Sore ini aku memutuskan untuk menemui Aira untuk yang terakhir kalinya sebelum ia menikah. Aira, wanita yang ku cinta selama bertahun-tahun bahkan kita telah menjalin hubungan selama 2 tahun lamanya dalam sebuah ikatan pacaran. Namun nyatanya tulusnya cintaku tak dapat mengalahkan perbedaan kasta ini. Ia dilamar oleh anak kepala desa dan orang tuanya telah setuju. Lalu aku bisa apa..? Hanya bisa melepaskan walau tanpa keihlasan.
"Makasih Ra udah mau nemuin aku.. Selamat ya.. Semoga acaranya sukses.. Kelak berbaktilah pada suamimu.. Karna dialah surgamu." Kataku dengan senyuman.
"Gampang banget ya Fi kamu bilang gitu.. Kamu fikir hatiku ini perabotan rumah yang dengan mudahnya menganti isinya jika kita mau.. Gak Fi.. Kamu gak pernah tau kan gimana rasanya harus menikah dengan orang yang gak pernah kita cintai.. Sakit Fi.. Sakit.."
Aira menangis. Air matanya membanjiri pipi. Membuatku ingin menyeka air mata itu. Namun ku urungkan.
"Kesakitan yang kamu rasa sekarang akan berubah menjadi pahala di akhirat nanti Ra.. Baktimu kepada otang tua. Taatmu kepada suamimu kelak adalah ladang pahala. Kamu jangan menyia-nyiakan itu. Sadar atau tidak selama 2 tahun kita pacaran itu hanya buang buang waktu.. Waktumu sia sia hanya untuk menjalin hubungan dengan seorang anak petani sepertiku. Yang masa depannya suram. Karena pada kenyataannya kedekatan kita tak pernah berarti apa-apa bagi orang tuamu."
Entah atas dasar apa aku mengatakan hubunganku hanya menyia-nyiakan waktu. Padahal aku tahu kisah cintaku dengan Aira bukanlah kisah cinta selayaknya remaja yang bucin. Kita tak pernah menghabiskan waktu hanya untuk telfon atau video call membahas hal yang tak penting. Jarang sekali jalan berdua. Apalagi sampai kencan dimalam minggu. Kita hanya berjumpa sesekali disaat kita kuliah bersama. Mengerjakan tugas kuliah. Atau sekedar menyapa saat berpapasan ke masjid. Karna aku takut jika sering jalan berdua dengan Aira aku terkena godaan setan. Aku lelaki dia perempuan. Kita saling mencinta. Sangat mungkin sekali melakukan hal yang dilarang agama. Entah itu hanya pegangan tangan, berciuman atau bahkan hal yang lebih buruk lagi. Prinsipku cinta itu menjaga. Aku tak mau menyentuh hal yang belum menjadi hakku.
"Ooo jadi kamu menganggap hubungan kita itu hanya buang-buang waktu.. Pantes aja kamu gak mau memperjuangkan hubungan kita. Apa sebenarnya selama ini kamu hanya mempermainkanku saja..? Kamu gak pernah bener-bener cinta kan sama aku..?"
Aira terus saja menangis. Membuatku semakin tak tega.
"Ra.. Dengerin aku.. Aku bukannya tak memperjuangkanmu karna tak cinta. Tapi karna aku tahu diri. Orang tuaku hanya buruh tani di sawah papamu. Dan aku hanya seorang guru honorer. Sementara kamu..? Papamu juragan tanah didesa. Keadaan ekonomi kita bagai langit dan bumi. Jauh banget. Perbedaan kasta itulah yang membuat orang tuamu menolak pinanganku dengan alasan ingin melihat aku sukses dulu. Aku cukup optimis. Aku berharap bisa lulus tes CPNS dan diangkat menjadi ASN. Tapi nyatanya apa? Tes CPNS belum dibuka kamu udah disuruh nikah dengan Dimas anak kepala desa itu."
Dadaku terasa sesak mengungkap fakta itu. Aku telah ditolak secara halus oleh keluarga Aira. Aku memang anak orang miskin. Tapi selama ini aku telah berusaha keras memperbaiki perekonomian keluarga. Saat kuliah, aku bekerja paruh waktu untuk uang jajanku. Karena untuk kuliah aku mendapatkan beasiswa. Selebihnya sisa gajiku aku tabung sedikit demi sedikit. Sekarang aku membuat warung kecil-kecilan yang menjajakan masakan ibuku. Dirumah juga aku ternak lele, bebek dan juga kambing. Karena aku tahu tak selamanya bahu ayahku yang sudah menua itu sanggup untuk mencangkul diladang pak Dadang lagi.
"Oke sekarang aku minta bukti. Kalau kamu memang cinta padaku bahwa lari aku, kita menikah secara diam-diam"
Aira mengiba kepadaku penuh harap. Namun aku tidak mau menurutinya.
"Ra.. Ra.. Ide kamu itu nggak masuk akal. Kamu itu perempuan, kalau pun menikah itu butuh wali. Dan papamu masih hidup, jadi otomatis kalau aku menikahimu harus ada papamu. Sedangkan kamu tahu, kalau papamu itu tidak pernah merestui hubungan ini" Kataku dengan yakin.
"Sudahlah Ra terima saja keputusan orang tuamu. Aku memang mencintaimu, tapi aku tidak mau membawamu hidup dalam kesengsaraan karena tidak direstui orang tua. Lagian apa kamu mau hidup bersama orang miskin sepertiku. Kamu kan terbiasa mendapatkan fasilitas dari papamu. Aku nggak akan bisa seperti papamu. Jangankan memberi fasilitas hidup yang mewah, untuk kehidupan sehari-haripun kita harus hidup dalam kesederhanaan."
Walaupun aku sudah mempersiapkan semuanya untuk Aira setelah kita menikah nanti. Tapi aku tetap mengatakan itu. Karena aku tahu orang tua Aira begitu meremehkanku. Menganggapku tak mampu memberi nafkah yang layak kepada anaknya ketika kami sudah menikah nanti.
"Kamu itu bicara apa sih Fi.. Kamu tidak percaya kalau aku itu bisa hidup sederhana..? Bukankah kamu sudah melihat sendiri, saat aku kuliah aku kos di kos-kosan yang sempit. Nyatanya aku bisa bertahan hidup, bahkan sampai aku lulus kuliah. Aku itu bukan tipe orang yang suka mengandalkan harta orang tua. Harusnya kamu tahu itu."
Aira masih berusaha meyakinkan ku agar aku mau membawanya pergi, namun aku tak mau mengabulkannya. Walaupun aku bisa membawa Aira lari sekarang, pasti anak buah pak Dadang dengan mudah menemukanku dan Aira. Karena aku tahu dengan uang bisa mempermudah segalanya. "Sebentar lagi matahari tenggelam. Ayo aku antarkan kamu pulang." Tawarku.
"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri." Jawabnya masih penuh dengan linangan air mata.
Setelah itu Aira pergi berjalan menyusuri jalan setapak. Setelah kepergian Aira aku menangis, meraung, meratapi nasib hidupku. Terserah jika orang lain menganggapku cengeng. Yang penting rasa sesak di dada ini sedikit berkurang.
Tuhan.. Kenapa engkau begitu mempermainkanku..? Untuk apa aku dipertemukan dengan Aira jika pada akhirnya aku tak pernah berjodoh dengannya. Tuhan.. Harus bagaimana lagi aku merayumu..? Setiap malam aku bersujud padaMu meminta agar Aira yang menjadi jodohku. Aku langitkan harapanku setiap malam. Tapi apa yang terjadi..? Nyatanya Engkau menjodohkannya dengan orang lain.