Malam itu itu aku berjalan ditengah keramaian malam penuh suka cita, kaki yg terasa berat membawa hatiku yg penuh luka dan duka.
Aku bersimpuh ditengah trotoar batu yang basah ditengah hujan malam berpetir.
mataku sayu menatap bayangan orang-orang yang melewati ku tak perduli, sembari menghela nafas perlahan.. kuangkat kepalaku dan melihat malam gelap tak berbintang.
mataku bengkak dan perih, begitu pula hatiku yang terasa sesak saat ini.
aku seharusnya terus berjalan, namun telapak kakiku yg lecet tak beralas ini seakan melumpuhkan kedua kakiku.
asinnya air mata yang terus mengalir menyatu dengan air tawar yang terus menetes dari langit. suara rintihanku seakan menyatu dengan suara hujan dan keramaian.
ditengah kumpulan manusia yg tak perduli, suara langkah kaki itu terdengar nyaring diantara hujan dan keramaian.
Ia berhenti didepanku.
"apa kau tidak apa-apa?" tanyanya dengan sopan, sembari mengulurkan tangannya kearah ku.
Aku tak sanggup berbicara, tenggorokan ku sakit, lidahku Kelu, dengan nafas yang hampir tak bisa kurasakan. aku hanya sanggup untuk menggelengkan kepalaku, berharap agar ia mengerti dan pergi meninggalkan ku.
sejak kecil aku akan selalu menahan amarahku bahkan jika air mataku berada diujung mataku, aku benci saat seseorang menungguku menangis.
Namun kali ini berbeda, ditengah keramaian seperti ini, bagaimana aku bisa menyembunyikan tangisanku? aku bersyukur hujan malam ini menyamarkan isakanku, walau aku tak bisa menggerakkan kakiku saat ini.
Kulihat orang itu diam sesaat, tak berkata maupun bergerak.
aku tak ingin ia melihat wajah memalukan ku ini, aku juga tak ingin melihatnya. Jadi aku hanya melihat kaki dan setengah tubuh bagian atasnya melalui pantulan bayangannya di genangan air didepanku.
setelah beberapa saat, akhirnya lelaki itu melangkahkan kakinya pergi.
aku bersyukur, setidaknya hanya dia yang pura-pura perduli diantara yang lainnya. karena dorongan simpati atas rasa kasihan dan ingin tahu itu membuatku risih sekaligus muak.
Hidup sebagai yatim piatu selama 20 tahun hidupku, sudah cukup menggambarkan bagaimana rasa simpati atas dasar kasihan dan hanya ingin tahu bagaimana perasaanku sebagai anak yatim dan sekarang bukanlah saat dimana aku memiliki tenaga untuk berurusan dengan orang-orang seperti itu.
Namun ia kembali..
sembari membawa jas hujan, ia menutupi pundakku dengan benda yang lebih tebal daripada jas hujan pada umumnya ini dengan cepat, seakan tak ingin tubuhku terguyur hujan lebih dari ini. lalu, dengan setengah tubuhnya yang basah, lagi - lagi ia memayungiku dan menatapku khawatir.
"apa kau tidak apa - apa?" tanyanya yang kedua kali.
ingin sekali mulut ini membentak kewajahnya, mengumpat dan melampiaskan kekesalanku padanya. tapi aku tidak sanggup, tubuhku tidak sanggup untuk mengeluarkan tenaga lebih lagi untuk melakukan hal itu.
"sini kubantu." tuturnya lembut sembari mengulurkan tangannya, "ini bukanlah tempat untuk menangis."
lagi - lagi aku menangis.
aku tidak ingin menangis didepan siapapun, bahkan didepan lelaki yang tidak kuketahui bagaimana rupanya ini. Tapi aku malah.. melakukannya..
aku menangis bukan karena rasa sakit dari kakiku yg lecet ataupun tubuhku yang mengigil dibawah hujan malam ini.
aku menangis...
atas rasa kasihan dari lelaki ini. ia datang karena kasihan padaku, tapi kenapa aku menangis karenanya?
aku benci hal ini. ini bukan karena aku gengsi telah menolak bantuannya, ataupun membenci kehadirannya.. yang aku benci adalah rasa kasihan mereka.
saat kugenggam kuat tangan ini, kurasakan kasarnya kertas dibawah telapakku.
saat itulah aku sadar pada tujuanku yang sebenarnya, dan saat ini aku tidak punya waktu untuk mengeluhkan perasaanku.
dengan sempoyongan, aku berdiri. tepat didepan lelaki yang setengah wajahnya tertutup dengan payung pelanginya.
dengan tenggorokanku yang kering, kutarik nafasku dan berkata. "Terima kasih atas bantuanmu. Tapi aku harus pergi."
setelah mengucapkan beberapa patah kata padanya, dengan cepat kulangkahkan kembali kakiku yang tak beralas.
Namun baru saja kuambil langkah seribu, lelaki itu lagi-lagi berbicara.
"jangan khawatir." Teriaknya, "apapun masalahmu, semuanya akan baik-baik saja."
sial.
bukannya kesal, teriakannya malah membuat langkahku semakin ringan dan tubuhku seakan mati rasa oleh ribuan tetes air hujan yang menghantam ku saat ini.
setelah mendengar suaranya.. rasanya seperti ada sesuatu yang tak terlihat mendorong ku dari belakang, dan mempercepat langkahku.
"aku.." kali ini akan kuangkat kepalaku dan menatap jalan yang ada didepanku, karena aku tahu bahwa semuanya, "akan baik-baik saja!"
...
aku berlari dan terus berlari, walaupun oksigen di paru - paruku mulai menipis, aku tak berhenti melangkahkan kakiku.
hingga akhirnya aku sampai kedepan gedung yang tinggi dengan nafas yang ngos - ngosan.
baru saja aku ingin melewati pintu masuk, "hy nak! mau kemana?" Cegah Lelaki tua berseragam dengan bordiran 'SECURITY' di dada kanannya.
"maaf pak.. Haah.. Haah.. saya tidak punya waktu untuk menjelaskan.." jawabku terbata-bata
"Tapi ini sudah lewat dari jam--"
belum sempat pak Satpam itu menyelesaikan kata-katanya, aku langsung melesit masuk melewati celah disebelah kanannya. tubuhnya yang gemuk bergerak tak lincah dibandingkan denganku yang melewati celah disebelahnya dengan mudah.
"Hey! berhenti disana!!" Bentak pak Satpam dengan geram.
aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi setelah aku tertangkap oleh pak tua itu. yg terpenting saat ini adalah aku dapat sampai ketempat tujuanku.
'kamar 305, cepat!'
itu adalah satu-satunya clue yang kudapat dari SMS yang dikirimkan oleh tetanggaku, mengingat tetanggaku adalah orang-orang yang gaptek, mereka tidak terlalu mengenal apa itu WA atau Line, dan mungkin karena pulsanya habis atau bagaimana aku tidak tahu, sampai-sampai ia tak dapat menelpon ku dan menjelaskan semuanya. dan sialnya lagi, pulsaku habis setelah harus menelpon beberapa pelanggan ku hari ini.
setelah berlari terus menerus, bahkan harus menaiki tangga darurat karena lift bodoh itu harus rusak disaat genting seperti ini. aku mulai merasa pusing dengan pandanganku yang bergoyang-goyang.
"aku.. Haah.. harus sampai.." tinggal 5 anak tangga lagu, maka aku dapat mencapai lantai ke-3
"berhenti kau disitu anak nakal!!" suara teriakan itu, kutengokkan kepalaku melihat kebawah. pak satpam saat ini berada di lantai satu! hebat juga pak tua gendut itu.
kupercepat langkah kakiku, dan akhirnya aku sampai. didepan kamar bernomorkan 305, dan segera masuk.
dengan degub jantung yang tak karuan aku mendekati satu-satunya ranjang yang dikerumuni banyak orang..
mendengar isakan mereka, aku hanya bisa mengigit bibir bawahku kuat.
-- semuanya akan baik-baik saja --
lagi-lagi ucapannya mendorong langkahku untuk terus berjalan, walau perlahan. walau kakiku gemetaran dan keringatku terus bercucuran, kuberanikan diriku untuk menerobos melewati kumpulan tubuh tinggi yang besar berdiri didepanku.
Sesampainya aku tepat disebelah ranjang, dan berdiri diantara tubuh besar dan tinggi dibelakangku, dokter itu menutup seluruh wajahnya dengan kain putih dengan wajah penuh duka.
seketika aku kehilangan keseimbangan dan langsung bersimpuh tepat disebelah ranjang, dengannya yang tertutup oleh kain putih diatasnya.
Dahulu, sering kali aku merasa muak terhadap akting setiap aktor yang kehilangan kekasihnya, karena mereka terlihat begitu buruk. Namun, jika perasaan ini yang mereka rasakan.. maka aku bodoh karena meragukan akting mereka.
Karena saat ini, wajahku, kakiku yang lesu dan lecet tidak dapat kurasakan.. jangankan memiliki tenaga untuk berteriak, aku bahkan tidak punya tenaga untuk menghentikan air mataku yang terus mengalir.
Ia adalah orang pertama yang mengulurkan tangannya padaku, tanpa menatapku dengan kasihan.
Ia adalah orang pertama yang memberikanku perasaan seakan berada dirumah saat bersama dengannya.
Ia juga adalah orang pertama yang kucintai dengan tulus, karena telah menerima dan merawatku si pembuat onar ini.
Tapi kenapa..?
Kenapa kau juga menjadi orang pertama yang membuatku menangis karena harus ditinggalkan seperti ini?
apa aku harus menyusulmu?
-- semuanya akan baik-baik saja --
"Tidak, tidak, tidak,tidak" Dadaku terasa sesak, "Tidak!!" air mataku terus mengalir, tanganku bergetar, "TIDAK!!"
"Bohong! Bohong! Bohong!! kau berbohong padaku!!"
"kau berbohong padaku! dasar lelaki payung pelangi menyebalkan!! aku membencimu!"
'Tap!'
"maaf, boleh tahu anda siapa, nona?" tanya wanita berambut ikal dibelakangku dengan wajahnya yang bengkak dan kedua mata yg memerah.
"aku." dengan sempoyongan kupaksa kakiku untuk berdiri, " adalah orang yang makan bersamanya, tidur bersamanya dan tinggal bersamanya, ia orang yang sangat berarti bagiku.. "
"ia adalah--"
"Flo?" suara itu.
aku mengenal suara itu.
seketika kutengokkan kepalaku kesamping, dan melihat tubuh tak bernyawa yang tergeletak dibelakangku. apa barusan aku menghayal suaranya?
melihatnya ditutupi oleh kain tipis dengan baju rumah sakit itu malah membuat dadaku terasa sesak kembali. padahal sebelumnya, ia berjanji untuk mati diusia 100 tahun dan melihat cucu dari cicitnya lahir.
Dasar tukang ingkar janji.
"Flo? kaukah itu?"
lagi. suara itu muncul kembali. kutengokkan kepalaku kesegala arah dan mencari asal suaranya, tapi melihat kerumunan orang-orang bertubuh tinggi dan besar ini begitu banyak membuatku sulit untuk melihat atau bahkan mendengar suaranya.
kumohon, ucapkan sesuatu, agar aku tahu bahwa kaulah yang mengucapkan kata-kata sebelumnya. agar aku dapat membuktikan bahwa semua ini bukanlah ilusi semata.
Kumohon..
"Weh budek!!"
'Degh!!'
aku mendapatkan nya. suaranya, dan bahkan rupa dari lelaki yang berkata kasar tadi.
sekejap aku menghampiri nya dan langsung memeluknya erat. merasa penuh rasa syukur atas apa yang terjadi, bahwa apa yang kupikirkan sebelumnya hanyalah ilusi semata.
"aku... aku kira kau.. aku kira kau.." ucapku terbata-bata ditengah tangan kebahgaian penuh rasa syukur atas kehadirannya yang begitu nyata didalam pelukanku.
ia tak mengatakan apapun selama beberapa saat, hingga akhirnya salah satu tangannya menepuk pundakku, lalu mengelusnya pelan.
"sudah, sudah, bernafas saja dulu pelan-pelan.." tuturnya lembut berusaha untuk menenangkan ku. dan anehnya suara serak dan jelek itu dapat menenangkan ku.
"kenapa bisa berakhir dirumah sakit sih? buat khawatir saja." tanyaku yang masih memeluknya sembari membersihkan cairan hidungku yang terus-terusan keluar sejak tadi.
"ah itu," ia membuang pandangannya dariku. "tadi ga sengaja diserempet kumpulan sepeda Onthel."
"sepeda apa?" aku lalu melepaskan pelukanku dan melihatnya dengan serius. ia masih memalingkan pandangannya dariku, "yah sepeda Onthel. sepeda tua ituloh, yang ada tetot-tetot-tetot nya."
"kau pasti bercanda." ungkapku tak percaya.
ia malah menanggapi ku dengan tawa bodohnya, "sebelum aku menjelaskan, sebagai anak yang baik, lebih baik kau melakukan sesuatu dulu."
"melakukan.." Ia lalu memutar kepalaku dan mengarahkannya pada kumpulan orang yang ada dibelakangku. "sesuatu?"
jadi, dari tadi aku..
menangisi orang yang salah?
Dasar bodoh.
***
[Setelah itu..]
"Ruangan yang kau datangi sebelumnya itu, pasiennya mengidap penyakit yang serius, itu mengapa sebelum hari kematiannya, ia meminta seluruh keluarganya berkumpul." jelasnya sembari berjalan bersamaku ditaman rumah sakit.
"kau mengenalnya?" tanyaku memastikan, "hmm.. dibilang kenal juga ngga sih, aku baru bertemu dengannya beberapa kali dan ia sudah menawariku untuk menikah dengan cucunya haha.." Ia malah terkekeh ditengah aku menatapnya aneh.
"Tapi paman itu adalah orang yang baik." senyumnya, "ia mengingat semua nama keluarganya." lagi-lagi pandangan itu muncul di wajahnya.
"memangnya kalau dia ingat semua nama anak cucunya dia dicap sebagai orang baik, apa?" Celetukku sembari berjalan beberapa langkah lebih cepat darinya yang saat ini berjalan dengan tongkat.
Ia sudah lama memiliki penyakit ini, sejak kedua orang tua kami tiba-tiba menghilang. Ia mengidap trauma yang cukup berat diusianya yang masih sangat muda saat itu, dan sejak kejadian itu ia jadi sulit untuk mengingat nama dan rupa seseorang.
walau begitu, setidaknya ia dapat mengingat satu orang, yakni aku.. adiknya.
"jika saja aku dapat mengingat nama dan rupa mereka, maka kita tak perlu untuk men--"
"Untuk apa kita mencari mereka yang tidak menginginkan kita?!" kupercepat beberapa langkah darinya yang saat ini berjalan dengan tongkat dan berhenti didepannya.
"membuang-buang waktu dan tenaga untuk mencari orang-orang yang tidak menginginkan kita." aku lalu meraih tangannya, "kita berdua saja sudah cukup. kau adalah satu-satunya orang yang menunggu bersama denganku di halte malam itu, aku tidak membutuhkan orang lain, yang kubutuhkan adalah kakakku."
'Pletak!!'
"Adoohh!!" rintihku kesakitan saat kepalaku dipukul oleh sesuatu yang lebih keras daripada meja kayu Ulin pak yanto, dan 'sesuatu' yang keras itu adalah, tangan "Bude Etti?!!"
"masih aja ga sopan ya, panggil abangmu sendiri dengan sebutan kamu-kamu, mau bude tempeleng biar sadar?" ancamnya
"tapi kan barusan bude tempeleng Flo."
"jadi mau dua kali tambah!?"
"ngga bude.. anu itu.. apaya namanya lupa... ituloh" ucapku sembari memberi kode untuk kakaku agar ia mengerti. bukannya mengerti, ia malah menatapku bingung. "itu itu apa?"
"ohya tempat jual minum dimana ya? kasihan ~ Abang kesayangan ku ini kehausan habis jalan kesana kemari pake kaki satu~" senyum ku kesal kearahnya.
"heleh, kamu mau mengalihkan perhatian bude, kan?"
belum sempat selesai, dengan cepat kuambil langkah seribu agar bisa menjauh dari tangan yang besarnya sama dengan lingkar wajahku itu. "gajadi bude, Flo dah ingat tempatnya! titip Abang ya bude! Ciao~" teriakku sembari berlari.
menyebalkan sekali karena kepalaku dipukul oleh bude hanya karena memanggil kakak dnegan sebutan 'kamu'
Tetapi..
setidaknya hatiku terlampau senang seakan-akan aku terbang di angkasa bersama gumpalan awan diatas sana.
walau rasanya sedikit aneh kalau lukanya hanya di leher dan kaki kanannya, tapi melihatnya hadir, mengejekku, dan tertawa bersamaku..
itu sudah cukup membuatku
merasa bersyukur.
karena kehadirannya, membuatku merasa bahwa dunia ini tidak sepenuhnya jahat dan kejam seperti yang orang-orang katakan.
ia membuatku ingin tetap hidup lebih
lama bersama dengannya..
*** [End PoV] ***
"Nak Aksa," Toleh wanita berusia lanjut yang terdapat tai lalat dibawah dagunya dengan pandangan khawatir diwajahnya, "dari raut wajah Flo, sepertinya Nak Aksa tidak mengatakan apa-apa, benar?"
Raut wajah tenang penuh senyum itu perlahan memudar dan memperlihatkan pandangan kosong, "ia tidak perlu mengetahui hal itu, bude." balasnya dan kembali melanjutkan jalannya.
"tapi kamu ga bisa menyembunyikan bekas luka dilehermu itu darinya, Nak Aksa." Sahut Bude Etti, "saran bude, lebih baik kamu segera memberitahu nak Flo secepatnya, sebelum ia tahu sendiri bahwa satu-satunya keluarga yang ia miliki mencoba untuk bunuh diri beberapa kali."
lelaki bernama Aksa itu berhenti berjalan.
"aku tidak sanggup hidup dengan membawa kepala kosong ini kemana-mana." jawabnya kesal, "Tidak bisa bekerja diusia ku yang sekarang, baik dari pekerjaan berat hingga yang paling mudah sekalipun, aku ini tidak berguna, Bude!"
"dan yang lebih parah adalah, hal-hal yang kuingat dari Flo hanyalah gigi gingsulnya dan bekas luka diatas alisnya, selebihnya aku tidak ingat apapun!"
"jika ia tidak punya kesamaan seperti yang kuingat, apa ia benar-benar adikku? aku tidak tahu!" keningnya mengerut kesal sembari menahan matanya untuk tidak menangis, "oh, Nak Aksa.. bude hanya ingin kamu selalu bersama dengan adikmu"
"tidak apa-apa bude.." ia lalu menoleh kearah bude, "maaf sebelumnya Aksa marah-marah, dan sudah merepotkan bude.."
"setelah melihat Flo menangis dengan wajah meweknya itu karenaku, membuatku ingin hidup sedikit lebih lama." senyumnya lirih, "setidaknya sampai ia dapat menemukan seseorang yang bisa membagi pundaknya kepada Flo saat ia menangis didepan makamku nantinya."
Aksa lalu mengalihkan pandangannya keatas dan melihat kelangit dengan matanya yang sayu, "kita harus segera balik, bude. sepertinya sebentar lagi akan ada hujan."
...
"ohya nak Aksa" panggil bude yang mengikutinya dari belakang, "ya?"
"Tagihannya tadi Nak Aksa bayarnya bagaimana? tadi pas bude mau bayar katanya sudah dilunasi."
"huh?" raut wajah Aksa pun berubah, " Tagihan apa?"
***
"duhh.."
"kenapa hujan lagi sih.." keluh Flo dibawah hujan sembari berlindung dibawah toko yang sudah tutup.
Dengan plastik berisikan minuman manis dingin yang ia beli di toko, ia bersandar didinding yang sudah terkelupas dibelakangnya.
"ah, pasti bakal lama," matanya lalu melihat isi menuman yang ia bawa sejak tadi, "daripada ga dingin lagi, mending diminum sekarang."
saat ia membuka botol minuman dingin itu, ia melihat jas hujan yang ia pakai sejak tadi, "ohya! jas hujan laki-laki payung pelangi tadi!" kagetnya
"bagaimana bisa aku membawanya sampe rumah sakit ga sadar?!" ucapnya panik, "yah, habisnya bentuknya yang kaya jas mahalan ala korea-korea gitu, gimana aku bisa sadar kalo ini punya orang, yang ada malah jadi nyaman.." gruttu Flo sembari melihat-lihat keseluruhan (yang disangkanya) jas hujan ini.
"eh?" ia menemukan sesuatu dibawah pergelangan jas hujannya, "bukannya ini lambang rumah sakit tempat kak Aksa dirawat ya?" ia pun melihat kearah lambang rumah sakit dan lambang yang terbordir dibawah pergelangan jas hujan yang ia kenakan.
"wah iya mirip!"
"apanya yg mirip?"
seketika pandangan Flo teralihkan dari lambang yang terbordir rapi di pergelangannya keasal suara yang menyahut kearahnya tadi.
Payung pelangi. Sepatu kulit dan celana hitam panjang dengan setelan jas.
"kau paman yang tadi, ya?!" Ucap Flo sepontan.
"uhuk!- pa-paman?!"
"ada apa? apa aku salah?"
Lelaki itu mengalihkan pandangannya bete, "aku lebih muda dari penampilan ku."
"ohh...begitu.."
setelah itu mereka diam beberapa saat, dan tidak ada yang memulai pembicaraan.
"eum jadi--"
"ohya aku--"
"Eh?!" sahut mereka bersamaan
"anda bisa deluan jika ingin bica--"
"oh, kalo paman mau ngmng ngomong aj--"
lagi-lagi suara mereka bertabrakan.
"duh, aku deluan deh." Flo lalu mengulurkan tangannya, "Terima kasih ya Paman atas bantuannya." ucapnya sembari tersenyum lebar kearah lelaki didepannya itu.
"ba-bantuan?!" sahutnya terkejut, "bagaimana kau tahu tentang masalah tagih-- tunggu dulu, bantuan apa?" tanyanya memastikan.
"ini" Flo mengangkat jas hujan yang ia kenakan, "dan ini." lalu memegang dadanya.
"huh?" Lelaki itu pun hanya melihatnya bingung, "apa maksudnya?" ucapnya sembari menunjuk kearah tangan Flo yang saat ini memegang dadanya.
"karena kata-kata mu sebelumnya, menyemangati ku. sebelumnya aku kira kakaku sudah mati, tapi ternyata tidak. jika bukan karena kata-katamu, mungkin aku tidak berani masuk kedalam ruangannya dan malah mengakhiri hidupku." cengirnya lebar, "Terima kasih ya~"
"ah, tidak itu bukan masalah." lelaki itu tersenyum dibawah payung pelanginya. kali ini seluruh wajahnya dapat terlihat dengan jelas dibawah hujan yang disinari cahaya senja, "aku bersyukur sudah dapat membantumu."
"sepertinya kau ingin segera cepat-cepat kembali. mau kuantar ke ruanganmu?" tanyanya sambil mengulurkan tangannya kearah Flo. kali ini bukan tangisan dan tatapan kesal yang disuguhkan oleh Flo kepadanya, melainkan tatapan suka cita dan penuh terima kasih kepadanya. "tentu paman, kenapa tidak?"
"tolong berhentilah memanggilku paman, aku masih muda."
"benarkah? memangnya kamu kelahiran tahun berapa?"
"tahun '94"
"hah?! '94? beneran? ahahaha!!"
"yah, beneran, kenapa malah ketawa atuh, yang mananya yg lucu."
"berarti masih tua-an aku dong, aku lahir tahun '93"
"Halah beda setahun doang."
"tetap tua-an aku dong! panggil aku kakak, ya"
"mending aku panggil Tante sekalian."
"Loh kok Tante sih?! Ganti!! cari yg lebih berkelas sedikit."
"loh, iyakan? coba pikirkan lagi, kelasnya Tante itu lebih tinggi ketimbang kakak."
"bukan itu maksudku!"
(♪♪♪~)
"eh hapemu bunyi tuh." tunjuk Flo, "ah, biar aja. ga penting." sahut lelaki itu
"matiin gih, norak banget lagunya." ejek Flo dengan wajahnya yg ngeselin. "lagu siapa yang lu bilang norak, hah?"
---End
"duhh, bapak satu ini kok ga ngangkat-ngangkat telponnya sih.." gruttu seorang lelaki yang sedari tadi mondar-mandir didepan mobil mewah seharga miliaran ini.
setelah mencoba menelpon beberapa kali dan tidak diangkat, tiba-tiba kaca mobil belakang terbuka.
"bagaimana?" seorang lelaki tua berkeriput mengintip melalui jendela kaca yang terbuka. "maaf pak, pak direktur tidak mengangkat telponnya."
"SMS dia, katakan padanya jika dia tidak hadir diruang rapat kali ini, maka akan kubakar ketujuh mobil mewahnya dirumah." perintah lelaki tua itu kepada bawahannya ini.
"baik pak, sudah saya sampaikan." jawab lelaki diluar mobil.
"bagus. tunggu 5 menit sampai dia menelpon balik, jika tidak ditelpon balik. bakar semua mobilnya."
"baik pak."
kaca jendela belakang mobil kembali tertutup dan memperlihatkan pantulan bayangan orang tua renta ditemani sebuah infus disebelahnya, sedang menatap keluar jendela melihat besarnya rumah sakit swasta terbesar di kota ini.
"selalu saja..." ucapnya lirih.
"mentang-mentang dia satu-satunya penerusku, otaknya saja yang pintar, sikapnya sama saja seperti anak jalanan yang tak berpendidikan."
[•]