[Sajadah Merah]
Senja yang mulai menyapa, mega merah mencuat hiasi langit. Maghrib telah tiba, saatnya kaum muslim bertemu dengan Rabb-Nya lewat Shalat. Bersujud penuh kesyukuran dan harapan penghapusan dosa.
Aini gadis cantik berusia dua puluh tahun dengan hijab yang senantiasa menutup mahkotanya. Ia besar dan tumbuh di keluarga sederhana. Ia hanya tinggal bersama bapaknya. Ibunya meninggal saat ia berumur 10 tahun.
Ia bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran sederhana milik seorang saudagar kaya. Aini si pekerja keras berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menjadi pelayan. Entahlah, apakah usahanya bisa merubah hidupnya?
“Aini, udah adzan tuh, ke masjid yuk!” ajak Rosa, sahabatnya dari kecil.
“Ayo!”
Aini dan Rosa adalah dua sahabat yang tak pernah absen dari mengaji pada Pak Kyai, bahkan saat mereka sudah hampir menginjak dewasa.
Mereka berbincang-bincang sembari melangkah pasti menuju masjid.
“Eh, tau enggak, ada ustadz baru di kampung kita loh. Dan Maghrib ini dia dapet giliran jadi imam. Katanya sih, suaranya bagus.” Rosa bersemangat.
“Astaghfirullah, Rosa!”
“Tuh ustadznya!” Rosa menunjuk seseorang, tetapi Aini tak dapat melihatnya.
“Dengan adanya ustadz itu, apa hubungannya dengan kita?” Aini enggan untuk membicarakannya.
“Hm, kamu gimana sih, ya kali aja ustadz itu naksir sama kita. Hihihi.“
Mendadak, ekspresi Aini berubah. Wajahnya terlihat masam. Dia mengingat masalah dengan bapaknya. Dua hari lagi dia akan dilamar oleh anak dari bos bapaknya. Perjodohan ini bukanlah hal yang direncanakan. Aini harus dinikahkan dengan Roy sebagai ganti dari kerugian yang dilakukan oleh bapaknya.
Aini tidak bisa menolak, sebab jika dia melakukan itu, maka bapaknya akan mengalami hal yang tak diinginkan. Aini tak bisa melakukan apa pun selain menurut.
“Percuma, Ros. Aku akan dilamar.” Wajah Aini murung.
Rosa merasa bersalah karena mengatakan tentang ustadz baru itu.
Shalat Maghrib dimulai. Rupanya, ada suara asing yang menyejukkan hatinya. Suara itu seperti air sungai yang mengalir pada tanah kering. Lembut dan penuh rasa.
Usai Shalat Maghrib, Aini berdo’a agak lama. Sedangkan Rosa sudah pulang duluan karena ia harus menyelesaikan tugasnya di rumah.
Mendadak, terdengar suara menjerit.
Tanpa pikir panjang, Aini tinggalkan sajadah merahnya dan menuju ke jalan raya. Rupanya seseorang telah tertabrak. Aini masih memakai mukenahnya. Ia membantu orang itu dan mencoba mencari bantuan lain dengan menelepon ambulans. Setelah semua selesai, Aini kembali ke masjid untuk mengambil sajadahnya. Tetapi, sajadah merahnya hilang! Dia ingat betul kalau ia meninggalkannya di shaf pertama. Ia tak lupa akan itu.
Tiba-tiba, Bapak memanggilnya.
“Aini, ayo cepat pulang! Bapak mau ngomong sama kamu!” teriak bapaknya dari luar masjid.
Tanpa pikir panjang, Aini meninggalkan masjid itu. Dia tak peduli lagi dengan sajadahnya. Mungkin, seseorang telah meminjamnya dan pasti akan diletakkan di lemari masjid, pikirnya.
***
Pagi yang indah, mentari menyapa. Aini berangkat ke restoran dengan bahagia. Dia terlihat senang, walaupun semalam harus berdebat dengan Bapak pasal pernikahannya.
Entahlah, semenjak Aini mendengar suara ustadz itu, rasanya semua masalah seakan menjadi ringan.
Aini terus berjalan menyusuri jalanan kampung. Mendadak, ia melihat sajadah merahnya yang dijemur pada jemuran orang lain.
Aini terus mendekat dan berusaha meraih sajadah itu. Ia tahu betul bahwa itu miliknya. Tuan takkan pernah salah dengan miliknya.
Diam-diam Aini mendekat dan menyentuh sajadah itu. Sayangnya, ia kurang cepat. Seseorang telah melihatnya. Orang asing. Dia tak pernah melihat tetangga baru itu.
Siapa dia?
“Mau ngapain kamu?” tanyanya menginterogasi. Aini diam membeku. Wajahnya gugup.
“I-ini, ini sajadahku!” Aini to the point.
Wajah lelaki itu masam. “Enak saja mengaku. Ini sajadah masjid. Kamu siapa hah? Berani-beraninya ngaku ini punya kamu. Aku yang ambil dari masjid!”
Aini menelan ludah kuat-kuat. “Tapi ini memang punya Aini. Aduh Bang, tolonglah ini sajadah satu-satunya yang Aini punya.” Aini memohon.
“Enggak bisa! Aku nanti dimarahi Pak Kyai kalo inventaris masjid ada yang hilang. Pergilah!”
Daripada memperpanjang masalah, Aini pergi. Mungkin kali ini dia yang salah. Tak semua Tuan tahu akan miliknya. Aini meminta maaf, kemudian berlalu. Orang asing itu, gelengkan kepala dan tersenyum kecil melihat tingkah laku Aini.
Hari yang melelahkan! Ditambah lagi, Aini harus bekerja lembur. Ini bukanlah yang ia inginkan.
Mendadak, seseorang yang baru ia temui datang bersama beberapa orang lainnya ke restoran itu. Pemuda yang ia temui saat berangkat ke restoran. Pemuda yang ia kira telah mengambil sajadahnya. Tiba-tiba saja, jantungnya berdegup kencang.
Apakah yang sedang Aini rasakan?
Apakah cinta?
Astaghfirullahal’adzim! Aini terus beristighfar.
“Aini!” teriak manajernya. Aini terbangun dari lamunan. Ia sempat terbangkan khayalannya tadi. Aini langsung menuju meja dimana manajer dan orang itu duduk.
Aini terlihat gugup.
“Dari tadi kamu udah saya panggil! Cepat layani orang-orang penting ini!” manajer Aini mulai marah.
Tanpa pikir panjang, Aini melayani pelanggan barunya. Hatinya makin berdetak kencang. Aini berusaha fokus, tetapi pemuda itu agaknya memperhatikan tingkah bodohnya itu.
Setelah melayaninya, Aini kembali ke tempatnya untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Tampaknya, para pemuda itu sedang mengadakan rapat di tempat Aini bekerja. Siapa pemuda itu? Batin Aini terus bertanya.
Mendadak, tanpa sengaja pemuda itu melihat Aini. Mata mereka bertemu. Jantung Aini makin berdetak kencang. Apakah ini cinta?
Setelah agak lama mereka di sana, akhirnya mereka pulang. Aini agak lega setelah pertemuan itu. Perasaannya campur aduk.
“Aku harus melupakannya.” Aini berbisik.
Malam mulai larut, dia harus pulang. Lagi pula, sudah saatnya ia pulang. Hanya ia yang masih berada di restoran karena harus mencuci piring yang begitu banyak. Ia memikirkan bapaknya. Bapak pasti sudah menunggunya. Aini bergegas.
Tiba-tiba, seseorang menariknya dan membawanya ke tempat yang gelap. Mulutnya ditutup oleh tangan yang kuat.
“Lu harus nerima gue, gimanapun caranya. Ngerti lu?!” Suara berat itu, Aini mengenalnya. Roy. Ya, itu suara lelaki yang Aini benci.
“Lepasin, Roy!” Aini berusaha teriak, tetapi tak bisa.
“Malem ini, lu bakal jadi milik gue. Ngerti?! Hahaha.” Roy mulai tertawa nakal. Ia berusaha mengusai tubuh Aini.
Aini berusaha melepaskan diri, tetapi Roy yang bertubuh kekar itu menahannya. Aini tak dapat melakukan apa-apa.
Apakah ia akan berpasrah? Tempat ini sepi dan gelap. Ia tak bisa membayangkan kalau hal buruk terjadi padanya malam ini.
Aini lemas. Ia tak sanggup karena Roy menariknya terlalu kuat. “Lu enggak bakal bisa kabur dari gue lagi, Aini!”
Alih-alih berpikir, Aini berusaha melepaskan diri. Ia mencari cara untuk kabur dari Roy.
Tetapi, bau itu. Bau yang memabukkan. Aini disumpal kain dengan bau busuk yang memuakkan. Ia mulai pingsan.
Mendadak, seseorang memukul Roy dari belakang. Dengan setengah kekuatannya, Roy melawan dan membalasnya. Pemuda itu terus-terusan mengeluarkan jurus bela dirinya. Hingga akhirnya, tubuh Roy lunglai. Terkapar di atas lantai.
Aini dibopong. Matanya masih sayu untuk sekadar melihat siapa yang telah menolongnya.
****
Cahaya lampu membangunkan Aini yang masih lemas. Apakah dia sudah kehilangan mahkotanya? Ia berusaha bangkit dan pergi dari tempat itu.
Aini menangis tersedu. Ia tak bisa memaafkan Roy dengan semua ini! Memalukan!
Mendadak, seorang pemuda datang sembari membawa air panas. Aini terkejut bukan main dan berusaha menjauh.
Dia, lelaki yang ia temui waktu pagi dan saat di restoran. “Aku tahu, kamu pasti ketakutan. Tenang, semua yang kamu pikirkan enggak terjadi. Aku menyelamatkan kamu dari Roy.” Lelaki itu berusaha mengambil tempat di dekat Aini.
Aini ketakutan. Wajahnya terlihat lelah. Pemuda itu tahu apa yang dipikirkan Aini. “Tenang, aku enggak ngapa-ngapain kamu. Dari tadi kamu pingsan. Sekarang aku mau bersihin lukamu yang di tangan. Atau... kamu mau melakukannya sendiri?”
“Aku sendiri.” Aini bergegas mengambil P3K di atas meja. Ia masih ketakutan. Karena ketakutannya itu, ia tak bisa membersihkan dirinya dengan benar.
“Kamu masih belum pulih. Sini biar aku saja yang bantu. Aku enggak akan menyentuh kamu. Cuman obat ini yang bakal menyentuh kamu. Aku janji.”
Aini menyerah. Ia memberikan obat itu kepada pemuda asing.
Perlahan dan pasti, pemuda itu mengobati Aini. Lagi, jantung Aini berdegup kencang. Ia merasa damai di dekat pemuda itu.
Saat pemuda itu mengobatinya, matanya mengitari ruangan sederhana itu. Ia melihat tumpukan pakaian kering yang tak terurus. Pasti pemuda itu sangat sibuk sampai tak bisa mengurus pakaiannya. Lagi, Aini melihat sajadah merahnya.
“Itu... sajadah...” Aini menunjuk sajadahnya. Pemuda itu tersenyum.
“Oh iya soal itu. Maaf, ternyata memang itu bukan milik masjid. Aku udah bicarakan ini sama Pak Kyai. Jadi, itu milikmu.” Pemuda itu bangkit dan mengambilnya. “Tapi belum aku setrika.”
Aini tersenyum.
“Waktu habis maghrib itu, kucing nakal tidur di sajadahmu. Aku pikir dia udah buang kotoran disana. Ya, ku kira milik masjid jadi aku bawa pulang lalu kucuci,” lanjut pemuda itu seraya kembali duduk.
Mereka tertawa dan saling menceritakan kejadian saat itu.
“Jadi, kamu ustadz baru itu?”
Pemuda itu tersenyum.
“Namaku Farhan, kamu pasti Aini.”
Aini terkejut, dari mana pemuda itu tahu namanya. “Kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku tahu kamu. Dengar, aku kesini bukan karena apa-apa. Pernikahanmu dengan Roy. Ya, dia adalah sepupuku. Kamu tahu, aku anak Pak Kyai. Pak Kyai minta aku buat nikahin kamu. Tapi, aku enggak kenal kamu. Aku tahu kebengisan Roy. Dia suka menikmati wanita. Dan Pak Kyai menyayangimu, katanya kamu murid ngaji yang pintar dan sholehah. Pak Kyai ceritakan segalanya dan aku, menuruti perintahnya. Aku pikir takkan bisa mencintaimu, tetapi ini jauh dari pikiranku. Aku... aku...”
Mendadak Pak Kyai datang.
“Farhan?!”
Farhan dan Aini terkejut. Pak Kyai datang tanpa diundang. Roy rupanya berusaha memfitnah Farhan.
“Farhan, katakan pada Abi kalau kamu enggak melakukan hal yang nyeleneh!”
“A-Abi, Abi ini bukanlah hal yang Abi pikirkan.”
“Jangan bilang kalau Abi telah salah mendidikmu, Nak. Abi kecewa sama kamu! Abi enggak menyangka kalau kamu gagal dengan misi ini!”
“Abi, menikahi Aini bukanlah sebuah misi! Farhan, mencintainya dengan tulus. Dan semua pikrian itu fitnah! Ini pasti ulah Roy!” mata Farhan memerah.
“Cinta? Aini milik gue, Farhan! Udahlah Pakde. Udah jelas 'kan, kalau Farhan sama Aini? Jam berapa sekarang, hah?!” Roy terus-terusan berkata licik.
“Pak Kyai, ini bukanlah hal yang dipikirkan. Semua ini hannyalah tipu daya Roy!”
“Eh Aini, lu ngapain aja sama Farhan?! Bapak lu udah nunggu!”
“Roy, diamlah!!” Pak Kyai mulai sebal dengan Roy. Beliau tahu kalau Aini tak pernah berbohong.
Tak berapa lama, bapak Aini dan ayahnya Roy datang. Bapak terkejut bukan main.
“Aini, pulang!” Bapak menarik tangan Aini. Farhan berusaha membela. Dengan tegas, ia berusaha menceritakan segalanya dan menunjukkan hasil dari CCTV.
Semua terdiam, termasuk Bapak. Aini dipeluknya, penuh dengan kasih sayang.
“Farhan akan menikahi Aini, dengan cinta. Dan, semua kerugian yang dihasilkan dari Pak Toni, Farhan akan tebus. Jangan salah kalau Farhan adalah seorang direktur!” Farhan berkata tegas di hadapan Roy dan ayahnya.
“Oke, kamu bakal bayar semuanya, keponakanku.” Ayah Roy mulai merelakan.
Roy terkejut. “Pah, tapi Aini... Aini 'kan... Roy harus dapatkan Aini, Pah!” Roy merengek.
“Papah malu sama kamu, Roy!” Ayah Roy berlalu meninggalkan semuanya, kemudian Roy menyusul.
3 bulan berlalu.
Aini tak menyangka bisa menikahi Farhan yang sebelumnya, sosok Farhan hanya diceritakan oleh Pak Kyai dalam pengajian.
Aini dan Farhan resmi menikah. Tak ada kata lain selain bahagia. Sajadah merah yang mempertemukan dengan kisahnya yang penuh drama.
Cinta didapat saat alam telah setuju untuk menyatukan. Cinta adalah hal murni, bukan paksaan yang terbatas. Datangnya cinta itu tiba-tiba, dengan rentetan kisah yang kadang harus mengorbankan seseorang.
****