan Tuhan memberiku anugerah itu. Aku sangat beruntung."
Suatu malam, ibuku mengirimiku pesan,
namun aku tidak membalasnya.
7
Keesokan harinya, dia menghubungiku dan berkata, "Hubunganmu dengan ibu mertuamu sangat baik ya!"
Aku menjawab, "Iya, ada apa?"
"Memangnya aku ngga boleh telpon kamu kalau nggak ada masalah ya?" Dia tercekat.
Aku menjawab dengan tidak sabar, "Kalau tidak ada urusan lain, aku akan menutup telepon."
Akhirnya, ibuku bertanya kepadaku, "Apakah kamu benar-benar begitu menyukai ibu mertuamu? Padahal kalian bahkan bukan anak ibu kandung."
"Apa keluargaku memperlakukan aku dengan baik?" aku balik bertanya.
"Ada apa yang bisa kuperbuat untukmu? Haruskah aku membuka hatiku dan memberikannya padamu untuk membuktikan bahwa aku memperlakukanmu dengan baik?" Bahkan lewat telepon saja, aku bisa merasakan kegelisahan emosinya.
Dia melanjutkan, "Kamu selalu memposting di Instagram setiap hari, jika seseorang tidak tahu, mungkin mereka akan berpikir kalau ibumu telah meninggal. Mengapa aku harus begitu disembunyikan?"
"Kamu bahkan tidak mau menggenggam tanganku di jalanan. Kenapa kamu masih memendam dendam seperti itu? Apa sebabnya kamu masih memendam dendam kepadaku?"
Akhirnya, dia tak tahan lagi dan menangis.
Aku bilang, "Kamu sudah selesai bicara? Kalau begitu, aku akan menutup telepon."
Saat aku menutup telepon, aku merasa sedikit linglung.
Meskipun aku merasa baik-baik saja sekarang, tapi mengapa aku masih merasa begitu sakit?
Dekat-dekat ini, aku semakin banyak tidur, dan sekarang merasa kelelahan setelah menerima telepon itu.
Aku masih bisa menahannya di tempat kerja.
Namun di rumah, aku ingin tidur sepanjang waktu.
Terkadang, aku menangis hingga tertidur.
Aku selalu bermimpi tentang masa lalu, bermimpi bahwa orang tuaku yang sangat keras kepadaku.
Aku bermimpi bahwa sepupuku diperlakukan dengan sangat baik, dan semua orang menyukainya dan tidak menyukaiku.
Aku bermimpi bahwa saat imlek, mereka memberikan semua amplop merah ke sepupuku dan tidak kepadaku.
Ini tidak terlalu penting, sebenarnya.
Tetapi mengapa aku merasa sedih dalam mimpi-mimpi itu? Aku selalu menangis ketika aku bangun.
Lalu, Jason yang berada di sisiku, selalu dengan lembut bertanya, "Kamu lapar? Biarkan aku membuatkan sarapan untukmu."
Kemudian, Jason menawarkan untuk membawaku ke rumah sakit, tetapi aku bilang kita bisa membicarakannya setelah kesibukanku selesai.
Aku menunggu untuk melihat apakah ibuku akan benar-benar melakukannya.
Aku merasa seolah-olah aku membuktikan sesuatu pada diriku sendiri. Lihatlah! Dia benar-benar peduli padaku.
Ibuku benar-benar membawa sepupu saya ke Ditjen Perumahan, di mana mereka membuat kepala keamanan berpura-pura menjadi ayahku.
Tapi rumah itu terdaftar atas namaku, jadi tidak mungkin.
Ibuku membuat kehebohan di sana.
Dia memanggilku, tetapi aku tidak menjawab. Sebaliknya, aku mengirimkan rekaman dan foto-foto dirinya di Ditjen Perumahan ke obrolan keluarga kita.
Banyak kerabat yang ada dalam obrolan itu.
Kemudian, aku mengirim pesan ke ibuku dengan berkata, "Aku tidak berutang apa-apa lagi kepadamu."
Ibuku meneleponku lagi, dan kali ini aku menjawab.
"Kamu ada di mana? Kita bisa ketemu nggak?" Ujarnya dengan suaranya penuh dengan air mata.
Tetapi hatiku tetap tak tergoyah.
Lalu dia terus bergumam: "Aku yang membantu bibimu menyembunyikan kebenaran. Dia mempercayainya padaku, dan itulah mengapa kakakmu berakhir seperti ini. Tapi aku tidak pernah mengira bahwa mereka akan merencanakan sesuatu melawan diriku. Kita ini keluarga," keluhnya dengan sedih.
Kata-kata ini, andai diucapkan padaku sebelumnya, mungkin aku akan merasa sedikit kasihan, tetapi sekarang...
"Aku benar-benar tak punya kekuatan lagi." Aku berkata lemas, "Apa hubungannya dengan aku?"
"Meili, apa yang terjadi padamu? Mengapa kamu menjadi seperti ini dan begitu kejam padaku!" Dia menangis dengan gugup di telepon.
Aku hanya tidak bisa mempercayainya. Mereka-lah yang menyakitiku. Akhirnya, apakah ini salahku lagi?
"Ibu, aku sering berpikir, akan lebih baik jika aku hanya bisa tidur dan tidak pernah bangun lagi, tapi sekarang setelah memiliki anak, aku jadi tidak berani pergi mati. Bisakah ibu menghentikan penyiksaan yang ibu lakukan padaku?"
"Pulanglah ke kampung halamanmu, aku akan menjual rumah itu." Aku menggunakan semua kekuatanku untuk mengucapkan kalimat terakhir.
Saat menjawab telepon, aku sedang mencabut bulu alis di depan cermin.
Aku tidak tahu kapan terjadi, tetapi tanpa sengaja aku memotong pergelangan tanganku dengan pisau cukur alis. Darah banyak tumpah di lantai dan pakaianku terkena darah itu. Semuanya mulai menjadi kabur di depan mataku, tapi aku merasa anehnya tenang.
Tapi aku menemukan bahwa darah banyak tumpah di lantai, dan pakaianku terkena darah itu.
Semuanya keluar dari hidungku.
Mata semakin kabur.
Aku melihat Jason berlari ke arahku, seakan meminta maaf atas selalu menyusahkan dirinya.
Namun, aku benar-benar tidak memiliki kekuatan lagi.
Aku terlalu lelah.
Aku bangun di rumah sakit dengan Jason berbaring di sampingku dan anak perempuan kami tidur di sebelahku.
Saat dia melihat aku membuka mata, matanya bersinar dan dia berseru dengan gembira, "Mama sudah bangun!"
Matanya Jason terlihat merah dan dia tidak mencukur jenggotnya, terlihat sangat berantakan.
Dulu, dia sangat bersih.
Aku mengulurkan tangan dan menyentuh jenggotnya.
Namun dia meraih tanganku dan terus menggosokkan wajahnya padanya.
Ibu Leni tersenyum pada kita berdua dengan air mata di pelulpnya, lalu membawa ayahnya Jason keluar dari ruangan dan berkata, "Jason, hubungi aku jika ada masalah."
Aku melihat ayahku yang ragu di depan pintu.
Ketika dia melihatku melihat ke arahnya, dia berjalan dengan hati-hati ke dalam rumah.
Tapi aku bagai singa kecil gila yang melompat padanya dan berkata, "Laki-laki jahat! Laki-laki jahat! Jangan ganggu ibuku!"
Air mata ayahku jatuh dengan deras, dan dia terus meminta maaf kepadaku, berkata, "Meili, maafkan aku! Maafkan aku!"
Seketika, aku merasa diriku seperti harta nasional, dan semua orang meminta maaf padaku.
Aku menatap ayahku dan berkata dengan sepenuh hati, "Bolehkah aku melihatmu lebih sedikit mulai sekarang? Sangat sulit bagiku untuk bertemu dengan kalian."
"Mengapa kamu memperlakukan aku seperti ini?"
"Aku anakmu yang satu-satunya! Mengapa kamu memperlakukan aku seperti ini?"
Saat aku berbicara, aku mulai menangis tidak terkendali.
Aku terengah-engah dan anakku berusaha keras menahan tangisannya.
Dia memanjat ke atas tempat tidur dan memelukku, gemetar, "Mama, tolong jangan tinggalkan aku! Aku akan berperilaku baik, aku sangat takut ketika melihatmu berdarah begitu banyak..."
"Aku tidak nakal kan? Ibu bisa memukul atau memarahiku, aku tidak akan menyalahkanmu, Mama!"
Air mata ayahku jatuh dengan berat saat ia terisak, "Kamu tidak berutang apapun pada kami, yang berutang pada kamu adalah mamamu. Jangan kamu mempersulitkan dirimu sendiri."
"Kalau kamu tidak ingin melihat kami, maka tidak perlu temui kita! Kamu hanya perlu tetap hidup!"
Aku baru saja mengetahui bahwa aku menderita depresi sedang, yang disertai dengan kecenderungan bunuh diri yang parah, menurut analisa dokter.
Bunuh diri? Ini pernah terjadi sebelumnya, sudah lama.
Tapi di masa lalu, aku tidak berani melakukannya karena takut akan rasa sakit.
Sekarang aku memiliki seorang putri, aku bahkan lebih takut! Takut bahwa aku tidak akan ada lagi di dunia ini.
Tapi dokter bilang ini sebuah penyakit dan butuh diobati.
Tak boleh bilang semua ini adalah salahku sendiri.
Setelah mengetahui beberapa informasi di area ini, aku merasa sedikit takut.
Kembali ke rumah usai dari rumah sakit, aku merasa sedikit tersesat.
Kalau aku mati, aku akan berutang permintaan maaf pada keluarga Jason.
Dia bisa saja menikahi istri yang baik, baik secara fisik maupun mental, untuk menemani hidupnya yang harmonis dan bahagia.
Namun dia malah menikahiku, dan aku juga menjadi beban baginya.
Yang selalu memberinya kesulitan.
Karena penyakitku, aku harus berhenti dari pekerjaanku dan hanya bisa mengandalkan menulis.
Tapi aku sungguh tak punya energi.
Lagi-lagi malam tanpa tidur. Aku bangun dan mulai menulis beberapa inspirasi kecil di laptopku.
Mungkin karena obat-obatan, ingatanku menjadi semakin menurun yang sangat menakutkan bagiku.
Jason berdiri di depanku dan pertama kalinya ia begitu marah.
"Apa yang kau lakukan, Meili? Apakah kau pikir aku tidak mampu merawatmu?" Dahinya berkerut dan matanya merah.
Dia mengangkatku dan melemparkanku ke tempat tidur.
Lalu dia bersandar di atas bahuku, sehingga aku bisa merasakan dia menangis.
Sedikit merasa tidak berdaya.
Suara baritonnya serak, dia berkata, "Aku sangat takut! Aku takut! Jika kau tidak ada di sini, tolong hiduplah dengan baik, baik-baik saja? Maafkan aku karena aku tidak bisa melindungimu sejak awal ketika aku pertama kali bertemu denganmu."
Jason adalah orang yang gagah berani.
Dia jarang mengungkapkan perasaannya seperti ini.
Aku memeluknya dan menangis, "Maafkan aku, aku benar-benar tidak tahu. Jika aku tahu, aku tidak akan menikahimu."
"Aku tidak melakukannya dengan sengaja, aku tidak bermaksud menyakiti kamu."
"Aku tahu kalau aku tahu aku sakit, aku seharusnya tidak menikahimu."
"Maaf! Aku tidak tahu kenapa hal ini terjadi."
"Maaf, selalu saja aku merepotkanmu!"
Aku menangis begitu kuat di pelukannya sehingga aku tidak bisa menahan napasku, dan dia juga menangis.
Dia mencium air mataku berulang kali.
Dia berkata padaku, "Maaf, aku tidak menjagamu dengan baik."
"Aku minta maaf, aku seharusnya ada di sisimu lebih awal."
"Hanya sebuah penyakit saja, tidak masalah."
"Benar, benar, ini tidak masalah. Aku akan bersamamu dan selalu ada di sisimu."
"Marilah kita sembuhkan penyakit ini bersama, kemudian kita bisa menemani anak kita tumbuh dewasa dan bepergian ke mana saja."
"Kita masih memiliki banyak tempat yang belum pernah kita kunjungi!"
"Meili, kau pasti baik-baik saja, tolong jadi kuat untukku!"
Malam itu, kita tertidur dalam pelukan satu sama lain.
Keesokan harinya, kita ada acara pertemuan keluarga. Ibu Leni dan Pak Dedi menunjukkan tabungan mereka kepadaku, serta bahwa rumah kita telah diubah menjadi sebuah toko.
Aku selalu tahu tentang gaji dan pendapatan Jason, tapi aku belum pernah menghabiskan uangnya sebelumnya.
Kali ini, dengan banyak alasan yang dia miliki, aku mengambil kartu gajinya.
Anak perempuanku memeluk kakiku dan menatapku, sambil berkata, "Mama, aku juga bisa makan sedikit. Kamu bisa melakukan apa yang kamu suka, Mama."
Ayahku membawa ibuku kembali ke kampung halaman kami, tapi ia tidak meneleponku.
Aku mentransfer seluruh pelanggan yang aku kenalkan ke sepupuku secara bertahap, dan segera memutuskan rantai pembiayaannya, dan dia tidak bisa terus membuka tokonya.
Aku juga menjual rumah itu, dan ibuku dibawa pergi oleh ayahku.
Tanpa buruh gratis, sepupuku membawa anaknya ke kota lain.
Sebelum pergi, dia meneleponku dan berkata, "Meili, kamu sangat kejam."
Sebelum aku bisa menjawab, Jason merebut telepon dan menutupnya.
"Aku ingin menjauhkan semua yang membuatmu tidak bahagia di luar pintu."
Aku sesekali mendengar dari kerabat lain bahwa tidak hanya sepupu dan bibiku yang malu sejak saat itu, tetapi ibuku juga tidak bisa mengangkat kepalanya di depan mereka.
Semua orang mengatakan bahwa dia telah mengacaukan sepanjang hidupnya, dan hal ini pun menyebarluas ke kampung halaman kita.
Setiap kali dia keluar, banyak orang yang membicarakannya.
Namun, setiap kali dia ingin menemuiku, dia dicegah oleh ayahku yang mengancam bahwa jika dia datang menemuiku, ia akan menceraikannya.
Ayahku juga sudah tidak menghubungi aku dalam waktu yang lama.
Namun, dia sering menelepon Jason, dan kadang-kadang aku bisa mendengar dia berkata, "Sudah makan? Aku bahkan tidak memberikan pupuk untuk makanan itu, dan aku memelihara ayam itu dengan pakan murni. Haruskah aku membuat sup untuknya? Apakah dia bertanya padaku tentang hal itu?"
Jason langsung menutup telepon saat melihat aku mendekat.
Dia takut emosiku akan terganggu lagi.
Sudah setahun lagi yang berlalu, dan tahun baru pun tiba.
Ayahku bertanya apakah Jason bisa membiarkanku merekam pesan untuknya, hanya untuk mendengar suaraku saja.
Aku melihat ekspresi hati-hati Jason, mencium dahinya, dan berkata, "Sekarang aku ada kalian semua, jadi aku tidak takut apa-apa!"
Aku menelepon ayahku melalui telepon, aku dapat merasakan bahwa dia tidak seceria sebelumnya.
Kita semua mengetahuinya dan tidak lagi membicarakan masa lalu.
Kami hanya membicarakan soal cuaca, kolam ikan, sama kebun buah di kampung halamanku.
Aku menanyakan apakah dia butuh uang, tapi dia bilang dia masih memiliki dana pensiun dan dia telah menabung banyak uang untukku.
Aku bilang kepadanya untuk menghabiskannya, karena aku tidak membutuhkannya lagi.
Sepuluh tahun yang lalu, Meili sangat membutuhkannya, tetapi sekarang aku tidak membutuhkannya lagi.
Ayahku terisak di dalam telepon dan berkata, "Aku sudah berkata banyak, apakah itu akan mempengaruhimu? Cukup panggil aku Ayah, dan aku akan merasa puas."
"Meili, kalau kamu enggak mau memikirkanku, maka jangan dipaksakan."
Aku cepat-cepat menutup telepon, air mata mengalir di wajahku.
Aku merasa jauh lebih baik sekarang dan hampir tidak pernah memikirkan masa lalu.
Terkadang, aku masak untuk semua orang dan menjemput anakku dari sekolah.
Ketika Jason beristirahat, kami pergi jalan-jalan bersama.
Aku mulai memiliki ide dan menulis sebuah cerita.
Ada seekor rubah kecil yang telah tumbuh sembilan ekor.
Konon katanya, jantung Rubah Sembilan-Ekor ini bisa menghidupkan orang yang sudah mati. Ibunya mencabut jantungnya dan memberikannya pada saudara perempuannya yang sekarat.
Rubah Sembilan-Ekor hampir jatuh ke dalam kejahatan.
Dia diselamatkan oleh seorang manusia biasa yang tidak memiliki apa-apa.
Namun, dia memberikan separuh jantungnya pada si rubah kecil, dan dia memperoleh sifat kemanusiaan.
Jason bertanya kepadaku, apa yang terjadi kemudian?
Kemudian diketahui bahwa ibu rubah kecil tersebut telah dipengaruhi oleh obsesi siluman, dan rubah kecil tersebut hampir terjerumus ke jalan yang kelam.
Tapi karena setengah hatinya itu, dia memiliki kemanusiaan.
"Apakah dia memaafkan ibunya?" tanya Jason.
"Tidak masalah apakah dia memaafkannya atau tidak, karena si rubah kecil sudah memiliki orang yang paling penting dalam hidupnya."