Malam itu sebuah misi dan pekerjaan yang harus diselesaikan harus selesai dan beres malam itu juga dan tak boleh ada kesalahan. Dengan tenang bayangan hitam itu mengawasi dan melihat aktifitas dari seseorang yang sudah diincar dan telah menjadi buruannya malam ini.
"Apa, dia datang."
Seorang pria paruh baya lari terbirit - birit saat dia melihat bayangan hitam yang sangat dikenalnya. Tapi tak bisa secepat itu karena bayangan hitam itu telah sampai dan mengejarnya hingga pria paruh baya itu pun tak bisa menghindarinya lagi, serta menyerahkan nyawanya.
Dengan saputangan putih pemuda itu membersihkan tangannya dari moda merah dan duduk dengan tenang didalam mobilnya seolah tak terjadi apa - apa.
"Halo, aku sudah menyelesaikannya ayah."
Pemuda itu menghubungi ayahnya dan melaporkan kalau dia telah membereskan dan menyelesaikan tugasnya. Terdengar tawa dari sang ayah dari balik panggilan itu.
Pemuda itu mematikan sambungan telepon dan dia melajukan mobilnya pulang ke rumah. Setelah membersihkan dirinya dia tertidur dan menatap langit - langit kamarnya dengan tatapan kosong, memutar kembali kejadian sebelum dia jadi seperti saat ini.
"Aaarh, tidak lepaskan aku, tolong lepaskan."
Teriak seorang pemuda yang sedang di keroyok oleh beberapa dari teman sekolahnya.
"Hei dasar menjijikan, tak berguna dan orang gila."
Olok temannya yang sedang memegangi pemuda itu dan terus memukulnya tanpa ampun.
"Ih dia memang sampah banci tak tau diri."
Olok temannya yang lain yang juga ada didalam kamar mandi bersama.
"Jangan menatapku dengan tatapan yang menjijikan itu, karena aku tak akan peduli atau kasian padamu, aku justru semakin kesal dan jijik melihatnya."
Teman yang sedang memeganginya dan terus menamparnya dengan keras.
"Hentikan kau sudah cukup melakukannya."
Cegah dari teman yang lainnya yang sejak dari tadi hanya berdiri memperhatikan teman - temannya yang lain mengerjai Panji.
"Aah...bikin kesal saja."
Teman yang memegangi Panji menarik Panji dan mencelupkan wajah Panji kedalam kloset.
"Hahaha...dia pantas ada di sana"
Tawa beberapa orang yang lainnya yang menyaksikan kejadian itu.
Panji hanya bisa pasrah tak berani melawan karena dia merasa dirinya sendiri kotor dan menjijikan.
"Apa yang kalian lakukan"
Seseorang datang membantu Panji dan menyelamatkannya serta merubah sosok Panji yang pengecut menjadi sosok yang petarung yang hebat dan tak terkalahkan.
"Halo Panji, aku punya tugas lagi untuk mu. Dan kali ini kamu harus menyelesaikannya dengan baik."
Suara seseorang yang menghubunginya di pagi hari.
"Iya, baiklah ayah."
Panji bangun dan meminum segelas air putih, lalu dia keluar untuk membeli sesuatu di mini market.
Disisi lain Aryan yang sedang tergila - gila dengan seorang penulis novel selalu menunggu dengan tak sabar untuk membaca bab selanjutnya dari novel itu.
"Ya..kenapa harus berakhir seperti ini sih, gantung banget aku kan jadi gak sabar untuk menunggu bab selanjutnya. Dan itu masih 1 Minggu lagi, kesel jadinya."
Gerutu Aryan yang sedang asik baca novel online sambil rebahan di tempat tidur.
"Aryan, ya ampun nih anak masih saja rebahan. Cepat bangun dan bantu kakak untuk beli saos karena saosnya habis di warung."
"Iya, iya..bawel banget sih"
Aryan dengan malas keluar untuk membelikan saos buat kakaknya , dan tanpa sengaja dia bertemu dengan Panji yang sedang keluar dari mini market. Keduanya terpaku satu sama lain, Panji melihat Aryan yang masuk mini market dan sedang memilih sesuatu, namun dia langsung berpaling dan pergi saat tatapannya beradu dengan tatapan Aryan.
"Orang yang aneh, tapi cakep sih dia."
gumam Aryan dan tersenyum lalu segerah membayar ke kasir.
"Oh, kamu lagi."
Kakak Aryan yang bernama Agata menegur Panji yang sedang makan di warungnya.
"Ah iya, maaf baksonya sangat enak makanya saya jadi suka beli di sini."
Jawab Panji dan tersenyum pada Agata dengan ramah. Ya Panji bagaikan memiliki dua kepribadian, dia terlihat sangat ramah dan juga lembut saat berbaur dengan orang lain, dan dia jadi sangat menakutkan ketika sedang bekerja dan mengejar buruannya.
"Ya ampun anak ini beli saos aja lama sekali."
Kesal kakak Aryan yang baru melihat Aryan kembali beli saos, padahal dia sudah keluar cukup lama tadi.
"Bawel banget."
Gumam Aryan dan dia melihat Panji yang sedang duduk makan bakso.
Panji yang dilihat jadi malu dan langsung menundukkan wajahnya, menikmati lagi bakso yang dia pesan.
"Hem, ini sungguh sangat memalukan, bagaimana bisa aku membayangkan hal itu padahal aku belum bertemu dengan penulis novel ini. 'Black Rose' benar - benar bikin penasaran."
Aryan menutup wajahnya dan merasa malu karena dia baru saja memikirkan dan membayangkan kalau dia berciuman dengan black rose penulis novel kesukaannya.
*Halo, Ai..aku sudah membaca resume mu dan aku senang kalau kamu menyukai ceritaku.
*Apakah kamu ingin kita bertemu? Aku bisa meluangkan waktu untuk bertemu dengan mu kalau kamu setuju.
"Ya ampun, ya ampun. Ini beneran dari black rose? Aaarhg...sungguhan email ini dari dia, bahkan dia mengajak ku untuk bertemu."
Aryan terlihat sangat senang malam itu saat pesan emailnya dibalas oleh penulis black rose dan diajakin bertemu.
Seminggu sudah sesuai dengan janjinya Aryan akan bertemu dengan penulis black rose di sebuah restoran. Dari sejak pagi Aryan sudah sangat gelisah dan tak sabar menunggu jam pukul 11 karena itu adalah waktu janjiannya.
"Kak aku pergi dulu."
Teriak Aryan dan dia langsung menghilang dari pandangan kakaknya.
"Anak itu."
Sementara di restoran Panji sudah menunggu juga dengan tak sabar, dia terus saja melihat kearah pintu dan jam tangannya.
*Aku akan segerah sampai.
Pesan dari Aryan untuk Panji yang dikenal dengan Winwin
"Halo ayah, iya..baiklah aku akan segerah kesana sekarang."
Panji terlihat sedih karena ayahnya menghubunginya dan memintanya untuk segerah bertemu, setelah bimbang sebentar akhirnya Panji memutuskan untuk pergi menemui ayahnya.
"Oh"
Aryan terkejud melihat Panji saat mereka lagi - lagi berpapasan di pintu sama seperti saat di mini market.
"Halo, ya..baiklah tak apa, iya tak masalah."
Aryan terlihat lelah dan menghela napas dalam saat dia tau kalau penulis black rose membatalkan pertemuannya.
Dengan hati yang kecewa Aryan membantu kakaknya di warung bakso, dan karena ada pertemuan RT akhirnya warung ditutup lebih awal.
"Oh kau sudah tutup, ini masih sore." Panji
"Eh, iya maaf karena kakakku ada pertemuan RT jadi ditutup lebih awal, dari pada aku yang jualan nanti semua pelanggannya pergi karena aku tak bisa dan tak mengerti." Aryan
"Begitu ya, baiklah." Panji tersenyum dan hendak pergi.
"Oh kau dari mana, apa kau tinggal di sekitar sini." Aryan mulai kepo
"Aku tadi ada janji di sekitar sini tapi sudah dibatalkan." Panji
"Ha..sama denganku ya." Aryan tersenyum
"Baiklah, selamat malam" Panji berbalik dan pergi, begitu juga dengan Aryan.
"Halo, Winwin." Panji memanggil dengan teleponnya
"Iya halo." Aryan menjawab dengan cepat.
Merasa suara yang dipanggil begitu dekat hingga bisa didengar secara langsung Panji pun menoleh dan menatap Aryan.
"Winwin." Panji memanggil secara langsung.
Aryan yang mendengar merasa bingung karena suara panggilannya terdengar dibelakangnya dari pada ditelepon.
"Jadi kau"
Aryan menoleh kebelakang dan menatap Panji yang berdiri tak jauh darinya.
"Oh..hahaha."
Aryan langsung lari dan melompat kepelukan Panji saat dia melihat Panji tersenyum
"Auh."
Keluh Panji yang merasakan kesakitan saat Aryan melompat dan memeluknya.
"Kau terluka, tunjukkan padaku aku akan memeriksanya." Aryan panik.
"Tak apa aku hanya tak sengaja terjatuh saat bekerja." Panji
"Hei kau ceroboh juga ya, dimana rumahmu." Aryan
"Rumah, untuk apa?" Panji
"Tentu saja untuk mengobati lukamu, kau adalah pasienku sekarang, jadi kau harus patuh. Ayo katakan di mana rumah mu." Aryan
Setelah sampai di rumah Panji dan menyiapkan kotak obat Aryan langsung melihat luka di bahu Panji dan mengobatinya, dengan sangat hati - hati dan telaten Aryan mengobati luka gores Panji.
"Itu hanya luka kecil, nanti juga bisa sembuh sendiri." Panji
"Sekecil apa pun luka tetap harus diobati dengan benar biar tak terjadi infeksi." Aryan
"Kau sangat baik." Panji
"Hem, tentu saja."
Aryan membereskan kota obat dan saat dia berbalik melihat tubuh Panji yang telanjang dada Aryan tertegun.
"Apa, kenapa kau menatapku seperti itu?"
Panji merasa bingung ditatap oleh Aryan sampai tak berkedip.
"Wah...lihatlah perut ini, perutmu berbentuk dan ada kotak-kotak yang sangat jelas."
Aryan langsung menyentuh perut Panji tanpa malu-malu, bahkan Aryan mengelusnya dengan lembut.
"Ini sangat kokoh, sungguh sangat luar biasa."
Aryan terlihat kagum dengan bentuk tubuh Panji yang berotot.
"Hei jangan lakukan itu, geli."
Panji menahan tangan Aryan yang terus saja menyapu bagian perutnya dan dadanya. Tapi Aryan bukannya berhenti dia malah terus mengelusnya bahkan dia menggunakan kedua tangannya.
Mereka pun bercanda dan saling menggelitik satu sama lain, rumah Panji yang biasanya sepi sunyi itu jadi terasa hidup dengan canda tawa mereka berdua.
Kejadian itu telah membawah dua orang asing ini menjadi satu dan saling melengkapi. Wajah dingin Panji seolah sirna untuk selamanya karena kehadiran Aryan orang yang sangat dia cintai.
Hari mereka berjalan dengan sangat cepat dan kebersamaan mereka juga jadi semakin intim. Mereka tak hanya berbagi baju bersama bahkan mereka telah berbagi segalanya bersama.
Aryan jadi semakin bahagia lagi dan dia sungguh sangat aktif serta agresif saat bersama dengan Panji, karena harapan dan khayalannya kini telah menjadi nyata, terlebih lagi Aryan sangat mencintai Panji sebesar Panji mencintainya.
"Oh ada tamu, ayo masuk anggap rumah sendiri."
Agata menerima Panji dengan sangat ramah
"Iya terima kasih kak."
Panji tersenyum dan menatap Aryan. Mereka terlihat sangat bahagia terlebih Panji karena ternyata kakak Aryan sangat menyambutnya dengan hangat.
"Kakak mu sungguh sangat baik." Panji
"Iya, dia memang sangat baik, dan kebaikan ku berasal dari dia." Aryan
"Jangan menyamakan dirimu dengan kakakmu" Panji
"Kenapa, apa aku kurang baik padamu hah?"
Aryan menggoda Panji dan menggelitiknya
"Hei Ar apa yang kau lakukan, kita sedang ada di rumah sekarang."
Panji menahan tangan Aryan yang menggelitik dia, namun Aryan bukannya berhenti dia jadi semakin menggelitik Panji dengan gemas karena melihat wajah Panji yang seolah menahan diri.
"Oh, maaf aku gak tau. Aku cuma mau bilang ayo makan dulu..baiklah aku tunggu di meja makan"
Agata yang masuk kamar Aryan terkejut dan canggung karena melihat adiknya itu dengan temannya bercanda dan saling memeluk.
Panji dan Aryan keluar kamar dan terlihat Panji jadi canggung serta malu pada Agata karena ketahuan saling berpelukan dengan Aryan.
"Oh, Ar aku lupa sendok ku tolong kau ambilkan untuk ku cepat."
Agata memerintah Aryan dan dia menatap Panji dengan tajam.
"Hei kau, apakah kau hanya berteman saja dengan adikku."
"Ya, apa?" Panji tertegun
"Tidak, karena Aryan menyukai pria kamu tau itu kan." Agata
"Oh itu..." Panji
"Hem, melihat kau begitu kaget sepertinya kalian bukan hanya sekedar teman kan. Aku benar kan." Agata
"Apa yang kakak katakan pada Panji, kenapa dia jadi tak nyaman begitu" Aryan
"Tidak ada, aku cuma bilang padanya kalau kau mencintai pria" Agata
"Apa yang kakak katakan sih" Aryan
"Ya, kalau kalian beneran pacaran. Tolong kau jaga pria ini dengan baik ya, karena dia sering hilang ditengah malam. Dan dia juga sangat malas, bahkan aku tak tau apa yang sedang dia kerjakan." Agata
"Kak jangan bilang yang tidak - tidak" Aryan
"Kenapa, aku berkata benar kok" Agata
"Kakak tenang saja, aku akan menjaganya dengan baik dan tak akan membiarkan dia pergi menghilang." Panji
Malam itu Panji sangat bahagia, dia seolah memiliki keluarga yang sebenarnya dan sangat dia rindukan.
"Kak Agata sungguh sangat baik, aku merasa sangat bahagia dan hangat." Panji
"Hem, aku juga sangat bahagia memiliki mu." Aryan
"Siapa itu."
Panji merasa kaget saat dia membuka pintu rumah dan ada seseorang duduk dalam kegelapan dalam rumahnya.
"Kau baru pulang, siapa pria itu."
Gusti menatap dengan tajam pada Panji yang berdiri diambang pintu.
"Ar kau bisa pulang dulu untuk hari ini, kita akan ketemu lagi besok." Panji
"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu ya." Aryan
"Apa yang ayah lakukan, aku sudah bilang kalau aku tak suka ada orang lain masuk sembarangan ke rumah ku." Panji
"Orang lain. Jadi kau menganggap aku sama dengan orang lain? Kau jangan lupa siapa dirimu dan statusmu. Jika bukan karena aku kau tak akan jadi seperti sekarang ini, kau harus ingat itu." Gusti
"Aku tak ingin mengotori tangan ku dengan darah lagi." Panji
"Tak ingin lagi, apa kau tau Panji untuk apa aku membawamu dan membesarkan mu. Aku membuat mu bisa menjadi seperti sekarang ini bulan hanya untuk sia - sia."
Gusti bangun dan berjalan mendekati Panji.
"Dengarkan aku, kau adalah anak ku dan aku mengasah dirimu menjadi seperti sekarang ini untuk menunjukkan kalau kau itu berguna. Ingatlah apa yang kau miliki sekarang ini bukanlah milik mu, semuanya berasal dari ku. Dan kau tak akan bisa memutuskan balas budi padaku."
"Lakukan pekerjaan mu dengan baik dan jangan jadi penghianat yang tak berguna, karena jika itu terjadi maka kau akan menemukan nerakamu."
Gusti pun pergi meninggalkan Panji setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan.
Panji terlihat sangat frustasi dan tak bisa apa - apa atas apa yang telah diputuskan oleh Gusti untuk jalan hidupnya.