Hujan di Bulan Desember selalu memiliki ciri khasnya yang lebih spesial dari yang lain. Awan kelabu akan membentuk menyerupai hamparan perak yang luar biasa. Tidak menampik tentang keraguan lagi, perihal betapa hebat ciptaan-Nya.
Aku bergeming dalam riuhnya hujan, suara mesin menderu dari berbagai kendaraan beroda seolah tak membuatku goyah untuk terus berdiri disana. Aku memandang lembayung senja yang pekat, tak ada gurat senyum mentari yang biasanya menyapa di ufuk Barat.
Hanya kelabu. Seperti hatiku yang kini menggundah. Perasaan bagaikan biaya variabel dalam sistem perhitungan. Ia berubah-ubah, tidak menetap, dan bisa berlabuh kapan saja. Bagaikan kapal yang menampung banyak awak, perasaanku seolah tak sabar ingin berlabuh di luasnya samudera biru. Namun tertahan oleh satu penumpang yang tak kunjung datang.
Ketika angin berhembus, payung yang ku kenakan sedikit tersapu angin. Rintik hujan ikut mengecup mesra wajahku, membuatku sedikit berkedip namun tak meruntuhkan goyahku untuk tetap bergeming di tempat.
Manikku menelisik, ada berbagai macam manusia yang berasumsi bahwa setiap orang memiliki tempat untuk pulang. Sejauh aku , sebagian dari mereka nyatanya tak memiliki tempat satu pun di dunia ini. Termasuk diriku.
Sore itu, uap panas dari kopi di dalam mug di genggamanku menggupul, wanginya menyerebak ke seluruh penjuru kamar. Seseorang selain diriku terbangun dari lelapnya kemudian mengulas simpul yang menawan.
“Aku membuatmu terbangun?”
Ia mengangguk dan memilih mendekat, tubuh mungilnya terbalut pakaian tipis ketika ia mendudukkan diri tepat disampingku. Ia bertanya, “Kau mengkonsumsi kopi lebih dari sekali dalam sehari, bahkan di musim panas?”
Aku hanya mengangguk, sedikit tidak mengerti dengan diriku yang seolah kehilangan indra pengecap beberapa tahun terakhir. Panas dan dingin, asin dan manis, pekat dan pahit, rasanya tidak ada lagi artinya.
Gadis itu merebut kopi dari genggamanku, kemudian meneguknya sedikit dan wajahnya berubah aneh setelah itu. Dengan cepat ia menaruh mug tadi diatas meja, ia menatapku aneh dan berseru; “Kau membuatnya dengan sekilo gula? Bahkan kau menambahkan susu, iya ‘kan?!”
“Rasanya terlalu manis dan aku ingin muntah,” lanjutnya. Gadis ini unik, dia selalu membenci hal manis tapi tidak sadar kalau wajahnya bahkan lebih manis jika di bandingkan dengan sekarung gula asli. Aku berani bertaruh akan hal itu.
Postur tubuhnya yang mungil, bibirnya yang semerah delima walau tak pernah di poles lipstick, atau kulitnya yang putih berseri di padu dengan dua mata bulat yang irisya berwarna hijau alami. Perpaduan indah dari pahatan sempurna Sang Maha Pencipta.
Dan dia satu-satunya orang yang dengan rela menampungku. Setiap kali aku lelah, dialah satu-satunya tujuanku untuk pulang, bisakah ku simpiulkan ia sebagai sebuah rumah?
Pertama kali kami bertemu adalah ketika aku masihu menginjak bangku kuliah, kami bertemu disebuah pantai dan berkenalan singkat. Ia mengajakku untuk makan siang bersama dengan ditemani dua orang teman wanitanya.
Ia mengaku kalau aku mirip dengan adiknya yang sudah lama meninggal, awalnya aku merasa risih, namun ia menjelaskan tidak ada maksud untuk menyamakanku dengan orang yang sudah meninggal. Hanya saja, ia seperti memahami sikapku yang pendiam dan seolah memiliki segudang masalah yang dipendam sendiri.
Setelah itu kami menjadi akrab, ia sering mengunjungiku di rumah, hingga di tahun kedua kami saling mengenal, kami memilih tinggal bersama dan berpacaran. Tak ada hubungan intim ataupun obrolan romantis yang terjalin, dia lebih banyak bertindak dan memulai sebuah obrolan dibandingkan diriku yang tidak terlalu mengerti dengan perasaanku sendiri.
Mungkin karena itulah dia menjadi lelah. Ia merasa bahwa hanya dialah yang berjuang sendirian.
“Apa kau benar mencintaiku?”
Aku mengangguk
“Kau tidak pernah mau menciumku.”
“Aku menghargaimu, hubungan kita terlalu singkat untuk melakukan hal seintim itu. Lagipula apa kau tidak merasa jijik harus bertukar ludah seperti itu?”
Ia terkekeh renyah dan menyelipkan rambutnya. Satu cup eskrim mini hanya berakhir teraduk berantakan tanpa dinikmati, ketika ia berdiri dan meraih tas selempangnya, aku menatapnya dengan alis yang naik sebelah.
“Aku menginap dirumah Vina hari ini, dan kita mungkin harus membahas hubungan seperti apa yang kita jalani besok.”
Ketika di berbalik menjauh, aku tidak tahu bahwa seorang pria harusnya menahan gadisnya dengan cara menarik lengan gadis itu dan memeluknya kemudian meminta maaf dengan sebuah kecupan mesra di bibir. Ku fikir, kita tidak harus berciuman untuk membuktikan bahwa cinta yang kita rasakan tulus, bukan? Haruskah dengan merusak seorang gadis, baru bisa dikatakan itu adalah bukti cinta?
Ketika ia terus meminta untuk bertemu, aku menolak. Ia tidak pernah lagi pulang ke rumah, bahkan hingga tiga bulan berlalu. Mungkin ia jengah, atau mungkin saja aku yang takut dengan kemungkinan yang akan terjadi dalam hubungan asmaraku. Aku mencintainya, namun caraku tidak seperti cara pria yang dia harapkan.
Di bulan keempat kami marahan, aku pulang dengan perasaan marah ketika menemukan dia malah berdua bersama dengan seorang pria asing didalam kamarku sendiri. Ada sesuatu yang menyayat hatiku ketika melihat pakaian pria itu melekat apik di tubuhnya yang mungil, wajahnya memerah dan bibir tipis itu tampak gelisah ketika melihatku.
Tanpa sadar, malam itu aku menjadi seorang monster yang menghajar habis-habisan selingkuhan kekasihku. Namun aku masih memiliki sedikit kewarasan untuk tidak menghancurkan rumahku sendiri. Ia menangis di pojok kamar setelah ambulans pergi dan aku memilih balkon sebagai pelipur lara.
Tak ada kata maaf yang terucap seperti yang ku harapkan, yang ia katakan adalah kalimat yang selama berbulan-bulan ini aku takuti keluar dari mulutnya.
“Kita akhiri hubungan ini, aku lelah. Aku tidak merasa nyaman lagi dengan hubungan yang kita jalin! Aku hanya berjuang sendiri!”
“SETELAH YANG KAU LAKUKAN PADAKU, KAU BERANI MENGATAKAN HAL ITU?!”
Langit bergemuruh, tidak lama kemudian hujan turun dengan begitu lebat. Mengapa bisa semenyedihkan ini? Haruskah berakhir dengan aku yang terluka? Apa aku salah dengan menghargainya sebagai hal yang ingin ku jaga dengan baik?
“Pergilah. Pergilah jika kau ingin pergi, sejak awal kita tidak seharusnya bersama.”
“Maafkan aku, aku tidak selugu yang seperti kau kira. Aku juga butuh sebuah tindakan.”
“Dengan memberi kehormatanmu dengan seorang pria bejat seperti dia?”
Aku tertawa ketika ia terkejut dengan ucapanku barusan, namun aku tidak menertawakannya. Yang aku tertawakan adalah diriku sendiri yang nyataya terlampau mencintai dia, bahkan semunafik itu aku memintanya untuk pergi. Dan dia pergi tanpa membawa perasaan cintaku bersamanya.
Desember, tepat di malam tahun baru, aku kehilangan rumah.
Klackson mobil membuyarkan lamunan masa laluku, aku melebarkan langkah untuk menyebrangi jalan. Kepalaku tiba-tiba terasa pening dan hujan mulai mereda. Mungkin aku terlalu larut dalam kelamnya kisah masa lalu yang menyayat hati, sampai tidak sadar aku berjalan dengan fikiran kosong.
Hujan mungkin mereda, namun ia tidak membawa serta kekuatan untuk melunturkan sebuah perasaan yang tidak terjamah oleh waktu. Sepuluh tahun berlalu dari tragedi hubungan asmaraku, namun aku tetap tidak bisa menemukan rumah baru untuk berpulang sebab perasaan yang terus bertahan hingga hari ini.
Sialnya, aku tidak menampik rasa yang terus aku simpan.