Lyara duduk diantara sorak ramai lapangan indoor pada pagi hari itu. Diantara mereka yang saling memberi semangat kepada yang tengah bertanding merebutkan bola.
Sebenarnya Lyara bisa saja seperti mereka yang berteriak heboh, namun kali ini dia memilih tersenyum menatap laki-laki yang mengacungkan jempol padanya setelah memasukkan bola dalam ring basket.
Dia Hansel, pacarannya. Laki-laki yang berusia satu tahun lebih tua dari Lyara itu menjadi kapten basket dan kali ini berhasil membawa timnya untuk mencapai kemenangan di lomba basket antar kelas.
Dia menghampiri Lyara dengan perasaan senang yang membuncah. "Keren kan?." Katanya dengan senyum sabit khasnya.
Lyara balas tersenyum. Sambil menyodorkan sebotol air dia berkata, "Iya keren, hebat."
Dengan senyum yang tak kunjung luntur Hansel menerima dan meminum air yang diberikan Lyara. Hingga air tersisa setengah barulah Hansel menurunkan botolnya.
"Lo minum kayak sapi kehausan aja." Itu Jevano, teman akrab Hansel. Laki-laki yang lebih tinggi dari Hansel itu tanpa permisi duduk di samping Lyara dan lantas mengundang decakan sebal dari Hansel.
"Ayo ke kantin." Kata Hansel sambil menarik tangan Lyara dengan pelan.
"Duluan Kak--" Belum sempat Lyara menyelesaikan perkataannya saat dia melihat Jevano berdiri dan mengikuti langkah kakinya.
"Gua ikut." Perkataan yang terkesan tegas itu membuat Hansel menghentikan langkahnya kemudian berbalik, menatap tajam pada manik mata Jevano yang kali ini terlihat sungguh menyebalkan.
"Ngikut mulu." Hansel semakin kesal dibuatnya.
"Udahlah, biarin Kak Jevan ikut." Lyara yang berada di antara dua laki-laki itu menghela napas. Selalu saja dua laki-laki ini meributkan hal yang tidak berguna.
"Pacar lo aja setuju kok, iya kan Lyly cantik?." Sahut Jevan, dan tanpa permisi dia merangkul Lyara yang tentu mengundang amarah Hansel.
"Lo sok asik, Lyara gak suka cowok bau keringet." Katanya sambil mendorong tubuh besar Jevan agar menjauh dari Lyara
Hansel tidak suka dengan kejahilan Jevan yang menurutnya diluar batas. Dia tidak suka Lyara disentuh sembarangan.
"Ngaca, lo juga bau keringet."
•••
Suasana kantin kali ini ramainya tidak main-main. Semua meja penuh dan stand makanan yang berjejer dikerubungi oleh murid-murid yang ingin membeli makanan.
"Mejanya penuh semua." Keluh Lyara. Dia sampai sesak sendiri melihat ramainya kantin siang itu.
"Kamu ke kelas dulu, aku bawain makanan." Hansel mengerti, Lyara tidak terlalu suka makan berdesak-desakan seperti ini.
"Nah, sekalian temenin Nila, dia gak enak badan katanya." Sambung Jevan.
"Yaudah deh." Dan setelah mengatakan itu, Lyara keluar dari kantin lantas menuju kelasnya yang terletak di gedung selatan.
Di kelasnya yang sepi itu Lyara bisa melihat Nila yang tidur dengan bersandar di tembok dengan tiga kursi yang dia tata sedemikian rupa.
Jika dilihat dari rona wajahnya, Nila memang terlihat pucat tapi tidak sepucat yang Lyara lihat semalam. Pun dengan dahinya yang terasa lebih dingin dari semalam.
"Nila, bangun Nil." Lyara mengguncang pelan pundak Nila dan tak lama kemudian empunya membuka mata.
Nila membawa tubuhnya untuk duduk dengan tegak sambil meregangkan ototnya. Dilihatnya ruangan kelas yang sepi, kemudian pandangannya berhenti pada Lyara yang duduk di sampingnya dengan handphone yang berada di genggaman tangan.
"Udah selesai ya?, siapa yang menang?."
Lyara mengangguk seraya berkata "Yang menang kelas kita."
"Kan bener dugaan gua." Nila mengangguk anggukkan kepalanya seraya tersenyum.
Lalu keduanya sama-sama diam, diselimuti hening yang tak lama kemudian terpecah saat dilihatnya Jevan dan Hansel yang masuk ke kelas dengan makanan di masing-masing tangan mereka.
Nila lantas tersenyum lebar menyambut uluran makanan dari Jevan dan Lyara yang hanya tersenyum tipis saat melihat semangkuk bakso di hadapannya.
Satu dari banyaknya hal yang ia suka dari Hansel adalah; selalu tau selera makanan Lyara, selalu tau apa yang ingin Lyara makan tanpa Lyara memberi tahu.
"Kalian tau, dapetin makanan ini tuh perjuangan banget." Kata Jevano memulai obrolan setelah dia menyelesaikan suapan pertamanya.
"Apatuh perjuangannya?." Tanya Lyara.
"Desak-desakan, terus juga pada bau keringet. Untungnya gua kenal deket sama ibu yang jual, jadi kita di duluin."
Lyara menganggukkan kepalanya pelan lalu berkata "Curang, kasihan yang udah antri."
"Kan yang penting kamu gak kelaperan." Sahut Hansel. Memang sejak tadi yang dipikirkan yaitu Lyara yang dari pagi belum memakan apapun, jadilah saat di kantin ia memaksa Jevano untuk menyela antrian.
"Ya berarti kamu gak mikirin mereka-mereka yang kelaperan, kasian tau udah laper banget disuruh antri pula eh antriannya kamu sela seenaknya." Lyara tentu menghargai Hansel yang rela desak-desakan hanya untuk membelikannya makanan, namun dia kesal juga saat Hansel berlaku seenaknya.
Hansel yang mendapatkan omelan dari Lyara sedikit menundukkan kepala dengan mata yang melirik Jevano yang tampak tersenyum puas. "Iya maaf."
"Ya maafnya sama mereka lah."
"Kan aku gak tau mereka siapa aja, yang antri tuh panjang banget Ly."
"Yaudah."
"Marah?."
"Masih nanya?." Lyara melirik tajam pada Hansel yang kini menggaruk pelipisnya dengan wajah bingung.
Sementara Hansel kebingungan, Jevano justru tersenyum girang. Sedari tadi dia beradu lirik dengan Nila seolah membicarakan perdebatan Lyara dan Hansel lewat lirikan mata.
"Ekhem.., ntar malem minggu enaknya keliling kota ya gak Nil?." Sengaja sekali Jevano berkata seperti itu.
"Iya apalagi sama ayang, duh manis banget tuh malem minggu."
"Ntar malem jalan yuk Nil."
"Gas lah."
•••
Hansel merebahkan dirinya di ranjang dengan pakaian yang belum diganti bahkan sepatu saja belum dia lepas. Dia bingung. Setelah acara makan di kelas tadi, Lyara mendiaminya. Gadis itu bahkan memilih pulang bersama Nila alih alih pulang bersamanya yang dua bulan ini menjadi sebuah kebiasaan
Pesan-pesan yang sedari tadi dia kirim tak kunjung mendapat balasan, padahal nomor yang dituju sedang online.
"Malam minggu gini bukannya kencan malah marahan." Keluh Hansel. Dia mengusap wajahnya kemudian beranjak menuju kamar mandi. Daripada dia memikirkan hal-hal yang ambang lebih baik dia membersihkan diri sekaligus menyegarkan sedikit pikirannya yang kusut.
Setelah selesai mandi dan bersiap, Hansel langsung mengambil kunci motor serta dompet. Dengan rambut yang ditata sedemikian rupa dan parfum yang menguar harum, Hansel berlari kecil sembari bersiul. Menghampiri motor kesayangannya dan memakai helm, Hansel pun siap untuk menjemput Lyara malam ini.
"Yuk py, kita kencan bertiga sama Lyly." Ujarnya pada sang motor.
Malam ini cuacanya sangat mendukung. Tidak ada hujan seperti yang kaum jomblo minta dan udara pun tidak panas. Sejuk seperti hati Hansel yang kini sudah melihat Lyara yang turun dari tangga dengan pakaian rumahan.
"Kenapa kesini?." Tentu saja Lyara kaget. Hansel datang ke rumah tanpa memberi tahu Lyara sama sekali. Tau-tau Hansel sudah duduk di sofa dengan segelas minuman di hadapannya.
"Malmingan dong." Hansel menarik turunkan alisnya namun dibalas decakan oleh Lyara.
"Aku belum siap-siap."
"Yaudah siap-siap, aku tunggu sampai selesai."
"Nah tuh nak, buruan siap-siap, di ajak keluar juga." Itu suara bunda yang tiba-tiba menyahut. Perempuan berusia kepala empat itu menepuk pundak bungsunya.
"Yaudah tunggu bentar." Setelah itu Lyara kembali naik ke kamarnya untuk bersiap.
Sementara Lyara pergi, bunda menghampiri Hansel dan duduk di sampingnya.
"Marahan ya?." Mendengar pertanyaan bunda, Hansel sedikit terkejut. Bunda ini memang sangat peka. Bahkan tanpa ada yang memberi tahu sekalipun.
"Iya bunda."
"Kenapa?."
"Tadi di sekolah aku nyela antrian buat beliin Lyly makanan, terus dia marah sampai sekarang." Bunda yang mendengar terkekeh kecil. Memang dasar anak muda pikirnya.
"Hansel bagus merhatiin makannya Lyly, tapi caranya salah." Bunda mengelus pelan pundak Hansel.
"Iya bunda, maaf."
"Jangan diulangi lagi, tuh Lyly udah siap." Bunda menunjuk ke arah tangga yang langsung Hansel ikuti. Di sana ada Lyara yang siap dengan pakaian santai namun tetap terlihat cantik di mata Hansel.
"Wuihh.., kencan nih ceritanya?, enak banget Ly. Nasib banget gua malah kencan sama tugas." Itu Alifa. Kakak kedua Lyara yang kini penampilannya jauh dari kata rapi. Pakaian rumahan, rambut yang berantakan serta kantung mata yang terlihat hitam samar. Bahkan perempuan itu baru keluar dari kamar sejak siang tadi.
"Apasih, berisik tau." Lyara menjauh dari Alifa yang sudah terlihat tanda-tanda jahilnya. Lantas dia mendekati bunda dan Hansel yang duduk di sofa.
"Ayo."
"Kemana?."
"Gak jadi yaudah." Lyara berbalik, bersiap kembali ke kamar sebelum akhirnya Hansel menarik tangannya.
"Jadi dong, yuk."
Hansel dan bunda kompak berdiri kemudian Hansel menyalami tangan bunda diikuti Lyara.
"Bunda, Hansel ajak Lyara jalan-jalan ya, nanti pasti Hansel pulangkan sebelum jam sembilan."
"Iya hati-hati ya nak, jangan ngebut naik motornya."
•••
"Bunda baik ya." Suara Hansel memecah keheningan di malam itu.
"Baik gimana?." Tanya Lyara tanpa mengalihkan pandangannya dari danau di depannya.
"Dia bisa maafin aku." Jawaban Hansel yang mampu membuat Lyara mengalihkan pandangannya, menatap laki-laki yang memfokuskan dirinya hamparan danau di depannya dengan napas yang terdengar terengah.
"Gak semua orang bisa maafin aku Ly. Mama pun termasuk orang itu."
"Keluarga kamu juga baik, hebat juga bisa nerima aku." Dengan helaan napas berat Hansel mengatakan itu.
"Emang kamu ngelakuin apa sampai takut gak diterima di lingkungan gitu?."
"Gatau, tanya aja mama sama papa."
"Aneh sih orang yang gak bisa nerima kamu, padahal kamu tuh perfect banget, aku kadang sampai insecure sendiri."
"Bohong Ly."
"Nggak, beneran deh, kamu--."
"Masih marah gak sama yang tadi siang?." Hansel mengalihkan pembicaraan, tentu saja Lyara tau. Namun dia tak ambil pusing. Dia mengikuti saja arah pembicaraan Hansel.
"Nggak, tadi cuma kebawa perasaan badmood aja."
Hansel mengangguk mengerti, "Syukur deh."
"Yuk jalan-jalan lagi." Ajak Hansel ketika dia melihat telur gulung dan minuman milik Lyara habis.
"Yuk, sekalian naik binglala." Lyara yang paling antusias, terlihat dari caranya berdiri dan senyumnya yang melebar. Hansel ikut tersenyum, ia menuruti kemauan saja kemauan Lyara.
Sekarang mereka sudah berdiri di depan bianglala yang kebanyakan diisi oleh anak-anak kecil. Hansel awalnya ragu, ada perasaan malu saat dilihat hanya mereka berdua yang termasuk paling besar diantara anak-anak kecil. Namun perasaan malu itu ia hilangkan saat melihat Lyara dengan raut bahagianya masuk ke dalam salah satu kapsul bianglala.
"Ayo masuk." Kata Lyara sembari menarik tangan Hansel.
Keduanya duduk berhadapan, menikmati bianglala yang perlahan mulai naik keatas. Pemandangan dari atas ini yang Lyara suka. Dia bisa melihat apa-apa saja yang ingin ia lihat dengan bebas.
"Tau nggak?, ini tuh pertama kalinya aku naik bianglala setelah masuk SMA."
"Sama."
Lyara mengalihkan pandangannya pada Hansel. "Padahal aku sering main ke pasar malam, tapi tiap mau naik bianglala aku malu sama kakak."
"Kenapa malu?."
"Nanti pasti dikatain bocil kurang hiburan."
"Emang kakakmu nggak pengen gitu naik ini?."
"Dia takut."
"Lucu juga ya, kakakmu yang garang itu takut ginian. "
"Sebenarnya dia tuh nggak segarang itu, dia penyayang banget."
Hansel mengangguk samar, kemudian mengalihkan pandang. "Hebat, keluargamu keren."
Lyara mengerti, pembahasan keluarga memang agak sensitif bagi Hansel. Dan dia perlahan menyadari, Hansel itu tumbuh dengan ambisi dan tuntutan orang tua. Dia harus jadi apa yang orang tuanya mau.
"Kamu juga keren."
"Selalu keren."
"Ansel yang paling keren."
Dan malam itulah senyum lebar tercipta di bibir insan yang malam ini dimabuk cinta. Senyum yang menyuarakan betapa bahagianya mereka malam ini. Berbagi suka cita dan lara di bawah naungan langit yang terlihat cerah pada malam itu.