Coklat Valentine untukmu
Teng...teng... Suara lonceng sekolah berbunyi, menandakan jam istirahat pertama sudah dimulai. Evy tampak sedang mempersiapkan sesuatu dari balik tasnya.
Hari ini adalah hari Valentine, Evy sudah mempersiapkan sebatang coklat yang rencananya akan ia berikan kepada Nick, kakak kelas yang selama ini ia taksir.
"Jadi kamu beneran mau kasih itu ke Kak Nick?", tanya Viny, teman sepermainan Evy.
Evy memamerkan coklat yang dibungkusnya dengan rapi sambil tersenyum bangga.
"Halah! Palingan juga ditolak", celutuk Selvi, teman Evy yang lain.
Evy menggembungkan pipinya.
"Kalian ya, bukannya mendukung supaya cintaku diterima, malah mendoakan aku ditolak".
"Iya iya, kami dukung deh", sahut Selvi sambil menyengir kuda.
Evy masih kesal dan terus memonyongkan bibirnya.
Nick adalah kakak kelas yang cukup populer di sekolah tempat Evy bersekolah. Ia adalah pemain andal dalam tim basket putra. Evy yang adalah pemain tim basket putri sering dibantu oleh Nick dalam berlatih, sehingga Evy mengaguminya. Nick mempunyai sahabat bernama Ben dan mereka selalu terlihat bersama. Ben juga kadang membantu Evy latihan, tapi sikap Ben yang usil membuat Evy kesal.
Sepulang sekolah, Evy menuju ke lapangan basket untuk mencari Nick. Nick tampak sedang memantul-mantulkan bola basket. Ben di bangku yang ada di pinggir lapangan basket, sedang memperbaiki tali sepatunya yang terlepas.
Ben melihat Evy dari kejauhan dan bermaksud memanggilnya tapi karena Evy malah mendekati Nick, ia pun mengurungkan maksudnya.
"Evy? Ada apa? Bukannya hari ini tim putri tidak ada latihan?", tanya Nick ketika melihat Evy mendekatinya.
"Aku ingin memberikan ini buat kakak", Evy mengeluarkan bungkusan coklatnya dan memberikannya pada Nick. "Aku mau bilang, aku suka kak Nick".
Nick terperanjat dan sepertinya ia melirik ke arah Ben yang melihat ke arah mereka.
"Terimakasih, Ev. Tapi aku tidak bisa menerimanya", sahut Nick.
"Ke-kenapa",mata Evy terasa panas, air matanya sepertinya akan mengalir.
"Em, aku sudah punya pacar", Nick memberi kode kepada cewek yang dari tadi menonton Nick dari kejauhan.
"Ada apa, Nick?", tanya cewek itu.
Cewek berambut panjang dan lebih pendek 2 atau 3 cm dari Evy. Cewek itu tersenyum pada Evy. Senyumannya manis.
"Ini pacarku, dia teman sekelasku", kata Nick. Cewek itu mengulurkan tangannya, Evy menyambutnya ragu-ragu dan mereka pun bersalaman.
"Evy".
"Lanny", jawab cewek itu.
Evy melepaskan tangannya dan pergi dengan langkah lesu.
"Kamu kok jahat banget sih, lihat tu dia jadi sedih", samar-samar Evy mendengar Lanny berbicara pada Nick.
"Kamu mau aku terima dia?"
"Ih, kamu...."
Evy semakin jauh sehingga ia tidak mendengar lagi pembicaraan dua orang sejoli itu.
"Hah....", Evy menghela nafasnya.
"Hayo! Ngapain kau!"
Evy berteriak kaget. Ben sudah ada di depannya sambil tersenyum usil, hal yang sering ia lakukan pada Evy.
"Kak Ben.... Bikin kaget aja", bentak Evy.
"Habisnya kamu langsung kelihatan sedih waktu habis bicara dengan Nick dan Lanny".
Evy memandang coklat yang tadi ditolak Nick dengan mata berkaca-kaca.
Ben langsung nyengir.
"Pasti kamu habis ditolak", tebak Ben. Evy diam, matanya semakin panas, apalagi dikata-katai Ben seperti itu. "Iya kan? Iya kan? Hahaha", tambah Ben.
Air mata Evy langsung menetes.
"Hueee.. Seharusnya aku dengar kata Selvi dan Viny. Aku pasti ditolak... Huaaaaa...".
Melihat Evy langsung menangis seperti itu, Ben langsung gelagapan. Beberapa teman sesama tim basket langsung menoleh ke arah mereka.
"Duh.... Kamu kok tiba-tiba nangis sih, nanti dikira aku jahat sama kamu", Ben berusaha menenangkan Evy yang masih menangis tersedu-sedu.
Nick dan Lanny melihat Ben yang tampak kebingungan sambil tertawa cekikikan.
Tak lama, Evy dan Ben sudah duduk di bangku di pinggir lapangan basket. Ben memberikan sapu tangannya kepada Evy yang sudah mulai agak tenang. Evy menerima saputangan itu dan menyeka air matanya.
"Maaf kalau aku malah membuatmu bertambah sedih", ucap Ben.
Evy hanya diam.
"Ini buat Kak Ben aja", Evy memberikan coklat yang tadi ditolak Nick.
"Yang benar aja, masa aku dikasih coklat yang seharusnya kamu kasih ke orang lain",ujar Ben.
"Kalau gak mau ya udah", ketika Evy akan menyimpannya dalam tas, Ben menarik tangan Evy.
"Ya udah, biar buatku", kaya Ben.
Evy tersenyum kecut dan memberikannya pada Ben.
"Kak Ben gak dikasih coklat sama sekali ya? Kasihan", ejek Evy.
Ben terlihat senang karena Evy sepertinya udah mulai seperti biasa.
"Enak aja, tadi banyak yang mengantri kasih aku coklat kok. Nih...", Ben menunjukan isi tasnya.
"Wah banyak juga. Kak Ben ngetop juga ya".
"Ya iya donk... Meremehkan aku nih. Enggak sopan".
Evy tertawa. Ben terdiam.
"Baguslah kamu sudah baik-baik saja", kata Ben.
Mendengar kata-kata Ben itu, Evy menjadi salah tingkah.
"Ben! Mau sampai kapan kau bersantai di situ? Ayo kita mulai latihan!", Panggil Aaron, salah satu anggota tim basket putra.
"Sebentar, aku akan ke sana!", Sahut Ben.
"Aku latihan dulu", Ben pun beranjak dari tempat duduknya dan mulai berlatih basket bersama teman-teman setimnya.
"Nah kan, apa kubilang, pasti ditolak", ejek Viny.
Evy memonyongkan bibirnya.
"Kamu ya, bukan menghiburku, malah mengejekku", ujar Evy kesal.
"Lalu coklatnya bagaimana? Kan gak jadi kamu kasih. Buat aku aja donk", Selvi bersemangat, berharap mendapatkan coklat yang ia gemari.
"Hm.... Coklatnya kukasih ke Kak Ben."
"Yah...", Selvi kecewa mendengarnya. "Ngapain juga kamu kasihkan ke Kan Ben sih, pasti Kak Ben udah punya banyak coklat".
"Lho, kok kamu tahu. Kemaren Kak Ben memperlihatkan tasnya yang penuh dengan coklat".
"Jelas tahu. Kak Ben kan salah satu MVP di tim basket kita, jadi dia banyak fansnya", jelas Selvi.
"Kamu sih, kebanyakan mikirin Kak Nick aja, jadinya Kak Ben seperti manusia transparan, tak terlihat", celutuk Viny.
"Kak Ben sering ngusilin aku, jadinya aku gak perhatikan dia. Beda dengan Kak Nick yang ramah, dan perhatian."
"Eh, biasanya kalo cowok ngusilin cewek tu karena dia suka", kata Viny dengan senyum menggoda.
"Ah, nggak mungkin. Kamu ngaco aja"
Teng Teng Teng....
Bel sekolah berbunyi. Viny, Selvi dan Evy yang daritadi duduk di bangku depan kelas mereka cepat-cepat masuk kelas dan duduk di bangku mereka masing-masing. Mereka bertiga adalah murid di kelas 1-3.
Hari ini pelajaran pertama dimulai dengan Matematika, pelajaran yang sangat dibenci Evy. Rasanya berat sekali melalui hari ini.
Hari ini ada latihan basket bersama tim putra dan tim putri. Evy sebenarnya agak malas mau ikut latihan, apalagi ada Kak Nick. Rasanya nggak enak kalau harus bertemu Kak Nick setelah ia ditolak.
Evy dengan langkah gontai memasuki ruangan ganti baju.
"Kenapa kamu lemes banget kayak gitu sih?", tegur Merry, salah satu teman di tim basket putri.
"Enggak, cuma lagi gak enak badan aja", bohong Evy.
"Lebih baik kamu istirahat saja kalau memang tidak enak badan", saran Merry.
"Aku masih bisa kok", kata Evy.
"Ya udah, tapi jangan memaksakan diri lho".
Suasana lapangan basket hari ini cukup ramai. Di pinggir lapangan banyak murid cewek berdiri, sepertinya mereka menantikan acara latihan hari ini.
"Tumben hari ini rame banget", ujar Evy heran.
"Kita hari ini ada latih tanding dengan tim cowok, jadi mungkin itu yang bikin cewek-cewek pada ribut."
Suasana semakin riuh ketika tim cowok memasuki lapangan. Ben melambaikan tangannya dan disambut sorakan cewek-cewek di pinggir lapangan.
"Ih, sok banget dia", batin Evy.
Suara peluit berbunyi, masing-masing anggota tim pasang posisi.
Bola dilempar dan Merry melompat meraih bola tapi ia kalah kuat sehingga Aaron berhasil merebut bola itu.
Aaron mendribel bola itu menuju ring lawan, Evy menghalangi Aaron. Aaron yg terdesak, melempar bola itu tinggi ke arah ring dan plash! Bola masuk. Seluruh lapangan menjadi sangat riuh. Evy hanya berdecak kesal.
Sepuluh menit pun berlalu, papan skor menunjukkan angka 6-3. Tim putra unggul.
"Masih ada 3 babak, masih ada kesempatan buat mengejar ketertinggalan kita", kata Maya, ketua tim putri.