Cerpen Horor pertama, maafkan jika kurang menyeramkan menurut kalian.
***
Aku berpamitan dengan kedua orangtua ku karena hendak melanjutkan kuliahku yang letaknya agak jauh dari rumah ku, itu sebabnya aku mohon ijin untuk ngekost.
Tiba di kota tempat aku mulai kuliah, aku berkeliling sekitar kampus mencari kostan hingga lelah aku mampir ke sebuah warung sambil menanyakan tentang tempat kost. Tak lama kemudian datanglah seorang gadis seusiaku ke warung dan tak sengaja mendengar aku menanyakan kostan.
"lagi cari tempat kost ya?" tanya nya
"iya" jawabku sambil mengangguk.
"kebetulan aku disini juga kost, dan tempat kost ku masih ada satu kamar kosong. apa mau coba lihat?" ucapnya
"wah boleh,," seru ku senang karena aku benar-benar lelah.
Akhirnya kami pun berjalan ke tempat kost teman baru ku yang setelah berkenalan bernama Tuti. Letaknya tak terlalu jauh dari warung tadi tapi mungkin karena masuk ke dalam gang jadi agak tersembunyi. Sampai didepan pagar kost, aku melihat bangunan yang kokoh meski agak kusam. Sempat timbul rasa merinding ketika melihat bangunan itu.
"ini tempat kost nya, yuk masuk" ajak nya
Susi membuka pagar dan masuk, aku pun mengikuti nya. Tampak bangunan itu hanya satu lantai dengan kamar yang berhadapan, keseluruhan kamar ada 10 kamar berhadapan. Dibagian belakang ada ruang cuci baju dan jemur. Untungnya setiap kamar dilengkapi dengan kamar mandi didalam.
"ini kamar ku,, dan ini kamar yang kosong, kalau mau melihat dalam nya, kamu masuk ke kamar ku aja karena bentuk nya semua sama.," ucap Tuti
Aku pun mengangguk mengikuti Tuti masuk ke kamarnya menatap sekeliling, kamar kost dengan dua ruangan dan satu kamar mandi, ruang depan bisa untuk ruang tamu dan ruang tengah untuk tidur lalu kamar mandi kecil disebelahnya.
"gimana? disini tiap kamar ada kasur, lemari plastik, dan meja kecil. yang disiapkan ibu kost."
"sewa nya berapa?" tanya ku
"sewa nya 400 ribu per bulan. kalau mau nanti aku Wa ibu kost supaya kesini bawa kunci kamarnya, deket ko rumah ibu kost disebelah bangunan ini."
Aku memang penasaran ingin lihat langsung bagaimana kamar kost yang masih kosong itu, dan juga aku butuh segera tempat tinggal.
"iya aku mau,," jawabku
Teman baru ku si Tuti segera menghubungi ibu kost. "tunggu ya ibu kost otw kesini."
"oiya Tut.. semua kamar ini udah ada yang ngisi ya?"
"iya, tinggal kamar itu aja yang kosong. disini rata-rata yang tinggal itu anak kuliahan semua. kamu juga kuliah di Universitas Bangsa kan?"
"iya, kamu juga ya?"
"iya, aku kuliah malam, karena dari pagi sampai siang aku kerja sambilan."
"OOO" aku mengangguk.
Tak lama ibu kost datang, setelah masuk melihat calon kamar ku akhirnya aku mengiyakan dan membayar uang sewa sebulan pertama. Ibu kost memberikan kunci padaku dan tak lama pergi. Aku segera pamit pada Susi untuk bersih-bersih.
Tak lama satu persatu para anak kost mulai berdatangan, aku pun keluar untuk tau siapa saja, aku pun tersenyum.
"baru ya disini?" tanya teman kamar sebelah ku di nomor 4. Oiya aku ada di kamar nomor 3, Tuti di sebelahku nomor 2.
"iya kak, kenalkan nama saya Widia.!" jawab ku
"hai,, aku Sinta, salam kenal ya." jawabnya
"iya kak. oiya disini semua anak kuliah ya kak. apa semua pada kuliah pagi semua kah?"
"iya disini anak kuliah semua, tapi ada sih beberapa yang sambil kerja sambilan juga. yang kuliah pagi itu ada Ayu kamar nomor 1, Aku , Alin kamar nomor 6, Susi kamar nomor 8, sama terakhir itu si Yuni kamar nomor 10 deh. selain itu pada kuliah sore." jelas Sinta.
"sykurlah, jadi gak sepi banget ya kak." ucap ku
"ya gitu deh. ya udah aku masuk dulu ya."
"iya kak" Tak lama Sore nya Susi pamit kuliah ketika aku masih menata pakaian ku kedalam lemari.
"Wid,, aku pergi kuliah dulu ya."
"oke hati-hati ya. lusa aku juga udah mulai kuliah ko."
Widia mandi dan keluar untuk mencari makanan persediaan di kamar. Dia ke minimarket terdekat dan tetap harus keluar gang. Selesai belanja Widia kembali ke kostan dan hari hampir menjelang Magrib. Membuka pagar melihat sekolah tampak agak sedikit dingin dan aneh, tapi melihat banyak lampu kamar yang menyala dia merasa tenang.
Malamnya aku tidak bisa tidur, itu sudah menjadi kebiasaannya jika ada di tempat baru, bermain Hp sambil ditemani suara detak jam. Samar-samar aku mendengar suara seorang wanita menangis pelan tapi jelas.
"siapa yang nangis malem-malem ya?" tanyanya
"ah paling lagi berantem kali sama pacarnya," ucapnya lagi
Suara itu akhirnya hilang, dan berganti dengan suara orang ngobrol ramai sekali di depan. Sekali lagi menajamkan pendengarannya lalu melirik jam dinding dan jam menunjukan pukul 12 malam.
"ih,, rame amat sih diluar ini kan udah jam 12, masa iya pada gak tidur sih?" ucapnya heran karena penasaran aku berjalan hendak mengintip.
Dari jendela aku mengintip, sepi dan gelap yang aku lihat, tak ada orang ngobrol seperti tadi aku dengar, aku pun segera kembali ke kamar takut.
Keesokan harinya aku menceritakan apa yang aku dengar ke teman ku Tuti. Wajah Tuti sempat kaget tapi bersikap normal, lalu mengajak nya masuk.
"dulu waktu awal aku disini aku juga pernah denger suara perempuan nangis, sama suara orang ramai ngobrol. mungkin itu ucapan selamat datang buat kamu kali." jawab nya asal
"Hah,, ucapan selamat datang nya gak lucu amat sih. aku terkesan banget sumpah sampe takut"
Beberapa hari kemudian aku sudah menjadi anak kuliahan dan aku juga sudah mengenal semua sesama penghuni kamar. Tapi beberapa Minggu ini aku tidak melihat kak Yuni yang ada di kamar nomor 10. Pintu kamarnya pun selalu terkunci.
Malamnya aku duduk di meja kecil di temani laptop ku karena sedang mengerjakan tugas. Aku mendengar suara ketukan pintu jelas sekali. Aku melihat jam masih pukul 9 malam.
"iya bentar,,!" teriak ku dari dalam berjalan kepintu.
ceklek...
Ku lihat kak Yuni berdiri didepan pintu, entah kenapa aku tidak bisa menatap ke bawah meski aku heran kenapa kak Yuni terlihat agak tinggi.
"kak Yuni,, ada apa?"
"boleh kakak masuk, kakak kedinginan?"
Keningku berkerut, emang sih udah malem dan dingin tapi kenapa kesini bukan balik ke kamarnya, pikir ku.
"ayo masuk kak, aku buatkan teh manis dulu ya, duduk aja kak." ucap ku lalu menutup pintu karena memang udara malam itu sangat dingin. Lalu aku ke belakang membuat teh hangat dan membawa nya ke luar. Kaget seketika melihat ruang tamu ku kosong, teh hangat ditangan ku masih ku pegang erat. Dengan bingung aku menoleh mencari.
"astaga,, kemana pergi nya kak Yuni? ko gak pamit, terus kenapa kalau emang dia keluar ko gak kedengaran suara pintu dibuka ya?" gumam ku heran.
Menit berikutnya pintu ku kembali di ketuk, aku yang masih berdiri kaget bukan main. Berjalan perlahan ke pintu dan membuka, kali ini kak Tuti berdiri disana.
"Wid,, ayo keluar!" ucap nya
"ada apa kak, ko rame banget kenapa jadi banyak orang gini sih, mana ada polisi juga lagi."
"iya, kamu tau gak si Yuni meninggal Wid, dia gantung diri di dalam kamar."
Seketika gelas yang tadi masih aku pegang terlepas dari tangan ku, keringat dingin di keningku, merinding di tengkuk ku sudah tak bisa lagi aku hindari.
"kamu kenapa?"
"innalilahi wa innailaihi rojiun.. tadi dia baru aja dari sini kak!!" ucap ku syok.
"hah yang bener kamu!"
Aku hanya mengangguk lesu.
****
Tamat...