What's my fault?
Uby, gadis kecil berusia 6 tahun. Manis dan cantik, namun kehidupannya tak semanis wajahnya. Uby tinggal bersama sang Ibu sedangkan Ayahnya pergi bersama perempuan lain. Semenjak perpisahan itu kehidupan Uby dengan Ibunya serba kekurangan.
Ayahnya di sana akan segera melangsungkan pernikahan, dia sudah tak peduli lagi kepada anaknya. Memberi uang pun dirinya tak pernah, karena selalu dilarang oleh calon istrinya.
Hari hari mereka jalani dengan tabah dan sabar. Sang Ibu selalu berkata pada Uby untuk tidak membenci Ayahnya. Suatu hari, mantan suaminya datang bersama istrinya. Mereka meminta Uby agar ikut dengannya, akan tetapi permintaan itu ditolak mentah mentah.
“Apa selama ini kamu peduli terhadap kami? Aku nggak akan membiarkan kalian berdua membawa anakku.”
“Dia juga anak Mas Andra, harusnya kamu bersyukur karena gadis kecil itu akan ikut dengan kami, jadi beban kamu akan berkurang,” ujar si wanita.
“Uby bukanlah beban bagiku, dia anakku!”
“Sudahlah menurut saja, coba kamu lihat bagaimana keadaan ekonomi dan rumahmu? Aku masih baik mengizinkan Mas Andra membawa anakmu.”
“Tidak! Aku bilang tidak, lebih baik kalian berdua pergi.”
“Dasar keras kepala.” Andra pun pergi meninggalkan Lani. Uby yang baru pulang bermain melihat sang Ayah, awalnya dia ingin memanggil tapi melihat Ibunya yang menangis dia urungkan. Gadis itu mendekat lalu memeluk sang Ibu.
“Apa Ayah memarahi Ibu?” tanyanya dengan polos.
“Nggak sayang.”
“Ibu jangan nangis,” ucapnya sambil mengusap air mata yang mengalir dipipi Ibunya. Ditempat lain, orang tua Andra bertanya mengapa cucunya itu tidak ikut pulang bersama. Andra hanya menghela napasnya dengan kasar dan menjelaskan jika Uby dilarang ikut oleh mantan istrinya.
“Nara, kapan kamu akan mempunyai anak?”
“Lagi dan lagi itu yang ditanya,” batin Nara.
“Sabar saja Bu, kita menikah juga belum lama,” jawab Andra.
“Kalo Ibu lihat lihat sih istri kamu itu tidak akan mempunyai anak, gayanya saja seperti itu,” sindir sang Ibu.
Mertuanya pergi, Nara mengomel kepada Andra. Dia sudah muak dengan omongan Ibunya itu. Saat akan masuk kamar, Nina anak dari adik suaminya itu meminta untuk ditemani bermain.
-----
1 tahun berlalu, kini Andra dan Nara datang kembali kerumah Lani untuk menjemput Uby. Kali ini mereka berdua tidak peduli akan penolakan Lani. Uby akan dibawa oleh mereka sembari memberikan ancaman.
“Tapi tolong jangan melarang anakku untuk bermain kesini,” ujar Lani menahan air matanya.
“Tenang saja kita berdua tidak akan melarang anakmu untuk bermain kesini, oh iya. Cobalah mencari suami agar hidupmu tidak terlalu menderita, Lani.”
Lani hanya diam tak menggubris perkataan Nara. Uby benar-benar dibawa oleh Ayahnya, dia hanya memandang kepergian mereka bertiga sembari menangis.
Sesampainya dirumah Andra, Uby disambut baik oleh Dina, neneknya.
“Mulai hari ini dan seterusnya kamu akan tinggal dan sekolah di sini.”
“Lalu Ibu?” tanya Uby.
“Ibu kamu akan baik di sana, jangan pikirkan dia.”
“Aku mau pulang, kasian Ibu sendirian di sana,” ujarnya.
“Tenanglah, lihat di sana ada Nina. Dia adik sepupu kamu, kalian berdua akan selalu bersama. Sana pergi kenalan dengannya.” Uby melihat ke arah yang ditunjukkan neneknya. Terlihat seorang gadis kecil sedang bermain sendirian.
“Ayo kesini,” panggil Nina.
Uby terdiam, dia tetap ingin pulang ke rumahnya. “Andra bawa anakmu kedalam. Beri dia makan,” titah sang Ibu.
Malam harinya, semua orang sudah tidur. Uby menangis sendirian, gadis itu ingin bertemu dengan Ibunya.
Keesokan pagi, Nara membangunkan Uby untuk pergi kesekolah. Gadis tersebut hanya diam dan mengangguk saja, tidak berkata-kata.
“Belajar lah yang rajin, jangan membuat masalah,” ujar Nara. Setelah berkata seperti itu, dia pergi meninggalkan Uby. Hari pertama sekolah cukup baik baginya.
Saat waktunya pulang, semua murid dijemput oleh orang tuanya masing-masing. Hanya Uby sendirian tidak ada yang menjemput. Dia berjalan seorang diri menuju rumah. Langkahnya terhenti disebuah toko, nampak boneka Teddy bear mengalihkan perhatiannya.
“Mau beli apa dek?”
“Nggak,” jawab Uby lalu melanjutkan langkahnya pulang.
Tak lama dirinya sampai dirumah. Uby melihat paman dan bibinya sedang menemani Nina bermain. Gadis didepannya terlihat bahagia, apalagi Nina memiliki banyak mainan.
“Sudah pulang? Sana ganti pakaian lalu makan,” ucap sang nenek.
“Iya.”
Di meja makan, Uby terdiam karena mengingat sang Ibu. Dia berpikir apakah Ibunya sudah makan atau belum? Lalu datanglah Nara menegur membuat Uby terkejut.
“Cepat makan, jangan banyak diam. Nikmati apa yang ada didepan setelah itu bantu aku merapihkan baju.”
“Baik.”
“Merepotkan saja,” ucap Nara.
Selesai makan Uby menghampiri Nara. Membantu merapihkan pakaian yang sangat berantakan. Setelah semua selesai, dia pergi untuk belajar.
“Wah tulisan kamu cukup rapih juga, mau Bibi bantu mengerjakan tugasnya?”
“Makasih Bi, tolong bantu aku mengerjakan soal ini.”
“Baiklah.”
Tempat lain Lani sedang melamun, memikirkan nasib anaknya di tempat Andra. Dia takut jika Uby tidak diperlakukan baik oleh keluarga mantan suaminya.
Hari demi hari, bulan berganti tahun. Uby sudah berusia 12 tahun. Dia tumbuh menjadi anak yang pintar, dan sudah tak tinggal dengan Ayahnya. Kini Uby bersama sang nenek. Tinggal di sana cukup baik daripada tinggal serumah dengan Ayah dan Ibu tirinya. Walau sang nenek selalu pilih kasih terhadapnya. Adik sepupunya yang sudah berusia 11 tahun selalu mendapatkan apa yang dia mau dari sang nenek, ayah atau Ibu. Berbeda dengan Uby.
Sudah begitu lama, Lani merindukan putrinya. Ucapan Nara dahulu ternyata hanyalah omong kosong. Dia tak mengizinkan Uby untuk bermain kerumah Ibunya. Bahkan saat Lani mengundang ke pernikahannya, tak ada satu pun keluarga Andra yang datang. Kini dia sudah memiliki anak lagi, satu laki-laki dan satu perempuan.
Suaminya yang sekarang selalu memberikan nafkah walau kadang suka memukul dirinya. Namun Lani tetap bertahan demi anak-anaknya yang masih kecil. Suatu saat, Lani datang ke sekolah Uby. Dia duduk didepan gerbang menunggu anaknya pulang sekolah. Uby yang waktu itu sudah kelas 6 SD melihat Ibunya yang kepanasan merasa kasian, dia berlari menuju sang Ibu dan langsung memeluknya.
“Ibu, aku kangen. Kenapa Ibu nggak jemput Uby pulang?” ujarnya sembari menangis. Baru saja merasakan kembali pelukan itu, datang Nara memisahkan mereka berdua. Dia menarik tangan Uby dan mengajaknya pergi. Lani tak dapat berbuat apa-apa, dia hanya memandang anaknya pergi bersama Nara.
“Kenapa Uby? Kamu mencubitnya lagi?” tanya Dina sang nenek.
“Jangan menuduh, tadi Lani datang kesekolah menemui dia.”
“Biarkan saja, lagipula sudah lama mereka tidak bertemu karena di larang olehmu.”
“Berdebat dengan Ibu tidak akan pernah selesai. Aku melakukan itu demi kebaikan anak ini, Ibu juga dahulu melarangnya. Kenapa sekarang mengizinkan dia bertemu dengan Ibunya.”
“Aku tidak ingin jika nanti anak ini menyesal. Bermain sesekali tidak masalah,” ujarnya.
“Terserah Ibu.”
Didalam kamar Uby menangis. Dia masih ingin bersama Ibunya, Tata yang kebetulan datang dan melihat itu menghampirinya dan menghibur Uby. “Nanti minta temanilah pada Nina untuk bertemu Ibumu.”
“Bibi nggak akan marah kalo aku bertemu Ibu?”
“Nggak, Bibi juga tidak akan bilang pada nenek atau mbak Nara. Nanti kalian perginya diam diam, jika mereka tanya bilang saja mau bermain di lapangan.”
“Baik Bi, terima kasih.”
Keesokan harinya kebetulan libur sekolah. Uby dan Nina sudah siap untuk pergi kerumah Lani. Sesampainya di sana, sudah banyak sekali perubahan dari rumahnya.
“Mah kakak datang,” teriak Fajar.
Lani keluar, dan melihat kedatangan Uby. Air mata mengalir di pipi, sudah sangat lama dirinya menahan rindu pada putrinya itu. Lalu keluarlah seorang lelaki yang tak lain suami Lani, ayah tiri Uby. Lelaki itu sangat berbanding dari Nara, dia baik dan menyambut Uby dengan ramah.
“Ayo masuk.”
Uby mencium punggung tangan Ayah tirinya. Terlihat jelas betapa sayangnya Lani kepada Uby, dia bahkan memperlakukan anaknya itu bak seorang putri. Berbagai pertanyaan dia tanyakan kepada anaknya, mulai sekolah dan keadaan rumah di sana.
“Aku baik kok Bu, mereka sayang sama aku apalagi Bibi Tata.”
“Baguslah. Ini pasti anak Bibi mu ya? Siapa namanya?”
“Aku Nina,” ucapnya.
Pagi berganti siang, pukul 12.00 mereka berpamitan pulang karena takut ketahuan. Lani pun hanya menghela napas, dia masih rindu dengan anaknya tapi dia juga tak ingin jika Uby mendapatkan masalah karena bermain ke rumahnya. Uby dan Nina pamit, walau hanya sebentar tapi itu membuat hatinya merasa bahagia. Sekaligus bersyukur karena ada orang yang menjaga Ibunya.
Sang nenek sedang duduk didepan. Dia bertanya kemana dua cucunya itu pergi, lalu Nina menjawab jika mereka bermain di lapangan. Setelah lolos dari nenek, keduanya masuk ke kamar.
“Kak Uby.”
“Apa?”
“Ibu kakak sangat cantik, baik lagi.”
“Iya, makanya aku sangat sayang sama dia. Ibuku merupakan wanita hebat, dia nggak pernah menyerah, tapi kenapa dulu dia menikah dengan Ayah. Ibu selalu berkata agar aku tidak membenci Ayah,” ujarnya.
“Aku kadang merasa jika Ayah bukanlah Ayah kandungku, sejak aku kecil sampai sekarang dia seperti tidak peduli pada anaknya. Berbeda dengan mu, Nina. Kamu selalu di sayangi oleh orang-orang yang ada di sini.”
Memang benar jika Nina sangat di sayang oleh keluarganya. Bahkan Nara lebih peduli kepada Nina daripada Uby. Apapun yang Nina inginkan selalu mereka semua turuti, juara kelas yang selalu di menangi Uby tidak mengubah apapun. Uang jajan sekolah saja lebih besar Nina, Uby hanya diberikan sepuluh ribu saja.
Suatu ketika, sekolah Madrasah mengumumkan acara lomba Tahfiz. Uby dipilih oleh wali kelasnya untuk mengikuti lomba tersebut, mewakilkan sekolah. Setiap hari Uby selalu menghafal, dan tiba saatnya lomba itu dimulai.
Uby berhasil meraih juara 1, membawa pulang sebuah piala besar. Tak hanya itu, sekolahnya juga mendapatkan juara umum karena banyak para muridnya yang memenangkan lomba, dari CCA, kaligrafi sampai adzan.
Senyuman terpancar dari wajahnya. Uby berharap jika Ayah, Ibu tiri dan neneknya bangga atas pencapaiannya. Namun saat sampai dirumah, mereka semua hanya terlihat biasa saja. Padahal di sepanjang perjalanan banyak para tetangga yang mengucapkan selamat bahkan memeluknya karena merasa bangga. Senyuman itu seketika pudah setelah tiba di rumah.
“Aku sudah berusaha untuk membuat mereka bangga. Tapi semuanya seperti tak peduli, apa salahku? Kenapa mereka semua seperti itu? Jujur saja aku merasa iri kepada Nina. Dia selalu mendapatkan peringkat bawah tapi mereka menyanjungnya, semua yang Nina inginkan selalu dituruti.”
“Jika mereka tidak menganggap ku, kenapa aku harus dibawa ke sini oleh mereka. Ibu, Uby mau ketemu. Aku ingin bercerita semuanya, seperti anak-anak lain yang selalu bercerita kepada orang tuanya.” Uby menangis, gadis itu seperti sudah merasa lelah dengan apa yang dirinya hadapi.
Terdengar suara Nina dari luar memanggilnya untuk makan. Namun Uby menjawab jika dirinya tidak lapar. Menangis membuatnya lelah, dia pun terlelap tidur. Saat bangun, hari sudah sore. Perutnya terasa lapar dan melihat ke meja makan namun tidak ada satu pun makanan di sana.
“Kalo mau makan masak, salah sendiri tidur terlalu lama. Kamu itu harus bantu nenek kamu di sini, jangan bermalas-malasan layaknya tuan putri,” ucap Nara dari belakang. Makin lama Nara memperlihatkan ketidaksukaannya kepada Uby.
“Nih makan, hanya ada sate saja itu sisa Nina yang tak habis. Setelah makan tolong bantu nenek mengangkat jemuran.”
“Iya nek.”
“Kamu ngapain di sini? Sana pulang Andra pasti sudah menunggumu,” ujar nenek kepada Nara.
Setelah kepergian Nara, nenek memanggil Uby. Dia menyuruh cucunya itu duduk di sampingnya. “Apa singa itu tidak mencubit lengan mu lagi?”
“Singa?” tanya Uby.
“Maksudku Ibumu.”
“Oh, nggak nek. Tapi...,” jawabnya.
“Tapi?”
“Nggak jadi, aku sudah selesai. Ayo angkat jemurannya nek. Sudah mau maghrib.”
Setiap malam Uby dan Nina selalu pergi mengaji. Uby memiliki suara yang sangat merdu saat melantunkan ayat suci Al-Quran. Membuat guru dan teman-temannya merasa tenang saat mendengarkan. Semua Al-Qur'an yang dimiliki Uby pemberian dari guru ngaji serta guru madrasahnya. Dia tidak membeli, karena dirinya tak berani untuk meminta uang duluan, Uby hanya menunggu neneknya memberi saja. Sedangkan Nina, dia sangat berani.
Hari demi hari Uby jalani seperti biasa. Setiap dirinya rindu pada sang Ibu, dia selalu pergi diam-diam bersama Nina. Pada suatu saat kepergian mereka berdua di ketahui sang nenek. Uby sudah menerima jika neneknya itu akan marah, akan tetapi sang nenek malah memberikan sekantong buah-buahan dan berkata untuk diberikan kepada Ibu Uby. Mendengar itu dia pun terkejut, lalu memeluk neneknya dan mengucapkan terima kasih.
“Sudah sana pergi sebelum si singa itu melihat.”
“Iya nek, ayo Nina.”
Diperjalanan Uby meraa heran mengapa neneknya sangat baik sampai menitipkan buah-buahan untuk Ibunya.
“Assalamualaikum, Bu. Uby datang Ibu dimana?”
“Waalaikumsalam. Kakak, Mama lagi ke warung sebentar, kakak bawa apa?” ujar adik tirinya.
“Kakak bawa buah, kamu mau? Bentar ya tunggu Ibu dulu, oh iya kakak kamu mana?”
“Kak Fajar lagi main sama temannya. Entar sore baru pulang.”
Tak lama Lani datang sembari membawa kantong kresek. Terlihat senyum bahagia saat melihat putrinya datang bermain. “Tania main yuk sama kakak," ajak Nina.
“Ayo kak.”
Nina mengajak Tania pergi, kini tinggal Uby bersama Ibunya. Air mata kembali menghiasi wajah mereka berdua, Uby menceritakan kehidupannya kepada sang Ibu. Lani merasa bangga atas semua prestasi yang putrinya dapat. “Terus jadi anak yang baik dan pintar ya sayang, Ibu bangga punya anak seperti kamu. Sekeras apapun kehidupan kamu di sana, jangan pernah untuk membenci mereka. Karena mereka merupakan keluarga kamu. Dengerin kata Ibu ya.”
“Iya Bu.”
“Ayah kamu gimana? Dia suka ngasih uang jajan?”
Uby menggeleng, pernah sekali dikasih namun setelah Ayahnya pergi bekerja uang tersebut diambil kembali oleh Ibu tirinya. Lani hanya tersenyum, lalu mengeluarkan uang berwarna biru.
“Simpan uangnya, maaf ya Ibu hanya bisa kasih segini nggak bisa kasih lebih karena buat adik-adik kamu.”
“Nggak papa kok Bu, Uby senang malah.”
“Kamu sudah makan?"
“Belum." Lani berdiri menuju dapur setelah itu kembali dengan membawa piring yang di isi nasi serta lauk.
Uby sangat lahap menyantap makanan yang diberikan Ibunya. Sudah sangat lama dia tidak merasakan masakan sang Ibu.
“Setelah lulus sekolah mau melanjutkan ke SMP atau tidak?” tanya Lani.
“Nggak tahu Bu, aku merasa kasian kepada nenek. Dia yang selama ini merawat aku, tapi Bu guru aku katanya mau membiayai pendaftarannya. Dia juga bertanya apa kamu mau lanjut SMP atau masuk ke pesantren.”
“Kamu maunya?”
“Aku mau pesantren Bu, tapi nggak di izinin sama Ibu Nara.”
“Kenapa?”
“Entah.”
“Kalo misalkan mereka semua tidak membiayai sekolah kamu ke SMP, biar Ibu saja.”
“Tapi Bu, Ibu harus membiayai sekolah Fajar dan Tania. Aku nggak mau menambah beban Ibu, dan takut jika Ayah Bima nggak setuju.”
“Kamu nggak pernah sekalipun menjadi beban untuk Ibu. Ini semua buat masa depan kamu, Ibu mau jika anak Ibu menjadi anak yang sukses nanti.”
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.00. Nina pun sudah kembali dari bermainnya dengan Tania, dia mengajak Uby untuk segera pulang.
Dirumah sang nenek, ternyata ada Nara. Dia sedang berbincang-bincang dengan para tetangga. Tak sengaja Uby mendengar perbincangan itu, betapa sedihnya dia jika Ibu tirinya menjelekkan dirinya didepan tetangga.
“Masa sih Bu Uby kayak gitu, setahu saya selama dia di sini selalu bersikap baik, bahkan anak saya saja dia ajarkan tanpa meminta imbalan.”
“Iya Bu, dia selalu berkata kasar sama saya. Mungkin itu turunan sifat Ibunya, Lani. Dia juga dulu suka berkata kasar karena Andra jadi suami saya.”
Ibu-ibu yang ada di sana hanya menyimak cerita Nara. Mereka tak mau berkata-kata lagi soal Uby. Karena setahu mereka semua Uby merupakan gadis yang baik dan juga rajin. Justru ibu-ibu itu merasa curiga terhadap Nara.
“Ya sudah Bu saya pamit pulang dulu, jam segini suami saya sudah pulang.”
“Iya Bu Nara.”
Ibu-ibu itu kembali bercerita. Mereka merasa heran kepada Nara. “Ibu mana yang menjelekkan anaknya sendiri, walau bukan anak kandung seharusnya dia menjadi ibu yang baik. Lagipula dia nggak punya anak," ujar ibu-ibu.
“Iya ya, kalo saya punya anak kayak Uby sudah merasa bangga dan senang. Secara dia gadis yang pintar, baik dan nggak pernah macem-macem,” sahut yang lain.
Perbincangan mereka terhenti saat nek Dina lewat.
------
Tak terasa kini Uby sudah berusia 16 tahun. Dia benar benar tumbuh menjadi gadis yang cantik, kulitnya semakin putih. Akan tetapi kehidupan tetap seperti biasa. Saat neneknya tak memberi uang jajan, Uby berinisiatif untuk menjual karya-karya gambarnya. Ternyata tersimpan jiwa seni didalam diri Uby. Gadis itu sangat pandai membuat komik dan juga melukis. Semua hasilnya itu dia jual kepada anak-anak SD, uang yang didapat dari hasil jualan gambarnya itu dia pakai untuk membeli buku sekolah dan sisanya ditabung.
Kehidupan yang melelahkan itu tak dia dapatkan dari rumah saja. Namun, di sekolahnya juga, terkadang Uby mendapatkan sebuah bully-an dari teman-temannya. Entah apa salahnya, selama ini Uby hanya mempunyai dua teman. Yaitu Nina dan Rara.
Rara merupakan sahabatnya sejak SD, mereka berdua selalu bersama. Seiring berjalannya waktu, neneknya menjadi sangat sayang padanya. Uang jajan pun tak pernah lagi di bedakan dengan Nina. Selama ini Uby tak pernah berpacaran, ada satu lelaki yang dia suka sejak SD. Tapi dia tak berani untuk berkata. Uby hanya bisa memendam semua itu didalam hatinya. Sangat beda dengan Nina, dia sudah mulai berpacaran sejak dirinya duduk di bangku kelas 5 SD. Bahkan sampai sekarang adik sepupunya selalu berhasil meluluhkan hati seorang lelaki walau pada akhirnya selalu berakhir.
Hari itu guru menyuruh Uby untuk mengumpulkan buku tugas murid-muridnya. Uby pun bersama dengan Rara menjalankan perintah yang diberikan sang guru, setelah buku terkumpul mereka berdua pergi ke kantor.
“Terima kasih," ucap si guru.
Guru memeriksa buku satu persatu untuk memberikan nilai. Dan tak sengaja buku Uby yang isinya komik terbawa dan di lihat oleh sang guru. Lalu dia memanggil guru seni dan memperlihatkannya.
“Coba lihat pak, ternyata si Uby pintar bikin komik juga.”
“Iya ya kok selama ini saya nggak memperhatikan dia saat memberikannya tugas menggambar.”
“Ada apa Bu?" tanya guru lain.
“Ini Bu gambarnya Uby bagus.”
“Wah, oh iya kemarin saya menyuruh anak murid Ibu untuk buat cerita kehidupan sehari-hari, dan setelah saya baca tanpa sadar mata ini mengeluarkan air. Tak hanya itu tulisannya juga sangat rapih.”
Guru guru melanjutkan perbincangannya. Selama ini Uby tidak pernah memperlihatkan keahliannya dalam seni disekolah. Pantas saja para guru terlihat kaget saat melihat hasil karya muridnya yang sudah 3 tahun bersekolah dan akan lulus itu.
•••
Malam itu, Uby dan Nina sedang mengaji. Lalu sang nenek datang menjemput Uby, dia berkata jika Lani sudah meninggal dunia. Perkataan itu sontak saja membuat Uby seperti disambar petir malam hari. Sebelum dirinya pergi mengaji, Uby sudah merasakan hal yang tidak enak. Dia sempat terpeleset. Namun tak disangka ternyata itu menandakan hal buruk baginya.
Uby dijemput oleh pamannya, adik sang Ibu. Disepanjang jalan dirinya tak kuasa menahan air mata. Sesampainya di sana sudah banyak orang-orang yang berkumpul. Tetangga di sana memeluk Uby menyuruhnya untuk tabah. Mereka juga meminta Uby membacakan ayat suci Al-Quran, tapi gadis itu tak sanggup, terus menerus menangis. Merasa menyesal karena telat datang dan tidak mengetahui kesakitan Ibunya.
“Sudah nak jangan nangis terus kasian Ibunya. Lebih baik doa kan saja,” ucap salah satu tetangga.
“Paman... Ibu pergi," ujar Uby menangis tersedu-sedu.
Uby tertidur disamping jenazah Ibunya. Sampai pagi tiba, semua orang menyiapkan pemakaman Lani. Dia disuruh oleh para tetangga di sana untuk ikut memandikan sang Ibu. Setelah semua selesai, seluruh warga dan keluarga pergi ke pemakaman. Kebetulan saat menuju TPU melewati rumah sang nenek. Mereka hanya melihat saja tidak ikut bersama Uby. Bahkan saat gadis itu pulang kerumah neneknya untuk mengambil baju, tidak ada yang berbicara satu pun. Mereka semua diam, hanya menatap Uby.
Seminggu kemudian. Dia sudah kembali lagi kerumah sang nenek. Barulah mereka mulai berbicara. Di keheningan malam, Uby merebahkan badannya sembari menatap langit-langit. “Bu, Uby minta maaf. Aku bukan anak yang baik ibu sakit saja aku nggak tahu. Kalo saja mereka mengizinkanku bertemu ibu setiap hari dan menginap di sana pasti aku akan merawat ibu. Uby menyesal maafin aku Bu.”
(Kehilangan ibu seperti kehilangan sosok malaikat. Ibu merupakan wanita hebat, mereka akan melakukan apapun demi anaknya. Senakal-nakal seorang anak, ibu akan terus memberikan kasih sayangnya. Jangan pernah membuat ibu kalian menangis, mereka berusaha tegar didepan kalian, akan tetapi hatinya merasa sedih, hancur, apalagi saat tahu jika anaknya tidak menghargai atau menyayanginya seperti dia menyayangi sang anak)
(Bahkan seorang anak akan canggung mengucapkan bahwa dirinya sayang pada sang ibu. Berkata cinta dan sayang saja terasa susah, berbeda saat kalian mengatakan itu kepada sang kekasih)
(Jika kalian masih memiliki seorang ibu, jangan pernah menyia-nyiakannya. Sayangilah dia, cintai dia. Kalian akan mengerti ketika sudah tidak ada lagi sosok ibu didalam hidup kalian)
-Tamat-