"HERMAN tidak pulang tadi malam."
Aku menatap Lilis, bibirnya bergetar saat kata-kata itu terlontar dari mulutnya. Aku berusaha mencari kalimat yang tepat untuk menenangkannya: dia mencintaimu, dia tidak akan mengkhianatimu, dia hanya butuh waktu sendiri.
Aku tahu, seharusnya aku bersimpati, tapi aku tidak bisa berhenti berpikir: kan sudah 'kubilang!
Ketika aku bertemu dengannya pertama kali, aku tahu Herman adalah berita buruk. Dia punya tubuh yang tinggi, berkulit sedikit gelap dengan janggut tipis-tipis, dan mata dingin yang seolah mengajak siapapun untuk tidur dengannya. Dia tidak akan setia dengan Lilis – Lilis yang malang, manis, dan polos – atau dengan wanita lain yang sial karena jatuh cinta padanya.
Mungkin sekarang matanya sedang menjelajah di bar, mencari wanita lain yang layak menjadi korbannya. Sebab, dia bukan tipe orang yang mau terikat dengan siapapun.
"Herman, ini Gina. Sahabatku."
Herman menatapku dengan tajam, seolah-olah dia menelanjangiku dengan mata yang penuh syahwat itu. Dan sejak saat itu, aku tahu bahwa dia bukan pria yang pantas untuk sahabatku.
***
Aku kembali ke masa sekarang. Aku perlu menghibur sahabatku, "Apa yang terjadi?" Tanyaku lembut.
Pikiranku mengembara ketika dia mulai bercerita dengan suaranya yang tersendat-sendat. Di sisi lain, aku sulit fokus mendengarkan curhatannya karena aku sibuk memikirkan malamku yang menyenangkan.
Aku bukan anak rumahan seperti Lilis: aku suka makan malam mewah - mungkin di tempat-tempat mahal - dan berjoget semalaman di diskotik. Aku juga berusaha keras untuk tampil semenarik mungkin di depan orang-orang, dan aku belum pernah bertemu laki-laki yang tak ingin meniduriku. Mungkin itu alasan mengapa aku tahu kalau hubungan Lilis dan Herman bakal kandas, karena aku dan Herman punya kesamaan: kami punya ketertarikan pada penampilan dan seks.
"… Terus aku meneleponnya, tapi tidak diangkat. Dan aku sudah mengirimkan banyak pesan Whatsapp tapi tidak ada yang dibalas."
Lilis yang malang dan bodoh. Dia tidak sadar kalau semakin dia mengejar pria seperti Herman, semakin cepat lah dia berlari. Aku tahu mereka bertunangan, tapi itu karena Lilis menolak seks tanpa komitmen. Aku ingin mengatakan padanya bahwa sebuah cincin di jari manis tak selalu berarti kesetiaan, sayangnya dia masih terlalu naif; dia percaya bahwa semua orang akan mengikuti moral yang sama.
"Lilis," kataku, menyela kisah celakanya itu, "Apa kau tidak terlalu terburu-buru menikah dengannya? Maksudku, kalian baru kenal beberapa bulan."
"Aku ingin menikah," katanya. Mungkin hidup ini tampak sesederhana itu di matanya, "Aku mencintainya dan dia mencintaiku dan kami akan menghabiskan hidup kami bersama."
"Dan dia tidak pulang tadi malam," aku mengingatkannya. Sadar lah, Lilis! Buka matamu! Pekikku membatin.
Bibirnya bergetar lagi, "Ketika dia tidak mengangkat teleponku, aku coba menghubungi rumah sakit. Bagaimana kalau dia kecelakaan – atau dirampok atau dipukuli? Dia mungkin terbaring di selokan, di suatu tempat, dan berdarah," pikirannya benar-benar sudah rusak, "Mungkin itu alasan mengapa dia tidak menghubungiku."
Tak tega melihatnya termakan oleh rasa khawatir dan sakit hati, aku pun coba menggunakan kebohongan yang aku harap bisa menghiburnya, "Dia mungkin tertidur karena mabuk berat," kataku, "Mungkin dia malu kalau kau melihatnya mabuk, jadi dia menginap di rumah temannya. Mungkin ponselnya mati karena lowbat – itu sebabnya dia tidak meneleponmu."
Matanya mulai bersinar penuh harapan dan aku hampir merasa bersalah.
Hampir.
***
"Herman tidak pulang tadi malam."
Lilis mengayun-ayun bayinya yang baru lahir, mencoba membuatnya tertidur. Wajahnya pucat dan tegang, dia tampak sangat lelah. Aku curiga bukan bayinya yang membuat bayangan gelap di bawah matanya itu.
Tidak ada yang lebih terkejut ketika Herman dan Lilis menikah kecuali aku. Sepertinya Lilis berhasil menjinakkan pecandu seks dan menjadikannya seorang pria berkeluarga.
"Apa dia pernah seperti ini sebelumnya?" Aku bertanya, "Maksudku, sejak kalian menikah?"
Dia menggelengkan kepalanya. Rasa sakit tampak merembes dari matanya, tetapi dia berusaha menahannya – bukan karena yang lain, tetapi karena bayi dalam pelukannya.
"Mungkin dia butuh istrahat," ujarku sembari menarik napas dalam-dalam, "Dia mencintaimu, Lilis. Kalian punya bayi. Bukankah bayi ini cukup menjadi bukti?"
Akhirnya, dia mengelap air matanya dan berusaha tersenyum, "Kau benar, Gina. Aku mungkin terlalu emosional - kau tahu, efek pasca persalinan."
Bayi itu mulai tertidur dan Lilis mencium kening bayinya yang berbulu halus dengan lembut dan berkata pada bayi mungilnya, "Nak, kau harus tidur nyenyak seperti ini di malam hari, dengan begitu ayahmu tidak berpikir untuk pergi ke tempat lain."
***
"Herman tidak pulang tadi malam."
Sekarang, kata-katanya sudah terdengar klise, tapi kali ini berbeda.
"Dia mengemas pakaiannya dan bilang kalau dia hanya akan kembali untuk mengambil barang-barangnya yang lain," ujarnya dengan nada robot yang tak bernyawa, seolah-olah dia sedang memproses informasi, bertanya-tanya di mana letak kesalahannya, "Dia meninggalkanku, Gin - dan dia tidak akan kembali."
Sedikit demi sedikit, aku mulai tahu keseluruhan ceritanya: Herman yang mencoba pergi diam-diam, menyelinap ke rumah. Dia mengira Lilis sedang berada di taman bersama Nova, namun karena Nova tiba-tiba demam, Lilis membawanya pulang dan tanpa sengaja memergoki Herman sedang memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam tas.
"Aku kira dia sedang dalam perjalanan bisnis," katanya, "Karena dia bekerja lembur belakangan ini. Tapi ketika aku bertanya kapan dia kembali, dia justru mengatakan yang sebenarnya."
Dia menatap jari-jarinya, memutar-mutar cincin kawinnya seolah-olah itu adalah cincin ajaib dalam dongeng yang akan mengabulkan keinginannya.
"Aku sangat bodoh," katanya dengan suara hampa yang membuatku ingin menangis, "Aku pikir dia bekerja lembur, atau pergi karena ada urusan bisnis, ternyata dia bersama wanita lain. Dia bilang dia jatuh cinta dengan wanita itu, dan lebih memilih bersamanya daripada aku – kami."
Tatapannya mengarah ke Nova yang sedang duduk di lantai, bermain dengan balok-balok empuk, dan aku tahu dia bertanya-tanya mengapa Herman tega meninggalkan putrinya bahkan sebelum putrinya merayakan ulang tahun pertamanya.
"Apa dia..." Aku berusaha memilih kata-kataku dengan hati-hati, karena tidak ingin memicu longsoran emosi, "… Apa dia memberitahumu siapa wanita ini?"
Dia menggelengkan kepalanya. Dia tahu orang yang dicintainya pergi demi wanita lain, tetapi dia berpikir jika dia tidak membicarakannya, mungkin itu tidak akan terlalu menyakitkan.
"Aku tidak mengerti," suaranya akhirnya pecah, "Aku tidak mengerti bagaimana seseorang tega mengambil suami orang lain."
***
Herman tidak selalu menjadi suaminya. Ketika Lilis memperkenalkan kami malam itu, Herman masih belum menikah, bahkan belum bertunangan.
Malam itu masih membekas dalam ingatanku: warna biru cerah koktail yang 'kuminum, dentuman musik yang diputar di latar belakang, aroma Molto-nya saat kami bertiga duduk di meja dan sentakan listrik saat tangannya menyerempet pahaku ketika Lilis tidak melihat.
Herman tidak cocok untuknya dan kami tahu itu. Herman bisa saja mengakhiri hubungan mereka saat itu juga, sebelum dia menghancurkan perasaan Lilis, dan sebelum kami sering bertemu satu sama lain.
Tetapi selalu ada getaran tertentu dalam perselingkuhan: menyelinap ke hotel di tengah hari demi seks; kebohongan dan alibi rumit yang dibuat untuk menghindari kecurigaan dan deteksi; sensasi kegelisahan karena tahu bahwa kami bisa tertangkap basah kapan saja.
Aku akui, Herman seharusnya mengakhiri hubungan mereka sebelum Lilis hamil, tetapi ketika dia ingin, itu sudah terlambat.
Sebelum kalian menilaiku, biar 'kukatakan bahwa aku tidak pernah bangga dengan diriku sendiri. Aku juga tidak berharap menjadi perusak rumah tangga orang lain, apalagi sahabatku sendiri. Lilis sudah menjadi teman dekatku – sejak kami bertemu di kelas delapan sekolah menengah. Tetapi masalah dengan Herman ini jauh lebih rumit daripada hubungan kami berdua - kami bertiga jika kalian menghitungnya juga. Sebab ketika Herman menanggalkan pakaianku dengan mata liarnya malam itu, aku tahu persis apa yang dia pikirkan: 'kau seksi dan aku ingin merasakan tubuhmu'. Dan itulah yang aku pikirkan juga ketika aku menatapnya: 'ya, aku harus mendapatkanmu'.
Apa aku merasa bersalah? Ya, sedikit, tapi tidak cukup membuatku berhenti menemui pria seksi itu. Selain itu, aku kadang berdebat hebat dengan diriku sendiri, jika dia tidak melihatku bersama Lilis malam itu, mungkin dia akan selingkuh dengan wanita lain.
Ya, setidaknya aku cukup peduli padanya untuk memastikan dia tidak akan pernah tahu hubungan gelap kami. Sebab ini akan menghancurkannya jika dia tahu.
Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa Herman mencintainya seperti dia mencintai Herman. Toh, sejak awal mereka tidak pernah tidur bersama. Mungkin itu sebabnya Herman tetap bersamanya meskipun dia sudah memilikiku. Mungkin dia hanya melihat Lilis seperti sebuah tantangan karena dia tidak terbiasa dengan wanita yang berkata 'tidak' padanya.
Aku akui, rasanya sakit ketika Herman melamarnya. Aku tidak cemburu – seolah-olah aku ingin menikah dengannya. Bukan. Tapi itu membuatku bertanya-tanya apakah dia menyukai Lilis lebih daripada yang dia tunjukkan?
Selama beberapa bulan pertama, mereka berdua tampak bahagia, dan Herman mulai bersikap dingin padaku, seolah-olah dia tidak membutuhkanku lagi karena dia sudah punya tempat tidur yang hangat di rumah mereka setiap malam.
Aku tak ingin kehilangannya, jadi aku mulai berkencan dengan pria lain. Jika Herman berpikir aku tak mudah dimiliki seperti Lilis, aku yakin dia akan mengejarku lagi. Karena aku tahu benar sifatnya: dia tidak tahan melihat orang lain bermain dengan mainannya. Dan itu berhasil! Itu membuatnya mau bersamaku dan meniduriku sehingga ketika aku memintanya menginap, dia tak bisa menolak. Saat itulah dia mulai 'bekerja lembur', sesuatu yang Lilis tidak sadari.
Aku mulai bertanya-tanya, apakah karena dia tahu Herman selingkuh makannya dia sengaja hamil agar Herman tidak meninggalkannya? Herman tak pernah membayangkan akan memiliki anak, tetapi Lilis tahu orang tua Herman yang konservatif itu pasti berpihak padanya dan akan membantunya memaksa Herman.
Selama tujuh atau delapan bulan berikutnya, setiap kali Lilis memintaku pergi ke rumah sakit dan menunjukkan foto scan terbarunya, perutku seolah berputar memikirkan darah daging Herman yang ada di dalam rahimnya. Aku sendiri bukan tipe yang cocok menyandang gelar 'ibu', tetapi memikirkan pria yang aku cintai menghamili wanita lain, itu membuatku sakit.
Aku tidak pernah melupakan hari ketika Lilis melahirkan Nova. Dia selalu meneleponku ketika dia tidak bisa menghubungi Herman. Tentu saja, Herman dan aku langsung berpakaian dan menuju ke rumah sakit - dengan taksi yang berbeda.
Malam itu, aku menginap di rumahnya sekali – Lilis masih di rumah sakit dengan bayinya, jadi kami menghabiskan malam di tempat tidur kayu mereka dengan seprai satin yang aku berikan sebagai hadiah pernikahan mereka.
Aku ingin Herman melihatku sebagai antitesis Lilis. Lilis yang pucat dan kelelahan di rumah sakit: tanpa riasan wajah dan rambut ekor kudanya. Sementara aku selalu terlihat segar dan sensual dengan bibirku yang merah dan lezat, dan celana dalamku yang kecil dan tipis.
Seharusnya aku merasa bersalah, tapi aku tidak merasakan apa-apa, karena berada di dekat Herman itu seperti obat penenang agar aku berhenti memikirkan Lilis dan bayinya. Singkatnya, Herman adalah tempat pelarian dari rasa bersalahku.
***
Aku mendengarkan lagi percakapan kami, komentar terakhirnya masih terngiang di telingaku: "Aku tidak mengerti bagaimana seseorang tega mengambil suami orang lain seperti itu."
Apakah aku berbohong karena tidak mengatakan yang sebenarnya? Ada yang mengatakan bahwa apa yang tidak kau ketahui tidak akan menyakitimu: aku diam karena aku ingin melindungi sahabatku, itu saja. Sebab dia terlalu rapuh menangani pengkhianatan ganda dari suami dan sahabatnya sendiri.
"Jadi, kau tidak tahu siapa dia?" Aku bertanya lagi.
Lilis menggelengkan kepalanya. Aku tidak tega mengatakan padanya bahwa Herman sekarang tinggal bersamaku.
***
Pada awalnya, memang mudah untuk menjaga rahasia. Lilis tidak punya waktu untuk menyelidiki apa yang dilakukan Herman akhir-akhir ini, karena dia terlalu sibuk menjaga Nova.
Aku membeli wig pirang dan memakainya untuk menutupi rambut hitamku saat kami berkencan – hanya untuk jaga-jaga jika ada orang yang kami kenal melihat kami bersama.
Terkadang, kami berpura-pura tidak saling mengenal: aku duduk di bar sendirian dan dia datang menyapaku. Namun terkadang aku menyerah dengan kepura-puraan itu dan kami berakhir di toilet atau di gang.
Aku tahu Lilis tidak punya jiwa petualang seperti ini – bukannya aku bersaing dengannya atau apa pun, tapi faktanya aku bisa memberikan Herman sesuatu yang Lilis tidak bisa berikan.
***
"Gina?" Suara Lilis di ujung telepon. Dia terdengar aneh. "Apa kau sibuk? Aku ingin berbicara denganmu."
Sudah lama sejak aku melihatnya. Sejak mereka berpisah, dia selalu meneleponku, mencurahkan isi hatinya.
Setelah beberapa minggu, aku mulai menggunakan speaker ponselku, membiarkan suaranya terdengar di latar belakang saat aku menggunting kuku atau menyetrika pakaian. Sesekali "oh iya, hum, aku mengerti" sudah cukup meyakinkannya bahwa aku mendengarkan.
"Aku sudah mengecek lemariku, tempat biasa kami menyimpan berkas," ujarnya dengan wajah sembab. Sepertinya dia habis menangis lagi. Dia mungkin menemukan setruk pembayaran cincin pernikahan atau sampel menu katering pernikahan mereka.
"Apa yang kau temukan?"
"Aku hanya mengecek setruk tagihan, dan kebetulan aku menemukan ini." Dia melemparkan setumpuk setruk di atas meja di depanku.
"Biasanya Herman yang membayar kedua tagihan itu, jadi aku tidak perlu mengeceknya. Aku hanya memeriksa setrukku sendiri setiap bulan."
"Jadi?" Aku tidak tahu ke mana arah pembicaraan ini.
Dia menunjuk nama yang terletak di bagian atas setruk tagihan yang lain. Tiba-tiba perutku mulai terasa mual. Ini bukan setruk belanjanya, tapi setruk milik Herman!
"Ada satu nomor yang terus muncul," suaranya terdengar tenang tapi tidak wajar, "Ini nomormu, Gina. Dia sering menelepon dan mengirimimu pesan bahkan lebih daripada aku," katanya datar, "Akui saja, Gina!"
Aku tidak ingin menambah luka dengan terus berbohong. "Maafkan aku," kataku akhirnya.
"Kau sahabatku," bisiknya, "Kau pengiring pengantinku dan ibu kedua bagi Nova!"
Rasa bersalah tiba-tiba tumbuh seperti cacing di dalam diriku – memutar isi perutku sekaligus menekan perasaanku.
"Aku harap kalian bahagia," katanya sambil membuka pintu dan mengantarku keluar, "Tapi aku tidak bisa menipu diriku. Pengkhianatan kalian..." Air matanya semakin deras mengalir, "Kau mengambil suamiku. Aku tak akan memaafkanmu!"
Terkadang, kata 'maaf' saja tidak cukup.
"Aku ingin mengingatkanmu sebagai sahabatmu untuk yang terakhir kalinya," tambahnya sebelum dia mengusirku dari hidupnya, "Sebaiknya kau berhati-hati: dia tidak akan setia. Dia akan memperlakukanmu sama seperti dia memperlakukanku."
***
Sudah delapan bulan sejak terakhir kali aku melihat Lilis dan mengobrol dengannya. Aku sudah menelepon, tapi dia tidak pernah menjawab panggilanku. Setiap hari, aku sangat merindukannya; dan setiap hari, aku berharap kami masih bisa bersama sebagai sahabat. Sebab dia satu-satunya orang yang paling mengerti apa yang aku alami saat ini – karena Herman tidak pulang tadi malam.