AKU menatap jendela kamarku, mengamati kehidupan yang berlalu-lalang di jalanan kota yang ramai. Aku tahu betul bahwa pindah ke tempat yang baru sering kali menjadi pengalaman yang menakutkan untuk seorang gadis yang baru memulai pendidikan di perguruan tinggi sepertiku.
Tidak ada yang bisa 'kulakukan selain memandang ke luar jendela dengan tatapan kosong - merenungi kehidupan baruku di kota asing ini. Memang tak mudah bagiku menyesuaikan diri dengan hal-hal baru.
Saat malam tiba, rasa sepi justru makin menjadi sampai membuatku merasa terisolasi. Aku merindukan kehangatan keluarga dan canda-tawa teman-teman lama di tempat asalku, seolah tak ada tempat yang benar-benar layak 'kusebut rumah di sini.
Sebab aku tak ingin terus tenggelam dalam kekalutan hatiku di antara tembok-tembok bilik ini, aku memutuskan pergi ke salah satu kafe yang tak begitu jauh dari tempat tinggalku untuk menghabiskan waktu membaca buku favoritku.
Ketika aku masuk ke kafe itu, aku seolah berada di dunia yang sama sekali berbeda. Suasana hangat yang menenangkan langsung menyambutku ketika aku membuka pintu kafe.
Di mataku, semua tampak sempurna untuk dijadikan pelarian dari kesendirian yang lama menjajah hati: dinding yang dicat putih, dekorasi yang minimalis namun elegan, meja-meja kayu yang berjejer rapi, aroma kopi yang semerbak, juga kursi empuk yang nyaman.
Aku kemudian pergi memilih meja yang letaknya di sudut kafe, tepat di bawah lampu gantung yang cukup terang memberikan cahaya jingga yang lembut dan menghangatkan di tengah udara malam yang menusuk.
Pandanganku menjelajah ke sekeliling kafe. Aku melihat banyak pelanggan yang menikmati waktu luang mereka dengan caranya sendiri; ada pasangan yang asyik-masyuk mengobrol, dan ada beberapa yang hanya memilih duduk sendirian berkawan buku dan laptop.
Suasana kafe begitu damai dan tenang, membuatku merasa seolah waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Itu membantuku sejenak melupakan kegelisahan dan kesepian yang mendera hatiku. Semuanya karena mesin kopi yang berderak itu dan juga suara musik pop yang mengisi latar belakang di antara percakapan riuh antar pelanggan.
Namun, tiba-tiba perhatianku teralihkan dengan kedatangan seorang pria tinggi dengan pakaian kasual. Dia memesan Americano, dan lalu memilih duduk di meja yang bersebelahan denganku. Aku tak begitu nyaman dengan kehadiran yang tiba-tiba itu karena membuyarkan konsentrasiku. Tetapi pria itu langsung melemparkan senyum ramah padaku dan berkata, "Hai, apa bukunya bagus?"
Itu sedikit membuatku terkejut.
Pertanyaan sederhana itu membuatku merasa tersentuh karena ini pertamakalinya, sejak pindah ke kota ini, aku merasa diperhatikan.
Kami pun saling berkenalan. Namanya Dani dan dia kuliah di kampus yang sama denganku. Dimulai dengan beberapa intermeso, kami mulai mengobrol santai dan sesekali tertawa kecil. Aku menikmati percakapan kami. Keramahan dan sifatnya yang mudah bergaul, membuatku nyaman. Kami membicarakan banyak hal: buku favorit, sahabat, hingga apa yang kami pikirkan tentang kota ini. Itu membuat kami menyadari bahwa kami punya banyak kesamaan.
Namun semakin asik kami berbicara, waktu pun semakin berlalu. Kami bersiap-siap pergi. Tapi sebelum berpisah, Dani meminta nomor teleponku. Aku memberikannya tanpa ragu. Kami pun berpisah - mengucapkan selamat malam dan berjanji untuk bertemu lagi.
Sejak saat itu, Dani mulai menghubungiku via Whatsapp, dan kami pun mulai sering bertemu.
Seiring waktu berjalan, banyak waktu yang kami habiskan bersama dan, entah bagaimana, kami merasa nyaman dan cocok satu sama lain; kami akhirnya saling jatuh cinta.
Namun, beberapa Minggu waktu berjalan, aku tak tahu bahwa Dani sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Sesuatu yang membuatku sulit menerimanya: sebelum dia bertemu denganku dan membuatku jatuh di pelukannya, dia ternyata sudah menjalin hubungan dengan wanita lain.
Hatiku rasanya berat menerima. Aku kecewa dan sakit hati di waktu yang sama. Aku merenungkan kembali momen-momen yang kami habiskan bersama, yang perlahan terasa seperti sebuah kebohongan besar.
Ketika aku tahu bahwa hubungan mereka sudah terjalin jauh sebelum aku masuk di dalam hidupnya, rasa sakit itu pun makin menjadi-jadi.
Ironisnya, meskipun aku merasa dikhianati, namun di saat yang sama, aku tak ingin kehilangan dan melepaskannya. Dia sepertinya melihat keegoisanku itu. Dia memintaku bersabar dan menunggu sampai dia memutuskan hubungannya dengan wanita itu. Ketika dia berjanji akan mengakhiri hubungannya lamanya, ada secercah harapan yang tumbuh di hatiku.
Aku ingin percaya padanya, bahwa dia akan menepati janji itu. Namun, di sisi lain, aku khawatir dan ragu. Apakah dia benar-benar akan melakukannya untukku? Atau apakah ini hanya janji kosong semata?
Aku mencoba menepis perasaan-perasaan negatif itu dan mempercayainya. Kami pun kembali membicarakan masa depan kami - membuat bunga kebahagiaan kembali mekar mengisi hatiku.
Aku percaya, dia mencintaiku dan akan melakukan apapun demi hubungan kami. Sampai akhirnya dia memberitahuku kalau hubungannya dengan wanita itu sudah berakhir. Rasa lega sontak melanda hatiku, seolah batu besar di pundakku mulai terangkat. Sayangnya, aku terlalu terlena dengan kebahagiaan semu itu, sedang badai yang sebenarnya belum datang.
Beberapa Minggu kemudian, Dani tak pernah lagi menghubungiku. Itu membuatku cemas, tetapi aku mencoba untuk bersikap tenang. Aku berusaha meneleponnya, mengiriminya pesan, bahkan memeriksa media sosialnya, namun hasilnya nihil - tak ada yang 'kudapatkan di sana, tak ada jawaban sama sekali. Sampai akhirnya, suara yang akrab pun muncul di ujung telepon. Aku akhirnya bisa mendengar suara lembut yang lama 'kurindukan itu.
Sayangnya harapan tak berbanding lurus dengan kenyataan; apa yang aku dengar justru kabar yang membuat hatiku hancur-remuk.
Dia kembali menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya itu.
Duniaku rasanya runtuh - jatuh menimpah kepalaku. Semua perasaan - cinta, kebahagiaan, kekhawatiran, dan kesedihan - yang pernah aku rasakan seakan menyatu menjadi satu, dan membuat dadaku sesak, bahkan menarik napas pun sulit 'kulakukan.
Aku sangat kecewa, takut, sekaligus marah di waktu yang sama. Apakah dia pernah benar-benar mencintaiku, atau aku sekadar pelampiasan untuknya? Aku merasa menjadi wanita terbodoh yang pernah ada karena sudah meletakkan hatiku di tangan yang salah.
Namun, di antara semua rasa sakit itu, ada perasaan lega yang terbesit: perasaan lega karena tahu kebenarannya, dan perasaan lega karena aku tak lagi terjebak dalam kegelapan yang menyiksa, melainkan di tempat yang jauh lebih baik - di mana aku tahu apa yang harus aku hadapi.
Setelah beberapa waktu, aku perlahan bangkit dan memulai hidup baru. Semester baru pun dimulai. Aku bertemu dengan banyak teman-teman baru. Meskipun aku tidak pernah melupakannya, namun aku belajar untuk meneruskan hidup dan mencari cinta yang bukan hanya bisa memperlakukanku dan perasaanku dengan baik, tetapi juga cinta yang layak 'kusebut rumah.