Namaku adalah Aliya. Bisa dikatakan aku orang yang pendiam. Namun itu adalah pandangan bagi orang orang yang tidak mengenalku dari dekat. Aku sebenarnya sangat sulit bila harus berbicara lebih dahulu pada orang lain, sehingga aku jarang berbicara dengan temanku semasa SMP. Karena diriku yang jarang berbicara itulah, membuatku hanya memiliki sedikit teman dan kenalan.
Aku sangat sedih akan hal itu. Aku ingin memiliki banyak teman dan memiliki keberanian untuk berbicara pada orang lain. Pada saat akan masuk SMK aku sudah berpikir untuk masuk osis. Karena pada saat SMP sebenarnya aku sudah berniat untuk masuk, namun tidak jadi karena banyak yang mengatakan bila menjadi osis akan sangat melelahkan.
Pada akhirnya aku menguatkan tekadku sekarang. Saat dulu mungkin aku tidak memiliki tujuan apapun untuk masuk osis, sehingga tidak jadi untuk masuk ke sana karena kata kata sepele seperti itu. Namun kini, aku sudah memiliki tujuan. Aku benar benar yakin dengan tekadku ini. Aku ingin bisa memiliki banyak teman dan bisa public speaking dengan baik. Lalu pada akhirnya aku benar benar masuk organisasi sekolah yang disebut dengan osis itu.
Awalnya aku sangat bingung bagaimana harus memulainya. Aku pun tidak tahu apa yang harus kulakukan. Di hari tugas pertama di osis untukku dan teman satu angkatan yang lain, kami menjadi panitia dalam acara Tabligh Akbar di sekolah. Tidak hanya murid di sekolah saja yang hadir, bahkan warga sekitar dan masyarakat yang berada di daerah cukup jauh pun sampai ikut dalam acara tersebut. Acara yang sangat besar untuk hari tugas pertama kami.
Sangat melelahkan dalam menyiapkan semuanya. Namun pada akhirnya acara berjalan lancar, walau terdaoat sedikit kesalahan. Lalu acara acara lain pun berlanjut sejak itu. Seperti adanya acara kejutan untuk guru, classmeet dan sebagainya. Sangat melelahkan, namun begitu menyenangkan untukku. Rasanya sejak berada di osis, aku bisa menjadi lebih terbuka pada orang lain, bisa menyapa mereka lebih dahulu, bersikap santai pada yang lain dan aku menjadi lebih percaya diri, juga berani.
Pilihanku tidak salah. Aku sudah benar benar membulatkan tekadku dan pada akhirnya apa yang menjadi tujuanku di osis kini sudah terpenuhi. Namun bukan berarti aku ingin keluar dari sini. Kini yang kuinginkan adalah jumlah anggota osis tetap utuh. Aku tidak ingin keluar dari osis, karena menurutku osis sangat menyenangkan.
Hingga pada suatu hari, ketika kakak kelas kami yaitu kelas 11 harus melakukan pkl, maka angkatan kami 'lah yang harus menggantikan mereka dalam menjalankan setiap acara di sekolah. Juga termasuk memilih anggota inti yang akan menjalankan osis selama kakak kelas tidak ada. Hanya ada kami yang bisa menjalankan osis. Karena kelas 12 kini tidak lagi menjadi osis, bisa dikatakan mereka telah lengser dari jabatannya, walaupun menurutku mereka masih 'lah tetap osis. Lalu kelas 12 pun ada ujian untuk kenaikan kelas. Mereka tidak bisa membantu sepenuhnya dalam menjalankan osis yang dikelola osis kelas 10.
Lalu pada saat itu, tibalah saatnya ketika pemilihan untuk anggota inti sementara. Saat itulah aku ditunjuk sebagai ketua osis sementara. Aku sebenarnya sudah memiliki dugaan tentang hal itu, karena tiba tiba dadaku berdetak kencang, seolah namaku akan segera dipanggil. Namun tentunya aku tetap merasa terkejut. Bahkan sangat teekejut. Aku tidak mengira bila aku akan sampai dipiluh seperti itu. Aku pun merasa tidak bisa menolak.
Padahal sebelumnya aku tidak beeniat untuk menjadi ketua sementara. Namun aku dipilih oleh kakak kelas 11. Diriku ini menjadi seorang ketua osis? Apakah aku bisa melakukannya? Bagaimana caranya? Aku merasa ingin menolak, namun aku sudah pernah membulatkan tekad nahwa aku akan belajar untuk public speaking dengan baik. Karena itu, aku pun jadi ingin mencobanya.
Terkadang sering ada pikiran melintas jika aku tidak pantas menjadi ketua osis. Kupikir orang lain di osis bahkan lebih pantas dibandingkan diriku. Tetapi entah baagaiamana aku bisa dipilih. Namun aku segera menghilangkan pikiran itu dan meyakinkan diriku bila kelas 11 pasti memiliki alasan kuat untuk memilihki.
Aku pun akhirnya mulai menjalankan tugas ketua osis sementaraku. Kupikir ini mungkin tidak akan terlalu sulit. Namun ternyata banyak lika liku dalam menjadi ketua osis walaupun sementara. Ada banyak sekali masalah yang terus terusan bermunculan secara bergantian.
Menyatukan 2 opini dalam satu tijuan itu sulit. Apalagi membuat mereka setuju pada sesuatu yang sama. Sangat sulit, aku harus mencari pemecahan masalahnya. Tiap orang memiliki sikap, sifat dan karakter berbeda dan aku harus membuat mereka kompak dari perbedaan itu.
Walau begitu, tetap semangat dan Fight. Sebanyak apapun masalahnya, aku ingin menyelesaikannya. Aku juga ingin bisa menjadi ketua osis yang baik, bia dipercaya dan sebagainya. karena itu, aku selalu berusaha mengambil keputisan terbaik agar tidak merugikan yang lain.
Diriku yang pendiam tiba tiba berubah menjadi ketua osis sementara. Sangat tidak disangka olehkj