Bruk bruk brak
"AKH GW TELAT,GIMANA NIH! " ujar alina yang panik setelah melihat jam alarmnya yang sudah menunjukkan angka 06.30. Ia berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri agar dia bisa pergi kesekolah.
Alina santasya atau yang sering di panggil Alina baru bangun jam 6.30 karena semalam ia sibuk nge-drakor. Saking sibuknya dia sampai tidak melihat jam dan berakhir dia sangat kaget pas melihat jarum jam yang sudah berada tepat di angka 12. Alina ini memang mempunyai sifat suka telat.
Sesudah mandi dia langsung ke dapur untuk sarapan. Alina tinggal di apartemen sendiri, kata Alina dia mau jadi mandiri mangkanya dia tinggal di apartemen sendiri tentunya setiap bulan orang tuanya akan mengirimkan uang saku.
Tepat pukul 6.50 Alina sudah selesai malakukan semuanya. Dia berlari ke arah lift. Memencet tombol lift agar Alina bisa turun ke lantai dasar menggunakan lift.
Ting
Pintu lift telah terbuka. Alina langsung masuk ke dalam lift lalu menekan tombol lantai dasar. Sambil menunggu ia merapikan rambutnya,ia mengambil lalu mengangkat rambutnya lalu dia ikat menjadi ikatan ekor kuda. Setelah lift sudah sampai di lantai dasar Alina langsung bersiap untuk keluar. Tidak membutuhkan waktu lama pintu lift terbuka. Alina langsung berlari keluar agar dia tidak telat ke sekolah.
Alina terus berlari. Dan akhirnya ia tiba di dekat sekolahnya.
"Hah~, itu dia gerbang sekolah" ucapnya kecapean karena Alina baru datang jam 6.58. Setelah Alina sudah sampai di depan gerbang nya dia langsung saja masuk ke dalam sekolah nya.
"Tepat waktu" Alina melihat jam tangannya, ternyata jamnya menunjuk ke arah jam 6.59. Dia berjalan lalu menaiki tangga untuk menuju lantai 3 karena kelasnya berada disana.
Sekolah neo highschool. Adalah sekolah menengah ke atas atau yang sering di sebut SMA adalah sekolah Alina. Alina sudah berada di tingkat terakhir yaitu kelas 12 atau di sebut kelas SMA 3.
"Duh ini gimana sih, gw gak ngerti" Sudah 1 jam pelajaran matematika berlangsung tapi itu hanya membuat kepala Alina sudah pusing melihat angka yang menari-nari di papan tulis. Pelajar matematika adalah pelajaran yang hampir di benci seluruh orang. Walaupun sudah memilih kelas IPS tapi tetap saja ada matematika. Waktu terus berjalan hingga tak terasa jam sudah menunjukkan angka 9 yang artinya jam istirahat sudah tiba.
Kring
"Akhirnya bel istirahat juga" ujarnya lega. Ia merapikan buku-bukunya sebelum turun kebawah untuk membeli makanan.
Sesudah membereskan makanannya Alina langsung ke kantin. Setelah membeli makanan ia segera mencari tempat duduk.
Dan~ ketemu.
Alina segera pergi ke pojok kantin untuk menempatkan kursi yang masih kosong. Setelah Alina duduk ia langsung makan makanan yang ada di depannya.
Tak
Alina menengok ke arah kanan untuk melihat siapa yang menaruh makanan di mejannya.
"Oh udah sampe, aku kira kamu mau di kelas aja buat pacaran sama buku lagi" ujar Alina setelah tau siapa yang sudah menaruh makanan di mejanya.
"Ck, aku kan belajar biar nilai bagus gak kek kamu" ujar Vano setelah ia duduk.
"Cih, gini-gini nilai aku masih lebih tinggi daripada kamu" ujar nya masih fokus makan.
"Iya deh si paling pintar"canda Vano
" hahahaha gak sadar diri, padahal sendirinya juga pintar " ujarnya membalas
Vano Anggara atau yang sering dipanggil Vano adalah pacar dari Alina. Orang-orang selalu memanggil pasangan ini dengan sebutan 'pasangan otak pintar' karena mereka berdua sama-sama pintar.
"Aduh asik kali pacarannya"
Vano dan Alina tersentak kaget.
"Astaga ngagetin aja" ucap Alina yang masih mencoba menenangkan detak jantungnya.
"Hehehe maaf"cengir seseorang yang tadi mengagetkan Alina dan vano
"Lain kali jangan ngagetin dong Valentina" protes Alina
Valentina Augustine adalah sahabat Alina. Kemanapun Alina pergi maka Valentina akan ikut. Orang-orang yang melihatnya pun akan berfikir bahwa mereka adalah anak kembar.
"Iya, habisnya kalian asik banget ngobrolnya" ucap Alina sambil duduk di sebelah Alina.
"Kalian tau gak?" potong Valentina sambil mengambil buah yang ada di nampan Alina.
"Gak!" balas Alina kesal.
"Kan gw belum bilang" protes Velentina.
Alina mengiraukan apa perkataan Valentina.
"Itu kan makanan gw kenapa lu ambil sih!" cemberut Alina. Bukan tanpa sebab Alina cemberut seperti itu. Buah yang dimakan Valentina adalah buah kesukaannya.
"Ini makan punya aku aja" Vano mengasihi buah yang dia punya.
"Makasih" ujar Alina ceria
"Sama-sama" balas Vano sambil tersenyum.
"Sebagai ganti dari anggur yang kamu kasih, aku bakalan kasih buah pisang buat kamu" Alina mengambil pisang yang ada di nampannya lalu memberikannya ke Vano.
Vano tersenyum sebagai balasannya.
"Ekhm, gw berasa nyamuk" bosan Valentina.
Alina menatap sinis Valentina. Walaupun sudah berteman dari zaman zigot hobi mereka adalah berantem. Kalo kata Valentina sih 'no berantem no life'.
Valentina yang tau dari tatapan Alina pun segera merasa bersalah.
"Ummm, ya maaf" ujar Valentina merasa bersalah. Alina hanya mengangguk tanda bahwa ia memaafkan Valentina.
"Lu mau kasih tau apaan?" ujar Vano yang sedari tadi menyimak nya.
"Itu loh...... Gak jadi deh, gw lupa mau ngomong apa" potong Valentina yang seketika lupa mau ngomong apa.
Vano dan Alina hanya bisa terdiam.
"MAKSUD LU APAAN YE, UDAH GW TUNGGUIN MALAH GAK JADI" emosi Alina sambil menggebrak meja di depannya. Alina sudah menunggu apa yang ingin Valentina ucapkan, bahkan Alina sampe berhenti makan buah kesukaan demi bisa fokus ngedengerin apa yang akan Valentina ucapkan.
"Ya maaf kan jadi lupa, gara-gara kalian romantisan didepan jomblo yang satu ini😔" ujar Valentina sedih. Ia lupa kalo temannya ini mempunyai kesabaran setebal tissu.
"Hehehe peace" cengir Valentina sambil menujukan peace atau angka dua.
Alina mengendus kesal. Sudah kesal gara-gara hampir telat masuk sekolah eh malah ditambah kesal gara-gara dia.
"Nyebelin banget sih, gak pernah berubah dari dulu, selalu aja cari ribut" gumam Alina.
"Lu ngomong apa? Gak kedengeran, kek kumur-kumur" protes Valentina yang tidak mendengar apa yang Alina katakan.
"Gak, gak ada apa-apa. Kepo" jawab Alina
Dan setelah itu bel masuk pun berbunyi.
"Vano, yuk ke kelas bareng" ajak Alina sambil menatap Vano
"Ayuk" Setuju Vano. Vano dan Alina berdiri dari kursinya lalu pergi menuju kelas.
"HEH!, JANGAN TINGGALIN GW DONG. MASA GW SENDIRIAN" teriak Valentina.
Alina serta vano terus berjalan menghiraukan Valentina yang berteriak tidak jelas.
'Malu-maluin aja si Valentina. Teriak-teriak kek di hutan' batin Alina.
Tak terasa mereka sudah sampe di kelas Alina.
"Kalo gitu aku ke kelas dulu ya" pamit Alina
"Iya, nanti pulang aku antar ok"
"Ok, kalo gitu sampe ketemu pulang sekolah" Alina melambaikan tangannya. Vano yang melihat itu hanya bisa terkekeh gemas. Setelah itu Vano berbalik dan pergi menuju kelasnya.
Alina segera masuk kelas. Guru pelajaran selanjutnya sudah datang ke kelas untuk mengajar.
Waktu terus berjalan. Detik berganti menit. Menit berganti jam. Matahari yang tadinya berada di ssebelah timur sekarang ada di sebelah barat. Bel sekolah pun sudah berbunyi yang menandakan bahwa sudah waktunya pulang sekolah.
Alina segera membereskan barang-barangnya setelah itu ia mengendong tas nya di punggung lalu segera pergi keluar kelas. Alina pergi ke lapangan parkir. Sesampainya di lapangan parkir Alina segera mencari Vano.
Dan....ketemu
Vano sedang duduk di atas motornya menunggu Alina untuk segera datang. Alina yang melihat Vano pun langsung berlari menghampiri Vano.
"Ayo balik. Bentar lagi malam" ajak Alina.
"Nih pake dulu" Vano memberi helm ke Alina agar kalo kenapa-napa mereka tetep selamat.
Alina memakai helm tersebut. Di awal Alina sempat kesusahan memakai helmnya tetapi akhirnya ia bisa memakainya sendiri. Setelah helm sudah terpakai dengan benar di kepalanya. Alina langsung naik untuk duduk di atas motor. Untung Vano sudah siap kalo tidak mereka berdua pasti sudah jatuh.
"Nah,ayo kita pulang" Vano menyalakan mesin motornya. Setelah motornya nyala Vano segera melajukan motornya ke rumah Alina.
Berkilo kilo meter sudah terlewati akhirnya mereka sampai di rumah Alina dengan selamat. Alina segera turun dari motor Vano. Ia melepaskan helmnya dan memberikannya ke Vano.
"Makasih ya udah anterin"
Vano terkekeh lalu berkata "Sama-sama, kek sama siapa aja sih" canda Vano. Alina tersenyum malu.
"Ya udah aku masuk dulu, Hati-hati di jalan ya" Alina segera masuk ke dalam rumahnya.
Vano yang melihat itu hanya bisa tersenyum. Setelah itu Vano menyalahkan mesin motornya lagi untuk melanjutkan perjalanannya.
Saat Vano melanjutkan perjalanannya tiba-tiba di telinganya terdengar suara, seperti... Suara alarm.
Kring.......Kring........
Vano membuka matanya dan dengan kagetnya dia langsung mendudukan dirinya. Vano menghembuskan nafasnya lelah.
"Hah~, mimpi lagi" ujarnya sedih.
Ia melihat jam menujukan angka 5 yang artinya sudah pagi. Vano turun dari kasur. Ia berjalan ke arah balkon kamarnya. Membuka pintu balkon lalu dia masu ke dalam balkon. Vano mendongakkan kepalanya kearah langit untuk melihat awan.
"Hai gimana kabarnya. Pasti udah bahagia. Ternyata aku masih belum bisa melupakan kamu. Sangat sulit ternyata" ujar Vano dengan sedih.
Ya Alina sudah meninggal 2 tahun yang lalu. Alina meninggal karena sakit yang di deritanya. Alina menderita penyakit jantung sedari lahir.
"Aku masih menyimpan barang yang lagi itu kamu kasih" Vano kembali masuk ke dalam kamarnya, lalu ia membuka sebuah kotak kayu kecil. Di dalam kotak tersebut, terdapat gelang yang biasa Alina pakai. Vano terus memandangi gelang Alina.
Sedangkan tanpa Vano sadari ada sesosok makhluk yang tak kasat mata ada di pojok ruangan sedang melihat ke arah Vano dengan raut muka yang sedih.
»»----> END <----««
End nya nangung banget😭😭, dah lah gak papa, otak udah buntu😔