Dia yang saat ini sedang duduk dikursi yang menghadap ke meja belajarnya dengan pandangan yang kosong. Entah sudah berapa jam dia setia menatap note demi note yang sengaja ia tempelkan di sudut dinding kamarnya. Note-note itu sebenarnya berisi semua mimpi-mimpi yang sengaja dia tulis dari sebelum dia memasuki dunia perkuliahan.
Ya dia adalah Senja, Senja Aldira anak perempuan nomor dua dari tiga bersaudara. Dia memiliki kakak laki-laki yang saat ini sedang bekerja di Belanda yang bernama Allan Mahaputra Rajasa dan satu orang adik laki-laki yang Bernama Rafly Putra Rajasa yang sebentar lagi akan lulus dari bangku SMA, sedangkan Senja sudah lulus dan diwisuda sekitar satu tahun yang lalu.
Mimpi yang dia tulis diatas kertas note itu sebelumnya dia tempel di dinding kamar kostnya persis didepan tempat tidurnya, dan selalu dia lihat ketika bangun atau akan tidur katanya dulu itu sebagai penyemangat dia dalam menggapai mimpinya dan selalu dia doakan disetiap sujudnya. Dan ketika dia sudah selesai kuliah note-note itu ikut dia bawa pulang, namun note-note itu kini ia tempelkan dibagian belakang dari note yang berisi quotes kehidupan.
Katanya “mimpiku sama persis dengan letak mimpiku di note yang aku tulis ini, harus disimpan dan disembunyikan”. Apa yang sebenarnya terjadi dengan mimpi Senja? Ya Senja tidak diperbolehkan oleh orang tuanya untuk bekerja diluar kota dengan alasan dia anak perempuan satu-satunya didalam keluarga, dan aturan yang berlaku di keluarga Senja adalah “Anak perempuan harus berada dirumah tidak boleh keluar rumah, harus merawat orang tua” kata ibunya.
Padahal Senja merupakan anak yang cukup pandai dan aktif. Dulu semasa sekolah sampai kuliah Senja cukup aktif mengikuti organisasi baik didalam maupun diluar, dia memiliki teman yang cukup banyak. Bahkan Senja ketika kuliah memiliki pergaulan yang sangat positif dengan teman-temannya, dia juga pernah bekerja paruh waktu untuk mengisi waktu luang dan menambah pengalamannya.
Mungkin Senja sudah mengetahui peraturan yang berlaku didalam keluarganya, sehingga dia ingin memanfaatkan waktunya diluar sebaik mungkin. Apakah dari kalian ada yang bernasib sama dengan Senja? Jika kalian akan menjadi orang tua apakah kalian akan melakukan hal yang sama seperti orang tua Senja?
“Bukankah setiap anak boleh bermimpi? Bukankah setiap anak berhak mengejar mimpinya? Apakah kalian tidak akan bangga jika aku berhasil meraih mimpiku?” tanya Senja. “Jadilah anak yang patuh Senja, kamu dilahikan dan dibesarkan didalam keluarga ini, jadi anggap saja kamu sekarang sedang balas budi kepada kami. Toh semua kebutuhanmu sudah kami penuhi bukan tanpa kamu harus capek-capek bekerja” kata ayahnya “jadi bersyukurlah kamu!” tambahnya.
“Ayah, Senja tidak hanya memerlukan makan dan jajan yah. Senja juga pengen seperti teman-teman senja yang bisa bekerja atau berwirausaha seperti mimpi mereka, dan Senja juga pengen ayah dan ibu seperti orang tua teman-teman Senja yang membebaskan anaknya memilih apapun dan selalu mendukung apapun yang dilakukan anaknya. Dan satu lagi, kalau ayah bilang semua kebutuhan Senja bisa ayah penuhi tanpa Senja harus bekerja, jawabannya SALAH. Tidak semua yang Senja mau Senja katakan dan Senja minta ke ayah, Senja juga tahu diri yah, Senja bukan anak tunggal, ayah dan ibu juga harus membiayai kebutuhan rumah, sekolah Rafly dan harus kirim uang untuk kakek dan nenek. Selama ini Senja ikut kerja paruh waktu selain untuk menambah pengalaman juga untuk uang tambahan kalau Senja ingin membeli sesuatu yah” Senja menarik diri untuk mengambil nafas sebentar
“Ayah dan Ibu selama ini cuma memperhatikan Kak Allan dan Rafly, apakah pernah ayah dan ibu bertanya apa mimpi senja? Apa ayah dan ibu juga pernah bertanya apakah senja Bahagia selama ini? Apakah ayah dan ibu juga tahu apa saja kendala-kendala yang senja lalui selama kuliah? Tidak kan?” tanya senja
Ayah dan ibu hanya bisa diam dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Senja, mungkin memang benar selama ini mereka kurang mengobrol dan mendekatkan diri dengan Senja, tapi bukan berarti Ayah dan ibu lupa bahwa mereka juga memiliki Senja sebagai anak perempuannya, hanya saja mungkin kasih sayang dan rasa takut yang terlalu berlebihan dalam menjaga anak perempuan membuat mereka lupa bahwa Senja tetaplah anak muda apalagi Senja hidup dijaman yang serba modern ini, sudah barang kali dari segi pola pikir dan cita-cita Senja juga berbeda dengan orang tuanya. Sebagai orang tua seharusnya paham jika jaman sudah berkembang semua serba maju seharusnya pola pikir atau mindset sebagai orang tua juga harus ikut maju dan berkembang. Kadang beberapa didikan orang tua ke anak pada jaman dahulu tidak semuanya bisa kita terapkan ke anak yang hidup dijaman sekarang.
“Ayah, ibu izinkan Senja memilih jalan hidup Senja sendiri, Senja juga ingin membuat ayah dan ibu bangga karena memiliki anak yang hebat seperti Senja, Senja juga masih muda yah, masih banyak waktu yang bisa Senja pakai untuk mengejar mimpi Senja. Ibu jika Senja sudah menikah dan memiliki anak Senja ingin menceritakan kepada anak Senja bagaimana Senja harus berusaha yang keras untuk mewujudkan mimpi-mimpi Senja. Senja juga ingin anak-anak Senja kelak bangga karena memiliki ibu seperti Senja” mohon Senja pada ayah dan Ibu. “Jika itu pilihanmu dan jika itu membuatmu bahagia kejarlah nak, ayah dan ibu akan berdoa kepada Tuhan semoga anak-anak ayah dan ibu bisa menggapai mimpinya. Maafkan ayah dan ibu ya nak, karena selama ini ayah dan ibu kurang memahami apa keinginan anak ayah” kata ayah yang mulai melunak hatinya. “Ibu juga mengizinkan Senja, nikmati masa mudamu nak. Ibu ingin melihat anak-anak ibu sukses semuanya” kata ibu. Siang itu mereka bertiga berpelukan didalam kamar Senja yang cukup sederhana.
Sejatinya ego apabila ditinggikan akan merusak semuanya namun apabila ego direndahkan barang setitik maka semua akan kembali baik seperti sebelumnya. Tidak akan mengurangi harga diri dari seorang ayah ataupun ibu hanya untuk mendengarkan apa keinginan seorang anak. Tidak akan hilang kehormatan seorang ayah maupun ibu apabila mengikuti kemauan anak-anaknya.
“Ingatlah, anakmu bukan investasimu, anakmu bukan pula bonekamu, anakmu juga manusia mereka bisa berfikir mereka punya cita-cita pula. Tindakanmu yang akan menentukan seberapa besar baktinya kepadamu”