[Action, Romance, Fantasy ] Sleepy Knight
Author: kucing hitam
Sleepy Knight
penulis : kucing hitam~
Seorang pemilik perusahaan Game terbaik di dunia masuk kedalam dunia lain, apakah ia dapat bertahan hidup di dunia sana, perjuangan belum sampai disana masih banyak rintangan yang akan ia alami baca dan saksikan sensasinya masuk ke dunia lain....
...
#Episode 1
PROLOG
Namaku Rehan umur 29 tahun bekerja sebagai programmer game, aplikasi, dll. Aku bekerja sebagai programmer selama 10 tahun dengan penghasilan yang lebih dari cukup namun aku masih belum bisa mendapatkan seorang pendamping, waktu aku duduk di sekolah menengah pertama, aku pikir kalau aku kaya pasti banyak yang tertarik namun hanya cewe matre yang pada mendekat. Dengan muka yang pas-pasan aku tidak pernah pede berbicara dengan perempuan, baik langsung maupun di telepon.
Di usiaku yang sudah sangat matang ini semua orang menyuruhku untuk cepat-cepat menikah, namun aku masih belum siap untuk menikah lagi pula siapa juga yang mau menikah denganku.
Pada suatu ketika, aku sedang membaca buku dongeng anak sepupuku, ada beberapa kata-kata yang menarik yaitu “ Duniamu bukanlah satu-satunya dunia yang bisa di tinggali makhluk hidup masih banyak dunia lain di dimensi lain yang tidak kalian ketahui.” Kata-kata itu cukup membuatku terus kepikiran sampai tidurpun aku masih memikirkannya.
Ke esokkan harinya, ketika aku bangun dari tidur terasa berbeda, aku merasakan tubuhku mengecil, kasur yang ku tiduri serasa seperti rumput, ACnya terasa seperti hembusan angin. Ketika aku membuka mataku semua berubah menjadi padang rumput yang luas.
“ Dimana aku? Kenapa aku ada di sini?” Tanyaku, yang kebingungan pada saat itu.
Tiba-tiba ada kereta yang di tarik dengan kuda medekatiku, “ Selamat datang di dunia lain. Dunia evarius yang artinya dunia akhir peradaban, menurut bahasa dunia ini, itu hanya sebuah nama dan kisah dongeng belaka yang di ciptakan oleh raja terdahulu, mulai dari sini kamu akan menentukan takdirmu kedepannya,” Ucap pria berkuping kelinci yang keluar dari kereta tersebut.
Aku terkejut, ketika pria itu mengatakan dunia lain. Berarti ini bukan lagi dunia yang dulu aku huni.
“ Kalau sekarang aku ada di dunia lain, bolehkah aku menanyakan sesuatu?” Tanyaku.
“ Tentu saja, boleh,” Jawabnya.
“ mmmm…., kenapa aku bisa ada di sini? Apa aku punya kekuatan di dunia ini? Apa aku-” tiba-tiba pria itu menghentikan pertanyaan yang terus keluar dari mulutku.
“ aku sudah tau apa yang ingin kamu tanyakan, maka dari itu aku membuat buku petunjuk ini silakan di baca dan pahami. “ Selanya, sambil memberikan buku petunjuk kepadaku. Setelah itu pria itu pergi, aku mulai membaca buku yang ia berikan.
“ Buku yang aneh…, tampilannya gak menarik, isinya tebal banget.”
“ Udah baca aja jangan banyak ngeluh.”
“ Oke-oke.”
SELAMAT DATANG DI DUNIA EVARIUS
#Petunjuk
Dunia ini adalah dunia dimana semua spesies makhluk hidup saling berdampingan namun karena ada perselisihan akhirnya mereka memecah diri membagi-bagi dari berbagai ras, kerajaan, desa, pulau, dll.
Maka dari itu, kamu adalah orang terpilih yang harus menyatukan kembali seluruh perpecahan yang ada di dunia ini dengan menampung setiap rasa sedih, marah, bahagia yang mereka rasakan.
Namun itu adalah misi yang sangat sulit untuk mu, maka pilihlah tugas kamu di bawah ini:
Sebagai raja yang bijaksana.
Menjadi kesatria yang kuat.
Hidup tenang di sebuah desa.
Menjadi pengembala domba di desa.
Menjadi penccuri di kerajaan.
Mati dengan bahagia.
Menjadi penjahat di dunia
Menjadi raja iblis.
Itulah pilihan tujuan mu di dunia ini, silakan anda pilih sesuai dengan yang anda suka.
Alasan kamu di kirim ke sini yaitu:
Kamu adalah orang terpilih
Kamu sudah terlalu menyia-nyiakan kehidupanmu di dunia yang lalu.
Kamu sudah terlalu bahagia di dunia yang lalu.
Nasib kamu terlalu suram di dunia di masa lalu.
Tujuan dan alasan sudah aku bahas tinggal teknik dan jenis kekuatan yang akan kamu dapatkan:
Yang kamu dapat adalah teknik mata.
Seorang cheater di dunia ini.
Kekuatannya bisa kamu kembangkan sendiri.
Aku tau kehidupan mu di dunia yang lalu, kehidupan yang sangat menyedihkan berusaha sendiri, berjuang sendiri, melangkah maju sendiri, namun kali ini kamu akan ku berikan kemudahan untuk mendapatkan seorang pendamping tapi ingat jangan pernah mengulangi kehidupanmu yang menyedihkan itu di dalam dunia ini.
Bnayak peraturan yang harus kamu penuhi yaitu bla-bla-bla-bla dan seterusnya. Terlalu banyak jika aku tulis apa yang tertulis di dalam buku itu sebab buku itu setebal buku kamus lengkap 10.000 trilion di baca aja males apalagi di jalanin. Namun rasanya sangat singkat membaca buku ini tak terasa sudah tinggal halaman terakhir.
“ Kalau kamu punya buku petunjuk kenapa nggak kasih tau dari awal?”
“ Kamu gak nanya, sih.”
“ Haduh….”
Setelah itu, Pria berkuping kelinci pergi kembali menaiki kereta kudanya. Meninggalkanku sendirian di sana.
Seharian aku membaca buku petunjuk itu, setelah selesai aku merasa sangat mengantuk dan buku petunjuk itu tiba-tiba menghilang dari tanganku, aku menghiraukan buku itu sebab ini bukan dunia lama ku yang penuh dengan logika, aku tidur berhari-hari tanpa aku sadari, aku bangun dengan mata seperti panda, muka lesu tidak bertenaga dengan keadaan perut kosong.
“ Duh laper…,” Ujarku.
“ Kamu laper?” Tanya seorang gadis yang muncul dari belakangnya.
“ Ya, eh… maaf, kamu siapa ya?” Balik bertanya.
“ Perkenalkan nama ku Laila,” Ucapnya , tersenyum manis.
“ Nama ku Rehan salam kenal,” Ucapku, dengan muka lesu.
#episode 2
PERTEMUAN YANG DI TAKDIRKAN
Itulah pertama kalinya aku berbicara dengan wanita di dunia lain ini. Rasa yang pernah aku rasain pas di dunia lamaku telah hilang akibat rasa kantuk ku yang berlebihan, walaupun aku sudah tidur berhari-hari namun rasa kantuk ini belum hilang.
“ Mau makan bareng?” ajaknya sambil menaruh keranjang makanan yang ia bawa.
“ Ya.”
“ Aku bawa buah-buahan sama roti panggang, kamu mau yang mana?” tanyanya sambil menawarkan makanan yang ia bawa.
“ Mmm… roti panggang aja deh,” Jawabku, sambil mengambil roti panggang yang ada di tangan Laila.
“ Apa yang kamu lakukan di sini?” Tanyanya, sambil memakan roti panggang di tangannya.
“ Tidur.” Jawab singkatku.
“ Hanya itu?” tanyanya lagi, mulai penasaran.
“ Ya.” Jawab ku lagi, menegaskan..
“ Kamu dari desa mana?” tanyanya yang mulai membuatku panik sebab aku gak tau nama desa di dunia ini.
“ Mmm… desa di ujung timur.”, “Jawab ku, asal yang penting dia percaya,” pikirku.
“ Desa ujung timur ya… desa yang sangat jauh,” Ucapnya, mempercayai ucapanku.
“ Apa dia benar-benar percaya dengan ucapanku,” Gumamku, yang tidak sepenuhnya yakin dia mempercayai omonganku mentah-mentah walaupun itu baik untuk ku saat ini.
“ Bagaimana enak nggak roti bakarnya, aku sendiri loh yang ,masak.” Menyombongkan diri.
“ Rasanya pahit, di bawah rotinya gosong.” Ucapku.
“ Ngak pahit kok, Cuma… gosong dikit.” Sebel dengan ucapan Rehan.
“ Maaf-maaf. Tapi kok tiba-tiba manis ya.” Ujarku.
“ Masa sih?” Tanya Laila dengan rasa penasaran sebab yang ia makan rasanya pahit.
“ Iya manis, makanya sambil liatin kamu sih.” Ledek Rehan.
“ Ahk Rehan bikin malu aja.” Pipinya yang memerah membuatku tidak bisa menahan tawa.
“ HAHAHAHAHHAHA!!! Pipi kamu merah tuh.” Sambil menyubit pipi Laila.
“ Duh sakit tau !!!” Sebal, dengan kelakuan Rehan.
“ Ohya ini ladang kamu kah?” tanyaku. Menunjuk sebuah ladang gandum, tidak jauh dari tempaku.
“ Iya,” Jawabnya.
“ Laila ! bantu bibi menyiram tanaman!” perintah bibinya Laila yang sedang menyiram tanaman kol di pinggir ladang gandum.
“ Iya bi!” Teriak Laila. “ Aku mau ke ladang dulu ya, kamu tunggu di sini kalau masih laper silakan ambil aja di keranjang makanan masih banyak kok.” Ucapnya dengan senyumannya yang manis.
“ Iya, semangat ya!” ucapku, menyemangati Laila.
Laila hanya mengnganguk saja dan terus berlari menghampiri bibinya di ladang. Walaupun roti yang ia buat rasanya pahit tapi ia sudah susah payah memberikannya kepadaku jadi aku habiskan saja deh.
“ Kenapa aku bisa sangat akrab dengan Laila ya…, padadal kita baru ketemu tapi rasanya seperti sudah berteman dari kecil,” Gumamku, melihat Laila membantu bibinya di ladang kol.
suasana di sini juga masih pedesaan, udaranya juga sangat segar tidak ada polusi disini. Berbeda jauh dengan dunia lamaku yang penuh dengan polusi, dengan pemandangannya yang sangat indah, pegunungan dan danau terlihat jelas dari sini, ladang gandum dan kol milik Laila tumbuh subur, burung kecil berkicauan. Inilah dunia yang aku impi-impikan sejak kecil, dunia yang penuh dengan ketenangan.
Setelah aku menghabiskan makanan yang ia bawa aku mulai merasa sangat ngantuk lagi dan akupun tertidur pulas di bawah pohon.
Selama aku tidur aku tidak tau kalau di desa yang di tinggali Laila sedang di serang oleh siluman serigala yang memporak-porandakan desa tersebut. Banyak korban jiwa yang meninggal dan juga terluka.
Setelah aku bangun di sekitarku penuh dengan asap yang pekat. “ ukh... ukh… ukh… asap apa ini?” tanyaku, mulai sesak nafas.
#Episode 3
SERANGAN SILUMAN SERIGALA
PART 1
Aku berjalan tanpa arah asapnya yang pekat membuat pandangan ku terbatas, aku hanya bertopang pada instingku saja yang penting bisa keluar dari kerumunan asap tersebut, berjalan dan berjalan tak sengaja menginjak sesautu yang lembek dan keras ketika aku melihat ke bawah banyak tubuh manusia yang hangus terbakar rasa jiji dan rasa takut tercampur aduk, kaki ini seakan akan tidak mau bergerak karena ini pertama kalinya aku melihat mayat manusia asli dengan penuh luka bakar selain di dunia game buatanku.
“ kenapa kaki ku tidak mau bergerak? Apa aku merasa takut? Apa ini yang namanya ketakutan yang membuat selurus tubuhku tidak bisa aku gerakkan?” banyak pertanyaan yang muncul dari kepalaku.
“ Ree… han….”
“ Laila!” Terkejut, melihat Laila tertimba kayu reruntuhan bangunan.
“ Rehan…,” Lirihnya, dengan penuh darah di mulutnya.
“ Laila bertahanlah… aku akan menyelamatkanmu.”
“ Larilah Rehan disini sangat berbahaya.”
“ Aku tidak akan lari, aku pasti bisa menyelamatkanmu.” Kata-kata yang pernah aku ucapkan di dalam game buatanku.
“ Dasar keras kepala.” Tersenyum walaupun sedang dalam keadaan terluka.
Ku angkat kayu yang menimpanya dengan sekuat tenaga tapi aku tidak sanggup kekuatan ini sama seperti di dunia lama ku, lemah, payah yang hanya bisa mengetik keyboard sepanjang hari. “ Ini dunia lain kan! jadi kumohon berikan aku kekuatan sedikit saja agar aku bisa menyelamatkannya,” Pikirku, berusaha mengangkat walaupun panas membakar tanganku.
“ Rehan, apa alasan kamu mau menyelamatkanku padahal kamu bisa lari sekarang?” tanyanya.
“ Apa perlu alasan untuk menyelamatkan seseorang,” Jawabku
.
“ Re… han.., makasih.” Tersenyum.
Ketika aku sedang berusaha mengangkat kayu yang menimpa Laila mataku tiba-tiba berubah menjadi green screen semua yang aku lihat berubah menjadi hijau menyala dan banyak code-code yang berderet keluar seperti matriks, terus keluar rasanya mataku mau meledak.
“ Mataku… huaaAAAA!!!” teriakku, dengan darah yang keluar dari mataku.
“ semua ini code-code cheat di dalam game yang baru aku buat namanya DUNGEON-X, apa ini kekuatan ku di dunia lain ini. Kalau benar berarti aku bisa menggunakan cheat penguat tubuh untuk menyelamatkan Laila, kalau tidak salah seperti ini,” Gumamku, sambil menyusun beberapa code random di dalam pikiran ku.
Seperti yang ku duga kayu yang menimpa Laila serasa sangat ringan namun bukan hanya itu tubuhku serasa sangat berisi dengan penuh energy kekuatan.
“ Kali ini aku pasti bisa menolongmu Laila!” ucap ku dengan yakin. Laila hanya bisa melihat usaha Rehan menolongnya.
#Episode 4
SERANGAN SILUMAN SERIGALA
PART 2
Setelah berhasil menyelamatkan Laila dan keluar dari asap yang pekat itu tiba-tiba siluman serigala mencakar punggungku ketika aku sedang menggendong Laila. Cengkraman tanganku semakin erat ke tubuh Laila seakan-akan tangan ini tidak mau melepaskannya.
“ ukh… punggungku terasa geli.” Ujarku menahan tawa. Serangan dari siluman serigala yang seharusnya bisa memotong tubuh manusia dengan sekali cakar namun tidak berkesan sedikitpun di tubuh ku hanya baju ku saya yang robek.
“ Rehan apa kamu baik-baik saja?” Tanya Laila.
“yah, aku baik kok,” Jawabku dengan senyumman. “ Aku pasti akan melindungimu, “ Ujarku, membuat muka Laila memerah.
“ Janji ya?” tanyanya.
“ Ya, aku janji,” Jawabku. Ini juga pertama kalinya aku berjanji dengan seorang wanita di dunia lain ini.
Siluman serigala kembali menyerang namun reflek ku masih sangat lambat, setiap serangan siluman serigala mengenaiku walaupun serangannya tidak berbahaya untuk ku, namun ini sangat berbahaya jika mengenai Laila aku harus mengendalikan kekuatan mataku, aku tidak bisa membuat kedua mataku berubah menjadi green screen karena itu sangat berbahaya untuk kondisiku sekarang, aku hanya harus barusaha mengendalikan efek kekuatannya ini sama seperti memutuskan kabel penghubung dua monitor dalam satu perangkat computer.
Seperti biasa code-code mulai turun deras didalam penglihatannya mata yang ia pejamkan dan kembali menyusun code cheat unlimited intelegen dan reflek dengan ini aku bisa membaca dan melihat gerakkan lawan bahkan bisa menyimpulkan sesuatu dengan cepat.
“ Aku pasti akan membunuh siluman serigala itu yang telah menghancurkan desamu,” Ucapku, meyakinkan Laila yang masih trauma dengan apa yang ia alami.
“ Terimakasih Rehan.” Mencium pipi Rehan. “ Eh….” Sentakku kaget.
Danger!... Danger!... Danger!.... code di mataku kacau balau semua angka tidak karuan berubah menjadi red screen, suhu tubuhku juga tiba-tiba meningkat, mukaku terasa sangat panas tingkah lakuku juga menjadi salah tingkah.
“ Apa kamu baik-baik saja, Rehan?” tanyanya, melihat tingkah lakuku yang aneh.
“ Ya, aku baik-baik saja kok,” Jawabku, menunduk malu.
Serangan siluman serigala serasa di kachangin karena setiap serangannya bisa aku hindari seperti aku bisa meliahat gerakkannya dengan jelas.
“ Ukh, dasar siluman keras kepala! Akan ku bunuh kau.” Menendang ke arah datangnya serangan siluman serigala.
Akibat terkena serangan Rehan, siluman serigala itu tubuhnya hancur berkeping-keping, rasanya seperti di hantam batu yang sangat besar dengan sangat cepat. Namun darah siluman serigala tersebut mengundang siluman serigala lainnya berdatangan.
“ Bagaimana ini Rehan?” Tanya Laila dengan rasa khawatir.
“ Tenang aja, selama aku ada disini kamu akan baik-baik saja.” Jawabku dengan tegas.
“Rehan….” Terkagum-kagum.
#Episode 5
SERANGAN SILUMAN SERIGALA
PART 3
Saat Rehan ingin menyerang siluman tersebut tiba-tiba muncul, sebuah perintah pada pandangan mata green screen nya. “ silakan ucapkan kata kunci untuk mengaktifkan mata kanan dan mata kiri serta mengaktifkan kedua mata dalam mode over green screen.”
“ instal untuk mata kanan dan re instal untuk mata kiri over instal untuk kedua mata,” Jawabku, dalam pikiranku.
“ Perintah di terima, selamat bertarung.”
“ instal!!” ucapku dengan tegas. “ Mode green screen ini sudah mulai bisa aku kendalikan, kali ini akan aku coba untuk menggunakannya.” Gumamku.
Serangan siluman serigala sangat lambat di dalam pandangan ku semua gerakkan bisa aku baca dengan jelas dan setiap tindakanku dapat aku simpulkan dengan baik. Rasanya seperti ngecheat di dalam sebuah game namun jika di dalam game bisa ke BANED sedangkan di sini kira-kira efeknya apa ya? Pertannyaan itu yang aku pikirkan pada waktu itu.
“ Jadi gini enaknya berada di dunia lain, semua bisa memiliki kemampuan khusus,” Gumamku.
“ Sebenarnya siapa Rehan itu Kemampuannya sangat hebat dan berani,” Pikir Laila, memandang wajah Rehan.
“ Eh… kenapa ada yang salah kah dengan wajahku?” Tanyaku.
“ Tidak ada apa-apa kok.” Jawabnya tersennyum.
“ Duh senyumannya manis banget, di dunia lama ku mana mungkin aku bisa melihat senyuman wanita semanis dan sedekat ini,” Gumamku.
Mungkin karena refleknya yang berlebihan aku seperti tidak merasakan seperti dalam ke adaan bahaya walaupun banyak siluman serigala menyerang, rasanya seperti menari-nari di udara. Beberapa saat kemudian setelah semua siluman serigala kalah mereka berjalan menuju tempat pengungsian.
“ Bagaimana luka kamu, apa sudah baikan?”
“ Udah mendingan kok.” Tersenyum.
“ Duh… senyumannya itu loh, aku pasti akan menjaganya agar dia selalu tersenyum bahagia.”
Gumamku.
Akupun membantu warga yang selamat dari serangan siluman serigala, Semua yang aku lakukan selama ini di luar dugaanku, rasanya sangat membahagiakan melihat senyuman penduduk desa, memberikan sebuah harapan baru untuk mereka.
“ Apa putri Laila baik-baik saja?” Tanya seorang penduduk.
“ Ya, Laila selamat kok,” Jawab ku.
“ Putri laila? Jadi dia seorang putri!” gumamku, terkejut sambil melihat Laila yang sedang membantu yang lain.
Perlahan-lahan kami mulai berjalan menuju tempat pengungsian anak-anak yang selamat berlari-lari, bermain dengan putri Laila rasa takut, trauma seakan-akan terobati melihat tingkah laku mereka.
Hari ini aku belajar banyak mengenai kehidupan sosial yang tidak pernah aku rasakan di duniaku sebelumnya.
Di tengah perjalanan kami beristirahat, memakan persediaan yang kami bawa, berbagi makanan bersama, berbagi pengalaman, canda dan tawa menghiasi suasana di sana.
Aku mendekati Laila yang sedang mengambil air di sungai, “ Airnya jernih ya.” Ucapku membuka percakaapan.
“ Ya, air sungai ini belum terkontaminasi dengan limbah penduduk di dalam kerajaan.” Jawabnya.
“ Kamu sangat akrab ya sama penduduk desa.” Ujarku.
“ Tentu saja, karena aku adalah putri dari kepala desa yang akan meneruskan memimpin desa ini, jadi sudah tugasku untuk menjalin ke akraban dengan penduduk dasa ini.” Jawabnya dengan tegas. Aku hanya bisa tersenyum terkagum-kagum.
“ Apa kamu sudah makan?” tanyaku.
“ Sudah kok.” Jawabnya, namun perut berkata lain.
KRRUUYYUUK ( suara perut Laila )
“ Ahahaha….” Tertawa dengan ekspresi Laila yang malu-malu ketika aku mendengar suara perutnya.
“ Iini aku bawa beberapa lembar roti panggang.” Tawarku.
“ Tapi tangan aku basah,” Sela Laila.
“ Sini aku suapin.” Memasukkan roti yang aku pegang ke dalam mulutnya.
“Eeehh…,” Pekiknya.
DEG DEG-DEG DEG-DEG DEG ( suara detak jantungku )
“ Duh, detak jantung ke terasa mau meledak,” Gumamku, sambil memegang dadaku.
“ Dada kamu sakit ya?” Tanyanya memegang dadaku.
“ Ngak kok.”Gelisahku, terusik dengan prilaku Lail
“ Hehehehe… Hahahahaha.” Tiba-tiba Laila tertawa setelah tangannya memegang dadaku.
“ Kamu kenapa?” tanyaku, menjauh darinya.
“ Gapapa kok.”Tersenyum sinis membuatku merinding.
“ Lihat mereka sedang bermesraan,” Ujar Kakek, yang melihatku dan Laila bercanda di sungai.
“ Duh, kakek namanya juga anak muda, dulu kita juga sama,” Ucap Nenek, yang bersama dengan Kakek.
“ Duh, Nenek nih bikin Kakek malu,” Ucap sang kakek.
“ Hihihihi….” Tawa sang Nenek melanjutkan langkahnya.
Sambil meliahat air sungai yang jernih mengalir dengan tenang, ikan pun dapat kita lihat dari permukaan, pantulan cahaya matahari yang gemerlap membuat suasananya menjadi sangat indah.
“ Ohya, Laila apa kamu sudah punya pacar belum?” tanyaku, menunduk malu.
“ Hahahha… belum kok.,” Jawabnya, sambil tertawa kecil.
“ kalau mau jadi pacar aku mau gak?”
“ Sial mulut jomblo akut kenapa kamu ngomong kayak gituhyu,” Gumamku.
“ Pacar ya….” Menghentikan langkahnya.
“ kalau gak mau, gapapa kok.”
“ Mmm…,kalau disini tidak ada yang namanya pacaran, kalau kamu memang suka aku, kenapa tidak tunangan aja sebab di desa ku dilarang pacaran,” Sela nya.
“ Tuanangan ya? Kalau di pikir-pikir usia asliku 29 tahun tapi tubuhku di dunia ini seperti usia 17 tahun.” Gumamku.
“ Bagaimana mau nggak?” tanyanya memalingkan wajahnya dari ku.
“ Tentu saja mau,” Jawabku, sambil menggendong Laila. Namun kaki ku terpeleset batu kali dan kami terjatuh ke sungai.”
“ Tuhkan basah semua,” Ucap Laila, sambil melepaskan pakaian yang ia pakai.
“ Eeehh,” melihat kulit tubuh Laila yang putih, hanya tertutup kaos dalam dan celana pendek yang ia pakai.
“ HHuuuaaa!!! Jangan liat, DASAR MESUM!” Menendang perutku dengan keras.
“ Huueek.” Pekikku, “ Uhuk…uhuk… Maaf-maaf, aku gak akan liat kok.” Menutup wajahku dengan telapak tangan.
Setelah itu kami kembali ke tempat peristirahatan walaupun baju yang kami pakai belum sepenuhnya kering. Kami kembali melanjutkan perjalan menuju tempat ayahnya Laila membawa penduduk yang lain.
“ Ohya, Laila ayah kamu seperti apa ya?” Tanya ku.
“ Hehehe… ayahku itu garang seperti harimau.” Ledek Laila.
“ Serius donk.” Ucapku.
“ Iya kalo ayahku tau kita pengen tunangan perut kamu siap-siap di bolongin.” Menakut-nakuti ku.
“ Duh, Laila,” Pekikku.
Kami selalu bercanda di jalan memperdekat kan diri kita dan mengenal lebih jauh sebelum sampai ke tempat pengungsian.
#Episode 6
AMARAH SEORANG CHEATER
Sesampainya tempat pengungsian kami mulai berbicara dengan kepala desa di sana dan melangsungkan pertunangan ku dengan Laila hari-hari biasa aku lewati dengan penuh bahagia bersamanya seakan-akan milik kita berdua.
“ Apa kamu serius mau nikahin putri saya?”
“ Iya, pak.”
“ Awas kalau kamu macem-macem.”
“ Paling macem-macemnya abis nikah, Pak.”Rehan menegaskan, mantap.
“ Ahahahaha. Jangan kenceng-kenceng nomongnya kalo soal itu.” Bisik Bapaknya Laila.
“ Maaf-maaf, Pak.”
“ Ehm, kita lanjutkan pembicaraan tadi.”, “ Bagaimana tentang persetujuan orang tua kamu.” Sambung Nya.
“ Duh gimana nih…, Apa aku harus berbohong.” Gumamku, gerah tiba-tiba mengalir dengan deras.
“ Mmm…, Orang tua aku udah meninggal dan aku berkelana kesini sendirian.” Ujarku, memelankan suaraku.
“ Maaf-Maaf bapak tidak tau.”
“ Gapapa kok, pak.”
“ Jadi gimana, apa kamu beneran serius, Nak.”
“ Iya, Pak!”
sampai pada waktunya kita mengadakan pernikahan dan akhirnya kami memiliki anak pertama kami.
“ Sayank Nama anak kita ntar lahir apa ya?” Tanya Laila sambil mengelus perutnya yang sedang hamil.
“ Kalau laki-laki aku kasih nama Kevin kalau perempuan aku kasih nama maria,” Jawabku.
“ Namanya kurang bagus.” Sela Laila.
“ Trus apa?” Tanyaku.
“ Kalau laki-laki aku kasih nama Rangga kalau perempuan aku kasih nama Melina,” Jawab Laila.
“ Yaudah aku ikut Sayank aja,” Pasrah.
“ Hahahaha…,” Tertawa kecil.
kami selalu tertawa bersama sampai anak kami lahir namanya Melina karena anak kami perempuan.
Janji yang pernah aku buat sepertinya akan terpenuhi, kehidupan kami sama seperti orang biasa pada umumnya, tak jarang monster menyerang desa kami namu itu bisa kami lewati bersama senyumannya masih seperti dulu manis membuatku ikut tersenyum.
“ Rehan bisa tolong bantu aku sebentar,” Perintah Laila, membersihkan popok anaknnya.
“ Iya tunggu sebentar.”
“ Cepetan! Rehan.”
“ Iya-iya, aku kesono.”Meninggalkan pekerjaan yang sedang aku lakukan.
Sesampainya di dalam rumah, tanganku langsung di tarik, “ Eh… Kenapa nih?” Sentakku.
“ Udah buruan bantu aku.”
“ Apa yang harus aku bantu?”
“ Buang bekas popoknya.”
“ Oke-oke.”
“ Jangan lupa, siapkan makanan buat aku.”
“ Eh… Kok malah suruh masak sih…”
“ Kamu mau aku yang masak.”
“ Nggak-Nggak, biar aku aja yang masak,” Sentakku, trauma dengan masakkan yang di buat Laila, yang bikin perut aku sakit seharian..
“ Nah gitu donk.” Laila tersenyum lebar.
Setelah Laila selesai membersihkan popok Melina, langsung di taruh ke sebuah bangkku goyang khusus anak kecil berusia 3 tahun.
“ Makanan sudah siap!” Ujar Rehan penuh semangat.
“ Jangan lupa masak bubur juga buat Melina.”
“ Iya-iya.”
“ Jangan lupa di ademin ,” sambung Laila.
“ Iya-iya.”
Begitulah kesibukkanku sebagai kepala rumah tangga dan kepala desa di sini, sangat merepotkan namun rasanya begitu menyenangkan dengan di temani istri yang siap membantu, anak yang bikin lelahku hilang dengan tingkah lakunya yang menggemaskan.
“ Aku ajak Melina jalan-jalan dulu, ya.”
“ Hati-hati di jalan.”
“ Iya.”
“ Laila, kamu serius mau pake baju kayak gitu?”
“ Iya ini baju sihir kesukaanku.”
Di perjalan Laila begitu bahagia bermain-main dengan Melina, di gendongnya kesana-kemari.
“ Duh, ini udah terlalu lama, kemana Laila mengajak Melina jalan-jalan, bikin khawatir aja.” Pikir Rehan padahal baru beberapa meni t Laila dan Melina pergi jalan-jalan.
“ Pak Rehan….” Suara seseorang dari luar rumah.
“ Iya, tunggu sebentar.” Membuka pintu. “ Adaapa, ya?” sambung Rehan.
“ Tolong pak, rumah kami di acak-acak pak,” ucap pria tua tersebut.
“ Di acak-acak monster?” tanyaku, mempersiapkan diri.
“ Iya pak, Monster yang sangat menakutkan.”
“ Tingkat bahayanya?”
“ Melebihi serangan naga tingkat tinggi.”
“ Kayaknya serius nih…,” Pikirku.
Setelah itu kami bergegas menuju ruham pria tua itu,sesampainya di rumah nya kami bertemu dengan Laila yang sedang khawatir.
“ Adaapa Laila, dimana Melina?” Tanyaku, tanpa basa-basi.
“ Tuh….” Menunjuk kedalam rumah yang hancur berantakan.
“ Haduh… ternyata anakku toh monsternya.”
“ Sabar ya pak, aku tidak bisa melakukan apa-apa.” Memegang pundak pria tua itu.
“ Rumahku….” Lirihnya.
Setelah selesai Laila menggendong Melina yang tertidur sedangkan aku dan para penduduk membantu bergotong-royong membangun kembali membangun rumah pria tua itu.
“ Rehan, aku pulang dulu ya,” Ucap Laila. Meninggalkan ku.
“ Hati-hati di jalan.”
“ Iya.”
./
“ Apa kamu khawatir, Nak Rehan,” Ledek salah satu penduduk yang membantu.
“ Ahahahahaha, Gak juga kok.”
“ Ayo kita lanjut lagi, jangan ganggu kepala desa kita yang baru.” Ujar Kakek sesepuh di desa ini.
Di sore hari dengan cuaca mendung, kami berhasil memperbaiki rumah yang di hancurkan.
“ Akhirnya selesai, sekali lagi maaf ya, Pak. Gara-gara anakku rumah Bapak , hancur….”
“ Gapapa kok, Nak.”
“ Makasih, Pak.”
Pria tua itu hanya mengngangguk saja sambil tersenyum melihat rumah baru yang ia miliki.
Setelah itu sesampainya uu rumah hujan turun deras, hembusan angin yang sangat kencang seperti badai kami menghangatkan diri di ruang tamu.
“ Apa Melani sudah tidur?” Tanyaku, bisik ke Laila.
“ Udah kok Rehan.”
“ Laila…, boleh nggak aku….”
“ Boleh kok, nikmatin aja.”
“ Makasih Laila.” Mengambil Coklat panas yang ada di meja kecil.
“ Gimana enak nggak?”
“ Enak kok, tumben enak biasanya pahit.”
“ Ahk, dasar Rehan,” Cemberut.
“ Maaf-maaf.”
“ Malam ini dingin ya….” Menggigil.
“ Butuh yang hangat, ya….” Memeluk Laila dari belakang.
“ Duh…, lepaskin donk. Rehan….”
“ Nggak mau .”
“ Duh… Rehan….”
“ Papah… Mamah….”
“ Eh, Melina.” Terkejut melihat anaknya yang tiba-tiba keluar dari kamar.
“ Mamah… minta enen.” Rengngek Melina.
“ Tuh melina udah bangun.” Ujarku . membaca Koran.
“ Yaudah, selamat tiur Rehan saying….” Ledek Laila.
“ Duh, Laila.” Gemes kesel.
Namun semua cerita bahagia itu berakhir setelah desa kami menjadi tempat pertempuran antara dua Kerajaan, banyak warga desa kami yang menjadi korban istri dan anakku juga menjadi korban peperang rumah kami tiba-tiba terbakar habis, hanya aku yang selamat karena kekuatan ku ini.
“ Laila !!! maafkan aku aku tidak bisa memenuhi janji ku, aku tidak bisa melindungi mu dan anak kita, maafkan aku… maafkan aku… maafkan aku….”
Ucapku meratapi kepergian mereka berdua.
“ Tidak akan aku maaf kan kedua kerajaan ini akan aku hancurkan semuanya !!!!!!!” teriak ku.
# Episode 7
CHEATER VS UTUSAN SURGA
DAN
GM ( GAME MASTER )
“ system eror – system eror – system eror” perintah di kedua mataku yang berubah menjadi Red screen mode eror, semua kekuatanku meluap-luap menghancurkan daerah sekitarku dan akhirnya menjadi sebuah kawah besar yang lu beri nama kawah neraka.
“ Keluarlah para iblis !!!” Kebencian dan balas dendam sudah mengambil alih pikiranku.
Banyak iblis yang keluar dari kawah tersebut dan tunduk terhadap perintahku perlahan-lahan kawah yang ku buat sudah di penuhi oleh berbagai macam iblis, bahkan sampai raja iblis dan sang penjaga
neraka dapat aku panggil dengan ke kuatan ku saat itu aku bisa menghancurkan dunia tersebut namun para utusan surga tidak tinggal diam dengan tindakanku.
Utusan surga , mereka menyegel dan menghancurkan para iblisku.
“ Monster vonum serang!!! Hancurkan semuanya!!” teriakku, penuh emosi.
“ Jangan kau kira bisa mengalahkan pertahanan pasukkan kami.” Tegas, salah satu utusan surga. “ Pasukan formasi BANTENG HITAM !!!” teriak sang kaisar kerjaan Mawar hitam.
“ Aku tidak akan meremehkan lawanku tapi aku juga tidak akan mau kalah!!”
“ Pertaruhkan nyawa kalian demi kerajaan Mawar hitam, sampai titik darah penghabiskan!!!” Seru sang kaisar kerajaan Mawar hitam.
“ Pertahanannya sangat kuat, aku harus cari celah untuk membubarkan formasi mereka.” Pikirku, memikirkan sebuah siasat.
“monster long hand bantu monster vonum hancurkan pertahanan mereka!!!” perintahku. “ kali ini pasti akan hancur formasi pertahanan mereka, dengan lengan long hand yang panjang dan kuat, aku sangat yakin,” Sambungku.
“ AAARRRGGGHHH!!!” Teriak monster Long hand.
“ Sialan tameng kita hancur, bertahanan ini sudah tidak bisa I pertahankan.” Ujar salah satu prajurit.
“ Jangan menyerah Tunjukkan kemampuan kita!!” seru sang Kaisar, memberi semangat.
“ Sekarang monster hands sword terobos masuk dan bunuh semua prajurit mereka!!!” Perintahku lagi dengan penuh setrategi dan semangat.
“Argh… Argh….” Suara monster hanads sword.
“ Ahk… Kaisar tolong… tolong…tolong…,” Teriak para perajurit .
“ Sialan aku tidak bisa berbuat apa-apa.” Gumam sang Kaisar, melihat perajuritnya terbunuh I epan matanya.
“ Hahahaha.” Tertawa jahat.
“ Sebagai utusan surga, aku mohon berikan aku bala bantuan selamatkan para perajuritku!!” Teriak sang Kaisar, menatap langit.
Dengan panggilan salah satu utusan surga dua orang utusan surga datang membantu, namun sepertinya aku mengenal salah satu utusan surge tersebut.
“ Terimakasih kalian sudah datang,” Ucap sang kaisar.
“ Tidak perlu sungkan, kita sama-sama utusan surga, kita harus saling melindungi.” Ujar salah satu utusan surga yang datang.
“ Fiona? Kenapa kau ada disini?” Tanyaku, terkejut melihatnya masih hidup.
“ Ya, Rehan aku masih hidup, aku selamat karena kontrak utusan surga kami di kembalikan dari akhirat ke bumi untuk menghentikanmu.
“ Apa kau mengenalnya?” Tanya sang Kaisar.
“ Dia teman sahabatku tersayang.”
“ Apa kamu yakin akan menghentikannya?”
“ Ya tentu saja, aku akan menghentikannya demi Laila dan Melina.”
“ Laila dan Melina sudah mati!!!” Teriakku.
“ TApi kenangannya masih hidup didalam hati kami para penduduk desa.”
“ Hentikan ocehanmu itu! Bunuh mereka semua para monsterku!!!” Auranya memanas membara seperti api yang bergejolak.
“ Satukan kekuatan kita! Kita hentikan dia bersama-sama.” Ujar Fiona. Dengan semangat yang membara juga.
“ Cahaya matahari, dengan segala cahayanya, jadikanlah engkau sumber kekuatan kami , bantulah kami menerangi kegelapan ini, terangilah dengan seterang terangnya, Flash Light!!!” Ucap mereka bertiga melafalkan mantra.
“Sepertinya aku harus turun tangan.”,
“ Black houl, terseraplah kalian semua!” Sambung ku.
Kekuatan kami beradu menimbulkan ledakan yang dahsyat membuat tanah bergetar, langit gemuruh, kilat-kilat menyambar, hebusan angin menerjang dengan kencang, sekeliling kami hancur seketika.
“ Ternyata kalian kuat juga ya,”ujar ku.
“ Levi, lindungi aku, aku akan mengumpulkan energy alam sebanyak mungkin.” Perintah Fiona ke Levi sang utusan surga yang bersamanya.
“ Lingkaran Shield ya….” Serasa di remehkan.
“ Sial, energy sihirku sudah mau habis,” Gumam Levi.
“ Aku akan membantu,” Ucap sang Kaisar.
“ Dengan ini kita bisa membangkitkan Piramid Shield.” Ujar Levi.
“ Bersiaplah Kalian !!!” Teriakku.
“ Kami tidak akan kalah disini!!” Teriak Levi, Dengan lantang.
“ Earth quake!!” Skilku ini menciptakan gempa bumi seperti gempa yang bersekala besar.
“ Apa dia yang menciptakan gempa bumi sehebat ini,” Tanya sang Kaisar.
“ Ya kekuatannya melebihi kita para utusan surga,” Jawab Levi. Tubuhnya bergemetar menahan goncangan gempa tersebut.
“ Masih belum menyerah ya….”,
“ Akan aku kasih bonus, Meteorid Attack!!” Sambungku menggunakan skill ku berikutnya.
Meteor berjatuhan menimpa dunia ini, namun Piramid Shield masih bisa bertahan, Menahan Serangan dari Rehan.
“ Sebernarnya seberapa tebal lapisan perlindungnya.” Ujarku.
“ Pelindung ini memiliki ketebalan jarak antara dunia Evarius dengan Langit,
( jaraknya sama seperti bumi dan langit ).
“ Sepertinya aku harus mengeluarkan skill tingkat tinggi beberapa kali lagi agar perisainya hancur.” Gumamku, menyusun semua coding di mata ku secara spontan.
“ Aktive skill bencana, Tornado, Earth quake, Meteorid attack, Sambaran kilat, Tusukkan hujan ice. Hhhiiyaahh!!!” Teriakku, sangat lantang membuat mental lawan gemetar.
“ Kekuatan maksimum Piramid Shield. Up!!!” teriak levi dan sang Kaisar.
BLLEEGGEERR!!! ( suara Guntur )
Setelah suara Guntur berbunyi, Sembilan puluh enam utusan surga berkumpul di atas sekitarku, di tambah tiga yang di bawah dan satu Game Master memimpin mereka.
“ Hentikan tingkah bodohmu itu Rehan.” Ucap GM.
“ Pria kuping kelinci ternyata GM toh.” Gumamku.
“ Sudah lama ya tidak berjumpa, pria berkuping kelinci.” Ujarku dengan santai.
“ Ahahaha, andai kita tidak bertemu di sini akan aku sediakan the untukmu.” Ucap GM, santai.
“ Ya, tapi kita bertemu di medan perang ini sang GM!”
“ Kekuatanmu masih belum cukup, Rehan.”
“ Aku sudah merasa lebih dari cukup untuk mengalahkan kalian semua.” Jawabku dengan sombong.
“ Kesombonganmu itulah yang pasti akan mengalahkanmu.”
“ Di sini bukan tempatnya untuk ceramah menasehatiku.”
“ Kau seperti anak nakal ya, aku akan menghentikanmu sebagai ayah di dunia ini.”
“ Siapa yang sui memiliki ayah sepertimu.”
“ Rasakan ini thunder shoot!!”
PPPSSSTTT…… ( suara halilintar yang langsung hilang ketika menyembar sang GM )
“ Kau pasti pernah menjadi GM di game yag kau buatkan, begitulah rasanya aku disini.”
“seranganku bisa langsung di batalkan inikah kekuatan sang GM .” Gumamku.
“Bagaimana, apa kamu mau menghentikan ini semua?” Tawarnya dengan lembut.
“ Sialan!! Kalian hanya menghalangiku saja!” teriak ku kesal.
“ Kau hanya seorang cheater, Kau! Tidak akan bisa mengalahkan kami para utusan tuhan dan GM!” Balik teriak. Tegas.
“ Cih, akan ku buktikan kekuatan ku!!!”
“ Dasar akan kami buktikan perbedaan kekuatan antara kau dan kami!” Menunjukku dengan nada kasar. “ non-aktive mode red screen.” Sambungnya.
“ Sial-sial-sial… mataku tidak bisa melihat apa-apa.” Sambil menutupi mataku dengan tangan.
“ DAlam mode red screen mata kamu tidak akan bisa melihat, Rehan!! Bagaimana apa kau sudah menyerah sekarang!.” Ujar sang GM.
“ Aku tidak akan pernah menyerah, tidak akan pernah!!” teriakku meyakinkan diriku yang sedang kesakitan.
“ Dasar keras kepala.” Gumam sang GM.
“ Aku adalah seorang programmer, aku mengerti setiap apapun yang terlihat di mataku, tapi kenapa aku tidak bisa menyimpulkan, apakah ini hak kuasa sang GM.” Gumamku.
“ Program active, delete base program bug, hancurkan semua kesalahan, perbaiki setiap kesalahan, karantinakan setiap kesalahan, Start!!!” kata-kata yang di ucapkan sang GM.
“ Permbersihan data, aku harus cari celah setidaknya aku bisa selamat untuk saat ini.” Pikirku.
Kekuatan para utusan surga mereka masih terus memojokkanku, sampai aku kehabisan kekuatanku, kekuatan mataku dan akhirnya aku di segel oleh 99 utusan surge dan GM di sebuah bohon yang sangat besar dengan kekuatan fiola yang telah ia kumpulkan, ia membaginya ke seluruh utusan surga atas ijin sang GM untuk membangun kembali dunia ini..
Setelah itu Seluruh pasukkan iblisku kabur membentuk kelompok mereka sendiri kerajaan mereka sendiri dan kekuatan utusan surga sudah lenyap setelah menyegel ku.
#Episode 8
GADIS PILIHAN SANG TAKDIR
Setelah 527 tahun aku tersegel di dalam sebuah pohon tua yang kekal, di sebuah kerajaan sedang mengadakan uji kemampuan untuk masuk ke sebuah akademi kerajaan.
Ada seorang gadis kecil berusia 15 tahun yang mulai beranjak dewasa ia sedang mengikuti uji coba namun di setiap ujiannya selalu gagal dari memanggil monster sampai uji kompetensi.
Tanpa sadar gadis itu yang selalu menyiram pohon yang menyegelku ia mempelajarinya dari generasi yang lalu salah satu keturunan utusan surga, teman dekat istriku yang selamat menjadi utusan surga. Rasa sayangnya kepada Laila bisa ia rasakan sama seperti ku.
Kini setelah ia meninggal generasi selanjutnyalah yang meneruskan tuganya menyirami pohon yang menyegelku, walaupun tanpa di siram pohon ini tidak akan rusak ataupun mati.
Setelah sekian lama akhirnya perlahan-lahan aku bisa merasakan hawa luar, mendengar suara kicauan burung, suara seorang anak kecil yang meranjak dewasa. Anak itu bernama Liana atau biasa di panggil Lia umur 17 tahun yang masih gagal masuk ke akademi kerajaan dengan wajah yang sangat cantik namun sangat bodoh, tetapi kebodohannya itu dapat ia tutupi dengan sifatnya yang baik terhadap sesama.
“ Menurut buku yang aku baca di perpustakaan disini tersegel monster manusia yang sangat kuat, mungkin dengan ini aku bisa lulus dan masuk ke akademi kerajaan.” Ucap Lia sambil membuat sebuah lingkaran sihir dengan kapur dan air suci. “ Sekarang tinggal darah ku.” Ia melukai tangannya dengan belati hingga darahnya mengalir deras ke lingkaran sihir tersebut.
“ Dunia bawah tanah , dunia atas langit menjadilah satu menjadi sebuah tumpuan, mengabungkan seluruh kekuatan ku saya panggil iblis terkuat yang ada disini bangkitlah, atas nama utusan surga bangkitlah!!!” mantra-mantra untuk membangkitkan ku. Dengan darah keturunan utusan surga pohon yang menyegelku peerlahan-lahan melemah dan terbukalah sebuah pintu di tengan pohon yang sangat besar itu.
“ Akhirnya aku dapat keluar, apa kamu yang mengelurkanku?”, “ Dengan segel di tangannya dia pasti tuan yang memanggilku,” Pikirku.
“ aku… berhasil memanggil monster … heebaaAAT!” ujarnya dengan penuh bangga.
Dengan posisi duduk seperti seorang pelayan yang melayani tuannya aku ulurkan tanganku kepadanya, diapun merespon dengan menerima uluran tanagn ku sambil tersenyum, senyuman yang sama seperti Laila.
Setelah itu dia mengajak ku keliling kota, membeli pakaian dan senjata yang cocok untukku, “ ohya, siapa nama tuan? maaf kalau lancang,” Tanyaku.
“ Gapapa kok, nama ku Liana.”
“ Namaku Rehan.”
“ Salam kenal Rehan.” Sambil menggenggam tanganku.
“ Ya, salam kenal juga.” Tersenyum.
“ Duh…, Lia mirip banget kayak Rem, bedanya cuman rambutnya berwarna hitam sama seperti Fiona yang memiliki rambut putih panjang,” Gumamku, menatap tajam wajah Lia.
“ Apa ada yang salah dengan wajahku?” Tanyanya bingung,tersipu malu.
“ Nggak ada apa-apa kok.”
“ Syukur deh….”
Setelah sekian lama aku tersegel, aku seperti terlahir kembali dengan kekuatanku yang tidak sekuat dulu. Dengan kenangan-kenangan indah dan suram sebagai pengalaman ku untuk menjadi yang terbaik untuk ke depannya.
#Episode 9
UJIAN MASUK AKADEMI
Esok adalah hari ujian penerimaan peserta baru yang ingin masuk ke sekolah akademi kerajaan.
“ Besok adalah ujian masuk akademi kerajaan, apa kamu mau membantuku?” Tanya Lia.
“ Ya tentu saja karena aku adalah monster yang kamu panggil.” Jawabku dengan lembut.
Ntah sejak kapan aku mengerti akan semua hal yang baru ini semua informasi masuk ke otakku seaakan-akan memberi tahuku semua hal yang ada di dunia ini.
Keesokan harinya di dalam sebuah turnamen uji coba kemampuan aku melihat banyak pengguna sihir yang sangat hebat berdatangan, dari tekadnya yang kuat kekuatan dank e tamakkan yang mengisi tempat ini membuat ku sangat tertarik.
“ Apa kamu gugup?” tanyanya.
“ Ya tentu saja, ini pertama kalinya aku ikut pertandingan seperti ini.” Jawab ku.
“ Gak usah khawatir kalau kamu kalah gapapa kok, aku udah biasa menghadapi kekalahan.” Ujarnya, membuatku sedikit lebih tenang.
“ Selanjutnya seorang Anak yang gagal selama 2 tahun berturut-turut ini dia Liana !!!” teriak sang komentator.
“ Uhh… sial, ini sungguh memalukan.” Gumam Laila.
“ Apa kamu baik-baik saja Lia?” tanyaku.
“ wah… kamu memanggil namaku tidak memakai tuan.” Ucapnya merasa lega.
Lawan ku adalah penerus kerajaan tetangga, kerajaan paling sombong akan kekuatan militer yang meraka punya, namanya Reno dengan iblis naga halilintar yang pernah aku panggil dulu, namun naga ini masih sangat lemah di bandingkan naga yang pernah aku panggil. Ini pasti akan sangat mudah, aku pasti akan membantunya meraih kemenangan yang selalu ia banggakan sejak lama, dengan kekuatanku ini.
“ pertandingan dimulai!!!” ucap komentator.
“ Rehan, jangan memaksakan diri,” Ucap Laila.
“ Ya.” Jawab ku.
“ Ayo serang dia nagaku!!” perintah reno.
GRRRUUAAAARRR ( erangan naga )
“ Wow, monster milik Lia bisa menahan serangan naga dari reno sang Eksekutor kerajaan Matahari Merah.” Ujar sang komentator.
“ Bagaima mungkin dia bisa bertahan dengan seraangan halilintar dari nagaku tanpa perlindungan sama sekali.” Pikir reno yang kebingngungan.
Dengan menyentil saja aku sudah bisa mengahncurkan tempat turnamennya dan mengalahkan naga halilintar itu, “ Sepertinya aku berlebihan,” Pikirku merasa bersalah, namun tiba-tiba Laila memelukku dari belakang.
“ Kita menang Rahan…” ucapnya demgan nada sedih bahagia.
“ Ya.”
“ Boleh aku tidur sejenak?” Tanyaku, rasanya seperti mau pingsan.
“ Ya.”Menangkapku hingga aku tidak jatuh ke lantai pertandingan.
“ tidak di duga kekuatan monster yang dipanggil Lia sangat hebat, ini di luar dugaan, dari mana Lia mendapatkannya, pasti sangat sulit untuk memanggil monster sekuat itu!” Teriak sang komentator.
“ Aku sangat ngantuk,” Ucapku tertidur di pelukkan Lia.
“ Kamu sudah berusaha dengan baik,” Ucapnya, memberikan pangkuan utuk bantalanku tidur dengan pahanya.
“ Rasa empuk ini sama seperti yang pernah aku rasakan ketika bersama Laila,” Gumamku dalam mimpi.
Ketika aku bangun aku melihat ada gundukan besar di depan mata ku yang menekan kepalaku, “ duh apa ini kenyal-kenyal,” Memegang gundukan itu.
“ Eh… aaaAAKKKKHHHH !!! REHAN MESUM !!!” Teriak Lia menjatuhkanku dari pangkuannya.
Bruk!! ( suara aku terjatuh )
“ Aduduh… kepalaku sakit.” Sambil memegang kepala yang terbentur lantai.
“ Dasar Rehan…!” teriak Lia.
“ Maaf-Maaf, aku tidak sengaja,” Ucapku memohon.
“ Yasudah deh, ohya Rehan aku boleh nanya sesuatu gak?” Tanya Lia.
“ Boleh kok emang mau nanya apa?” Balik Tanya.
“ Kenapa kamu selalu tidur setelah pertarungan dan sesudah latihan, apa kamu akan tidur terus-terusan?” tanyanya.
“ Mmmm… kalau itu efek dari kekuatanku, aku tidak bisa menahan rasa kantukku selama ini,” Jawabku.
“ ouh… gitu ya.”
“ Ya.”
Setelah itu kami kembali pulang ke rumah, keluarga Lia sangat baik kepadaku walaupun aku ini hanya monster, sifat baiknya Lia adalah warisan ajaran dari keluarga dan nenemoyangnya.
“ Apa kamu lapar?” Tanya Lia.
“ Ya. Laila.” Jawabku.
“ Laila?” ucap Lia keningungan.
“ Maaf-maaf maksud saya Lia,” Timpal Rehan, Menyela pertannyaan Lia.
“ Oh oke mau aku masakkin?” tawar Lia.
“ Mmm… nggak ah, masakkan kamukan gak enak,” Mengejek Lia, dengan muka sinis.
“ Ahk…! Rehan bodoh, masakkan aku enak, cuman bumbunya aja yang berlebihan,” Ujar Lia kesal, sambil memukul-mukul punggungku.
“ Maaf-maaf,” Kami tertawa bersama-sema setelah itu dan akhirnya aku yang harus memasak makanan sendiri sedangkan Lia tertidur di sofa di ruang tamu.
Keesokan harinya aku kembali mengikuti pertandingan uji coba, kali ini lawanku adalah Zoro dari kerajaan MutiR Hitam, dengan monsternya
“ Aku berangkat dulu, dadah Bunda… Ayah.…” ucap Lia sambil beralri meninggalkan rumah.
“ Tolong jaga putrid kami ya, aku percayakan keselamatan putrid kami ke kamu,” Ucap Ayahnya Lia.
“ Ya, tentu saja,” Jawabku. Langsung lari mengejar Lia.
“ Rehan kok kamu ikut sih?” Tanya Lia.
“ Sudah kewajibanku untuk melindungimu, diamana pun kamu berada.” Jawabku.
“ Ahk… dasar Rehan.” Ucapnya mencubit pipiku yang lesu. “ Kamu kurang tidur ya? Wajah kamu gak secerah pertama kali kita bertemu.” Tanya Lia.
“ Iya.”
“ Biasanya kamu tidur berapa lama?”
“ 527 tahun.”
“ Hah! Selama itu, kamu becanda ya?” tidak percaya dengan ucapanku.
“ serius kok.” Menegaskan ucapanku.
“ Yaudah kamu tidur aja pas aku lagi belajar.” Tawarnya.
“ Oke.”
“ Maaf ya, malah ngerepotin kamu.” Ucap Lia.
“ Gapapa kok.”
“ Ayo buruan sebelum telat.” Ujar Lia berlari meninggalkanku.
“ Di sinilah aku akan membuka lembaran baru, semoga kamu tenang di alam sana Laila istriku tercinta dan Marlina Putriku tersayang.” Gumamku menatap langit.
#Episode 10
PERTEMUAN DENGAN SANG ANAK
Beberapa saat kemudian ketika jam pelajaran. “ Gak kayak gini juga kali!” teriak Lia melihat Rehan yang tidur di pahanya.
“ Lia harap tenang.” Ucap guru yang sedang menjelaskan pelajaran tentang ilmu sihir.
“ Liat mereka seperti pasangan gitu loh, cinta antara monster dengan tuannya.” Bisik teaman di bangku sebelah Lia.
“ Duh Rehan ini hari pertama ku sekolah di akademi, udah bikin masalah saja.” Gumam Lia. Pasrah dengan kelakuanku.
“ Hari ini, aku di tugaskan untuk membimbing kalian mengikuti tes di lingkungan luar,” Ujar guru yang mengajar pelajaran ilmu sihir.
“ Maaf bu, apa naanti kaami di bombing pasukan inti?” tanya salah satu murid.
“ Ini cuman uji coba biasa jadi kita tidak perlu pendamping pasukan inti.”
“ Kalau ada monster tingkat tinggi menyerang, bagaimana bu?”
“ Dasar, kan. Ada ibu.”
“ Oke, bu.”
“ Ouy Lia,” Sapaku, bisik.
“ Ya, adaapa?”
“ Apa kamu mau ikut tes tersebut?” tanyaku ragu.
“ Iya, kan. Ada kamu, tolong lindungin aku ya.”
“ Duh, malah bikin repot, aku lanjut tidur lagi saja deh.”
“ Rehan..!!” Lia kesal.
“ Oke-oke, aku akan bantu.”
“ Makasih, Rehan.”
“ Ngomong-ngomong, paha lengket, nih….”
“ Kamu ngeces, ya.”
“ Hehehehe….” Tertawa kecil.
“ Ahk, Rehan….” Kesal.
Teman-teman Lia hanya tersenyum-senyum, guru yang mengajar juga langsung memukul meja untuk menenangkan kembali situasi di dalam kelas.
“ Semuanya harap tenang, kita akan langsung ke tempat latihan!” teriak guru yang mengajar.
“ Siap! Bu.” Ujar semua murid di kelas.
Di tempat latihan Lia membersihkan pahanya dan memakai stocking buat jaga-jaga. Sedangkan aku tertinggal di dalam kelas.
“ Huuee.. tumben gak berisik~” Ucapku, ngelindur.
“Lia, ayo kita gabung dengan yang lain.” Ajak Silvi, teman dekat Lia. Silvi itu mirip dengan Hatsune miku memiliki kuncir dua dengan wana rambut berwarna hitam dan badannya yang gak terlalu berisi, matanya berwarna hitam manis.
Di sunia ini, warna rambut tidak begitu aneh-aneh, cuman ada warna hitam, putih, pirang dan coklat.
“ Baiklah anak-anak, kita akan langsung masuk ke dungeon forest.”
“ Siap, Bu.”Ucap mereka.
“ Lia, Kamu merasa takut nggak,” Bisik Silvi.
“ Mmm… Lumayan sih….”,
“ Tapi, selama Rehan ada aku nggak begitu takut.” Sambungnya.
“ Enaknya,” Ledek Silvina.
Setelah itu Kami masuk ke Dungeon forest, di dalam mereka langsung di sambut monster-monter tingkat rendah seperti monyet api, babi hutan, ular beracun dan beberapa serangga kecil lainnya.
Beberapa jam kemudian semuanya terlihat kondusif. Namun, ketika Mereka memasuki pusat Dungeon forest masalah mulai berdatangan, Monster tingkat menengah mulai menyerang dalam jumlah yang banyak, sang guru langsung membuka portal kembali sebelum terjadi sesuatu yang tidak ddi inginkan.
“ Bagaimana ini bu?” tanya salah stu murid, ketakutan.
“ Tenang saja, ibu ada disini. Ibu tidak akan membiarkan mereka melukai murid-muridku.” Menegaskan.
“ Ibu keren.” Para murid terkagum-kagum dengan ucapan Gurunya.
“ GATE!!!”, “ Cepat kalian semua masuk ke sini ibu sudah menghubungkannya dengan akademi kerajaan!” sambungnya.
“ Yang merasa laki-laki lindungi siswi perempuan sampai selesai evakuasi!!” Teriak ketua kelas, namanya Bang, dengan rambut yang tak begitu rapi dengan mata berwarna biru.
“ Baik, ketua kelas,” Ucap Murid laki-laki.
Mereka melindungi murid perempuan dengan sekeras tenaga mereka, Namun sekeras apapun mereka mencoba, kemampuan dan kapasitas energy mereka masih belum cukup untuk bertahan lebih lama.
“ Rehan aku mohon, datanglah….” Permohonan Lia yang masih beradda di dalam DDungeon forest.
“ Eeeh, Lia.” Terkejut seperti mendengar suara Lia. “Kenapa di sini sepi banget.”Sambung pikir Rehan, kebingungan.
“ Rehan….” Suara batin Lia.
“ Jadi ini ikatan batin, peliharaan dengan tuannya,” Pikirku. “Sepertinya Lia dalam bahaya, aku harus segera ke sana, Teleport.”
Dengan seketika aku langsung ada ddi samping Lia.
“ Ada yang bisa saya bantu, Tuan putri Lia.?”
“ Rehan terimakasih udah dating.” Langsung memelukku.
“ Aku di kacangin padahal udah keren-kerennya,” gumamku. “ Jadi ada apa nih?” Sambung tanyaku.
“ Tolong bantu murid laki-laki, bantu mereka, aku mohon.” Membungkuk memohon.
“ Tegaklah Lia, Engkau tidak pantas membungkuk ke hamba, aku siap membantu mereka.”
“ Terimakasih, Rehan….”
“ Lihat, itu Rehan, peliharaan Lia.”Bisik Murid laki-laki.
“ Kalian mundurlah bantu Teman kalian yang terluka.” Perintahku.
“ Baiklah, mohon bantuannya.” Ujar ketua kelas.
“ Kalian semua berhentilah berbuat onar.” Ucapku perlahan di depan para monster yang sedang mengamuk.
“ Maafkan kami tuan, kami hanya mempertahankan wilayah kami.” Ujar mereka dalam komunikasi batin yang hanya di mengerti olehku saja.
“ Kembalilah ke markas kalian, kami akan kembali ke akademi sekolah.” Ujarku. Berbalik kembali.
“ Baiklah tuan, kami pergi. Semoga tuan sehat selalu.” Pergi meninggalkan kami.
“ Hebat para monster langsung pergi, sebenarnya siapa Rehan sebenarnya.” Ujar murid laki-laki yang melihat kejadian tersebut.
“ Terimakasih banyak, sudah melindungi teman-teman ku dan yang lainnya.” Ujar Ketua kelas.
“ Tidak apa-apa kok ini sudah kewajibanku.”
“ Rehan…!!!” Teriak Lia berlari mendekatiku.
“ Ehh… perasaanku jadi gak enak.” Gumamku merinding.
“ Papah…!!!” teriak anak kecil berlari lebih cepat dan memelukku.
“ Ehh…,” Terkejut.
“ Papah…. Papah….” Merengek.
“ Tunggu-tunggu, Mmm… kamu siapa, ya?” Melepaskan dari pelukkanku.
“ Papah… ME-LI-NA .” Tersenyum.
“ Melina?”, “ Iya sih, Senyumannya mirip Laila, Matanya mirip aku, bola matanya gak ada cahaya, suram hitam. Terlebih lagi hawa membunuhnya hampir sama denganku, tapi Melina sudah mati 528 tahun yang lalu? Apa mungkin ini hanya iblis yang menyerupai anakku?” Gumamku, tercampur antara bahagia dan was-was.
“ Papah?!” Seru Lia, bingung.
“ Kalau di pikir-pikir, emang mirip banget. Untuk sementara, aku akan mencoba mempercayainya,”Pikirku, menatap wajahnya.
“ Papah, aku kangen Papah….” Ujarnya.
“ Papah juga kangen Melina.” Menggendong Melina dan berputar-putar seperti gangsing.
“ Tunggu-tunggu, jadi kamu sudah punya anak ya?” tanya Lia masih merasa sangat bingung.
“ Sebenarnya sih… iya,” Jawabku, sedikit ragu.
“ Ohya, kalau kamu memang Melina, Sebernarnya apa yang terjadi, kenapa kamu bisa hidup lagi?”
“ Apa, papah nggak percaya kalau aku Melina, anak papah?”
“ Bukan seperti itu, aku cuman ingin tau saja.”
“ Ntah, aku juga tidak begitu ingat tapi kata ibu tiriku , aku di temukan bersama bekas tubuhku yang lama, seperti ular yang berganti kulit.” Jelasnya, meyakinkanku.
“ Berganti kulit ya, Tidak-tidak itu bukan berganti kulit, tapi regenerasi sempurna, kulit yang terbakar akan di buang dan melahirkan kulit baru, apa perlu aku buktikan” pikirku, penasaran dengan apa yang di jelasin Melina.
“ Papah….”
“ Melina, apa kamu percaya sama papah?” tanyaku, memegang pundak Melina.
“ Melina, percaya papah kok.” Tersenyum manis, namun tiba-tiba tangan kanannya terpotong terlepas.
“ Maafkan papah Melina.”
“ AAAaaaaKKKHH!!!” Teriak Melina kesakitan.
“ Melina!!” Memeluk anaknya.
“ Papah, tangan Melina….”
“ Percayalah pada papah, Nak.”
“ Iyah.”
Tangan yang terlepas itu menguap dan perlahan-lahan menghilang. Tangan Melina yang terpotong seketika tumbuh kembali dengan cepat dan sempurna.
“ Tangan aku pah… bisa di gerakkin pak lagi, Papah…..!”
“ Ternyata benar kekuatanku di wariskan ke anakku, jadi dia benar-benar anakku Melina.” Memeluk Melina sekuat mungkin, serasa beban di hatiku menghilang perlahan-lahan, rasa bersalahku serasa mulai ringan.
“ Papah… sakit.” Ujar Melina, tertekan.
“ Maaf-maaf, papah rindu sama Melina.” Mengusap air mataku yang menetes.
“ Papah jangan nangis donk, nanti mama nangis juga loh….” Memegang pipiku.
“ Iya, papah nggak nangis kok.”
“ Papah….”
“ Duh, mengharukan.” Ujar Lia.
“ Papah dia siapa?”
“Dia tuan putri Lia.”Ujarku. “ Dia sama kayak mamah baik kok,” bisikku ke Melina.
“ Inget papah, Jangan hianatin mamah loh, ntar mamah marah loh,” Balas Melina, berbisik.
“ Iya Melani.” Tersenyum.
“ Rehan, Sudah waktunya kita kembali pulang. Sekolah udah di bubarkan.” Ujar Lia.
“ Papah…”
“ Lia, Boleh aku bawa Melani?”
“ Tentu saja.” JAwabnya, tersenyum.
“ Makasih kakak.” Memeluk Lia.
“ Duh, Lucunya~” Pikir Lia.
Setelah kejadian itu, Melina menginap bersamaku di rumah keluarga Lia, keluarga mereka bertambah satu dan meraka terap menyayangi Melina seperti anak mereka sendiri.
#Episode 11
ULANG TAHUN SANG PUTRI
Di malam hari, aku duduk di teras atas rumah, sambil memandang bintang yang indah.
“ Melina….”
“ Iya, Pah….”
“ 528 tahun kamu di rawat siapa?”
“ Oh…., Tante Hilda dan aku mengnganggapnya ibu tiriku pah….”
“ Tante Hilda itu siapa ya?”
“ Ibu tiri aku tante Hilda dan tante Hilda itu iblis yang merawatku, iblis siluman rubah, dan juga menurutku tante
Hilda itu Ratu dari seluruh iblis siluman rubah.”
“ Bahasanya masih belum bisa aku pahami semuanya. padahal sudah 530 tahun usianya, tapi pemikirannya seperti anak kecil dan tubuhnya juga masih anak kecil,” Pikirku.
“ Apa boleh, papah bertemu ibu tiri kamu?” Tanyaku duduk di depan Melina.
“ Tentu saja pah, Tante Hilda paste senang.”
“ Heh, kok senang sih?”
“ Iya, soalnya Tante Hilda selalu bercerita tentang papah.”
“ Cerita?”
“ Iya, pah. Kayak gimana papah bertarung, terus ketegasan papah memimpin pasukkan ib-“ menimpa ucapan Melina, “ Syuuut….”
“ Heh, kok gitu sih,” Ujar Lia.
“ Ohya, Melina udah makan belum?” tawarku.
“ Belum, pah.”
“ Yasudah, biar papah masakkin.”
“ Iya pah.”
“ Sekalian masak buat yang lain ya, Rehan,” Sela Lia. Muncul dari belakang mereka.
“ Iya, Tuan putrid Lia.”
“ Nah gitu dong,.”
“ Huh, Papah buat Melina dulu.”Sela Melina kesal, tidak di perhatikan.
“ Iya-iya papah buatin, buat kalian semua!” Teriakku.
“ Nak Rehan, jangan lupa masih banyak pembantu di rumah ini, jangan serakah masak sendiri,” Ujar Ayah Lia, muncul dari belakang mereka.
“ Ayah.” Sahut Lia.
“ Tentu saja, pak. Aku akan manfaatkan mereka sebaik mungkin,” Jawabku tegas.
“ Ahahahaha, kata-kata kamu terlalu menyeramkan, Nak Rehan.”
“ Maaf-maaf.”
“ Iya-iya, kerjakan semuanya sebaik mungkin, ya.”
“ Tentu saja, Pak.”
“ Ayah, perkenalkan ini Melina, anaknya Rehan.” Memperkenalkan Melina ke ayahnya. Namun wajah Ayahnya tiba-tiba suram.
“ Nak Rehan, Apa yang telah kamu lakukan dengan anakku!!!” Teriaknya membentak dengan keras.
“ Ayah…, ini bukan anakku dengan Rehan,” Sela Lia, meyakinkan ayahnya.
“ Lia nggak boleh seperti itu kalau itu anak kamu, kamu harus mengakuinya.”
“ Mamah…,” Sela Melina memanas-manasin suasana.
“ Tuh dengar, anak itu memanggil kamu mama.”
“ Tapi Pah, aku serius dia bukan anak aku.”
“ Mamah…. Mamah…. Mamah….”
“ Lia, kamu nggak boleh seperti itu.”
“ Melani bisa nggak jangan manasin suasana,” bisik Lia dengan wajah kesal.
“ Huwa… Kakek, Mamah jahat,” tangis Melina, bersembunyi di belakang kaki ayah Lia.
“ Lia!” Bentak Ayahnya.
“ Rehan, anak kamu nyeselin banget!!!” Teriak Lia prustasi.
“ Maaf Lia aku lagi sibuk, kamu urus sendiri dulu anak kita!!!” UJarku Tersenyum-senyum sendiri.
“ Yes, telepatiku dengan Papah berhasi,” Gumam Melina, tersenyum manis.
“ Tuh dengar Lia, Rehan saja mengakuinya masa kamu nggak,” Ujar Ayahnya.
“ Papah, nih….” Lari ke dalam kamarnya.
“ Lia!! Kamu mau kemana?”
“ Ke kamar.”
“ Sial, jangankan untuk melakukan seperti itu, di peluk rehan aja belum pernah,” gumam Lia, menutup kepalanya dengan bantyal.
“ Masa sih belum pernah,” ledekku membuka pintu kamar Lia.
“ Rehan!!!” TEriak lia, meleempar bantal ke arahku.
“ Eeet, nggak kena.”
“ Awas kau Rehan.”
“ Eat gak kena lagi.”
“ Reeehhaaannn!!!” Loncat ke arahku, sambil membawa selimut. Kebetulan Ayah Lia lewat dan melihat kejadian itu.
BRUK!!!
“ Aduduh, kepalaku pusing,” Ujar Lia.
“ Lia…Rehan!!!” Teriak ayahnya emosi.
“ Heh,” Pekik kami berdua.
“ Pah-pah bukan seperti itu, ini gak di sengaja, Pah.”
“ Bohong, Pak. Melina sengaja pak.”
“ Rehan!” Pekik Lia.
“ Kalau udah selesai kalian cepatlah ke ruang makan.” Ujar Ayahnya lekas pergi.
“ Jangan seperti itu donk, Rehan.”
“ Ahahahha.” Tertawa terbahak-bahak.
“ butuh bantuan?.” Menjulurkan tanganku.
“ Jangan becanda deh, setelah semua ini jangan kamu kira aku akan dengan mudah memaafkan mu.”
“ Bentar lagi juga pasti sudah maafin aku.” Tersenyum lebar.
“ Huh, dasar Rehan.” Meraih tanganku.
“ Hehehehe.”
Ketika mereka sampai di meja makan Lia sangat terkejut, di sekeliling raung makan banyak hiasan pernak-pernik, kualuarga dan para pembantu memakai topi ulang tahun.
Mendekati Lia sambil membawa hadiah, “ Selamat ulang tahun Kakak.”
“ Terimakasih Melina.” Jwabku.
“ Ini bukan buat papah ini buat kakak Lia.” Memalingkan pandangannya.
“ Wahh…, terimakasih Melina.” Ucap Lia, tersenyum manis.
“ SELAMAT ULANG TAHUN PUTRI KAMI YANG TERCINTA!!!” ucap Ayah dan Ibu Lia, sambil memeluk Lia.
“ Terimakasih, Ayah, Bunda.” Membalas pelukkan dengan erat.
“ Semoga panjang umur dan selalu bahagia, ya,” Ujar Ibunya.
“ dan juga semoga kamu cepat nikah biar kami dapet momongan cucu,” Sela ayahnya.
“ Iihhh, Ayah.”
“ Lia ini hadiah buat kamu,” Ucapku sambil memberikan sebuah sendok yang di bungkus kado.
“ Sendok?” Tanya Lia kebingungan.
“ Iya sendok. Maaf cuman bisa ngasih itu soalnya aku belum punyapenghasilan sepeserpun.”
“ Iya gapapa kok.”
“ Ahahaha, besok akan Ayah gaji.” Bisik Ayah Lia.
“ Makasih, Pak.”
Namun hari kebahagiaan mereka pudar, setelah beberapa iblis manusia buatan menyerang kerajaan mereka.
CRAAANG!!!
Kaca jendela pecah bersamaan pasukkan pengintai masuk dan mengepung kami.
“ Kalian mundurlah biar aku saja yang menghadapi mereka,” Ujarku.
“ Jangan bodoh kamu Rehan, mereka terlalu kuat untuk kamu hadapi sendiri!” Bentak Lia.
“ Dia tidak sendiri kok, akan ayah temani dia bertarung,” Sela Ayahnya. Melangkah maju bersama Rehan.
“ Hati-hati, jangan hancurkan barang di rumah ini!!” Teriak bundanya mencegah barang berharganya hancur.
“ Tenang saja bunda, kami akan menahan diri, iyakan Nak Rehan,” Ujar Ayahnya.
“ Ya, tentu saja.”
“ Ayo, kita mulai Nak Rehan!” posisi siap tempur.
“ Bunuh semua yang ada di istana ini, jangan sisakan Satupun!” Teriak pemimpin manusia buatan itu.
Perkelahian yang tidak bisa di hindari pun terjadi, ayahnya Lia adalah mantan jendral pasukkan mawar merah, kekuatannya sangat kuat dan terlatih, berbeda denganku kekuatannku sangat brutal dan tidak karuan. Walaupun aku seorang raja iblis, aku tidak pernah memikirkan tentang kesetabilan dan koefesiensian kekuatan, aku hanya memikirkan seberapa kuat kekuatanku dan seberapa hebat aku mengendalikannya.
Manusia buatan ini sangat merepotkan, mereka memiliki kemampuan yang berbeda-beda dan juga kekompakkan mereka dalam bertindak jauh di luar dugaan.
Pasukkan pengintai hanya membuat kami bingung serangan-serangan mereka, namun kombinasi ini sudah sangat hebat di bandingkan pasukkan ellite 500 silam.
“ Maaf kan aku tuan, kalau seperti ini terus kita tidak akan bisa melindungi mereka terus-menerus.”
“ Ya keadaannya semakin gawat.”
“ Melina apa kamu bisa menggunakn teleport?“
“ Ya, Papah aku bisa…,” Jawab Melina dengan suara lembut.
“ Bawa mereka semua ketempat tante Hilda!“ teriakku.
“ baiklah papah.”
“ Jaga diri kalian Bunda, Putriku.” UJar Ayahanya Lia.
“ Hati-hati ayah.” Ucap bunda Lia.
“ Akan kami tunggu di sana.”
“ Cepat menyusul ya, Papah!” teriak Melina , yang perlahan-lahan menghilang.
“ Mereka sudah pergi ayo kita beresakan yang di sini., Nak Rehan.!” Seru ayah Lia.
“ Akan ku bawa mereka keluar istana.“
“ Sisanya biar aku saja yang menghabisi mereka di sini.”
“ Aku percayakan mereka ke kamu, jangan sisakan satupun bunuh semuanya.” Dengan tatapan tajam.
“ Tentu saja, Tuan.”
Setelah itu mereka berpisah aku bertarung di luar istana dan mengamuk sejadi-jadinya, aura yang mengerikan membuat musuh ketakutan, manusia buatan yang tadinya hebat dalam serangan kombinasi sekarang malah jadi acak-acakkan, sepertinya mereka belum pernah melawan monster yang sangat kuat.
Pengalaman mereka masih belum cukup tapi pasukkan pengintai malah lari kabur, namun seperti yang di amanatkan kepada saya, akan ku bunuh kalian semua.
Pasukkan pegintai yang lari terbunuh satu-persatu. “ Apa kalian sudah menyerah.“ Menatap tajam.
“ Sial, tidak kusangka monster milik Lia sangat kuat dan berbahaya,” Gumam salah satu manusia buatan.
“ Jangan takut kita manusia buatan yang memiliki kekuatan yang tak terbatas!!!” Teriak sang pemimpin mereka.
“ Ya, kita adalah manusia buatan yang terbaik,“ Gumam para pasukkan manusia buatan.
“ Bagaimana ya, apakah yang di dalam sudah selesai?” Cemas.
“ Beraninya kau! memalingkan pandangan mu!!” Seru pemimpin mereka.
Wuzzz….
Syuut…..
Serangan yang di berikan pemimpin meraka dapat di hindari semua oleh Ku.
“ Akan ku keluarkan pukulan beruntun ku.“ Gumam Pemimpin mereka.
Duk… Dak … Duk … Dak….
( suara pukalan)
“ Apa ini batas kekuatan mu.” Ujarku.
“ Sial, ini adalah awal dari pukulan beruntun ku!” Jawabnya dengan mata melotot. “ Rasakan ini pukulan beruntun tingkat dua.” Sambungnya.
Duk… Dak … Duk … Dak….
Duk… Dak … Duk … Dak….
( suara pukulan beruntun tingkat dua )
“ Masih belum cukup, Pukulan beruntun tingkat tiga!” Ujarnya.
Duk… Dak … Duk … Dak….
Duk… Dak … Duk … Dak….
Duk… Dak … Duk … Dak….
( suara pukulan beruntun tingkat tiga )
“ Masih belum cukup! Pukulan beruntun tingkat empat.!!”
Duk… Dak … Duk … Dak….
Duk… Dak … Duk … Dak….
Duk… Dak … Duk … Dak….
Duk… Dak … Duk … Dak….
( suara pukulan beruntun tingkat empat )
“ Kecepatan pukulannya meningkat derastis, tekanan di setiap pukulannya sungguh hebat,” Gumamku, mengamati gerakkannya.
“ Masih belum kuat! Pukulan beruntun tingkat lima!!!”
Duk… Dak … Duk … Dak….
Duk… Dak … Duk … Dak….
Duk… Dak … Duk … Dak….
Duk… Dak … Duk … Dak….
Duk… Dak … Duk … Dak….
( suara pukulan beruntun tingkat lima )
“ Tubuhku seperti ingin meledak, tapi akan ku buktikan kekuatan manusia buatan yang sesungguhnya!“ Pikirnya. “ Pukulan beruntun tingkat akhir! Pythom smash!!!”
Duk Dak Duk Dak Duk Dak Duk Dak
Duk Dak Duk Dak Duk Dak Duk Dak
Duk Dak Duk Dak Duk Dak Duk Dak
Duk Dak Duk Dak Duk Dak Duk Dak
Duk Dak Duk Dak Duk Dak Duk Dak
Duk Dak Duk Dak Duk Dak Duk Dak
Duk Dak Duk Dak Duk Dak Duk Dak
Duk Dak Duk Dak Duk Dak Duk Dak
Duk Dak Duk Dak Duk Dak Duk Dak
Duk Dak Duk Dak Duk Dak Duk Dak
Duk Dak Duk Dak Duk Dak Duk Dak
Duk Dak Duk Dak Duk Dak Duk Dak
( pukulan beruntun tingkat akhir pythom smash )
Setelah itu tubuh manusia buatan itu meledak, membuat manusia buatan yang lain makin ketakutan.
“ Fuh, gila kekuatan pukulannya luar biasa.”
“ Tangannya tidak terluka sama sekali sebenarnya siapa dia? Apa bener-bener monster tingkat menengah?” Pikir salah satu manusia buatan.
“ Sekarang giliran kalian.” Dengan tatapan yang tajam dan senyummannya yang begitu menakutkan.
Dilain tempat di dalam istana Ayah Lia masih bertarung dengan pasukkan pengintai dan manusia buatan.
“ Rasakan ini, tusukkan tangan pedang!” tangannya berubah menjadi senuah pedang.
Syuut… ( suara tebasan hand sword )
“ Kau terlalu ceroboh.”
Buak!! ( suara hantaman tangan ke wajah manusia buatan itu )
“ Sial, wajahku hancur,” Gumamnya.
“ Wajah robot ya, sudah kukira. Manusia buatan generasi 15 sangat merepotkan.”
“ Generasi kami adalah generasi terbaik.” Ujar manusia robot itu.
“ Kalian generasi cacat, yang cuman bisa ngomong doank, tapi kemampuan kalian terlalu lemah.”
“ Kami generasi terbaik lebih baik dari yang lalu.”
“ Itu hanya persepsi kalian, kekuatan kalian jauh di bawah generasi lama.”
“ Sialan orang ini membuat ku kesal,” Gumam nya.
“ Menyerahlah kalian semua!!!”
“ Pasukkan pengintai kepung Pak tua itu jangan biarkan ada yang lolos.”
“ Masih ngelunjak ya, biar aku habisi kalian semua! Mode Tempur Armor Mecha LORD QUANTUM.” Tubuhnya di selimuti mesin robot yang begitu besar dan kuat.
“ Siapa pak tua ini, kekuatannya tidak ada habis-habisnya,” Pikir Manusia buatan tersebut.
“ Tamatlah riwayat kalian!!” Teriak sang LORD QUANTUM.
“ Serang dia!!!” Teriaknya.
LORD QUANTUM adalah raja penguasa yang memimpin manusia buatan geerasi ke-12, salah satu penguasa terkuat dari segala penguasa manusia buatan sampai generasi ke-15.
Tak beberapa lama kemudian pasukkan pengintai dan manusia buatan terkapar tak bernyawa hanya satu manusia buatan yang di bawa oleh ku yang masih hidup.
“ Maaf tuan, apakah saya boleh membaca pikiran manusia buatan ini?”
“ Tentu saja, korek semua informasi, kita tidak tau siapa dalang di balik penyerangan ini.”
“ Baiklah akan ku cari tau.” Ucapku menempelkan kepalaku ke kepala manusia buatan yang aku bawa.
Setelah masuk ke dalam ingatan manusia buatan ini, aku mulai mengerti sebab tidak ada ingatan yang bisa aku baca, mereka hanya robot yang di setting untuk menyerang kami.
“ Maaf tuan tidak ada yang bisa aku baca sedikitpun dari manusia buatan ini.”
“ Tentu saja aku tau system kinerjanya, mereka tidak di beri ingatan hanya memakai sensor untuk berkomunikasi itulah sebabnya mereka produk cacar generasi ke-15.”
“ Kenapa nggak kasih dari awal, Tuan.”
“ Maaf-maaf.”
“ sekarang tinggal panggil Algojo untuk membersihkan semua mayat ini.”
“ Dan aku akan melacak keberadaan Melina sekarang.”Ujarku.
“ Bagaimana apa sudah di temukan lokasi mereka?”
“ Sudah Tuan, mereka ada di puncak Gunung Rimbau, Gunung para siluman rubah.“
“ Antarkan aku ketemu mereka semua.”
“ Siap tuan.”
Mereka bergandeng tangan untuk mengalirkan kekuatan pemindah ke tubuh orang lain supaya tubuh mereka tidak hancur ketika berpindah tempat.
Di atas Gunung Rimbau mereka di sambut beberapa pelayan siluman rubah.
Siluman rubah adalah salah satu siluman yang jarang menyerang manusia, sebab manusialah yang memberi mereka makan di kuil, namun jika dalam keadaan bahaya mereka tidak akan segan-segan untuk membunuh manusia yang mengganggu ketenangan mereka.
“ Selamat datang di kerajaan siluman rubah.” Sambut para pelayan.
“ Jadi ini kerajaan siluman rubah, ya.”
“ Kerajaannya masih klasik tidak ada sentuh tangan kemodernan.”
“ Papah…,”Teriak Melina berlari ke arahku.
“ Melina….”
“ Aku kangen Papah.”
“ Papah juga kangen Melina.”
“ Apa kamu terluka, Rehan?” Cemas Lia.
“ Aku gapapa kok.”
“ Ayah nggak di tanyain nih…,” Ujar ayah Lia.
“ Biar bunda yang tanya, Apa barang di istana hancur?” Bentak Bunda Lia.
“ Ahahaha, Sudah hancur semua.”
“ Dasar, Ayah tau nggak harga barang itu sangat mahal dan limited edision.” Bentaknya.
“ Lia tolong ayah.”
“ Semangat ya, Yah,” hanya tersenyum kecil.
“ Ohya Melina dimana tante Hilda?” Tanyaku.
“ Di sana, Pah.” Menunjuk ke sebuah ruangan.
“ Ya sudah, papah kesana dulu ya.”
“ iya, Pah.”
“ Lia tolong jaga Melina, Ya?”
“ Ya, tentu saja.”
Akupun masuk ke sebuah ruangan yang di tunjuk Melina, di dalam ada seorang wanita dengan Sembilan ekor rubah yang menjuntai-juntai,ekor yang sangat indah dan menawan dengan wanita cantik yang duduk di sana.
“ Selamat datang di kerajaanku kerajaan rubah putih,” Ucap wanita itu.
“ Mmmm… kayak kenal,” Pikirku.
“ Apa ada yang salah dengan wajahku?” Tanya dengan lembut.
“ Mmmm…, Hilda kayaknya aku nggak pernah ngasih nama siluman rubah dengan nama itu.”
“ Ouh, Nama asliku Mariona vocalus.”
“ Wah, iya-iya rubah yang aku temukan di taman.” Ujarku mengingat sesuatu.
“ Ya, Aku rubah waktu itu, Bersama dengan istrimu dam juga anak mu aku tumbuh dewasa, Namun ketika peperangan antara iblis dan manusia, Rumah tuan sudah habis terbakar api. Dan aku menemukan Putri anda Melina Tertidur di pinggir Jasad seorang wanita yang kemungkinan itu istri Tuan.”
“ Ya, Terimakasih Kamu telah menyelamatkan Nyawa anak saya.”
“ Itu masih belum cukup untuk membalas kebaikan Tuan terhadap saya dan juga kebaikan istri Tuan Yang seperti malaikat.”
“ Sekali lagi terimakasih banyak.”
Siluman rubah hanya mengngangguk saja, Siluman rubah memiliki umur yang sangat panjang. Dan juga ada kerajaan lain di seberang sana, Namanya kerajaan siluman rubah merah Adik dari Siliuman rubah putih yang berubah menjadi sangat kejam ketika peperangan antara iblis dan manusia. Namun tali persaudaraan mereka sangatlah kuat walaupun mereka berbeda pendapat dan tujuan.
#Episode 12
SURATAN TAKDIR
Setelah beberapa bulan kami menginap di istana rubah puti akhirnya kami kembali lagi ke kediaman keluaraga Lia, Istana mereka sudah di renovasi menjadi seperti sediakala.
“ Akhirnya kita kembali lagi di istanaku tercinta,” UJar ayah Lia, Bahagia.
“ Iya,” Jawab Lia, ikut bahagia.
Beberapa tahun berlalu dengan damai, dan Liapun lulus akademi dengan nilai pas KKM namun itu sudah cukup bahagia untuk keluarganya. Aku dan Melina tidak berubah sama sekali, tubuh kami sama, hanya umur dan pengalaman bertarung saja yang berbeda. Tante Hilda masih terlihat sama walaupun ia sudah memiliki 12 orang anak, lia pun sudah dewasa untuk saat ini. Banyak pangeran dari kerajaan lain yang ingin menikahi Lia, namun Lia masih terlihat belum siap untuk menikah.
Sekarang Lia berusia 24 tahun, dengan kulit putih bening, rambut panjang berwarna hitam keputihan dan tinggi badan 147 cm berat badan 23 Kg.
Suasana istana sudah berubah drastis, dari klasik ke modern, manusia buatan yang dulu menjadi musuh kini sudah menjadi pelayan di istana Lia.
“ Selamat pagi, Tuan putri,” Ujarku sambil menuangkan the ke dalam cangkir kecil.
“ Selamat pagi, Rehan,” Balesnya.
“ Mau teh?”
“ Iya, jangan terlalu manis, ya.”
“ Iya, ini tehnya sama handuk basahnya.” Memberikan teh ke Lia, kemudian handuk di berikan setelah Lia selesai Meminum the.
“ Handuknya gak usah, aku mau mandi aja.”
“ Biar aku siapkan air hangatnya.”
“ Ya, mohon bantuannya.”
Di kamar mandi yang sudah modern hampir sama seperti dunia ku yang lama dengan shower dengan kekuatan sihir memanaskan air dengan kekuatan sihir dll. Serba menggunakan kekuatan sihir.
“ Duh, sejak kapan ya aku udah mulai biasa menjadi pelayan kayak gini…,” Gumamku.
“ Airnya udah siap belum, Rehan?”
“ Sudah siap tuan putri.”
“ Terus kamu mau sampai kapan diem di sini?” Tanyanya dengan muka sinis.
“ Eh, iya maaf-maaf aku keluar dulu.”
“ Sekarang ngapain, ya?” Pikirku di depan kamar Lia.
“ Papah…,” Suara Melina, berlari dari ujung ruangan.
“ Ya, adaapa putri ku yang manis?” Tanyaku mengelus rambut Melina.
“ Papah di cari tuan besar.”
“ Baiklah, papah ke sana dulu, ya.”
“ Iya, Pah.”
Di perjalanan menuju kamar tuan besar. “ Kira-kira aku di panggil kenapa ya?” Pikirku gelisah.
Sesampainya depan kamar tuan besar (ayah Lia), “ Permisi, maaf apa tuan memanggil saya?”
“ Nak Rehan, Kemarilah sebentar.”
“ Baiklah tuan, ada yang bisa saya bantu?”
“ Ntar malam adalah malam special hari ulang tahun pernikahanku dan istriku, jadi mohon bantuannya ya, siapkan pesta se meriah mungkin.”
“ Baiklah tuan, saya akan melakukan sebaik mungkin.”
“ Tolong, ya.”
“ Ya, saya permisi dulu tuan.”
Berjalan santai di setiap lorong ruanggan, “Bagaimana kalau aku minta bantuan Lia lagi saja, ya. Seperti tahun- tahun yang lalu,” Pikirku.
“ Permisi.” Mengetuk pintu kamar Lia.
“ Tunggu sebentar.”
“ Iya, aku tunggu di luar.”
Beberapa saat kemudian Lia membuka pintu. Ketika Lia melangkah keluar dari kamar, aroma parfumnya langsung tercium, pakaian putih menghiasi tubuh Lia, Tampilan Lia brgitu menawan seperti bidadari yang turun dari Khayangan.
“ Ya, Ada perlu apa?”
“ Cantiknya….”
“ Terimakasih, Rehan.” Tersenyum manis.
UUAAAKKHHH!!! ( Mimisan )
“ Apa kamu baik-baik aja?”
“ duuh, terlalu manis aku bisa kena diabetes.”
“ Rehan, apa kamu baik-baik saja?” tanyanya lagi.
“ Aku baik-baik saja kok.”
“ Syukur, deh. Mm… ada perlu apa nih?”
“ Begini tuan putri, aku mau beli persiapan buat hari jadi pernikahan orang tua tuan putri, tapi aku nggak tau harus mulai dari mana.”
“ Iya, juga ya. Biasanyakan aku yang nyiapin, yasudah biar aku bantu.”
“ Sungguh tuan putri, mau bantu saya?”
“ Ya, tentu saja.”
“ Terimakasih tuan putri.”
“ Bisa nggak panggil Lia aja kayak pas dulu.”
“ Ya, Lia.”
“ Nah gitu donk.”
“ Ayuk kita belanja.”
“ yuk.”
Perjalanan menuju toko butik dan toko aksesoris, Lia selalu membahas cerita kenakalan Melina selama aku pergi bersama ayahnya, cerita itu membuat perjalanan ini menjadi lebih mudah dengan canda dan tawa.
“ Ya, habis itu para pembantu terpeleset dan jatuh ke lantai dengan keras, namun Melina sangat bahagia dengan semua itu, Pembantupun mengejar Melina walaupun tidak pernah tertangkap.”
“ Ohya? Senakal itukah anak aku?”
“ Yaps, persis kayak papahnya.”
“ Hahahaha, nggak juga kok.”
“ Tuh, kan nakal tangannya kemana-mana.” Menepis tanganku yang ingin meraih tangan Lia.
“ Maaf-maaf, aku cuman mau itu….”
“ Mau apa?”
“ Gapapa.”
“ Ayuk kesini, kita beli baju buat kamu dulu.”
“ Heh, perlu kah?”
“ Ya, perlulah. Kamukan pelayan kelurgaku.”
Aku masuk ke salah satu butik, Lia langsung memilih beberapa baju untukku.
“ Ada yang bisa saya bantu, Nona?” Ucap penjaga butik.
“ Aku lagi cari baju yang cocok untuknya.”
“ Seorang pelayan yah…, kalau gak salah sebelah sini,” Ujar penjaga butik.
“ Ayuk, Rehan.”
“ Tunggu-tunggu ini nggak berlebihan kan?”
“ Nggak kok, santai aja.”
Di dalam butik itu aku mencoba banyak baju, dari baju pahlawan, pangeran, pelayan, tukang kebun, dll. Sampai ntah berapa kali aku gonta-ganti baju di dalam sana.
“ Bagaimana dengan ini? Baju ini pernah di pakai oleh pahlawan kerajaan Mawar hitam ketika mengalahkan Naga, dan baju ini sangat gagah jika di pakai anda,” ujar sang penjaga butik.
“ Tidak cocok.” Hentak Lia.
“ Akh!” Ucapan Lia sangat menusuk hati penjaga butik tersebut. “ Bagaimana dengan yang ini? Ini adalah jubah kebesaran kaisar Mawar hitam.” Sambung penjaga butik tersebut. Namun lagi-lagi Lia menolak.
“ Bagaimana, ya. Caranya biar wanita ini tertarik dengan baju disini, alasan yang di berikan tidak masuk akal, dari baju kebesaran, kekecilan, terlalu menor, terlalu ribet, terlalu mewah, dll. Sebenarnya apa mau dari wanita ini?” gumam penjaga butik tersebut. “ Ohya aku ada ide.”
“ Duh tubuhku seperti sedang di permainkan sama wanita dan penjaga toko ini,” Gumam Rehan pasrah.
“ Bagaimana dengan ini baju pelayan sang Ratu Elizabeth III, pelayan yang memegang pedang Excaliber, dan juga penyihir terkuat pada masa itu,” Ujar Penjaga toko tersebut.
“ Aku beli, sekalian baju ini dan ini,” Ujar Lia sambil membawa dua baju untuknya dan Melina.
“ Lia…, untuk Istri tuan beasr dan tuan besar bagaimana?” tanyaku risau.
“ Aku sudah pilihkan kok, sekarang tinggal beli keperluan yang lain.”
“ Oke.”
“ Tolong di bungkus ya Pak.”
“ Siap.” Dengan cepat penjaga itu memberikan baju yang di pilih Lia ke kasir untuk menghitung harga dan membungkus bajunya.
Setelah selesai dengan berbagai persiapan Lia dan Rehan kembali ke Istana, Namun tuan besar ( ayah Lia ), sengaja mengajak istrinya pergi untuk membuat kejutan ke istrinya.
“ Ayoo!!, semuanya siapkan semuanya dengan benar, aku tidak mau ada kesalahan seddikitpun,” Ujarku dengan tegas, sebab semua ini adalah tanggung jawabku.
“ Rehan sangat bersemangat, ya,” Ucap Lia, mengintip di balik tembok lorong.
“ Kakak…, Mandi bareng yuk,” Ajak Melina.
“ Mandi bareng, sama kakak?” Ujar Lia kaget.
“ Iya kak.”
“ Tumben mau mandi bareng sama kakak, ada sesuatu ya?” Ejek Lia.
“ Nggak ada sesuatu kok kak, cuman mau mandi bareng aja,” Ucap Melina dengan santai.
“ Yaudah biar kakak bantu gosok punggung Melina.”
“ Makasih kakak, Ntar gantian kok.”
“ Iya. Ingat jangan nakal ya di kamar mandi,” Ujar Lia.
“ Siap, kakak.”
Merekapun lekas pergi ke kamar mandi sedangkan aku masih sibuk mengatur property acara, mulai dari makanan, pakaian pelayan yang sudah di siapkan, hiasan dinding sampai karpet merah semua sudah di atur dengan sempurna, jadwal pestanya pun sudah di atur sedemikian rupa sampai seromantis mungkin.
Pukul 20:00 waktu daerah tersebut, Tuan besar dan istrinyapun tiba dengan sambutan yang luar biasa meriah, para pelayan berbaris di pinggir karpet merah sedangkan aku di depan pintu bersama anakku dan Lia.
“ WAh…, terimakasih Suamiku.” Terkagum bahagia, langsung memeluk suaminya.
“ Hohoho jangan disini nanti para anak muda disini pada iri.” Ledek Tuan besar.
“ Dasar, padahal aku lebih tua darinya,” Gumamku.
Mereka lebih mengejutkan lagi ketika di dalam istana, pas pintu terbuka teman lama Tuan besar dan istrinya pada datang menyambut, pestapun berlanjut sangat meriah, kami pesta arak, anggur dan semua minuman yang memabokkan.
Semakin mabuk, semakin meriah acara tersebut sampai jam 12 malam mulai sepi, para tamu mulai pulang dan ada juga yang menginap karena terlalu mabuk.
Tak di duga, di pojok ruangan aku melihat Lia yang sedang mabok di gotong Melina. “ Melina, apa yang terjadi dengan Lia?” tanyaku.
“ Kakak, mabuk berat, dan sempat sempoyongan.”
“ Sini biar papah aja yang bantu, Melina bantu yang lain aja.”
“ Siap papah.”
“ Duh, Lia baru umur segini udah mabok kayak gini untung aku ada skill penangkal mabok.”
Setelah sampai di kamar aku menaruh Lia di kasur, ketika aku ingin turun dari kasur tangan Lia, menarik bajuku dengan keras.
“ Rehan, Temeni aku donk,” Ucap Lia ngelindur.
“ I-ya.” Gugup sebab udah lama nggak pernah ngalamin suasana yang seperti ini.
ERROR-ERROR-ERROR. “ Kok, mataku buram sih kepalaku pusing, effek mabuknya mulai bereaksi, padahal sudah aku cegah dengan penangkal, apa karena error, penangkalku rusak jadi rasa mabuk ini mulai menguasai tubuhku.”
Semakin dalam semakin gelap aku seperti jatuh di dalam sebuah lubang jurang yang sangat dalam, kepalaku seperti berputar-putar.
Keesokkan harinya Lia bangun lebih dulu dari aku dan kaget dengan adanya aku yang tertidur di sampingnya.
“ Rehan apa yang sudah kamu lakukan denganku!!!” Teriak Lia, menendang tubuhku hingga jatuh nyungsruk ke lantai.
“ Aduduh, kepalaku kok sakit ya?” Pandanganku tiba-tiba focus ke atas ranjang dengan keadaan Lia yang tertutup dengan selimut dengan ekspresi marah.
“Apa yang sudah akulakukan, kenapa aku tidak ingat sama sekali.”
“ Papah, selamat pagi,” Ujar Lia dari depan pintu.
Kamipun langsung siap-siap geradak-geruduk merapikan semuannya.
“ Awas kau Rehan ini bukan akhir dari semua ini.”
“ Hehehe….”
Melinapun membuka pintu langsung memelukku sambil menutup hidungnya.
“ Papah bau Anggur.”
“ Hahaha, Papah mau mandi dulu ya, Melina temenin Lia ya.” Langsung keluar dari kamar Lia.
“ Kakak, papah kok aneh sih?” Tanya Melina penasaran.
“ Otaknya udah geser.” Pergi ke kamar mandi.
“ Lagi berantem ya,” Ujar Melina, bingung.
Beberapa bulan berlalu, semuanya kembali normal, Namun Lia yang nggak normal perutnya membesar, kemungkinan hamil. Semua saksi tertuduh kepadaku termasuk anakku sendiri.
“ Tapi aku nggak ingat pernah melakukan itu.” Belaku.
“ Tapi menurut dokter kerajaan ada DNA kamu di dalam perut Lia.” Bentak tuan besar.
“ Kumohon maafkan hamba jika benar-benar hamba yang melakukan itu.” Mohonku.
“ Nikahin, Lia. Jangan menolak!”
“ Iya.”
Akupun menikah dengan Lia, setelah beberapa minggu setelah kejadian itu.
“ Lia maaf, Ya.” Berdiri di teras depan istana.
“ Iya, aku paham kok,” Jawab Lia dengan santai.
“ Terimakasih, Lia.” Memeluk Lia.
“ Papah…! Mama…!” Memeluk Lia dan aku dengan erat. Begitulah keluargaku terbentuk kembali.
Di malam hari setelah delapan bulan Lia mengandung, ada sebuah surat datang ntah dari mana dalam surat itu tertulis.
ISI SURAT:
TERIMAKASIH TELAH BERPARTISIPASI DENGAN SEMUA INI, ANDA AKAN DI KEMBALIKAN KE DUNIA ANDA SEBELUMNYA DALAM WAKTU 24 JAM DARI SEKARANG.
< 20:31 > DURASI WAKTU.
SELESAI -
“ Lia aku mau ngomong sesuatu?” Ujarku memegang pundak Lia.
“ Ya, mau ngomong apa?” Jawab Lia lembut.
“ Sebenarnya aku mau ngomong kalau sebenarnya aku bukan manusia asli disini.”
“ Maksudnya?”
“ Sebenarnya aku bukan dari dunia ini aku dari dunia lain.”
“ Ahahaha, kamu becanda ya?”
“ Aku serius, Lia.”
“ Terus kan gak ada bedanya, kamu bisa tinggal disini.”
“ Tapi aku sudah di panggil.”
“ Maksudnya?”
“ Nih, baca .” menyerahkan surat yang aku dapat.
Setelah membaca itu air mata Lia tidak dapat di bendung lagi, semua kesedihannya tumpah, menangis seperti anak kecil yang meminta permen.
Mendengar tangisan Lia, keluarga Lia datang ke teras tempat Lia berada.
“ Apa yang terjadi, kenapa Lia menangis?” tanya ibu mertua.
“ Maaf telah membuat Lia menangis.” Meneteskan air mata, tanda tidak kuasa untuk kembali ke dunia lamanya.
“ Nak, Rehan sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Bapak mertua.
“ Papah… mamah kenapa?” tanya Melina.
“ Sekali lagi maafkan aku, aku tidak kuasa untuk mengucapkannya.” Tegasku.
“ Nak Rehan mari kita bertarung, jika Nak Rehan menang aku akan diam menerimanya tapi jika Nak Rehan kalah, Nak Rehan harus menceritakan semuanya.”
“ Sebenarnya mau aku menang ataupun kalah semuanya akan sama saja tapi ini akan menjadi pembuktianku untuk terakhir kalinya di dalam keluarga ini,” gumamku.
“ Bagaimana apa Nak Rehan menerima tantangan dariku?”
“ Ya, tentu saja. Akan ku tunjukkan kekuatannku untuk yang terakhir kalinya.” Ujarku, membuat yang lain kebingungan dengan ucapanku. Sementara itu Lia sudah mulai reda dengan tangisannya di dalam pelukkan ibunya.
“ Maaf jika aku harus menghancurkan semuanya.” Ujarku.
“ Tidak apa-apa, kau bisa menghancurkan apapun.” Balas Bapak mertua.
“ sudah lama aku tiak menggunakan kekuatan mataku, aku akan mengeluarkannya secara hati-hati.,” Gumamku risau.
“ Mode Tempur Armor Mecha LORD QUANTUM ! aku tidak akan menahan diri Nak Rehan.” Sentak Sang Lord Quantum.
“ Instal, aku juga tidak akan menahan diri Bapak mertua, eh bukan tapi Lord Quantum.” SEntakku juga.
“ Kemarilah Nak Rehan!!!”
“ Hiaayyyyaaah!!!!”
Serangan bertubi-tubi membuat tubuhku rusak parah tulangtulangku
seakan-akan remuk, jika tidak ada skill regenerasi pasti sudah mati di awal pertempuran ini.
Mereka bertarung tidak mengenal lagi yang namanya keluarga semua di sekitar mereka hancur sedangkan keluarga Lia di lindungi Melina menggunakan Shield pyramid, skill pelindung terkuat.
“ Apa cuman segitu saja kekuatanmu Nak Rehan!!!” Teriak Lord Quantum Memanaskan keadaan.
“ Kekuatanku? Kemana semua kekuatanku? Tubuh ini seperti tidak biasa menampung kekuatan lamaku, tapi aku harus meningkatkan kekuatanku,” Gumamku mendengar teriakkannya.
“ Over install, mode green screen AKTIF!!!” Perintahku dengan tegas.
“ Kekuatan yang luar biasa, kekuatannya sangat besar, aku tidak menyangka akan sebesar ini,” Gumam Lord Quantum.
“ Aku pasti bisa mengendalikan kekuatanku jangan sampai Over Red Screen,” Pikirku terus menahan kekuatan yang keluar.
Aku kembali menyerangnya terus menerus dengan semua skill yang sudah aku pelajari dari serangan tusukkan berduri, bola api, pedang angin, dan menambahkan kecepatanku seperti kilat menyambar namun semua itu masih belum cukup untuk mengahncurkan armor sang Lor Quantum.
“ Sial! Apa aku terlihat sangat lemah.”
“ Ya, kau sangat lemah lebih lemah dari sehelai bulu unggas yang tersambar api.”
“ Cih, Pembelah raga ! “
“ Seberapapun banyak nya kamu tidak akan bisa menghancurkan armorku ini.”
“ Jangan pernah meremehkan kekuatan musuhmu Lord Quantum!!”
“ Bersiaplah Kali ini aku yang akan menyerang Nak Rehan!!”
“ Berisik!!”
Mereka terus menunjukkan kekuatan mereka emosi demi emosi mulai membara, niat membunuh sudah mulai tercipta.
Seranganku dalam mode Green screen terasa sangat berat, semua ini terasa seperti sudah meemecah kekuatanku. Melina dan anak yang di kandung Lia mereka adalah bagian dari kekuatan yang di milikiku.
Aku tidak menyesali semua itu, aku bersyukur semoga mereka bisa menggunakannya lebih baik dari aku.
Semua kekuatann kami luncurkan, semua skill kami gunakan namun semuanya seakan-akan percuma tidak ada luka yang berarti di antara kami.
Pukulan terakhir aku kerahkan dengan sekuat tenaga perisai Melina Retak parah dan Lord Quantum mengalami luka berat di dadanya, armornya hancur berkeping-keping.
Aku di paksa keluar dari dunia itu oleh GM sebelum semua tubuhku menghilang kata-kata terakhirku adalah,
“ Tolong jaga anak kita Lia, Tolong didik mereka sebaik mungkin jangan biarkan anak kita menjadi sepertiku, Melina tolong jaga adikmu dan mamah mu
ya, aku saying kalian semua, maaf atas kesalah ku, I LOVE U LIA, MELINA, dan semuanya.”
Tubuhku hilang dan terlempar jauh melewati portal-portal. Namun aku masih bisa mendengar suara mereka.
“ YA, aku akan merawat anak kita dan Melina sebaik mungkin, maaf aku tidak bisa menjadi istri yang baik.” Itu kata-kata terakhir dari Lia sedangkan Melina, “ Melina saying papah!!” hanya itu.
Tiba-tiba aku sadar di dalam kamarku semua yang ku alami seperti mimpi bagiku, waktu tidak berubah, aku seperti bermimpi panjang saja.
“ Aku kembali di kamarku dan waktu sekarang masih sama seperti aku masuk dunia lain, apa semua yang aku alami ini hanya sebuah mimpi? Ntahlah yang pasti
aku tidak paham dengan situasi ini,” Pikirku. Seperti biasa jam 07:00 wib aku berangkat dengan kereta MRT, menuju kantor biasa aku bekerja.
“ sebagai maneger di perusahaanku seendiri, aku harus lebih dewasa untuk menyimpulkan sesuatu,” Gumamku di perjalannan.
Sesampainya di kantor aku langsung duduk di ruanganku, tak beberapa lama telepon berdering, aku mengangkat , ternyata sekretarisku yang pindah ke cabang lain dan cabang utama diganti dengan sekretaris baru.
Ya, sekitar beberapa menit kemudian pintu ruangan ku terbuka seorang wanita masuk dan memperkenalkan diri.
“ Perkenalkan namaku Laila, umur 23 tahun, aku disini sebagai pengganti sekretaris yang lama.” Sambil tersenyum.
Aku hanya tercengan dengan kenyataan ini, apa aku bermimpi atau ini asli, semua isi kepalaku seperti mau meledak. Laila di dunia lain kini muncul di hadapanku, istri lamaku dan ibu Melina kini hadir di hadapanku.
Ntah seperti apa yang aku rasakan saat ini mungkin kalian bisa membayangkannya
Jalan kehidupan tidak pernah ada yang tau, tidak bisa kita tebak tapi kita hanya perlu menjalaninya dengan keyakinan.
Tamat.
*info untuk season 2nya sudah keluar. Jangan lupa untuk dukungan nya ♥️♥️♥️