Tidak ada perayaan halloween di kampusku sejak kejadian 5 tahun yang lalu yang terjadi di asrama mahasiswa. Jadi begini ceritaya.
***
Ada seorang mahasiswi jurusan teater bernama amy dan teman sekamarnya bernama lili. Hubungan mereka sangat baik. Hampir tidak pernah bertengkar. Hal ini juga di sebabkan karena amy yang sangat jarang pulang ke kamar asramanya karena kesibukannya di panggung teater dan lili yang terlalu sibuk belajar sehingga tidak terlalu peduli dengan keadaan sekitarnya. Menurut cerita amy, ia selalu mendapati lili yang masih sibuk belajar ketika ia pulang ke kamar larut malam setelah latihan.
Amy merupakan mahasiswi populer karena ia merupakan aktris teater yang sangat baik. Sedangkan lili, ia mempunyai banyak penghargaan dalam hal akademik tetapi ia buruk dalam hal bersosialisasi. Lili sagat tertutup, bahkan dengan teman sekamarnya amy.
Hari itu, tanggal 31 Oktober 2015. Amy tampil di sebuah panggung teater untuk perayaan halooween di kampus. Pertunjukkan itu sukses besar. Untuk merayakan kesuksesan pertunjukkannya amy dan teman-temannya yaitu George, Sebastian, Camila dan Emily menyelenggarakan pesta di rumah george. Mereka pulang lebih awal dari pesta yang di selenggarakan kampus. Menurut pelatih teater pada saat itu, mereka izin untuk meninggalkan pesta kampus pada pukul 22.00.
Malam itu, orang tua george sedang bepergian ke luar kota karena urusan pekerjaan. Sehingga hanya mereka berlima di rumah itu. Sesampainya di rumah george, george mengajak teman-temannya untuk bermain ouija. Ouija sendiri merupakan papan permainan yang di percaya dapat memanggil dan membuat pemainnya beriteraksu dengan arwah.
“Ayo, kita bermain ouija” kata george mengajak teman-temannya.
“Kau punya papannya?” camila memalingkan wajahnya dari layar posel yang ia genggam.
“Bukankah itu papan pemanggil arwah?” tanya amy.
“Kalian percaya hal seperti itu? Tentang arwah atau hantu dan lain sebagainya. Itu hanyalah mitos” sahut sebasstian yang muncul dari pintu masuk dengan emily di belakangnya yang membawa kue untuk perayaan mereka.
“Mengapa tidak kita coba mainkan terlebih dahulu untuk membuktikan apakah cerita itu hanya sebuah mitos atau fakta” emily meletakkan kue di atas meja ruang tamu lalu berpaling kearah george. “Jadi george, mana papannya. Kita buktikan apakah cerita itu merupakan mitos atau fakta”
“Tunggu sebentar” george memasuki sebuah ruangan di bagian belakang rumahnya yang merupakan sebuah gudang. Sekembalinya dari ruangan tersebut, ia membawa sebuah papan permainan berwarna coklat di tangannya.
“Menurut peraturan permainan, kita membutuhkan sebuah lilin untuk memainkannya” kata george sambil membuka papan terebut di hadapan teman-temannya yang langsung berkumpul melingkar memperhatikan papan ouija di hadapan mereka. Papan tersebut berisi 26 abjad, terdiri dari huruh A-Z. Lalu, di bawah susunan abjad terdapat angka dari 0-9. Dipojok atas kanan papan terdapat tulisan “Ya” dan di pojok kiri atas terdapat tulisan “No”. terdapat sebuah cermin tembus pandang bebrbentuk lingkaran sebagai pelengkap permainan.
George meletakkan papan tersebut di atas meja. Lalu menatap teman-temannya satu persatu “Kalian yakin?” tannya george.
“Tentu saja” jawab amy semangat.
“Disini, tertulis kita membutuhkan sebuah lilin” kata camila membaca sebuah kertas petunjuk permainan.
“Ada satu lilin di kantong plastik di samping kue yang aku beli” sahut emily sambil beranjak dari tempat duduknya dan mengambil lilin di dalam kantong plastik di atas meja lalu menyalakannya.
“Matikan lampu sebelum kamu duduk” kata sebastian.
***
Menurut amy dan teman-temannya malam itu mereka berhasil bermain ouija. Amy mengatakan, mereka mengawali pertanyaan kepada sang arwah dengan pertanyaan apakah dia merupakan benar adanya lalu cermin yang di gunakan untuk permainan tersebut bergerak ke arah kata “Ya” yang terletak di pojok kanan atas papan.
Setelah itu camila bertanya bagaimana dulu sang arwah terpanggil bisa mati. Lalu, cermin bergerak ke arah huruf-huruf yang membentuk kalimat ‘Aku mati di bunuh’.
Malam semakin larut dan permainan terus berlanjut hingga sampai pada pertanyaan yang di ajukan amy. Amy bertanya ‘Jika kita semua adalah seorang pembunuh berantai, siapakah yang harus kami bunuh pertama?’. Memang agak gila, tapi amy mengaku pertanyaan itu hanya untuk bahan candaan.
Cermin bergeser membentuk sebuah nama ‘Lili’.
“Lili, teman sekamarku?” tanya amy sambil setengah tertawa. Mengapa ia harus membunuh teman sekamarnya, ia tidak memiliki dendam tertentu.
Cermin bergeser menuju kata ‘Ya’
Sebelum pertanyaan seanjutnya di ajukan, cermin itu bergerak lagi membentuk sebuah kalimat ‘Jika kamu tidak membunuhnya malam ini, aku yang akan membunuhnya’. Lalu, angin berhembus dan lilin padam. Terdengar suara, berdebum benda yang jatuh. Amy mencari ponselnya untuk mendapatkan penerangan.
Terdengar suara langkah kaki “Aku melewatkan sesuatu?” tanya camila yang baru datang dari kamar mandi.
“Nyalakan lampu!” seru sebastian agak terpatah-patah.
Camila lalu menyalakan lampu dan mendapati teman-temannya, Amy, Emily dan Sebastian duduk dengan wajah pucat pasi seolah-olah darah di wajahnya di sedot habis dan juga kue yang mereka beli sudah jatuh dan hancur di lantai. Tak lama kemudian George datang dengan membawa satu kantong plastik berisi minuman.
“Aku rasa, lampu kamar mandimu rusak” kata camila kepada george yang baru datang.
“Tidak mungkin, Aku baru saja menggantinya kemarin”
***
Menurut camila saat ia menggunakan kamar mandi george, lampu kamar mandi tiba-tiba mati-nyala secara berulang lalu ketika ia berkaca di depan wastafel, ia seperti melihat bayangan seorang wanita dengan baju berlumuran darah berdiri di belakangnya lalu hilang. Pada saat itu camila berpendapat bahwa hal-hal itu hanyalah halusinasinya karena sudah sangat larut malam dan ia sudah sangat mengantuk.
Akan tetapi, george yang pada saat itu sedang keluar untuk membeli minuman juga melihat sosok yang serupa saat mengendarai mobilnya. Tiba-tiba di tengah jalanan yang sepi muncu sosok wanita dengan baju berlumuran darah berdiri di tengah-tengah jalan sehingga membuat george menghentikan mobilnya secara mendadak. Lalu, ia turun untuk memastikan apa yang ia lihat tetapi, tidak ada siapapun di luar sana selain dia.
***
Di pesta halloween kampus.
Pada pukul 23:00, Jimmy sempat melihat lili berada di pojok ruangan pesta. Tanpak tidak sehat dan tidak menikmati pesta. Hal ini wajar karena lili memang di kenal tidak menyukai keramaian. Malam itu, ia datang karena ingin mengucapkan selamat kepada teman sekamarnya yang pertunjukkan teaternya sukses besar. Akan tetapi, sepertinya ia tidak mengetahui bahwa teman sekamarnya pergi dari pesta lebih awal. Jimmy yang merasa iba kepada lili yang terihat tidak nyaman memberi tahu lili bahwa teman sekamarnya, amy sudah meninggalkan pesta sejak sejam yang lalu. Jimmy lalu melihat llili pergi ke arah kamar mandi wanita.
Menurut pengakuan james ia sempat melihat lili pada pukul 23:20. Ia yang hendak kembali ke kamar asramanya, melihat lili berlari ke arah gedung asrama untuk mahasiswi. Lili terlihat ketakutan dan seperti di kejar sesuatu.
Pada pukul 23:35, lisa yang sedang sakit demam sehingga tidak mengikuti pesta halloween kampus, sempat mendengar samar-samar suara langkah kaki terburu-buru di lorong asrama. Lalu, ia mendengar suara pintu kamar sebelah yang merupakan kamar lili dan amy dibuka lalu ditutup lagi.
***
Pada pukul 01:00 amy dan teman-temannya memutuskan pulang ke tempat tinggal masing-masing. Amy pulang bersama emily karena merek berdu sama-sama tinggal di gedung asrama kampus.
Sesampainya di kamar, amy melihat lampu kamar mati sehingga kamar dalam kondisi gelap gulita. Biasanya pada jam segini, lampu kamar masih menyala karena lili masih sibuk dengan buku-bukunya. Akan tetapi, sepertinya lili ingin tidur cepat malam ini. Ia yang sudah sangat mengantuk tidak ambil pusing dan langsung berjalan kearah tempat tidurnya. Sebelum jatuh terlelap ia sempat mencium bau amis dari kamarnya tetapi rasa kantuknya lebih besar daripada rasa penasarannya sehingga ia langsung jatuh terlelap.
***
Pagi harinya, amy terbangun karena terdengar gedoran di pintu kamarnya. Setelah ia membuka mata ia membelalak kaget. Bukan karena gedoran di pintu kamarnya. Akan tetapi karena lili terbaring di kasurnya dengan mata membelalak kosong keatas. Kulitnya pucat terlihat dingin tanpa nyawa. Perutnya terbuka lebar dan beberapa isi perutnya di keluarkan dari tempatnya, menjuntai sisi tubuhnya. Terdapat tulisan di dinding samping tempat tidur lili tepat di atas tubuhnya. Tulisannya:
‘Bukankah kamu bersyukur karena tidak menyalakan lampu?’
Amy berteriak histeris. Seorang siswi membuka pintu kamar amy degan kunci cadangan lalu melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kampus.
****
Sampai sekarang, tidak di ketahui siapa yang membunuh lili. Kabarnya amy sekarang harus melakukan perawatan di rumah sakit jiwa karena trauma. Kamar amy dan lilipun sudah di kosongkan hingga sekarang dan tidak pernah ada permainan ouija serta pesta halloween lagi bagi mahasiswa dan mahasiswi kampusku.