Sinar kemilau mentari kini telah menembus tepi-tepi daun hijau di dekat jendela. Jari-jari lentik dan runcing menyusuri tiap-tiap helai benang kain penutup jendela itu. Angin pagi yang bertiup menyusup di celah-celah tulang rusuk membuat mata mungil itu terbelalak.
Ruangan gelap yang hanya tersinari siratan surya itu tiba-tiba terbuka bagaikan di tengah lapangan upacara. Aroma bunga jasmine menyengat di setiap ujung-ujung ruangan yang biasanya jarang ditemukan di daerah kota.
"Ayah, apa yang akan terjadi?”
Nyala api dari lilin merah kecil itu membuat suasana seperti berada di puluhan tahun yang lalu. Derai mutiara mata mengalir di setiap inchi pipi itu. Sorot mata memandang kulit-kulit yang kini tak muda lagi, tertutup hangatnya kain wol.
Sebuah kue dengan krim warna biru dan putih itu menjadi saksi akan kejadian masa lalu. Rasa sakit dan bahagia bercampur mengikuti angin yang menerpa tiga orang itu.
"Ayahmu, tidak setegar ayahku. Pergilah dengan saudara-saudaramu, Lisa!”
"Aku ingin bersama ayah. Dan begitu sebaliknya.”
Hari yang terulang setiap tahun ini, jam yang sama, menit yang sama, tetapi dengan suasana yang sedikit berbeda karena putri kecil ini tak mau berpisah dengannya. Dia punya 3 rumah, 3 perusahaan tambang, 3 mobil dan juga 3 anak, tetapi kejadian 25 tahun lalu masih merasuk dalam jiwanya. 32 tahun usianya, 33 tahun usia pernikahan orangtuanya, 5 tahun usia putri bunggsunya bertepatan hari ini.
Jari-jari itu menyentuh helai-helai rambut seseorang di hadapannya yang kini sudah tidak hitam lagi. Mata sayu di depannya mulai terbuka karena derai air mata jatuh tepat diatasnya.
"Ini untuk ayah. Selamat untuk ayah. Selamat untukku, Ayah. Ayah yang setia mengisi hati ini. Mengisi hati seorang ayah walaupun hati ayah juga tak terisi kebahagiaan. Aku sayang ayah!”
............
Hamparan gedung-gedung pencakar langit itu membuat burung elang ini tak bisa terbang bebas ke langit. Berasal dari Kota Benteng, Gading memulai sejarahnya dengan meninggalkan orang tuanya. Bongkar muat peti pelabuhan menjadi gelutan yang selanjutnya. Meninggalkan desa yang sejuk dan berganti dengan Kota Metropolitan yang penuh dengan kemacetan dan polusi bukanlah hal yang menjadi keinginannya. Tetapi sudah menjadi garisnya. Kegigihan dalam diri mengantarkannya pada keputusan yang sulit itu.
Jasmine yang wangi mengikuti keberangkatannya menggunakan kereta itu. Jasmineku, Jasmine milikku dan pastinya putra tunggalnya yang manis itu. Bertiga, bersama memulai menjelajahi ombak kehidupan. Mencari kenyamanan, kecukupan dan juga kebahagiaan. Banyak yang berkata, kota itu akan mengubah nasibku. Itu menjadi motivasinya. Mengukir sejarah dalam lembar-lembar kehidupan.
Lima tahun usianya tepat hari ini, ia berpisah dengan kakek dan neneknya, pergi merantau, menjalani kehidupan yang asam. Tetapi senyum Elang masih terpancar. Gubuk kecil yang sangat rapi di tengah Kota Metropolitan itu adalah sesuatu yang berbeda baginya. Berasal dari Kota Benteng, mencari pundi-pundi hasil dengan orang tuanya dan itulah jalan pertamanya.
“Hari ini ulang tahunku. Aku ingin menjadi orang yang sukses, Ayah. Aku ingi memiliki perusahaan pertambangan dan rumah yang besar, Ibu.” ucap Elang dalam kereta yang mengantarkannya pada cita-citanya itu.
“Raihlah itu, Elangku! Ayah dan ibu akan selalu medukungmu. Ibu sangat menyayangimu.”
Kehidupan mereka penuh dengan kebahagiaan. Jasmine merawat kedua lelaki itu dengan penuh kasih sayang. Beberapa waktu kemudian, usaha Gading menjadi lebih maju. Ia bukan lagi menjadi kuli, tetapi menjadi staf perusahaan bongkar muat itu.
...........
Setelah terkumpul uang mereka, hari ini tiga orang itu memutuskan untuk pulang ke kota asalnya setelah 2 tahun belum berkunjung. Malam ini mereka pergi ke terminal. Namun malam ini kurang beruntug bagi mereka. Hujan lebat dan angin menerpa perjalanan ketiganya.
"Hentikan dulu mobilnya! Hujan ini semakin deras.” ucap Jasmine kepada suaminya.
"Kita berhenti di toko kue saja. Hari ini hari ulang tahun Elang. Sekalian membeli kue warna biru kesukaannya.” Ucap Gading sambil menurunkan kecepatan mobilnya.
Sementara itu, Elang masih tertidur lelap di kursi belakang. Tangan-tangan mungil itu serasa kedinginan karena hujan yang makin menjadi. Hanya senyum tipis Jasmine yang menghangatkan suasana dengan beberapa kali menengok kearahnya itu. Tak lama kemudian, tibalah mereka di sebuah toko kue.
“Aku memarkirnya di seberang jalan saja. Jalan disini sempit dan sulit untuk belok.” ucap Gading membangunkan putranya itu.
“Aku akan turun membeli kue. Kalian tunggu disini saja!”
“Baiklah. Ini payungmu. Berhati-hatilah!” memberikan payung itu pada suaminya.
Gading keluar dari mobilnya. Meninggalkan kedua orang itu di dalam mobil dengan kondisi yang gelap gulita. Tanpa disadari, ternyata dompet Gading tertinggal di dalam mobil. Jasmine bergegas memberikan dompet itu pada suaminya. Tanpa payung dan lentera serta tanpa mantel, ia berlari menuju toko.
Elang yang berada di dalam mobil sendiri tiba-tiba ikut menghampiri kedua orang tuanya itu.Ia berlari dari mobil dengan berteriak memanggil ibunya. Tanpa diduga, datang sebuah mobil ketika Elang tepat berada di tengah jalan. Melihat putranya dalam bahaya Jasmine bergegas menghampiri putranya dan tidak mempedulikan keselamatannya.
“Ibu! Aku ikut!” teriak anak manis itu.
“Elang! Awas ada mobil!”
Jasmine mendorong putranya itu ke tepi jalan hingga membentur sebuah batu. Hujan malam itu seketika berubah menjadi merah, mengalir segar mengikuti aliran arus. Jasmine tergeletak di samping putranya dengan kondisi tidak sadar. Kejadian malam itu menyebabkan kegaduhan di sekitarnya. Jeritan tolong Ayah satu anak itu menggema di setiap telinga orang-orang.
..........
Gelap. Gelap bagaikan malam itu, bahkan lebih gelap lagi. Gelap disini, gelap disana, gelap dimana-mana, gelap dan sangat gelap. Hancur. Serasa remuk tulang ini. Tidak bisa untuk menggerakannya lagi. Sakit. Sakit lisan ini untuk mengucapkannya. Sakit kepala ini untuk memikirkannya. Sedih. Sedih hati ini, berlingang air mata ini, menetes, mengalir bagaikan sungai, menusuk di setiap rusuk.
“Kamu sudah sadar, Elang?” ucap sang Ayah mendekap kencang putranya itu.
“Elang, untuk sementara ini kamu belum bisa berbicara. Ada tiga jahitan di dalam bibirmu dan kamu juga harus beristirahat karena ada tiga jahitan di luar kepalamu serta tiga jahitan lagi di dada sebelah kirimu.”
Seketika ucapan sang ayah membuat air mata Elang tak terbendung. Diambilnya sebuah kertas dan pena dan ia mulai menggores isi hatinya dalam lembara putih dan bersih itu.
Dimana ibu, Ayah? Kata-kata yang tertulis di atasnya.
“Maafkan ayah, Elang. Ibumu sudah pergi.” mengalirkan air matanya.
Seperti rasa tidak terima, sakit hati, sedih, bercampur menjadi satu. Jikalau lisan ini dapat berucap, Elang ingin berteriak. Berteriak hingga menuju langit dan meruntuhkan bangunan itu. Tetapi rasa sakit di dalam bibirnya itu di tambah sakit dalam hatinya membuat tidak dapat berkata-kata.
Penyesalan dalam dirinya, penyesalan harus keluar dari mobil itu masih menginjak, menusuk tajam dalam dirinya. Rasa bahagia yang harusnya ada pada malam itu, berubah menjadi tangisan darah. Hari ulang tahunnya sekaligus hari kepergian ibunya. Hari ulang tahun pernikahan ayahnya sekaligus hari kepergian Jasmine mereka.
Semenjak hari itu, Elang ingin menggapai cita-citanya yang dulu pernah ia utarakan pada Ibunya itu. Ia tidak boleh larut dalam kesedihan. Tetapi seberapa lama kejadian itu telah berlangsung, tetap akan menggores dalam hati anak kecil itu. Tiga jahitan di luar kepalanya akan selalu mengigatkan pada ibunya tercinta dan tiga jahitan di dalam bibirnya akan selalu mengingatkan pada ibunya di setiap lisannya.