"Ini rumahnya?" tanya Hani yang hari ini aku ajak berkunjung ke rumah salah satu murid lesku yang sudah seminggu ini absen masuk karena sakit.
Aku mengangguk yakin, karena sebelumnya sudah saling chat dengan orangtua murid ku itu mengenai alamat rumahnya. Aku dan murid ku yang bernama Stevy sangat dekat sekali. Kedekatan kami hampir mirip ibu dan anak. Hingga aku nekat menjenguk Stevy ke rumahnya hari ini. Rasanya kepikiran dan juga kangen sudah seminggu ini tidak bertemu Stevy.
Ku tekan bel rumah yang terpasang di pagar tinggi rumah Stevy. Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya keluar menyapa kami.
"Permisi, benar ini rumahnya Stevy?" tanyaku.
"Benar. Mari masuk." Ternyata ibu paruh baya itu adalah neneknya Stevy.
Neneknya Stevy mempersilahkan kami masuk ke rumahnya. Sebelum aku benar-benar masuk, terdengar gelak tawa beberapa orang dari dalam rumah itu. Bisa jadi sedang ada tamu lain menurutku.
"Loh, Naya?"
Aku tercekat di ambang pintu begitu seseorang yang juga bertamu ke rumah ini menyapaku.
"Loh, ibu Naya, mari masuk, Bu." Maminya Stevy menyambut senang, lalu membimbingku dan Hani masuk, kemudian kami duduk bersama di ruang tamu.
"Gimana kabarnya, Nay? Lama nggak ketemu," sapa seorang lelaki padaku.
Aku merespon hanya dengan tersenyum tipis. Sumpah! Tiba-tiba peluh dingin ku seperti bercucuran. Rasa gugup itu menguasaiku, setelah empat tahun lebih lamanya aku tidak pernah bertemu lagi dengan Theo, sosok mantan pacar yang masuk list sulit terlupakan saat itu.
"Ibu Naya kenal Theo?" Papinya Stevy ikut bertanya.
Aku mengangguk pelan. Ku lirik Hani. Dia menatapku keheranan. Mungkin dia curiga kenapa aku tiba-tiba pendiam begini. Padahal sebelum masuk tadi masih mengoceh banyak mirip burung kelaparan.
"Kita pernah satu kampus dulu," sahut Theo.
Aaah... Semoga mulut Theo tidak keceplosan menyebut kita pernah ada ikatan.
"Oalaaah... Kebetulan kalau begitu." Papinya Stevy kembali bersuara. Lalu ia menjelaskan jika ia dan Theo masih ada ikatan saudara.
Asem! Batinku mengumpat. Kenapa dunia sesempit ini????
"Kamu sekarang jadi guru, Nay?" tanya Theo padaku.
Aku mengangguk saja. Dan Theo hanya tersenyum. Ah, senyuman yang dulu berhasil memikatku dengan pesonanya. Astaga! Sadarlah diriku!
Lalu aku sampaikan tujuanku datang ke sini, yaitu ingin menjenguk Stevy. Kedua orang tua Stevy mengantarku ke kamar Stevy. Di dalam kamar Stevy rupanya juga ada dua bocil laki-laki yang ku tebak mereka kembar.
"Mereka adiknya Stevy?" tanyaku pada maminya Stevy.
"Bukan. Mereka anaknya Theo."
What! Theo memiliki anak kembar dan lihatlah... Senyum mereka kenapa mirip sekali dengan Theo.
"Ibu Naya..." Stevy yang baru keluar dari kamar mandi memekik kegirangan melihat kedatangan ku.
Kami berdua saling berpelukan. Menanyakan bagaimana kabarnya. Dan banyak lagi percakapan yang kita bahas dengan Stevy.
Hingga tak terasa kedatangan ku ke rumah ini sudah cukup lama. Aku memilih segera pamit karena tidak ingin Stevy melewatkan istirahatnya karena kedatangan ku.
Bergantian aku dan Hani bersalaman dengan kedua orang tua Stevy, dan juga-- Theo.
Dalam sejenak tautan tangan kami saling berpegangan. Sama-sama tak ada yang mau melepas. Dan seketika kenangan manis itu kembali melintas dibenakku.
Empat tahun yang lalu...
Mmmmpph...
Aku memberontak. Ku pukul dada Theo karena sudah membuatku kehabisan nafas karena ciumannya. Tetapi Theo malah tersenyum senang melihat wajah manyun ku.
"Jangan sok ngambek. Barusan aja kamu menikmatinya," Theo berucap sambil menahan tanganku yang tak mau berhenti memukuli dada Theo.
"Kamu brutal sekali. Bibirku rasanya dower," Aku menyentuh bibirku yang terasa hangat dan basah karena saliva kami.
"Mana, coba aku lihat." Dan Theo menyentuh bibirku, tetapi aku lagi-lagi kecolongan modusnya. Kami kembali berciuman. Ciuman yang sudah berubah lembut dan memabukkan.
"Manis, Nay," Ucapnya setelah kita puas saling bercumbu.
Jemarinya mengusap bersih sisa saliva yang menempel di sekitar bibirku. Aku tak mau kalah romantis. Ku belai pipinya dengan lembut. Theo meraih tanganku, dan ia mengecup telapak tanganku cukup lama.
"Aku sayang kamu, Nay," Ungkapnya yang sudah entah ke berapa kalinya ku dengar.
"Mee too."
Sekilas Theo mengecup keningku. Lalu merengkuh tubuhku dalam pelukannya. Kita saling berpelukan dengan erat. Sudah tidak peduli dimana kita berada sekarang. Gedung kosong ini sudah menjadi saksi bisu tiap kali kita membuat janji temu. Bagaimana besarnya rasa cinta kami berdua.
"Tiga minggu lagi aku menikah, Nay," Kata Theo masih sambil memelukku. Suaranya terdengar gemetar saat mengungkapkannya.
Aku tidak kaget mendengar Theo akan menikah, karena aku sudah tahu jika Theo sudah punya tunangan sebelum kita resmi pacaran. Begitupun aku. Aku juga sudah memiliki tunangan. Aku dan Theo sama-sama bernasib menerima perjodohan yang tak diinginkan. Tetapi untuk menolak perjodohan itu seperti memakan simalakama. Sama-sama berdampak buruk dengan martabat keluarga. Tetapi harus mengorbankan hati dan perasaan kami yang sama-sama tidak mencintai tunangan kita.
"Ooh... Selamat kalau gitu," Ucapku pura-pura tegar. Padahal dalam hati sudah bergemuruh hebat. Sesak!
Kami saling melepas pelukan. Sudut mata Theo nampak mengembun, seperti ingin menangis tapi masih ditahan. Aku yang melihatnya jadi langsung mewek. Dan akhirnya aku yang menangis.
Jika Theo menikah, siapa lagi yang akan menghiburku? Siapa lagi yang akan datang menemani kesedihanku?Aku tidak mungkin merebut Theo jika sudah resmi menjadi suami orang. Meski hati ini tidak rela berpisah dengannya. Cukup sudah kita menjadi pasangan edan. Sama-sama menyelingkuhi tunangan.
"Jangan menangis, Nay." Theo mengusap linangan air mataku. Tetapi dia juga ikut menangis.
"Kenapa hidup kita seperti ini, Theo? Kenapa kita dipertemukan ketika kita sudah memiliki tunangan. Harusnya kita sama-sama berjuang. Kenapa kita tidak bisa?"
Tangisku semakin menjadi. Theo kembali memelukku. Kita sama-sama menangis. Sama-sama tidak bisa memberi alasan kenapa kita terlalu pengecut. Keluarga adalah rumah tempat kembali. Dan itulah alasan kuat kami, untuk menyerah dengan keadaan yang memilukan hati.
"Nay, aku harap, jika suatu saat kita bertemu lagi, kita tetap saling menyapa. Aku tidak mau kehilangan Naya yang pernah aku kenal. Naya yang humble, yang selalu tersenyum dengan siapapun," Ucapnya setelah airmata kami habis terkuras.
"Apakah kita masih akan dipertemukan lagi?" Aku ragu. Tetapi aku juga tidak yakin hatiku akan siap jika suatu saat kita tidak sengaja bertemu lagi.
Theo mengangguk.
"Kenapa kamu mau menikahinya kalau kamu tidak mencintainya?" Aku kembali emosional. Ku pukul dadanya berulang-ulang. Aku sudah tidak peduli reaksi Theo bagaimana. Karena aku sudah tidak sanggup menatapnya lagi. Aku takut, aku akan semakin sulit melupakannya.
Tetapi bukanlah Theo jika ia tidak bisa meredakan emosiku. Ciumannya kembali mendarat di bibirku. Kami kembali berciuman. Ciuman yang begitu lama. Sebagai ciuman terakhir kita.
***
"Ehem!" Dehaman papinya Stevy membuyarkan lamunan kami.
Refleks aku dan Theo melepaskan tangan kami yang masih saling bersalaman. Ku lihat senyum aneh dari papinya Stevy. Jangan-jangan dia sudah tahu kalau aku dan Theo--
Aaah... Tidak! Aku harus segera pergi. Malu parah!
Akhirnya aku dan Hani keluar dari rumah Stevy.
"Aku mencium gelagat tidak beres antara kamu dan orang itu." Hani tiba-tiba menegurku saat kita sudah pergi dengan motor yang ku bawa.
Aku diam saja. Tidak mungkin juga ku buka kisah itu. Kisah yang kembali terkenang, setelah pertemuan yang tidak pernah terduga sebelumnya.
Seandainya diantara aku dan Theo tidak pernah ada cerita hot, mungkin pertemuan kami akan lebih rileks dan pastinya seru. Saling bersay hallo tanpa ada rasa canggung. Tetapi sayangnya, ciuman darinya masih terasa nyata. Padahal hanya saling tatap mata.
Judul: Bertemu Mantan
By: MAY.s