BUS HANTU ATAU HANTU BUS?
Pukul 17:30. Aku berlari mengejar bus yang sudah melaju. Nafasku tersengal, kakiku rasanya sangat pegal dan aku kelelahan setelah bekerja seharian, sekarang aku harus berlari mengejar bus. Sungguh melelahkan!
"Pak, hentikan bus-nya!" Aku berteriak, tapi bus tak berhenti juga. Hei, apa supir busnya budeg?!
Aku berteriak memanggil bus itu sambil berlari. Setelah melewati perjuangan yang melelahkan, akhirnya aku bisa masuk ke dalam bus.
Aku menatap sinis supir bus itu. Aku yakin ia sengaja tetap melajukan busnya walaupun ia mendengar aku berteriak dan berlari mengejar bus.
Supir itu terus menatapku beberapa saat, setelah itu dia berpaling dan melajukan bus-nya lagi. Aku yakin ia menatapku karena kesal, bukan karena terpana dengan diriku. Siapa juga yang akan menyukai wanita gendut dan jelek sepertiku. Menyebalkan!
Bus terlihat penuh, terbukti dengan setiap kursi yang sudah terisi. Beruntungnya masih ada dua kursi kosong. Aku segera duduk di sana.
Setengah jam perjalanan tiba-tiba bus berhenti. Seorang pria kantoran masuk bus dan duduk di sebelahku. Dari wajahnya ia terlihat kelelahan. Ia hanya menatapku sekilas kemudian membuang muka. Dasar sombong!
Bus berjalan lagi. Langit mulai gelap. Suasana bus terasa sunyi walau terisi banyak orang. Ah, baguslah. Setidaknya aku bisa tidur dengan nyenyak.
Entah baru berapa lama aku memejamkan mata. Tiba-tiba aku terbangun karena suara jeritan pria yang begitu keras dan terasa dekat. Ternyata pria di sebelahku menjerit histeris melihat ke arahku. Hei, apa wajahku semenyeramkan itu sampai kau menjerit?!
Aku saling pandang dengan penumpang lain. Saling menatap bingung dengan tingkah pria ini. Ia seperti melihat setan saja.
Tiba-tiba ia berdiri dan hendak berlari, namun sayangnya ia jatuh tersungkur. hahaha, rasakan akibatnya! Tapi aku merasa iba dengannya, aku memutuskan mendekatinya bersama beberapa penumpang lain untuk membantunya berdiri. Sedangkan sisanya hanya diam, ada juga yang terlihat ketakutan karena tingkah pria itu.
"Pergi! Pergi kalian! Pergi, jangan ganggu aku!" Pria itu berteriak. Hei, apa dia pasien RSJ yang kabur? Tingkahnya semakin aneh membuat kami semua bingung. Kan kami hanya ingin membantu.
Pria itu terlihat ketakutan, wajahnya pucat dengan keringat dingin, tubuhnya juga bergetar dan mulutnya terus bergumam kata 'Pergi kalian!'
Tiba-tiba bus oleng dan berhenti. Karena hal itu aku terjatuh menimpa pria itu. Tapi, pria itu membulatkan matanya dan bertambah berteriak histeris seperti melihat setan. Pria itu mendorongku dan berlari keluar.
Samar terdengar suara azan di kejauhan. Aku mengusap bokongku yang sakit akibat di dorong pria gila itu. Tapi ... Aku merasa tanganku panas dan perih! Aku buru-buru melihat tanganku. Tanganku ... Melepuh dan terkelupas.
Rasa panas itu merambat dari tangan menyebar ke seluruh tubuhku. Aku lihat tubuhku juga melepuh, terkelupas dan meleleh, kemudian terbakar dan menjadi gosong! Bagaimana mungkin?! Apa sebabnya?
Aku menjerit histeris sama seperti pria tadi. Aku melihat sekeliling. Astaga! Penumpang lainnya juga mengalami hal yang sama. Hei, tubuh mereka juga terbakar dan gosong! Bahkan ada yang sudah tidak utuh lagi. Tapi anehnya ... mereka masih hidup ... aku ... juga masih hidup. Aneh, bukankah dalam keadaan seperti ini kami seharusnya sudah mati?
Ah, aku baru ingat ... Aku bukannya masih hidup ... Penumpang yang lain juga bukan hidup. Tapi Mati! Beberapa hari yang lalu ... Aku mati! Di sini, di bus ini ... Bersama penumpang lainnya. Saat itu aku sedang tertidur sampai akhirnya kami mati akibat bus oleng dan jatuh ke jurang, kemudian ... meledak dan terbakar.
Ah, jangan jangan pria tadi tidak gila. Ia memang benar melihat setan, yaitu kami setannya. Kasian sekali dia menaiki bus hantu dan ternyata akulah hantunya. Pantas ia menjerit saat melihat wajahku. Ah, kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Kenapa kami seperti tidak mengingat jika kami sudah tiada tadi?
****Keesokan harinya Pukul 17:30.
"Mama lihat apa?" Tanya seorang anak kecil usia 4 tahun kepada ibunya. Mereka sedang duduk menunggu bus.
"Berita kecelakaan, nak. Banyak sekali korbannya. Mereka tiada semua" Jawab si ibu.
Si anak kecil mencuri pandang ke handphone ibunya yang berisi berita bus jatuh ke jurang dan terbakar. Ia melihat foto salah satu korban bus itu. Wanita usia tiga puluhan bertubuh gemuk. Si anak kecil menoleh ke wanita yang berlari melewatinya tadi.
"Ma, berita itu bohong. Buktinya Tante itu masih hidup. Bus nya juga masih ada" Ucap anak kecil itu menunjuk ke arah seorang wanita yang mengejar bus. Ibunya terkejut dan segera melihat ke arah yang anaknya maksud. Namun, kosong, ia tidak melihat apapun.