BUKAN IMPIAN KU YANG TERLALU TINGGI
Tak kusangka perjalan ku begitu panjang dan berat, yaa mungkin bagi sebagian orang ini terlalu tinggi. Namaku azam yang di besarkan dari keluarga sederhana. Bapa ku seorang supir becak dan ibu ku sebagai cuci baju keliling, aku anak kedua dari tiga bersaudara ,kaka ku perempuan sudah berumah tangga adik ku baru umur sembilan tahun yang duduk di bangku SD.
Aku sendiri sudah lulus sma dua tahun lalu . aku yang setelah lulus langsung mendaftar sebagai prajurit negara harus menelan pil pahit karna percobaan pertama ku harus gagal karna di bagian fisik .
Tahun berganti tahun aku pergi mendaftar lagi dan sama seperti awal bahwa aku gagal lagi di bagian tes tertulis . pada akhirnya tahun ini aku mantap untuk mendaftar lagi.
Dada ini selalu sesak mendengar cemoohan para tetangga yang berusaha membuat mental ku down walau jujur sudah sering sekali aku merasa down karna omongan yang begitu menyayat hati kecil ini sampai menyisakan luka besar yang susah sembuh.
Seperti sekarang aku sedang berolahraga seperti biasanya tapi banyak sekali pandang mata mengejek mengarah kepada ku yang mengisyaratkan bahwa menjadi seorang prajurit negara tidak cukup hanya dengan berolahraga dan cukup tidak pantas bagiku yang hanya dari keluarga kalangan kebawah.
Jujur saat itu aku menahan air mata ini yang mungkin ingin sekali keluar . Setelah sampai di sebuah lapangan luas aku pun menlajutkan kembali aktivitas ku dan bertemu teman kecil ku seperti biasa, dia juga mendaftar tahun lalu bersamaku dia juga sama sepertiku gagal mendaftar tapi dia tidak berniat melanjutkannya lagi, dia beralih profesi ingin menjadi seorang polisi.
Di pagi hari aku pun ikut mengantar ibuku ke sebuah rumah di komplek cukup besar, untuk mengantar baju yang sudah di cuci ibuku. Di perjalanan banyak sekali orang-orang yang melihat kearah ibu dan aku banyak yang berbisik-bisik mengatakan bahwa “ anak tukang becak kok punya cita-cita terlalu tinggi harusnya sadar diri”
“ Iyaa padahal sudah dua kali gagal kok masih nyoba aja, uang nya di mubazir terus “
“ Jangan maksain deh orang tua pontang panting nyari uang nyari pinjaman ehh anaknya gak lulus-lulus hahaaa”. Begitulah ucapan orang ber'uang, begitu tajam.
Setelah selesai mengantar ibu aku pun masuk kedalam kamar dan menangis , aku tau itu memang tidak pantas tapi bisakah omongannya dijaga aku juga punya hati, “ Ahhh kenapa sama semua orang, karna aku orang gapunya jadi mereka seenaknya ngomong gituu. Padahal aku juga berhak mempunyai impian hiks hiks ....”
Ibuku masuk kedalam kamar dan terkejut melihat aku anak laki-laki nya yang begitu riang terlihat menyedihkan dan menangis tersedu-sedu . aku jarang sekali menangis bahkan terbilang tidak pernah apalagi di depan ibuku sendiri , ia menghampiri dan terus melontarkan beberapa pertanyaan yang kebanyakan di ulang-ulang ia berusaha menenangkan sambil mengusap kepala ku lembut .
” Bu azam gabisa maaf azam nyusahin ibu sama bapak terus . azam gamau lagi jadi tentara azam kerja aja sama bapak azam gamau buu, gamau azam cape ” sambil memeluk tubuh sang ibu azam terus terisak.
” Nak ibu sama bapak kerja cape ya buat kamu sama adekmu,kamu sudah kewajiban ibu dan bapak”
“ Azam nyerah aja bu , azam cape azam sadar diri kok . lagi pun bener kata orang-orang azam tu gabakal bisa jadi tentara . azam cape olahraga terus ngolah fisik, makan pun azam jaga gak sembarangan apalagi pergaulan, belajar ngapalin ini itu tetep aja gada hasil bu. semuanya gada hasil percuma azam bersih keras juga gabakal bisa buu” suara tangisan azam mungkin terdengar begitu menyayat hati bagi orang yang mendengarnya .
Ibu azam terus berusaha meredakan tangisan azam yang semakin kencang sampai tepat sore hari tangisan azam mereda dan terlelap di pangkuan sang ibu .
Di depan rumah terdengar ketukan pintu ibu pun membuka perlahan dan terlihat lah suaminya dengan seseorang yang ternyata teman sedari kecil azam ingin mengunjungi azam .
“ Bapak sudah pulang, ehh ada nak ali juga . Ayo masuk azam nya lagi tidur tadi abis nangis” ucap ibu lirih.
“ Azam kenapa bu? “
“Itu pak azam tadi ngedenger para tetangga ngomong gabener , azam nya sakit hati terus nangis dari siang. Baru reda tadi langsung tidur”
“ eumm yasudah ali masuk aja ke kamar azam, maaf berantakan rumahnya “
“ ehh gapapa pa” ucap ali dan langsung masuk ke dalam kamar .
Dengan perlahan ali membuka pintu , ali terenyuh melihat keadaan azam dengan mata sembab dan baju acak-acakan . ali menghampiri azam dan berkata” kenapa lagi si zam kan udah gw bilangin omongan orang lain jangan di dengerin .gw tau lu lagi nyerah sekrang tapi gak harus sampe segini nya juga”.
Merasa terusik azam pun membuka mata dan melihat ada teman kecilnya yang sedang menatap nya sambil tersenyum. Azam pun kembali terisak sambil berkata “ lii gw gagal li gw gagal” sambil memukul dada nya yang mungkin sangat sesak.ali yang melihat itu dia pun membentak azam.
“ ZAM CUKUP YAH, ini bukan azam yang gw kenal . azam yang gw kenal itu dia riang banget dia juga selalu semangat walau gak ngebuahin hasil, lu kok lemah banget jadi cowo lu tuu cowo zam, cowo .mana katanya mau ngebahagian orang tua,katanya mau ngangkat derajat keluarga. Cuman karna omongan orang lain lu langsung nangis gini. Sumpah lu lemah zam” ucapnya sambil menepis tangan azam yang terus memukul dada.
Azam yang mendengar itu seketika berhenti dan menatap lekat wajah temannya itu dan ia langsung menunduk lesu “ lu tau ga impian gw emang mungkin terlalu tinggi gw gabakal bisa. Semua yang gw lakuin emang bener gada hasil li “
“ Hehh pala toge, harusnya lu tuu mikir kalo di omongin gitu tuu yaa mikir, jadiin motivasi bukan malah nyerah gitu aja. Sayang lah sama perjuangan lu dari dua tahun lalu masa mau udah aja “
“ Yaa buat apa di terusin juga gw orang gak mampu, gw gak punya apa-apa. Yang gw punya cuman sebatas hayalan. Jadi yaudah dari pada buang-buang waktu mening udah aja iyaakann lagian udah biasa dapet lontaran kaya gitu.”
“ Hahhh lu kenapa sih. Karna lu orang gak mampu?lu gak punya apa-apa? Jadi gak berhak gitu buat lu wujudin impian tinggi???. Haha itu gak seharusnya di dijadikan alesan , sebuah kesuksesan ,sebuah penghargaan, sebuah kemenangan gak akan ada artinya jika di belakang layar gak ada pengorbanan . Jadii selagi lu mampu dan mau pasti lu bisa .kesuksesan bukan Cuma milik si ber'uang.”
Azam makin termenung dan ia pun memutuskan untuk membersihkan diri meninggalkan ali yang masih setia menatap azam .” Lu tu orang punya jadi gak ngerasain yang gw rasain”.
Hari mulai gelap ali memutuskan untuk pulang dan pamit. Setelah ali pulang keadaan rumah azam jadi sepi karna yang selalu riang tidak nampak dan terlihat murung,keeadan ini terus berlanjut sampai tepat hari dimana pendaftaran gelombang dua di buka. Azam yang seharusnya sudah berangkat ia malah masih terlihat murung dan merenung.
“ Nak ayo berangkat keburu siang loh”
“ Engga bu azam gabakal pergi”
“ Nak dengerin ibu baik-baik ibu gapernah nuntut kamu untuk sukses ,ibu ngebolehin kamu buat milih jalan kamu sendiri. Dan ingat kesempatan gabakal dateng dua kali”
“ Tapi azam takut buu, azam takut gagal lagi .malu bu di omongin tetangga” ucap ku lirih
“ Nak kamu jangan pernah punya rasa takut dan malu. Buang rasa itu jauh-jauh, kamu berhak mencoba dan kalo kamu gagal lagi gapapa yang penting kamu udah mau nyoba . sekarang kamu mandi siap-siap dan berangkat untuk melihat hasil akhir.”
Mendengar ucapan ibu azam seketika mengangguk dan berkata” Sekali lagi ya bu, kalo misalkan masih gagal azam bakal kubur dalem-dalem cita-cita azam” sambil tersenyum dan bersiap-siap.
Setelah melewati perjalanan panjang lagi, aku azam akhirnya telah melewati jalan yang begitu pahit . Aku sudah beberapa bulan menetap di lanud au untuk menjalankan pendidikan .yap benar sekali aku akhirnya bisa lolos dengan segala ketentuan dan pemerikasaan yang begitu ketat jelas orang tua ku tidak tau bahwa anak nya lolos seleksi dan menjalankan pendidikan, yang ibu tau aku sedang mencari kerja di kota perantawan.
Tepat setelah menyelesaikan pendidikan aku pun pulang dengan memakai baju loreng sang kebanggan, dengan lari kecil aku menuju ke rumah dan banyak sekali pandang mata yang mengingat-ingat siapa kah yang sedang berlari dengan baju loreng yang melekat di badannya wajahnya begitu tak asing.
Sampai di depan rumah terlihat suasana yang masih sama dan terlihat ibu ku sedang mejemur baju dan bapak sedang mencuci becak kesayangan. Aku berdiri di depan rumah sambil memandang ibu dan bapak ku yang terlihat kaget , ibu yang pertama menghampiri ku dan langsung mengusap lembut pipiku aku mulai terisak melihat ibu menangis tersedu-sedu.
Aku menurunkan badanku dan bersujud mencium kaki ibu yang terlihat sudah mulai keriput karna terlalu lama terkena air .
“ Bu paa anakmu yang cengeng ini sekarang sudah menjadi seorang prajurit negara dan bisa melindungi kalian dari cemoohan yang begitu menyesakkan dada”.
Ibu dan bapa ku tidak menjawab sepatah katapun mereka terus menangis dan sesekali bapa bersujud syukur bahwa anaknya benar-benar mewujudkan impian nya.
Setelah puas melepas rindu aku dan ibu serta bapak masuk ke dalam rumah dan bercerita riang kegiatan apa saja yang aku lakukan selama pendidikan dan aku mengakhiri perjuangan yang begitu pahit ini dengan keberhasilan yang begitu memuaskan.
Dari perjalanan hidup ku ini aku jadi tau bahwa keberhasilan tidak di ukur dari keadaan finansial atau semacam nya tapi dari sebuah kemauan dan pengorbanan . Dan aku berhasil membungkam mulut julid para tetangga ku itu.
Setelah bertahun-tahun mengabdi pada negara akhirnya aku bisa memboyong seluruh keluarga ku untuk berpindah ke rumah yang lebih layak dan aku juga tidak menyuruh lagi ibu dan bapak untuk bekerja aku menyuruh mereka untuk berdiam diri di rumah dan menikmati masa tuanya dan masa kejayaan anaknya.