Eyes of Love
“Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan?!”
Eleora terkejut ketika lengan tangannya sontak ditarik oleh seorang pria asing menjauh dari keramaiannya. Tubuhnya gemetar ketakutan, kini ia diangkat oleh pria itu.
Grep!
“Siapa kau?!” pekik gadis itu kembali. Ia putus asa, tak memiliki kekuatan untuk melawan pria tinggi yang mulai memasukkannya ke dalam mobil itu.
“Kembali ke kediaman,” titah pria itu kepada sopirnya. Gadis putus asa itu dibawa pergi secara tak lazim oleh pria asing. Di sepanjang perjalanan, pria itu menangkup wajah Eleora Ia juga memeriksa kondisi tubuh gadis itu, tanpa terkecuali.
“Bukan hanya menculikku, kau juga menyentuhku sembarangan! Sebenarnya apa maumu? Jika kau tak menjawab, aku akan menggigit lidahku sekarang juga!” ancam Eleora seraya mendorong keras tubuh pria di sebelahnya itu.
Pria itu memerintah sopirnya untuk menutup pembatas antara kursi sopir dan penumpang belakang. Ia mulai menyudutkan gadis itu di ujung kursinya.
“Susah payah aku mencarimu, akhirnya aku menemukanmu. Kau tidak kuizinkan untuk mati,” bisik pria itu. Eleora tersentak, nafasnya menderu cepat menandakan bahwa dirinya ketakutan.
“Apakah jika aku mati masih memerlukan izinmu?! Mengapa kau mencari gadis tunawisma dan buta sepertiku?!”
Benar, Eleora adalah seorang gadis tunawisma yang menderita penyakit mata sejak kelahirannya. Ia hanya sanggup melihat secercah cahaya, sisanya hanya hal buram semata. Hidupnya seperti menerima karma, ia baru saja diusir oleh sebuah keluarga yang menampungnya.
“Aku tak peduli keadaanmu. Mulai saat ini, nyawamu sangat penting bagiku, dan kau adalah milikku.”
“Dengar! Aku tidak memiliki waktu untuk bermain dengan pria gila sepertimu!” rutuk Eleora.
Brak!
Suara dari depan pembatas kursi tiba-tiba mengejutkan Eleora, ternyata ada yang memukul pembatasnya. “Jaga perkataan mulutmu! Kau berani menghina Yang Mulia!”
Yang Mulia? Miliknya? Oh, sepertinya aku bermimpi buruk hari ini. Sudah waktunya bagiku untuk bangun.
Pria itu menggenggam erat tangan Eleora, satu-satunya anggota tubuh yang membuatnya mudah berinteraksi. Eleora sontak diam, suatu rasa hormat dan segan seperti merangsangnya. Terutama, seperti rasa rindu.
“Tuan, kita sudah sampai.”
Pintu mobil dibuka, Eleora masih mendapat perlakukan tidak sopan oleh pria asing ini. Pria itu memperlakukannya seperti pengantin wanitanya, menggendong ala bridal style dan menjaganya seakan-akan dirinya adalah miliknya.
“Eduard, akhirnya kau pulang ....”
Suara seorang pria lain membuat Eleora mengalihkan pandangan kosongnya ke arah suara, ia hanya berharap bahwa kehidupannya selama ini berarti meski harus mati mengenaskan di tangan pria yang disebut ‘Yang Mulia’ ini.
“Izinkan aku bertemu dengan Ayah!” seru pria itu. Suaranya keras, menggemparkan ruangan luas yang tampaknya bergema.
Gadis setengah buta itu meraba, ia berdiri dari tempatnya dan menghampiri sumber suara. Paras cantiknya yang tak dihiraukan kini membuat seluruh insan dalam ruangan itu diam seribu bahasa. Sumber suara yang berat nan lembut milik pria yang menculiknya itu berhasil mengundangnya, kini Eleora menggapai lengan pria itu. “Kaukah ini?” tanya gadis itu.
“Inikah yang kau bawa? Cih, gadis cantik ini benar-benar serupa padanya,” sindir pria lain dengan nada bicara lirih.
“Diam! Aku tak memiliki waktu untuk berbicara denganmu. Bawa aku pada Ayah!” Ruangan itu dipenuhi oleh seru dan sorakan, membuat Eleora dilanda kebingungan. Sebenarnya di mana ia berada? Apa gunanya ia dibawa kemari?
Gadis itu kembali dikejutkan ketika dirinya dirangkul pergi dari ruangan itu, memasuki ruangan harum bunga dan cologne mewah. Suara anjing melolong, sangat ramai.
“Eduard, setelah 100 tahun akhirnya kau ingat untuk pulang.”
Suara berat milik pria paruh baya memenuhi seluruh ruangan, Eleora dipaksa untuk berlutut oleh dua orang yang memegangnya. Eduard geram, ia menyerang mereka dan menaungi Eleora dalam jubahnya.
“Hormat kepada Yang Mulia Raja Agung!”
Deg! Rasanya seperti berada di dunia lain, ini tidak nyata bagi gadis itu.
“Kedua belas putraku selama ini hanya bersenang-senang, kini aku ingin melihat apa yang putra tertuaku bawa untukku,” tutur pria paruh baya itu. Berlapis jubah mewah khas tahun 1800-an, ia berjalan menghampiri Eleora.
Eduard masih mendekapnya hingga gadis itu tidak terjangkau, membuat sosok ayah bagi pria itu tersenyum mengejek. Eleora memilih untuk diam, nyawanya akan melayang jika ia mengatakan hal sembarangan.
“Ayah, tunaikan janjimu. Kau boleh melihatnya, tapi kau tak boleh menyentuhnya,” ujar Eduard, saudaranya yang lain menertawakannya.
Pria paruh baya itu bernama Georgius, ia merungguh mendekatkan wajahnya kepada Eleora. Tatapan gadis itu kosong meski kedua sorot matanya tampak begitu indah berwarna abu-abu, namun hal itu membuat Georgius terkesima. Ia mengeluarkan kekuatan, mementalkan Eduard menjauh agar gadis itu berdiri di depan seorang diri. Georgius menyentuh dagu Eleora, menguasai kedua biji mata gadis itu hingga memancing amarah membara Eduard.
“HENTIKAN!” seru Eduard. Ia ditahan oleh adik-adiknya yang banyak jumlahnya, tak mampu menjangkau tempat Eleora berada.
Tubuh Eleora melayang, kesadarannya hilang, pupil matanya berubah menjadi warna putih. Georgius tertawa, bahagia, puas! Kedua manik mata gadis itu membuatnya terpesona. “Aku ingin membawa gadis ini. Jamu Eduard, ia sudah lama pergi.”
Penuh dengan tawa tipu muslihat, Eduard dibawa pergi menjauh dari tubuh Eleora yang kini tergeletak di lantai.
3 hari yang lalu.
Eleora diusir keluar dari keluarga yang menampungnya. Selain sulit bersekolah, ia juga sulit mendapat pekerjaan dengan keadaannya saat ini. Kesedihan sudah membuatnya kebal, gadis itu seperti tidak takut untuk menghadapi masalah seperti apa pun lagi. Namun ia tetap menangis, berjalan cepat membawa barang bawaannya dan tongkatnya hingga ia membuat masalah.
Bruk!
“Akh!” Kedua insan berseru ketika bertabrakan, gadis itu menjatuhkan kacamata hitam yang ia pakai untuk menandakan bahwa ia adalah seorang penyandang disabilitas.
“Maafkan aku.” Gadis itu bangkit, kedua tangannya meraba sepasang tangan yang membawanya berdiri. Matanya hanya tampak secercah cahaya kecil akan sosok pria tinggi berpakaian serba hitam. Buram.
“Kau ....” Suara seorang pria, Eleora menjadi gentar, ia sontak melepaskan sentuhan tangannya dan meraba-raba untuk mencari barang bawaannya. Namun semua barangnya dibawa oleh pria itu. “Aku tak akan membiarkan seorang gadis berkeliaran malam seperti ini,” tambah pria itu.
Eleora berakhir duduk di atas sofa hangat kediaman pria itu, menghabiskan waktunya selama tiga hari di sana. Begitu hangat, seperti rumah yang ia rindukan. Pria yang baik, sama sekali tak memiliki niat jahat terhadapnya, bahwa sering memperhatikannya dalam hal-hal kecil. Eleora tak perlu takut duduk di balkon rumah yang begitu dingin kalau pria itu datang menghangatkannya dengan jaketnya.
“Terima kasih, aku mengira aku akan mati kelaparan. Ternyata anda menampungku di sini tanpa alasan. Aku tidak pantas,” lirih Eleora.
“Apakah kau tidak takut aku akan melakukan sesuatu padamu?” Pria itu memecahkan suasana hening antara mereka berdua. Eleora menggelengkan kepalanya seraya mengukir senyum pada wajah cantik putih miliknya.
“Tidak! Lagi pula aku tidak takut mati, hidupku sudah cukup tersiksa,” sahut gadis itu santai. Senyumannya tampak palsu, hingga pria itu meraih tubuh gadis itu dan memeluknya tanpa izin.
“Maaf, namun kurasa kau memerlukan sebuah pelukan.”
Deg! Hati Eleora seperti ditikam oleh pedang tajam, setiap aliran kasih sayang tak terlihat yang pria itu salurkan padanya membuat air matanya sukses mengalir keluar.
“Benar begitu, menangislah sepuasmu,” tambah pria itu.
Isak tangis Eleora memenuhi rumah sepi itu, suasana menjadi begitu dingin dengan hujan salju yang menyusulnya. Hingga pagi hari gadis itu mencoba untuk berjalan santai mengelilingi kota, ia ditangkap oleh banyak orang yang diketuai.
♡♡♡
Kini dirinya membuka mata di dalam kamar mewah berbalut emas dan intan berlian, pakaiannya bahkan telah diganti hingga membuatnya syok terkejut. “Kya!” pekiknya.
Suara pintu terbuka, seseorang berbau cologne sama yang telah dihirup oleh Eleora kemarin memasuki ruangan. “Kau sudah sadar, Nona Eleora Van Bloom.”
Ini bukan mimpi, batin gadis itu. Ia menoleh ke sumber suara, pria paruh baya itu menghampirinya mendekat. “Jangan mendekat! Di mana pria yang membawaku kemari?!” Eleora mencari keberadaan Eduard, hanya dengan pria itu ia baru merasa aman.
“Eduard? Oh, ia sedang bersenang-senang dengan harta kebahagiaan yang baru kuberikan. Sebenarnya, ada hal yang perlu kau tahu tentangnya,” jawab Georgius.
Eleora tak peduli, ia berdiri dari kasurnya dan berlari seraya meraba untuk mencari pintu, namun tangannya ditahan oleh Georgius. “Lepaskan!” pekiknya meronta.
“Diam! Kau adalah gadis yang dirawat olehnya selama tiga hari itu!”
Deg!
Eleora terdiam di tempatnya, ia menoleh menatap Georgius meskipun biji matanya menatap kosong. “Apa maksud anda?”
Georgius menyihir Eleora, membuat gadis itu seakan-akan jatuh ke dalam alam ilusi. Kedua mata gadis itu terbuka, anehnya ia dapat melihat meski hal itu tidak nyata. Pria paruh baya itu membuka ingatan Eleora, namun gadis itu dapat melihat semuanya dengan kedua matanya. Eduard membawanya ke rumah, merawatnya, dan menghiburnya atas kesedihan adalah untuk tipu muslihat belaka.
Wajah pria itu tampak tersenyum jahat, semua itu tampak nyata, bahkan hari di mana pria itu memeluknya di balkon rumah. Pria itu tersenyum bahagia di balik kesedihan Eleora, membuat gadis itu menangis melihatnya. Pria yang merawatnya tanpa bayaran, bahkan hanya bersandiwara di atas kesedihan yang dideritanya.
Eleora kembali sadar dari alam ilusi itu, kedua manik mata abu-abunya mengalirkan hujan air mata. Pria itu seperti sisi lain Eduard—pria yang menyelamatkannya dari keterpurukan.
“Kau hanyalah obsesinya. Setelah apa yang ia inginkan terpenuhi, kau akan dibuang olehnya!” seru Georgius menghantuinya. Eleora menutup kedua telinganya, ia berlari keluar dari kamar dengan segenap kekuatan terakhir yang ia miliki.
Ia meraba dan meraba hingga sesosok insan bertubuh kekar menangkapnya dan mendekapnya dalam pelukan. Begitu hangat, Eleora mengenal insan ini. Eduard berhasil menjemput gadis itu dari jerat ilusi ayahnya, ia menangkupnya erat, seperti menjadikannya miliknya. Namun Eleora melepaskan kedua tangan pria itu, gadis itu menampar Eduard tepat di wajahnya.
Plak!
“Aku benci kau!” pekik gadis itu. Begitu lemas tubuhnya, hawa hitam mengelilinginya hingga membuat kemarahan Eduard memuncak.
Georgius keluar dari kamarnya dengan tawa puas dan melengking, ia bertepuk tangan ketika melihat raut wajah putra tertuanya itu penuh keputusasaan. “100 tahun kau mencarinya, ia hanya akan berakhir membencimu dan tak akan pernah mengingatmu!”
“Tidak! Diam kau!” rutuk Eduard pada ayahnya itu. Ia membawa tubuh Eleora yang sedang tidak stabil dalam pelukannya, menjauh dari kediaman penuh hawa jahat ini. Sudah kuduga ia hanya janji palsu.
Keluarga Borgios, menyimpan rahasia terbesar dari ahli waris tertua keluarga itu. Hal itu adalah cinta, cinta adalah hal yang begitu kuat dan begitu lemah di dunia mereka ini. Oleh karena cinta, rasa belas kasihan datang dan diri akan menjadi lemah lembut. Terutama orang yang dicintai, itulah yang dialami oleh Eduard. Oleh sebab itu ia disihir oleh ayahnya agar memiliki kekuatan “Mata Terhebat” di dunia. Oleh karna mata itu, ia akan mempengaruhi perasaan manusia oleh tatapannya. Setiap orang yang menatapnya akan kehilangan perasaan dalam hatinya.
Eduard terjerat dalam permainan ayahnya selama 100 tahun sejak ia kehilangan wanita yang ia cintai—Eleanor. Georgius berjanji kepadanya atas kenyataan bahwa wanita itu akan terlahir kembali, namun dengan alasan untuk membunuhnya secara diam.
Eleanor memiliki kekuatan murni dalam hidupnya, kekuatan melebihi akal manusia dalam dunia spiritual yang diinginkan oleh Georgius—pria yang begitu terobsesi untuk menjadi manusia terkuat di dunia ini. Setelah mengetahui niat busuk Georgius, Eleanor mengakhiri hidupnya agar menghindarkan kekuatannya untuk keinginan dan hasrat semata, dan hal itu menghancurkan Eduard—belahan hati wanita itu.
“Ia akan terlahir kembali di dunia ini sebagai penyandang disabilitas. Jika kau dapat menemukannya di dunia yang begitu luas ini, aku jamin akan menyembuhkan penyakitnya itu ketika kau membawanya kepadaku,” sumpah Georgius.
Awalnya Eduard percaya akan tipu muslihat ayahnya itu, kemarahannya dan kegeramannya dilupakannya, fokusnya untuk mencari reinkarnasi dari wanita yang ia cintai. Namun hal itu tetap saja tak terwujud ketika ia bertemu dengan Eleora.
“Jika aku mendapatkan kekuatannya, aku akan menjadi manusia terkuat di bumi ini. Aku akan menguasai bumi!” pekik Georgius. “Kau akan menjadi putra dari pria terkuat, semua perasaanmu itu tidak penting dan hanya membuatmu lemah!”
“Tidak! Kau salah Ayah!” bantah Eduard. Ia membawa tubuh Eleanor dalam pelukannya. “Cinta adalah hal terkuat di bumi ini. Tanpa cinta, kau tidak akan pernah ada!”
Georgius tertawa akan rasa percaya diri Eduard, ia menghampiri putranya. “Apakah kau masih mencintai wanita yang telah sepenuhnya melupakanmu ini?” sindir Georgius mengompori putranya.
Eduard tersenyum, ia mengusap wajah Eleora yang tak sadarkan diri, menangkup wajah gadis itu. “Hanya cinta yang dapat menyatukan kedua insan yang terpisah. Hanya cinta yang dapat menyatukan hal yang tidak mungkin bersatu!”
Eduard menyatukan bibirnya dengan bibir Eleora, membuat hawa hitam dari tubuh gadis itu menghilang. Kedua mata gadis itu terbuka, membuat Georgius berseru putus asa. “TIDAK!”
Eleora memeluk Eduard—pria yang konon baru hampir 4 hari bersamanya, kediaman itu seperti hendak meledak. Kekuatan yang begitu dahsyat, kekuatan yang didambakan oleh Georgius adalah Cinta. Pria itu selama ini tak menyadarinya.
Eleora berubah, mengenakan gaun sehari-hari milik Eleanor—istri Eduard. Seluruh ingatan jiwa gadis itu kembali ketika Eduard menyatukan cintanya pada gadis itu. Eduard bahagia, usahanya mencari wanita itu selama ini tak sia-sia.
Hal ajaib, tidak ada dinding pembatas di antara mereka. Kutukan Mata Hebat milik Eduard menghilang, begitu juga hal yang membutakan pandangan Eleora. Kedua hal yang terlarang untuk disatukan itu hilang musnah.
Georgius terpuruk, begitu juga kesebelas putranya yang lain. Mereka menyembah kedua insan yang berdiri di depan mereka, ketakutan dan gemetar. Mereka bersumpah untuk tidak mengganggu sepasang kekasih dunia akhirat itu, karena Eduard dan Eleora telah mengalami awakening yang sebenarnya.
Eduard tersenyum, mendekap Eleora dalam pelukannya. Semuanya telah berakhir. Obsesi, hasrat, dan dendam hanya bisa dikalahkan oleh cinta. Eleora menangis, ia memeluk erat pria yang telah ia ragukan.
“Aku percaya kau tidak akan mengkhianatiku. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku mencintaimu, Eduard,” lirih Eleora. Kedua manik matanya tampak begitu indah di bawah pandangan Eduard.
“Padahal kau dapat menepisku ketika aku menciummu,” sahut Eduard. Eleora tersipu malu dengan suami sahnya itu.
“Selama 3 hari bersamamu, kau mengajarkanku apa itu rasa cinta yang sebenarnya. Tanpa dapat memandangmu, aku percaya bahwa hatimu tulus padaku. Lalu, bagaimana kau dapat menemukanku?” timpal Eleora.
Eduard ikut tersipu. “Meski banyak orang buta di dunia ini, namun kau adalah satu-satunya gadis yang memiliki reaksi cahaya ketika kedua mataku ini menatap kegelapan dalam sorot matamu,” jawab Eduard.
Dengan pandangan, kau akan mengalami jatuh cinta. Namun dengan rasa aman, nyaman, dan kasih sayang, kau baru akan mengalami cinta yang sebenarnya.
Eyes of Love, END.
Eyes of Love
“Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan?!”
Eleora terkejut ketika lengan tangannya sontak ditarik oleh seorang pria asing menjauh dari keramaiannya. Tubuhnya gemetar ketakutan, kini ia diangkat oleh pria itu.
Grep!
“Siapa kau?!” pekik gadis itu kembali. Ia putus asa, tak memiliki kekuatan untuk melawan pria tinggi yang mulai memasukkannya ke dalam mobil itu.
“Kembali ke kediaman,” titah pria itu kepada sopirnya. Gadis putus asa itu dibawa pergi secara tak lazim oleh pria asing. Di sepanjang perjalanan, pria itu menangkup wajah Eleora Ia juga memeriksa kondisi tubuh gadis itu, tanpa terkecuali.
“Bukan hanya menculikku, kau juga menyentuhku sembarangan! Sebenarnya apa maumu? Jika kau tak menjawab, aku akan menggigit lidahku sekarang juga!” ancam Eleora seraya mendorong keras tubuh pria di sebelahnya itu.
Pria itu memerintah sopirnya untuk menutup pembatas antara kursi sopir dan penumpang belakang. Ia mulai menyudutkan gadis itu di ujung kursinya.
“Susah payah aku mencarimu, akhirnya aku menemukanmu. Kau tidak kuizinkan untuk mati,” bisik pria itu. Eleora tersentak, nafasnya menderu cepat menandakan bahwa dirinya ketakutan.
“Apakah jika aku mati masih memerlukan izinmu?! Mengapa kau mencari gadis tunawisma dan buta sepertiku?!”
Benar, Eleora adalah seorang gadis tunawisma yang menderita penyakit mata sejak kelahirannya. Ia hanya sanggup melihat secercah cahaya, sisanya hanya hal buram semata. Hidupnya seperti menerima karma, ia baru saja diusir oleh sebuah keluarga yang menampungnya.
“Aku tak peduli keadaanmu. Mulai saat ini, nyawamu sangat penting bagiku, dan kau adalah milikku.”
“Dengar! Aku tidak memiliki waktu untuk bermain dengan pria gila sepertimu!” rutuk Eleora.
Brak!
Suara dari depan pembatas kursi tiba-tiba mengejutkan Eleora, ternyata ada yang memukul pembatasnya. “Jaga perkataan mulutmu! Kau berani menghina Yang Mulia!”
Yang Mulia? Miliknya? Oh, sepertinya aku bermimpi buruk hari ini. Sudah waktunya bagiku untuk bangun.
Pria itu menggenggam erat tangan Eleora, satu-satunya anggota tubuh yang membuatnya mudah berinteraksi. Eleora sontak diam, suatu rasa hormat dan segan seperti merangsangnya. Terutama, seperti rasa rindu.
“Tuan, kita sudah sampai.”
Pintu mobil dibuka, Eleora masih mendapat perlakukan tidak sopan oleh pria asing ini. Pria itu memperlakukannya seperti pengantin wanitanya, menggendong ala bridal style dan menjaganya seakan-akan dirinya adalah miliknya.
“Eduard, akhirnya kau pulang ....”
Suara seorang pria lain membuat Eleora mengalihkan pandangan kosongnya ke arah suara, ia hanya berharap bahwa kehidupannya selama ini berarti meski harus mati mengenaskan di tangan pria yang disebut ‘Yang Mulia’ ini.
“Izinkan aku bertemu dengan Ayah!” seru pria itu. Suaranya keras, menggemparkan ruangan luas yang tampaknya bergema.
Gadis setengah buta itu meraba, ia berdiri dari tempatnya dan menghampiri sumber suara. Paras cantiknya yang tak dihiraukan kini membuat seluruh insan dalam ruangan itu diam seribu bahasa. Sumber suara yang berat nan lembut milik pria yang menculiknya itu berhasil mengundangnya, kini Eleora menggapai lengan pria itu. “Kaukah ini?” tanya gadis itu.
“Inikah yang kau bawa? Cih, gadis cantik ini benar-benar serupa padanya,” sindir pria lain dengan nada bicara lirih.
“Diam! Aku tak memiliki waktu untuk berbicara denganmu. Bawa aku pada Ayah!” Ruangan itu dipenuhi oleh seru dan sorakan, membuat Eleora dilanda kebingungan. Sebenarnya di mana ia berada? Apa gunanya ia dibawa kemari?
Gadis itu kembali dikejutkan ketika dirinya dirangkul pergi dari ruangan itu, memasuki ruangan harum bunga dan cologne mewah. Suara anjing melolong, sangat ramai.
“Eduard, setelah 100 tahun akhirnya kau ingat untuk pulang.”
Suara berat milik pria paruh baya memenuhi seluruh ruangan, Eleora dipaksa untuk berlutut oleh dua orang yang memegangnya. Eduard geram, ia menyerang mereka dan menaungi Eleora dalam jubahnya.
“Hormat kepada Yang Mulia Raja Agung!”
Deg! Rasanya seperti berada di dunia lain, ini tidak nyata bagi gadis itu.
“Kedua belas putraku selama ini hanya bersenang-senang, kini aku ingin melihat apa yang putra tertuaku bawa untukku,” tutur pria paruh baya itu. Berlapis jubah mewah khas tahun 1800-an, ia berjalan menghampiri Eleora.
Eduard masih mendekapnya hingga gadis itu tidak terjangkau, membuat sosok ayah bagi pria itu tersenyum mengejek. Eleora memilih untuk diam, nyawanya akan melayang jika ia mengatakan hal sembarangan.
“Ayah, tunaikan janjimu. Kau boleh melihatnya, tapi kau tak boleh menyentuhnya,” ujar Eduard, saudaranya yang lain menertawakannya.
Pria paruh baya itu bernama Georgius, ia merungguh mendekatkan wajahnya kepada Eleora. Tatapan gadis itu kosong meski kedua sorot matanya tampak begitu indah berwarna abu-abu, namun hal itu membuat Georgius terkesima. Ia mengeluarkan kekuatan, mementalkan Eduard menjauh agar gadis itu berdiri di depan seorang diri. Georgius menyentuh dagu Eleora, menguasai kedua biji mata gadis itu hingga memancing amarah membara Eduard.
“HENTIKAN!” seru Eduard. Ia ditahan oleh adik-adiknya yang banyak jumlahnya, tak mampu menjangkau tempat Eleora berada.
Tubuh Eleora melayang, kesadarannya hilang, pupil matanya berubah menjadi warna putih. Georgius tertawa, bahagia, puas! Kedua manik mata gadis itu membuatnya terpesona. “Aku ingin membawa gadis ini. Jamu Eduard, ia sudah lama pergi.”
Penuh dengan tawa tipu muslihat, Eduard dibawa pergi menjauh dari tubuh Eleora yang kini tergeletak di lantai.
3 hari yang lalu.
Eleora diusir keluar dari keluarga yang menampungnya. Selain sulit bersekolah, ia juga sulit mendapat pekerjaan dengan keadaannya saat ini. Kesedihan sudah membuatnya kebal, gadis itu seperti tidak takut untuk menghadapi masalah seperti apa pun lagi. Namun ia tetap menangis, berjalan cepat membawa barang bawaannya dan tongkatnya hingga ia membuat masalah.
Bruk!
“Akh!” Kedua insan berseru ketika bertabrakan, gadis itu menjatuhkan kacamata hitam yang ia pakai untuk menandakan bahwa ia adalah seorang penyandang disabilitas.
“Maafkan aku.” Gadis itu bangkit, kedua tangannya meraba sepasang tangan yang membawanya berdiri. Matanya hanya tampak secercah cahaya kecil akan sosok pria tinggi berpakaian serba hitam. Buram.
“Kau ....” Suara seorang pria, Eleora menjadi gentar, ia sontak melepaskan sentuhan tangannya dan meraba-raba untuk mencari barang bawaannya. Namun semua barangnya dibawa oleh pria itu. “Aku tak akan membiarkan seorang gadis berkeliaran malam seperti ini,” tambah pria itu.
Eleora berakhir duduk di atas sofa hangat kediaman pria itu, menghabiskan waktunya selama tiga hari di sana. Begitu hangat, seperti rumah yang ia rindukan. Pria yang baik, sama sekali tak memiliki niat jahat terhadapnya, bahwa sering memperhatikannya dalam hal-hal kecil. Eleora tak perlu takut duduk di balkon rumah yang begitu dingin kalau pria itu datang menghangatkannya dengan jaketnya.
“Terima kasih, aku mengira aku akan mati kelaparan. Ternyata anda menampungku di sini tanpa alasan. Aku tidak pantas,” lirih Eleora.
“Apakah kau tidak takut aku akan melakukan sesuatu padamu?” Pria itu memecahkan suasana hening antara mereka berdua. Eleora menggelengkan kepalanya seraya mengukir senyum pada wajah cantik putih miliknya.
“Tidak! Lagi pula aku tidak takut mati, hidupku sudah cukup tersiksa,” sahut gadis itu santai. Senyumannya tampak palsu, hingga pria itu meraih tubuh gadis itu dan memeluknya tanpa izin.
“Maaf, namun kurasa kau memerlukan sebuah pelukan.”
Deg! Hati Eleora seperti ditikam oleh pedang tajam, setiap aliran kasih sayang tak terlihat yang pria itu salurkan padanya membuat air matanya sukses mengalir keluar.
“Benar begitu, menangislah sepuasmu,” tambah pria itu.
Isak tangis Eleora memenuhi rumah sepi itu, suasana menjadi begitu dingin dengan hujan salju yang menyusulnya. Hingga pagi hari gadis itu mencoba untuk berjalan santai mengelilingi kota, ia ditangkap oleh banyak orang yang diketuai.
♡♡♡
Kini dirinya membuka mata di dalam kamar mewah berbalut emas dan intan berlian, pakaiannya bahkan telah diganti hingga membuatnya syok terkejut. “Kya!” pekiknya.
Suara pintu terbuka, seseorang berbau cologne sama yang telah dihirup oleh Eleora kemarin memasuki ruangan. “Kau sudah sadar, Nona Eleora Van Bloom.”
Ini bukan mimpi, batin gadis itu. Ia menoleh ke sumber suara, pria paruh baya itu menghampirinya mendekat. “Jangan mendekat! Di mana pria yang membawaku kemari?!” Eleora mencari keberadaan Eduard, hanya dengan pria itu ia baru merasa aman.
“Eduard? Oh, ia sedang bersenang-senang dengan harta kebahagiaan yang baru kuberikan. Sebenarnya, ada hal yang perlu kau tahu tentangnya,” jawab Georgius.
Eleora tak peduli, ia berdiri dari kasurnya dan berlari seraya meraba untuk mencari pintu, namun tangannya ditahan oleh Georgius. “Lepaskan!” pekiknya meronta.
“Diam! Kau adalah gadis yang dirawat olehnya selama tiga hari itu!”
Deg!
Eleora terdiam di tempatnya, ia menoleh menatap Georgius meskipun biji matanya menatap kosong. “Apa maksud anda?”
Georgius menyihir Eleora, membuat gadis itu seakan-akan jatuh ke dalam alam ilusi. Kedua mata gadis itu terbuka, anehnya ia dapat melihat meski hal itu tidak nyata. Pria paruh baya itu membuka ingatan Eleora, namun gadis itu dapat melihat semuanya dengan kedua matanya. Eduard membawanya ke rumah, merawatnya, dan menghiburnya atas kesedihan adalah untuk tipu muslihat belaka.
Wajah pria itu tampak tersenyum jahat, semua itu tampak nyata, bahkan hari di mana pria itu memeluknya di balkon rumah. Pria itu tersenyum bahagia di balik kesedihan Eleora, membuat gadis itu menangis melihatnya. Pria yang merawatnya tanpa bayaran, bahkan hanya bersandiwara di atas kesedihan yang dideritanya.
Eleora kembali sadar dari alam ilusi itu, kedua manik mata abu-abunya mengalirkan hujan air mata. Pria itu seperti sisi lain Eduard—pria yang menyelamatkannya dari keterpurukan.
“Kau hanyalah obsesinya. Setelah apa yang ia inginkan terpenuhi, kau akan dibuang olehnya!” seru Georgius menghantuinya. Eleora menutup kedua telinganya, ia berlari keluar dari kamar dengan segenap kekuatan terakhir yang ia miliki.
Ia meraba dan meraba hingga sesosok insan bertubuh kekar menangkapnya dan mendekapnya dalam pelukan. Begitu hangat, Eleora mengenal insan ini. Eduard berhasil menjemput gadis itu dari jerat ilusi ayahnya, ia menangkupnya erat, seperti menjadikannya miliknya. Namun Eleora melepaskan kedua tangan pria itu, gadis itu menampar Eduard tepat di wajahnya.
Plak!
“Aku benci kau!” pekik gadis itu. Begitu lemas tubuhnya, hawa hitam mengelilinginya hingga membuat kemarahan Eduard memuncak.
Georgius keluar dari kamarnya dengan tawa puas dan melengking, ia bertepuk tangan ketika melihat raut wajah putra tertuanya itu penuh keputusasaan. “100 tahun kau mencarinya, ia hanya akan berakhir membencimu dan tak akan pernah mengingatmu!”
“Tidak! Diam kau!” rutuk Eduard pada ayahnya itu. Ia membawa tubuh Eleora yang sedang tidak stabil dalam pelukannya, menjauh dari kediaman penuh hawa jahat ini. Sudah kuduga ia hanya janji palsu.
Keluarga Borgios, menyimpan rahasia terbesar dari ahli waris tertua keluarga itu. Hal itu adalah cinta, cinta adalah hal yang begitu kuat dan begitu lemah di dunia mereka ini. Oleh karena cinta, rasa belas kasihan datang dan diri akan menjadi lemah lembut. Terutama orang yang dicintai, itulah yang dialami oleh Eduard. Oleh sebab itu ia disihir oleh ayahnya agar memiliki kekuatan “Mata Terhebat” di dunia. Oleh karna mata itu, ia akan mempengaruhi perasaan manusia oleh tatapannya. Setiap orang yang menatapnya akan kehilangan perasaan dalam hatinya.
Eduard terjerat dalam permainan ayahnya selama 100 tahun sejak ia kehilangan wanita yang ia cintai—Eleanor. Georgius berjanji kepadanya atas kenyataan bahwa wanita itu akan terlahir kembali, namun dengan alasan untuk membunuhnya secara diam.
Eleanor memiliki kekuatan murni dalam hidupnya, kekuatan melebihi akal manusia dalam dunia spiritual yang diinginkan oleh Georgius—pria yang begitu terobsesi untuk menjadi manusia terkuat di dunia ini. Setelah mengetahui niat busuk Georgius, Eleanor mengakhiri hidupnya agar menghindarkan kekuatannya untuk keinginan dan hasrat semata, dan hal itu menghancurkan Eduard—belahan hati wanita itu.
“Ia akan terlahir kembali di dunia ini sebagai penyandang disabilitas. Jika kau dapat menemukannya di dunia yang begitu luas ini, aku jamin akan menyembuhkan penyakitnya itu ketika kau membawanya kepadaku,” sumpah Georgius.
Awalnya Eduard percaya akan tipu muslihat ayahnya itu, kemarahannya dan kegeramannya dilupakannya, fokusnya untuk mencari reinkarnasi dari wanita yang ia cintai. Namun hal itu tetap saja tak terwujud ketika ia bertemu dengan Eleora.
“Jika aku mendapatkan kekuatannya, aku akan menjadi manusia terkuat di bumi ini. Aku akan menguasai bumi!” pekik Georgius. “Kau akan menjadi putra dari pria terkuat, semua perasaanmu itu tidak penting dan hanya membuatmu lemah!”
“Tidak! Kau salah Ayah!” bantah Eduard. Ia membawa tubuh Eleanor dalam pelukannya. “Cinta adalah hal terkuat di bumi ini. Tanpa cinta, kau tidak akan pernah ada!”
Georgius tertawa akan rasa percaya diri Eduard, ia menghampiri putranya. “Apakah kau masih mencintai wanita yang telah sepenuhnya melupakanmu ini?” sindir Georgius mengompori putranya.
Eduard tersenyum, ia mengusap wajah Eleora yang tak sadarkan diri, menangkup wajah gadis itu. “Hanya cinta yang dapat menyatukan kedua insan yang terpisah. Hanya cinta yang dapat menyatukan hal yang tidak mungkin bersatu!”
Eduard menyatukan bibirnya dengan bibir Eleora, membuat hawa hitam dari tubuh gadis itu menghilang. Kedua mata gadis itu terbuka, membuat Georgius berseru putus asa. “TIDAK!”
Eleora memeluk Eduard—pria yang konon baru hampir 4 hari bersamanya, kediaman itu seperti hendak meledak. Kekuatan yang begitu dahsyat, kekuatan yang didambakan oleh Georgius adalah Cinta. Pria itu selama ini tak menyadarinya.
Eleora berubah, mengenakan gaun sehari-hari milik Eleanor—istri Eduard. Seluruh ingatan jiwa gadis itu kembali ketika Eduard menyatukan cintanya pada gadis itu. Eduard bahagia, usahanya mencari wanita itu selama ini tak sia-sia.
Hal ajaib, tidak ada dinding pembatas di antara mereka. Kutukan Mata Hebat milik Eduard menghilang, begitu juga hal yang membutakan pandangan Eleora. Kedua hal yang terlarang untuk disatukan itu hilang musnah.
Georgius terpuruk, begitu juga kesebelas putranya yang lain. Mereka menyembah kedua insan yang berdiri di depan mereka, ketakutan dan gemetar. Mereka bersumpah untuk tidak mengganggu sepasang kekasih dunia akhirat itu, karena Eduard dan Eleora telah mengalami awakening yang sebenarnya.
Eduard tersenyum, mendekap Eleora dalam pelukannya. Semuanya telah berakhir. Obsesi, hasrat, dan dendam hanya bisa dikalahkan oleh cinta. Eleora menangis, ia memeluk erat pria yang telah ia ragukan.
“Aku percaya kau tidak akan mengkhianatiku. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku mencintaimu, Eduard,” lirih Eleora. Kedua manik matanya tampak begitu indah di bawah pandangan Eduard.
“Padahal kau dapat menepisku ketika aku menciummu,” sahut Eduard. Eleora tersipu malu dengan suami sahnya itu.
“Selama 3 hari bersamamu, kau mengajarkanku apa itu rasa cinta yang sebenarnya. Tanpa dapat memandangmu, aku percaya bahwa hatimu tulus padaku. Lalu, bagaimana kau dapat menemukanku?” timpal Eleora.
Eduard ikut tersipu. “Meski banyak orang buta di dunia ini, namun kau adalah satu-satunya gadis yang memiliki reaksi cahaya ketika kedua mataku ini menatap kegelapan dalam sorot matamu,” jawab Eduard.
Dengan pandangan, kau akan mengalami jatuh cinta. Namun dengan rasa aman, nyaman, dan kasih sayang, kau baru akan mengalami cinta yang sebenarnya.
Eyes of Love, END.
Tentang Penulis
Queen J, seorang penulis yang dijuluki “An UnderAge Author” oleh teman-temannya. Pecinta komik dan novel slow burn romance. Mulai menulis di usia 14 tahun, telah menghasilkan banyak karya di platform online. Untuk mengenal lebih dekat, instagram : @authorqueenj. Temukan karyanya dengan nama pena “Queen J”.