Surat Terakhir dibawah Pohon Apel Tua
Kala itu sudah memasuki musim panas. Namun, musim panasnya tidak begitu panas seperti biasanya. Angin sepoi-sepoi di siang hari yang biasanya terasa menyengat, malah terasa hangat.
Walaupun kehangatan itu menyapa tubuh seorang anak laki-laki yang duduk dibangku taman sambil memegangi selembar kertas ditangannya, ia bahkan tidak bergeming. Tetap setia dengan wajahnya yang terlihat murung. Tak lama kemudian air mata secara perlahan membasahi kedua pipinya dan membuat kertas digenggamannya juga menjadi basah.
Tampak seorang anak laki-laki lain menghampirinya. Anak itu tetap pada posisi duduknya dan menunduk sambil memandangi kertas ditangannya yang sekarang setengah basah dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tahu apa yang kau rasakan, Kak Abhi,” ucap anak laki-laki yang tadi datang menghampirinya. Hal itu mau tidak mau membuat sang pemilik nama —Abhidata Revandra— mendongak dan menemukan adik kelasnya kini ada dihadapannya.
“Eric? Kenapa disini?” tanyanya sambil sedikit bergeser, memberikan ruang untuk duduk pada adik kelasnya, yaitu Eric Ajisaka.
“Untuk menghiburmu, apa lagi?” Eric tersenyum kecil, lalu mengeluarkan sebuah buku bersampul coklat dari tas sekolah yang sengaja dia bawa.
Abhi mengusap air matanya kasar dan menunjukkan senyum miringnya, “kau mau menghiburku? Apa kau yakin bisa melakukannya?” tanyanya meremehkan.
“I trying to do my best, kak,” balasnya singkat sambil membuka halaman buku tersebut dengan agak cepat.
“Kenapa kau begitu yakin?” tanya Abhi lagi.
Eric sibuk membalikkan halaman bukunya, dan menunjukkan salah satu halaman pada kakak kelasnya itu. “Lihat ini!” serunya.
Abhi menoleh dan membaca halaman yang ditunjukkan pada dirinya itu, “Alone and Fear?” tanyanya bingung sambil memandangi buku itu dan Eric secara bergantian.
“Kau tahu arti dari dua kata itu?” tanya Eric pelan kemudian mengalihkan pandangannya dengan menatap langit biru.
“Apa? Alone and Fear? Sendirian dan Ketakutan?” Abhi memiringkan kepalanya pertanda ia sangat bingung dengan hal yang ingin disampaikan oleh Eric.
“Ya, bukankah itu keadaanmu sekarang?” tanya Eric sambil menepuk pundak Abhi.
“Kenapa aku?”
“Karena kau sekarang merasa sendiri dan kau mengalami ketakutan luar biasa dalam hidupmu.” Kata-kata itu dengan lancar keluar dari mulut Eric dan sukses membuat Abhi kembali pada posisi tertunduk.
“Kau tahu tentang itu, Eric?”
“Tentu saja! Kehilangan orang yang kita sayangi, dan satu-satunya akan membuat kita merasa sendiri. Kemudian, rasa sendirian itu akan menimbulkan ketakutan.” Eric beranjak dari duduknya dan ia berdiri tepat dihadapan Abhi.
“Kau pernah merasakannya?” tanya Abhi dengan suara yang agak parau. Ia berusaha keras agar tangisannya tidak pecah lagi.
“Jujur, tidak. Tapi aku pernah membaca, lalu melihatnya dan berusaha merasakannya,”
“Sakit,” lanjut Eric yang menatap intens ke arah Abhi.
“Lalu bagaimana? Kalau kau diposisiku, apa yang akan kau lakukan?” tanya Abhidata sambil meremat ujung kemeja yang ia gunakan saat itu. Kemeja hitam kelam, dapat dipastikan ia baru kehilangan seseorang dalam hidupnya dan baru saja pulang dari pemakaman yang tak jauh dari taman itu.
“Aku akan mencari apa yang ditinggalkan oleh paman Rudi. Orang yang meninggal tidak akan pergi dari orang yang disayanginya tanpa meninggalkan sesuatu apapun,” ucap Eric tajam pada Abhidata.
Yang ditatap kembali kebingungan dan coba mencerna perkataan Eric itu. “Maksudnya?”
Eric menghela nafas panjang, “akan ku jelaskan. Paman Rudi terakhir berada dimana sebelum dinyatakan meninggal?”
“Kamarnya.”
“Apa kau sempat memeriksa kamarnya?” tanya Eric yang kali ini benar-benar serius.
Abhidata Revandra ini menggeleng untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan Eric. Ia sama sekali belum pergi ke kamar ayahnya itu untuk sekedar melihat bagaimana kondisi kamar itu sekarang.
“Takut,” cicitnya pelan.
“Kau tidak akan mendapatkan apapun karena ketakutanmu itu.
Paman pasti meninggalkan sesuatu disana! Lagipula kepergian paman itu wajar, bukan karena pembunuhan, bunuh diri, dan lain sebagainya, kan?” tanya Eric yang sekarang menggenggam sebuah pena yang didapat dari saku celananya dan meraih buku bersampul coklatnya ditangan Abhi.
“Sebegitu yakinnya kau?” Abhi tertegun melihat orang disebelahnya kini tengah sibuk menuliskan sesuatu yang entah apa itu.
“Keyakinanku melebihi segalanya, karena sebelumnya aku pernah melihat paman berdiri dekat pohon apel tua yang ada dihalaman belakang rumahmu sambil menautkan kedua tangannya, seperti orang berdoa,” balas Eric sambil memperagakan apa yang ia sempat lihat.
Eric kembali duduk dan melanjutkan, “kau harus cari tahu, kak. Kurasa jawabanmu ada di bawah pohon apel itu. Sekarang aku harus kembali, karena ibu pasti sedang mencariku.” Tanpa menunggu balasan dari Abhi, Eric segera beranjak dan pergi dari sana.
Sepeninggal Eric, lagi-lagi Abhidata termenung. Kata-kata Eric terngiang-ngiang dalam pikirannya. Apakah ada yang aneh dengan pohon apel tua itu? Apa yang Eric lihat? Dan apa yang ayah lakukan disana? Kemungkinan kata-kata Eric tadi adalah sebuah petunjuk.
Menyadari hal itu, Abhi dengan terburu-buru pulang ke rumahnya. Dia mulai menggeledah barang-barang dikamar ayahnya. Mulai dari lemari pakaian, laci meja kerja, sampai seprai dan bantal pun disingkapnya, tapi belum menemukan apapun. Ia memilih untuk duduk sejenak dipinggir ranjang, kemudian memijat pangkal hidungnya. Merasa sedikit pening karena ucapan Eric yang terus berputar dikepalanya.
Kakinya tak sengaja menyenggol sesuatu yang ada dikolong ranjang. Dengan cepat ia menunduk dan melihat sebuah kotak berwarna merah. Diambilnya kotak itu, lalu diletakkan diatas pangkuannya sekarang.
“Kotak merah? Kotak ini mengingatkanku dengan cerita kotak berisi kematian,” gumamnya pelan. Tangannya dengan lihai mulai membuka kotak tersebut dan menemukan selembar kertas putih yang berisikan angka yang tidak dia mengerti dalam sekali lihat.
Ia pandangi terus sampai matanya terasa perih. Kepalanya benar-benar pusing memikirkannya.
“Apakah ini sebuah petunjuk? Aku tahu ayah suka angka, tapi apa arti semua angka ini?” gumamnya pelan.
Abhidata kini mengingat apa yang ayahnya duka lakukan semasa hidupnya. Tapi, yang didapatkan adalah sebuah fakta jika ayahnya sangat menyukai ponsel kuno yang letak angka dan hurufnya bersamaan.
“83368855266 25588?”
“2733555?”
“Ya Tuhan, angka apa ini?” keluh Abhidata yang kini menarik rambutnya karena merasakan pening yang teramat.
Ia merogoh saku hoodienya untuk mengambil ponsel. Berniat untuk berselancar di internet dan memecahkan kode angka yang ditinggalkan ayahnya ini. Pertama ia mencoba kode angka, namun gagal. Dicoba lagi dengan kode-kode lainnya, hasilnya tetap nihil. Abhidata ingin pasrah saja saat ini. Dia kemudian hendak menelepon orang yang tadi ditemuinya di taman, menanyakan apakah dia tahu tentang petunjuk angka seperti ini.
Niatnya itu diurungkan, saat melihat keyboard teleponnya menampilkan angka dilengkapi dengan huruf dibawahnya. Otak kecilnya kembali bekerja, lalu coba menyusun huruf yang mungkin terbentuk dari angka itu. Kali ini dia menemukannya.
“Temukan aku?”
“Apel?”
“Apa lagi maksudnya ini?” gumamnya lagi.
Kembali ucapan Eric tentang ayahnya dan pohon apel itu. Dia dengan segera berlari menuju halaman belakang. Sampai didepan pohon apel tua itu, tangannya tertaut, dan matanya terpejam untuk merapalkan doa.
“Semoga yang aku cari akan aku temukan disini. Tolong berkati aku, Tuhan.”
Pemuda itu lari sebentar menuju gudang dan keluar dengan cangkul ditangannya. Ia mulai menggali dibawah pohon apel tua itu. Sedikit berhati-hati agar tidak melukai akarnya.
Setelah lama menggali, muncul sebuah kotak lagi. Kali ini berwarna hitam, “huh, kotak hitam. Mengingatkanku pada cerita kotak hitam pembawa kesedihan. Semoga tidak kesedihan yang aku dapatkan,” gumamnya pelan sambil membersihkan beberapa tanah yang menempel pada kotak itu.
Tangan Abhi terulur untuk membuka kotak itu perlahan. Dia menemukan sebuah amplop putih bersih didalamnya.
Ia membukanya lalu membacanya. Air matanya tak bisa terbendung, benar-benar tangisnya pecah saat itu juga setelah membaca surat itu. Eric benar. Tidak ada orang yang pergi tanpa meninggalkan apapun. Ayahnya telah pergi untuk selamanya, tapi kenangan bersamanya tak pernah ikut pergi.
Langit bergemuruh, dan rintik hujan mulai membasahi kota. Aroma khas tanah yang terkena air hujan mulai menyeruak menusuk ke dalam indra penciuman. Air hujan menyamarkan tangisan pemuda yang tengah terisak dibawah pohon apel tua itu.
Suratnya berbunyi:
“Anakku, Abhidata Revandra..
Waktu ayahmu ini tidak akan lama lagi,
Maafkan aku karena tak bisa selalu bersamamu,
Aku tahu, saat kau melihat dan mendengar tentang kematianku, kau akan merasa sendiri di dunia ini, kau akan ketakutan akan hal itu..
Aku sangat berharap ini tidak akan menjadi trauma untukmu..
Anakku yang kusayangi,
Kau harus tahu bagaimana dunia ini bekerja,
Manusia diciptakan untuk lahir ke dunia, berbuat kebaikan, dan setelahnya mereka tidak bisa melawan takdir.
Segala yang hidup akan mengalami kematian, dan aku adalah yang selanjutnya setelah ibumu.
Abhi, kau harus berjuang dalam kerasnya dunia ini.
Tapi satu hal yang harus kau pahami, bahwa kau tak pernah sendiri disini.
Kami mengawasimu dari kejauhan karena kami menyayangimu sebanyak 1117 bintang paling terang di angkasa.
Jadilah seperti pohon kelapa yang setiap bagiannya bisa berguna bagi orang banyak, dan terapkan pula ilmu padi yang telah kau pelajari.
Dari Ayahmu,
Rudi Avandi Revandra.”