Sebut saja aku teman sebangku,aku duduk di bangku SMA kelas XI IPA 5, mungkin terkenal terbelakang karena A5, tapi aku tidak berbohong jika sebenarnya kelasku adalah yang terbaik di sekolah bahkan mengalahkan kakak tingkat, terutama dalam hal seni dan itu semua berkat wali kelas yang sangat peduli kepada kami.
Namun aku cerita ini bukan tentang kelasku ataupun wali kelas ku yang luar biasa, namun ini tentang kisah cintaku, bisa dibilang cinta pertamaku dan itu semua dimulai saat pergantian semester 2, ketika semester kedua dimulai kelas kami melakukan pertukaran tempat duduk, dan aku ditempatkan di pojok samping kiri di dekat jendela.
Di sebelah ku ada murid multitalent dan merupakan kebanggaan kelas meski bukan dia juara satunya, dia memang menakjubkan, dia tinggi dan tampan, warna kulit sawo matang dan memiliki gingsul, tipe wajah lonjong dan rambutnya tegap berdiri seperti landak, dia adalah teman pria pertamaku di tahun kedua sekolah menengah atas ku.
Ya itu semua karena aku merupakan murid pindahan, aku pindah ke sana ketika akan masuk SMA ceritanya panjang, kembali ke ceritaku sebelumnya dia adalah pria pertama yang membuatku tertawa dan menjadi tidak di asingkkan. Dan di depan ku ada seorang pria tampan lainnya, dia putih, tinggi, berwajah bulat, dan rambutnya lurus namun selama aku mengenalnya dia hanya mempunyai ketinggian rambut tujuh cm lebih dari itu aku belum pernah melihatnya.
Dia ramah dan teman yang baik, sangat menyenangkan bisa mengenalnya, aku juga mau bilang diantara semua kelas, kelasku adalah kelas yang bertabur visual, aku bukan berniat sombong ataupun berbohong tapi itu adalah kenyataan yang valid, semua orang mengakuinya.
Saat itu adalah masa pandemi covid jadi diwajibkan menggunakan masker, wajah ku tentu saja menggunakan masker, namun bukan peraturan jika tidak dilanggar, terkadang siswa yang lainnya membuka masker dan enggan memakainya sedangkan aku lebih suka menggunakan masker daripada melepasnya, namun aku memiliki banyak teman karena melepas masker ku, sebenarnya penampilan adalah segalanya tapi hal itu membuat ku merasa bingung, itu sederhana karena aku bukan tipe yang cantik, mungkin itu karena aku suka tersenyum dan tidak membuat banyak keributan, tapi sebelum membuka maskerku aku bahkan tidak di toleh oleh siapapun kecuali si sawo matang.
Aku bahkan tidak tau apakah aku benar-benar menyukainya, itu semua bermula dari teman belajar, menjadi teman bercanda dan semakin baik lagi, si sawo matang tipe yang friendly jadi banyak perempuan disisinya, sedangkan kepala bulat itu tipe yang misterius dia adalah tipe yang akan menghampiri ku ketika butuh sesuatu.
Minta dipijat kepala, kaki, atau bahkan punggung, termasuk ketika mencontek tugas yang diberikan guru, namun kami pernah sibuk sendiri karena berselisih faham dengan apa yang dijelaskan guru di depan, sehingga kami di tegur dan salah satu dari kami harus menjelaskan, jadi aku menyuruhnya untuk maju mendengarkan penjelasannya guru kembali menjelaskan apa yang kami perdebatan.
Namun sebelum guru menjelaskan aku dengan si sawo matang bahkan sudah menemukan teori dibalik soal itu dengan cara kami, dan kami bahkan tos ketika menemukan teori itu, dan ketika kepala bulat kembali ketempat duduknya aku mengatakan jika kami sudah tau itu sejak awal.
Sebenarnya aku bingung siapa di antara mereka yang ku sukai, jadi aku hanya menjalaninya saja, ketika sedang belajar aku bertanya kepada sawo natang bagaimana mendapatkan nilai dari salah satu soal kimia, namun dia terus fokus dengan bukunya dan terus mengerjakan tugasnya sembari menjawab "Tunggu sebentar kau tidak akan mengerti" dalam benakku berkata "tidak akan mengerti? Aku pikir aku tidak sebodoh itu!"
Namun hal yang menakjubkan terjadi ketika dia menyelesaikan tugasnya, dia berdiri di sebelahku, tangan kirinya memegang sandaran kursi ku dan tangan kanannya menulis cara menemukan niali yang ku cari, saat itu kalian mungkin berfikir jika jantung ku berdebar dan menjadi salah tingkah, namun itu tidak pernah terjadi, yang sebenarnya terjadi "aah ini yang tidak akan aku mengerti?!" Ternyata cara menemukannya sangat sederhana lalu kenapa dia berkata demikian, wah saat itu rasanya sangat direndahkan.
Setelah mengajariku dia langsung keluar untuk makan siang, namun setelah dia pergi aku baru berfikir "sebentar yang baru saja ku alami seperti dalam seri drama Korea, wah itu menakjubkan", jika dibilang bodoh ya mungkin memang demikian aku tidak mengerti sama sekali tentang cinta dan tidak tertarik tentang itu, bukan tidak tertarik hanya saja itu belum terfikir olehku.
Pernah satu ketika jam kosong kepala bulat tidur di tempat duduknya, sedangkan aku, sawo matang dan dukun santet (seorang teman yang duduk di belakang sawo matang, mereka selalu bercanda jika akan saling santet, dan dia adalah teman perempuanku di sisi itu), saat itu sedang populer drama zombie, sawo matang berkata "Jika aku jadi zombie, aku akan menggigit dukun santet untuk yang pertama, sedangkan teman sebangku (aku) aku tidak akan mengigitmu karena kamu baik", sontak hal itu membuat ku tertawa karena ekspresi nya sangat menggemaskan.
Aku dan sawo matang sering makan siang bersama dengan bekal makan siangku, caranya makan membuat ku selalu tertawa, dia menyukai nasi goreng dan tidak menyukai nasi putih ketika berada di sekolah.
Di satu kesempatan aku berfikir jika aku meyukai kepala bulat dan memaksakan diri untuk berdebar, setiap dia lewat aku akan fokus pada jantungku apakah itu berdebar atau tidak, namun itu tidak terjadi.
Bisa dibilang aku aneh bahkan hingga kelas XII kami bertiga masih berada di kelas yang sama namun sekarang menjadi A4, Di kelas ini semuanya mulai berubah awalnya masih seperti biasanya namun makin jauh ketika di makan waktu, bukan patah hati namun aku kecewa, saat kenaikan kelas XII sawo matang mengajakku main taruhan nilai MTK siapa yang paling besar dia yang menang, dan sipa yang kalah dia harus bandar mie ayam, aku menang namun dia tidak menepati janji yang dia buat. Namun aku tidak terlalu menghiraukannya, karena pikirku itu hanya candaan saja.
Sebelum semuanya berakhir dia pernah mengatakan kepada ku didepan beberapa orang jika aku akan menjadi teman seumur hidup, itu bercanda namun dari ekspresi nya aku pernah berfikir itu nyata, aku saat itu ingin menjawab jika kami menikah saja jika menjadi teman seumur hidup namun kata-kata itu tidak keluar dari mulutku, melainkan hanya bisa tersenyum menatapnya sejenak, pria yang berjalan mundur dan melihat ke arahku itu sedang tersenyum.
Namun setelah beberapa bulan semuanya mulai usang, dia mulai menjauh tanpa sebab yang jelas namun itu tidak membuatku terlalu syok, itulah jalan hidup bahagianya tidak selalu dapat dirasakan seumur hidup pasti ada duka dan rintangan, sejak dia menjauh dia lebih mudah kesal dan menggerutu, begitulah akhir dari kisahku
*Jangan terlalu di pikirkan ini cuma fiksi yang berjalan tanpa alur yang jelas
TEMAN SEBANGKU