Cinta Sejati
Perkenalkan namaku Jenifer Yama. Umurku 24 tahun sekarang. Aku punya adik yang bernama Zahra Kaeli. Dia lebih muda 6 tahun dariku, ya iyalah namanya kan adik. Adikku itu ceroboh dan juga periang. Namun berbeda denganku, aku itu orang yang benar-benar kaku.
Kehidupanku bisa dibilang membosankan tak ada yang menarik. Sedangkan kehidupan adikku, kebanyakan selalu bermain dan bersenang senang dengan temannya seperti touring dan sebagainya. Sampai terjadi kejadian yang membuat hubungan antara aku dan adikku semakin merenggang.
Oke aku akan mulai ceritanya.
Kami tinggal di Apartemen Xandrina, lebih tepatnya berada di lantai 4 nomer 30. Saat itu hujan deras mengguyur kota tempat kami tinggal. Aku sibuk mengerjakan tugas dari CEO di tempatku bekerja. Sedangkan Zahra bermain handphonenya, kelihatannya dia chat dengan temannya.
“Ra, jangan main hp terus, sana belajar!”
Zahra pun berdecak, kemudian dia berkata sambil membentak, “Bukan urusan lu. Gw aja gak ngurusin urusan lu, terus kenapa lu harus ngurusin gw.” bentak Zahra.
Aku pun mulai emosi namun ku tahan. Ku tarik nafas dalam-dalam untuk menstabilkan emosiku.
“Ngapain lu narik nafas kayak gitu, kena asma?” ledek Zahra.
“Zahra!!! saya bekerja untuk kamu mati-matian dan begini cara kamu memperlakukan saya?” bentakku.
Zahra tersenyum sinis, kemudian dia berkata, “Siapa yang suruh lu kerja, ha?!”
“Tapi kalau kakak tidak bekerja kamu akan makan apa?!”
“Ya makan nasi lah, masa makan tanah!”
“Terus uang buat beli dari mana, dari kakak kan?!”
“iya iya, lu yang menang!” kata Zahra yang kemudian pergi dari sana menuju kamarnya.
Aku pun hanya bisa menghela nafas, “Andai saja dua orang itu masih, hidup kita gak akan kayak gini.” gumamku.
Setelah mengucapkan itu, langsung menutup mulutku. Perkataan itu tak seharusnya keluar dari mulutku, apalagi masih ada Zahra di sana. Zahra yang mendengar itu, menghentikan langkahnya dan berbalik. Dia berjalan cepat dan langsung mencengkeram kerah bajuku. Aku pun kaget dengan yang dia lakukan.
"Jangan pernah ucapin kata itu didepan gue, kalau lu masih nganggep adikmu!" kata Zahra yang marah dan mengeratkan cengkeramannya.
Ancaman itu hanya ku balas dengan anggukkan kepala. Aku tak ingin memperpanjang masalah ini karena sebenarnya yang salah di sini adalah aku. Serta dia memang tak suka jika aku membahas mengenai orang tua kita.
Setelah mengatakan itu Zahra langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia menutup pintu dengan keras. Sedangkan aku duduk di lantai dan menstabilkan nafas. Aku masih terngiang-ngiang dengan kejadian barusan. Seperti mimpi saja, tapi ini adalah kenyataan yang harus ku terima.
Selama beberapa hari Zahra tak mau bicara padaku. Makan selalu beli sendiri di warteg depan apartemen. padahal biasanya dia tak pernah mau keluar apartemen selain ke sekolah. Bahkan di sekolah dia selalu diam dan cuek. Aku mendapat informasi itu dari teman dekatnya yang kebetulan juga dekat dengan-ku.
“Biasanya walaupun dia marah, dia tetap mau bicara dengan ku walaupun sambil menggerutu, sepertinya kali ini aku harus minta maaf secara langsung, kalau tidak masalah ini akan semakin panjang.” batinku.
Aku menunggunya sampai pukul 12 malam. Namun dia tak kunjung pulang, sampai-sampai aku tertidur di sofa dengan posisi duduk. Namun deringan ponsel membangunkan-ku. Ternyata Zahra yang menelponnya. Tanpa berpikir panjang, langsung-ku angkat telepon itu. Namun ku dapati suara orang lain bukan adikku.
“Halo, ini kakaknya Zahra ya?” tanya seseorang di seberang telepon.
“Iya benar. Kamu siapa?”
“Aku Rahma temannya Zahra, maaf malam malam begini menelpon, aku mau kasih tau kalo adik kakak mabuk di rumahku.” Kata Rahma yang menjelaskan kenapa dia meneleponku.
“APA!!”
“Kamu sherlock lokasi, biar kakak jemput Zahranya.” kataku sambil mengambil jaket dan kunci mobil.
“Tapi kak kata Zahra, dia ga mau pulang. Aku nelpon karena takut kakak khawatir.”
“Udah ga apa-apa, kamu sherloc aja.”
“Tapi kak, kalau nanti Zahra marah gimana?”
“Tenang aja kakak ga akan sebut nama kamu, biar kamu ga dimarahin sama Zahra, jadi kakak mohon sherloc lokasi kamu sekarang?”
“Baiklah.” jawab Rahma di seberang telepon. Dia langsung mematikan telepon dan mengirim lokasinya dari hp Zahra.
Setelah mendapatkan lokasinya aku langsung bergegas ke rumah Rahma. Letak rumahnya mungkin tak jauh, kurang lebih 7 km dari apartemen kami. Mobil ku melesat begitu ku injak pedal gasnya.
Setelah sampai, langsung-ku pencet bel berkali-kali seperti orang yang panik, tapi memang panik sih. Untung saja waktu itu, hanya ada Zahra yang sedang mabuk dan Rahma yang sedang menyadarkan Zahra di rumah itu. Rahma membuka pintu dan begitu pintu terbuka aku langsung masuk ke dalam seperti orang yang tak punya sopan santun.
Disofa terlihat Zahra yang sedang tergeletak tak sadar diri akibat meminum minuman keras. Ku tanya Rahma kenapa dia sampai bisa meminum minuman keras itu.
“Em... tadi dia ngajak aku minum tapi aku gak mau terus dia bilang suruh temenin aja. Dia sempet ngomong tentang masalahnya sama kakak, katanya dia gak betah hidup di dunia ini. Dia minum sampai 5 botol dan jadi gini.” jawab Rahma yang coba menjelaskan kejadian.
“Baiklah, kamu bantu saya angkat dia ke dalam mobil!”
"Oke.”
Aku dan Rahma membopong Zahra ke dalam mobil. Setelah Zahra masuk kemobil dengan keadaan tak sadarkan diri, aku berterimakasih kepada Rahma karena telah membantu menjaga Zahra. Ku jalankan mobil dengan kecepatan standar. Mobilku semakin lama semakin melaju dengan cepat.
Sesampainya di apartemen, aku langsung memarkirkan mobil dan membopong Zahra menuju lift. Memencet tombol dan menyender kepala Zahra ke bahuku. Begitu pintu terbuka, aku langsung keluar dari lift dan masuk ke bilik ruangan sendiri. Ku bawa Zahra ke kamar dan menjatuhkannya ke kasur.
Ku lepas sepatunya dan kaos kakinya. Ku benarkan posisi tidurnya. Dan tak lupa, aku juga menyelimutinya. Setelah itu aku duduk di bawah. Ku pandangi wajah Zahra yang cantik. Secara perlahan mata ku terpejam.
Keesokan harinya, aku tertidur di samping Zahra dengan posisi duduk di samping kasur. Zahra mulai tersadar dan merasa pusing. Dia duduk dan tak sengaja membangunkanku.
"Zahra udah bangun? sebentar aku bawain makanan buat ngehilangin mabuk kamu." kataku sambil bangun dan berjalan ke dapur.
Zahra menjawab dengan anggukan kepala. Kemudian aku mengambil bubur dan obat yang ku beli di apotik tadi pagi. Aku berjalan ke arah kamar dan membuka pintu. Aku duduk di kursi tempat aku tertidur tadi. Ku letakkan air putih dan obat serta bubur di nakas samping tempat tidur.
Aku ambil bubur tersebut dan ku suapi Zahra untuk memakannya sampai habis. Setelah habis ku serahkan obat dan air putih. Setelah minum obat Zahra tertidur kembali dan aku membawa mangkuk dan gelas kosong ke dapur. Setelah ku cuci mangkuk dan gelas itu aku masuk ke dalam kamar Zahra. Aku duduk di samping Zahra sambil mengusap rambutnya.
"Zahra, kakak minta maaf. Selama ini kakak hanya kasih kamu uang yang banyak tapi hanya sedikit kasih sayang yang kakak berikan. Kakak rasa dengan uang kehidupan kamu terpenuhi ternyata tidak. Setelah kamu sembuh kakak, akan berubah lebih sayang ke kamu. Cepat sembuh, adikku tersayang." kataku sambil mengusap rambut Zahra dan mengecup keningnya diakhir kata.
Zahra bangun dan langsung memelukku. Aku sempat kaget. Tetapi setelah itu, aku juga membalas pelukannya.
“Maafin aku juga kak, yang selalu bandel gak dengerin omongan kakak, hiks." kata Zahra sambil memelukku dengan erat.
Aku hanya mengelus kepalanya. Disitu kami menangis dan saling mengungkapkan kebenaran isi hati kami.
Setelah malam itu. Hubungan antara adik kakak beradik kami semakib erat. Kami selalu membagi antara waktu pribadi dan waktu bersama. Saling curhat, Saling berbagi, saling menyayangi itulah yang seharusnya kami lakukan.
****
Terima kasih karena sudah membaca, jika suka like ya, lalu ada kritik komen aja insyaallah aku balas. Ini hanya seputar hayalan-ku, kalau suka silahkan kalau tidak, gak usah baca, simpel. Buat yang suka nantikan terus episode selanjutnya.