Aku adalah seorang kucing kecil yang lucu. Aku memiliki majikan yang sangat menyayangiku dan mencintaiku. Majikanku bernama Lili. Dia selalu mengajakku bermain dan suka mengelus buluku sambil bersenandung senang. Lili adalah seorang wanita karir yang tinggal seorang diri, karena itu dia mencoba mengadopsi seekor kucing.
Lili pernah berkata bahwa dia sangat bersyukur telah mengadopsiku. Aku sangat senang mendengarnya, karena itu aku selalu berusaha untuk menjadi kucing yang baik dan tidak nakal.
Suatu hari, aku melihat kucing – kucing liar sedang bermain bersama. Karena aku bosan dan Lili sedang bekerja, aku pun mengikuti kucing – kucing liar itu. Aku mengikuti kemana pun kucing – kucing itu pergi dan tanpa sadar aku telah berjalan sangat jauh dari rumah. Aku segera pergi untuk kembali ke rumah dan tidak mengikuti kucing – kucing liar itu lagi. Saat di perjalanan pulang, ada sebuah mobil yang melaju dengan sangat cepat. Mobil itu menabrakku hingga tubuhku terpental sangat jauh.
Aku yang masih sadar pun tetap berusaha berjalan agar sampai ke rumah. Darahku bercucuran ke aspal jalanan, tapi aku tidak menghiraukannya. Karena aku takut saat Lili pulang dan tidak melihatku, dia akan panik dan sangat khawatir padaku.
Sesampainya di rumah, aku melihat Lili sedang panik seperti dugaanku. Aku segera menghampirinya dan mengeluskan badanku padanya. Namun Lili masih terlihat sedih dan panik. Aku merasa bingung, padahal aku sudah berada tepat dihadapannya.
Aku pun mengeong agar Lili melihat ke arahku tapi lagi dan lagi Lili tidak melihatku. Tiba – tiba telepon rumah berdering. Lili segera mengangkatnya dan menjawab telepon itu. Tidak lama kemudian ekspresi Lili berubah. Dia langsung terduduk lemas di lantai. Dia terlihat sangat terkejut dan menangis sekeras – kerasnya. Aku yang melihat itu ikut bersedih dan hanya bisa menjilat tangannya yang sangat dingin. Aku bingung kenapa Lili menangis. Aku hanya berpikir mungkin ada berita sedih yang disampaikan oleh si penelepon, tapi aku tidak tau berita sedih apa itu.
Lili menangis sangat lama hingga akhirnya dia tertidur di atas lantai. Aku yang tak tega melihat itu pun mengeong dengan keras, berharap Lili akan bangun dan pindah untuk tidur di kamarnya. Namun seperti tadi, Lili tidak mendengar suaraku. Aku hanya bisa pasrah dan ikut tidur di sampingnya.
Samar – samar aku mendengar suara seseorang memanggilku. Aku membuka mataku perlahan sambil berharap bahwa Lili lah yang sedang memanggilku. Namun bukan Lili yang memanggilku, melainkan seseorang dengan jubah hitam sambil membawa sabit. Sosoknya terlihat sangat familiar bagiku. Ternyata malaikat maut yang sedang memanggilku. Aku tahu dia seorang malaikat maut karena Lili sering membaca komik yang ada tokoh malaikat mautnya dan seseorang dengan jubah hitam itu terlihat sangat mirip dengan yang ada di komik itu.
Aku merasa takjub karena wujudnya bisa sangat mirip dengan yang ada di komik, tapi aku juga bingung kenapa ada malaikat maut di sini. Apakah dia sedang bertugas? Tetapi siapa nyawa yang akan dia ambil hari ini? Kenapa dia bisa berada di rumah Lili?
Aku berpikir sangat keras. Banyak hal – hal negatif yang terlintas dipikiranku. Seingatku Lili sehat – sehat saja. Lalu untuk apa malaikat maut ini datang. Karena penasaran aku pun bertanya pada malaikat maut itu.
“Wahai malaikat maut, sedang apakah kau di rumahku?“ tanyaku.
Malaikat maut itu pun menjawab, “Aku ingin membawamu ke tempat yang seharusnya.“
Aku pun makin dibuat bingung olehnya dan bertanya lagi. “Membawaku? Kemana? Bukankah ini tempat seharusnya aku berada? Di rumah Lili.“
Malaikat maut itu kembali menjawab, “Tidak kucing kecil, ragamu sudah membusuk dari beberapa jam yang lalu dan sekarang sudah seharusnya aku membawa jiwamu.“
Aku terkejut mendengar jawaban malaikat maut itu. Jadi inilah alasan mengapa Lili tidak dapat melihat dan mendengar suaraku dari tadi.
Aku sangat sedih mendengar hal itu, karena artinya aku tidak dapat bermain bersama Lili dan tidak dapat menemaninya lagi. Tetapi aku pikir itu tidak masalah, walaupun sekarang hanya jiwaku yang tersisa dan hanya aku yang dapat melihat Lili. Asalkan aku bisa bersamanya dan terus melihatnya, aku sudah senang.
“Malaikat maut, bolehkah aku menjaga Lili dengan hidupku?“ tanyaku kepada malaikat maut itu.
“Tetapi kau sudah tidak punya kehidupan lagi kucing kecil,“ jawab malaikat maut itu.
“Tidak apa – apa, maka aku akan menjaga Lili dengan segenap jiwaku. Aku akan memperhatikan Lili walaupun sekarang dia tidak bisa melihatku,“ jawabku sambil memperhatikan Lili yang sedang tertidur.
“Apa kau yakin dengan keputusanmu itu kucing kecil?“ tanya malaikat maut itu.
“Iya. Aku sangat yakin,“ jawabku tanpa keraguan.
“Kau tidak akan bisa lahir kembali ke dunia kalau tidak pergi sekarang,“ kata malaikat maut itu.
“Tidak apa – apa. Saat ini aku hanya ingin menjaga Lili dan aku sudah senang dengan hal itu,“ jawabku lagi.
“Baiklah kalau itu keputusanmu, kucing kecil. Semoga kau bahagia dengan keputusanmu itu.“ Setelah itu malaikat maut itu pun pergi.
Aku sedikit sedih karena keputusanku ini membuatku tidak bisa lahir kembali, tapi aku tidak akan pernah menyesalinya karena Lili adalah seseorang yang sangat penting dan aku ingin menjaganya selamanya.
5 tahun kemudian...
5 tahun sudah berlalu sejak kejadian saat itu dan aku pun masih setia menjaga Lili sampai sekarang.
Lili telah mengadopsi kucing baru. Kucing itu sangat cantik dengan bulunya yang berwarna putih sehingga terlihat seperti salju.
Walaupun Lili sudah mengadopsi kucing baru, dia tetap suka bersedih sambil memperhatikan fotonya saat bersamaku. Tetapi Lili selalu berdoa untukku dan tetap menjalani kegiatannya dengan baik.
Aku senang Lili bisa bangkit dari kesedihannya tapi sampai sekarang aku masih berharap agar bisa lahir kembali menjadi kucing kecil yang lucu agar bisa bersama Lili lagi. Aku tahu itu hal yang mustahil karena malaikat maut itu pernah berkata bahwa aku tidak akan bisa terlahir kembali.
Saat sedang merenung tiba – tiba aku melihat sosok dengan jubah hitam. Aku yang mengenalnya langsung menghampiri dia.
“Hai malaikat maut, sedang apa kau di sini?“ tanyaku.
Aku tidak berpikiran negatif akan kedatangan malaikat maut itu, karena malaikat maut itu muncul agak jauh dari rumah Lili. Jadi aku pikir dia tidak akan membawa seseorang dari rumah Lili.
“Hai kucing kecil, bagaimana?“ tanya malaikat maut itu.
“Bagaimana? Apa maksudmu malaikat maut?“ tanyaku bingung.
“Bagaimana dengan keputusan yang kau ambil beberapa tahun lalu? Apakah kau menyesalinya?“ tanya malaikat maut itu.
Aku pun menggeleng. “Tidak, aku tidak menyesal dan tidak akan pernah menyesalinya.“
Aku menjawab seperti itu karena memang aku tidak menyesalinya sama sekali.
“Apa kau ingin terlahir kembali kucing kecil?“ tanya malaikat maut itu.
Pertanyaan itu sungguh membuatku terkejut.
“Apa maksud malaikat maut?" tanyaku.
“Karena pengorbananmu dan kebaikan hatimu itu, kau diperbolehkan untuk terlahir kembali,“ jawab malaikat maut itu antusias.
Karena bagaimana pun malaikat maut itu tahu isi hati kucing kecil tersebut. Kucing kecil itu memang tidak menyesalinya, tetapi dia agak menyayangkan karena tidak bisa lahir kembali dan malaikat maut tahu akan hal itu.
“Benarkah itu?“ tanyaku memastikan.
“Tentu saja. Itulah mengapa aku ada di sini. Untuk menjemputmu kucing kecil,“ jawab malaikat maut.
“Tapi Lili...“ Belum selesai aku mengucapkan kata – kata itu, malaikat maut langsung menyelanya.
“Lili akan baik –baik saja. Bukankah Lili sudah punya teman baru? Lalu akhir – akhir ini Lili mendapat teman yang baik dan perhatian padanya,“ kata malaikat maut.
Lili memang mendapatkan teman baru setelah aku tiada karena kebetulan teman kerjanya ada yang mengalami kejadian seperti Lili. Hal itu membuat mereka menjadi teman dan dekat sampai sekarang.
“Baiklah malaikat maut. Aku akan ikut denganmu,“ jawabku.
“Bagus, ayo kita pergi sekarang,“ ajak malaikat maut itu.
“Sebelum itu bolehkah aku mengucapkan selamat tinggal dan melihat Lili untuk terakhir kalinya?“ pintaku.
“Baiklah,“ jawab malaikat maut.
Aku pun masuk ke dalam rumah dan menghampiri Lili.
“Lili, terima kasih untuk selama ini. Terima kasih untuk kasih sayang yang kau berikan selama aku hidup. Tetapi Lili, aku harus pergi sekarang karena aku ingin terlahir kembali dan cepat menemuimu lagi. Aku harap kita bisa bertemu di kehidupan selanjutnya. Aku sangat menyayangimu Lili.“ Aku mencium tangannya sebelum pergi.
“Sudah selesai kucing kecil?“ tanya malaikat maut.
“Sudah,“ jawabku.
Malaikat maut itu menggendongku. “Jangan bersedih, sekarang Lili berbeda dengan Lili yang dulu. Lili yang sekarang memiliki banyak teman yang baik. Tetapi satu hal yang perlu kau ingat, Lili akan menyayangimu seorang. Selalu dan selamanya.“
Aku sangat berharap semoga di kehidupan selanjutnya kami bisa bertemu kembali. Apapun wujud kami nantinya, semoga kami bisa saling menyayangi satu sama lain seperti ini.
Apa yang dibilang malaikat maut benar. Walaupun Lili memiliki banyak teman sekarang tapi bukan berarti dia melupakanku. Lili akan selalu menyayangiku begitu pula denganku. Selalu dan selamanya kami akan saling menyayangi satu sama lain.
Kini tugasku sebagai penjaga Lili telah selesai. Semoga kucing putih itu dapat menjaga Lili dengan baik, menemaninya dan menghiburnya selalu apapun keadaannya.