[Romansa] Kita selesai, aku pamit
Hatiku berdebar,mataku tidak henti-hentinya menatap sekitar jika saja orang yang kutunggu sudah terlihat. Janji temu kami sekitar pukul empat sore, jadinya aku datang 10 menit lebih awal untuk mencari meja dan menunggu.
Kubuka ponsel, menuju ruang pesannya namun tidak ada balasan apapun. Faisal tidak pernah terlambat sebelumnya. Sekarang malah sudah lewat 20 menit. Dia tidak sedang bercanda denganku kan?
Dia tidak marah karena aku sibuk mengurus penerbitan bukuku yang pertama kan? Ah keterlambatan ini membuatku berpikir buruk tentang kekasihku. Tapi jika ingin datang terlambat, dia bisa mengatakannya padaku.
"Dia pergi kemana? Padahal kita sudah lama tidak bertemu. Bagaimana bisa dia datang terlambat?"
Aku menyerah melihat sekeliling seperti orang linglung. Kuputuskan untuk fokus pada teh hijau milikku yang sudah dingin. Dan selang beberapa menit yang lamban, kudengar suara bel pintu berbunyi.
Ada seseorang yang masuk.
Bisa kukenali dia yang tengah mengedarkan pandangan untuk mencariku. Itu Faisal. Aku sangat mengenal jaket berwarna putih yang melekat di tubuhnya.
"Faisal," aku memanggil disertai lambaian tangan. Dia langsung menoleh ke arahku dan berjalan santai dengan tatapan aneh.
"Kamu darimana saja? Aku sudah lama menunggu," keluhku pada dia yang baru saja duduk. Kuberikan senyuman untuk mengubah air wajah masam Faisal, namun sepertinya tidak berhasil. Dia justru mengalihkan pandangan.
"Mau aku pesankan minuman? Kita bisa mengobrol sambil minum sesuatu," tawarku ramah. Faisal menggeleng, menolak tanpa suara.
Dia meletakkan tangan di atas meja, menatapku beberapa detik kemudian menarik kembali kontak mata. Ada yang coba dia sembunyikan. Aku yakin itu. Sikapnya seperti seseorang yang tengah berusaha berbohong.
"Kita akhiri saja ya," ucapnya setelah hening panjang, "aku sudah tidak tahan dengan sikapmu padaku."
Nafasku tersendat beberapa detik. Bahkan aku tidak mampu untuk bertanya maksud dari ucapannya. Dia bukan mengajakku bertemu untuk berkencan? Dia- apa yang dia katakan barusan pasti salah. Tapi aku tidak mampu menyelanya.
"Kamu sudah berubah dari sejak kita pertama bertemu, sejak kita memulai hubungan ini. Semua yang kamu lakukan ini hanya untuk buku dan tulisanmu. Kamu sudah jarang melihatku seperti dulu." Kulihat tangan Faizal mengepal di atas meja, tubuhnya berubah tegang.
"Aku seperti berkencan dengan orang lain belakang ini. Kamu sangat berbeda dari gadis yang aku kenal. Kamu berhenti menghabiskan waktu denganku, kamu berhenti membutuhkan aku di kehidupanmu."
"Sudah tidak ada lagi orang yang ingin kutemani malam-malam ketika tidak bisa tidur, panggilan video dan suara sudah tidak pernah datang di tengah malam. Dahulu aku merasa kamu benar-benar milikku. Tapi setelah semua ini, rasanya aku sudah tidak berguna lagi."
Akan kuraih tangan Faizal, namun laki-laki ini buru-buru menariknya dan disembunyikan di bawah meja. Apa dia sebenci itu padaku? Padahal kamu sudah melewati tiga tahun bersama-sama.
"Ketika ingin kuajak pergi, selalu ada alasan darimu. Kamu menolak dengan banyak alasan seolah permintaanku tidak ada apa-apanya daripada semua tulisanmu."
Lidahku keluh, mulutku membisu. Tkdak ada yang bisa membantumu untuk kembali bersuara mendengar semua ucapan Faisal. Air mataku sudah turun sejak kedipan pertama. Aku tidak mampu menahannya lagi.
"Aku sudah mencoba sabar setahun terakhir. Tapi aku merasa kamu tidak pernah menghargai itu. Semua tulisanmu lebih penting dariku. Tidakkah setidaknya kita bisa menghabiskan waktu bersama selagi kamu mengerjakan tulisanmu?"
"Maafkan aku," hanya itu yang bisa kuucapkan setelah membisu. Aku menunduk, menatap teh hijau yang enggan kuminum.
"Aku bisa datang ke apartemenmu dan membantumu. Aku ingin kembali berguna untukmu, aku ingin kembali menjadi kekasihmu. Aku ingin menghabiskan waktuku denganmu. Aku merindukanmu. Tapi kamu menolak, melarang ku datang."
"Ternyata aku terkalahkan dengan tokoh fiksi yang kamu ciptakan. Mungkin kita memang tidak cocok. Kita tidak pernah memiliki ketertarikan yang sama, jadi aku mengerti jika kamu tidak ingin melibatkan aku yang tidak tahu apa-apa tentang novel."
"Tapi..." Faisal menggantungkan kalimatnya, "...aku ingin membantumu menggapai mimpimu. Seperti yang selalu kamu lakukan untukku. Laki-laki macam apa yang ketika dalam masalah mendapatkan bantuan kekasihnya namun justru kehilangan peran untuk memberikan bantuan yang sama?"
"Faisal, aku tidak bermaksud untuk -"
"Aku tidak ingin mendengarkan apapun darimu," Faisal memotong ucapanku dengan cepat, "kita sudah selesai. Aku tidak akan menganggumu lagi. Aku tidak akan menghambat tulisanmu."
Faisal bangkit. Seperti pengecut dia meninggalkan aku di tempat dudukku. Bukankah seharusnya aku yang meninggalkan dia? Dia yang mencampakkan aku dengan semua alasan tidak masuk akal tadi.
Aku buru-buru bangkit, mengejar Faisal untuk menyatakan pendapatku tentang hubungan ini. Namun ketika kulihat seseorang di dekat pintu, niatku urung sudah. Sebaiknya aku tidak tampak menyedihkan lagi di hadapannya.
Faisal menatap orang yang ada di dekat pintu itu dengan tatapan membunuh. Jelas dia tahu siapa laki-laki yang tatapannya tertuju padaku yang terpaku di tempat.
Kepergian Faisal membuat udara di sekitarku mulai dingin. Tangan kakiku bergetar karena sikapnya yang seperti maha benar. Salahku karena menerima pengakuan cintanya waktu itu? Dia yang memulai, dia juga yang meninggalkan.
Kurasakan diriku yang melemah. Sikapku yang tampak seolah akan pingsan membuat dia yang sedari tadi memperhatikan langsung buru-buru mendekapku agar tidak jatuh. Sekali lagi dia membawaku ke dalam dekapan hangat yang belum pernah diberikan Faisal.
"Aku dicampakkan," bisikku pada laki-laki ini tanpa membalas pelukannya. Tanganku lemah. Sangat lemah. Dia mendudukkan aku perlahan, memegang tanganku yang mulai dingin agar tertular kehangatan.
"Apa salahku karena ingin mengabadikan dia dalam bentuk tulisan? Dia mencampakkan aku karena aku terlalu sibuk dengan urusan novel. Dia tidak tahan lagi dengan sikapku yang buruk, tidak bisa membagi waktu."
Aku menundukkan kepala, membiarkan semua air mataku jatuh tanpa tertahan. Biar saja orang-orang menatapku dengan tatapan sinis. Aku sudah tidak peduli lagi dengan dunia ini.
"Kenapa cinta pertamaku tidak mau menemaniku hingga aku berhasil? Apa memang hanya ini yang bisa dilakukan oleh cinta pertama? Tidakkah cinta itu terlalu kejam?"
Laki-laki di hadapanku mengangguk-angguk paham, terus menatapku dengan tatapan selembut mungkin untuk menenangkan. Ditariknya kursi miliknya agar berdekatan denganku.
"Bukuku sudah hampir siap. Bukuku yang kutulis tentang dia sudah akan kuterbitkan. Dia modelku, tokoh utama dalam cerita yang kutulis berbulan-bulan."
Jantungku terasa sangat sakit. Mengingat semua yang kulakukan dengannya beberapa tahun terakhir benar-benar merusak perasaanku.
"Pada akhirnya, yang tetap berada di sisiku di segala kondisi hanya kamu. Maaf sudah membuatmu repot jauh-jauh kemari, Kak."
Kakak sepupuku, Kak Bima, laki-laki yang selalu ada untukku hingga dicemburui Faisal selama pengerjaan bukuku. Kakak yang membantuku mengurus semuanya tanpa Faisal. Kakak yang jauh-jauh datang dari luar kota untuk membantuku.
"Tidak apa-apa," kembali aku dibawa ke dalam dekapannya, dielusnya Surai hitamku dengan penuh kasih sayang. "Menangislah sesukamu. Aku ada disini untukmu."
Kuharap aku tidak bermimpi indah malam ini. Aku hanya ingin tidur nyenyak.