She's In The Rain
❗Terinspirasi dari lirik lagu berjudul "She's In The Rain" yang dibawakan oleh The Rose❗
_______________
"Yaa! Kim Jaemin! Bel masuk sudah berbunyi, tuh."
Aku segera mengalihkan pandanganku dari seorang murid perempuan yang namanya tidak kuketahui. Yang kutahu, gadis itu adalah anak baru di sekolah, ia baru pindah sekitar sebulan yang lalu. Namun setelah ia memasuki sekolah ini, ia seperti tidak ingin bergaul dengan siapa pun. Yang selalu kulihat, ia sendirian. Selalu sendirian.
_______________
"Wae? Kau suka dia?"
"Mana mungkin aku menyukai dia!"
Dasar Park Hyunseok. Dia terus saja meledekku setelah jam makan siang itu hingga pulang sekolah sekarang. Tentu saja aku tidak menyukai gadis itu. Saat ini aku tidak tertarik dengan apa pun, kecuali bisa lulus sekolah dan memasuki universitas ternama.
"Kalau kau marah, berarti kau suka,"
"Terserah kau!"
Aku heran, kenapa aku bisa berteman dengan Hyunseok yang sangat menyebalkan. Karena sudah kesal dengan si Mangkok (julukan Hyunseok), aku langsung mempercepat langkah kakiku, meninggalkan lelaki berkacamata bulat itu.
Namun, entah ke mana pikiranku saat itu, tiba-tiba saja aku menyamakan tempo jalan seorang perempuan yang tadinya berada di depanku. Tadinya aku tidak sadar, tapi setelah kepala gadis itu bergerak dan menatap ke arahku, langkahku langsung terhenti.
Dan yang lebih mengejutkan, gadis itu juga berhenti tepat di sebelahku dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Sorot matanya hanya terdapat kehampaan.
Bola mata hazel yang menawan, bulu mata lentik, kulit halus, hidung mancung, bibir agak tebal, poni hampir menyentuh mata, dan rambut sepundak. Itu yang kuperhatikan saat mata kami bertemu.
Setelah lima detik kemudian, ia memalingkan wajahnya ke jalanan dan lanjut berjalan tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun.
"Hm, sudah kuduga. Tidak usah malu-malu, you must confident, you know?"
Setelah mendengar si Mangkok berbicara bahasa Inggris dengan logat lokalnya, aku semakin kesal sekaligus terpesona dengan gadis yang sempat kutatap selama hampir sepuluh detik. Tapi sialnya aku tidak sempat melihat name tag-nya yang padahal aku berniat untuk mencari tahu identitasnya tanpa bertanya pada orang lain.
Kalian pasti merasa janggal, kenapa aku sebegitu ingin tahu tentang gadis itu padahal aku tidak ada rasa suka sama sekali.
Baiklah, akan kuceritakan. Jadi aku sering bertemu dengannya di sekolah maupun di sekitar tempat tinggalku. Aku tidak tahu tepat di mana letak tempat tinggalnya, namun yang pasti tempat tinggalnya berdekatan dengan rumahku.
Yang menjadi alasan aku selalu memperhatikannya akhir-akhir ini karena dua hari yang lalu, hari Minggu, aku bertemu dengannya di taman kecil yang sudah terbengkalai sore hari. Saat itu sehabis hujan, gadis itu memakai kaos polos berwarna oranye dan celana pendek selutut, dengan rambut yang terurai cantik. Kakinya yang telanjang menyentuh rumput hijau basah sambil bergerak ke sana-kemari.
Dia menari. Setelah kuperhatikan, dia juga memakai earphone yang talinya tersambung pada walkman bermerek Sony entah keluaran tahun berapa, yang pasti sudah cukup tua. Walkman itu dicepitkan di celananya. Dia menari ballet dan tariannya terlihat sangat anggun.
_______________
"Aku pulang."
Tidak ada suara siapa pun, paling juga Ayah sedang tertidur. Di sini aku tinggal berdua dengan Ayah yang setiap hari menyuruhku untuk membelikan sebotol atau dua botol soju dengan uangku. Dan sebenarnya aku mempunyai kakak laki-laki, tapi dia selalu pergi entah ke mana.
"Yaa!! Ke mana saja kamu?! Di mana uangku?!!" Ternyata Ayah tidak tertidur. Seperti biasa dia (aku tidak sudi menyebut Ayah dengan kata "beliau") selalu emosi jika melihatku.
"Kita tidak mempunyai uang!!" Aku yang sudah lelah dengan segalanya tidak sengaja membentak ayahku sendiri.
Di balik diriku yang popularitas di sekolah, ya beginilah hidupku. Aku hanya tinggal di sebuah rumah susun kecil. Sehabis pulang sekolah, mandi, kerja, pulang jam dua pagi, beberes rumah, tidur, bangun jam enam, mandi, masak, pergi ke sekolah jam tujuh dan pulang lagi saat sore hari.
"Mwo? Hahaha, kau membentakku?" Matanya melotot tapi mulutnya tersenyum. Itu yang paling kutakutkan selain masa depan yang suram.
Dia menepuk-nepuk pundak kananku, sedangkan aku hanya bisa mematung sambil menahan air mata yang rasanya sudah saling mendorong untuk keluar dari mataku .
"Kau benar-benar membentakku?" Dia masih melakukan hal yang sama, tapi itu belum selesai. "B*jingan kau!!" Seperti dugaanku, dia langsung menonjok pipiku hingga aku tersungkur ke lantai. Rasanya sangat sakit. Aku sudah tidak tahan lagi.
Kuambil peralatan belajarku dan baju-bajuku, setelah itu membanting pintu depan tanpa mempedulikan ocehan tua bangka itu lagi. Orang tua seperti apa yang menjadikan anaknya sebagai tulang punggung keluarga, padahal juga dia masih bisa bekerja jika rasa malas dan egoisnya dihancurkan.
_______________
"Terlambat lagi?! Sudah keberapa kali kau terlambat, hah?!! Kau ingin dipecat?!" Ucap sang pemilik warung gimbap tempatku bekerja.
"Joesonghamnida, saya janji ini benar-benar yang terakhir kalinya" Tidak di rumah, di tempat kerja pun aku selalu dimarahi. Yang bisa kulakukan hanya menunduk dan meminta maaf.
"Kau sudah janji, kau tidak boleh mengingkarinya. Yasudah sana layani para pelanggan!"
Bersyukur sekali aku masih diberi satu kesempatan. Sekarang saatnya bekerja dengan baik!
Aku segera mengambil piring yang berisikan enam potong gimbap tanpa wortel untuk pesanan meja nomor tiga. Dari belakang sepertinya pelanggan itu adalah wanita. Dengan cepat, aku memberikan pesanan wanita itu dengan telaten. Tapi...
"Si Mata Hazel..." Ya. Kalian pasti tahu siapa yang kumaksud. Aku tidak tahu namanya, jadi kupanggil saja dengan salah satu ciri khasnya.
Itu pertama kalinya aku berbicara dengannya. Aku keceplosan. Aku harap dia tidak mengenaliku.
"Lelaki yang pernah mengintipku saat aku sedang sendirian."
Apa?! Dia tahu jika aku mengintipnya saat dia sedang menari saat itu? Sejak kapan? Apa yang harus kulakukan? Bagaimana jika aku dianggap berbuat mesum?!
"A-em, k-kau tahu jika aku melihatmu menari do taman sat itu? Itu tidak seperti yang kaupikirkan. Aku tidak sengaja melewati taman itu dan m-melihatmu." Itulah bentuk klarifikasiku yang tergagap-gagap. Tidak biasanya seorang Kim Jaemin yang tampan dan populer ini bisa dibuat panik dengan seorang perempuan.
"Arasseoyeo" ucap gadis bermata hazel itu lalu menatap pesanannya dan mulai memakan gimbap tanpa wortel itu.
Tiga jam berlalu. Gadis yang memesan gimbap tanpa wortel tetap tidak beranjak dari duduknya. Ia membaca buku dan memakai earphone walkman seperti saat di taman. Beberapa kali juga kulihat, ia mengambil kaset yang berbeda dari tasnya lalu mengganti kaset yang sudah berada di dalam walkman.
Dilihat-lihat para pengunjung sudah tidak banyak berdatangan, jadi aku berniat untuk mengajak Gadis Mata Hazel untuk mengobrol. Tapi aku masih ragu. Aku takut jika aku dinilai sok dekat olehnya. Masa bodohlah, aku kan populer di sekolah, pasti dia tidak heran jika aku bersikap sok dekat.
"Hai," Kumulai dulu dengan sapaan dan senyuman. Lalu akhirnya aku duduk di depannya. "Kenapa kau tetap di sini? Kau tidak pulang?" Tanyaku untuk mencairkan suasana.
Karena gadis itu hanya diam saja dan masih sibuk dengan walkman-nya, aku pun melirik benda yang diotak-atik oleh perempuan cantik di depanku.
'Jang Haneul'. Tulisan itu terdapat pada bagian belakang walkman yang sepertinya ditulis menggunakan spidol berwarna putih. Ternyata namanya adalah Jang Haneul.
Aku membiarkan Haneul untuk sibuk sendiri dengan walkman-nya. Mataku bergantian menatap wajah Haneul dan benda jadulnya. Setelah sekitar satu menit kemudian Haneul memberikan earphone dan walkman-nya kepadaku.
"Kudengar kau mengikuti organisasi orkestra di luar sekolah. Jadi, kupikir instrumen ini cocok denganmu." Bagaimana dia tahu jika aku mengikuti organisasi itu? Sangat mencurigakan.
Aku pun segera memakai earphone itu lalu menekan tombol play. Dari intro aku sudah tahu bahwa lagu yang disetelkan adalah lagu milik Franz Joseph Haydn. Tapi karena belum lama mengikuti organisasi itu, aku tidak mengetahui banyak hal tentang lagu-lagunya.
"Haydn, symphony number fourty five in F minor La Passione. Suram dan tragis, sepertimu."
Ucapan Haneul yang seakan membaca pikiranku malah terasa menyebalkan. Apa maksudnya? Aku suram dan tragis? Tapi benar juga. Bagaimana dia bisa tahu tentang kehidupaku? Haneul adalah gadis penuh misteri.
"Haha, baiklah, hidupku memang suram. Dan kau cocok dengan Beethoven symphony number five, misterius dan dramatis." Kataku tidak mau kalah.
Kulihat Haneul tersenyum miris mendengar balasanku yang sama-sama agak menyakitkan. Tapi jujur saja, ini pertama kalinya aku melihatnya tersenyum dan senyumannya tentu saja sangat manis yang membuatku ikut tersenyum saat itu juga.
Setelah dua menit aku mendengarkan orkestra itu, aku melepas earphone lalu memikirkan topik apa yang akan kubicarakan bersama Haneul.
"Jaemin" gadis berponi di depanku memanggil namaku. Aku kaget. Bagaimana juga dia mengetahui namaku? Aku harap dia tidak mengetahui hal-hal pribadiku.
"Y-ya?" Jawabku yang masih kaget.
"Kau perlu tempat untuk tinggal sementara?" Pertanyaan ini yang makin membuatku kaget. "Kau pasti lelah untuk berdebat dengan ayahmu lagi. Bukan bermaksud menguping, tapi aku tidak sengaja mendengar saat aku melewati rumahmu."
_______________
"Adikku sudah dua bulan berada di rumah sakit. Dia terkena alergi parah yang menyebabkan dia harus berada di rumah sakit. Untuk mencari uang, aku harus bekerja sana-sini termasuk bekerja di rumah Pak Baek tetanggamu. Maka dari itu, aku selalu tahu tentangmu"
"Orangtuaku bercerai dan tidak ada yang mengambil hak asuh diriku dan adikku. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana caranya hidup di dunia ini. Aku tidak bisa menikmati hari-hariku. Bagaimana bisa aku hidup jika terus dilecehkan, dipukul, dicaci-maki oleh orang-orang, dan diteror oleh orang-orang dari tempat kerjaku yang lama."
____________
We're in the rain.
————————————
Di apartemen Haneul yang hanya sepetak ini ia bercerita semuanya. Hidupnya memang bermasalah, sama sepertiku.
Aku menggenggam tangan Haneul yang sudah terkepal kuat di pahanya dengan air mata yang mengalir deras dari mata cantiknya.
Dia tidak memiliki siapa-siapa lagi. Semua murid di sekolah menjauhi Haneul karena penampilannya yang tidak modern seperti yang lainnya, padahal menurutku Haneul berpenampilan bagus dan rapi seperti pada umumnya. Di sekolah lamanya pun ia tidak mendapatkan teman karena Haneul terlahir dari keluarga miskin.
_______________
Malam tadi aku benar-benar bermalam di lantai apartemen Haneul. Dan pagi ini kami berjalan ke sekolah bersama. Tentu saja tatapan orang-orang memandangku dan Haneul aneh. Murid laki-laki populer dan murid perempuan pendiam. Menarik.
Sesampainya di kelas, teman-temanku termasuk Hyunseok mengerubungiku, menanyakan hubungan tentang Haneul. Kujawab saja kami secara tidak segaja bertemu dan akhirnya mengobrol banyak.
Kujelaskan pada mereka juga bahwa aku tidak ada perasaan suka terhadap Haneul.
Tapi itu bohong. Aku menyukai Haneul saat pandangan pertama.
_______________
Sudah hampir seminggu Haneul menghilang tanpa jejak. Setelah pulang sekolah bersama, kami benar-benar berpisah. Gadis pendiam yang kusukai itu tak lagi terlihat di pandanganku. Dia tidak berpamitan atau memberikan penjelasan ke mana ia akan pergi.
Aku benar-benar gelisah dan khawatir semenjak Haneul tiba-tiba menghilang, bahkan adiknya yang berada di rumah sakit pun juga sudah pergi entah ke mana.
Aku harap dia baik-baik saja.
_______________–
Rasanya tidak bisa ditahan lagi. Aku ingin berteriak. Aku ingin ada Haneul di sisiku. Bersandar di bahu Gadis Mata Hazel yang nampak sangat nyaman dan bercerita banyak hal bersamanya.
Dari sekian banyak orang yang kukenal, hanya Haneul yang dapat membuatku merasa sangat nyaman seperti berada di rumah yang benar-benar "rumah". Tatapannya, senyumannya, bagaimana cara dia menanggapiku, aku rindu. Semuanya dari Haneul membuatku jatuh cinta.
Setelah lulus, aku kabur dari rumah dan merantau ke kota besar untuk mencari pekerjaan. Tenang saja, Ayah sudah berada di tangan kakakku yang untungnya sudah ingat jika ia mempunyai keluarga.
_______________
"AKH! Jang Haneul!! Tolong aku..." Di bawah hujan deras ini aku benar-benar putus asa. Sudah belasan atau mungkin puluhan kali aku melamar pekerjaan. Kupikir akan mudah, tapi hingga saat ini aku selalu ditolak. Aku berpikir bahwa tindakan nekatku (kabur dari rumah) ini adalah hal yang benar-benar salah.
"Haneul-ah!! Bogoshipda!" Tentu saja tidak ada jawaban. Aku menoleh ke belakang. Tidak ada siapa pun. Malam ini sunyi sekali.
Aku kembali berjalan tanpa tujuan. Cuacanya sangat dingin, namun tak bisa lagi kurasakan rasa dingin itu walaupun semua kain yang menutupi tubuhku sudah tidak ada titik kering lagi.
Di bawah sorot lampu jalan aku berhenti karena aku bertemu seorang wanita. Cantik. Seluruh tubuhnya juga sudah basah akibat hujan deras. Wanita itu memakai gaun ballet berwarna putih dengan bahunya yang terpampang tidak ditutupi oleh sehelai kain, aku merasakan bagaimana dingin yang dia rasakan. Rambutnya dicepol dan terdapat mahkota kecil di atas kepalanya. Wanita bergaun ballet itu memutar kepalanya ke arahku sambil menenteng sebuah sepatu yang tidak lain adalah sepatu ballet.
Ia menatapku. Aku menatapnya. Ia tersenyum. Aku ikut tersenyum.
"Kim Jaemin-ku"
Dia mengenaliku. Nama yang baru saja kusebut. Dia benar-benar datang. Sudah lama sekali aku tidak melihat sosok Jang Haneul, orang yang sangat kucintai, dan mata cantiknya kali ini lebih bersinar dari sebelumnya.
"Haneul..."
We're in the rain.