MENJUAL CINCIN MAK
" Nak, ini cincin Mak yang bisa kamu gunakan untuk keperluanmu nanti menjelang kamu berangkat ke Padang" Mak menyerahkan cincin itu ke tanganku. Aku dengan berat hati memasukan ke dalam saku-saku celanaku.
Dengan susah payah Mak telah menyimpan emas itu untuk anak-anak nantinya supaya anak-anaknya berhasil dan sukses.
Mak bagiku adalah orang yang sangat sayang kepada anak -anaknya, biarlah ia tidak makan asalkan anaknya dapat tumbuh menjadi orang yang punya ilmu pengetahuan. Ia memberikan semua itu adalah untuk anak-anaknya agar tidak hidup seperti dirinya kelak setelah pernikahan atau berumah tangga.
" Ya, Mak. Aku akan berangkat ke pasar dulu, menjual cincin ini" jawabku.
Aku berangkat menuju jalan raya. Aku membawa emas itu. Aku berjalan dengan pandangan orang-orang yang melihat diriku tanpa sepeda yang dikayuh untuk membawa sayuran yang dijual biasanya. Aku membiarkan pandangan-pandangan itu, aku yakin mereka berbisik dalam hatinya " mengapa Hasin tidak jualan sayur hari ini, mau kemana ia? " Aku yakin berbagai macam jenis pertanyaan yang ada dalam pikiran mereka saat aku melalui jalan menuju jalan raya. Komentar mereka memang tidak ada yang aku dengar tetapi aku yakin ada yang berbisik dalam hati atau membicarakan tentang diriku setelah aku melewati mereka. Apalagi di kedai-kedai yang banyak ibu-ibu yang sedang berbelanja dapur, pasti mereka akan memperbincangkan diriku. Aku tidak peduli. Aku akan tetap berjalan dijalan menuju jalan raya hingga aku naik kedalam mobil menuju pasar menjual cincin Mak yang aku terima tadi.
Aku melambaikan tangan, menyetop mobil yang menuju ke pasar. Mobil itu sudah banyak muatanya, sebab aku terlambat mendapatkannya, seharusnya sebelum mobil itu ke jorang sebelah aku sudah naik. Tetapi aku baru naik setelah mobil itu kembali dari jorong sebelah, terpaksa aku duduk agak ke pintu, dekat knek mobil devida warna hijau itu.
Dalam mobil, aku sudah menemukan mak-mak yang membawa barang bawaan yang akan dijualnya di pasar nanti. Dalam mobil itu berdesakan dan juga hiruk pikuk gosip mak-mak itu.
" Mau kemana Hasin? Apakah kamu mau ke pasar juga?" Tanya ibu Heni dengan agak merendahkan diriku.
" Iya, Mak. Aku mau ke pasar juga"
" Banyak uangmu sekarang, ya? " Ia mulai membuka percakapan dengan agak meremehkan.
" Memangnya kamu saja yang punya uang" balas ibu Mega.
" Eh, tidak. Tapi kan Hasin biasanya jualan sayur, mana tau ia sekarang sudah banyak uang dan pergi ke pasar " sela ibu Heni kembali.
Suasana mobil mulai agak henin. Karena ada sesuatu yang barangkali bisa membuat aku tersinggung dengan pertanyaan ibu Heni tadi dan sela percakapan ibu Mega.
Aku cuma diam. Tidak banyak bicara. Aku memperbaiki tempat dudukku dan memegang saku celana, merasakan apakah cincin emas Mak tadi masih ada dalam saku-saku celanaku, tanpa ada yang tahu bahwa aku memperbaiki letaknya dan memastikan tidak jatuh.
Aku memang orang miskin. Susah. Untuk jajan saja terkadang tidak ada diberi Mak ke sekolah. Aku menerima itu semua. Asalkan aku bisa sekolah dan suatu kelak aku dapat mencapai mimpiku. Aku berusaha tidak membebani Mak dengan jajanku, makan saja tercukupi oleh bapak dan Mak, itu merupakan hal yang sudah syukur bagiku.
Aku memang tiap hari, mengayuh sepeda, menjual sayur sepulang sekolah, atau memabutu bapak disawah atau diladang membersihkan sayur, sehingga waktuku tidak ada yang terbuang dan boleh dihitung jari pergi ke pasar dalam satu tahunnya.
Hari ini aku pergi ke pasar untuk menjual cincin Mak, disamping keperluanku nanti, meskipun 6 bulan lagi aku akan melanjutkan pendidikan ke Padang, namun Mak sudah menyuruhku untuk menjauh cincin itu.
Aku turun dari mobil, aku menyapa Bu Heni " Bu aku duluan, ya" ia tidak menghiraukan perkataanku, ibu Megalah yang menjawab " ya, hati-hati ya, Hasin" jawab ibu Mega.
Aku berjalan menuju toko mas di pasar itu. Aku mengeluarkan cincin yang diberikan Mak tadi. Orang toko mas melihat mas yang aku berikan. Ternyata mas yang aku jual itu adalah mas lama, rupanya mas itu telah disimpan semenjak aku masih bayi oleh Mak. Mak berjanji kepada bapak , ia tidak akan menjualnya apabila mas itu tidak ada keperluanya untuk diriku soal melanjutkan pendidikan atau soal keterdesakan penting buat diriku.
Aku memang amat bersyukur, mas itu terjual mahal, dan Mak yang memang betul-betul memperhatikan diriku.
Aku telah selesai menjual cincin Mak itu. Aku ingin kembali ke terminal dan berniat pulang.
Sebelum aku sampai ke terminal, aku melihat ada sepatu yang bagus di toko sebelah swalayan, aku mampir ke toko itu dan melihat-lihat sepatu, sandal dan sekaligus bertanya-tanya soal harganya. Aku tidak berniat membelinya tetapi aku hanya ingin tahu berapa harga sepatu itu. Seandainya aku punya uang nanti, aku bisa membelinya.
Orang toko mengetahui gerak gerikku bahwa aku tidak akan membeli sepatu atau sandal itu, ia dengan kasar berkata padaku " kalau tidak beli, tidak usah lihat-lihat"
Ucapan itu membuat hati sedih" kelihatan betul aku tidak punya uang" bisik hatiku.
Aku pergi. Aku hanya bisa sabar. Esok aku yakin, aku akan mampu membeli sepatu itu "Aku pasti bisa sukses dan memiliki uang yang banyak. Aku akan berusaha dan membuat orang-orang terkagum-kagum dengan keberhasilanku. Meskipun hari ini aku biasa-biasa saja, baik di kampung atau sekolah, satu saat, ketika takdir itu bisa aku rubah menjadi istimewa maka orang-orang akan memandang bahwa aku bukanlah sosok Hasin sekarang , entah jalan apa, kita lihat nanti " tekadku menggebu dalam hati.
Aku pulang. Setiba di rumah aku memberikan uang jual cincin tadi kepada Mak. Aku memperbaiki sepeda yang biasa digunakan bapak untuk jual sayuran dan aku memperbaiki tempat duduknya, menyetel ulang rem, karena kemarin aku hampir jatuh. Kampasnya aku ganti dengan sandal jepit yang tidak terpakai. Sehingga remnya sekarang sudah berfungsi seperti layaknya.